Thursday, February 13, 2025

Perfect Hero Bab 116 : Kena Batunya

 


“Kalian ini benar-benar memalukan!” sentak Lian di hadapan Lili dan Sofi.

 

“Maaf, Pak! Kami cuma mengikuti perintah saja.”

 

“Siapa yang merintahin kamu buat nyuri? Aku sama sekali nggak tahu kalau anting-anting ini hasil curian.”

 

“Bel, kamu tega banget sama kita? Bukannya kamu yang nyuruh kita buat ngasih pelajaran ke Yuna?”

 

“Tapi, aku nggak nyuruh kalian mencuri juga!” seru Bellina.

 

“Kalian berdua aku pecat! Jangan pernah muncul di hadapan aku lagi!” tegas Lian.

 

“Apa!?” Lili dan Sofi saling pandang. Mereka terus berlutut meminta maaf pada Lian.

 

“Pak, tolong jangan pecat kami!” Sofi memohon sambil meneteskan air mata.

 

Lian tidak menghiraukan ucapan Lili dan Sofi. “Perbuatan kalian sudah keterlaluan! Saya nggak bisa ngasih kalian toleransi lagi!”

 

“Tapi, Pak ... kami benar-benar nggak berniat mencuri anting-anting itu.”

 

Lian tidak mendengarkan ucapan Lili. “Eh, Banci!” sentak Lian sambil menatap Sari yang masih terduduk di lantai.

 

“Iya, Pak!”

 

“Ngapain kamu masih di sini?”

 

“Tapi, Pak ...”

 

“Nggak ada tapi-tapian! Aku nggak mau lihat muka kamu lagi!” sentak Lian.

 

Sari langsung bangkit dan berlari keluar ruangan begitu mendapati tatapan tajam dari mata Lian.

 

Lian menarik napas dalam-dalam. Ia memijat keningnya yang berdenyut. “Ya Tuhan, mau ditaruh di mana mukaku? Kelakuan kalian bener-bener bikin malu perusahaan!” serunya.

 

“Sabar, Sayang ...”

 

“Diam kamu!” sentak Lian sambil menoleh ke arah Bellina. “Semuanya juga gara-gara kamu. Bisa nggak kamu berhenti cari masalah sama Yuna?”

 

“Aku cuma mau balas dendam aja ke mereka karena mereka itu sombong banget dan selalu mempermalukan kita,” jawab Bellina.

 

“Apa hasilnya? Yang ada, mereka terus yang mempermalukan kita!” sentak Lian lagi.

 

“Kamu kenapa sih malah belain Yuna terus?”

 

“Karena kamu yang salah, Bel. Kamu sadar nggak sih sama kesalahan kamu sendiri?”

 

Bellina tertunduk dan mulai terisak. “Aku tahu, aku salah. Tapi, aku bener-bener nggak pernah nyuruh mereka buat mencuri. Aku cuma nyuruh mereka ngasih pelajaran ke Yuna. Itu aja!”

 

“Kamu lihat hasilnya gimana? Bikin malu!” sentak Lian sambil berlalu pergi meninggalkan ruang rias.

 

Bellina sangat kesal dengan sikap Lian. “Kalian berdua, kenapa sih harus bilang ke semuanya kalau aku yang nyuruh!” sentak Bellina sambil menatap Lili dan Sofi.

 

“Karena kita nggak mau disalahin sendirian, Bel. Apalagi harus gantiin anting-anting yang harganya mahal itu.”

 

“Goblok! Aku bisa kasih kalian uang kalau cuma segitu!” sentak Bellina.

 

“Tapi, Bel. Tolong kami! Kami nggak mau dipecat,” pinta Sofi.

 

“Aku nggak bisa nolong kalian kalau keadaannya udah kayak gini!”

 

“Bel ...! Please!” Sofi langsung memeluk kaki Bellina dan memohon agar mereka tidak diberhentikan dari perusahaan.

 

Bellina sangat kesal karena Lili dan Sofi telah membuat Lian membencinya. Ia merasa risih dengan Sofi yang bergelayut di kakinya. Bellina langsung menendang Sofi hingga tersungkur ke lantai.

 

“Sof, kamu nggak papa?” tanya Lili sambil meraih pundak Sofi. “Bel, kamu tega banget sih sama temen sendiri?” tanya Lili sambil menatap Bellina.

 

“Teman? Sejak kapan kita berteman?” sahut Bellina. Ia mengibaskan rambutnya dengan sombong dan berlalu pergi meninggalkan Lili dan Sofi.

 

Lili dan Sofi menangis histeris, mereka tidak menyangka kalau Bellina akan mencampakkan mereka begitu saja.

 

“Li, gimana dong? Kita udah nggak punya kerjaan lagi?” tanya Sofi sambil menangis.

 

“Aku juga nggak tahu, Sof. Aku juga kehilangan pekerjaan.”

 

Mereka terus terisak. Beberapa orang yang ada di dalam ruangan tersebut hanya memandang Lili dan Sofi dengan tatapan risih.

 

“Rasain! Makanya, jangan maling!” seru salah seorang model yang ada di ruangan tersebut.

 

“Iya. Maling teriak maling pula. Kalau bukan karena kalian, aku nggak akan nuduh istrinya Pak Yeri mati-matian,” sahut asisten Anna. “Kalau aku tahu dia istrinya Pak Yeri, nggak bakalan aku nuduh dia!”

 

Lili dan Sofi terdiam. Mereka sangat malu dan tidak bisa berkata-kata.

 

“Jadi, kamu nuduh istrinya Pak Yeri karena terpengaruh sama mereka?” tanya Anna.

 

Asisten Anna menganggukkan kepala.

 

“Astaga! Fajri! Kamu mikir nggak sih? Kok, bisa dipengaruhi sama dua tikus kecil ini!?” tutur Anna sambil menoyor dahi asistennya menggunakan ujung jari telunjuknya. “Bikin malu aja!”

 

“Ma ... Maaf, Mbak!”

 

“Mau ditaruh di mana mukaku di depan Pak Yeri? Dia udah banyak ngasih kita job. Kalau sampai dia blacklist kita. Bisa tamat!”

 

Asisten Anna mengangguk-angguk tanda mengerti. “Lain kali harus lebih berhati-hati. Jangan sampai terpengaruh sama manusia sampah kayak mereka,” tutur Anna sambil duduk di salah satu kursi rias dan mulai membersihkan make-up di wajahnya.

 

“Yah, tadi kan mereka kelihatan kayak serius banget dan kelihatan kayak orang kaya. Sekalinya, cuma karyawan biasa aja. Sekarang, udah dipecat dan jadi pengangguran,” tutur Fajri sambil membantu Anna melepaskan aksesoris di tubuhnya.

 

“Kamu bisa nggak bedain barang branded atau nggak? Jangan bego, dong! Jelas-jelas kalau istrinya Yeriko itu pakai barang-barang mahal.”

 

“Yee ... kan tadi juga Mbak Anna ngatain kalau barang dia kw.”

 

“Itu karena aku kesel banget sama dia! Nggak mau ngaku kalau udah ngambil anting-antingku!”

 

“Emang bukan dia yang ambil,” sahut Fajri sambil melirik ke arah Sofi dan Lili yang masih menangis.

 

“Baguslah karena pencuri aslinya udah ketahuan dan kena batunya!” tutur Anna. “Hmm ... coba aja aku yang jadi istrinya Yeriko. Pasti bisa punya anting-anting yang harganya delapan ratus juta. Bukan yang delapan jutaan kayak gini!”

 

“Tapi, aku lihat ... istrinya Pak Yeri sederhana banget ya? Aku nggak lihat dia pakai perhiasan. Apa itu artinya ... dia orang kaya yang nggak mau pamer?”

 

“Mmh ... bisa jadi,” sahut Anna sambil manggut-manggut.

 

“Selera Pak Yeri, ternyata adalah wanita yang sederhana. Padahal dia orang yang kaya raya.”

 

“Mmh ... apa aku juga harus berpenampilan sederhana biar bisa dapetin cowok yang tampan dan kaya kayak Pak Yeri?” tanya Anna sambil menatap Fajri lewat cermin.

 

Fajri melirik Lili dan Sofi yang masih terus menangis.

 

“Iih ... kalian bisa diam nggak!?” sentak Anna sambil menoleh ke arah Sofi dan Lili. “Sakit kepala aku denger kalian nangis terus!”

 

“Iya. Kenapa masih ada di sini sih? Menuh-menuhin ruangan aja. Atau ... jangan-jangan masih ada barang yang mau mereka curi? Secara, mereka kan udah dipecat dari kerjaannya,” tutur Fajri.

 

Beberapa orang yang ada di ruangan tersebut tertawa mendengar ucapan Fajri.

 

“Fajri ... Fajri ... Lu cowok tapi lemez amat mulutnya.”

 

“Hahaha. Asisten kamu, An. Kalo ngomong kayak geledekan kayu. Nggak punya rem!” sahut model lainnya.

 

Seisi ruangan tertawa dan terus mencibir dua orang yang masih menangis di dalam ruangan tersebut.

 

Lili dan Sofi tidak bisa menahan tangisnya. Mereka kehilangan pekerjaan dan sangat malu karena perbuatan yang mereka lakukan. Mereka menangis dalam waktu lama hingga tak sadarkan diri.

 

“Eh, mereka pingsan?” tanya salah satu model yang ada di dalam ruangan tersebut.

 

“Paling cuma pura-pura aja!” sahut Fajri.

 

Salah seorang di antara mereka menggoyang-goyangkan tubuh Lili yang tergeletak menggunakan kakinya. “Eh, serius ini. Mereka pingsan!” serunya.

 

“What!? Panggilin panitia, dong!” teriak Fajri.

 

“Eh, kamu yang panggilin!”

 

“Aduh, aku masih bantu bersihin make-up bosku!” sahut Fajri. Namun, ia terlihat sangat bingung. Ia ingin melangkah keluar ruang rias, namun juga ingin melanjutkan membersihkan riasan di wajah Anna.

 

“Euuh ...!” Fajri membuang kapas ke tempat sampah dan buru-buru memanggil panitia agar membawa Lili dan Sofi secepatnya ke klinik terdekat untuk mendapatkan perawatan.

 

“Sumpah ya! Dua orang ini. Udah tukang bikin onar, nyusahin pula!” omel Fajri. Ia melanjutkan membantu Anna membersihkan riasan di wajahnya.

 

 

(( Bersambung ... ))

 

Makasih sudah baca Perfect Hero sampai di sini. Makasih yang udah kirimin hadiah dan kasih Star Vote juga. Mohon maaf lahir dan batin ya!

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

Perfect Hero Bab 115: Terkuak

 


“Sari mana?” teriak Anna begitu mengetahui kalau Sari yang telah mencuri anting-anting miliknya.

 

Pengawal Yeriko langsung masuk ke dalam ruangan sambil membawa Sari.

 

“Ada apa, ini?” tanya Sari.

 

“Nggak usah pura-pura nggak tahu!” sentak Anna. “Kamu kan yang udah ambil anting-antingku?”

 

“Eike? Eh, jangan nuduh sembarangan!” sahut Sari.

 

“Eh, Saripudin!” sentak Asisten Anna. “Semua orang udah tahu kalau kamu yang ambil antingnya bosku.”

 

“Duh, mana bisa menuduh tanpa bukti. Lagian, eike juga nggak tahu antingnya itu yang seperti apa bentuknya,” sahut Sari.

 

Lian dan Bellina ikut masuk ke dalam ruang rias saat melihat beberapa bodyguard Yeriko masuk ke dalam ruangan tersebut. Beberapa orang terlihat berjaga di depan pintu. Membuat Lian merasa sangat aneh. Ruang rias seolah-olah berubah menjadi sebuah penjara yang sangat menegangkan.

 

“Ada apa ini?” tanya Lian.

 

Yeriko tersenyum kecil sambil menatap Lian. Ia memerintahkan Riyan untuk menunjukkan video rekaman CCTV kepada Lian dan Sari.

 

Riyan mengangguk dan langsung memutar rekaman video CCTV.

 

Lian membelalakkan matanya melihat video rekaman tersebut. “Kamu ... nuduh Yuna yang ngambil antingnya, ternyata kamu sendiri yang ambil?” tanya Lian sambil menatap Sari.

 

Sari langsung berlutut di hadapan Lian dan Yeriko. “Ampun ... Pak! Eike nggak bermaksud mencuri anting-antingnya Anna. Eike ngambil anting itu juga karena disuruh,” tutur Sari sambil terisak.

 

“Siapa yang nyuruh kamu?” tanya Lian.

 

“Mmh ... mmh ...” Sari menggigit bibirnya.

 

“Cepet ngomong!” sentak Yeriko.

 

“Lili sama Sofi yang udah nyuruh eike,” jawab Sari.

 

“Eh, jangan nuduh tanpa bukti ya!” sentak Lili. “Enak aja! Kita nggak ada nyuruh dia ambil anting-antingnya,” lanjutnya.

 

“Sari, kamu jangan nuduh sembarangan tanpa bukti, dong!” sahut Sofi.

 

“Beneran, Pak. Sari nggak ambil anting itu. Sekarang, anting itu ada di tangan mereka,” tutur Sari sambil menangis. Ia tidak mau menanggung semuanya sendirian. Apalagi, ia tidak punya uang banyak untuk mengganti anting tersebut.

 

“Nggak, Pak. Dia bohong!” sahut Lili sambil menunjuk Sari yang berlutut di hadapan Yeriko dan Lian.

 

“Beneran, Pak. Suer! Sumpah, saya nggak ambil anting itu!” Sari bersikeras kalau Lili dan Sofi juga ikut terlibat dalam aksi pencurian anting Anna.

 

Anna semakin bingung. “Sebenarnya, siapa sih yang udah ambil antingku? Kalau dari rekaman CCTV itu,  kamu yang udah ngambil antingku.”

 

“Eike cuma disuruh,” rengek Sari sambil menangis di lantai. Ia tidak tahu bagaimana cara membela dirinya sendiri karena Lili dan Sofi juga justru memojokkan dirinya.

 

“Siapa yang nyuruh kamu?” tanya Anna.

 

“Mereka!” Sari menunjuk Lili dan Sofi.

 

Lili dan Sofi menggelengkan kepala.

 

“Kalian masih nggak mau ngaku?” tanya Yeriko sambil menatap Lili dan Sofi. “Yan, keluarin!” perintah Yeriko sambil menoleh ke arah Riyan.

 

Riyan mengangguk dan langsung menunjukkan video selanjutnya saat Lili dan Sofi sedang menerima anting-anting dari Sari.

 

Lili dan Sofi saling pandang. Mereka tidak bisa mengelak lagi. Mereka langsung berlutut di hadapan Lian.

 

“Maaf, Pak! Kami juga Cuma ngikutin perintah,” tutur Lili.

 

Bellina langsung mendelik ke arah Lili dan Sofi.

 

“Siapa yang nyuruh kalian?” tanya Lian.

 

Sofi melirik ke arah Bellina yang berdiri di samping Lian.

 

Yeriko langsung menatap Bellina dan Lian begitu mendapati mata Sofi tertuju pada Bellina.

 

“Tunangan kamu?” tanya Yeriko sambil menatap Lian.

 

“Jangan nuduh sembarangan!” sahut Lian.

 

“Siapa lagi yang bisa merintah mereka berdua kalau bukan tunangan kamu ini?” tanya Yeriko lagi.

 

Bellina menelan ludah saat mendengar pertanyaan Yeriko.

 

Lian langsung menatap tajam ke arah Bellina. “Kamu ada hubungannya sama kejadian ini?”

 

Bellina menggelengkan kepala.

 

“Serius?”

 

“Beneran. Aku sama sekali nggak nyuruh mereka buat ngambil antingnya Anna,” jawab Bellina sambil menatap tajam ke arah Lili dan Sofi.

 

Sofi menarik napas dalam-dalam. Ia tidak menyangka kalau Bellina tak mau mengakui kesalahannya dan membuat mereka bertiga berada dalam masalah.

 

“Kamu, jangan lepas tangan gitu aja! Bukannya, anting itu sekarang ada di tangan kamu?” tutur Lili.

 

Bellina langsung membelalakkan matanya begitu mendengar ucapan Lili. “Berani-beraninya kamu nuduh aku, hah!?”

 

Lian langsung menoleh ke arah Bellina. “Jujur, Bel!” pintanya. “Buat apa kamu ngambil anting orang lain?” tanya Lian.

 

“Aku ... a ... aku ... nggak ngambil anting itu. Mereka yang ngasih anting itu ke aku. Kalian, pasti mau ngejebak aku kan?” sahut Bellina gugup.

 

“Jadi, anting itu beneran ada di tangan kamu?” tanya Anna.

 

“Mmh ...” Bellina menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan mengeluarkan anting-anting tersebut dari sakunya.

 

“Ambil!” Anna langsung menyuruh asistennya untuk mengambil anting-anting miliknya dari tangan Bellina.

 

“Nah, kan ... ketahuan siapa pelakunya!” seru Yuna. “Kayak gitu, kamu masih aja fitnah-fitnah aku!” sentak Yuna kesal.

 

“Aku nggak fitnah kamu. Yang fitnah kamu kan asisten Anna sendiri.”

 

“Kalian semua pasti udah komplotan buat ngerjain aku kan?” seru Yuna kesal. “Parah banget! Aku salah apa sih sama kamu?” tanya Yuna sambil mendorong tubuh Bellina.

 

“Mau tahu salahmu apa? Karena kamu itu udah kecentilan. Ngambil semua perhatian orang!” sahut Bellina.

 

“Udah, jangan marah-marah!” Lian langsung menarik lengan Bellina dan memisahkan dua saudara yang kerap berseteru tersebut.

 

“Pak Ye, saya benar-benar minta maaf karena perbuatan tunangan saya sudah sangat merugikan istri Bapak!” Lian menunduk sopan.

 

Yuna tersenyum dan menjulurkan lidahnya ke arah Bellina. Membuat Bellina geram dan ingin memukul Yuna.

 

Anna memanfaatkan perseteruan Yuna dan Bellina untuk mendekati Yeriko. Ia terus tersenyum sambil menatap Yeriko. “Duh, bener-bener cowok idaman banget!” bisiknya dalam hati.

 

Yeriko melirik kesal ke arah Anna yang terus tersenyum kepadanya. Ia langsung menarik Yuna ke dalam pelukannya. “Kita pulang sekarang!” bisik Yeriko di telinga Yuna.

 

Semua orang sangat iri melihat cara Yeriko memperlakukan Yuna. Sangat lembut dan mesra. Sangat berbeda saat Yeriko berhadapan dengan Sofi dan Lili. Ia terlihat sangat kejam.

 

Yuna mengangguk sambil tersenyum. “Oh ya, kayaknya ... tadi ada yang bilang kalau pernikahan aku cuma pura-pura,” tutur Yuna sambil menatap Bellina.

 

“Asal kamu tahu ya, kita menikah sah secara hukum agama dan negara. Kalau aku cuma pura-pura nikah, suamiku nggak akan belikan aku barang-barang mahal,” tutur Yuna sambil mencebik ke arah Bellina.

 

Bellina sangat geram mendengar ucapan Yuna yang mulai menyombongkan dirinya di depan semua orang.

 

“Oh ya? Masih ada yang bilang kalau pernikahan kita palsu?”

 

Yuna menganggukkan kepala.

 

Yeriko langsung menatap dingin ke arah Bellina dan Lian. “Li, apa kamu nggak bisa ngajarin istri kamu ini jadi perempuan yang bener?”

 

“Maksud kamu?”

 

“Setiap saat cuma bisa mempermalukan diri sendiri!”

 

“Kamu ...!?” Lian ikut geram dengan ucapan Yeriko.

 

Yeriko tersenyum penuh kemenangan. Ia merasa sangat bahagia saat melihat wajah Lian terlihat buruk. Terlebih, ia mengetahui kalau Lian masih sangat menyukai istrinya.

 

Yeriko langsung memeluk pinggang Yuna mesra dan mengajaknya keluar dari ruang rias. Riyan dan beberapa bodyguard yang ia bawa, mengikuti di belakang mereka.

 

Semua orang di dalam ruangan tersebut merasa sangat lega karena akhirnya bisa mengetahui pelaku pencurian yang sesungguhnya. Mereka mencibir Sari, Sofi dan Lili yang masih berlutut di lantai tidak berani bangkit dan menghadapi Lian.

 

(( Bersambung ... ))

 

Makasih sudah baca Perfect Hero sampai di sini. Makasih yang udah kirimin hadiah dan kasih Star Vote juga. Mohon maaf lahir dan batin ya!

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

Perfect Hero Bab 114 : My Husband is My Hero

 


“Heh!? Nggak akan ada orang yang belain maling kayak kamu!” sentak Anna. “Balikin anting aku sekarang juga!”

 

“Astaga! Anting kamu itu nggak ada sama aku. Kamu jangan main nuduh sembarangan ya! Kalau nggak percaya, cari di tasku!” sahut Yuna sambil menyodorkan tasnya ke hadapan Anna.

 

Anna tertegun melihat tas milik Yuna. Ia menelan ludah karena sangat ingin memiliki tas seperti itu namun harganya selangit.

 

“Kamu ... dapetin tas ini dari mana?” tanya Anna.

 

Yuna tersenyum kecil. “Kenapa? Aku punya sepuluh tas kayak gini. Mau?” sahutnya angkuh.

 

“Nggak usah sombong! Tas KW aja! Paling juga belinya di Mangga Dua,” sahut Anna kesal. Ia tidak ingin terlihat kalah di depan Yuna. Gadis itu terlalu biasa untuk mengenakan barang-barang mewah. “Maling aja belagu!” celetuknya.

 

Yuna menarik napas dalam-dalam. “Jangan sembarangan nuduh ya! Aku sama sekali nggak ada ambil barang kamu. Kalau sampai aku dapet siapa pelakunya, kamu yang bakal aku laporin ke polisi karena udah mencemarkan nama baikku!” ancam Yuna.

 

“Aku nggak takut!” sahut Anna makin kesal. Ia kembali menarik rambut Yuna dan menatap gadis itu penuh kebencian.

 

“Jangan sentuh dia!” sentak Yeriko sambil menepis tangan Anna dan langsung memeluk tubuh Yuna. “Kamu nggak papa?” tanya Yeriko sambil menatap Yuna.

 

Anna membelalakkan matanya saat melihat kehadiran Yeriko. “Pak Yeri?” Matanya langsung berbinar menatap pria tampan yang berdiri di hadapannya.

 

Yeriko menatap tajam ke arah Anna.

 

Beberapa orang terlihat berbisik, beberapa di antara mereka teringat kalau Yuna adalah istri dari Yeriko, seorang pengusaha muda yang sukses dan disegani banyak orang.

 

“Dia siapa?” tanya Anna sambil menunjuk Yuna.

 

“Istriku.”

 

“Istri?” Anna mengernyitkan dahi sambil menatap Yuna dari ujung rambut sampai ke ujung kaki. “Kenapa istrinya biasa banget?” gumam Anna dalam hatinya. “Masih mending aku ke mana-mana.”

 

“Kalian semua bener-bener nggak punya perasaan! Nuduh orang lain tanpa bukti!” sentak Yeriko.

 

“Kamu tahu kalau ...”

 

“Nggak ada satu hal pun yang aku nggak tahu soal istriku,” sahut Yeriko.

 

Anna langsung tersenyum ke arah Yeriko. “Maaf, Pak Yeri ... aku nggak berniat buat menyakiti dia. Aku cuma ...”

 

Yeriko langsung menatap wajah Yuna. “Kamu baik-baik aja kan?” tanyanya sambil mengamati tubuh Yuna.

 

Yuna menganggukkan kepala.

 

“Kalau sampai ada yang lecet, aku nggak akan ngebiarin orang yang udah melukai kamu, hidup dengan tenang!” tegas Yeriko sambil melirik ke arah Anna.

 

Semua orang terdiam mendengar ancaman Yeriko.

 

“Dia memang terkenal sebagai Raja Iblis Berdarah Dingin. Dia memang kelihatan kejam banget,” bisik salah seorang yang ada di ruangan tersebut.

 

“Iya. Baru kali ini aku lihat langsung Pak Yeri marah.”

 

“Gimana nggak marah kalau istrinya digangguin sama orang lain?”

 

“Kira-kira, beneran dia atau bukan yang ambil antingnya?”

 

“Kayaknya nggak mungkin. Istrinya Pak Yeri, pasti bisa beli anting yang jauh lebih mahal dari antingnya Anna.”

 

Semua orang yang ada di ruangan tersebut terus berbisik membicarakan Yuna dan Yeriko.

 

“Pak Yeri, kenapa ada di sini juga?” tanya Anna sambil bergaya.

 

“Aku jemput istriku buat makan bareng. Kenapa?”

 

Anna tersenyum kecut menatap Yeriko. Ia merasa sangat cemburu karena Yeriko lebih memilih gadis yang terlihat biasa saja. Bahkan, tinggi badan Yuna tidak melebihi tinggi pundaknya. Ia tidak bisa menerima kenyataan kalau seorang pengusaha tampan dan kaya raya itu lebih menyukai Yuna.

 

“Pak Yeri, romantis banget? Bukannya dia penanggung jawab acara ini dan bisa makan sendiri di sini?”

 

Yeriko tersenyum sinis. “Ada yang salah kalau aku mau makan sama istriku sendiri? Kalau aku nggak datang, aku nggak akan pernah tahu kalian semua sudah menindas istriku!”

 

“Ah, Pak Yeri jangan ketus kayak gini!” pinta Anna sambil tersenyum manja. “Pak Yeri sangat tampan dan kaya, harusnya bisa bersikap manis dengan orang lain,” ucap Anna sambil melangkah mendekati Yeriko.

 

“Kamu siapa? Jangan sok kenal!” sentak Yeriko.

 

Anna langsung menghentikan langkahnya saat semua orang di dalam ruangan tersebut menertawakannya. Ia semakin geram karena terlihat sangat konyol. Terlebih harus kalah dengan wanita biasa seperti Yuna.

 

“Pak Bos, ini datanya!” Riyan tiba-tiba masuk dan langsung memberikan ponsel ke tangan Yeriko.

 

“Oke.” Yeriko langsung mengantongi ponselnya dan menatap tajam ke arah Anna. “Kamu jangan pernah main-main sama aku!” ancamnya. “Aku nggak akan ngebiarin kamu menyentuh Yuna sedikitpun!”

 

“Aargh ...! Itu siapa?” bisik salah satu model yang ada di ruangan itu sambil menatap Riyan yang berdiri di belakang Yeriko.

 

“Mungkin, asistennya Pak Yeri,” sahut yang lainnya.

 

“Ganteng banget!”

 

“Bosnya ganteng, asistennya ganteng juga. Ya ampun ...!”

 

“Dia udah nikah atau belum ya?”

 

“Kayaknya sih belum. Masih muda banget, kok.”

 

“Jangan-jangan, udah punya pacar?”

 

“Aku mau jadi pacar keduanya.”

 

“Hadeh, daripada jadi pacar kedua asistennya, mending jadi istri kedua bosnya.”

 

“Hahaha.”

 

Beberapa orang malah sibuk membicarakan kehadiran Riyan. Asisten Yeriko yang masih muda dan tampan.

 

“Udahlah, nggak usah diributkan lagi!” pinta Yuna. “Aku nggak papa, kok.” Yuna tersenyum ke arah Yeriko.

 

“Aku harus membersihkan nama kamu. Nyonya Ye adalah wanita yang terhormat. Tuduhan ini benar-benar nggak berdasar dan sangat memalukan,” sahut Yeriko.

 

Jantung Anna berdegup sangat kencang saat mendengar kalimat yang keluar dari mulut Yeriko. Ia merasa kalau dirinya berada dalam bahaya.

 

Riyan membisikkan sesuatu ke telinga Yeriko. Yeriko langsung mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Ia langsung melangkah perlahan mendekati gadis berambut pendek yang mengenakan kemeja kotak-kotak berwarna black-pink dan rok mini.

 

Seluruh tubuh Sofi gemetaran saat Yeriko melangkah ke arahnya. Ia sangat takut dengan tatapan mata Yeriko yang berapi-api. Kakinya terus melangkah mundur hingga tubuhnya bersandar di dinding. “Kenapa dia? Apa dia tahu kalau aku ...?” batinnya dalam hati.

 

Yeriko terus mendekatkan tubuhnya sambil menatap tajam mata Sofi. Melihat sikap Sofi yang ketakutan, membuatnya semakin yakin kalau gadis itu yang telah memfitnah istrinya. “Mana antingnya!?” tanya Yeriko dengan ekspresi dingin.

 

Semua orang langsung menoleh ke arah Yeriko dan Sofi begitu mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut Yeriko.

 

Anna juga ikut terperangah, ia tidak menyangka kalau Yeriko langsung mengajukan pertanyaan tersebut. “Apa beneran dia yang udah ngambil antingku?” tanya Anna dalam hati.

 

Mulut Sofi bergetar. Ia tidak bisa berkata-kata. Tatapan Yeriko yang berapi-api membuatnya tak berdaya.

 

“MANA ANTINGNYA!” sentak Yeriko makin kesal.

 

Sofi berusaha membuka mulutnya, namun seluruh tubuhnya sudah gemetaran. “A ... aku ... ngg ... nggak tahu,” jawab Sofi.

 

Yeriko tersenyum sinis dan berbalik membelakangi Sofi. “Denger semuanya!” seru Yeriko. “Ayuna itu istriku. Dia nggak mungkin tertarik sama anting murahan kayak gitu!” Ia kembali menghampiri Yuna.

 

“Kalau kamu masih nggak mau ngaku,” tutur Yeriko sambil menatap wajah Sofi. “Riyan bakal bikin kamu ngaku!” Ia menoleh ke arah Riyan yang berdiri di belakangnya.

 

Riyan menganggukkan kepala. Ia langsung mengeluarkan rekaman CCTV yang telah ia dapatkan. Dari rekaman tersebut, terlihat seseorang yang keluar dari ruang rias sambil memegang anting-anting kecil milik Anna.

 

“Itu si Sari, kan?” tutur model yang lainnya.

 

“Sari?” Anna semakin penasaran dan ikut melihat hasil rekaman CCTV tersebut.

 

“Iya, itu Sari. Asistennya make-up artist yang udah make-up kita,” sahut model lainnya.

 

“Wah ...! Iya, itu si Sari.”

 

Sofi mengelus dada dan bernapas lega karena rekaman CCTV itu menunjukkan kalau Sari yang telah mengambil anting-anting Anna.

 

Anna langsung menatap Yuna yang berdiri di samping Yeriko. “Maaf, aku sudah nuduh kamu yang ambil anting-antingku!”

 

Yuna tersenyum sinis. Akhirnya, Yeriko telah membuktikan kalau dirinya tidak bersalah dan membuat Anna meminta maaf kepada dirinya. “Aku maafin. Lain kali, jangan nuduh orang sembarangan!”

 

Anna tersenyum sambil menganggukkan kepala. Ia harus bersikap baik di depan Yeriko.

 

 

(( Bersambung ... ))

Terima kasih sudah baca Perfect Hero sampai di sini. Jangan lupa kasih star vote biar aku makin semangat update cerita terbarunya. Thank you so much yang udah ngasih hadiah. I Love you ...

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas