“Ran, gimana kegiatanmu minggu ini? Lancar, kan?” tanya
Tia sembari mengeluarkan beberapa buku baru dari dalam kardus untuk ia
katalogisasi.
“Lancar. Cuma . .. perjalanan pulang kami yang agak
terhambat. Jadinya, lumayan malam sampai di rumah.”
“Kenapa? Jalannya jelek?” tanya Tia. Matanya tertuju
pada sebuah buki baru meski ia sibuk bicara dengan Rania.
“That’s first. Yang parahnya tuh, kita dihadang sama
empat preman di tengah hutan. Mana lagi senja. Horor banget!” jawab Rania.
“Begal, Ran!?”
“Kayaknya mereka orang suruhan bos tambang batubara,
deh.”
“Kamu tahu dari mana?” tanya Tia.
“Bang Radit seharian keliling wawancarain warga yang
menolak tambang. Aku nemenin dia dan denger beberapa kali ucapan warga di sana
yang kemungkinan pro sama tambang,” jawab Rania.
“Oh. Terus ... terus ...!”
“Ternyata, konflik di dunia usaha itu rumit banget, ya?
Manusia udah kayak monster. Saling serang, saling makan memakan,” ucap Rania.
“Maksudnya?” Kening Tia mengernyit.
Rania menghela napas. “Terkadang kita bingung harus
berpihak ke mana. Di satu sisi ada masyarakat yang membutuhkan pekerjaan untuk
menghidupi keluarganya. Di sisi lain ada petani yang terancam kehidupan dan
masa depan keluarganya. Nggak ada solusi baik untuk hal seperti ini, Ti. Semuanya
berusaha untuk bertahan hidup,” ucap Rania.
“Kamu sendiri berpihak ke mana?” tanya Tia.
Rania mengedikkan bahunya. “Aku nggak berpihak ke
mana-mana. Netral aja.”
“Oh, ya? Kalau seandainya kehidupanmu dan keluargamu
yang terancam. Gimana?”
“Aku pasti bela diri mati-matian, lah. Masa diam aja!?”
sahut Rania.
Tia manggut-manggut. Ia kembali sibuk memilah buku-buku
yang baru saja ia dapatkan. Matanya tiba-tiba tertuju pada sebuah buku berwarna
hitam dengan ilustrasi misteri yang khas. Judulnya cukup menarik baginya.
Begitu juga dengan beberapa buku lain tentang metafisika.
“Ran, tumben Bu Sinta dapet koleksi buku beginian? Ini
beli baru atau donasi, ya?” tanya Tia.
“Di laporan itu ada sumber bukunya, kan?”
Tia langsung memeriksa laporan yang ia ambil dari Bu
Sinta, Kepala Perpustakaan tersebut. “Donasi,” ucapnya. “Pasti mantan dukun
yang ngasih donasi ini.”
Rania terkekeh mendengar ucapan Tia. “Dukun apaan di
zaman sekarang?” tanyanya dengan kedua mata fokus menatap layar laptop.
Ia mulai melatih
tangannya untuk mengetik kembali setelah melewati operasi dan masa pemulihan.
“Aww ...!” seru Rania tiba-tiba.
“Kenapa, Ran?”
“Tanganku masih nyeri dipake ngetik.
Padahal udah dua bulan pasca operasi,” ucap Rania.
“Pakai voice note aja kayak biasanya.
Nggak usah paksain diri, Ran! Kamu belum benar-benar pulih.”
“Kata dokter, aku harus latih tanganku untuk bergerak seperti
biasanya. Supaya nggak kaku dan bisa cepet sembuh, Ti. Bisa, kok. Pelan-pelan,
nih,” ucap Rania sambil menggerakkan jemarinya perlahan di atas keyboard.
“Hmm ... ya udah, deh. Yang penting
kamu nyaman dan bisa cepet sehat kayak biasanya. By the way ... kenapa kamu
selalu jadi sasaran orang jahat, sih? Kriminal banget kalo sampe bikin kamu
masuk rumah sakit.”
“Kamu mau jadi sasaran juga?” tanya
Rania menggoda.
“Idih ... amit-amit jabang bayik!
Jangan sampe, Ran!” sambar Tia sembari mengetuk-ngetuk kepala dan meja
bergantian. “Jauhkan bala!”
Rania kembali fokus menulis artikel,
sementara Tia sibuk dengan buku-buku yang baru saja menjadi bagian dari koleksi
perpustakaan sekolah.
TING!
Rania melirik ke arah ponsel yang
ada di samping laptopnya. Pop up
notifikasi membuat ia langsung mengetahui jika yang mengirim pesan adalah
Radit.
TING!
TING!
Pesan berantai dari Radit, membuat
Rania kehilangan konsentrasi. Ia menarik napas dalam-dalam dan membuka pesan
yang masuk.
“Ran, empat orang warga yang
menghadang kita kemarin udah mati semua,” tulis Radit dalam pesan Whatsapp.
Rania menaikkan sebelah alisnya. Ia
tidak langsung membalas chat dari Radit, tapi mengamati satu per satu foto-foto
yang dikirim untuknya. Wajah para warga itu terlihat sangat jelas.
“Kenapa mereka bisa mati
berbarengan?” gumam Rania. “Kita nggak akan dikejar polisi buat minta
keterangan, kan?” batinnya.
Tak ingin terus berdialog dengan
dirinya sendiri, Rania segera menekan menu call ke nomor Radit.
“Halo ...!”
“Bang, kita aman, kan?” tanya Rania
dengan perasaan tak karuan.
“Kenapa kamu tiba-tiba panik gini?”
tanya Radit. Meski dari kejauhan, terdengar jelas jika pria itu sedang menahan
tawa.
“Kita yang terakhir ketemu sama
mereka semalam,” ucap Rania. “Aku takut kalau polisi curiga sama kita.”
“Nggaklah. Semuanya aman, Ran. Mereka
meninggal karena kecelakaan. Dua orang itu nyemplung sungai, satu orang jatuh
di jurang dan satunya lagi kesetrum listrik di rumahnya,” jelas Radit.
Rania menghela napas lega. “Syukurlah
kalau gitu.”
“Iya. Aman aja, kok. Ini kamu masih
di sekolah?” tanya Radit.
“Iya, Bang.”
“Bisa telepon?”
“Ini jam istirahat. Aku lagi nulis
artikel buat majalah sekolah minggu ini,” jawab Rania.
“Oke. Dilanjut! Aku juga mau
berangkat liputan, nih. Katanya mau ada Presiden datang ke IKN. Jadi, aku mau
otewe ke sana.”
“Oh, ya? Seru banget ke IKN! Coba aja
nggak hari sekolah, aku pengen ikut!” ucap Rania.
“Kamu sekolah aja yang bener! Nanti akan ada waktunya kamu jadi jurnalis
beneran. Bisa turun ke lapangan sambil plesir,” ucap Radit.
“Iya juga, sih. Sekarang harus sabar
dan banyak latihan supaya tulisanku bisa diterima di media nasional dan
internasional.”
“Beuuh ... targetmu tinggi juga.
Aku yang udah lama jadi jurnalis aja
nggak bisa tembus media internasional. Soalnya aku nggak bisa bahasa Inggris,
hahaha.”
Rania ikut tertawa kecil. “Ya udah,
Bang. Aku lanjut kelarin artikelku dulu. Aku tutup teleponnya, ya!”
“Oke. Bye!”
“Bye!” Rania segera menutup panggilan
teleponnya. Ia menghela napas dan meletakkan ponselnya kembali ke atas meja.
“Kenapa, Ran?” tanya Tia yang duduk
tak jauh dari Rania dan bisa mendengar cuplikan pembicaraan sahabatnya itu.
“Orang yang baru aja kita bicarain
tadi, tiba-tiba pada meninggal semua.”
“Hah!? Siapa?”
“Empat preman yang cegat aku sama
Bang Radit kemarin sore,” jawab Rania.
“Oh, ya?”
Rania mengangguk. Ia kembali fokus
dengan tulisannya.
Sementara, Tia bergeming sambil
berpikir. Ia merasa ada yang aneh dengan hidup Rania akhir-akhir ini. Semua
orang yang berhubungan dengan Rania, tiba-tiba meninggal dalam keadaan
mengenaskan.
Tia memperhatikan salah satu buku
metafisika berjudul “Khodam Pendamping” yang membuat pikirannya melayang jauh
tentang Rania dan sosok yang tidak terlihat. Mungkinkah semua hanya kebetulan
atau ada sisi gelap dalam diri Rania yang tidak ia ketahui?
“Ran ...!” panggil Tia. Ia ingin
bertanya langsung pada Rania, tapi ia juga ragu. Ia khawatir kalau Rania justru
akan marah kepadanya.
“Hmm.”
“Masih lama nulis artikelnya? Lima
menit lagi masuk kelas,” ucap Tia. Ia menahan napas dan memilih mengalihkan
pertanyaannya.
“Iya, Ti. Bentar lagi, ini.”
Tia
tersenyum ke arah Rania. “Sepertinya aku harus banyak belajar tentang
ilmu ini,” batinnya sambil memerhatikan buku di tangannya.
.jpeg)
0 komentar:
Post a Comment