Wednesday, August 17, 2022

Bab 58 - Perseteruan Nanda dan Andre

 


Nanda melangkahkan kakinya perlahan memasuki kediaman orang tuanya. Sudah beberapa minggu ia tidak bertemu dengan sang ibu dan merasa sangat rindu. Dua tangannya menenteng paper bag berisi hadiah dan makanan kesukaan mamanya.

“Sore, Ma ...!” sapa Nanda sambil menghampiri Nia yang sedang asyik berbincang dengan sahabatnya di ruang tamu. “Eh, ada Bunda Yuna?”

Bunda Yuna tersenyum sambil menatap wajah Nanda. “Iya. Kebetulan lewat sini, jadi Bunda sekalian mampir. Gimana kabar kamu?”

“Baik, Bunda.” Nanda langsung menyalami tangan Nia dan menciumnya. Ia juga tak lupa menyalami Bunda Yuna yang ada di sana.

“Nia, aku balik dulu, ya!” pamit Bunda Yuna. “Satu jam lagi suamiku pulang ke rumah. Dia bisa ngambek kalau aku nggak ada saat dia pulang.”

Nia mengangguk sambil tersenyum manis. Sebagai seorang istri, ia tahu bagaimana rutinitas dan tugas Yuna. Meski di luar sana terlihat sebagai wanita karir dengan jabatan tinggi dan memiliki banyak bisnis, saat masuk ke rumah dia tetaplah seorang istri.

“Jaga kesehatan, ya! Udah makin tua, harus peduli sama diri sendiri!” ucap Yuna sambil merangkul tubuh Nia dan bersalaman pipi.

Nia mengangguk sambil tersenyum. “Kamu juga, ya! Memperhatikan keluarga, jangan lupa sama kesehatan diri sendiri. Sebagai istri dan ibu, keluarga membutuhkan kita.”

Yuna mengangguk sambil tersenyum. “Salam untuk Andre, ya!”

Nia mengangguk. “Salam untuk Yeriko juga.”

Yuna mengangguk dan segera berpamitan dari rumah tersebut.

Nanda terus memperhatikan Bunda Yuna yang terlihat begitu cantik dan elegan meski usianya tak lagi muda. Wanita ini juga memiliki kekuatan memengaruhi banyak orang hingga menjadikannya sebagai sosok menginspirasi. Ketika di bumi, Miss Ayuna seperti berlian dan ketika di langit ia bersinar seperti bintang. Tak banyak wanita yang masa tuanya diberi anugerah seindah ini.

“Nan …!” panggil Nia membuyarkan lamunan Nanda.

“Eh!?” Nanda mengerjapkan mata dan baru menyadari kalau mobil milik Bunda Yuna sudah tidak terlihat lagi di halaman rumahnya.

“Kenapa ngelamun? Masuk, yuk!” ajak Nia sambil merangkul lengan Nanda. “Kamu dari mana aja? Kenapa akhir-akhir ini jarang pulang? Ngurus bisnis?”

“Ngurus istri,” jawab Nanda santai dan mengempaskan tubuhnya ke sofa.

“Karina?” tanya Nia sambil tersenyum lebar. Sejak kejadian buruk yang menimpa keluarganya tiga tahun silam, puteranya itu mengalami banyak perubahan. Bahkan, menutup diri dari semua wanita hingga ia juga harus ikut campur mencarikan jodoh baru untuk puteranya tersebut.

“Kapan aku merit sama Karina!?” sahut Nanda ketus.

Nia menghela napas menghadapi sikap ketus puteranya itu. “Dia calon istri kamu, Nan. Nggak boleh seperti itu! Kamu harus bisa bangkit dari masa lalu. Karina wanita yang baik, cantik, dewasa dan berasal dari keluarga baik-baik. Dia juga tidak akan menyakiti kamu.”

“Kalau cuma cari yang nggak nyakitin, piara kucing atau kelinci aja beres!” sahut Nanda. “Aku nggak cinta sama Karina. Mama mau kalau aku mencintai wanita lain saat aku menikah sama Karina? Cinta itu nggak bisa dipaksakan, Ma.”

“Terus, kamu mau balik ke Arlita? Kamu tahu sendiri kalau dia udah divonis HIV, Nan. Untungnya, kamu nggak ketularan kena HIV juga sama dia. Kamu mau nikahi perempuan kayak gitu?” tanya Nia sambil menatap wajah Nanda.

“Nggak usah bahas masa lalu, Ma! Aku pusing!” pinta Nanda sambil mengacak rambutnya sendiri.

“Ya udah. Kamu mau minum apa? Mau kopi atau susu?” tanya Nia.

“Nggak usah, Ma! Aku mau ngomong penting sama Mama,” jawab Nanda sembari menggenggam tangan Nia yang duduk di sebelahnya.

“Tumben mukanya serius. Mau ngomong apa?” tanya Nia.

“Aku lagi ngejar Roro Ayu lagi,” tutur Nanda sambil menatap wajah Nia.

Nia terdiam sejenak sambil menarik tangannya dari genggaman Nanda.

“Mama kenapa? Nggak suka kalau aku balikan sama Roro Ayu? Dia menantu kesayangan Mama ‘kan?”

“Itu dulu. Sebelum dia benar-benar mengirimmu ke penjara,” jawab Nia dingin.

“Bukan dia yang mengirimku ke penjara,” sahut Nanda.

“Siapa lagi? Jelas-jelas, dia yang ngelaporin kamu, Nan.”

“Ma, aku udah cari tahu semuanya. Saat laporan itu masuk ke kepolisian, Roro Ayu dalam keadaan koma. Mama ingat ‘kan?”

“Ingat. Tapi dia tetep aja udah ngumpulin semua bukti dan memenjarakan kamu,” sahut Nia.

“Ma, Nadine pernah bilang kalau Roro Ayu memang ingin melaporkan aku ke polisi. Tapi dia mengurungkan niatnya dan membatalkan itu semua.”

“Kamu percaya gitu aja sama omongan Nadine?”

“Aku percaya. Karena Roro Ayu juga nggak tahu apa pun soal laporan kepolisian itu. Yang jahat itu keluarganya Roro Ayu, Ma. Mereka yang udah bikin konspirasi dan membuat kita semua salah paham. Tanda tangan Ayu, masih bisa mereka palsukan. Rekaman suara yang jadi bukti di pengadilan, ternyata sudah diedit,” tutur Nanda menjelaskan.

“Serius!? Apa selama ini Mama salah menilai dia?” tanya Nia.

“Bukan cuma Mama. Tapi aku juga. Dia sudah berkali-kali menyerahkan nyawanya untuk menyelamatkan aku. Semua bukti-bukti itu dia kumpulkan hanya untuk menggertakku saja dengan caranya. Dia nggak benar-benar ingin melakukannya, Ma. Dia sudah cinta sama aku sejak kami masih SMA. Cuma … wanita itu terlalu gengsi untuk mengakuinya,” jelas Nanda sambil tersenyum mengingat masa-masa sekolahnya bersama Ayu.

“Beneran? Gimana keadaan dia sekarang? Sehat?” tanya Nia.

Nanda mengangguk. Ia merogoh ponsel di saku jasnya dan membuka galeri foto miliknya. “Dia makin cantik!” ucapnya bersemangat sembari menunjukkan foto Roro Ayu yang sedang duduk di sudut perpustakaan sembari membaca buku.

“Dari dulu, dia memang senang belajar ya?” tanya Nia sambil tersenyum menatap wajah Roro Ayu.

Nanda mengangguk. “Dia baru aja menyelesaikan gelar masternya di Cambridge University. Dia juga sudah menerbitkan banyak jurnal bisnis selama sekolah di sana. Lihat, Ma! Dia itu abis marah-marah sama aku, tapi malah ketiduran di pangkuanku. Lucu banget ‘kan? Hihihi.”

Nia tersenyum sambil ikut mengusap layar ponsel Nanda. “Ini foto di mana? London Eye?”

Nanda mengangguk. Ia langsung menutup layar ponsel dengan telapak tangannya saat sang mama mengusap ke kiri dan foto yang terpampang adalah foto dirinya dengan Ayu yang sedang berciuman.

Nia tersenyum menggoda ke arah Nanda. “Mama udah lihat. Nggak usah ditutupi. Kamu beneran balikan sama Roro Ayu?”

Nanda mengangguk sambil tersenyum. “Saat ini, Roro Ayu sedang menjalani hukuman yang berat di keraton demi mendapatkan restu keluarganya. Setiap malam, aku nggak bisa tidur karena Ayu harus mempertaruhkan nyawanya. Aturan leluhur itu kuno dan kejam. Mama jangan mempersulit Ayu, ya! Dia sudah berkorban banyak hal untuk mencintai anakmu.”

Nia mengangguk sambil tersenyum. “Mama menghargai keputusan kamu. Asal kamu bahagia, Mama akan mendukung kamu. Tapi ... bagaimana dengan Karina? Apa kamu bisa mengatasinya?” tanyanya.

“Dari awal aku sudah menolak perjodohan bisnis ini. Aku akan berusaha keras untuk memperjuangkan apa yang seharusnya aku perjuangkan dan melepaskan apa yang seharusnya aku lepaskan,” jawab Nanda.

“Mama akan dukung aku sama Roro Ayu ‘kan? Aku hanya butuh persetujuan dari Mama dan aku akan melawan semua orang,” tutur Nanda.

Nia mengangguk. “Apa pun yang membuatmu bahagia, Mama akan mendukungnya.”

“Aku nggak setuju!” seru Andre sambil masuk ke dalam rumah tersebut. “Nggak ada alasan apa pun dan perjodohan dengan Karina tidak bisa dibatalkan! Kamu mau perusahaan kita bangkrut lagi karena keluarganya menarik semua investasi di perusahaan kita, hah!?”

 “Pa, aku nggak mau terikat perjodohan bisnis seperti ini. Papa mau jual anak!?”

 “Berani kamu ngelawan Papa, hah!?” sentak Andre sambil menunjuk wajah Nanda penuh emosi. “Kalau kamu masih bersikeras ingin bersama perempuan keparat itu, keluar dari rumah ini dan jangan bawa apa pun selain tubuhmu sendiri!”

“Mas, kenapa ngomong kayak gitu sama anak sendiri?” Nia langsung menghampiri Andre dan mencoba untuk menenangkan suaminya itu.

“Anakmu ini nggak pernah berhenti berulah dan bikin malu keluarga. Apa kata keluarga Karina kalau sampai perjodohan ini batal?”

“Pa, ini baru perjodohan, kok. Belum sampai ke tahap pernikahan. Kemarin aku udah menikah pun, masih bisa dibatalkan,” sahut Nanda.

“Kalau gitu, perjodohan kali ini nggak boleh batal!”

“Aku nggak cinta sama Karina, Pa! Kenapa papa maksa aku buat nikahin dia? Kalau memang pernikahan ini hanya untuk bisnis, Papa aja yang nikahi Karina!”

PLAK!

Telapak tangan Andre langsung mendarat di pipi Nanda. “Berani kamu ngomong gitu ke papa, hah!?”

“Mas, jangan pukul Nanda! Cukup, Mas!” Nia langsung memeluk Nanda sambil menitikan air mata. “Kamu nggak papa, Sayang?” tanya Nia sambil mengusap kedua pipi Nanda. “Papa nggak marah beneran, kok. Nanda nggak boleh marah sama papa, ya!” lirihnya.

“Didik anak kamu ini! Jangan jadi anak pembangkang dan bikin malu keluarga. Aku nyesal udah pilih istri sepertimu. Lihat Yuna! Dia selalu tahu bagaimana caranya membahagiakan suami dan keluarganya. Anak-anak dia, nggak ada yang kelakuannya begini. Semuanya sukses. Kamu ngapain selama ini? Sampai nggak bisa didik anak kamu dengan baik!” seru Andre penuh emosi.

Air mata Nia mengalir deras mendengar ucapan kemarahan Andre. Ia tidak menyangka kalau suaminya itu masih terus membandingkan ia dengan Ayuna yang kehidupannya jauh lebih baik dari mereka.

“Mas, Mas Andre kenapa setega ini ngomong sama aku? Kalau aku bisa milih, aku ingin terlahir seperti Yuna, Mas. Perempuan mana yang nggak mau jadi seperti dia? Aku sudah berusaha menjadi ibu yang baik untuk Nanda. Kalau aku gagal, itu semua di luar kuasaku, Mas,” ucap Nia dengan derai air mata.

“Sebelum kamu gagal, kendalikan anakmu ini!” sahut Andre sambil menunjuk wajah Nanda dan melangkah pergi.

Nanda menarik kerah baju Andre dengan cepat dan tangannya yang sudah mengepal erat sejak beberapa detik lalu, langsung menghujam wajah Andre.

BUG!

Tubuh Andre langsung tersungkur ke lantai karena ia tidak siap menahan serangan Nanda yang tiba-tiba.

“Papa boleh maki aku sepuasnya, tapi jangan maki mamaku!” seru Nanda kesal.

Nia langsung menghampiri tubuh Andre dan memeluk suaminya itu. “Nan, papamu hanya emosi sesaat saja. Jangan pukul dia!” Ia benar-benar serba salah dan tidak tahu harus memilih membela siapa.

Nanda menatap kesal ke arah Andre sambil merogoh saku celananya. “Ini kunci mobilku. Ambillah!” pinta Nanda sambil melemparkan kunci mobilnya ke hadapan Andre.

“Nan, jangan ikut emosi juga!” pinta Nia sambil menangis. Tapi, kalimatnya itu tidak didengar oleh bapak dan anak yang sedang berseteru hebat itu.

“Ini dompetku! Jam tangan, sepatu, jas dan semuanya. Aku balikin ke papa!” ucap Nanda lagi sambil melemparkan barang-barang tersebut ke arah Andre yang masih terduduk di lantai.

Nanda memperhatikan kemeja dan celana bahan yang ia kenakan. “Setelan kemeja ini, aku pinjam dulu. Besok, akan aku kembalikan ke Papa!” ucapnya. Ia langsung berbalik dan melangkah pergi.

“Kita lihat, apa kamu bisa hidup tanpa uang dan fasilitas orang tua, hah!?” seru Andre. Ia semakin emosi melihat Nanda yang begitu berani di hadapannya.

“Mas, kenapa malah bilang begitu? Bukannya dibujuk,” tanya Nia sambil memukul pundak Andre dan segera berlari mengejar langkah Nanda. Ia berusaha keras mencegah puteranya itu untuk tidak keluar  dari rumah.

“Nan, Nanda ...! Jangan pergi, Nak! Papamu hanya emosi sesaat. Jangan diambil hati ya!” seru Nia yang tidak sanggup mengikuti jejak kaki Nanda yang berjalan lima kali lebih cepat darinya.

 

 ((Bersambung...))


Bab 57 - Tidak Direstui

 



Nanda menarik napas dalam-dalam sambil merapikan jasnya saat ia baru saja keluar dari dalam mobil. Ia segera melangkah memasuki pintu kantor perusahaan Amora Internasional. Dengan cepat, ia langsung mencapai ke lantai gedung paling atas dan masuk ke ruang CEO.

“Dari mana saja?” tanya Andre sambil duduk di kursi kerja Nanda dan menatap tajam ke arah puteranya itu.

“Dari ...” Nanda memutar otaknya dengan cepat. Meski perasaannya tak karuan, ia tetap memberanikan diri untuk mengatakan kejujuran tentang hubungannya dengan Ayu. “Dari Keraton Surakarta.”

“Kamu mau menjalin hubungan bisnis dengan keluarga keraton itu?” tanya Andre.

Nanda menggeleng.

“Lalu? Untuk apa kamu meninggalkan perusahaan begitu lama? Sudah bosan kerja?” tanya Andre dingin.

Nanda menggeleng lagi.

“Terus apa?” seru Andre sambil menggebrak meja di depannya. “Kamu pikir, pemilik perusahaan bisa seenaknya aja, hah!? Meski kamu anak papa, papa tidak akan berbelas kasih! Nggak ingat apa yang terjadi sama perusahaan kita tiga tahun lalu, hah!? Kamu masih main-main seperti ini!”

Nanda terdiam mendengar ucapan bernada tinggi dari papanya.

“JAWAB!” sentak Andre.

“Aku ... nemuin Roro Ayu,” jawab Nanda .

“Mantan istri kamu itu?” Wajah Andre berubah seketika.

Nanda mengangguk. “Dia masih istriku, Pa.”

Andre mengernyitkan dahi. “Istri dari mana? Istri mana yang tega memenjarakan suaminya selama satu tahun? Istri mana yang tega menguras harta suami dan mertuanya sendiri? Apa yang tidak kami berikan untuk perempuan itu? Semuanya sudah kami beri dan dia tetap membuatmu masuk penjara, membuat saham perusahaan kita jatuh dan nyaris bangkrut. Jangan bodoh, Nanda!”

“Pa, aku nggak bodoh. Aku waras dan aku sadar kalau aku cuma cinta sama Roro Ayu,” sahut Nanda.

“Cuuih ...! Persetan dengan cintamu, Nan! Berapa banyak wanita yang kamu miliki saat kamu masih menjadi suami Ayu, hah!?” sambar Andre.

Nanda terdiam mendengar pertanyaan papanya.

“Papa nggak mau tahu dan nggak mau dengar alasan apa pun. Yang jelas, papa sudah tidak bisa menerima wanita itu menjadi menantu papa. Kamu tetap harus menikah dengan Karina. Tanpa dia dan keluarganya, bisnis kita tidak akan bisa bertahan seperti ini. Dulu, kamu hancur karena tidak berbakti pada orang tuamu. Sekarang, berbaktilah dan ikuti perintah kami!” tegas Andre.

“Pa, aku nggak bisa menikahi wanita lain selain Roro Ayu,” sahut Nanda.

Andre tertawa kecil mendengar ucapan Nanda. “Kalau kamu tetap memutuskan untuk bersama wanita itu. Silakan keluar dari rumah! Semua harta dan fasilitas milikmu, akan papa ambil. Kita lihat, apakah kamu bisa menghidupi seorang istri hanya dengan cinta?” ucapnya sambil melangkah keluar dari ruang kerja Nanda begitu saja.

Nanda menarik napas dengan perasaan tak karuan. Telapak tangannya mengepal erat dan matanya berkaca-kaca. “Aargh ...!” teriaknya sambil menendang kursi yang ada di depan meja kerjanya. Ancaman harta dan kedudukan adalah jurus paling ampuh dari sang papa yang membuatnya tidak bisa melawan dengan mudah.

Nanda mondar-mandir belasan kali sambil memikirkan cara untuk bisa terlepas dari perjodohan bisnis yang dilakukan oleh sang papa untuk menyelamatkan perusahaannya.

Nanda segera keluar dari ruangan dan masuk ke dalam ruang tim sekretaris perusahaannya.

“Pagi, Pak Nanda ...!” sapa semua orang yang ada di sana yang langsung bangkit dan membungkuk hormat ke arah Nanda.

“Pagi ...!” balas Nanda sambil tersenyum manis. “Hari ini, Ibu Karina ada jadwal ke perusahaan ini atau nggak?” tanya Nanda.

“Nggak ada, Pak,” jawab salah satu sekretaris yang biasa mengurus kedatangan tamu di perusahaan tersebut.

“Kamu yang biasa urus tamu?” tanya Nanda. Ia tidak begitu hafal dengan lima sekretaris yang membantunya. Biasanya, ia hanya akan berkomunikasi dengan kepala sekretarisnya saja.

“Iya, Pak.”

“Kasih saya nomor ponsel beliau!” perintah Nanda sambil menyodorkan ponsel miliknya ke hadapan sekretaris tersebut.

“Baik, Pak!” Sekretaris itu langsung memindai nomor ponsel Karina dan menyimpan ke kontak ponsel Nanda.

Nanda langsung menyambar ponsel dari tangan sekretaris itu. Ia berbalik dan melangkah pergi sembari menekan panggilan ke nomor ponsel Karina. Salah satu wanita yang terikat perjodohan bisnis dengannya karena hubungan bisnis dua perusahaan orang tua mereka.

“Halo, Karina ...! Bisa ketemu?” tanya Nanda saat Karina menjawab panggilan telepon darinya.

“Bisa. Jam berapa dan di mana?” tanya Karina lewat seberang telepon.

“Bujana Coffee Shop. Sekarang!” pinta Nanda.

“Nanda, aku masih sibuk ngurus bisnis. Satu jam lagi, gimana?”

“Oke. Aku tunggu kamu di sana!” sahut Nanda. Ia segera mematikan panggilan teleponnya dan melangkah menuju pintu lift.

“Permisi, Pak ...! Bapak mau pergi ke mana? Ada banyak dokumen yang harus ditandatangani.” Kepala Sekretaris perusahaan tersebut tiba-tiba menghampiri Nanda saat pintu lift baru saja terbuka.

Nanda menghela napas saat ia dikejar-kejar dengan deadline perusahaan, juga dikejar waktu agar ia bisa membatalkan perjodohannya dengan Karina. Nanda melirik arlojinya sekilas dan melangkah masuk ke dalam lift. “Antarkan berkasnya ke Bujana Coffee Shop!” perintahnya dan langsung menutup pintu lift begitu saja.

 

...

Hari-hari berikutnya, Ayu harus melakukan tirakat di rumah ibadah. Tidak hanya beribadah, ia juga harus merawat tempat ibadah itu dengan baik dan dilarang untuk keluar dari wilayah tersebut.

Setiap jam tiga pagi, Ayu sudah harus membuka mata karena ia harus sahur untuk menjalankan puasanya selama sembilan puluh hari berturut-turut. Setelahnya, ia juga harus memasak banyak makanan yang diperuntukkan untuk anak yatim dan duafa yang ada di sekitar sebagai penebusan dosa dan sedekah.

Tidak ada pria yang boleh masuk ke dalam tempat suci tersebut. Roro Ayu hanya ditemani dan dibantu oleh dua orang pelayan keraton. Satu pelayan bertugas untuk membeli barang dari luar keraton. Satu pelayan lagi bertugas untuk membantu Roro Ayu memasak di rumah mungil yang sudah disediakan untuk mereka dan terletak di samping tempat peribadatan tersebut.

Selepas sholat subuh, Roro Ayu selalu berdiri di atas menara musholla yang berdiri kokoh di atas pegunungan. Ia selalu menikmati saat-saat sang rembulan berganti dengan matahari. Menikmati udara yang begitu dingin hingga berganti dengan hangatnya sang mentari.

Setiap ia memandang begitu jauh, air matanya selalu mengalir. Hatinya selalu merindukan seseorang yang tidak bisa ia kendalikan. Sama seperti tiga tahun belakangan ini. Dari atap fakultas bisnis yang menjadi tempat pengasingan dirinya, ia selalu menatap jauh ke dunia yang hanya ada dalam khayalan sembari menggenggam erat cincin pernikahan yang masih tergantung indah menjadi liontin di lehernya.

“Nan, aku tidak tahu mengapa Tuhan terus mempermainkan hati kita. Saat aku ingin menyukaimu, kamu malah pergi mengejar wanita lain. Saat aku ingin melupakanmu, kamu malah pergi mengejarku.”

“Setiap detik dunia ini berubah. Aku harap, kali ini kamu bersungguh-sungguh mencintaiku dan tidak akan pernah berubah lagi. Aku tidak ingin menjalani sisa hidupku dalam kesepian. Berada di sisi pria lain, aku merasa tidak pantas. Aku hanya ingin kamu ...” lirih Ayu sembari menikmati embusan angin yang menyapu lembut rambut-rambutnya.

 

 

 

Bab 56 - Enggan Melepasmu

 



Satu minggu kemudian ...

Ayu akhirnya bisa menyelesaikan hukuman keduanya dengan baik berkat bantuan dari Nanda dan beberapa pelayan yang terus membantu menghangatkan tubuh Ayu. Meski beberapa kali mengalami hipotermia, ia masih bisa melewatinya dan selamat menjalani hukuman tersebut.

“Nan, terima kasih banyak sudah membantuku menyelesaikan hukuman ini. Aku tidak tahu apa jadinya kalau nggak ada kamu di sisiku,” ucap Ayu saat ia sudah selesai mengganti semua pakaiannya dan berada di dalam kamar bersama dengan Nanda.

Nanda mengangguk sambil tersenyum manis. “Ay, aku tidak bisa berlama-lama di tempat ini. Kepala pelayan sudah mulai mencurigai keberadaanku. Kalau dia mengumpulkan semua pelayan dan menghitungnya, dia akan tahu kalau ada orang lain yang menyelinap ke tempat ini.”

Ayu menatap wajah Nanda sejenak. Kemudian menganggukkan kepala. “Kamu juga sudah terlalu lama di tempat ini. Perusahaanmu juga pasti membutuhkanmu, Nan.”

Nanda mengangguk. Ia menangkup wajah Ayu dan mengecup bibir wanita itu. “Hukuman selanjutnya tidak terlalu berat. Aku yakin, kamu pasti bisa menjalaninya dengan baik. Setelah hukuman terakhirmu selesai, aku akan datang untuk menjemputmu. Aku janji, aku akan meminta kamu kepada keluargamu dengan cara baik-baik. Tidak seperti dulu."

Ayu mengangguk sambil tersenyum manis. “Kamu janji kalau akan kembali ke aku lagi ‘kan?”

Nanda mengangguk. “I promise.”

“Kamu bisa semudah ini mengikat janji denganku? Bagaimana kalau kamu mengingkarinya?” tanya Ayu sambil menatap lekat mata Nanda.

“Aku berani berjanji karena aku akan mempertanggungjawabkan janjiku dengan penuh keberanian. Aku ingin menjadi orang yang berani dan kuat sepertimu, Ay. Kalau kamu bisa mencintaiku dengan sungguh-sungguh, maka aku juga akan bisa mencintaimu dengan kesungguhan hatiku,” tutur Nanda sambil menatap lekat mata Ayu. “Jika suatu hari nanti, aku mengingkari janjiku ... kamu bisa lakukan apa saja kepadaku.  Mencabut nyawaku pun, aku izinkan.”

“Kalau aku cabut nyawamu, itu artinya ... aku akan menjalani sisa hidupku diselimuti kesepian,” tutur Ayu sambil menatap Nanda dengan mata berkaca-kaca.

Nanda tertawa kecil sambil mengetuk hidung Ayu. “Kamu nggak akan kesepian. Di istana ini aja sudah ada banyak orang yang melayanimu.”

“Pelayan tidak bisa diajak curhat. Nggak bisa diajak melakukan hal gila seperti saat bersamamu. Nggak bisa diajak membicarakan tentang masa depan. Dan nggak bisa menghangatkan aku dengan baik saat aku kedinginan,” tutur Ayu sambil menatap wajah Nanda.

Nanda tertawa tanpa suara. “Kamu sudah mulai ketagihan minta diangetin terus?” godanya.

Ayu tersipu sambil meninju ada Nanda. “Nyebelinnya masih aja nggak ilang!” dengusnya. Ia langsung berbalik dan duduk di tepi ranjang tidurnya. “Pergilah! Kamu harus mengurus perusahaanmu dan aku nggak mau hukumanku semakin diperpanjang karena kamu ketahuan menyamar jadi pelayan di sini.”

Nanda mengangguk. Ia tersenyum dan mendekatkan tubuhnya ke tubuh Ayu. “Cium dulu!” pintanya.

Ayu tertawa kecil menatap wajah Nanda. “Aku tuh agak kesel kalau dicium sama kamu dalam keadaan seperti ini.”

“Eh!? Kesel kenapa?” Nanda mengernyitkan dahi.

“Kesel aja. Berasa kayak lagi ciuman sama perempuan,” sahut Ayu sambil tertawa kecil.

Nanda ikut tertawa mendengar ucapan Ayu. Ia menarik dagu wanita itu dan mengulum basah bibirnya. Semakin Ayu membalas, ia semakin memperdalam ciumannya.

“Aw ...!” teriak Nanda sambil melepas tautan bibirnya saat ia merasakan Ayu menggigit lidahnya. “Kenapa kamu gigit beneran!?” serunya sambil menjulurkan lidah dan mengipas dengan jemari tangannya.

Ayu terkekeh sambil menatap wajah Nanda. “Biar aja! Biar kamu nggak nakal di luar sana.”

“Kamu udah pintar gigit, ya? Mau aku gigit juga?” dengus Nanda sambil mennyondongkan tubuhnya dan berusaha menyerang Ayu.

Ayu tertawa sambil menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur. Telapak tangannya menutup mulut Nanda yang berusaha membalas perlakuannya. “Ampuun, Nan ...!”

Nanda terdiam. Ia tertawa kecil dan mengangkat tubuhnya dari atas tubuh Ayu. “Aku akan segera pergi dari sini. Kamu jaga diri baik-baik, ya!” ucapnya lirih.

Ayu mengangguk. “Kamu juga, ya!” ucapnya sambil mengecup kembali bibir Nanda. Kedua lengannya melingkar di pinggang pria itu dan enggan untuk berpisah. Seramai apa pun hidupnya, hatinya akan tetap terasa sepi jika tanpa Nanda di sisinya. Ia mulai terbiasa berada di sisi pria ini setiap hari, merasa nyaman dan tidak ingin ditinggalkan begitu saja.

“Jangan nakal dan jangan dekat-dekat sama cowok lain!” pinta Nanda.

“Aku sedang dihukum dan memang tidak diizinkan dekat dengan pria lain. Kamu aja yang nakal dan nyusup ke tempat ini,” sahut Ayu.

“Kamu juga mau menerima aku menjadi penyusup di sini,” sahut Nanda sambil menjulurkan lidah dengan ekspresi payahnya.

Ayu memonyongkan bibir sambil melepaskan pelukannya. “Kapan sih kamu nggak ngeselin?”

“Aku nggak ngeselin, Ay. Kamu aja yang menanggapinya terlalu berlebihan,” sahut Nanda sambil tertawa kecil. Ia segera beringsut ke depan cermin untuk merapikan pakaian dan riasannya.

“Gimana caranya kamu keluar dari keraton ini tanpa ketahuan?” tanya Ayu.

“Sama seperti saat aku masuk ke keraton ini tanpa ketahuan,” jawab Nanda sambil mengerdip centil ke arah Ayu.

Ayu tersenyum sambil mengacungkan jempolnya. “Jangan sampai ketahuan, ya!”

“Siap, Tuan Puteri ...!” ucap Nanda sambil tersenyum manis. “Hamba pamit undur diri. Tuan Puteri harus menjaga diri dengan baik sampai hamba datang kembali menjemput Tuan Puteri untuk hamba persunting,” lanjutnya sambil membungkuk hormat di hadapan Ayu.

Ayu terkekeh menatap sikap Nanda. “Nggak usah berlebihan kayak gini. Aku geli lihatnya.”

Nanda tersenyum sambil menegakkan tubuhnya kembali dan menatap serius ke arah Ayu. “Sudah sepantasnya wanita sepertimu diperlakukan sebagai Tuan Puteri. Aku yang terlalu rendah hingga tidak pernah menyadari kalau dirimu berharga. Mulai saat ini ... aku berjanji akan memperlakukan kamu dengan baik, menyayangi dan mencintai kamu dengan tulus. Tidak akan pernah menyakiti dan menduakan cintamu lagi, Ay.”

“Janji?” tanya Ayu sambil menatap serius ke arah Nanda.

“Janji.” Nanda mengacungkan dua jarinya ke sebelah telinganya sendiri.

Ayu tersenyum. Ia berlari menghampiri Nanda dan menghambur ke pelukan pria itu. “Nan, makasih, ya! Jangan sakiti aku lagi! Aku sayang sama kamu dan aku mau ... kita bisa hidup bersama seperti dulu lagi! Aku tahu, semua malapetaka di hidupku juga disebabkan oleh diriku sendiri yang tidak pernah bisa ikhlas menerima jalan takdirku sendiri,” lirihnya sembari menitikan air mata.

Nanda mengangguk. “Aku janji, kita akan bersama kembali. Melahirkan banyak anak dan hidup bahagia seperti orang lain. Kamu bisa menjalani hari-harimu dengan bersantai. Membaca novel, menonton film, mendengarkan lagu dan bermain bersama anak-anak kita di masa depan.”

Ayu mengangguk sambil tersenyum. Ia terus memeluk erat tubuh Nanda. Enggan melepas pria itu pergi dari sisinya. Dunia ini memang permainan yang tidak bisa ia kendalikan. Saat ia tidak ingin bersama pria ini, dunia seolah membuatnya selalu berada di sisi Nanda. Dan saat ia ingin bersama pria ini, seluruh dunia menolak apa yang sedang ia inginkan dan ingin memisahkan mereka berdua.

 

 

 

((Bersambung...))

 

Terima kasih sudah menjadi sahabat setia bercerita!

Mohon maaf untuk telat update karena author masih diajak gelud sama laptop yang rewelnya nggak kelar-kelar. Hahaha. Meski mau gila, tetap aja masih harus ketawa untuk kalian semua, ya!

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 


Bab 55 - Sick for Love

 


Tepat jam enam sore, Nanda langsung menarik tubuh Ayu yang masih berendam di dalam kolam. Ia langsung membaringkan tubuh Ayu di tepi kolam dan pelayan lain buru-buru menghampiri Nanda untuk membantunya.

“Nin, Tuan Puteri baik-baik saja?” tanya salah seorang pelayan sambil memperhatikan wajah Ayu yang sudah memucat dan nyaris tak sadarkan diri.

“Nan ... Nan ...!” lirih Ayu dengan tubuh gemetaran dan langsung merangkul Nanda yang masih memangkunya.

“Nan itu siapa?” tanya salah seorang pelayan sambil mengulurkan handuk ke arah Nanda dan membantu melepas kain jarik yang melilit tubuh Ayu.

“Nama suaminya,” jawab Nanda sambil menatap tubuh Ayu yang sedang dibuka oleh pelayan lain.

“Iya. Nama suaminya itu Mas Nanda. Kalau nggak salah ingat,” sahut pelayan lain.

“Huft ...! Kasihan sekali Tuan Puteri kita ini. Hanya untuk mendapatkan restu dari keluarganya, harus menerima hukuman seberat ini. Kisah cinta orang-orang tinggi, memang diuji dengan masalah yang tinggi juga. Untungnya aku hanya orang biasa. Ujianku ya biasa-biasa saja.”

“Nggak usah banyak bicara! Cepat lepaskan kain Tuan Puteri! Keburu kedinginan,” perintah pelayan lain yang mengetahui kalau Nindi adalah suami dari Roro Ayu yang sedang menyamar.

Pelayan yang dimaksud langsung melepaskan jarik basah yang menutupi tubuh Ayu.

Nanda menahan napas saat tubuh polos Ayu yang terpampang di pangkuannya. Tubuhnya yang putih polos itu, berhasil membuat aliran darahnya tak karuan. Dengan cepat, tangannya menarik badcover dari tangan pelayan lain dan menggulungkannya ke tubuh Ayu. "Hangatkan jariknya supaya bisa digunakan lagi besok pagi!" perintahnya pada pelayan lain.

Pelayan itu mengangguk. Mereka segera menghangatkan kain jarik yang digunakan Ayu menggunakan api yang ada di sana.

“Masih ada penjaga di luar?” tanya Nanda.

“Masih.”

“Kalian siapkan makanan untuk Tuan Puteri dan beristirahatlah dengan baik! Biar aku yang menemani dan mengurus Tuan Puteri di sini,” pinta Nanda.

“Tapi ... kami juga ingin menemani Tuan Puteri di sini,” tutur salah seorang pelayan yang ada di sana.

“Hush! Jangan sampai kita semua sakit dan menularkan virus ke Tuan Puteri karena kita kurang istirahat. Lebih baik, kita beristirahat dengan baik dan kita bergantian jaga untuk besok lagi,” tutur pelayan lain sambil melangkah pergi.

Nanda menghela napas lega. Ia memeluk tubuh Ayu yang sudah ia baringkan di atas tikar yang disediakan di sana. “Ay ...!” panggilnya lirih sambil menepuk pipi Ayu. Ia ikut berbaring di samping tubuh Ayu sembari memeluk erat tubuh wanita itu.

“Ay ...! Wake up! Say something for me!” bisik Nanda sambil menempelkan keningnya ke kening Ayu. Ia terus mengusap pipi Ayu yang dingin dan pucat. Air matanya mengalir perlahan. Rasanya, ia ingin membawa Ayu pergi sejauh mungkin dari tempat ini. Tapi ia tahu, keinginan besar Ayu saat ini adalah diterima oleh keluarganya sendiri. Mungkin, terlalu banyak hari sepi yang dijalani wanita ini selama ia mengasingkan dirinya di London.

“Nan ...!” panggil Ayu lirih sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Nanda yang terasa sangat hangat.

“It’s me,” tutur Nanda sambil membelai lembut kepala Ayu.

“Dingin,” lirih Ayu sambil mendekatkan bibirnya ke leher Nanda yang terasa hangat.

Nanda langsung membenamkan kepala Ayu ke dalam dadanya. “Ay, kita akhiri saja, ya! Aku nggak sanggup lihat kamu kayak gini,” bisiknya.

“Aku masih kuat,” bisik Ayu sambil merasakan tubuh Nanda yang terasa sangat hangat dan nyaman. Ia terus memeluk erat tubuh pria itu hingga kesadarannya bisa kembali dengan sempurna.

“Masih dingin?” tanya Nanda sambil menatap wajah Ayu.

Ayu mengangguk. Ia membuka matanya perlahan dan langsung berhadapan dengan wajah Nanda yang nyaris tak berjarak dengannya. Suhu dingin yang menyelimuti tubuhnya, membuat gairahnya tiba-tiba bangkit saat berhadapan dengan pria ini. Seluruh tubuhnya yang tadi lumpuh dan tidak bisa bergerak, langsung merangkul tubuh Nanda dan menyambar bibir pria itu penuh sensual.

Debar jantung Nanda semakin menderu kala Ayu mulai memberikan sentuhan di tubuhnya dan meminta diperlakukan lebih dari sekedar pelukan dan ciuman. Ketika gairah itu mulai menguasai mereka, Nanda tiba-tiba terbangun dari fantasy seksualnya dan langsung mendorong tubuh Ayu yang sudah bergerak agresif di atasnya.

“Ay, sadar!” pinta Nanda sambil menangkup wajah Ayu.

“Aku kedinginan, Nan,” ucap Ayu sambil menatap lekat wajah Nanda.

“Kita ada di kolam suci. Bertemu dengan pria bukan mahrom saja kamu tidak diperbolehkan. Aku tidak ingin kalau kamu harus menanggung hukuman yang lebih berat lagi dari leluhurmu,” ucap Nanda.

Ayu menghela napas mendengar ucapan Nanda.  Ia langsung mengangkat tubuhnya dari atas tubuh Nanda dan duduk di samping pria itu. Ia mengedarkan pandangannya ke semua api unggun yang mengelilingi kolam tersebut.

“Kamu yang buat api-api ini, Nan?” tanya Ayu.

Nanda mengangguk. “Dibantu dengan pelayan lain. Mereka bawakan aku kayu bakar untuk memastikan kalau api ini tidak akan pernah mati.”

“Semoga tidak pernah mati dan abadi di sini. Aku suka melihatnya,” ucap Ayu sambil tersenyum. Ia memeluk tubuhnya sendiri sembari merapatkan badcover yang menjadi selimutnya.

Nanda tersenyum mendengar ucapan Ayu. “Kalau benar-benar bisa abadi, itu keajaiban. Aku ingin ... cinta kita saja yang abadi. Tidak mati dimakan usia, tidak hilang ditelan zaman.”

Ayu tersenyum dan menoleh ke arah Nanda. “Kamu udah pinter ngegombal?”

Nanda tertawa kecil sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Kalau nggak pandai gombal, mana mungkin dinobatkan sebagai playboy paling keren di negeri ini.”

“Playboy paling keren nggak akan ngejar-ngejar aku,” sahut Ayu.

“Kamu ...!?” Nanda mendelik ke arah Ayu sambil menahan geram. “Kamu udah pandai ngejek aku, hah!?”

“Di dunia ini ...  karma beneran ada. Dulu, kamu selalu bilang kalau aku ini cupu, kutu buku dan nggak menarik sama sekali. Kenapa sekarang malah nempel mulu kayak lem tikus?”

“Karena kamu itu beda sama cewek lain. Cuma kamu satu-satunya wanita yang mau berkorban banyak buatku, Ay. Rela memberikan nyawa kamu buat aku dan satu-satunya wanita yang menjadi tempat untuk melahirkan bayi-bayiku,” jawab Nanda.

“Bayi-bayi? Kamu kira aku ini binatang ternak?” dengus Ayu.

Nanda terkekeh dan menarik tubuh Ayu ke pelukannya. “Hehehe. Jangan ngambek, dong! Kamu tuh makin lucu kalau lagi ngambek. Eh, kapan aku pernah ngomong kalau kamu cupu dan nggak menarik?”

“Entah kapan,” sahut Ayu sambil melirik Nanda.

“Serius, Ay!”

“Iya, serius. Udahlah, nggak usah dibahas! Oh ya, gimana acara pernikahan Sonny? Kamu jadi datang ke acara dia?”

Nanda menggeleng. “Aku mana mungkin pergi ke pesta saat kamu lagi dihukum seperti ini. Nanti, kita datang ke rumah Sonny saat hukumanmu sudah selesai. Gimana?”

Ayu mengangguk-anggukkan kepalanya. “Aku rindu sama semua temen-temen SMA kita. Mereka semua apa kabar, ya? Kenapa saat kita sudah dewasa dan memiliki kehidupan masing-masing, kisah-kisah remaja itu menguap begitu saja?”

“Karena ...” Nanda menghentikan ucapannya saat ia mendengar langkah kaki memasuki gua tersebut. Ia langsung melepas pelukannya dan merapikan pakaiannya.

“Permisi ...! Kami mau antar makan malam untuk Tuan Puteri,” ucap dua pelayan sambil menghampiri Ayu.

“Taruh saja di sini!” perintah Ayu sambil menunjuk ke bagian depan kakinya. “Kalian bisa langsung keluar! Aku nggak mau diganggu.”

Dua pelayan itu mengangguk dan segera keluar dari dalam gua tersebut.

“Kamu udah makan?” tanya Ayu sambil menatap wajah Nanda.

Nanda menggeleng.

“Makan dulu, ya!” pinta Ayu sambil membuka kotak makanan yang dibawakan untuknya.

Nanda langsung menyambar kotak makanan itu dari tangan Ayu. “Kamu yang belum makan, masih bisa memperhatikan orang lain?”

“Kamu sudah menjagaku seharian. Pasti belum makan ‘kan? Aku nggak mau kalau kamu sakit. Kalau sakit, siapa yang jaga aku lagi?” tanya Ayu balik.

Nanda tersenyum menanggapi pertanyaan Ayu. “Baiklah. Kita makan sama-sama, ya!”

Ayu mengangguk. Ia menikmati makanan yang disuapkan Nanda ke mulutnya dengan perasaan bahagia. Semakin banyak ujian yang ia hadapi, membuat Nanda semakin perhatian terhadapnya. Tidak bisa dipungkiri jika naluri wanita memang selalu ingin dimanja dan dicintai seperti ini. Ia harap, cinta Nanda kepadanya bisa terus bertambah dan membuat kisah mereka bisa berakhir bahagia.

 

 

 ((Bersambung...))

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

  


Bab 54 - Menghangatkanmu

 



Tok … tok … tok …!

Pintu kamar Ayu tiba-tiba diketuk saat ia sedang asyik bercanda dengan Nindi alias Nanda.

“Siapa?” tanya Ayu dari dalam kamar. Sementara, Nanda langsung beringsut ke depan cermin dan memperbaiki riasan wajahnya. Juga merapikan pakaian pelayan yang ia kenakan dan memoleskan lipstik di bibirnya.

“Cepet rapiin! Ntar ketahuan kalau kamu laki-laki!” pinta Ayu sambil mengalungkan selendang ke leher Nanda.

Nanda mengangguk. “Udah?”

Ayu mengangguk sambil tersenyum. Ia mengecup pipi Nanda dan beringsut ke atas tempat tidurnya. Sementara, pria itu langsung melangkah menuju pintu kamar Ayu dan membukakan pintu untuk seseorang di luar sana.

Nanda membungkuk hormat begitu mengetahui kalau yang datang adalah ibu kandung dari Roro Ayu.

Bunda Rindu langsung melangkah masuk ke dalam kamar Ayu begitu pintu terbuka untuknya.

Nanda buru-buru keluar dari kamar tersebut sebelum Bunda rindu mengetahui kehadirannya yang sedikit mencurigakan.

"Ayu, gimana keadaanmu?" tanya Bunda Rindu sambil menghampiri Ayu yang sedang duduk di atas ranjang tidurnya.

“Baik Bunda, Ayu baik-baik saja,”  jawab Ayu dingin.

“ Kamu marah sama Bunda?”

Ayu menggelengkan kepala. Dia sendiri tidak tahu apa yang harus dia lakukan saat berhadapan dengan orang tuanya sendiri. Selama ini Ayu melihat kedua orang tuanya adalah sosok yang sangat baik. Dia bahkan masih belum mempercayai dan mempertanyakan tentang kematian bayinya dan perawatannya di luar negeri yang dilakukan tanpa sepengetahuan Nanda.

“Ayu, maafkan Bunda! Bunda  bukan bermaksud mengabaikanmu. Kamu tahu, semua orang  akan mengecam keluarga Keraton kita jika hukuman ini tidak dijalankan.”

Ayu mengangguk. “Ayu  mengerti, Bunda.”

“Tubuhmu baik-baik saja kan?" tanya  Bunda rindu sambil berusaha menyentuh pundak Ayu.

“Aku  baik-baik saja, Bunda. Bunda tidak perlu menghawatirkan Ayu. semua pelayan di sini memperlakukan aku dengan baik.”

“Syukurlah  kalau begitu. Bunda sangat senang mendengarnya. Apa yang sebenarnya membuatmu kembali ke sini? Kamu masih mencintai Nanda?"

“Bunda, takdir membawaku untuk selalu bertemu dengan Nanda. Berkali-kali aku menolak, berkali-kali pula Tuhan mendekatkan aku kepadanya. Sudah begitu jauh, sudah begitu lama aku pergi.  Takdir sengaja mempermainkan hidup kami. Tuhan pasti punya rencana Mengapa aku menjadi satu-satunya wanita yang mengandung anak dari Nanda. Padahal,  ada banyak wanita yang bersamanya dan semuanya terlihat sempurna.”

Bunda paham perasaanmu. Jika kamu ingin bersama dia, tidak harus kembali ke tempat ini. Tempat ini terlalu suci untuk kamu.”

Ayu tersenyum menanggapi ucapan Bunda Rindu. “Aku aku tahu, wanita kotor sepertiku tidak pantas untuk masuk ke dalam tempat yang suci ini. Aku hanya butuh restu, Bunda.  Apalah artinya hubunganku dengan dia jika keluarga tidak merestui kami?  Aku Aku tidak ingin dicelakai lagi oleh karma.”

Bunda rindu menghela napas sambil menyentuh lembut rambut Ayu. “Bunda tidak bermaksud menyinggung Ayu. Kenapa Ayu jadi sedingin ini sama bunda?”

“Mungkin karena Ayu sudah terlalu lama tinggal di England,” jawab Ayu sambil menatap wajah Bunda Rindu.

Bunda Rindu menghela napas sambil menatap wajah Ayu. “Maafin Bunda dan Ayah, ya!”

Ayu mengangguk sambil menaikkan kedua kakinya ke atas tempat tidur. “Ayu ngantuk, Bunda. Mau tidur. Bisakah Bunda keluar dari kamar ini?”

Bunda Rindu mengangguk sambil tersenyum manis. “Istirahatlah dengan baik!”

Ayu mengangguk. Ia membaringkan tubuhnya ke atas kasur dan memejamkan mata.

Bunda Rindu menghela napas. Ia menatap pilu ke arah puterinya, tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa selain mencoba membuat hukuman untuk puterinya bisa lebih ringan hingga bisa menyelesaikannya dengan baik. Ia lebih senang jika Ayu tidak pernah mengambil keputusan untuk kembali ke istana keluarga besar mereka. Meski sudah masuk ke zaman modern. Ada hal yang tidak bisa diganggu gugat dalam peraturan keluarganya.

 

...

Hanya selang satu minggu dari hukuman pertamanya, Ayu sudah harus menjalani hukuman yang kedua. Kali ini, ia harus berendam selama tujuh hari tujuh malam di sebuah kolam untuk mensucikan diri.

“Ay, minum obat ini!” pinta Nanda saat Ayu baru saja selesai mengganti pakaiannya.

“Obat apa?” tanya Ayu.

“Obat supaya tubuh kamu tetap hangat saat di dalam air.”

“Ada obat beginian?” tanya Ayu sambil menatap sebuah pil yang ada di atas telapak tangan Nanda.

“Ada. Buruan diminum!” pinta Nanda dengan telapak tangan menjulur ke hadapan Ayu. Sedang tangan satunya lagi, sudah menggenggam segelas air putih untuk Ayu.

Ayu tersenyum dan segera menelan pil hangat yang disodorkan Nanda. “Kamu ini ada aja ide curangnya.”

“Hehehe. Apa aja akan aku lakuin buat kamu, Ay. Asal kita bisa bersama lagi sampai tua,” jawab Nanda sambil tersenyum ceria.

Ayu tertawa kecil melihat sikap Nanda. “Sepertinya kamu sudah mulai terbiasa dengan setelan seperti ini.”

“Eh!?” Nanda memandangi tubuhnya sendiri yang mengenakan kebaya kembang khas pelayan keraton tersebut dan kain jarik di bawahnya. “Beneran?”

Ayu mengangguk sambil tertawa kecil.

“Asal bisa bersamamu, aku rela berpakaian seperti ini setiap hari,” ucap Nanda sambil mengecup pipi Ayu.

“Eh!? Astaga!” Nanda buru-buru mengambil tisu basah dan membersihkan noda lipstik di pipi Ayu.

Ayu tertawa kecil menatap wajah Nanda.

“Sekarang aku tahu, kenapa cowok nggak diciptakan pakai lipstik. Kalau semua cowok pake lipstik, bekas bibirnya bisa ketahuan tertinggal di mana-mana,” ucap Nanda.

“Maksudmu? Kamu mau bilang kalau bekas bibirmu udah ada di mana-mana?” tanya Ayu menyelidik.

“Hehehe. Itu ‘kan dulu. Sekarang aku udah tobat. Promise! Nggak akan savage lagi,” sahut Nanda sambil mengacungkan dua jari sejajar dengan telinganya.

Ayu tertawa kecil sambil merapatkan selendang ke tubuhnya. “Kenapa di saat aku pengen mati, aku nggak bisa mati? Di saat aku pengen hidup, banyak hal yang ingin membunuhku?” tanyanya.

“Mmh, jangan bilang seperti ini lagi! Aku tidak akan membiarkan siapa pun membunuhmu,” sahut Nanda.

Ayu tersenyum. “Makasiih ...!” ucapnya. Ia bergegas keluar dari dalam kamar karena di luar sana sudah ada banyak pelayan yang menunggunya dan beberapa sesepuh kota yang akan membantunya melakukan prosesi ritual di kolam suci.

 

Satu jam kemudian ...

Ayu sudah masuk ke dalam kolam usai melakukan prosesi adat sesuai dengan aturan dari keraton tersebut. Kolam suci itu juga sudah ditambahkan air suci dari empat penjuru negeri. Ia harus bisa bertahan selama mungkin di kolam tersebut.

“Apakah Tuan Puteri diizinkan keluar dari dalam kolam ini meski hanya sebentar saja?” tanya Nanda pada beberapa pelayan yang bersamanya saat semua orang sudah meninggalkan tempat itu satu per satu.

“Kanjeng Sultan memberikan keringanan. Katanya, boleh keluar dari dalam kolam setelah dua belas jam. Tapi tidak boleh meninggalkan kolam ini dan tidak diperbolehkan mengganti pakaiannya,” jawab pelayan yang ditanya.

Nanda bernapas lega mendengar ucapan pelayan yang ada di sana. Kolam yang ada di sana adalah kolam yang berada di dalam gua dan membuatnya lebih kecil terkena dingin dibandingkan harus berendam di danau terbuka.

“Setiap jam enam pagi dan jam enam sore, utusan pengadilan kerajaan akan mengecek kemari. Kita pastikan Tuan Puteri sedang dalam keadaan berendam,” tutur pelayan lain lagi.

Semua yang ada di sana mengangguk setuju.

Nanda mengedarkan pandangannya ke sekeliling kolam berbentuk piring dengan diameter sekitar tiga puluh meter. “Pelayan, bisakah meminta bantuan pelayan keraton ini untuk mencari kayu bakar? Yang lain, siapkan makanan dan minuman untuk Tuan Puteri. Juga bawakan tiga badcover ke sini! Aku akan menemani Tuan Puteri.”

“Kayu bakar? Untuk apa?”

“Untuk membuat tempat ini selalu hangat,” jawab Nanda.

“Apa kita tidak menyalahi aturan?” tanya pelayan lain.

“Tidak ada aturan lain yang tertulis selain Tuan Puteri kita berendam di sini selama tujuh hari tujuh malam,” sahut Nanda. “Aku sudah memeriksa literatur keraton ini.”

“Iya juga, sih.” Pelayan yang ada di sana mengangguk-anggukkan kepala dan segera mengerjakan perintah dari Nanda agar Roro Ayu bisa menjalani hukumannya dengan baik tanpa harus menderita.

Nanda tersenyum sambil meraih beberapa ranting kayu yang ada di sekitarnya dan membuat api unggun untuk membuat keadaan tetap hangat. Ia memerintahkan semua pelayan untuk tidak berhenti memberinya kayu bakar selama Ayu menjalani masa hukumannya. Dengan cekatan, ia membuat banyak api yang mengelilingi kolam tersebut untuk menjaga tubuh Ayu tetap hangat, begitu juga saat wanita itu naik ke permukaan. Ia tidak ingin Ayu terkena hipotermia karena terlalu lama berendam di dalam air. Baginya, tujuh jam pun masih terlalu lama dan bisa saja membuat tubuh Ayu tidak tahan.

 

 

 

((Bersambung...))

 

I’m so sorry ...!

Seharusnya author update tadi malam. Tapi karena ngelonin si bocil dan aku ketiduran, bablas dah... hiks ... hiks ... hiks ... ngelonin anak mengalihkan duniaku.

 

 

 

 


Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas