Saturday, February 15, 2025

Perfect Hero Bab 120 : Si Playboy Jatuh Cinta || a Romance Novel by Vella Nine

 


“Yer, aku lihat si Chandra sama Jheni makin deket aja,” tutur Lutfi saat ia sedang makan siang bersama Yeriko di salah satu restoran Jepang yang ada di pusat kota.

 

“Hmm ...” Yeriko menanggapi santai sambil menikmati makan siangnya.

 

“Gimana kalau kita jodohin aja mereka? Aku lihat, Jheni perhatian banget ke Chandra. Bukannya bagus kalau Chandra bisa move on. Lagian, aku lihat si Jheni itu anaknya baik banget.”

 

“Biarkan aja mereka mendekat secara alami,” sahut Yeriko.

 

“Tapi, apa Chandra itu paham kalau Jheni suka sama dia?”

 

“Jheni suka sama Chandra?”

 

“Kelihatannya begitu.”

 

“Sok tahu!”

 

“Kalau nggak suka. Buat apa dia setiap hari ke rumah sakit. Nganterin makanan buat Chandra, nemenin dia juga. Aku rasa, temen deket pun nggak bakal perhatian banget kayak gitu kalau dia nggak ada rasa sama sekali.”

 

Yeriko tidak merespon. Ia hanya mengangguk sambil menikmati makanannya.

 

“Oh ya, aku lagi deket sama cewek. Mmh ... dia juga temennya Kakak Ipar.”

 

“Oh ya? Jheni?”

 

“Eh, busyet! Jheni lagi deket sama Chandra. Emangnya aku cowok apaan?”

 

“Trus? Siapa?”

 

“Namanya Icha. Satu departemen sama Kakak Ipar. Dia juga akrab sama Kakak Ipar.”

 

“Oh ya? Gimana kalau kita makan bareng?”

 

“Kapan?” tanya Lutfi balik.

 

“Hmm ... kalian bisanya kapan?”

 

“Mmh ... ntar, aku tanya Icha dulu. Soalnya, dia agak susah dibawa jalan.”

 

“Kenapa?”

 

Lutfi menghela napas. “Nggak tahu. Selalu ada aja alasannya.”

 

Yeriko tertawa kecil menanggapi ucapan Lutfi. “Kamu suka sama dia?”

 

Lutfi menganggukkan kepala. “Tapi ... kok, dia nggak ngerespon ya? Emangnya aku kurang ganteng ya? Kayaknya, dia nggak begitu tertarik sama aku.”

 

“Oh ya? Ada cewek yang nggak suka sama kamu?”

 

“Sialan! Nggak ada cewek yang nggak suka sama aku di dunia ini. Aku pasti bisa bikin dia suka sama aku!” tegas Lutfi.

 

“Oh ya? Buktikan!”

 

“Tapi ...” Wajah Lutfi langsung lesu.

 

“Kenapa?” tanya Yeriko sambil menahan tawa.

 

“Ck, aku heran aja. Kenapa zaman kayak gini, masih ada aja cewek yang susah dideketin sama cowok?”

 

“Zaman sekarang, nggak ada cewek baik yang percaya sama cowok kayak kamu,” celetuk Yeriko.

 

“Aku? Ada yang salah sama aku?” tanya Lutfi.

 

“Kamu itu nggak pernah serius sama cewek.”

 

“Kali ini aku serius, Yer!” tegas Lutfi.

 

“Serius apanya?”

 

“Serius mau jadiin dia pacarku. Soalnya, dia itu anaknya baik banget. Nggak pernah pacaran dan nggak pernah deket sama cowok lain. Cewek kayak gitu langka banget.”

 

“Ck, kalo dia lihat kelakuanmu yang suka deketin semua cewek di bar. Apa dia mau sama kamu?”

 

“Sst ...! Jangan sampe dia tahu! Kalau dia mau nerima aku, aku bakalan ninggalin semua cewek-cewek itu. Lagian, cewek bar itu kan cuma buat hiburan doang.”

 

Yeriko tersenyum kecil. “Jadi, kamu mau ngejar dia?”

 

Lutfi menganggukkan kepala. “Gimana caranya bikin dia suka sama aku ya?”

 

Yeriko mengedikkan bahunya.

 

“Eh, gimana caranya kamu bikin Kakak Ipar jatuh cinta sama kamu?”

 

Yeriko tersenyum sambil menatap Lutfi. “Maksudnya, kamu mau pakai caraku juga?”

 

Lutfi menganggukkan kepala.

 

“Aku langsung nikahin dia.”

 

“Eh!?” Lutfi melongo menatap Yeriko. “Kalian itu ... beneran nggak pacaran?”

 

Yeriko menggelengkan kepala. “Aku langsung ngajak dia nikah dan dia mau.”

 

Lutfi menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Aku mana berani ngajak nikah. Mau ngomong suka sama dia aja, udah keder duluan.”

 

Yeriko tak bisa menahan tawanya lagi.

 

“Kenapa malah ngetawain!” dengus Lutfi sambil menendang kaki Yeriko.

 

“Baru ini kamu keder sama cewek. Biasanya ...”

 

“Huft, baru kali ini aku ketemu sama cewek baik, Yer. Mau megang tangannya aja takut, apalagi mau nyium dia. Bantuin aku!”

 

“Bantu apaan?”

 

“Deketin Icha.”

 

“Kenapa nggak usaha sendiri?”

 

“Udah, Yer. Tapi ... dia itu susah dideketin. Setiap aku ngomong serius, dikira bercanda mulu.”

 

“Kamu emang demen bercanda kan?”

 

“Iya. Tapi, kali ini aku serius. Aku mau nembak dia, Yer.”

 

“Terus?”

 

“Bantuin nyari idenya. Eh, minta bocoran sama Kakak Ipar!”

 

“Bocoran apaan?”

 

“Apa yang disukai sama Icha.”

 

“Terus?”

 

“Aku mau nembak dia, Yer! Kamu ini ngerti nggak sih!” sahut Lutfi mulai kesal karena sikap Yeriko yang cuek.

 

“Ya, tinggal ngomong aja!”

 

“Yee ... aku tuh maunya ngasih kejutan yang nggak akan terlupakan. Nembaknya di tempat yang romantis dan suasana yang romantis. Harus bikin dia terharu dan nggak akan pernah ngelupain aku selama hidupnya.”

 

“Kalo diterima, kalo ditolak?”

 

“Setidaknya, aku bakal jadi orang yang paling dikenang dalam hidupnya. Ah, kamu ini ... malah bikin aku nge-down. Nggak ada gunanya ngomong sama kamu. Aku mau minta bantuan Kakak Ipar aja.”

 

Yeriko tersenyum kecil. “Iya. Minta bantuan dia aja. Dia lebih kreatif soal beginian.”

 

Lutfi tersenyum menatap Yeriko. “Mmh ... gimana kalau weekend ini, kita pergi ke Bali? Aku mau nembak Icha di sana. Menurut kamu gimana?”

 

“Boleh juga.”

 

“Beneran?”

 

Yeriko menganggukkan kepala.

 

“Kalau gitu, aku harus minta tolong sama Kakak Ipar buat bujuk si Icha liburan ke sana.”

 

“Kenapa nggak kamu sendiri yang ajak?”

 

“Aku takut, Yer.”

 

“Takut apa?”

 

“Dia itu ... diajak makan siang doang banyak alasannya. Selalu bilang sibuk.”

 

Yeriko mengangguk-anggukkan kepala.

 

“Aku sengaja pilih weekend. Kalau Kakak Ipar yang ajak, dia pasti mau keluar kalau Kakak Ipar yang ajak.”

 

Yeriko mengangguk-anggukkan kepala. “Nanti, aku bicarakan sama Yuna.”

 

“Beneran?”

 

Yeriko menganggukkan kepala.

 

“Ah, akhirnya ...” Lutfi merasa sangat lega karena Yeriko bersedia membantunya.

 

Yeriko tersenyum sambil menatap Lutfi. “Oh ya, Mama mau ngadain pesta pernikahan aku sama Yuna.”

 

“Oh ya? Terus?” Lutfi terlihat sangat antusias mendengar cerita dari Yeriko.

 

“Mmh ... abis acara pernikahan. Aku mau ajak dia bulan madu. Kamu udah dapet tempatnya?”

 

“Astaga! Aku lupa, Yer. Ntar malam aku kirim ke kamu beberapa tempat yang recomended.”

 

Yeriko menganggukkan kepala. “Mama juga udah atur beberapa foto pre-wedding ke beberapa tempat, salah satunya di Bali.”

 

“Nggak ke luar negeri, Yer?”

 

Yeriko menggelengkan kepala. “Aku nggak bisa ninggalin kerjaan terlalu lama. Kamu tahu, perempuan itu ribet banget. Sesuatu yang bisa diselesaikan dalam satu jam, bisa jadi sepuluh jam.”

 

“Hahaha. Iya juga, sih. Tapi, selera Mama Rully itu tinggi. Dia nggak akan ngelakuin sesuatu sembarangan. Pasti, dia bakal ngatur sesempurna mungkin. Enak banget punya Mama kayak dia.”

 

“Enak apanya? Udah bawel, ribet, nggak mau kalah pula,” sahut Yeriko.

 

Lutfi tertawa kecil. “Semua perempuan emang begitu, Yer. Tapi ... mereka yang seperti itulah yang mewarnai hidup kita.”

 

Yeriko menatap lekat ke arah Lutfi. “Tumben, ngomongnya sok bijak?”

 

Lutfi tersenyum kecil. “Emangnya aku nggak boleh berubah?” Ia bangkit dari tempat duduk. “Bayarin ya! Aku masih ada urusan,” pinta Lutfi. Ia bergegas meninggalkan Yeriko.

 

Yeriko tersenyum kecil sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia merasa, Lutfi memang sedikit berubah. Tak banyak berulah dan bercanda seperti biasanya.

 

Yeriko merasa sangat senang karena dua sahabat baiknya kini dekat dengan teman baik istrinya.  Ia merasa hal ini sangat baik untuk hubungan mereka ke depannya.

 

(( Bersambung ... ))

Makasih yang udah baca “Perfect Hero” yang bakal bikin kamu baper bertubi-tubi. Jangan malu buat sapa aku di kolom komentar ya! Kasih kripik ... eh, kritik dan saran juga ya!

 

Much Love

@vellanine.tjahjadi

 


Perfect Hero Bab 119: Kesan Pertama

 


“Loh? Loh? Mbak, kenapa nangis?” tanya Lutfi panik. Ia malah kebingungan saat mendapati Icha semakin terisak.

 

“Aku udah dorong motor hampir dua kilo dari sana dan nggak ada bengkel yang buka. Ban motorku bocor, rumahku masih jauh, handphone aku mati. Hiks ... hiks ... sial banget hidupku,” cerocos Icha. Ia berlutut dan menangis tersedu-sedu.

 

Lutfi ikut berjongkok di depan Icha. “Nggak usah nangis! Aku antar kamu pulang. Gimana?” tanya Lutfi lembut.

 

Icha menatap wajah Lutfi, ia mengusap air mata yang membasahi pipinya. “Terus, motor aku gimana?” tanya Icha.

 

Lutfi tersenyum ke arah Icha. “Aku bisa telepon temenku yang punya bengkel buat ambil motor kamu.”

 

“Ya udah, teleponin dulu!” pinta Icha.

 

Lutfi menganggukkan kepala. “Sekarang, aku antar kamu pulang.”

 

“Teleponin dulu orang bengkelnya!” pinta Icha. “Kalau motor aku diambil begal gimana? Masa mau ditinggal?”

 

Lutfi tersenyum kecil melihat wajah Icha. Ia merasa gadis di depannya itu sangat lucu. “Iya,” sahut Lutfi. Ia langsung merogoh ponsel dari sakunya dan menelepon salah satu teman pemilik bengkel.

 

“Udah aku telepon. Sekarang, aku antar kamu pulang,” tutur Lutfi sambil menggenggam pundak Icha dan mengajaknya bangkit.

 

“Tunggu dia dateng ambil motorku!” pinta Icha. “Masa motor aku mau ditinggal gitu aja?”

 

Lutfi tersenyum hangat sambil menatap gadis di hadapannya itu. Ia tertegun beberapa saat ketika tatapannya jatuh tepat di manik mata Icha. Jantungnya tiba-tiba berdebar dan ia merasa ada sesuatu yang aneh menyelimuti dirinya.

 

“Hei ... kenapa malah ngelamun?” tanya Icha sambil melambaikan telapak tangannya di depan wajah Lutfi.

 

“Eh!?” Lutfi gelagapan saat ia tersadar dari lamunannya. “Masuk mobilku dulu ya! Di luar dingin,” pinta Lutfi.

 

Icha menganggukkan kepala, ia kembali memakai kacamatanya dan melangkah mengikuti Lutfi.

 

Lutfi membukakan pintu mobilnya agar Icha bisa menunggu di dalam mobil. Ia menutup pintu kembali dan bersandar di mobilnya sambil menunggu temannya datang.

 

Beberapa menit kemudian, teman Lutfi pemilik bengkel datang.

 

“Lama banget sih?” celetuk Lutfi.

 

“Aku wes neng dalan muleh, Le. Lek dudu kowe sing telepon. Aku males rene.”

 

Lutfi tertawa kecil. “Makasih, Pakde!”

 

“Iki motore sopo? Cewekmu tah?”

 

Lutfi hanya tersenyum kecil. “Ya udah, aku pulang dulu, Pakde. Aku titip motornya ya!”

 

“Iyo.”

 

Lutfi melangkah memasuki mobil dan bergegas menyalakan mesin mobilnya.

 

“Rumah kamu di mana?” tanya Lutfi. “Pakai Safety Belt!” pintanya saat melihat Icha belum mengenakan safety belt.

 

Icha langsung memasang safety belt ke pinggangnya.

 

“Kenapa jam segini masih di luar?” tanya Lutfi.

 

“Kerja lembur,” jawab Icha.

 

“Oh. Kerja di mana?”

 

“Wijaya Group.”

 

“Oh ya? Aku punya temen yang kerja di sana juga. Mmh ... istrinya temenku sih. Namanya Fristi Ayuna, kamu kenal nggak?”

 

“Eh!?” Icha langsung menoleh ke arah Lutfi. “Yuna? Dia satu departemen sama aku?”

 

“Oh ya? Kebetulan banget.”

 

“Kebetulan apanya?”

 

“Yah ... ada orang yang sama-sama kita kenal. Kamu, udah lama kerja di sana?”

 

Icha menggelengkan kepala. “Aku masih magang, sama kayak Yuna.”

 

“Oh ...” Lutfi mengangguk-anggukkan kepalanya. “Oh ya, rumah kamu di mana?”

 

“Di Oro-Oro.”

 

“Oke. Udah makan?” tanya Lutfi.

 

“Udah,” jawab Icha. Ia membenarkan posisi kacamatanya. “Kenapa ini cowok baik banget sih? Jangan-jangan ... dia punya niat jahat,” batin Icha. Keringat dingin mulai keluar dari tubuhnya.

 

“Oh ya, nama kamu siapa?” tanya Lutfi.

 

“Allysa, panggil Icha aja.”

 

“Oh, Icha. Namaku Lutfi.”

 

Icha berusaha tersenyum walau ia sangat ketakutan berada di dalam mobil bersama pria asing.

 

“Oh ya, aku lapar. Aku mau beli sate dulu. Kamu mau?” tanya Lutfi sambil menoleh ke arah Icha.

 

Icha menggelengkan kepala. “Aku udah kenyang.”

 

KERUCUK ... KERUCUK ...!

 

Icha langsung memegangi perutnya yang berbunyi. “Duh, ini perut kenapa nggak bisa diajak kompromi?” batinnya kesal. Ia meringis ke arah Lutfi yang tersenyum menatapnya.

 

“Kita mampir makan dulu!” Lutfi langsung menepikan mobilnya di pinggir jalan. Tempat salah satu pedagang sate biasa mangkal. Ia langsung keluar dari mobil dan menghampiri penjual sate tersebut.

 

“Eh, Mas Lutfi. Lama nggak kelihatan,” sapa penjual sate itu saat Lutfi menghampiri rombong jualannya.

 

“Iya, Paklek. Agak sibuk. Satenya empat puluh tusuk ya!” pinta Lutfi.

 

“Oke. Silakan duduk, Mas!” perintah penjual sate sambil memberikan kursi plastik pada Lutfi.

 

Lutfi menoleh ke arah mobilnya. Ia langsung melangkah menghampiri mobil karena Icha tak kunjung keluar dari mobilnya.

 

“Nggak mau makan?” tanya Lutfi sambil membuka pintu mobil dan menatap Icha yang masih bergeming di tempatnya.

 

Icha meringis ke arah Lutfi. “Aku ...”

 

“Ayo! Sate di sini enak banget, loh. Ntar kamu nyesel kalo nggak mau cobain.”

 

“Mmh ...”

 

Lutfi mengernyitkan dahi menatap Icha. “Hei, kamu kenapa? Gugup gitu? Nervous ya ketemu sama cowok ganteng?” tanyanya sambil memainkan kedua alis.

 

Icha tersenyum kecut menatap Lutfi. “Kita baru aja kenal. Kenapa kamu baik banget sama aku? Apa kamu kayak gini juga sama semua orang?”

 

Lutfi menganggukkan kepala.

 

“Bukan karena ada niat jahat kan?” tanya Icha.

 

Lutfi tergelak. “Emangnya, cowok ganteng kayak aku ini ... kelihatan kayak penjahat? Kamu itu temennya Yuna. Yuna itu sudah kayak kakak iparku sendiri. Temen dia, temenku juga. Aku nggak mungkin macem-macem. Pikiranmu terlalu jauh,” tutur Lutfi sambil mengusap ujung kepala Icha.

 

Icha tertegun menatap Lutfi yang tersenyum di hadapannya. Jantungnya berdebar dan ia kesulitan menelan ludah saat mendapati perlakuan Lutfi yang begitu hangat.

 

“Ayo, turun!” pinta Lutfi.

 

Icha tersenyum. Ia mengangguk dan melepas safety belt-nya.

 

Lutfi merasa sangat senang karena Icha mau turun dari mobil dan menemaninya makan sate.

 

“Paklek, minta kursi satu lagi!”

 

Penjual sate tersebut mengangguk dan langsung memberikan kursi plastik kepada Lutfi. “Wah, baru kali ini Paklek lihat Mas Lutfi makan di sini bareng cewek. Pacarnya ya?”

 

“Ah, Paklek bisa aja. Kebetulan aja, Paklek. Cuma temen, kok.”

 

“Oh.” Penjual sate tersebut manggut-manggut sambil tersenyum.

 

“Cha, apa kamu sering lembur sampai malam kayak gini?” tanya Lutfi.

 

“Jarang. Karena ada proyek yang harus cepet dikelarin. Jadi, mau nggak mau harus lembur.”

 

“Sendirian di kantor?”

 

Icha menggelengkan kepala. “Bareng temen satu tim.”

 

“Yuna juga ikut lembur?”

 

Icha menggelengkan kepala.

 

“Bukannya kalian satu departemen?”

 

Icha mengangguk. “Tapi, dia nggak ikutan pegang proyek yang lagi aku kerjain.”

 

“Oh ya?” Lutfi mengangguk-anggukkan kepala.

 

“Kamu ... udah lama kenal sama Yuna?” tanya Icha.

 

“Kenal dia ... sejak dia nikah sama Yeriko.”

 

“Oh ya? Jadi, kamu tahu banget gimana hubungan Yuna dan Yeriko? Mereka itu ... pasangan yang serasi dan romantis banget.”

 

“Kamu tahu dari mana?”

 

“Dari Yuna. Yeriko perhatian banget sama istrinya. Setiap saat selalu ngirim pesan dan telepon buat nanyain keadaan dan pekerjaan Yuna. Padahal, Yeriko itu kan orang kaya, bukan nyuruh istrinya berhenti kerja, tapi malah selalu ngasih semangat setiap hari. Bener-bener jadi booster buat istrinya. Pantas aja, setiap hari si Yuna selalu semangat,” jelas Icha.

 

“Apa semua cewek suka sama cowok yang ngasih semangat?” tanya Lutfi.

 

Icha mengangguk pasti. “Aku rasa, cowok juga gitu.”

 

“Mmh ... iya juga, sih. Kamu ... udah punya pacar?”

 

 Icha menggelengkan kepala. “Belum kepikiran punya pacar. Masih mau fokus ke karir dulu.”

 

“Oh ya? Bagus.” Lutfi manggut-manggut sambil menikmati sate yang sudah ada di tangannya. Ia mulai menanyakan banyak hal kepada Icha.

 

Mereka mulai berbincang. Sifat Lutfi yang ceria, membuat Icha terus tertawa. Semua pikiran buruk tentang Lutfi sebelumnya menghilang begitu saja. Ia merasa, Lutfi adalah pria yang sangat hangat dan penyayang. Setiap tatapan matanya, membuat jantung Icha terus berdebar.

 

Usai makan, Lutfi langsung mengantar Icha pulang ke rumah.

 

 

(( Bersambung ... ))

Makasih yang udah baca “Perfect Hero” yang bakal bikin kamu baper bertubi-tubi. Jangan malu buat sapa aku di kolom komentar ya! Kasih kripik ... eh, kritik dan saran juga ya!

 

Much Love

@vellanine.tjahjadi

 

 

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas