Tuesday, May 20, 2025

Perfect Hero Bab 219 - Perhatian Mr. Ye || a Romance Novel by Vella Nine

 


“Kek, Kakek harus dengerin omonganku!” seru Bellina. Ia berusaha melepaskan diri dari tangan ajudan yang menarik lengannya. “Lepasin aku!” sentak Bellina.

 

“Lepasin!” perintah Kakek Nurali pada ajudannya. “Saya menghargai kamu karena masih keluarga Yuna. Tapi, melihat kamu seperti ini, bikin saya muak!” tuturnya sambil menatap Bellina.

 

Bellina menatap sengit ke arah Kakek Nurali.

 

“Kalau kamu masih terus mengganggu Yuna dan keluarga kami, saya akan buat semua keluarga kalian menyesal!”

 

“Kakek yang bakal menyesal karena sudah memelihara perempuan jalang kayak dia!” sahut Bellina semakin kesal. Ia tidak bisa membiarkan Yuna menjalani kehidupan yang baik dan bahagia. “Dia bahkan mau menjual diri demi uang!”

 

Yuna tidak tahan mendengar ucapan Bellina yang semakin buruk. Ia melepaskan diri dari pelukan Yeriko dan langsung bangkit menghadapi Bellina.

 

“Bel, kamu jangan sembarangan kalo ngomong!” sentak Yuna. “Kamu terus-terusan jelekin aku di depan semua orang. Kamu sadar atau nggak sih kalau kita ini saudara, Bel? Aku nggak pernah ngejelek-jelekin kamu di depan orang lain. Kamu bisa ngerti nggak perasaanku selama ini?”

 

Bellina mengeratkan bibirnya sambil menatap Yuna penuh kebencian. “Aku nggak peduli lagi sama perasaan kamu. Gara-gara kamu, sekarang Lian mulai jauhin aku. Kamu udah ngerusak hubungan aku sama Lian!” seru Bellina.

 

“Bel, jelas-jelas kamu yang ngerusak hubungan aku duluan. Kamu sudah lupa Lian itu dulunya siapa? Dia pacar aku, Bel. Tujuh tahun kamu jadi selingkuhannya dia.” Yuna melangkah mendekat ke arah Bellina. “Kamu masih nggak sadar juga kalau kamu yang udah ngerusak hubungan orang, hah!?” sentak Yuna sambil mendorong dada Bellina.

 

“Yun, nggak usah diladeni!” pinta Yeriko.

 

Yuna menahan air mata yang siap tumpah membasahi pipinya. “Bel, kamu nggak pernah ngerti perasaan aku. Gimana kalau kamu yang ada di posisi aku, Bel? Gimana?” tanya Yuna berlinang air mata.

 

“Kamu udah ambil Lian dari aku,” tutur Yuna sambil tersenyum. “Aku udah relain dia buat kamu. Mama kamu juga yang jual aku ke Direktur Lukman. Kalau bukan Yeriko yang nolongin aku, sampai sekarang aku masih jadi budak kalian.” Yuna mengusap air matanya yang jatuh.

 

Yeriko menarik tubuh Yuna ke belakangnya. Ia tidak ingin Yuna bersedih hanya karena sikap kakak sepupunya yang keterlaluan.

 

“Kami udah tahu semuanya. Semua kejahatan yang udah kalian lakukan ke istriku di masa lalu. Aku nggak akan ngebiarin kalian menyakiti Yuna lagi!” Yeriko mengangkat dagu, matanya berapi-api menatap Bellina.

 

“Denger baik-baik!” pinta Yeriko. “Aku bakal bantu Yuna merebut kembali perusahaan ayahnya yang sudah kalian ambil. Aku pastikan, Wijaya Group akan kembali ke tangan Yuna!” tegas Yeriko.

 

Bellina gelagapan. Ia tidak menyangka kalau Yuna masuk ke perusahaan Lian untuk mengambil kembali perusahaan ayahnya. Ia tidak bisa membiarkan semua itu terjadi. Ia tidak ingin Lian dan keluarganya jatuh miskin.

 

“Oh, jadi Yuna masuk ke perusahaan Lian emang mau jadi mata-mata doang?” sahut Bellina.

 

Yeriko tersenyum kecil. “Yuna kerja di perusahaan Lian atau nggak. Aku tetep bisa ambil alih perusahaan itu lagi!” tegas Yeriko.

 

“Aku nggak akan ...”

 

“Bawa dia pergi dari sini!” perintah Nurali pada ajudannya.

 

Ajudan tersebut mengangguk dan langsung menarik lengan Bellina keluar dari restoran tersebut.

 

“Awas kamu, Yun. Aku nggak akan ngebiarin kamu hidup bahagia,” batin Bellina sambil menatap pintu restoran. Ia merasa perlakuan Lian terhadap dirinya mulai berubah. Mamanya juga sangat acuh terhadap hubungan dia dan Lian, tidak mendukung dan tidak mendorong jauh.

 

Bellina memegang perutnya yang tiba-tiba terasa ngilu. Ia melangkah perlahan meninggalkan restoran tersebut.

 

Di restoran, Yeriko menenangkan Yuna yang masih terlihat bersedih.

 

 

 

“Sayang, jangan terlalu dipikirkan ya!” Yeriko berbisik. “Kamu mau makan apa?” Ia mengambilkan beberapa dessert untuk Yuna.

 

 

 

Yuna menunduk sambil memijat kepalanya yang terasa berdenyut.

 

 

 

“Kamu jangan terlalu memikirkan ucapannya yang tidak beradab itu!” pinta Nurali. “Kakek akan bantu kalian menyelesaikan mereka.”

 

 

 

Yuna mengangkat kepalanya menatap Kakek Nurali. Ia meneguk air putih yang ada di hadapannya. “Nggak perlu, Kek! Mereka keluargaku, biar aku yang hadapi sendiri.”

 

 

 

“Kamu yakin?”

 

 

 

Yuna mengangguk. Ia kembali memijat keningnya yang berdenyut.

 

 

 

“Kamu nggak papa?” tanya Yeriko.

 

 

 

“Nggak papa. Cuma ... agak pusing sedikit.”

 

 

 

“Ya sudah, kita pulang aja!”

 

 

 

Yuna mengangguk kecil.

 

 

 

“Kek, kami pulang dulu!” pamit Yeriko.

 

 

 

“Iya. Jangan sampai dia kelelahan!” pinta Nurali. 

 

 

 

Yeriko mengangguk. Ia memapah Yuna keluar dari restoran.

 

 

 

“Yun, gimana kalau kita ke rumah sakit dulu?” tanya Yeriko setelah masuk mobil dan memasangkan safety belt ke pinggang Yuna.

 

 

 

“Nggak usah, langsung pulang aja! Cuma pusing sedikit, kok.”

 

 

 

“Yakin?”

 

 

 

Yuna menganggukkan kepala.

 

 

 

Yeriko menyalakan mesin mobil dan melaju menuju rumahnya.

 

 

 

“Yer, mobil ini pakai parfum apa sih? Baunya nggak enak banget!”

 

 

 

Yeriko mengernyitkan dahi. “Lavender. Biasanya juga pakai parfum ini.”

 

 

 

“Kok, baunya kayak gini?”

 

 

 

Yeriko mengendus aroma mobilnya. “Baunya lavender emang kayak gini.”

 

 

 

“Biasanya nggak kayak gini baunya,” sahut Yuna.

 

 

 

“Besok, aku suruh Riyan ganti. Kamu mau aroma apa?”

 

 

 

“Terserah aja. Asal jangan yang kayak gini!” pinta Yuna sambil menyandarkan kepalanya.

 

 

 

“Umh.” Yeriko hanya melirik sikap istrinya yang sedikit rewel. Biasanya, dia tidak pernah memperdulikan aroma parfum mobilnya.

 

 

 

Yuna merogoh ponsel di dalam tasnya. Ia mengirimkan pesan kepada Citra karena ia tidak bisa kembali ke tempat kerjanya lagi. Ia kembali mengetuk-ngetuk kepalanya yang masih berdenyut.

 

 

 

“Kamu yakin nggak papa?”

 

 

 

“Nggak papa. Dibawa tidur sebentar, paling udah sembuh.”

 

 

 

“Ck, lain kali jangan ketemu sama kakak sepupu kamu itu lagi!” pinta Yeriko.

 

 

 

“Maunya nggak ketemu, tapi dia yang selalu datangi aku duluan.”

 

 

 

“Aku nggak bisa lihat kamu kayak gini terus. Gimana kalau ...”

 

 

 

“Jangan berpikir macam-macam!” pinta Yuna. “Aku nggak suka sama kelakuannya dia. Kalau aku mau balas dia, apa bedanya aku sama dia?”

 

 

 

“Yun, aku pasti bantu kamu buat ambil alih perusahaan ayah kamu.”

 

 

 

“Sebentar. Aku masih belum bisa mikir.”

 

 

 

Yeriko memilih diam. Sepertinya, pertengkaran Bellina dan istrinya kali ini cukup mempengaruhi suasana hati istrinya. Ia terus melajukan mobilnya hingga berhenti teoat di pekarangan rumahnya.

 

 

 

Yuna keluar dari mobil perlahan. Langkahnya tak teratur dan sedikit terhuyung.

 

 

 

Yeriko buru-buru keluar dari mobil dan langsung meraih pundak Yuna agar tak terjatuh. Ia tak sabar memapah Yuna melangkah masuk ke dalam rumahnya. Ia bergegas menggendong Yuna sampai ke tempat tidur.

 

 

 

“Tidur ya! Aku carikan obat buat kamu.”

 

 

 

“Nggak usah!” pinta Yuna. “Aku nggak boleh minum obat sembarangan. Minta tolong Bibi, bikinkan aku teh hangat. Nggak usah pakai gula!” pinta Yuna.

 

 

 

Yeriko bergegas turun ke dapur. Ia membuatkan teh hangat untuk Yuna tanpa harus meminta bantuan dari Bibi War.

 

 

(( Bersambung ... ))

Uch, hari ini PH turun rank lagi , bikin aku lemesh ...

Makasih udah baca sampai di sini, dukung terus Mr. And Mrs. Ye biar nggak turun dari Rank Star ya. Biar aku juga semangat bikin ceritanya lebih seru lagi. Makasih untuk semua atas dukungannya.

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

Perfect Hero Bab 218 - The Power of Grandpa || a Romance Novel by Vella Nine

 



“Yun, hari ini kamu nggak ke lokasi proyek kan?” tanya Yeriko saat jam makan siang.

 

 

 

“Nggak. Kenapa?”

 

 

 

“Nggak papa. Aku khawatir aja kalau kamu harus ke lokasi. Kamu harus jaga diri dan jaga kesehatan.”

 

 

 

Yuna tersenyum menatap Yeriko. “Kamu tenang aja! Nggak usah terlalu khawatir. Di tempat  kerja sangat menyenangkan.”

 

 

 

“Baguslah.”

 

 

 

Yuna tersenyum. Ia langsung merogoh ponsel dari dalam tas karena berdering.

 

 

 

“Siapa?” tanya Yeriko.

 

 

 

“Kakek.” Yuna langsung menjawab panggilan telepon. “Halo, Kek!” sapa Yuna penuh ceria.

 

 

 

“Bisa temui Kakek?”

 

 

 

“Eh!?” Yuna menoleh ke arah Yeriko. Ia tidak mungkin menolak keinginan kakek. “Bisa, kek. Kakek di rumah?”

 

 

 

“Kakek ada di Jamoo.”

 

 

 

“Oke. Kami nyusul ke sana.”

 

 

 

“Kakek tunggu!”

 

 

 

“Siap, kek.” Yuna langsung mematikan panggilan teleponnya.

 

 

 

“Kenapa?” tanya Yeriko begitu Yuna menyimpan ponselnya kembali.

 

 

 

“Kakek nyuruh kita ke Jamoo.”

 

 

 

“Kebetulan kalau gitu. Kita sekalian makan siang di sana.” Yeriko menambah kecepatan mobilnya.

 

 

 

Yuna mengangguk. “Kira-kira, ada apa ya? Tumben banget kakek ngajak kita makan di luar.”

 

 

 

Yeriko mengedikkan bahu. “Pengen traktir kita makan kali.”

 

 

 

“Kamu masih suka makan gratisan?”

 

 

 

Yeriko menaikkan kedua alisnya. “Suka. Apalagi ditraktir sama kakek.”

 

 

 

Yuna tertawa kecil.

 

 

 

Yeriko menarik napas beberapa kali.

 

 

 

“Kamu kenapa?” tanya Yuna yang mulai menyadari kegelisahan di wajah Yeriko.

 

 

 

“Eh, nggak papa.”

 

 

 

“Kamu nervous mau ketemu kakek?” tanya Yuna sambil menahan tawa.

 

 

 

Yeriko menggeleng kecil.

 

 

 

“Halah ... ngaku aja!” goda Yuna.

 

 

 

“Huft, kamu tahu sendiri kakek itu gimana. Pasti mau bahas soal perusahaan.”

 

 

 

“Baik-baik aja kan?” tanya Yuna.

 

 

 

Yeriko mengangguk.

 

 

 

“Kalau semua baik-baik aja. Kenapa harus khawatir kayak gini?”

 

 

 

Yeriko menggelengkan kepala. “Kakek nggak pernah ngajak makan di luar kalau nggak ada sesuatu di baliknya.”

 

 

 

“Hah!? Serius?”

 

 

 

Yeriko mengangguk.

 

 

 

Yuna ikut gelisah karena yang ditelepon oleh kakek adalah dirinya.

 

 

 

Beberapa menit kemudian, Yuna dan Yeriko sudah sampai di Sangri-La dan langsung masuk ke Jamoo Restaurant.

 

 

 

“Siang, Kek!” sapa Yuna begitu ia sampai di depan meja makan, tempat kakeknya sedang duduk bersama salah satu ajudannya.

 

 

 

“Siang!” Nurali menyambut kedatangan Yuna dan Yeriko dengan ramah. “Ayo, duduk!”

 

 

 

Yuna dan Yeriko duduk berdampingan di hadapan Nurali.

 

 

 

“Pelayan!” seru Nurali. Ia memanggil beberapa pelayan untuk melayaninya.

 

 

 

Usai memesan makanan, ajudan Nurali beranjak dari tempat duduknya. Bergabung dengan teman-teman ajudannya di meja lain.

 

 

 

Yuna tersenyum. Baru kali ini ia makan di luar bersama kakek. Mereka terlihat sangat mencolok karena didampingi beberapa pengawal di ruangan tersebut. Kakek Nurali adalah pensiunan jenderal dan sangat disegani di dunia militer. Tak heran jika ia selalu dikawal saat keluar dari rumah. Perasaan Yuna tidak tenang mendapat perlakuan yang sangat istimewa.

 

 

 

“Yer, Kakek perhatikan, perkembangan bisnismu tahun ini sangat cepat,” tutur Nurali membuka pembicaraan.

 

 

 

Yeriko tersenyum. “Semua berkat didikan kakek juga.”

 

 

 

Nurali tergelak. “Tapi, kamu belum pernah bergerak secepat ini.”

 

 

 

“Kakek harusnya senang kan?”

 

 

 

Nurali mengangguk-anggukkan kepala. “Kamu sudah mulai mengembangkan bisnismu semakin besar. Ke depannya, kamu akan menghadapi tantangan yang lebih besar lagi.”

 

 

 

Yeriko mengangguk sambil tersenyum.

 

 

 

“Yuna ...!”

 

 

 

“Iya, Kek.”

 

 

 

“Kamu harus belajar mengelola perusahaan!” pinta Nurali. “Sekarang, kamu bekerja di perusahaan orang lain. Pasti lebih nyaman mempelajari banyak hal baru daripada mengandalkan perusahaan suami kamu. Kakek sangat senang dengan pemikiran kamu ini. Walau bagaimanapun, perempuan harus lebih pandai menjaga aset keluarga.”

 

 

 

Yuna mengangguk.

 

 

 

“Saat sudah siap, kaku harus membantu Yeriko!” pinta Kakek lagi.

 

 

 

Yuna mengangguk. Ia menoleh ke arah Yeriko dan tersenyum manis. Asa banyak hal yang harus ia pelajari. Terlebih, perusahaan suaminya adalah perusahaan besar. Ia harus benar-benar mempersiapkan diri jika harus ikut berkecimpung di perusahaan suaminya itu.

 

 

 

“Ah, sudahlah. Jangan terlalu dipikirkan!” tutur Nurali sambil menatap Yuna. “Kamu masih sangat muda. Masih banyak waktu untuk bermain-main. Kakek terlalu khawatir dengan masa depan perusahaan. Huft, usia Kakek sudah semakin tua. Kakek hanya khawatir, Yeriko akan menanggung beban seorang diri saat Kakek sudah tidak ada.”

 

“Kek, Kakek jangan bilang begitu!” tutur Yuna murung. Ia tidak bisa membayangkan jika suatu hari kakek tidak ada dan suaminya harus menghadapi masalah perusahaan seorang diri.

 

“Kakek tenang aja! Aku pasti bisa mengurus semuanya dengan mudah.”

 

“Hahaha. Ya, ya, ya. Percaya diri kamu memang sangat besar.”

 

Yuna dan Yeriko ikut tersenyum saat melihat Kakek Nurali terus tertawa.

 

“Selamat siang, Kek!” Bellina tiba-tiba sudah berdiri di belakang Yuna.

 

Kakek Nurali menengadahkan kepala menatap Bellina.

 

Yuna dan Yeriko juga ikut memutar kepalanya begitu mendengar suara yang sudah tak asing lagi di telinga mereka.

 

“Mau apa kamu ke sini? Bukannya sudah saya katakan kalau saya nggak mau ketemu sama kamu?” Kakek Nurali bertanya pada Bellina sambil menatap gelas minuman yang ada di hadapannya.

 

“Maaf, Kek. Aku terpaksa harus ikuti Kakek sampai sini. Ada hal penting yang harus aku beritahukan ke keluarga Kakek.”

 

“Oh ya? Apa itu?”

 

“Keluarga kalian sudah salah mengambil Yuna sebagai menantu. Dia bukan perempuan baik-baik seperti yang kalian lihat!”

 

Yuna dan Yeriko mengernyitkan dahi, mereka saling pandang dan kembali menatap Bellina.

 

Yeriko menopang kepala dengan telapak tangannya. Tangan satunya menahan lengan Yuna yang ingin bangkit dan melawan Bellina. “Nggak usah diladeni!” bisik Yeriko. “Kita lihat, dia mau ngomong apa di depan kakek.”

 

Yuna mengangguk kecil. Ia memilih untuk diam. Memberikan kesempatan pada Bellina untuk menunjukkan seperti apa dirinya di depan Kakek Nurali.

 

Nurali tertawa kecil. “Terus, perempuan yang baik-baik itu seperti apa? Seperti kamu yang sudah menerobos masuk ke sini dan berbicara keras tanpa melihat situasi?”

 

Bellina gelagapan. Ia tak menyangka kalau Kakek Nurali justru akan merendahkan dirinya. “Gimana bisa Yuna dapet dukungan sebesar ini dari keluarga Hadikusuma?” batin Bellina.

 

“Kek, Kakek nggak tahu aja siapa dia sebenarnya. Dia cuma ngincar harta keluarga kalian. Secara, dia nggak punya apa-apa. Bahkan, tempat tinggal aja dia nggak punya. Makanya, dia cuma bisa hidup dengan menempel ke keluarga Hadikusuma,” cerocos Bellina.

 

Mulut Yuna menganga lebar mendengar fitnah yang keluar dari mulut Bellina. Ia ingin bangkit dan memaki Bellina, namun tangan Yeriko menahan dirinya.

 

Yeriko menarik tubuh Yuna ke pelukannya, sengaja menunjukkan kemesraan di depan Bellina, membuat emosi Bellina semakin tinggi dan tidak bisa mengendalikan dirinya lagi.

 

Kakek Nurali mendengarkan semua ucapan Bellina tentang kehidupan Ayuna, cucu menantu kesayangannya itu. Ia hanya manggut-manggut menanggapi semua perkataan buruk yang ditujukan kepada Yuna.

 

“Kakek harus percaya sama aku! Aku nggak tahan lihat kejahatan dan kelicikan Yuna. Dia bahkan menipu seluruh keluarga Hadikusuma dengan berpura-pura baik,” lanjut Bellina sambil melirik Yuna yang berada dalam pelukan Yeriko.

 

“Sudah selesai bicaranya?” tanya Kakek Nurali.

 

“Eh!?” Bellina menganggukkan kepala.

 

“Boleh keluar sekarang!”

 

“Apa!?” Bellina mengerutkan keningnya. “Kek, dia itu bukan perempuan baik-baik. Kalian mau melihara orang seperti dia dalam keluarga kalian?”

 

“Saya percaya sama Yuna sepenuhnya. Kamu ke sini cuma buang-buang waktu. Lebih baik pergi saja!” pinta Kakek Nurali.

 

“Tapi, Kek ... yang aku omongin ini emang bener. Yuna ...,”

 

 

 

BRAAAK ...!!!

 

Kakek Nurali menggebrak meja dan mengagetkan semua orang. “Aku bilang, PERGI DARI SINI!” serunya.

 

Bellina terdiam. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Semua orang menatapnya. Ajudan yang ada di meja makan berbeda juga langsung menghampiri mereka. “Sialan!” maki Bellina dalam hati.

 

(( Bersambung ))

 

Terima kasih yang selalu mendukung Ye Couple. Jangan lupa kasih Star Vote juga biar aku makin semangat nulisnya ya... I Love you double-double...

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 


Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas