Sunday, February 16, 2025

Perfect Hero Bab 141 : Road to Bali || a Romance Novel by Vella Nine

 


“Aku udah berhasil bikin Icha ikut kita hari ini. Kamu harus penuhin janji kamu!” tutur Yuna sambil tersenyum penuh kemenangan.

 

“Iya, Kakak Ipar. Tenang aja!” sahut Lutfi.

 

“Emang kamu minta apa?” tanya Yeriko sambil menatap Yuna.

 

“Mmh ... ada, deh.”

 

Yeriko langsung merangkul leher Yuna. “Mau main rahasia-rahasiaan sama aku?” dengusnya.

 

Yuna meringis. “Eh, itu si Chandra sama Jheni udah dateng!” serunya saat melihat mobil Chandra memasuki halaman rumahnya.

 

Lutfi mondar-mandir sambil sesekali melihat jam di ponselnya. “Icha mana, Yun?” tanya Lutfi.

 

“Sabar. Masih di jalan.”

 

“Dia beneran ikut kan?”

 

Yuna menganggukkan kepala.

 

“Udah siap semua?” sapa Jheni sambil menghampiri Yuna.

 

Yuna mengangguk. “Tinggal nunggu Icha, nih.”

 

“Icha siapa?” tanya Chandra.

 

Yuna memainkan alisnya sambil menunjuk Lutfi dengan dagunya.

 

“Aha ... beneran udah punya pacar nih?” Chandra langsung merangkul tubuh Lutfi.

 

“Belum, Chan,” sahut Lutfi.

 

“Maksudnya? Baru gebetan?”

 

“Bisa dibilang begitu.”

 

“Makanya, dia ngajak ke Bali karena ada maunya,” sela Yuna.

 

“Oh ya? Jadi, ini acara kalian atau Lutfi?” tanya Chandra.

 

“Acara kami. Dia numpang aja mau nembak Icha. Hahaha.” Yuna tergelak.

 

“Kakak Ipar! Jujur banget! Aku udah kasih kalian numpang di villa-ku. Tega banget ngatain aku numpang acara kalian.”

 

“Emang iya, kan?” Yuna menjulurkan lidahnya ke arah Lutfi.

 

Lutfi geram melihat tingkah Yuna. “Sayangnya istri orang. Kalau bukan, udah kugigit beneran kamu itu. Ngeselin banget!” celetuknya.

 

Yeriko tertawa kecil melihat perdebatan Lutfi dan Yuna.

 

“Eh, itu Icha udah dateng!” seru Yuna. Ia langsung berlari menghampiri Icha yang baru saja memarkirkan sepeda motornya.

 

“Udah lama nunggunya?” tanya Icha.

 

“Mmh ... lumayan.”

 

“Kok, ada Lutfi?” bisik Icha di telinga Yuna.

 

“Iya. Dia kan sahabat suamiku. Jadi, kami rame-rame ke sana sekalian liburan. Yuk, aku kenalin ke mereka!” Yuna menarik lengan Icha.

 

“Cha, kenalin. Ini Jheni, sahabatku dari aku masih orok.” Yuna memperkenalkan Icha pada Jheni.

 

“Jheni!” sapa Jheni sambil mengulurkan tangan dan tersenyum ramah.

 

“Icha,” balas Icha tersenyum sambil menjabat tangan Jheni.

 

“Yang ini, namanya Chandra. Sahabat suamiku.”

 

Icha menganggukkan kepala ke arah Chandra.

 

Chandra hanya membalas Icha dengan senyuman kecil.

 

“Semuanya udah ngumpul. Kita berangkat sekarang!” seru Yuna.

 

“Aku nggak dikenalin, Yun?” tanya Lutfi.

 

“Nggak usah!” dengus Yuna. “Kenalan aja sendiri!”

 

“Sentimen amat kalo sama aku,” celetuk Lutfi.

 

Yuna terkekeh menanggapi celetukkan Lutfi.

 

“Cha, kamu ikut mobil Lutfi ya!” pinta Yuna.

 

“Aku?” Icha menunjuk dirinya sendiri.

 

“Iya.” Yuna menganggukkan kepala. “Soalnya mobil aku penuh sama barang, Cha.”

 

“Mmh ...”

 

“Atau mau ikut mobil Chandra sama Jheni?” tanya Yuna lagi. Ia mengerdipkan mata ke arah Chandra.

 

“Duh, mobilku juga penuh. Kopernya Jheni banyak banget.”

 

“Eh!?” Jheni langsung menoleh ke arah Chandra.

 

Yuna mengirimkan isyarat pada Jheni dan Chandra.

 

“Oh ... iya, Cha. Soalnya, aku mau seminggu di sana. Jadi, aku bawa barang agak banyak. Ada properti punya Yuna juga yang dibawa di mobil Chandra karena nggak cukup. Kalau mobil Lutfi kan lega.”

 

Lutfi tersenyum ke arah Icha. “Ikut mobil aku aja!” pintanya.

 

Icha tersenyum kecut sambil menganggukkan kepala.

 

“Yes!” seru Lutfi dalam hati. Ia bergegas membukakan pintu mobilnya untuk Icha.

 

Lutfi mengacungkan jempol dari balik punggungnya ke arah Yuna dan teman-temannya. Ia tersenyum senang dan ikut masuk ke dalam mobil.

 

“Eh, mereka lagi pedekate?” tanya Jheni penasaran.

 

Yuna menganggukkan kepala. “Lutfi lagi usaha.”

 

“Oh ... pantesan!”

 

“Dia beneran ngejar cewek itu?” tanya Chandra penasaran.

 

“Iya. Menurut kamu gimana?” tanya Yuna.

 

Chandra mengedikkan kepala. “Belum tahu. Belum kenal.”

 

“Mmh ... nggak papa. Ntar banyak waktu untuk saling kenal. Sekarang, kita berangkat!” seru Yuna.

 

Mereka bergegas masuk ke dalam mobil dan langsung melajukan kendaraannya menuju Pulau Dewata, Bali.

 

Lutfi telah mempersiapkan semuanya. Mereka menginap di villa mewah milik Lutfi yang berada di daerah Uluwatu.

 

 

 

Keesokan harinya ...

 

“Mbak, kita pemotretan pertama di pantai ya!” tutur salah satu kru yang menangani pemotretan foto pre-wedding Yuna dan Yeriko.

 

Yuna menganggukkan kepala.

 

“Mas Yeri mana ya?”

 

“Masih tidur,” jawab Yuna.

 

“Owh ... okey. Nanti kabari aja kalau sudah siap ya, Mbak!”

 

Yuna mengangguk.

 

“Mmh ... kalau bisa, jangan terlalu siang! Ntar panas. Masih ada beberapa tempat yang mau kita pakai untuk foto pre-wedding.”

 

“Mama Rully ngatur berapa tempat di Bali?”

 

“Empat, Mbak.”

 

“Bisa kelar sehari?” tanya Yuna lagi.

 

“Mmh ... nggak yakin, sih.”

 

“Ya udah. Ntar aku diskusikan sama Yeriko kalau dia udah bangun. Kalau emang nggak sempat, pemotretannya di sini aja!” pinta Yuna.

 

“Bisa aja, Mbak. Tapi, saya takut kalau Bu Rully marah karena kita nggak kasih seperti yang dia minta.”

 

“Mmh ... iya juga, sih. Ya udah, aku bangunin Yeriko dulu. Biar bisa kelar cepet.”

 

 “Oke.”

 

Yuna tersenyum kecil dan masuk kembali ke dalam kamar. Ia menatap wajah Yeriko yang masih tertidur pulas. “Kamu capek ya?” bisik Yuna sambil menyentuh hidung Yeriko dengan ujung jarinya.

 

“Hmm ...” Yeriko langsung menggenggam tangan Yuna.

 

“Udah bangun?”

 

Yeriko mengangguk sambil memejamkan mata. “Jam berapa sekarang?”

 

“Jam tujuh.”

 

Yeriko langsung bangkit dari tidurnya. “Udah siang banget. Kayaknya aku baru aja merem.”

 

Yuna tersenyum menatap Yeriko. “Capek ya?”

 

“Lumayan. Aku mandi dulu. Kamu udah mandi?”

 

Yuna menganggukkan kepala. “Aku tunggu di meja makan ya!”

 

Yeriko mengangguk dan bergegas masuk ke kamar mandi.

 

Yuna langsung keluar dari kamar dan ikut bergabung dengan yang lainnya yang sudah berkumpul di meja makan.

 

“Pagi, Nyonya Ye!” sapa Jheni ceria.

 

“Apaan sih!?” sahut Yuna sambil duduk di kursi.

 

“Yee ... disapa baik-baik malah jutek gitu. Kenapa? Berantem lagi sama Yeriko.”

 

“Nggak. Kamu alay. Males aku lihatnya,” sahut Yuna sambil memonyongkan bibirnya.

 

“Idih, kok gitu?”

 

Yuna meringis menatap Jheni. “Eh, Icha mana? Masih tidur?”

 

“Ke luar sama Lutfi.”

 

“Ke mana?”

 

Jheni mengedikkan bahu. “Pagi-pagi banget aku lihat mereka udah di tepi pantai.”

 

“Serius?” tanya Yuna dengan mata berbinar.

 

Jheni menganggukkan kepala. “Kenapa? Girang banget?”

 

“Eh, si Lutfi itu ngajak ke sini karena mau nembak si Icha. Hmm ... semoga aja mereka cepet jadian,” tutur Yuna sambil tersenyum bahagia.

 

“Ini sebenarnya acara Lutfi atau acara kamu sih, Yun?”

 

“Dua-duanya,” jawab Yuna santai.

 

“Eh, si Chandra mana?” tanya Yuna.

 

“Lagi berenang.”

 

“Huft, dia belum ada nembak kamu, Jhen?”

 

Jheni menggelengkan kepala.

 

“Payah banget! Kalah sama Lutfi. Dia mah to the point aja kalo suka sama Icha.”

 

Jheni menghela napas menatap Yuna. “Lutfi dan Chandra itu beda, Yun. Lagian, Chandra baru aja patah hati. Nggak semudah itu ngelupain Amara.”

 

“Uch ... kamu pengertian banget sih sama Chandra? Gimana kalau kamu yang nembak dia duluan?”

 

“Nggak usah ngasih ide yang memalukan!” sahut Jheni sambil menoyor kepala Yuna.

 

Yuna terkekeh.

 

“Mbak, kami makan duluan ya!” pamit salah satu kru yang terlibat pemotretan Yuna dan Yeriko.

 

Yuna menganggukkan kepala sambil tersenyum. “Kalian makan aja dulu! Banyak hal yang harus disiapkan. Kami santai aja, kok.”

 

Semua kru yang terlibat pemotretan langsung bergegas menikmati sarapannya karena mereka sedikit terburu-buru menyiapkan sesi pemotretan.

 

“Yeriko mana?” tanya Jheni.

 

“Masih mandi. Paling sebentar lagi nongol.”

 

“Oh.”

 

“Kamu nggak nyuruh Chandra buat sarapan bareng?” tanya Yuna.

 

Jheni menggelengkan kepala.

 

Yuna ingin membuka mulutnya lagi, namun tertahan saat melihat Chandra muncul dan langsung duduk di samping Jheni.

 

“Udah kelar berenangnya?” tanya Jheni sambil menoleh ke arah Chandra.

 

Chandra menganggukkan kepala. “Lutfi sama Yeri mana?”

 

“Yeriko masih mandi. Kalau Lutfi, aku nggak tahu,” jawab Yuna.

 

“Nah, itu mereka!” seru Jheni sambil menatap Lutfi dan Icha yang baru saja datang sambil bergandengan tangan.

 

“Hmm ... kayaknya mereka udah jadian,” bisik Yuna sambil menatap Jheni.

 

Jheni tersenyum sambil mengangguk kecil.

 

Yuna melirik ke arah Chandra sambil memberikan isyarat pada Jheni.

 

Jheni menggelengkan kepala.

 

Yuna mengedikkan bahu. Ia merasa, Chandra tidak begitu berinisiatif mengatakan perasaannya pada Jheni. Padahal, ia sudah bisa membaca sikap Chandra yang begitu memperhatikan Jheni, begitu juga sebaliknya. Siapa sangka, kalau Lutfi dan Icha, jauh lebih cepat menjalin hubungan.

 

(( Bersambung ... ))

 

Makasih udah baca sampai sini. Tunggu part-part manis di cerita selanjutnya ya ...

 Jangan lupa kasih Star Vote juga biar aku makin semangat nulis dan bikin ceritanya lebih seru lagi. Makasih buat yang udah kirimin hadiah juga. Jangan sungkan buat sapa aku di kolom komentar ya! Kasih kripik ... eh, kritik dan saran juga ya!

 

 

Much Love

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

Perfect Hero Bab 140 : Cowok Tumpis || a Romance Novel by Vella Nine

 


“Heh!? Kalian ini bener-bener nggak punya perasaan ya? Nuduh orang tanpa bukti. Semua orang juga tahu kalau Yuna istri sahnya Yeriko,” tutur Icha. Ia mengelus pundak Yuna perlahan.

 

“Kamu nggak papa, Yun?” tanya Icha.

 

“Nggak papa, Cha,” jawab Yuna sambil memijat keningnya.

 

“Kita pergi aja dari sini!” pinta Icha sambil memapah Yuna keluar dari kantin perusahaan.

 

“Yun, kamu nggak usah masukin ke hati omongan mereka!” pinta Icha.

 

Yuna mengangguk kecil.

 

“Mmh ... gimana kalau kita pergi ke kedai ice cream?”

 

Yuna menggelengkan kepala. “Aku balik ke ruanganku aja, Cha. Kalau ke sana, kemungkinan besar aku bakal ketemu orang bnyak dan juga wartawan.”

 

“Kamu jadinya belum makan, Yun.”

 

“Delivery aja, Cha!” pinta Yuna.

 

“Mmh ... oke.” Icha menyalakan ponsel di tangannya. “Kamu mau makan apa?” tanyanya sambil melangkahkan kakinya menuju ruang kerja mereka.

 

“Terserah aja, Cha. Yang penting cepet!”

 

Icha menganggukkan kepala dan segera memesankan makanan untuknya dan untuk Yuna. Mereka memilih untuk makan tenang di dalam ruang kerja mereka.

 

“Yun, kenapa tuh si Rani jadi sewot juga sama kamu?” tanya Icha sambil menikmati makanannya di dalam ruang kerjanya.

 

Yuna mengedikkan bahu. “Mungkin karena Bellina.”

 

“Mmh ... iya juga, siapa sih yang berani ngelawan perintahnya Bellina. Setahu aku, Rani nggak pernah ikut campur urusannya orang.”

 

“Sekarang, Bellina bahkan nggak punya pendukung. Lili, Sofi sama Linda udah dipecat gara-gara Bellina juga.”

 

“Linda dipecat?”

 

Yuna menganggukkan kepala. “Sejak melukai kamu hari itu. Lian langsung mecat dia.”

 

Icha tertawa mendengar ucapan Yuna. “Nggak nyangka kalau aku bisa bikin asistennya Bellina dipecat,” tutur Icha sambil cekikikan.

 

“Dia emang keterlaluan, Cha. Oh ya, kapan kamu ada waktu? Aku mau kenalin kamu sama Jheni.”

 

“Jheni?” Icha mengernyitkan dahinya.

 

Yuna menganggukkan kepala. “Sahabat aku.”

 

“Oh ya?” Mata Icha berbinar. Ia sangat senang bisa memiliki teman baik.

 

“Hei, kalian kenapa makan di sini?” tanya Juan yang baru saja masuk ke dalam ruangan.

 

“Di kantin banyak lambe turah,” sahut Yuna.

 

“Hahaha.”

 

“Kenapa ketawa? Ada yang lucu?”

 

“Kamu yang lucu,” sahut Juan.

 

“Apanya?” tanya Yuna dengan mulut penuh makanan.

 

“Nggak papa. Bercanda doang. Eh, kalian tahu nggak Pak Rudi yang di bagian keuangan?”

 

Yuna menganggukkan kepala. “Yang gendut itu kan?”

 

Juan menganggukkan kepala.

 

“Emang dia kenapa?”

 

“Dia mau nikah lagi.”

 

“Hah!? Bukannya udah punya istri dan anak?” tanya Icha.

 

“Iya. Tapi kayaknya masih belum puas. Dia mau ambil istri kedua. Katanya, istrinya yang kedua ini cantik dan masih muda banget. Baru umur delapan belas tahun,” tutur Juan.

 

“Eh, busyet! Pak Rudi itu umurnya udah empat puluhan kan?”

 

Juan menganggukkan kepala. “Jangan dilihat dari umurnya!” jawabnya. “Biar tua-tua gitu, semangatnya masih tujuh belas tahun. Hahaha.”

 

“Emang dasar cowok, nggak bisa setia sama satu pasangan aja.”

 

“Yaelah, wajar kali kalo cowok punya istri dua. Lagian, poligami kan nggak dilarang yang penting bisa berlaku adil sama istri-istrinya.”

 

Icha mencebik ke arah Juan. “Jangan-jangan, kamu ini deretan cowok pendukung poligami ya?”

 

“Hahaha. Nggaklah. Aku ini tipe cowok setia. Kecuali, kalau aku punya banyak duit. Mau punya istri sepuluh pun nggak akan masalah kan?”

 

“Terserah kamu aja, yang penting kamu senang,” sahut Icha.

 

Juan terkekeh. “Eh, Yun. Gosip yang lagi hot itu gimana? Yeriko mau poligami nggak? Itu artis cantik juga, loh.”

 

“Uhuk ... uhuk ...!” Yuna langsung tersedak begitu mendengar pertanyaan Juan.

 

“Minum, Yun!” Icha menyodorkan segelas air putih ke hadapan Yuna. “Kamu ini, nggak usah ngomong macem-macem!” sentak Icha sambil memukul lengan Juan.

 

“Idih, aku serius, Cha. Bos GG itu kan orang kaya. Ibarat Raja dan Ratu. Raja, biasanya punya banyak selir.”

 

“Juan ...!” seru Icha sambil memukuli tubuh Juan.

 

“Eh, eh, Cha. Ampun ...!” Juan berusaha menghindari pukulan Icha. “Aku bercanda. Serius amat nanggepinnya!”

 

“Bercandanya nggak lucu! Kamu tahu sendiri kalau berita di media lagi mojokin Yuna. Malah bikin suasana makin panas aja!” seru Icha.

 

“Udahlah, Cha. Aku nggak papa, kok,” sela Yuna.

 

Icha menoleh ke arah Yuna. Kemudian kembali menatap kesal ke arah Juan. “Awas kalo ngomong macem-macem lagi!”

 

“Iya, iya. Cantik-cantik, galak!” celetuk Juan.

 

“Apa kamu bilang?”

 

“Nggak. Itu loh, Manager Pemasaran galak banget.”

 

“Kamu kira aku nggak dengar, tadi kamu ngomong apa, hah!?”

 

“Iya, sorry! Gitu aja ngambek. Cepet makannya! Aku minta laporan yang baru. Ntar nggak aku bikinkan gambarnya.”

 

“Udah aku kirim ke email kamu sebelum makan siang. Kamu aja yang belum ngecek komputer,” sahut Icha.

 

“Iya kah? Hihihi.” Juan langsung duduk di meja kerjanya.

 

Icha mencebik ke arah Juan. Kemudian menatap Yuna yang termenung di sampingnya.

 

“Kamu nggak papa?” tanya Icha.

 

“Nggak papa,” jawab Yuna sambil tersenyum kecil.

 

“Nggak usah kamu masukin hati omongannya Juan. Emang kompor dia itu!”

 

Yuna tersenyum kecil menanggapi ucapan Icha.

 

“Oh ya, Cha. Weekend ini kamu bisa temenin aku nggak?” tanya Yuna.

 

“Ke mana?”

 

“Ke Bali.”

 

“Ngapain ke sana?”

 

“Foto Pre-wedd.”

 

“Wah, mau pre-wedd di sana?”

 

Yuna menganggukkan kepala. “Ikut ya!” pinta Yuna.

 

“Mmh ...”

 

“Please!” Yuna menangkupkan kedua telapak tangannya.

 

“Mmh ... oke, deh.”

 

“Sip, dah. Sabtu sore, aku tunggu di rumah ya! Kita berangkat bareng. Aku mau ajak Jheni juga, sekalian aku kenalin sama kamu.”

 

“Sabtu sore? Nginap di sana?”

 

Yuna menganggukkan kepala.

 

“Mmh ...” Icha menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

 

“Kenapa?” tanya Yuna.

 

“Belum gajian, Yun. Kalau aku ke sana ...”

 

“Tenang aja! Semuanya udah disiapin di sana. Nggak perlu keluar uang sepeserpun.”

 

“Beneran?”

 

Yuna mengangguk sambil tersenyum.

 

“Apa kamu baik-baik aja?” tanya Icha kemudian.

 

“Emangnya kenapa?”

 

“Gosip soal kamu aja belum hilang, Yun. Apa nggak akan mengganggu acara pemotretan kalian?”

 

“Semuanya udah diatur jauh-jauh hari sama Mama Rully. Minggu ini, jadwal pemotretan di Bali. Nggak bisa ngubah jadwal gitu aja. Hmm ... anggap aja refreshing dulu. Pusing banget kalau cuma di dalam ruangan. Mikirin gosip yang diciptakan sama artis gila satu itu.”

 

Icha tertawa kecil menanggapi ucapan Yuna. “Mmh ... bener juga, sih.”

 

“Oke. Aku tunggu kamu jam empat sore. Jangan sampai telat ya!”

 

Icha menganggukkan kepala.

 

Yuna tersenyum sambil melihat kembali chat yang dikirim oleh mama mertuanya. Di tengah kesibukan menyiapkan acara pernikahan, mereka harus menghadapi isu miring yang diciptakan oleh Refi.

 

Yuna menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Ia merasa, Refi sangat berbahaya bagi hubungannya. Tapi ia tetap bersyukur karena mendapat dukungan dari keluarga Yeriko, terutama mama mertuanya.

 

 

(( Bersambung ... ))

 

Makasih udah baca sampai sini. Tunggu part-part manis di cerita selanjutnya ya ...

 Jangan lupa kasih Star Vote juga biar aku makin semangat nulis dan bikin ceritanya lebih seru lagi. Makasih buat yang udah kirimin hadiah juga. Jangan sungkan buat sapa aku di kolom komentar ya! Kasih kripik ... eh, kritik dan saran juga ya!

 

 

Much Love

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

Perfect Hero Bab 139 : Oh ... Netizen ...!

 


Yuna kembali bekerja seperti biasanya. Ia merasa sedikit canggung karena gosip yang menerpa dirinya. Yah, meski tak ada teman satu departemen yang membahas tentang rumor yang beredar di media. Ia tetap saja khawatir. Ia justru lebih banyak menerka-nerka sendiri karena tidak ada yang berspekulasi tentang dirinya.

 

“Hei, kenapa ngelamun?” tanya Icha sambil menepuk pundak Yuna.

 

“Eh!? Nggak, kok.”

 

“Nggak gimana? Dari tadi bengong aja. Ke kantin yuk!” ajak Icha. “Udah waktunya makan siang, nih.”

 

“Eh!? Cepet banget?” sahut Yuna sambil melihat jam dinding yang ada di ruangannya. Rasanya, ia baru duduk beberapa menit. Tapi waktu sudah menunjukkan jam makan siang.

 

“Apanya yang cepet?”

 

“Jam istirahatnya,” jawab Yuna.

 

“Kamu sih, kebanyakan ngelamun.”

 

“Huft, aku bener-bener nggak tahu harus gimana ngadepinnya. Kamu tahu sendiri, media sudah memberitakan kalau aku ...”

 

“Ah, sudahlah. Nggak perlu dibahas!” pinta Icha. “Aku tahu kamu nggak salah. Lebih baik, kita makan aja!”

 

“Tapi, Cha. Media udah nyebar rumor kalau aku ini orang ketiga dibalik retaknya hubungan Yeriko dan Refi. Aku bener-bener nggak tahu kalau Refi itu artis yang lumayan tenar. Kamu lihat aja penggemarnya dia nyerang aku semua.”

 

“Yun, aku nggak pernah lihat kamu selemah ini. Yang aku kenal, Ayuna adalah gadis cantik yang penuh semangat dan berani menghadapi apa pun.”

 

“Huft, entahlah. Masalah kali ini bener-bener bikin aku nggak percaya diri. Refi itu cewek yang licik. Dia bisa memutar balikkan fakta ke media dan bikin semua penggemarnya nyerang aku. Dia juga manfaatin penyakitnya buat ngambil perhatian Yeriko. Pengen banget aku cabik-cabik mukanya yang sok baik itu!” seru Yuna kesal.

 

Icha tertawa kecil sambil menatap Yuna.

 

“Kenapa malah ketawa? Ada yang lucu?”

 

Icha menggelengkan kepala. “Aku pikir, jadi istri orang tampan dan kaya raya itu bakal bahagia banget. Ternyata, cukup melelahkan karena banyak saingannya.”

 

“Iya juga sih. Kalau aku masih pacaran sama Yeriko, wajar aja sih mereka deketin Yeri. Tapi ... Yeriko itu udah nikah. Mereka masih aja godain suami orang. Kamu tahu, waktu acara Fashion Show kemarin, banyak model yang caper ke Yeri. Padahal, udah tahu kalau aku ini istrinya. Ngeselin, kan?”

 

“Yun, suami kamu itu bukan orang biasa. Kalau emang kamu beneran cinta dan pengen hidup sama dia buat selamanya. Kamu harus menyiapkan mental kamu. Bisa jadi, bukan cuma satu Refi yang kamu hadapi.”

 

“Mmh ... bener juga sih. Aku cuma takut hatinya Yeriko goyah. Pernikahan kami baru seumur jagung dan banyak banget masalah yang harus kami hadapi.”

 

“Sabar ya! Semuanya pasti berlalu. Anggap aja, ini jalan menuju kebahagiaan. Setiap masalah, pasti ada jalan keluarnya. Saat ingin naik ke atas, semua anak tangga harus dilalui, baru bisa sampai ke tujuan.”

 

Yuna tersenyum menatap Icha.

 

“Kenapa lihatin aku kayak gitu?” tanya Icha.

 

“Gimana hubungan kamu sama Lutfi?”

 

“Eh!? Kenapa mengalihkan pembicaraan?”

 

“Mmh ... pantes aja Lutfi tergila-gila sama kamu. Ternyata, kamu memang wanita yang mengagumkan.”

 

“Apaan sih!?” Icha tersipu menanggapi ucapan Yuna. “Aku sama dia cuma temenan.”

 

“Sekarang temenan, besok demenan.”

 

“Iih ... kamu nih!?” seru Icha sambil mencubit pundak Yuna.

 

“Idih, kok nyubit sih?”

 

“Udah, ah. Ke kantin yuk! Aku laper nih.” Icha langsung menarik lengan Yuna keluar dari ruang kerjanya.

 

“Aha ... kamu nggak mau ngaku ya?”

 

“Ngaku apaan?”

 

“Hubungan kamu sama Lutfi? Dia udah nembak kamu atau belum?”

 

“Kalau dia nembak aku, mati dong akunya.”

 

“Iih ... bukan itu! Aku serius!” dengus Yuna.

 

“Mmh ... kemarin, dia ada nyatain perasaannya sih.”

 

“Terus? Terus?” Yuna melangkahkan kaki sambil terus menatap Icha karena penasaran dengan kisah cinta dua orang yang memiliki karakter berbeda.

 

“Yah ... gitu,” jawab Icha sambil mempercepat langkahnya.

 

“Yah gitu?” Yuna menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Maksudnya apa? Apa ...? Mereka udah jadian!” seru Yuna sambil mengejar Icha.

 

“Cha, kamu udah jadian sama Lutfi?” tanya Yuna makin penasaran.

 

“Kamu mau makan apa?” tanya Icha saat mereka sudah masuk ke kantin.

 

“Sembarang kamu aja.”

 

“Kok, sembarang?”

 

“Aku pemakan semua,” sahut Yuna kesal. Ia mengedarkan pandangannya dan melihat beberapa orang yang menatapnya sambil berbisik-bisik.

 

Icha tertawa kecil. “Kamu cari tempat duduk dulu! Biar aku yang ambilkan makanan buat kamu.”

 

Yuna mengangguk, ia segera mencari tempat untuk duduk. Beberapa menit kemudian, Icha sudah menghampiri Yuna sambil membawakan makanan.

 

“Mentang-mentang istrinya orang kaya. Mau makan aja minta ambilin sama orang lain,” celetuk Rani yang kebetulan melintas bersama Lian.

 

Yuna pura-pura tidak mendengarkan ucapan Rani. “Kenapa lagi ini orang? Si Linda udah dipecat. Pasti si Belli yang bikin Rani ikut campur urusanku,” batin Yuna.

 

“Eh, kamu kenapa mau aja disuruh-suruh sama dia? Emangnya dibayar berapa?” tanya Rani sambil menatap Icha.

 

“Aku nggak perlu dibayar. Aku ngelakuin ini atas keinginanku sendiri karena Yuna sahabatku.”

 

“Sahabat?” Rani melirik Lian yang sudah duduk di salah satu meja yang agak jauh dari mereka. “Kamu sadar nggak kalau lagi dijadiin jongos sama dia?”

 

Yuna menarik napas dalam-dalam. “Ran, aku nggak pernah ngusik hidup kamu. Lebih baik, kamu temenin bos kamu itu makan!”

 

“Bener ya kata Belli. Kamu tuh cewek paling sombong di dunia. Mentang-mentang jadi istrinya bos GG. Eh, bukannya selingkuhan ya? Lumayan licik juga. Rela jadi orang ketiga demi dapetin harta.”

 

Yuna bangkit dan mendelik ke arah Rani. “Kamu jangan sembarangan ngomong! Nggak ada bukti kalau aku selingkuhannya Yeriko!”

 

“Nggak ada? Buktinya udah jelas, Refi udah bikin pernyataan ke media. Dia sendiri yang bilang kalau kamu adalah orang ketiga yang bikin hubungan dia dan Yeriko hancur.”

 

“Iya, bener. Kamu bahkan tega maksa Refi lompat dari atas gedung supaya dia nggak kembali lagi sama Yeriko. Kamu takut kelakuan asli kamu terbongkar?” Salah seorang karyawan menimpali.

 

“Aku nggak ada nyuruh dia lompat dari atas gedung!” sahut Yuna kesal. “Lagian, aku nggak ada di sana waktu kejadian. Gimana bisa aku nyuruh dia lompat?”

 

“Bisa aja kan kamu memang sudah mengancam dia sebelumnya?”

 

“Iya. Aku kira, kamu tuh baik, Yun. Kamu jahat banget, Yun!”

 

“Nggak nyangka kalau kamu sampai mau membunuh orang lain demi harta.”

 

“Demi bisa jadi istri bos GG, kamu sampai menggunakan cara kotor.”

 

“Cantik-cantik tapi hatinya busuk. Pura-pura baik dan polos itu cuma kedok doang.”

 

Yuna mengedarkan pandangannya. Ia menatap beberapa orang yang terus menyerangnya dengan kalimat yang begitu menusuk hatinya. Ia tidak tahu bagaimana menghadapinya.

 

Komentar netizen di media sosial, benar-benar seperti ribuan anak panah yang menghujam tubuhnya. Yuna terduduk di kursi sambil menutup kedua telinga. Ia sangat berharap kalau sekarang ini telinganya tidak bisa mendengar apa pun. Setiap kata yang masuk ke telinganya, seperti racun yang siap mematikan jantung dan seluruh organ dalam tubuhnya. “Oh, God! Save me!” bisik Yuna sambil memejamkan mata.

 

(( Bersambung ... ))

 

Yuna pasti kuat kan? So, jangan sampai ketinggalan baca part selanjutnya ya ...!

 Jangan lupa kasih Star Vote juga biar aku makin semangat nulis dan bikin ceritanya lebih seru lagi. Makasih buat yang udah kirimin hadiah juga. Jangan sungkan buat sapa aku di kolom komentar ya! Kasih kripik ... eh, kritik dan saran juga ya!

 

 

Much Love

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas