Friday, August 7, 2026

Pendamping Nakal Bab 8 : Pertanyaan yang Tertahan

 


“Ran, gimana kegiatanmu minggu ini? Lancar, kan?” tanya Tia sembari mengeluarkan beberapa buku baru dari dalam kardus untuk ia katalogisasi.

“Lancar. Cuma . .. perjalanan pulang kami yang agak terhambat. Jadinya, lumayan malam sampai di rumah.”

“Kenapa? Jalannya jelek?” tanya Tia. Matanya tertuju pada sebuah buki baru meski ia sibuk bicara dengan Rania.

“That’s first. Yang parahnya tuh, kita dihadang sama empat preman di tengah hutan. Mana lagi senja. Horor banget!” jawab Rania.

“Begal, Ran!?”

“Kayaknya mereka orang suruhan bos tambang batubara, deh.”

“Kamu tahu dari mana?” tanya Tia.

“Bang Radit seharian keliling wawancarain warga yang menolak tambang. Aku nemenin dia dan denger beberapa kali ucapan warga di sana yang kemungkinan pro sama tambang,” jawab Rania.

“Oh. Terus ... terus ...!”

“Ternyata, konflik di dunia usaha itu rumit banget, ya? Manusia udah kayak monster. Saling serang, saling makan memakan,” ucap Rania.

“Maksudnya?” Kening Tia mengernyit.

Rania menghela napas. “Terkadang kita bingung harus berpihak ke mana. Di satu sisi ada masyarakat yang membutuhkan pekerjaan untuk menghidupi keluarganya. Di sisi lain ada petani yang terancam kehidupan dan masa depan keluarganya. Nggak ada solusi baik untuk hal seperti ini, Ti. Semuanya berusaha untuk bertahan hidup,” ucap Rania.

“Kamu sendiri berpihak ke mana?” tanya Tia.

Rania mengedikkan bahunya. “Aku nggak berpihak ke mana-mana. Netral aja.”

“Oh, ya? Kalau seandainya kehidupanmu dan keluargamu yang terancam. Gimana?”

“Aku pasti bela diri mati-matian, lah. Masa diam aja!?” sahut Rania.

Tia manggut-manggut. Ia kembali sibuk memilah buku-buku yang baru saja ia dapatkan. Matanya tiba-tiba tertuju pada sebuah buku berwarna hitam dengan ilustrasi misteri yang khas. Judulnya cukup menarik baginya. Begitu juga dengan beberapa buku lain tentang metafisika.

“Ran, tumben Bu Sinta dapet koleksi buku beginian? Ini beli baru atau donasi, ya?” tanya Tia.

“Di laporan itu ada sumber bukunya, kan?”

Tia langsung memeriksa laporan yang ia ambil dari Bu Sinta, Kepala Perpustakaan tersebut. “Donasi,” ucapnya. “Pasti mantan dukun yang ngasih donasi ini.”

Rania terkekeh mendengar ucapan Tia. “Dukun apaan di zaman sekarang?” tanyanya dengan kedua mata fokus menatap layar laptop.

 Ia mulai melatih tangannya untuk mengetik kembali setelah melewati operasi dan masa pemulihan.

“Aww ...!” seru Rania tiba-tiba.

“Kenapa, Ran?”

“Tanganku masih nyeri dipake ngetik. Padahal udah dua bulan pasca operasi,” ucap Rania.

“Pakai voice note aja kayak biasanya. Nggak usah paksain diri, Ran! Kamu belum benar-benar pulih.”

“Kata dokter, aku  harus latih tanganku untuk bergerak seperti biasanya. Supaya nggak kaku dan bisa cepet sembuh, Ti. Bisa, kok. Pelan-pelan, nih,” ucap Rania sambil menggerakkan jemarinya perlahan di atas keyboard.

“Hmm ... ya udah, deh. Yang penting kamu nyaman dan bisa cepet sehat kayak biasanya. By the way ... kenapa kamu selalu jadi sasaran orang jahat, sih? Kriminal banget kalo sampe bikin kamu masuk rumah sakit.”

“Kamu mau jadi sasaran juga?” tanya Rania menggoda.

“Idih ... amit-amit jabang bayik! Jangan sampe, Ran!” sambar Tia sembari mengetuk-ngetuk kepala dan meja bergantian. “Jauhkan bala!”

Rania kembali fokus menulis artikel, sementara Tia sibuk dengan buku-buku yang baru saja menjadi bagian dari koleksi perpustakaan sekolah.

 

TING!

Rania melirik ke arah ponsel yang ada  di samping laptopnya. Pop up notifikasi membuat ia langsung mengetahui jika yang mengirim pesan adalah Radit.

TING!

TING!

Pesan berantai dari Radit, membuat Rania kehilangan konsentrasi. Ia menarik napas dalam-dalam dan membuka pesan yang masuk.

“Ran, empat orang warga yang menghadang kita kemarin udah mati semua,” tulis Radit dalam pesan Whatsapp.

Rania menaikkan sebelah alisnya. Ia tidak langsung membalas chat dari Radit, tapi mengamati satu per satu foto-foto yang dikirim untuknya. Wajah para warga itu terlihat sangat jelas.

“Kenapa mereka bisa mati berbarengan?” gumam Rania. “Kita nggak akan dikejar polisi buat minta keterangan, kan?” batinnya.

Tak ingin terus berdialog dengan dirinya sendiri, Rania segera menekan menu call ke nomor Radit.

“Halo ...!”

“Bang, kita aman, kan?” tanya Rania dengan perasaan tak karuan.

“Kenapa kamu tiba-tiba panik gini?” tanya Radit. Meski dari kejauhan, terdengar jelas jika pria itu sedang menahan tawa.

“Kita yang terakhir ketemu sama mereka semalam,” ucap Rania. “Aku takut kalau polisi curiga sama kita.”

“Nggaklah. Semuanya aman, Ran. Mereka meninggal karena kecelakaan. Dua orang itu nyemplung sungai, satu orang jatuh di jurang dan satunya lagi kesetrum listrik di rumahnya,” jelas Radit.

Rania menghela napas lega. “Syukurlah kalau gitu.”

“Iya. Aman aja, kok. Ini kamu masih di sekolah?” tanya Radit.

“Iya, Bang.”

“Bisa telepon?”

“Ini jam istirahat. Aku lagi nulis artikel buat majalah sekolah minggu ini,” jawab Rania.

“Oke. Dilanjut! Aku juga mau berangkat liputan, nih. Katanya mau ada Presiden datang ke IKN. Jadi, aku mau otewe ke sana.”

“Oh, ya? Seru banget ke IKN! Coba aja nggak hari sekolah, aku pengen ikut!” ucap Rania.

“Kamu sekolah aja yang bener!  Nanti akan ada waktunya kamu jadi jurnalis beneran. Bisa turun ke lapangan sambil plesir,” ucap Radit.

“Iya juga, sih. Sekarang harus sabar dan banyak latihan supaya tulisanku bisa diterima di media nasional dan internasional.”

“Beuuh ... targetmu tinggi juga. Aku  yang udah lama jadi jurnalis aja nggak bisa tembus media internasional. Soalnya aku nggak bisa bahasa Inggris, hahaha.”

Rania ikut tertawa kecil. “Ya udah, Bang. Aku lanjut kelarin artikelku dulu. Aku tutup teleponnya, ya!”

“Oke. Bye!”

“Bye!” Rania segera menutup panggilan teleponnya. Ia menghela napas dan meletakkan ponselnya kembali ke atas meja.

“Kenapa, Ran?” tanya Tia yang duduk tak jauh dari Rania dan bisa mendengar cuplikan pembicaraan sahabatnya itu.

“Orang yang baru aja kita bicarain tadi, tiba-tiba pada meninggal semua.”

“Hah!? Siapa?”

“Empat preman yang cegat aku sama Bang Radit kemarin sore,” jawab Rania.

“Oh, ya?”

Rania mengangguk. Ia kembali fokus dengan tulisannya.

Sementara, Tia bergeming sambil berpikir. Ia merasa ada yang aneh dengan hidup Rania akhir-akhir ini. Semua orang yang berhubungan dengan Rania, tiba-tiba meninggal dalam keadaan mengenaskan.

Tia memperhatikan salah satu buku metafisika berjudul “Khodam Pendamping” yang membuat pikirannya melayang jauh tentang Rania dan sosok yang tidak terlihat. Mungkinkah semua hanya kebetulan atau ada sisi gelap dalam diri Rania yang tidak ia ketahui?

“Ran ...!” panggil Tia. Ia ingin bertanya langsung pada Rania, tapi ia juga ragu. Ia khawatir kalau Rania justru akan marah kepadanya.

“Hmm.”

“Masih lama nulis artikelnya? Lima menit lagi masuk kelas,” ucap Tia. Ia menahan napas dan memilih mengalihkan pertanyaannya.

“Iya, Ti. Bentar lagi, ini.”

Tia  tersenyum ke arah Rania. “Sepertinya aku harus banyak belajar tentang ilmu ini,” batinnya sambil memerhatikan buku di tangannya.

 

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas