Sunday, February 16, 2025

Perfect Hero Bab 135 : Mencarimu || a Romance Novel by Vella Nine

 


“Pak Bos, ada hal penting yang harus Pak Bos tahu,” tutur Riyan begitu Yeriko selesai meeting bersama dewan direksi perusahaannya.

 

“Apa itu?” tanya Yeriko sambil melangkah masuk ke ruang kerjanya.

 

“Ini.” Riyan menunjukkan video Yeriko yang sedang menyelamatkan Yuna dan sudah dibagikan ribuan kali di Facebook.

 

Yeriko langsung merebut tablet dari tangan Riyan. Ia melihat video tersebut sambil membaca komentar dari para pengguna Facebook.

 

“Kenapa bisa ada video ini?” tanya Yeriko.

 

“Kejadian tadi malam, ada begitu banyak orang. Tidak menutup kemungkinan mereka mengambil gambar dan video.”

 

“Cepat selesaikan!” pinta Yeriko. “Saya mau semua berita yang sudah beredar di internet, dihapus semua!”

 

Riyan menganggukkan kepala. Ia bergegas melangkah pergi.

 

“Tunggu!”

 

“Ya.”

 

“Tadi pagi, Yuna ada nanyain saya?”

 

Riyan menganggukkan kepala.

 

“Kamu bilang apa aja?”

 

“Sesuai dengan yang terjadi.”

 

“Apa dia ... kelihatan marah?”

 

“Mmh ... saya rasa, dia sedikit cemburu. Nggak marah, tapi murung.”

 

Yeriko langsung mengusap wajah dan memijat keningnya sendiri. Ia bisa mengerti bagaimana perasaan Yuna jika melihat video tersebut.

 

“Apa dia tahu soal video ini?”

 

“Kurang tahu, Pak Bos!”

 

“Oke. Kamu urus video itu secepatnya!” perintah Yeriko. Ia menyambar kunci mobil dan berlari keluar dari kantornya. Ia sangat mengkhawatirkan kondisi Yuna jika mengetahui video yang sedang viral tersebut.

 

Beberapa menit kemudian, Yeriko sudah sampai di kantor Wijaya Group. Ia langsung mencari Yuna.

 

“Mbak, Ayuna ada di ruangannya?” tanya Yeriko saat ia sampai di meja resepsionis.

 

“Mbak Ayuna yang di Departemen Proyek?”

 

Yeriko menganggukkan kepala.

 

“Sudah pulang dari tadi, Pak.”

 

“Pulang?”

 

“Iya. Katanya lagi nggak enak badan.”

 

“Jam berapa dia keluar dari kantor?”

 

“Sekitar jam sepuluhan.”

 

“Oke. Makasih!” Yeriko kembali berlari masuk ke dalam mobilnya.

 

Ia terlambat mencegah Yuna mengetahui video tersebut. Selama di perjalanan, Yeriko terus menelepon Yuna. Namun, tidak bisa terhubung. Hal ini membuat Yeriko semakin gelisah. “Semoga aja, dia udah di rumah.” Ia langsung menambah kecepatan mobilnya agar bisa sampai ke rumah lebih cepat.

 

Yeriko langsung keluar dari mobil tanpa mematikan mesin begitu sampai di halaman rumahnya. Ia berlari menerobos masuk ke rumahnya. Menaiki dua anak tangga sekaligus agar bisa mencapai kamarnya lebih cepat.

 

“Yun! Yuyun!” teriaknya saat membuka pintu kamar dan tidak mendapati Yuna. Ia berlari ke kamar mandi, kosong.

 

Yeriko kembali menuruni anak tangga sambil memanggil Bibi War. “Bi ...! Bibi ...!” teriaknya.

 

Bibi War muncul dari halaman belakang dengan tergopoh-gopoh. “Ada apa, Mas?”

 

“Yuna mana?”

 

“Ini masih jam kantor. Mbak Yuna pasti masih di kantornya.”

 

“Aku udah ke kantornya. Dia udah pulang dua jam yang lalu!” seru Yeriko.

 

“Ini ada apa?” Bibi War langsung menangkap kepanikan Yeriko.

 

“Aduh, Bi ... aku nggak bisa cerita sekarang. Aku harus nemuin Yuna secepatnya,” sahut Yeriko sambil melangkah pergi.

 

“Mau nyari ke mana?” tanya Bibi War.

 

Yeriko menghentikan langkahnya. Ia benar-benar tidak tahu ke mana harus mencari Yuna. Tapi, ia tidak akan menyerah begitu saja.

 

“Aku cari ke rumah temen-temen deketnya dulu.” Yeriko bergegas keluar dari rumah. Ia langsung melajukan mobilnya sambil menelepon Chandra terlebih dahulu.

 

“Halo, Chan! Kamu ada nomer hp-nya Jheni?” tanya Yeriko tanpa basa-basi.

 

“Ada. Kenapa?”

 

“Yuna ngilang. Siapa tahu, dia lagi sama Jheni.”

 

“Jheni lagi sama aku.”

 

“Mana dia? Aku mau ngomong!” pinta Yeriko.

 

“Halo ....!” sapa Jheni. “Ada apa?”

 

“Kamu tahu ke mana biasanya Yuna pergi kalau ada masalah?”

 

“Ke rumah aku.”

 

“Sekarang, kamu di mana?”

 

“Lagi makan di luar bareng Chandra.”

 

“Sekitar jam sepuluh tadi, apa dia ada ke rumahmu?”

 

“Nggak tahu. Aku nggak di rumah.”

 

“Aargh ...!” teriak Yeriko sambil mematikan sambungan teleponnya.

 

Ia tetap melajukan mobilnya ke rumah Jheni untuk memastikan kalau Yuna ada di rumah sahabatnya atau tidak.

 

“Kamu ke mana sih, Yun?” gumam Yeriko begitu keluar dari halaman rumah Jheni. Ia menatap langit yang tiba-tiba gelap.

 

Yeriko melirik arloji di tangannya. Sudah dua jam ia mencari Yuna ke beberapa tempat dan belum juga menemukannya.

 

“Halo, Bi! Yuna sudah pulang ke rumah atau belum?” tanya Yeriko saat ia menghubungi telepon rumahnya.

 

“Belum, Mas,” jawab Bibi War.

 

“Duh, udah mau hujan gini. Dia belum pulang juga?”

 

“Belum. Mas Yeri sudah nyari ke tempat ayahnya?”

 

“Oh, iya. Aku nggak kepikiran ke sana.” Yeriko langsung mematikan panggilan telepon dan bergegas melajukan mobilnya menuju rumah sakit. Ia terus berlari menuju ruang rawat ayah Yuna.

 

Yeriko menarik napas dalam-dalam saat ia masuk ke ruangan Adjie dan tidak mendapati istrinya ada di ruangan tersebut.

 

Yeriko menghampiri Adjie yang masih terlelap di atas ranjangnya. Ia mencium aroma Cherry Blossom yang khas dari parfum milik Yuna.

 

“Dia ke sini,” batin Yeriko. Ia langsung berbalik dan melangkah pergi mencari Yuna. Aroma parfum milik Yuna masih tertinggal di ruangan ayahnya, seharusnya istrinya itu belum pergi jauh.

 

Yeriko terus berlari sambil menelepon Bibi War untuk memastikan kalau Yuna sudah pulang ke rumah atau belum. Ia berkeliling rumah sakit untuk mencari sosok Yuna.

 

Yeriko berusaha mengatur napasnya yang tersengal saat ia sampai di atap gedung. Namun, ia tetap tidak bisa menemukan Yuna.

 

“Kamu ke mana sih, Yun?” tanya Yeriko. Ia merasa sangat bersalah karena telah membuat Yuna terluka.

 

Yeriko merogoh ponselnya yang tiba-riba berdering. Ia menatap layar ponsel dan langsung menerima panggilan dari Lutfi.

 

“Halo ...! Kenapa, Lut?” tanya Yeriko dengan napas tersengal.

 

“Kamu lagi ngapain?”

 

“Lagi nyari Yuna.”

 

“Dia nggak pulang ke rumah?” tanya Lutfi.

 

“Nggak ada di rumah. Bantu aku cari dia!” pinta Yeriko.

 

“Cari ke mana?” tanya Lutfi. “Kamu tahu nggak ke mana biasanya Yuna kalau lagi sedih?” tanya Lutfi pada seseorang yang ada di dekatnya.

 

“Aku nggak tahu. Yang jelas, dia barusan ke tempat ayahnya. Terus, nggak tahu ke mana lagi.”

 

“Aku nanya Icha, bukan nanya kamu, Yer.”

 

“Oh. Bantu ya! Kalau ada lihat Yuna, langsung hubungi aku!”

 

“Hahaha. Siap, Bos!”

 

“Kenapa malah ketawa?” tanya Yeriko.

 

“Kakak Ipar itu udah besar. Nanti juga dia pulang sendiri,” celetuk Lutfi santai.

 

“Ini beda keadaannya!” sahut Yeriko kesal.

 

“Hahaha. Makanya, nggak usah bikin ulah!” sahut Lutfi. “Dia pasti menderita denger gosip kamu sama mantan pacarmu itu.”

 

“Kamu jangan memperburuk keadaan!” pinta Yeriko. “Bantu aku cari dia!”

 

“Siap! Aku cari sekarang juga bareng Icha.”

 

“Oke. Langsung kabarin aku kalau ada lihat Yuna!” Yeriko langsung mematikan sambungan teleponnya. Ia mencari ke semua tempat yang pernah ia kunjungi bersama Yuna.

 

“Yun, kamu di mana sih?” Yeriko memejamkan mata sambil memijat keningnya yang berdenyut. Ia menarik napas berkali-kali untuk menenangkan diri dan memikirkan kembali tempat yang belum ia datangi.

 

Yeriko langsung membuka mata saat ia teringat sesuatu. Ia kembali menyalakan mesin mobil dan bergegas menuju ke salah satu tempat yang kemungkinan besar didatangi oleh Yuna.

 

(( Bersambung ... ))

 

Nantikan kisah selanjutnya yang bakal lebih seru lagi ...

 Jangan lupa kasih Star Vote juga biar aku makin semangat nulis dan bikin ceritanya lebih seru lagi. Makasih buat yang udah kirimin hadiah juga. Jangan sungkan buat sapa aku di kolom komentar ya! Kasih kripik ... eh, kritik dan saran juga ya!

 

 

Much Love

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

The Cakra Bab 122 : Hasil Pengecekkan CCTV || a Romance Novel by Vella Nine

 


“Jangan sampai mamaku tahu kalau Chessy menghilang!” perintah Cakra pada Fikri dan Alvaro saat mereka semua sudah masuk ke dalam rumah apartemen milik Cakra.

“Tapi, gimana kita bisa dapetin Chessy kalau nggak pakai media? Kamu aja nggak tahu di mana posisi Chessy meski kamu bisa dengar suara dari kejauhan,” sahut Alvaro.

Cakra langsung menatap tajam ke arah Alvaro. “Aku beri kamu dua pilihan, bantu atau pergi?”

Alvaro menelan ludah sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Iya, bantu. Aku bantu!” ucapnya.

“Ngopo aku nduwe dulur koyok ngene iki, cah?” batinnya. “Kalo bukan adekku, wes tak pites ndase!” lanjutnya sambil menahan gemas di dalam pikirannya.

Cakra memilih untuk diam. Membiarkan Alvaro mengutuknya dalam hati seperti biasa. Ia sudah terbiasa mendengarkan isi hati Alvaro dan semua kemelut hatinya, termasuk semua kekesalannya. Ia tidak pernah tersinggung dengan caci-maki Alvaro saat sedang emosi. Karena ia tahu jika jauh di dalam lubuk hati Alvaro sangat menyayanginya. Jika tidak, mana mungkin Alvaro rela mengabdikan diri untuk menemaninya setiap saat.

Alvaro mengeluarkan laptop dari tas ransel yang ia bawa dan mengecek semua laporan anak buahnya yang sudah masuk.

“Ada perkembangan, Mas?” tanya Fikri lirih sambil menghampiri Alvaro yang sudah duduk di sofa.

Alvaro tak langsung menyahut. “Bikinkan aku kopi dulu, Fik! Raiso mikir aku kalo nggak ngopi sek,” perintahnya.

“Siap, Mas!” sahut Fikri sambil memberi hormat dan segera ke dapur untuk membuatkan secangkir kopi pesanan Alvaro.

Alvaro terus mengamati beberapa video rekaman  CCTV di sekitar gedung yang telah berhasil dikumpulkan oleh anak buahnya.

“Mmh ... semua mobil yang masuk adalah mobil-mobil elite. Mana yang paling mencurigakan?” batin Alvaro. Ia segera mengeluarkan ipad yang ia miliki dan mencatat setiap sudut peristiwa berdasarkan waktu agar ia bisa mencocokkan dengan semua waktu CCTV yang ada.

“Jam 7.30, Chessy dan Cakra masuk gedung. Chessy menghilang di jam 10.30. CCTV di dalam gedung bisa mati semua karena diretas di jam 9.00. Oke, ini bukan penculik biasa. Mereka pasti sudah merencanakannya dengan baik,” batin Alvaro sambil mengamati data yang ia terima.

Cakra terdiam sambil menyimak isi hati Alvaro. Ia terlihat sangat tenang, tapi dalam hatinya sedang bergejolak hebat. Ia ingin marah pada dirinya sendiri karena tak mampu mengetahui keberadaan Chessy, bahkan dengan indera keenam yang ia miliki. Ia juga kecewa pada dirinya sendiri karena terlalu percaya pada sahabat Chessy dan ia lalai dalam menjaga istrinya itu.

“ Artinya ... para penculik itu beraksi di jam 9.00 sampai jam 10.30. Ini bukan waktu yang cepet banget. Aku harus cek pergerakan kendaraan sekitar di jam ini,” batin Alvaro lagi.

TING!

“Bang, gue nemuin CCTV dari arah belakang gedung. Udah gue kirim ke email lo, Bang.” Sebuah pesan singkat masuk ke ponsel Alvaro.

Alvaro segera mengecek email masuk dan mengunduh video berdurasi dua menit yang baru saja dikirimkan oleh salah satu anak buahnya asal Jakarta. Tak membutuhkan waktu lama, Alvaro langsung bisa melihat rekaman mobil box yang keluar dari dalam gedung pada jam 10.00 malam.

“Kenapa mobil es batu gini dikasihkan ke aku? Goblok!” umpat Alvaro kesal karena anak buahnya mengirimkan video mobil box bertuliskan merk es batu kristal yang kemungkinan dikirimkan ke dalam gedung untuk jamuan makan malam tersebut.

Cakra yang duduk di hadapan Alvaro, langsung bangkit begitu mendengar umpatan Alvaro. Ia segera menghampiri Alvaro, merebut laptop milik sepupunya itu dan mengamati video yang baru saja dikirim oleh anak buah mereka.

“Cuma ini kendaraan yang keluar dari gedung sebelum jam 10.30?” tanya Cakra.

“Iya. Semua tamu keluar dari gedung di atas jam 11.30. Cuma kita aja yang keluar duluan dan ...?” Ucapan Alvaro tiba-tiba terhenti dan menatap wajah Cakra.

“Periksa mobil ini!” perintah Cakra.

Alvaro mengangguk. Ia segera melakukan panggilan grup ke beberapa anak buahnya untuk mendapatkan lebih banyak rekaman CCTV di waktu yang sama agar ia bisa melihat sampai di mana pergerakan mobil box tersebut.

Beberapa jam kemudian, semua anak buah Alvaro berhasil mengumpulkan rekaman CCTV lalu lintas di waktu yang bersamaan sesuai dengan waktu pergerakan mobil box itu sejak keluar dari dalam gedung.

“DJANCOK ...!” maki Alvaro begitu mengetahui kalau mobil box es batu kristal itu masuk ke dalam area bandara. “Mereka mau ngelabuhi kita, cok! Masa iya, mobil box malah ke bandara? Bukan pulang ke perusahaan mereka?”

 “Kita cari ke sana!” ajak Cakra.

“Bentar, Cak! Nggak bisa gegabah nyarinya. Airport bukan tempat sembarangan. Keamanan di sana juga cukup tinggi. Kalau mereka bawa Chessy ke bandara, pasti sudah menyiapkan banyak hal. Kita nggak tahu gimana cara mereka bawa Chessy. Aku harus koordinasi dengan polisi bandara dulu,” ucap Alvaro.

“Bisa koordinasi di mobil sambil jalan. Kita tidak bisa berdiam diri di sini. Bagaimana keadaan istriku di tangan orang lain? Aku tidak ingin dia terluka lebih banyak,” pinta Cakra.

“Ini jam sibuk, bos. Jalanan kota Jakarta lagi macet parah. Aku siapkan pilot dulu. Kita naik helikopter saja ke bandara,” ucap Fikri sambil menatap layar televisi yang menunjukkan hasil pemantauan lalu lintas terkini dari NTMC Polri.

“Cepat!” sambar Cakra tak sabar. Waktu sudah menunjukkan pukul 08.00 WIB. Artinya, sudah lebih sembilan jam ia kehilangan Chessy dan ia sudah tak bisa lagi menahan rasa sabar.

Fikri mengangguk. Ia segera menghubungi pilot pribadi keluarga Hadikusuma. Untungnya, pilot itu tinggal di apartemen yang sama dengan mereka. Sehingga tak perlu menunggu lama untuk menyiapkan helikopter yang juga selalu standby di atap gedung apartemen tersebut.

Beberapa menit kemudian, Fikri mendapat kabar bahwa helikopter telah siap dan mereka semua bisa segera terbang menuju  Soekarno-Hatta International Airport.

“Cak, aku pake motor aja ke bandara,” pinta Alvaro sambil mengemasi barang-barang ke dalam ranselnya.

“Kenapa?” tanya Cakra.

“Nggak papa. Lebih leluasa bergerak kalau pakai motor,” jawab Alvaro.

“Banyak kendaraan yang disediakan oleh bandara. Kamu bawa kendaraan sendiri, bukankah akan lebih menyulitkan?” tanya Cakra lagi.

“Nggaklah. Aku kan polisi,” sahut Alvaro sambil menunjukkan seragam polisi yang ia kenakan. “Aku juga mau ambil surat tugas dari atasanku. Tanpa surat tugas, aku nggak bisa intervensi ke bandara,” lanjutnya.

Cakra menatap Alvaro selama beberapa saat. “Al, kenapa kamu masih bertahan menjadi bintara? Bukankah kamu bisa dengan mudahnya menjadi seorang jenderal?” tanyanya dengan wajah serius. Ia merasa miris dengan pilihan hidup Alvaro yang masih berada di bawah perintah orang lain.

“Males, Cak. Jadi jenderal tanggung jawabnya besar. Banyak yang harus diurusi. Kalau kayak gini, aku Cuma ngurus diriku sendiri aja. Bisa sambil ngurus perusahaanku juga. Kalau jadi jenderal, harus ngurusin ratusan ribu anak buah. Anak buahku yang baru dua puluh biji aja aku sudah pusing sama kelakuan mereka,” jawab Alvaro.

Cakra tersenyum kecil. “Baiklah. Jika kamu kesulitan, jangan sungkan untuk bicara padaku!”

Alvaro mengangguk sambil merapikan sepatu miliknya. Ia segera bangkit dari tempat duduk dan menepuk pundak Cakra. “Amanlah. Hidupku nggak akan lengkap kalau nggak ngerepotin kamu,” ucapnya. Ia segera beranjak keluar lebih dulu agar bisa mengejar waktu dan bisa sama-sama sampai ke bandara meski ia hanya menggunakan sepeda motor.

 

((Bersambung ...))

 

Perfect Hero Bab 134 : Affraid || a Romance Novel by Vella Nine

 


“Eh, ada berita hot dan fresh banget!” seru salah seorang karyawan kantor saat mereka baru saja tiba.

 

“Apaan?”

 

“Kamu nggak tahu apa yang lagi viral di Facebook?”

 

“Nggak. Apa tuh?”

 

“Makanya, agak gaul dikit! Semalam, ada orang mau bunuh diri dari atap gedung rumah sakit.”

 

“Serius? Terus, gimana orangnya? Jadi bunuh diri?”

 

“Nggak. Karena tiba-tiba ada pahlawan ganteng yang nyelamatin orang itu.”

 

“Kamu tahu dari mana?”

 

“Lihat di Facebook. Ada videonya, udah viral banget dan dibagikan sampai ratusan kali.”

 

Semua orang langsung melihat postingan di Facebook yang sedang menjadi bahan perbincangan netizen karena aksi heroik seseorang menyelamatkan nyawa orang lain.

 

“Iih ... gila! Cowoknya ganteng banget!”

 

“Katanya sih, cewek yang diselamatkan ini pacarnya.”

 

“Serius?”

 

“Iya. So sweet banget kan?”

 

“Romantis banget!”

 

“Semua orang di dunia maya, pada komentar gitu. Mereka pasangan yang serasi. Cantik dan ganteng. Tapi, kenapa ceweknya mau bunuh diri ya?”

 

“Nggak tahu juga. Pasti ada hal buruk yang terjadi dan bikin dia mau bunuh diri. Jangan-jangan, karena diputusin sama cowok itu. Hahaha.”

 

“Eh, Wait! Kok, kayaknya ... muka cowok ini nggak asing ya?”

 

“Mmh ... iya, juga. Ini kayak ...”

 

“Pagi ...!” sapa Yuna yang baru saja masuk ke dalam ruangan.

 

Semua orang langsung menoleh ke arah Yuna tanpa berkata-kata.

 

“Ada apa?” tanya Yuna sambil menatap semua orang yang memandangnya aneh.

 

“Yun, duduk dulu, deh!” pinta Icha. Ia langsung menarik lengan Yuna dan mengajaknya duduk di meja kerja Yuna.

 

“Ada apa sih, Cha?” tanya Yuna penasaran.

 

“Mereka lagi bicarain kejadian viral yang terjadi semalam.”

 

“Oh ya? Pantesan aja mukanya pada tegang semua.”

 

“Kamu nggak tahu?”

 

“Apa?” tanya Yuna melongo.

 

“Ini.” Icha menyodorkan ponselnya. Memperlihatkan sebuah video yang sedang viral tersebut ke hadapan Yuna.

 

Yuna terkejut melihat video yang tergambar jelas kalau itu adalah wajah suaminya. Ia menonton video tersebut hingga usai. Kemudian, mulai menjelajahi komentar-komentar netizen tentang aksi heroik suaminya tersebut. Banyak sekali yang memuji kedua pasangan tersebut dan beberapa komentar yang sangat menusuk hatinya.

 

“Yun, ini beneran suami kamu?” tanya Icha hati-hati.

 

Yuna mengangguk lemas. Ia menyerahkan ponsel Icha kembali. Kemudian merogoh ponselnya sendiri dari dalam tas. “Kirimin link-nya ke aku, Cha!” pinta Yuna.

 

Icha mengangguk dan langsung mengirimkan tautan video yang sedang viral kepada Yuna.

 

“Yun, bukannya Pak Ye itu suami kamu? Kenapa sekarang diberitain pacaran sama cewek lain?” tanya salah seorang karyawan yang ada di ruangan tersebut.

 

Yuna menarik napas dalam-dalam kemudian tersenyum ke arah semua teman kantor yang menatapnya. “Itu semua cuma rumor,” ucapnya sambil tersenyum.

 

“Tapi, suami kamu itu kan sosok yang diinginkan semua wanita. Banyak wanita yang pengen jadi pasangannya. Nggak menutup kemungkinan, dia menikah lagi,” sahut salah seorang karyawan.

 

Yuna menghela napas mendengar ucapan dari salah satu rekannya. Perasaannya semakin tak karuan.

 

“Iya juga, sih. Bisa aja kan Pak Ye itu berpoligami. Secara, dia tampan dan kaya. Aku juga mau walau jadi istri kelima,” celetuk yang lain.

 

Icha menatap Yuna yang memijat keningnya. “Yun, nggak usah dihirauin omongannya mereka!” bisik Icha.

 

Yuna mengangguk kecil. Ia menarik napas beberapa kali agar perasaannya bisa lebih tenang. Semakin ia berusaha menghibur dirinya sendiri, ia semakin merasa tidak tenang. Pikirannya terus melayang jauh ke tempat di mana Refi berada. Refi benar-benar menjadi ancaman bagi hubungannya dengan Yeriko.

 

Yuna terduduk lemas di meja kerjanya. Telinganya masih terus mendengar desas-desus tentang suaminya dan Refi. Ia langsung menjatuhkan kepalanya ke atas meja begitu saja.

 

Icha yang melihatnya, langsung menghampiri dan mengelus kepala Yuna. “Yun, jangan terlalu dipikirkan! Netizen emang suka melebih-lebihkan sesuatu. Semua pasti bakal baik-baik aja!”

 

Yuna mengangguk kecil. Ia membuka tautan yang dikirimkan oleh Icha dan membaca komentar satu per satu. “Huft, kenapa sih komentar mereka nyesek banget buat aku?” ucapnya lirih. Tak terasa, air mata hangat keluar dari sudut-sudut matanya.

 

“Udah, Yun! Nggak usah dibacain terus. Bikin perasaan kamu makin sedih aja,” tutur Icha lirih.

 

Yuna tak menghiraukan ucapan Icha. Ia masih terus penasaran dengan komentar orang-orang tentang aksi heroik suaminya itu. Semua orang memuji keberanian Yeriko yang telah menyelematkan Refi. Ia merasa sangat senang saat suaminya mendapat pujian yang baik.

 

Namun Yuna merasa sedih saat membaca komentar yang mengatakan kalau Yeriko dan Refi adalah pasangan yang serasi dan sangat romantis. Bagaimana hatinya tidak terluka melihat suaminya digosipkan bersama dengan wanita lain.

 

“Cha, aku mau pulang duluan. Aku nggak enak badan. Mau periksa ke rumah sakit sekalian jenguk ayahku.” Yuna mengangkat kepala dan langsung bangkit dari tempat duduknya.

 

Icha menganggukkan kepala. “Izin ke kepala Departemen ya!”

 

Yuna menganggukkan kepala. Setelah mendapat izin dari kepala departemennya, ia bergegas memesan taksi dan keluar dari kantornya.

 

Selama di perjalanan, Yuna tak bisa menghentikan air matanya. Rasa takut kehilangan yang pernah hadir dalam benaknya, kini menjadi semakin besar saat mengetahui suaminya bersama dengan mantan pacar yang juga cinta pertamanya.

 

“Mbak, sudah sampai,” tutur supir taksi saat mobilnya sudah berhenti di depan rumah sakit tempat ayah Yuna mendapat perawatan.

 

Yuna bergeming, pikirannya masih melayang jauh memikirkan hubungannya dengan Yeriko.

 

“Mbak...!” panggil supir taksi lagi sambil menoleh ke arah Yuna. “Udah sampai.”

 

“Eh!?” Yuna langsung mengusap air matanya. “Iya, Pak. Makasih ya!” Ia mengeluarkan beberapa lembar uang dari dalam dompet dan bergegas keluar dari taksi.

 

“Kembaliannya, Mbak!”

 

“Ambil aja, Pak!” balas Yuna. Ia melangkahkan kakinya masuk ke rumah sakit. Menyusuri koridor yang sepi dan berjalan menuju ruang rawat ayahnya.

 

Perlahan, Yuna menghampiri ayahnya yang terbaring di atas ranjang. Kini, kondisi ayahnya jauh lebih baik dari sebelumnya. Walau usianya sudah semakin tua, wajahnya terlihat segar dan badannya lebih berisi dari sebelumnya. Perkembangannya juga semakin baik walau tangan dan kakinya belum bisa berfungsi.

 

Yuna tersenyum, ia duduk di samping Adjie sambil memerhatikan wajah ayahnya. “Yah ...!” panggilnya lirih. Guratan wajah ayahnya, membuatnya tak bisa menahan air mata.

 

“Ayah cepet sembuh ya! Aku kangen main sama ayah,” tutur Yuna sambil mengelus rambut ayahnya. Ia memerhatikan rambut Adjie, beberapa rambut putih telah tumbuh, menjadi saksi waktu-waktu yang telah dihabiskan ayahnya berbaring di ranjang rumah sakit.

 

“Yah… Ayah tahu kalau sekarang aku sudah bersuami dan hidup dengan baik. Dia memperlakukan aku dan ayah dengan sangat baik,” tutur Yuna sambil terisak. Ia tak mampu mengungkapkan penderitaan yang sedang dialaminya kini.

 

Yuna berusaha menahan air mata, mengusap air matanya berkali-kali. Namun, air mata itu justru semakin mengalir deras.

 

“Yah, saat aku terluka ... ayah adalah orang pertama yang akan menyembuhkan lukaku. Ayah nggak akan membiarkan siapa pun menyakiti puteri ayah. Sekarang, aku bahkan nggak punya siapa-siapa lagi. Aku nggak tahu harus menyandarkan hidupku pada siapa. Aku terlalu lelah...” bisik Yuna sambil menjatuhkan kepalanya di samping kepala ayahnya.

 

“Ayah ... aku nggak sanggup jika harus menjalani semuanya sendiri lagi. Aku nggak akan sanggup menerima kenyataan saat suamiku harus berbagi hati dengan wanita lain. Aku harus gimana?” batin Yuna sambil menangis.

 

Yuna bangkit sambil mengusap air matanya. “Yun, kamu nggak boleh lemah!” bisiknya sambil tersenyum. “Ayuna, anak ayah harus kuat. Bukankah begitu?” ucapnya sambil tersenyum menatap wajah ayahnya.

 

Yuna berusaha untuk tersenyum lebar walau air matanya masih terus menetes. Ia mengambil ponsel dan kembali membuka tautan yang dikirim Icha untuk melihat perkembangan video Yeriko yang sedang viral di dunia maya.

 

-        Halaman ini tidak tersedia –

 

Yuna mengernyitkan dahi. “Kenapa link-nya nggak bisa dibuka lagi?” tanyanya sambil mencoba membuka link tersebut berkali-kali.

 

Yuna langsung menelepon Icha untuk menanyakan perihal tautan yang dikirim oleh Icha.

 

“Halo...!” sapa Icha begitu panggilan telepon Yuna tersambung.

 

“Halo, Cha! Kenapa link yang kamu kirim nggak bisa dibuka lagi ya?”

 

“Iya, Yun. Kayaknya, postingan videonya udah dihapus sama pemilik akunnya.”

 

“Why?”

 

“Nggak tahu.”

 

“Oh. Oke.” Yuna langsung mematikan sambungan teleponnya.  Perasaannya semakin tak karuan. Ia tahu bagaimana suaminya, sepertinya memang ada hal yang ingin disembunyikan Yeriko darinya.

 

Yuna menghela napas. Ia mematikan ponsel dan bergegas pergi menuju makam ibunya.

 

(( Bersambung ... ))

 

Nantikan kisah selanjutnya yang bakal lebih seru lagi ...

 Jangan lupa kasih Star Vote juga biar aku makin semangat nulis dan bikin ceritanya lebih seru lagi. Makasih buat yang udah kirimin hadiah juga. Jangan sungkan buat sapa aku di kolom komentar ya! Kasih kripik ... eh, kritik dan saran juga ya!

 

 

Much Love

@vellanine.tjahjadi

 

Perfect Hero Bab 133 : Ditolak || a Romance Novel by Vella Nine

 


“Lepasin, Ref!” Yeriko langsung mendorong tubuh Refi. “Kamu jangan salah paham! Seandainya orang lain yang lompat dari sana, aku juga bakal nolongin,” ucapnya dingin.

 

Refi menatap Yeriko dengan mata berkaca-kaca. “Yer, apa kamu udah nggak punya perasaan sedikitpun ke aku?” tanyanya.

 

Yeriko menggelengkan kepala.

 

“Sedikit aja, Yer!” rintih Refi. “Aku masih cinta sama kamu. Aku janji, bakal berubah dan memperbaiki kesalahan aku di masa lalu.”

 

“Nggak perlu! Anggap aja masa lalu kita nggak pernah ada!”

 

“Apa kamu semudah itu ngelupain perasaan yang pernah ada di antara kita?”

 

Yeriko bergeming. Ia merogoh ponsel dari sakunya dan membaca pesan yang dikirimkan oleh Riyan.

 

“Yer ...!” panggil Refi lirih. “Aku udah nggak punya masa depan lagi. Aku cuma pengen, kamu jadi masa depan aku. Aku sekarang udah cacat dan kamu udah nggak mau sama aku lagi karena kondisi aku yang kayak gini,” tuturnya terisak.

 

“Kamu nggak usah khawatir! Kamu masih bisa sembuh seperti dulu lagi. Masih ada 10%  kemungkinan untuk sembuh. Aku bakal carikan ahli orthopedi terbaik supaya kaki kamu bisa pulih secepatnya dan bisa menari seperti biasa,” jelas Yeriko.

 

Refi makin terisak mendengar ucapan Yeriko. Ia tetap tidak bisa membuat Yeriko kembali ke pelukannya walau ia sedang dalam keadaan yang begitu terpuruk.

 

Yeriko semakin muak mendengar tangisan Refi. Ia memasukkan tangannya ke kantong celana dan melangkah menjauhi ranjang tidur Refi.

 

“Yer!” panggil Refi.

 

Yeriko menghentikan langkahnya tanpa menoleh ke arah Refi yang sudah ada di belakangnya.

 

“Kalau memang kita nggak bisa jadi pasangan lagi, apa kita masih bisa berteman?” tanya Refi sambil menatap punggung Yeriko.

 

Yeriko tak menjawab. Ia melanjutkan langkahnya keluar dari ruang rawat, pergi begitu saja meninggalkan Refi yang menangis histeris.

 

“Aargh ...!” teriak Refina sambil menjatuhkan semua barang yang ada di atas meja di samping ranjangnya. Pundaknya naik turun dengan cepat. Matanya menatap tajam ke arah pintu yang tertutup. Di sana, tergambar wajah Yuna dan Yeriko yang terlihat sangat mesra. “Aku nggak akan ngebiarin kalian hidup bahagia! Yuna, cewek sialan yang udah ngerebut Yeriko dari aku! Kamu bener-bener nggak pantes ada di samping Yeriko!” teriak Refina. “Harusnya aku! Harusnya aku yang jadi Nyonya Ye, bukan kamu!” Refina terus berteriak dalam isak tangisnya.

 

Dua orang perawat langsung masuk ke dalam ruang rawat begitu mendengar Refina berteriak histeris.

 

“Sus, kondisi mentalnya belum stabil. Panggilkan dokter dulu!” pinta salah seorang perawat.

 

Perawat yang diajak bicara langsung memanggil dokter untuk memeriksa kondisi Refi.

 

“Mbak, tenang!” Suster yang berjaga mencoba menenangkan Refina.

 

“Aargh ...!” Refina semakin mengamuk. “Aku nggak akan ngebiarin kamu ngambil Yeriko dari aku! Gara-gara kamu, Yeriko jadi benci sama aku! Aargh ...!” Refi terus melempar barang yang ada di dekatnya.

 

Perawat yang berjaga mencoba menjaga jarak karena kondisi Refi yang belum stabil. Ia langsung bernapas lega saat dokter dan beberapa perawat masuk ke dalam ruangan. Mereka mencoba mengendalikan amukan Refi yang terus berteriak histeris sambil memaki semua orang. Dokter menyuntikkan obat penenang dan membiarkan Refi tertidur perlahan.

 

 

 

Di saat yang sama ...

 

Yuna gelisah saat ia terbangun dari tidur dan tidak mendapati suaminya di sisinya. Ia mencari Yeriko di ruang kerjanya, juga tidak ada.

 

Yuna bergegas turun ke dapur dan menghampiri Bibi War yang sedang memasak di dapur. “Bi, Yeriko mana ya?”

 

“Loh? Mbak Yuna nggak tahu?”

 

Yuna menggelengkan kepala.

 

“Mobilnya udah nggak ada. Mungkin ada urusan penting, makanya keluar pagi-pagi banget,” tutur Bibi War.

 

Yuna menatap jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 06.00 WIB. Ia menghela napas kecewa. “Huft, emang aku yang suka bangun kesiangan.” Ia menunduk lemas sambil melangkahkan kaki tak bersemangat. Ia kembali ke kamar dan bersiap untuk bekerja.

 

Usai sarapan, Yuna langsung keluar dari rumah. Ia tersenyum senang saat melihat mobil suaminya memasuki pekarangan rumahnya. Ia berlari menghampiri mobil tersebut.

 

“Riyan!?” Yuna mengerutkan dahi begitu Riyan membuka kaca mobilnya.

 

Riyan meringis ke arah Yuna. “Nyonya Muda ... udah siap?”

 

Yuna menganggukkan kepala. Ia langsung membuka pintu mobil dan masuk ke dalamnya. “Pak Bos kamu ke mana?” tanyanya sambil memasang safety belt.

 

“Pak Bos lagi ada rapat penting di kantor. Jadi, beliau nyuruh saya antar Nyonya Muda pergi kerja.”

 

“Rapat pagi-pagi buta? Aku bangun, dia udah nggak ada. Nggak biasanya dia pergi gitu aja.”

 

“Oh, dari semalam, Pak Bos ke rumah sakit.”

 

“Rumah sakit? Jam berapa?”

 

“Tengah malam gitu.”

 

“Ada apa? Apa ada masalah sama ayah? Kenapa nggak kasih tahu aku?”

 

“Ayahnya Nyonya Muda baik-baik aja. Ada masalah lain.”

 

“Apa itu?”

 

“Mbak Refi mau bunuh diri semalam.”

 

“Hah!?” Yuna mengerutkan dahinya. “Karena bos kamu?”

 

“Info yang saya dapat dari rumah sakit, mentalnya terganggu karena dia sekarang cacat dan membuat dia merasa kehilangan masa depannya.”

 

Yuna terdiam sambil menggigit jari tangannya. “Apa separah itu? Kalau dia beneran depresi karena kondisi tubuhnya. Apa Yeriko bakal luluh dan balik ke dia lagi?” batin Yuna. Pikirannya mulai melayang-layang. Membayangkan bagaimana Yeriko kembali bersama Refi dan meninggalkan dirinya begitu saja.

 

“Nyonya Muda tenang aja! Pak Bos nggak bakalan diam aja, kok. Dia sudah merintahkan saya untuk cari ahli orthopedi untuk mengobati kaki Mbak Refi. Masih ada kemungkinan untuk sembuh. Pak Bos nggak akan membiarkan Mbak Refi memanfaatkan dirinya begitu aja. Pak Bos itu, orang yang cerdas. Nggak mungkin bisa tertipu sama cewek kayak gitu.”

 

“Kamu tahu banyak soal Bos kamu?”

 

Riyan menganggukkan kepala. “Saya ini asistennya Pak Bos. Semua urusan dia, saya yang urus. Masa nggak tahu.”

 

“Mmh ... iya juga, sih. Ada nggak sesuatu yang dia rahasiain dari aku?” tanya Yuna.

 

Riyan menggelengkan kepala. “Pak Bos bilang, apa pun yang ditanyakan Nyonya Muda, harus dijawab semua tanpa dirahasiakan.”

 

“Serius?” Yuna tersenyum mendengar ucapan Riyan. Ia bisa memanfaatkan Riyan untuk mengetahui semua hal tentang Yeriko di belakangnya.

 

Riyan menganggukkan kepala.

 

“Mmh ... apa Bos kamu itu pernah jalan sama cewek lain?”

 

Riyan menggelengkan kepala. “Mana ada waktu buat jalan sama cewek lain. Pengen jalan sama Nyonya Muda aja, waktunya nggak banyak.”

 

“Emang dia pernah bilang begitu?”

 

Riyan menganggukkan kepala. “Dia bilang, mau ngajak Nyonya Muda liburan. Tapi, jadwal meeting masih padat banget.”

 

Yuna tersenyum mendengar jawaban Riyan. “Mmh ... apa semalam ... Yeriko nemenin Refi di rumah sakit?” tanyanya kemudian.

 

Riyan menganggukkan kepala.

 

“Kamu juga di sana?”

 

Riyan mengangguk lagi.

 

Yuna menarik napas lega. Ia merasa lebih baik saat mengetahui kalau Yeriko ada di rumah sakit bersama asistennya. Apa pun yang akan terjadi ke depannya, ia sangat berharap kalau hati Yeriko untuknya tidak akan pernah berubah. 

 

(( Bersambung ... ))

 

Yang kemarin sempet kesel, cooling down dulu ya! Hehehe.

 Jangan lupa kasih Star Vote juga biar aku makin semangat nulis dan bikin ceritanya lebih seru lagi. Makasih buat yang udah kirimin hadiah juga. Jangan sungkan buat sapa aku di kolom komentar ya! Kasih kripik ... eh, kritik dan saran juga ya!

 

 

Much Love

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas