Sunday, July 12, 2026

Pendamping Nakal Bab 7 : Bertindak Tanpa Perintah

“Ran, minggu ini kamu ada waktu luang?” tanya seseorang dari ujung telepon saat Rania sedang menikmati makan siang di kantin sekolah. 
“Ada, Bang. Minggu ini nggak ada kegiatan di sekolah. Ada kegiatan?”
“Temani aku ke Kukar, ya! Mau cari beberapa fakta di lapangan soal tambang ilegal.”
“Oke.”
Tanpa berpikir panjang, Rania langsung mengiyakan tawaran dari seniornya tersebut. Kebetulan, ia juga baru membaca artikel berita tentang tambang-tambang ilegal yang merenggut kehidupan masyarakat lokal. 
Minggu pagi, Rania memarkirkan sepeda motornya di depan gedung kantor berita “Suara Kaltim”. Meski masih duduk di bangku SMA, Rania telah terdaftar sebagai jurnalis muda di tempat tersebut. Tentunya tidak lepas dari peran sang ayah yang merupakan jurnalis senior. Ayahnya sudah melalang buana ke banyak daerah di Indonesia, bahkan di luar negeri. 
“Masuk, Ran!” sapa seorang pria dengan tinggi sekitar 175 cm. Rambutnya ikal panjang dan selalu dikuncir. 
Rania tersenyum lebar dan melangkah masuk ke dalam gedung tersebut.
“Bang Radit, perjalanan ke Samboja berapa jam?” tanya Rania sembari melangkahkan kakinya ke dalam ruang kerja para jurnalis. 
“Hai, Cantik ...! Apa kabar?” sapa seorang jurnalis senior yang bertubuh gempal. 
“Baik, Oom,” jawab Rania. 
“Ayahmu lagi tugas di mana? Lama Oom nggak ketemu sama dia.”
“Masih di Papua, Oom,” jawab Rania. 
Pria paruh baya itu geleng-geleng kepala. “Ayahmu memang hebat! Tulisan dia banyak nyerempet jurang, tapi tetap aman sampai sekarang.”
Rania hanya tersenyum kecil mendengar ucapan pria tersebut. Ia segera melangkah ke meja kerja Radit. Mengemas beberapa barang yang mereka butuhkan selama berada di lokasi. 
Setelah menempuh perjalanan sekitar 1,5 jam, Rania dan Radit sampai di rumah salah satu penduduk desa yang sangat dekat dengan area tambang batu bara. 
Rania menatap jauh ke arah lubang galian tambang batubara yang menyisakan kubangan besar. Warga tak lagi bisa bertani seperti biasa. Flora dan fauna tak lagi punya rumah untuk hidup dan bertumbuh. Semuanya gersang. Hanya menyisakan aroma mineral yang tak sedap dan suhu udara yang lebih panas. 
Rania tak banyak bicara. Hanya mengikuti Radit yang melakukan wawancara. Ia mengabadikan foto dan video lewat kamera yang ia bawa. 
Ada banyak alasan mengapa warga memilih untuk tetap bertahan meski tanah mereka telah porak-poranda. Beberapa warga ada yang berjuang melawan kehadiran tambang batubara dan semuanya berakhir di penjara. Tidak ada satu pun warga yang bisa menang ketika berhadapan dengan perusahaan. 
“Ran, aku masih harus ke beberapa rumah warga untuk cari fakta lain. Kalau pulang malam, nggak papa?” tanya Radit.
“Nggak papa, Bang.” 
Pukul 18.00 WITA, Rania dan Radit baru keluar dari desa terakhir tempat mereka melakukan wawancara.
Suasana terasa mencekam meski waktu belum larut malam. Jalan tanah yang sepi dan pepohonan yang rimbun, membuat hari lebih gelap dari yang seharusnya. Jam segini kalau di kota, mereka justru melihat keindahan lampu-lampu kota yang mulai menyala. 
Ciiit ...!
Mobil yang dikendarai Radit tiba-tiba berhenti saat ada empat sepeda motor yang menghadangnya. 
“Si-siapa mereka, Bang?” tanya Rania dengan perasaan tak karuan. 
Radit menggeleng. “Nggak tahu.”
“Hei ...! Keluar!” sentak seorang pria bertubuh kekar sambil memukul bagian depan mobil Radit menggunakan balok berukuran 7x10 cm. 
“Anjing ...! Bangsat orang ini! Mobilku rusak!” maki Radit. Ia menarik napas dalam-dalam, berusaha meredakan emosinya sejenak dan keluar dari dalam mobil. 
“Assalamualaikum...!” sapa Radit sambil tersenyum ke arah pria yang baru saja menghantam mobilnya. 
“Wa’alaikumussalam ...!” sahut semua orang yang ada di sana. 
Radit langsung tersenyum mendengar balasan salam dari orang-orang tersebut. Artinya, emosi mereka masih bisa diredam dengan cara yang baik. 
“Ada masalah apa, Bang?” tanya Radit. 
“Kamu wartawan yang sering nulis berita tentang tambang sini, kan?” tanya pria itu. 
Radit hanya tersenyum kecil mendengar pertanyaan pria tersebut. “Kita bisa bicara baik-baik, Bang.” 
“Nggak ada bicara baik-baik! Kamu harus hapus semua berita yang sudah kamu sebarkan!” sahut pria itu. 
Radit tertawa kecil. “Abang-abang ini bukan asli warga sini?”
“Kami asli warga sini.”
“Kenapa berpihak pada perusahaan?” tanya Radit lagi. 
“Karena kami butuh pekerjaan untuk menghidupi keluarga kami.”
“Oh.” Radit manggut-manggut. Ia tidak mungkin berdebat dengan orang yang sedang lapar soal keberlangsungan lingkungan hidup dan petani yang ada di sana. 
“Kita ketemu 10 tahun lagi ya, Bang! Aku mau lihat, apakah Abang masih belain perusahaan yang sekarang ngasih makan Abang,” ucap Radit sambil menatap wajah pria di hadapannya itu. 
“Kamu!?” Pria yang memegang balok itu menunjuk wajah Radit dengan wajah penuh amarah.
“Sampaikan saja ke bos kalian! Kalau mau aku turunkan beritanya, siapkan uang sepuluh juta untuk satu berita!” pinta Radit sambil memainkan alisnya. 
“Malah mau meras, hah!? Lebih baik kami habisi kamu aja!” seru pria itu sambil melayangkan balok ke tubuh Radit. 
Radit segera menangkis balok kayu tersebut dan terjadi pergulatan di antara mereka. 
BUG! 
BUG! 
BUG! 
Rania mulai panik melihat kejadian tersebut. Ia ingin keluar, tapi tak punya banyak keberanian. Setelah melihat Radit terus diserang, Rania nekat keluar dari dalam mobil. 
“STOP ...!” teriak Rania sekuat tenaga. 
Semua orang menghentikan gerakannya dan menoleh ke arah Rania. 
Mata Rania menatap tajam arah empat pria yang sedang berkelahi dengan Radit. 
“Kalau sampai temanku terluka, kalian semua nggak akan aku biarkan hidup!” seru Rania dengan tangan mengepal erat. 
“Hahaha. Memangnya kamu siapa? Kamu yang nggak bakal keluar dari sini dalam keadaan hidup!” sahut salah seorang pria yang ada di sana. 
Namun, hanya dalam hitungan detik, suasana berubah mencekam. 
Keempat pria itu memandang Rania dengan tubuh gemetar. Tanpa aba-aba, mereka semua berlari ke motor masing-masing dan pergi dengan tergesa-gesa.
“Bang Radit nggak papa?” tanya Rania sambil menghampiri Radit. 
“Nggak papa,” jawab Radit sambil menahan perih di wajah dan lengannya. 
“Kenapa mereka tiba-tiba lari ketakutan?” tanya Radit. 
Rania mengedikkan bahunya. 
Radit mengedarkan pandangannya ke sekeliling mereka. Di belakang mobil mereka ada sebuah pohon beringin besar, juga pohon-pohon lain yang tak kalah besar. Rimbunnya pepohonan di tepi jalan tersebut, membuat udara semakin dingin dan bulu kuduk Radit ikut berdiri.
“Buruan pulang, yuk! Suasananya mulai nggak enak,” ajak Radit. 
Mereka segera masuk ke dalam mobil dan bergerak keluar dari desa tersebut. 

***
Empat pria yang menghadang Radit dan Rania menghentikan sepeda motornya saat mereka tiba di salah satu pos ronda milik warga. 
“Mas, sampean lihat juga?” tanya salah seorang pria bertubuh jangkung. 
Pria yang ditanya mengangguk. Tapi, ia tidak berani bicara. 
Dua pria lagi memilih diam dengan tubuh yang masih bergetar.
Gggrrr ...! 
Semua orang langsung menoleh ke arah sumber suara. 
“Ha-ha-harimau putih itu ngikutin kita!” seru salah seorang dari mereka dengan terbata-bata. 
Pria yang lain tak berani berkata-kata. Ada yang kembali menyalakan mesin motornya, ada yang memilih untuk berlari meninggalkan tempat tersebut. 
“Ini Kalimantan. Harusnya nggak ada macan. Apalagi macan putih sebesar ini,” ucap salah seorang pria yang masih bertahan di sana. Sebab, ia mengengkol sepeda motornya berkali-kali, tapi tak mau menyala.
 Perasaannya semakin tak karuan saat ia mencoba memejamkan mata dan membukanya kembali. Ia pikir, makhluk aneh itu akan segera pergi. Tapi hasilnya tidak seperti yang dia inginkan. Harimau putih yang ukurannya lebih besar dari bangunan pos ronda itu masih berdiri di sana. 
“Aargh ...!” pria itu memilih untuk berlari secepat mungkin. Ia menyadari jika makhluk ghaib itu mengejar dirinya. Membuatnya sangat ketakutan dan kehilangan kendali. Teriakannya berakhir saat tubuhnya melompat ke sungai dan ditelan oleh derasnya arus sungai tersebut. 

((Bersambung...)) 




0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas