Menu BacaanMu
- Perfect Hero (546)
- Puisi (121)
- My Experience (118)
- Rumah Literasi Kreatif (87)
- Novel MLB (80)
- Cerpen (72)
- Then Love (60)
- Belajar Menulis (58)
- Esai (56)
- Artikel (44)
- Puisi Akrostik (43)
- Review Buku (22)
- Relima Perpusnas RI (18)
- Review Drama (18)
- Ekonomi & Bisnis (9)
- Novel The Cakra (8)
- Wisata (8)
- Aku dan Taman Bacaku (7)
- Dasawisma (6)
- Kumpulan Novel (6)
- Partner Kondangan (6)
- Review Aplikasi (6)
- Daily (4)
- Novel ILY Ustadz (4)
- Opini (4)
- Pendamping Nakal (3)
- Biografi Penulis (2)
- Alluna Wedding Party (1)
- Donasi (1)
- Dongeng (1)
- JNE (1)
- Product (1)
Monday, March 17, 2025
Thursday, March 13, 2025
Perfect Hero Bab 186 : Best Buddy Sisters
“Yun, kamu beneran berhenti kerja?” tanya Jheni sambil
menatap Yuna dan Icha yang sedang berbaring di atas tempat tidurnya.
Yuna menganggukkan kepala. “Emangnya aku kayak pembohong?
Sampe nggak percaya gitu?”
“Iya. Aku percaya,” sahut Jheni. “Abis ini, rencana kamu
mau ngapain?”
“Di rumah dulu, nyantai-nyantai.”
“Emangnya kamu nggak bosan kalo dua puluh empat jam di
rumah terus?” tanya Jheni.
Yuna menggelengkan kepala. “Nggak dua puluh empat jam
juga kali. Buktinya, sekarang aku ada di rumah kamu.”
“Hmm ...iya juga sih. Enak banget ya punya suami kayak
Yeriko. Nggak ngelarang istrinya main di luar. Malah dianterin pula ke sini.”
Yuna tersenyum sambil menatap layar ponselnya.
“Kamu chatting sama siapa sih, Yun? Senyum-senyum sendiri
dari tadi?” tanya Icha yang berbaring di samping Yuna.
“Sama suamiku lah. Sama siapa lagi?”
“Astaga! Lebay banget sih kalian?” sahut Jheni. “Baru
juga pisah berapa menit. Udah kayak nggak ketemu sebulan aja.”
“Sewot lu. Ngiri?” sahut Yuna.
“Weh, ngolok kamu ya!?” dengus Jheni sambil menggelitik
pinggang Yuna.
“Aargh ...! Geli, Jhen!” seru Yuna sambil berguling
menghindari Jheni yang terus menyerangnya.
Icha ikut tertawa melihat Jheni dan Yuna yang saling
serang dan berguling di kasur.
“Udah, Jhen! Aku capek!” seru Yuna dengan napas
tersengal.
Jheni terus menghentikan aksinya sambil menoleh ke arah
Icha yang sudah berdiri di depan jendela. “Dia kenapa? Dari tadi murung gitu.”
Yuna mengedikkan bahu. Ia turun dari ranjang dan langsung
menghampiri Icha bersama dengan Jheni. “Kamu kenapa, Cha? Ada masalah?”
Icha menggelengkan kepalanya.
“Nggak usah bohong, deh! Dari tadi kamu murung. Kenapa?
Bellina nindas kamu di kantor?” tanya Yuna.
Icha menggelengkan kepala.
“Terus, kenapa?” tanya Jheni. “Ada masalah lagi sama
lutfi?”
Icha menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya
perlahan sambil menatap Yuna. “Yun, sebenarnya Lutfi itu gimana sih?”
“Kenapa sama Lutfi?”
“Kadang, aku ngerasa dia itu sayang banget dan perhatian
sama aku. Tapi aku juga nggak pernah tahu gimana sikapnya dia sama cewek lain.
Apakah sama juga?”
“Kenapa kamu tanya kayak gini?” tanya Yuna. “Ada
sesuatu?”
“Kemarin, aku nggak sengaja lihat Lutfi lagi makan sama
cewek di salah satu restoran.”
“Siapa? Model?”
“Mungkin. Yang jelas, cewek itu cantik dan seksi. Dari
gayanya dia, dia juga memperhatikan cewek itu.”
“Cha, kamu kan tahu kalau Lutfi itu penguasa Villa di
Jawa, Bali dan NTT. Yang aku tahu, dia emang sering kerjasama sama artis,
selebgram, youtuber dan sejenisnya buat endorse villa dia.”
“Tapi ...”
“Kamu jangan pedulikan cewek lain!” pinta Yuna sambil
menggenggam pundak Icha. “Sekalipun ada banyak perempuan cantik yang
mengelilingi dia. Dia cuma ngakuin kamu sebagai pacar resminya. Karena cuma
kamu aja yang dikenalin ke kita.”
“Tapi, Yun. Aku jadi ragu sama perasaannya dia. Aku
terlalu biasa aja. Sementara, cewek-cewek yang deket sama Lutfi cantik-cantik
semua. Gimana aku harus bersaing sama mereka?”
“Siapa bilang kamu biasa aja? Kamu juga cantik, kok,”
sahut Jheni. Ia langsung melepas kacamata Icha dan ikatan rambutnya.
Jheni langsung menarik Icha untuk berdiri di depan
cermin. “Cha, dengan penampilan kamu yang sederhana aja udah bisa bikin Lutfi
jatuh cinta sama kamu. Kamu cuma perlu ngerubah penampilan kamu buat bersaing
sama cewek-cewek itu.”
“Aku nggak pede, Jhen.”
“Kenapa? Kamu nggak beneran cinta sama Lutfi.”
“Cinta. Tapi ...”
“Cinta itu, harus diperjuangkan dan dipertahankan!” tutur
Jheni. “Kalo baru kayak gini aja kamu udah nyerah, gimana mau ngadepin mereka
yang bakal mengganggu hubungan kamu. Banyak pelakor di dunia ini, kamu harus
jadi kuat ngadepinnya. Belajar dari Yuna!”
Icha menatap Yuna yang tersenyum ke arahnya.
“Cha, awalnya aku juga ngerasa kayak gitu. Tapi lama-lama
aku sadar, Yeriko bukan orang biasa. Banyak cewek yang pengen jadi pasangannya.
Selama Yeriko masih cinta sama aku. Aku nggak akan peduli berapa banyak cewek
yang deketin dia. Aku nggak akan ngelepasin Yeriko buat orang lain.”
Icha tersenyum ke arah Yuna.
“Apalagi pekerjaan Lutfi emang kayak gitu. Kamu cuma
perlu mendukung dia!” sahut Jheni.
Icha menganggukkan kepala.
Yuna dan Jheni saling pandang. “Kalo gitu, saatnya
beraksi!” seru mereka sambil mengeluarkan peralatan make-up untuk merubah
penampilan Icha menjadi lebih baik lagi.
Beberapa menit kemudian, mereka sudah berhasil mengubah
penampilan Icha seperti seorang model.
“Astaga, Cha!” Yuna mengitari tubuh Icha yang jauh lebih
tinggi darinya.
“Kamu udah kayak model Victoria Secret,” celetuk Jheni.
“Beneran?”
Jheni menganggukkan kepala. “Iya, badannya tinggi-tinggi
dan wajahnya cantik. Kayak kamu gini.”
Yuna ikut menahan tawa mendengar ucapan Jheni.
“Kenapa pada ketawa terus sih?” tanya Icha sambil menatap
wajah Jheni dan Yuna.
“Nggak papa, Cha. Seneng aja lihat kamu kayak gini. Kalo
Lutfi lihat, pasti dia seneng banget. Eh, aku fotoin. Aku kirim ke Whatsapp
dia.” Yuna langsung menyalakan kamera ponsel dan membidik wajah baru Icha.
“Udah terkirim. Kita lihat, apa komentar Lutfi!” tutur
Yuna sambil menunggu balasan dari Lutfi.
“Kakak Ipar, itu siapa? Bisa endorse kah?” tutur Yuna
sambil membaca pesan yang ia terima dari Lutfi. “Hahaha. Dia nggak ngenalin
kamu, Cha.”
“Gobloknya anak itu,” sahut Jheni.
“Balesin apa nih?” tanya Yuna.
“Terserah kamu.”
“Bisa. Kalo mau ketemu, ke rumah Jheni sekarang juga!”
tutur Yuna sambil mengetik di ponselnya. “Udah terkirim.”
“Astaga! Kamu nyuruh dia ke sini?” tanya Icha.
Yuna menganggukkan kepala. “Sekalian aja kalian jalan ke
luar bareng. Sayang banget, udah dandan cantik gini tapi cuma di dalam rumah.”
“Yuna ...!”
Yuna dan Jheni meringis ke arah Icha.
“Oh ya, besok kan weekend. Kalian ada waktu nggak?” tanya
Yuna.
“Kenapa?” tanya Icha.
“Aku selalu ada waktu kalo buat kamu,” sahut Jheni.
“Aku sama Yeriko mau ke exhibition. Kalian mau ikut
nggak?”
“Exhibition punya Dekranasda?” tanya Jheni.
“Iya. Kok tahu?”
“Aku udah ke sana sama Chandra.”
“What!? Kalian udah ke sana nggak ajak-ajak? Tega banget
sih?”
“Kamu lagi sibuk ngadepin pelakor itu. Aku juga ke sana
sekalian buat keperluan kerjaan.”
“Ada yang bagus nggak?” tanya Yuna.
“Semuanya bagus-bagus.” Jheni meraih kotak yang ada di
atas meja. “Aku beli sweater rajut motif sura sama baya. Ini unik banget. Kata
pengrajinnya, dia cuma bikin satu aja. So, ini barang langka banget!” seru
Jheni.
Yuna langsung mengeluarkan sweater tersebut dan
mengamatinya. “Eh, gila! Ini sih teknik tingkat dewa. Aku mana bisa bikin motif
kayak gini.”
“Oh iya. Kamu kan bisa ngerajut kayak gini, Yun. Gimana
kalo kamu bikin juga?”
“Rencananya mau bikin buat Yeri. Tapi ...”
“Kenapa?”
“Aku nggak pernah lihat Yeri pakai sweater. Apa dia bakal
suka kalo aku bikinin?”
“Barang yang bikin sendiri, itu jauh lebih tulus. Aku
yakin, Pak Yeri pasti suka sama barang yang kamu kasih,” sahut Icha.
“Mmh ... boleh, deh. Ntar aku pesen bahannya dulu.”
Tok ... tok ... tok ...!
“Eh, Lutfi udah datang. Cepet banget tuh bocah,” tutur
Yuna sambil menoleh ke arah pintu.
“Bukain pintu!” perintah Jheni sambil mendorong tubuh
Icha.
“Aku?” Icha menunjuk dirinya sendiri dan melangkah ragu
menuju pintu.
“Ayo bukain!” Yuna dan Jheni memberi isyarat agar Icha
memiliki keberanian.
Icha membuka pintu perlahan dan mendapati Lutfi berdiri
di depan pintu sambil tersenyum ke arahnya.
“Ini. Buat kalian!” Lutfi menyodorkan paper bag ke arah
Icha. “Kakak Ipar mana?” tanyanya sambil nyelonong masuk ke rumah Jheni.
Icha menggigit bibir. Ia melangkah perlahan mengikuti
Lutfi yang melangkah menghampiri Yuna dan Jheni yang duduk di sofa.
“Kalian apain si Icha?” tanya Lutfi.
“Eh!?” Yuna dan Jheni melongo menatap Lutfi.
“Cantik kan?” tanya Yuna balik.
“Kamu ngenalin dia?”
“Kenal. Pacar sendiri masa nggak kenal?”
“Tadi di WA kamu bilang ...”
“Aku cuma bercanda.”
Yuna dan Jheni terkekeh.
“Eh, kalian pergi ke luar gih! Aku sama Jheni mau
curhat,” pinta Yuna.
Lutfi langsung menyambar paper bag dari tangan Icha. “Ini
makanan buat kalian. Aku ke luar dulu sama Icha.” Ia meletakkan paper bag di
atas meja.
“Ah, pengertian banget!” seru Yuna.
Lutfi tertawa kecil. “Aku tahu, Kakak Ipar demen makan.
Kita pergi dulu!” Lutfi langsung meraih tangan Icha dan membawanya keluar dari
rumah Jheni.
Yuna dan Jheni saling pandang lalu tertawa.
(( Bersambung ... ))
Makasih buat yang udah kirimin hadiah juga, bikin
aku makin semangat deh.
Selalu sapa aku dengan komen di bawah ya! Kasih
kripik ... eh, kritik dan saran juga ya!
Much Love
@vellanine.tjahjadi
Perfect Hero Bab 185 : Pamit || a Romance Novel by Vella Nine
“Cha, aku pergi ya! Kamu yang rajin kerjanya!” pamit Yuna
setelah mengemasi barang-barang pribadinya yang ia bawa ke tempat kerja.
“Yun, kita semua pasti bakal kangen banget sama kamu.
Kenapa harus berhenti, sih? Padahal, Bos Lian nggak nyuruh kita berhenti.”
Yuna tersenyum. “Aku juga bakal kangen sama kalian semua.
Kita masih bisa ketemu, kok. Pintu rumah aku, selalu terbuka untuk kalian.”
“Pintu kantor ini juga selalu terbuka buat kamu, Yun.
Apalagi Bos Lian, dia pasti bakal kangen kalo nggak ada kamu.”
“Hush, jangan ngomong gitu! Kalo didenger sama Bellina,
kalian bisa habis!” sahut Yuna.
“Huft, iya ya? Kalo nggak ada kamu. Nggak ada lagi yang
bisa belain kita. Bu Belli pasti bakal lebih merajalela menindas kita.”
“Telpon aku kalo dia berani macam-macam sama kalian! Ntar
aku hadang di simpang jalan,” sahut Yuna.
“Hahaha.” Semua tergelak mendengar candaan Yuna.
Yuna tersenyum. Ia mengangkat kotak barangnya dan melangkah
dengan berat hati keluar dari ruangannya.
“Yuna ...!” seru Icha dan beberapa karyawan yang lainnya.
Mereka langsung menangis sambil memeluk tubuh Yuna.
“Kamu beneran pergi, Yun?”
“Yun, setelah keluar dari sini, kamu harus hidup lebih
baik. Punya karir yang lebih baik.”
“Iya, Yun. Kalo nggak dapet yang lebih baik, kamu balik ke
sini ya! Kita bakal nunggu kamu.”
Yuna tersenyum sambil menatap rekan-rekan kerjanya dengan
mata berkaca-kaca. Ia tak menyangka kalau waktu berjalan begitu cepat. Dalam
waktu yang singkat, ia bisa merasakan kehangatan di tempat kerjanya. Saling
mendukung, mengatasi setiap masalah bersama-sama. Seperti sebuah keluarga.
Yuna melepaskan dirinya dan melangkah perlahan keluar dari
ruang kerjanya. Ia langsung masuk ke dalam lift dan turun ke lobi. Di sana, ada
seorang pria tampan yang telah menunggu kedatangannya.
“Lama ya nunggunya?” sapa Yuna sambil menghampiri Yeriko.
Yeriko menggelengkan kepala.
“Udah pamitan?” tanya Yeriko.
Yuna menganggukkan kepala. Ia menghela napas sejenak. “Aku
belum pamitan sama Lian.”
“Kenapa?”
“Dia belum masuk kantor.”
“Nggak papa. Kalo nggak ketemu hari ini, masih bisa ketemu
besok.”
Yuna tersenyum sambil menganggukkan kepala. Ia dan Yeriko
melangkah keluar dari pintu utama kantor Wijaya Group.
“Pergi sekarang?” tanya Lian yang kebetulan baru sampai
kantor bersama Bellina.
Yuna tersenyum sambil menganggukkan kepala. “Makasih kamu
udah ngasih aku kesempatan bergabung di perusahaan ini. Belajar banyak hal,
punya banyak teman dan pastinya ... ini pengalaman pertamaku yang paling
berharga.”
Lian tersenyum sambil menganggukkan kepala. “Semoga kamu
bisa menjadi lebih baik di tempat yang baru.” Ia menoleh ke arah Yeriko
sejenak. “Kapan pun kamu mau, perusahaan ini akan selalu nerima kamu kembali.”
Yuna mengangguk. Ia melangkahkan kakinya perlahan. “Bye!”
ucap Yuna saat melintas sejajar dengan tubuh Lian.
Yeriko tersenyum menatap Lian dan mengikuti langkah Yuna
dari belakang.
Lian memutar tubuhnya menatap punggung Yuna dan Yeriko yang
perlahan menjauh. Ia tak bisa lagi melihat wajah cantik Yuna dari balik
jendela. Melihatnya tertawa bersama teman-teman kerjanya. Melihatnya begitu
energik setiap melakukan pekerjaan. Melihat wajah cantiknya setiap pagi saat
masuk kerja dari balik kaca mobilnya.
“Bye, Ayuna ...!” bisik Lian dalam hati.
Bellina yang berdiri di samping Lian langsung merangkul
Lian sambil menatap kepergian Yuna. Di bibirnya terlukis goresan bahagia
mengiringi kepergian Yuna dari kantor Wijaya.
“Yun, mau langsung ke rumah sakit atau pulang dulu?” tanya
Yeriko sambil membukakan pintu mobil untuk Yuna.
“Pulang dulu. Ntar aku ke rumah sakit naik taksi aja bareng
Bibi.”
Yeriko mengernyitkan dahi. “Kamu nggak mau ajak aku ketemu
ayah kamu?”
“Kamu kan kerja. Aku udah nggak kerja. Punya banyak waktu
buat nemenin ayah di rumah sakit.”
“Oke.” Yeriko menutup pintu mobil. Ia melangkah mengitari
mobilnya, membuka pintu mobil dan duduk di belakang kemudi.
“Kamu tunggu aku di rumah sakit. Ntar aku jemput kamu kalo
udah pulang kerja!” pinta Yeriko sambil menjalankan mobilnya perlahan keluar
dari halaman kantor Wijaya.
Yuna menganggukkan kepala. “Besok jadi kan ke
pameran?”
Yeriko menganggukkan kepala. Ia terus melajukan mobilnya.
“Aku pengen lihat karya-karya seniman lokal di sana. Kayaknya bagus-bagus. Tas
ini, dikasih sama Mama Rully. Katanya dari Bunda Yana. Salah satu karya seniman
kriya di sini. Bagus kan?” tutur Yuna sambil menunjukkan tas rajut yang ia
pakai.
Yeriko menganggukkan kepala tanpa menoleh ke arah Yuna.
“Iih ... nggak lihat tapi udah ngangguk aja.” Sahut Yuna.
“Aku udah lihat dari tadi,” sahut Yeriko. “Oh ya, hari ini
mau ngapain aja selain jenguk ayah?”
“Mmh ... aku mau bikin makanan buat ayah sebelum berangkat
ke rumah sakit. Mmh ... abis itu belum tahu mau ngapain.”
Yeriko tersenyum sambil melirik Yuna lewat kaca spion. “Aku
bakal pulang cepet buat nemenin kamu. Kalo bosan di rumah, kamu bisa pergi
jalan-jalan sama Jheni atau Icha.”
“Icha sibuk kerja. Kalo ada waktu luang, pasti udah
dicolong duluan sama Lutfi.”
“Jheni? Bukannya dia freelancer?”
Yuna menganggukkan kepala.
“Dia pasti punya banyak waktu buat nemenin kamu.”
Yuna menganggukkan kepala. “Boleh jalan ke mana aja?”
Yeriko mengangguk. “Asal bisa bikin kamu senang.”
“Ke bar?”
“Nggak boleh.”
“Kenapa?”
Yeriko langsung menghentikan mobilnya yang kebetulan sudah
memasuki pekarangan rumah.
“Nggak boleh ke sana tanpa aku! Nggak boleh minum alkohol!”
pinta Yeriko.
Yuna menganggukkan kepala. Matanya tertuju pada tas rajut
yang ada di pangkuannya. “Mmh ... bukannya aku bisa knitting? Aku mau bikin
sesuatu buat Yeri. Mudahan dia suka,” bisik Yuna dalam hati. Ia langsung keluar
dari mobil.
“Aku langsung berangkat kerja!” pamit Yeriko tanpa keluar
dari dalam mobil.
Yuna menganggukkan kepala. “Hati-hati ya!”
Yeriko mengangguk. Ia segera menjalankan mobilnya keluar
dari pekarangan rumah dan melaju menuju kantornya.
Yuna tersenyum sambil masuk ke dalam rumah. “Pagi, Bi!”
sapa Yuna sambil meletakkan box miliknya ke atas meja.
“Pagi ...!” sahut Bibi War. “Kok, tumben banget pagi-pagi
udah pulang kerja? Lagi nggak enak badan?”
Yuna menggeleng sambil menghampiri Bibi War. “Aku udah
berhenti kerja,” ucapnya sambil tersenyum.
“Hah!? Berhenti kerja?” tanya Bibi War dengan wajah
sumringah.
Yuna mengangguk sambil tersenyum.
Bibi War tertawa bahagia sambil memeluk Yuna. “Akhirnya
...”
Yuna tersenyum sambil membalas pelukan bibi War. “Bi, bantu
aku bikin makanan buat ayah ya!” pinta Yeriko. “Asupan makanan untuk ayah nggak
boleh sembarangan. Aku udah minta resep makanan dari ahli nutrisi yang ngerawat
ayah. Aku pergi belanja bahannya dulu. Nanti, Bibi juga temani aku ke rumah
sakit ya!” pinta Yuna.
Bibi War menganggukkan kepala.
Yuna langsung memesan taksi online untuk berbelanja.
Bibi War tersenyum menatap kepergian Yuna. Ia sangat senang
setiap kali melihat Yuna begitu ceria menjalani harinya. Ia membayangkan
bagaimana ramainya rumah ini jika Yuna dan Yeriko sudah memiliki seorang anak.
(( Bersambung ... ))
Makasih udah dukung cerita ini terus. Jangan lupa kasih Star Vote juga biar aku
makin semangat nulis dan bikin ceritanya lebih seru lagi. Makasih buat yang
udah kirimin hadiah juga, bikin aku makin semangat deh.
Selalu sapa aku dengan komen di bawah ya! Kasih
kripik ... eh, kritik dan saran juga ya!
Much Love
@vellanine.tjahjadi