Wednesday, September 9, 2026

Pengalaman Pertama Menggelar Sekolah Keluarga Literat di Kutai Kartanegara

 


Sabtu, 05 September 2026

Hari ini adalah pertemuan pertama kegiatan Sekolah Keluarga Literat yang aku selenggarakan. Kegiatan ini merupakan kegiatan wajib yang harus dilakukan oleh Relima Perpustakaan Nasional pada bulan September 2026. 

Awalnya aku pesimis karena kelas ini wajib diikuti oleh minimal 15 orang dan tidak boleh berganti pesertanya selama 6x pertemuan. Apakah orang tidak memiliki kepentingan lain sehingga harus hadir selama 6x pertemuan? 

Sekolah ini bukanlah sekolah biasa. Ini adalah sekolah untuk para anggota keluarga yang mungkin memiliki kesibukan lain. Sebab, setiap keluarga memiliki prioritas kegiatan dalam hari-harinya. 

Selain sulit mengumpulkan orang-orang yang memiliki kepedulian pada minat baca, aku juga tidak diberi anggaran sepeserpun oleh Perpustakaan Nasional, juga perpustakaan kabupaten. Artinya, tantanganku juga jauh lebih besar karena menghadirkan peserta tanpa konsumsi seperti sebuah batu besar yang sedang bersandar di punggungku. Tapi itulah tantangan besar yang harus ditakhlukan oleh Relima. 

Setelah berpikir selama berhari-hari, akhirnya aku memutuskan untuk meminta bantuan CSR pada beberapa perusahaan dan pelaku usaha yang ada di sekitarku. 

Alhamdulillah, niat baikku disambut baik. Toko Bangunan Berkah Jaya Samboja memberikan bantuan Rp 500.000 yang bisa aku gunakan untuk konsumsi selama 6x kegiatan. Aku tahu, ini tidak akan cukup. Aku pikir, aku bisa menggunakan honorku dari Perpusnas untuk menutupi kekurangannya. Aku tidak akan tega memberikan kelas tanpa konsumsi sama sekali. 



Di tengah kekalutanku, aku menghubungi Ibu Yuli, Sekretaris Diarpus Kukar untuk memohon izin menyelenggarakan kegiatan "Sekolah Keluarga Literat" tanpa keterlibatan secara langsung dari Dinas Arsip dan Perpustakaan Kabupaten Kukar. Sebab, kondisi geografis wilayah kami membuat kami kesulitan untuk berkegiatan bersama. Anggaran dinas Rp 0 untuk SPPD dan makan minum rapat. Sehingga, pemerintah daerah pun tidak bisa leluasa bergerak dalam membantu pengembangan kegiatan literasi. Namun, Ibu Yuli memberikan bantuan Rp 500.000 dari kantong pribadinya. Membuatku merasa sedikit lega karena bebanku sedikit berkurang atas bantuan dari beliau.

Aku tidak hanya meminta bantuan dalam bentuk pendanaan. Aku juga meminta bantuan dalam bentuk barang/souvenir kepada manajemen Gramedia MT Haryono Balikpapan. Permohonan bantuan buku bacaan anak tidak disetujui oleh manajemen Gramedia, tetapi mereka setuju untuk menggantinya dengan Goodiebag yang berisi kotak bekal dan tempat minum. Tentunya hal ini aku sambut dengan bahagia dan siap untuk menempatkan logo Gramedia sebagai sponsor dalam kegiatan ini.



Masih ada 2 perusahaan besar yang aku ajukan proposal dengan harapan bisa membantu meringankan bebanku. Setidaknya, ada konsumsi yang bisa diberikan kepada peserta, juga kenang-kenangan yang bermanfaat untuk meningkatkan budaya baca dalam keluarga. Satu perusahaan tidak ada kabarnya. Humas yang biasa mengurus CSR juga tidak merespon pesan yang aku kirimkan untuk konfirmasi. Lumayan membuatku lemas. 

Tapi kemudian, satu perusahaan yang biasa membina taman bacaku, yakni Pertamina Hulu Sanga-Sanga menyambut baik rencana kegiatan "Sekolah Keluarga Literat" ini dan bersedia membantu dana sesuai dengan pengajuan yang aku buat. Tidak banyak dana yang aku minta, hanya untuk konsumsi, dan pojok baca keluarga untuk peserta. Sehingga, PHSS sendiri  menerimanya dengan baik dan siap untuk memberikan bantuan. Tentunya dengan komitmen bahwa kegiatan ini bisa memberikan dampak berkelanjutan setelahnya. Tidak hanya berhenti di enam kali pertemuan selama bulan September ini.

Akhirnya, aku percaya diri untuk melaksanakan kegiatan ini dengan bantuan empat orang relawan panitia yang ada. Kegiatan ini dimulai pada Hari Sabtu, 05 September pukul 14.00 s/d 17.00 yang dibuka langsung oleh Ketua TP PKK Kecamatan Samboja (Rusdiana, S.Hut) dan Plt. Lurah Sei Seluang (Siti Aisyah). 



Kegiatan awal pada 05 September ini dimulai dengan pengenalan Relima Perpusnas RI Lokus Kutai Kartanegara dan Fondasi Budaya Baca dalam Keluarga. Kemudian materi dilanjutkan oleh Bidan Rika Okpri D., S.Tr.Keb tentang Pengaruh Kebiasaan Ibu Pada 1000 Hari Pertama Kehidupan. 

Kegiatan kedua dilaksanakan pada Hari Minggu, 06 September 2026 dengan materi tentang dunia remaja. Selain memberikan materi tentang "Remaja Produktif", saya juga menghadirkan pemateri lain dari Penyuluh KB BKKBN (Elly Betyono) yang membawakan materi dengan tema "Membangun Komunikasi yang Baik antara Orang Tua dan Anak Pra-Remaja".

Dua kegiatan ini merupakan kegiatan pembuka. Masih akan ada 4 kegiatan lagi dengan tema berbeda-beda dan akan dilaksanakan setiap hari Sabtu dan Minggu. Aku memilih hari Sabtu dan Minggu agar tidak mengganggu kegiatan utama peserta yang harus bersekolah atau bekerja. Aku pikir, weekend adalah pilihan yang baik karena kita bisa mengisi hari libur kita dengan kegiatan yang berilmu dan bermanfaat. Tidak hanya menghabiskan waktu untuk bersantai tanpa diisi oleh sesuatu yang bernilai.

Meski pesertanya tidak banyak, tapi cukup interaktif, intens dan bisa berdiskusi lebih dekat. Sebab, dari Perpustakaan Nasional sendiri memberikan batas minimal 15 orang untuk kegiatan ini. Seperti mandat dari Perpustakaan Nasional bahwa program yang dilaksanakan oleh Relima Perpusnas RI tidak perlu dihadiri oleh banyak orang, cukup sedikit saja yang penting bisa berdampak baik pada ekosistem literasi di negeri ini.



Oleh karenanya, kegiatan ini harus tetap terlaksana meski Perpusnas dan OPD tidak memiliki anggaran untuk melaksanakannya. Aku yang harus lebih kreatif dan mengerahkan seluruh sumber daya yang aku miliki agar mendapatkan bantuan dari CSR perusahaan dan/atau orang-orang terdekat yang memiliki kepedulian.

Harapannya, Sekolah Keluarga Literat ini dapat menjadi ruang belajar bagi keluarga dan anggota keluarga. Tidak hanya belajar tentang budaya baca, tapi bisa mempelajari banyak hal mulai dari literasi baca-tulis, literasi berhitung/numerasi, literasi sains, literasi finansial, literasi digital dan literasi budaya & kewargaan.

Aku percaya, bahwa kita bisa memulai membangun kebiasaan baik membaca buku dan berliterasi dari keluarga. Keluarga yang positif akan menghasilkan generasi yang positif dan berilmu agar masa depan bangsa ini menjadi lebih baik lagi.




0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas