Monday, March 17, 2025

Karyaku Bisa Diterbitkan Perpusnas Press || Praktik Baik Pemanfaatan 1000 Buku (Wilayah Kalbar, Kaltim, Kalsel)








Tuhan selalu punya cara untuk membuat hidup kita menjadi lebih baik. 
Tuhan selalu punya cara yang indah untuk mengubah keinginan kita. 
Sama seperti yang terjadi hari ini. 
Aku menerima paket buku berbonus tas keren dari Forum TBM Pusat. 
Paket buku kali ini adalah paket buku paling istimewa sepanjang hidupku. Karena di buku ini ada karya kecilki tentang Rumah Literasi Kreatif yang aku bangun sendiri sebagai upaya untuk membantu pergerakan literasi di Indonesia. 
Aku tidak menyangka kalau karya tulisku bisa diterbitkan oleh Perpusnas Press RI. Bermimpi saja aku tidak punya keberanian. Aku siapa? Karyaku masih belum apa-apa. 


Tapi kemudian aku berpikir ... suatu hari aku pernah berharap sesuatu yang hari ini diwujudkan oleh Allah. "Gimana caranya bukuku bisa diterbitkan perpustakaan negara, ya? Mereka yang bukunya diterbitkan oleh Perpusnas RI, pastilah penulis-penulis istimewa yang karyanya sudah dikurasi dengan ketat," ucapku ketika aku membaca buku-buku terbitan Perpustakaan Nasional yang kualitasnya sudah tentu sangat baik. 
Aku lupa kapan aku berucap seperti itu dalam hatiku. 

Tapi masih lekat dalam ingatan jika aku sangat menginginkan karyaku bisa diterbitkan oleh penerbit besar dan berkualitas. Sayangnya, proses penulisanku masih sangat buruk. Aku masih belum punya keberanian untuk mengajukan naskah-naskahku ke penerbit mayor. Karena aku masih berproses dan masih perlu banyak jam terbang dalam berkarya. 

Hari ini aku mendapatkan kejutan tak terduga di hari ke-17 Ramadan. Aku mendapat kiriman buku fisik yang di dalamnya ada karyaku. Setelah melewati proses kurasi yang sangat ketat, akhirnya tulisanku bisa lolos dan diterbitkan langsung oleh Perpusnas Press. 
Tidak semua penulis memiliki kesempatan untuk mengabadikan karyanya di Perpustakaan Nasional. Oleh karenanya, aku merasa bangga pada diriku sendiri karena telah berhasil menjadi salah satu kontributor Perpusnas Press. 
Buku ini diterbitkan dalam rangka mengabadikan program Perpusnas RI yang telah memberikan bantuan 1000 buku bacaan anak bermutu kepada 10.000 taman bacaan masyarakat yang tersebar di seluruh Indonesia. Taman bacaan yang aku dirikan sejak tahun 2018 menjadi salah satu penerima bantuan 1000 buku cerita anak bermutu yang dikirimkan langsung oleh Perpustakaan Nasional RI. 
Bantuan yang diberikan ini tentunya tidak lepas dari peran teman-teman Forum TBM Pusat yang sangat aktif dalam pergerakan literasi di Indonesia. 

Aku sangat antusias  ketika dihubungi oleh tim untuk mengirimkan naskah tentang pemanfaatan bantuan 1000 buku yang telah aku terima untuk taman bacaku. Meski di tengah kesibukanku sebagai ibu rumah tangga sekaligus pencari nafkah, aku berusaha untuk bisa menuliskan sebuah karya kecil. 

Setelah melewati proses kurasi dan revisi, akhirnya naskahku bisa dikatakan lolos untuk diterbitkan oleh Perpusnas Press. Rasanya sangat lega dan berharap kalau Perpusnas Press akan benar-benar mengabadikan karyaku.

Beberapa bulan kemudian, aku mendapatkan paket kiriman dari Forum TBM beruba sebuah buku yang sudah dicetak berjudul "Praktik Baik Pemanfaatan 1.000 Buku" untuk wilayah Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Selatan. 

Bukan hanya 1 eksemplar buku, tapi juga ada sebuah tas keren yang dikirimkan. Hampir sama seperti tas yang biasa aku kenakan dan aku dapat dari kegiatan Forum TBM di The Sultan Hotel & Residence Jakarta. Tapi, tas yang ini ukurannya jauh lebih besar. Dua tas hadiah dari Forum TBM Pusat ini menjadi tas favorite buat aku karena ada banyak kantong di dalamnya dan sangat nyaman dipakai jalan ketika membawa banyak bawaan. 


Rasanya senang sekali ketika mendapatkan hadiah istimewa ini. Di hari ke-17 Ramadan, aku seperti sedang mendapatkan keberkahan dari Allah SWT.

Buku ini akan jadi buku yang paling aku sayang karena pertama kalinya tulisanku diterbitkan oleh Perpusnas Press dan akan menjadi kenangan untuk selamanya. 
Buku ini sangat exclusive karena tidak dijual di toko buku. Kamu tidak akan bisa membacanya jika kamu tidak datang ke Perpusnas RI atau datang ke TBM di mana ada kontributor untuk buku ini. Jadi, kalau mau baca buku ini, kamu harus mengunjungi Perpustakaan RI. Buku ini sangat luar biasa karena ada banyak tulisan tentang perjalanan membuat taman baca yang penuh dengan liku-liku dan bisa menjadi inspirasi kehidupan agar hidup kita bermanfaat.
Jangan lupa cari buku ini, ya!

Kalau nanti aku mati, cari keyword nama "Rin Muna" di google, ya! Semoga karya-karyaku bisa menginspirasi dan membuat kalian lebih semangat dalam menjalani ujian kehidupan ini. 🤗

Thursday, March 13, 2025

Perfect Hero Bab 186 : Best Buddy Sisters

 


“Yun, kamu beneran berhenti kerja?” tanya Jheni sambil menatap Yuna dan Icha yang sedang berbaring di atas tempat tidurnya.

 

Yuna menganggukkan kepala. “Emangnya aku kayak pembohong? Sampe nggak percaya gitu?”

 

“Iya. Aku percaya,” sahut Jheni. “Abis ini, rencana kamu mau ngapain?”

 

“Di rumah dulu, nyantai-nyantai.”

 

“Emangnya kamu nggak bosan kalo dua puluh empat jam di rumah terus?” tanya Jheni.

 

Yuna menggelengkan kepala. “Nggak dua puluh empat jam juga kali. Buktinya, sekarang aku ada di rumah kamu.”

 

“Hmm ...iya juga sih. Enak banget ya punya suami kayak Yeriko. Nggak ngelarang istrinya main di luar. Malah dianterin pula ke sini.”

 

Yuna tersenyum sambil menatap layar ponselnya.

 

“Kamu chatting sama siapa sih, Yun? Senyum-senyum sendiri dari tadi?” tanya Icha yang berbaring di samping Yuna.

 

“Sama suamiku lah. Sama siapa lagi?”

 

“Astaga! Lebay banget sih kalian?” sahut Jheni. “Baru juga pisah berapa menit. Udah kayak nggak ketemu sebulan aja.”

 

“Sewot lu. Ngiri?” sahut Yuna.

 

“Weh, ngolok kamu ya!?” dengus Jheni sambil menggelitik pinggang Yuna.

 

“Aargh ...! Geli, Jhen!” seru Yuna sambil berguling menghindari Jheni yang terus menyerangnya.

 

Icha ikut tertawa melihat Jheni dan Yuna yang saling serang dan berguling di kasur.

 

“Udah, Jhen! Aku capek!” seru Yuna dengan napas tersengal.

 

Jheni terus menghentikan aksinya sambil menoleh ke arah Icha yang sudah berdiri di depan jendela. “Dia kenapa? Dari tadi murung gitu.”

 

Yuna mengedikkan bahu. Ia turun dari ranjang dan langsung menghampiri Icha bersama dengan Jheni. “Kamu kenapa, Cha? Ada masalah?”

 

Icha menggelengkan kepalanya.

 

“Nggak usah bohong, deh! Dari tadi kamu murung. Kenapa? Bellina nindas kamu di kantor?” tanya Yuna.

 

Icha menggelengkan kepala.

 

“Terus, kenapa?” tanya Jheni. “Ada masalah lagi sama lutfi?”

 

Icha menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan sambil menatap Yuna. “Yun, sebenarnya Lutfi itu gimana sih?”

 

“Kenapa sama Lutfi?”

 

“Kadang, aku ngerasa dia itu sayang banget dan perhatian sama aku. Tapi aku juga nggak pernah tahu gimana sikapnya dia sama cewek lain. Apakah sama juga?”

 

“Kenapa kamu tanya kayak gini?” tanya Yuna. “Ada sesuatu?”

 

“Kemarin, aku nggak sengaja lihat Lutfi lagi makan sama cewek di salah satu restoran.”

 

“Siapa? Model?”

 

“Mungkin. Yang jelas, cewek itu cantik dan seksi. Dari gayanya dia, dia juga memperhatikan cewek itu.”

 

“Cha, kamu kan tahu kalau Lutfi itu penguasa Villa di Jawa, Bali dan NTT. Yang aku tahu, dia emang sering kerjasama sama artis, selebgram, youtuber dan sejenisnya buat endorse villa dia.”

 

“Tapi ...”

 

“Kamu jangan pedulikan cewek lain!” pinta Yuna sambil menggenggam pundak Icha. “Sekalipun ada banyak perempuan cantik yang mengelilingi dia. Dia cuma ngakuin kamu sebagai pacar resminya. Karena cuma kamu aja yang dikenalin ke kita.”

 

“Tapi, Yun. Aku jadi ragu sama perasaannya dia. Aku terlalu biasa aja. Sementara, cewek-cewek yang deket sama Lutfi cantik-cantik semua. Gimana aku harus bersaing sama mereka?”

 

“Siapa bilang kamu biasa aja? Kamu juga cantik, kok,” sahut Jheni. Ia langsung melepas kacamata Icha dan ikatan rambutnya.

 

Jheni langsung menarik Icha untuk berdiri di depan cermin. “Cha, dengan penampilan kamu yang sederhana aja udah bisa bikin Lutfi jatuh cinta sama kamu. Kamu cuma perlu ngerubah penampilan kamu buat bersaing sama cewek-cewek itu.”

 

“Aku nggak pede, Jhen.”

 

“Kenapa? Kamu nggak beneran cinta sama Lutfi.”

 

“Cinta. Tapi ...”

 

“Cinta itu, harus diperjuangkan dan dipertahankan!” tutur Jheni. “Kalo baru kayak gini aja kamu udah nyerah, gimana mau ngadepin mereka yang bakal mengganggu hubungan kamu. Banyak pelakor di dunia ini, kamu harus jadi kuat ngadepinnya. Belajar dari Yuna!”

 

Icha menatap Yuna yang tersenyum ke arahnya.

 

“Cha, awalnya aku juga ngerasa kayak gitu. Tapi lama-lama aku sadar, Yeriko bukan orang biasa. Banyak cewek yang pengen jadi pasangannya. Selama Yeriko masih cinta sama aku. Aku nggak akan peduli berapa banyak cewek yang deketin dia. Aku nggak akan ngelepasin Yeriko buat orang lain.”

 

Icha tersenyum ke arah Yuna.

 

“Apalagi pekerjaan Lutfi emang kayak gitu. Kamu cuma perlu mendukung dia!” sahut Jheni.

 

Icha menganggukkan kepala.

 

Yuna dan Jheni saling pandang. “Kalo gitu, saatnya beraksi!” seru mereka sambil mengeluarkan peralatan make-up untuk merubah penampilan Icha menjadi lebih baik lagi.

 

Beberapa menit kemudian, mereka sudah berhasil mengubah penampilan Icha seperti seorang model.

 

“Astaga, Cha!” Yuna mengitari tubuh Icha yang jauh lebih tinggi darinya.

 

“Kamu udah kayak model Victoria Secret,” celetuk Jheni.

 

“Beneran?”

 

Jheni menganggukkan kepala. “Iya, badannya tinggi-tinggi dan wajahnya cantik. Kayak kamu gini.”

 

Yuna ikut menahan tawa mendengar ucapan Jheni.

 

“Kenapa pada ketawa terus sih?” tanya Icha sambil menatap wajah Jheni dan Yuna.

 

“Nggak papa, Cha. Seneng aja lihat kamu kayak gini. Kalo Lutfi lihat, pasti dia seneng banget. Eh, aku fotoin. Aku kirim ke Whatsapp dia.” Yuna langsung menyalakan kamera ponsel dan membidik wajah baru Icha.

 

“Udah terkirim. Kita lihat, apa komentar Lutfi!” tutur Yuna sambil menunggu balasan dari Lutfi.

 

“Kakak Ipar, itu siapa? Bisa endorse kah?” tutur Yuna sambil membaca pesan yang ia terima dari Lutfi. “Hahaha. Dia nggak ngenalin kamu, Cha.”

 

“Gobloknya anak itu,” sahut Jheni.

 

“Balesin apa nih?” tanya Yuna.

 

“Terserah kamu.”

 

“Bisa. Kalo mau ketemu, ke rumah Jheni sekarang juga!” tutur Yuna sambil mengetik di ponselnya. “Udah terkirim.”

 

“Astaga! Kamu nyuruh dia ke sini?” tanya Icha.

 

Yuna menganggukkan kepala. “Sekalian aja kalian jalan ke luar bareng. Sayang banget, udah dandan cantik gini tapi cuma di dalam rumah.”

 

“Yuna ...!”

 

Yuna dan Jheni meringis ke arah Icha.

 

“Oh ya, besok kan weekend. Kalian ada waktu nggak?” tanya Yuna.

 

“Kenapa?” tanya Icha.

 

“Aku selalu ada waktu kalo buat kamu,” sahut Jheni.

 

“Aku sama Yeriko mau ke exhibition. Kalian mau ikut nggak?”

 

“Exhibition punya Dekranasda?” tanya Jheni.

 

“Iya. Kok tahu?”

 

“Aku udah ke sana sama Chandra.”

 

“What!? Kalian udah ke sana nggak ajak-ajak? Tega banget sih?”

 

“Kamu lagi sibuk ngadepin pelakor itu. Aku juga ke sana sekalian buat keperluan kerjaan.”

 

“Ada yang bagus nggak?” tanya Yuna.

 

“Semuanya bagus-bagus.” Jheni meraih kotak yang ada di atas meja. “Aku beli sweater rajut motif sura sama baya. Ini unik banget. Kata pengrajinnya, dia cuma bikin satu aja. So, ini barang langka banget!” seru Jheni.

 

Yuna langsung mengeluarkan sweater tersebut dan mengamatinya. “Eh, gila! Ini sih teknik tingkat dewa. Aku mana bisa bikin motif kayak gini.”

 

“Oh iya. Kamu kan bisa ngerajut kayak gini, Yun. Gimana kalo kamu bikin juga?”

 

“Rencananya mau bikin buat Yeri. Tapi ...”

 

“Kenapa?”

 

“Aku nggak pernah lihat Yeri pakai sweater. Apa dia bakal suka kalo aku bikinin?”

 

“Barang yang bikin sendiri, itu jauh lebih tulus. Aku yakin, Pak Yeri pasti suka sama barang yang kamu kasih,” sahut Icha.

 

“Mmh ... boleh, deh. Ntar aku pesen bahannya dulu.”

 

 

 

Tok ... tok ... tok ...!

 

“Eh, Lutfi udah datang. Cepet banget tuh bocah,” tutur Yuna sambil menoleh ke arah pintu.

 

“Bukain pintu!” perintah Jheni sambil mendorong tubuh Icha.

 

“Aku?” Icha menunjuk dirinya sendiri dan melangkah ragu menuju pintu.

 

“Ayo bukain!” Yuna dan Jheni memberi isyarat agar Icha memiliki keberanian.

 

Icha membuka pintu perlahan dan mendapati Lutfi berdiri di depan pintu sambil tersenyum ke arahnya.

 

“Ini. Buat kalian!” Lutfi menyodorkan paper bag ke arah Icha. “Kakak Ipar mana?” tanyanya sambil nyelonong masuk ke rumah Jheni.

 

Icha menggigit bibir. Ia melangkah perlahan mengikuti Lutfi yang melangkah menghampiri Yuna dan Jheni yang duduk di sofa.

 

“Kalian apain si Icha?” tanya Lutfi.

 

“Eh!?” Yuna dan Jheni melongo menatap Lutfi.

 

“Cantik kan?” tanya Yuna balik.

 

“Kamu ngenalin dia?”

 

“Kenal. Pacar sendiri masa nggak kenal?”

 

“Tadi di WA kamu bilang ...”

 

“Aku cuma bercanda.”

 

Yuna dan Jheni terkekeh.

 

“Eh, kalian pergi ke luar gih! Aku sama Jheni mau curhat,” pinta Yuna.

 

Lutfi langsung menyambar paper bag dari tangan Icha. “Ini makanan buat kalian. Aku ke luar dulu sama Icha.” Ia meletakkan paper bag di atas meja.

 

“Ah, pengertian banget!” seru Yuna.

 

Lutfi tertawa kecil. “Aku tahu, Kakak Ipar demen makan. Kita pergi dulu!” Lutfi langsung meraih tangan Icha dan membawanya keluar dari rumah Jheni.

 

Yuna dan Jheni saling pandang lalu tertawa.

 

 

(( Bersambung ... ))

 

Makasih buat yang udah kirimin hadiah juga, bikin aku makin semangat deh.

Selalu sapa aku dengan komen di bawah ya! Kasih kripik ... eh, kritik dan saran juga ya!

 

Much Love

@vellanine.tjahjadi

 

Perfect Hero Bab 185 : Pamit || a Romance Novel by Vella Nine

 


“Cha, aku pergi ya! Kamu yang rajin kerjanya!” pamit Yuna setelah mengemasi barang-barang pribadinya yang ia bawa ke tempat kerja.

 

“Yun, kita semua pasti bakal kangen banget sama kamu. Kenapa harus berhenti, sih? Padahal, Bos Lian nggak nyuruh kita berhenti.”

 

Yuna tersenyum. “Aku juga bakal kangen sama kalian semua. Kita masih bisa ketemu, kok. Pintu rumah aku, selalu terbuka untuk kalian.”

 

“Pintu kantor ini juga selalu terbuka buat kamu, Yun. Apalagi Bos Lian, dia pasti bakal kangen kalo nggak ada kamu.”

 

“Hush, jangan ngomong gitu! Kalo didenger sama Bellina, kalian bisa habis!” sahut Yuna.

 

“Huft, iya ya? Kalo nggak ada kamu. Nggak ada lagi yang bisa belain kita. Bu Belli pasti bakal lebih merajalela menindas kita.”

 

“Telpon aku kalo dia berani macam-macam sama kalian! Ntar aku hadang di simpang jalan,” sahut Yuna.

 

“Hahaha.” Semua tergelak mendengar candaan Yuna.

 

Yuna tersenyum. Ia mengangkat kotak barangnya dan melangkah dengan berat hati keluar dari ruangannya.

 

“Yuna ...!” seru Icha dan beberapa karyawan yang lainnya. Mereka langsung menangis sambil memeluk tubuh Yuna.

 

“Kamu beneran pergi, Yun?”

 

“Yun, setelah keluar dari sini, kamu harus hidup lebih baik. Punya karir yang lebih baik.”

 

“Iya, Yun. Kalo nggak dapet yang lebih baik, kamu balik ke sini ya! Kita bakal nunggu kamu.”

 

Yuna tersenyum sambil menatap rekan-rekan kerjanya dengan mata berkaca-kaca. Ia tak menyangka kalau waktu berjalan begitu cepat. Dalam waktu yang singkat, ia bisa merasakan kehangatan di tempat kerjanya. Saling mendukung, mengatasi setiap masalah bersama-sama. Seperti sebuah keluarga.

 

Yuna melepaskan dirinya dan melangkah perlahan keluar dari ruang kerjanya. Ia langsung masuk ke dalam lift dan turun ke lobi. Di sana, ada seorang pria tampan yang telah menunggu kedatangannya.

 

“Lama ya nunggunya?” sapa Yuna sambil menghampiri Yeriko.

 

Yeriko menggelengkan kepala.

 

“Udah pamitan?” tanya Yeriko.

 

Yuna menganggukkan kepala. Ia menghela napas sejenak. “Aku belum pamitan sama Lian.”

 

“Kenapa?”

 

“Dia belum masuk kantor.”

 

“Nggak papa. Kalo nggak ketemu hari ini, masih bisa ketemu besok.”

 

Yuna tersenyum sambil menganggukkan kepala. Ia dan Yeriko melangkah keluar dari pintu utama kantor Wijaya Group.

 

“Pergi sekarang?” tanya Lian yang kebetulan baru sampai kantor bersama Bellina.

 

Yuna tersenyum sambil menganggukkan kepala. “Makasih kamu udah ngasih aku kesempatan bergabung di perusahaan ini. Belajar banyak hal, punya banyak teman dan pastinya ... ini pengalaman pertamaku yang paling berharga.”

 

Lian tersenyum sambil menganggukkan kepala. “Semoga kamu bisa menjadi lebih baik di tempat yang baru.” Ia menoleh ke arah Yeriko sejenak. “Kapan pun kamu mau, perusahaan ini akan selalu nerima kamu kembali.”

 

Yuna mengangguk. Ia melangkahkan kakinya perlahan. “Bye!” ucap Yuna saat melintas sejajar dengan tubuh Lian.

 

Yeriko tersenyum menatap Lian dan mengikuti langkah Yuna dari belakang.

 

Lian memutar tubuhnya menatap punggung Yuna dan Yeriko yang perlahan menjauh. Ia tak bisa lagi melihat wajah cantik Yuna dari balik jendela. Melihatnya tertawa bersama teman-teman kerjanya. Melihatnya begitu energik setiap melakukan pekerjaan. Melihat wajah cantiknya setiap pagi saat masuk kerja dari balik kaca mobilnya.

 

 “Bye, Ayuna ...!” bisik Lian dalam hati.

 

Bellina yang berdiri di samping Lian langsung merangkul Lian sambil menatap kepergian Yuna. Di bibirnya terlukis goresan bahagia mengiringi kepergian Yuna dari kantor Wijaya.

 

“Yun, mau langsung ke rumah sakit atau pulang dulu?” tanya Yeriko sambil membukakan pintu mobil untuk Yuna.

 

“Pulang dulu. Ntar aku ke rumah sakit naik taksi aja bareng Bibi.”

 

Yeriko mengernyitkan dahi. “Kamu nggak mau ajak aku ketemu ayah kamu?”

 

“Kamu kan kerja. Aku udah nggak kerja. Punya banyak waktu buat nemenin ayah di rumah sakit.”

 

“Oke.” Yeriko menutup pintu mobil. Ia melangkah mengitari mobilnya, membuka pintu mobil dan duduk di belakang kemudi.

 

“Kamu tunggu aku di rumah sakit. Ntar aku jemput kamu kalo udah pulang kerja!” pinta Yeriko sambil menjalankan mobilnya perlahan keluar dari halaman kantor Wijaya.

 

Yuna menganggukkan  kepala. “Besok jadi kan ke pameran?”

 

Yeriko menganggukkan kepala. Ia terus melajukan mobilnya.

 

“Aku pengen lihat karya-karya seniman lokal di sana. Kayaknya bagus-bagus. Tas ini, dikasih sama Mama Rully. Katanya dari Bunda Yana. Salah satu karya seniman kriya di sini. Bagus kan?” tutur Yuna sambil menunjukkan tas rajut yang ia pakai.

 

Yeriko menganggukkan kepala tanpa menoleh ke arah Yuna.

 

“Iih ... nggak lihat tapi udah ngangguk aja.” Sahut Yuna.

 

“Aku udah lihat dari tadi,” sahut Yeriko. “Oh ya, hari ini mau ngapain aja selain jenguk ayah?”

 

“Mmh ... aku mau bikin makanan buat ayah sebelum berangkat ke rumah sakit. Mmh ... abis itu belum tahu mau ngapain.”

 

Yeriko tersenyum sambil melirik Yuna lewat kaca spion. “Aku bakal pulang cepet buat nemenin kamu. Kalo bosan di rumah, kamu bisa pergi jalan-jalan sama Jheni atau Icha.”

 

“Icha sibuk kerja. Kalo ada waktu luang, pasti udah dicolong duluan sama Lutfi.”

 

“Jheni? Bukannya dia freelancer?”

 

Yuna menganggukkan kepala.

 

“Dia pasti punya banyak waktu buat nemenin kamu.”

 

Yuna menganggukkan kepala. “Boleh jalan ke mana aja?”

 

Yeriko mengangguk. “Asal bisa bikin kamu senang.”

 

“Ke bar?”

 

“Nggak boleh.”

 

“Kenapa?”

 

Yeriko langsung menghentikan mobilnya yang kebetulan sudah memasuki pekarangan rumah.

 

“Nggak boleh ke sana tanpa aku! Nggak boleh minum alkohol!” pinta Yeriko.

 

Yuna menganggukkan kepala. Matanya tertuju pada tas rajut yang ada di pangkuannya. “Mmh ... bukannya aku bisa knitting? Aku mau bikin sesuatu buat Yeri. Mudahan dia suka,” bisik Yuna dalam hati. Ia langsung keluar dari mobil.

 

“Aku langsung berangkat kerja!” pamit Yeriko tanpa keluar dari dalam mobil.

 

Yuna menganggukkan kepala. “Hati-hati ya!”

 

Yeriko mengangguk. Ia segera menjalankan mobilnya keluar dari pekarangan rumah dan melaju menuju kantornya.

 

Yuna tersenyum sambil masuk ke dalam rumah. “Pagi, Bi!” sapa Yuna sambil meletakkan box miliknya ke atas meja.

 

“Pagi ...!” sahut Bibi War. “Kok, tumben banget pagi-pagi udah pulang kerja? Lagi nggak enak badan?”

 

Yuna menggeleng sambil menghampiri Bibi War. “Aku udah berhenti kerja,” ucapnya sambil tersenyum.

 

“Hah!? Berhenti kerja?” tanya Bibi War dengan wajah sumringah.

 

Yuna mengangguk sambil tersenyum.

 

Bibi War tertawa bahagia sambil memeluk Yuna. “Akhirnya ...”

 

Yuna tersenyum sambil membalas pelukan bibi War. “Bi, bantu aku bikin makanan buat ayah ya!” pinta Yeriko. “Asupan makanan untuk ayah nggak boleh sembarangan. Aku udah minta resep makanan dari ahli nutrisi yang ngerawat ayah. Aku pergi belanja bahannya dulu. Nanti, Bibi juga temani aku ke rumah sakit ya!” pinta Yuna.

 

Bibi War menganggukkan kepala.

 

Yuna langsung memesan taksi online untuk berbelanja.

 

Bibi War tersenyum menatap kepergian Yuna. Ia sangat senang setiap kali melihat Yuna begitu ceria menjalani harinya. Ia membayangkan bagaimana ramainya rumah ini jika Yuna dan Yeriko sudah memiliki seorang anak.

 

(( Bersambung ... ))

 

Makasih udah dukung cerita ini terus.  Jangan lupa kasih Star Vote juga biar aku makin semangat nulis dan bikin ceritanya lebih seru lagi. Makasih buat yang udah kirimin hadiah juga, bikin aku makin semangat deh.

Selalu sapa aku dengan komen di bawah ya! Kasih kripik ... eh, kritik dan saran juga ya!

 

Much Love

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas