Bellina menatap wajahnya di cermin. Telapak
tangan mama mertuanya membekas di pipinya. Ia sangat sedih karena selalu
mendapatkan perlakuan kasar dari mama mertuanya. Sangat berbeda dengan
perlakuannya saat ia belum menikah dengan Lian.
“Siapa yang udah bocorin berita ini ke Mama
Mega kalau bukan Yuna sialan itu!?” seru Bellina sambil menatap wajahnya di
depan cermin.
“Yun, aku bakal bikin perhitungan sama kamu.
Aku nggak akan ngebiarin kamu tertawa bahagia di atas penderitaanku! Harusnya,
kamu yang menerima perlakuan seperti ini, bukan aku!”
Bellina membersihkan wajahnya. Ia menutupi
ruam di pipi menggunakan make up. Usai merias tubuhnya, ia bergegas keluar dari
kamarnya.
“Mau ke mana?” tanya Lian yang baru saja akan
masuk ke dalam kamar.
“Mau ke rumah sakit lagi. Kamu udah mau
berangkat ke kantor?”
Lian menganggukkan kepala. “Mau aku antar?”
“Nggak usah, Li. Aku bisa bawa mobil
sendiri.”
Lian menganggukkan kepala. “Hati-hati ya!”
Bellina mengangguk sambil tersenyum. Ia
mengecup bibir Lian dan berlalu pergi meninggalkan Lian yang juga akan
berangkat ke perusahaannya.
Bellina menjalankan mobilnya menuju jalan
Keputih. Ia tidak langsung pergi ke rumah sakit, tapi pergi ke rumah Yuna
terlebih dahulu.
“Yuna ada di rumah?” tanya Bellina pada salah
seorang satpam yang menjaga di pintu gerbang rumah Yuna.
“Ada, Mbak,” jawab satpam tersebut sambil
membukakan pintu gerbang untuk Bellina. Ia sudah mengenal Bellina sebagai adik
majikannya, sehingga tidak lagi mempertanyakan maksud kedatangan Bellina.
Bellina kembali menjalankan mobilnya perlahan
memasuki pelataran rumah Yuna. Matanya langsung tertuju pada Yuna dan Rullyta
yang sedang bercengkerama penuh kehangatan.
Yuna dan Rullyta mengalihkan pandangannya
pada mobil yang masuk ke pelataran rumah.
“Itu mobil Bellina ‘kan?” tanya Rullyta.
“Iya. Ada apa dia ke sini?” tanya Yuna balik.
Ia dan Rullyta sama-sama memperhatikan mobil Bellina karena wanita itu tak
kunjung keluar dari mobil.
“Mau cari masalah lagi?” Rullyta
menebak-nebak.
Yuna tertawa kecil. “Apalagi, Ma? Dia kan
kangen kalo udah lama nggak ngajak aku berantem.”
Rullyta terkekeh. “Kamu ini, ada-ada aja.
Mama pasti selalu dukung kamu,” bisiknya tanpa mengalihkan pandangan dari mobil
Bellina.
Beberapa detik kemudian, Bellina keluar dan
langsung menghampiri Yuna dan Rullyta.
“Sore, Tante ...! Sore, Yun ...!” sapa
Bellina dengan ramah.
Yuna hanya tersenyum kecut menanggapi sapaan
ramah Bellina. Ia selalu khawatir setiap kali Bellina bersikap baik kepadanya.
Sebab, Bellina selalu membahayakan dirinya setiap kali sepupunya itu pura-pura
baik.
“Tumben main ke sini?” tanya Melan.
Bellina tersenyum sambil menatap Rullyta.
“Aku kangen aja sama Yuna. Walau sering bertengkar, dia juga masih sepupuku,
Tante.”
Yuna mengernyitkan dahi sambil menatap wajah
Bellina. Mereka saling bertatapan selama beberapa menit tanpa berkata-kata.
Rullyta menatap Yuna dan Bellina bergantian.
Semuanya terasa canggung karena dua orang yang ada di hadapannya tak kunjung
membuka pembicaraan.
“Huft, kalian ngobrol aja! Mama mau masuk
dulu!” pamit Rullyta sambil bangkit dari tempat duduk. Ia bergegas masuk ke
dalam rumah.
Bellina langsung duduk di hadapan Yuna begitu
Rullyta pergi dari hadapan mereka.
“Ada apa?” tanya Yuna sambil menatap wajah
Bellina.
“Sekarang, kamu boleh ngetawain aku!” sahut
Bellina ketus.
Yuna tersenyum kecil. “Bel, masalah yang kamu
hadapi sekarang, nggak ada hubungannya sama aku.”
Bellina menatap wajah Yuna dengan mata
berkaca-kaca. “Yun, aku nggak nyangka kalau mamaku seperti itu. Sekarang, dia
lebih memilih bareng laki-laki mantan narapidana itu daripada sama papaku. Aku
harus gimana?”
“Aku nggak tahu, Bel. Lebih baik, kamu
kembali ke keluarga asli kamu aja. Toh, mama kamu juga sudah memilih laki-laki
itu.”
“Aku nggak mau, Yun. Aku nggak mau! Aku nggak
mau jadi anak laki-laki itu. Aku mau jadi anak Papa Rudi. Nggak mau yang lain!”
rengek Bellina.
“Bel, manusia nggak bisa memilih dilahirkan
dari rahim siapa dan keluarga yang bagaimana. Tapi, manusia bisa memilih jalan
hidupnya masing-masing. Jangan menanam keburukan kalau kamu menginginkan buah
kebaikan!” tutur Yuna lembut.
Bellina menatap wajah Yuna. Hatinya terasa
sangat sakit mendapati kenyataan pahit tentang keluarganya sendiri saat ini. Ia
hanya bisa menitikkan air mata, tak tahu apa yang seharusnya ia lakukan.
“Apa yang terjadi sama Tante Melan hari ini,
itulah hasil perbuatan yang dia tanam dua puluh lima tahun yang lalu. Bahkan,
kamu yang nggak tahu apa-apa pun menjadi korban. Sekarang, aku bahkan nggak
tahu harus melihat kamu sebagai apa. Kalau hasil tes DNA menyatakan kamu adalah
anak pria itu. Kita nggak punya hubungan keluarga, Bel.”
Bellina menatap pilu ke arah Yuna. Ia benci
dengan kelakuan mamanya sendiri. Tapi, ia lebih membenci Yuna yang
memojokkannya karena kesalahan mamanya di masa lalu.
“Bel, sekalipun kamu bukan lagi menjadi
bagian dari keluarga Linandar ... aku akan tetap menganggap kamu sebagai
saudara, asalkan kamu mau memilih jalan yang benar dan berhenti melakukan
hal-hal buruk!” pinta Yuna lembut.
Bellina tersenyum sambil menganggukkan
kepala. “Kamu memang paling suci, Yun. Aku nggak akan ngebiarin kamu hidup
bahagia, sementara aku selalu menderita kayak gini,” batin Bellina penuh
kebencian.
Yuna tersenyum kecut membalas senyuman
Bellina yang tidak bisa ia artikan. Ia berharap kalau Bellina bisa menjadi
wanita yang baik setelah kejadian ini. Meski begitu, Yuna tetap waspada dengan
senyuman Bellina yang masih menyiratkan kebencian.
“Yun, makasih ya! Kamu udah mau dengerin aku
dan ngasih saran yang baik buat aku,” tutur Bellina.
Yuna mengangguk sambil tersenyum. “Aku tahu,
kamu wanita yang baik. Hanya saja, kamu berada di tempat yang salah. Kalau kamu
selalu berbuat baik, suami kamu pasti makin sayang.”
Bellina tersenyum kecil. “Aku harap begitu.”
Yuna tersenyum. Pandangannya beralih pada
pelayan yang menyuguhkan teh hangat ke atas meja yang ada di hadapannya.
“Makasih, Mbak!”
Pelayan itu mengangguk dan bergegas masuk
kembali ke dalam rumah.
“Minum, Bel ...!” pinta Yuna sambil
menyodorkan secangkir teh ke hadapan Bellina.
Bellina mengangguk sambil tersenyum. Ia
meraih cangkir teh tersebut dan menyesapnya perlahan.
“Yuna Sayang ...! Kue buatan mama sudah
jadi!” seru Rullyta sambil menghampiri Yuna dan Bellina. Di tangannya ada
sebuah piring berisi kue hasil olahannya sendiri.
“Wah ...! Buatan Mama Rully, pasti enak
banget!”
Rullyta tersenyum menanggapi ucapan Yuna.
“Harus bilang enak! Kalau nggak, dapur kamu mama bakar!” tuturnya sambil
tertawa.
“Iih ... mama mah main bakar-bakar aja. Ntar
Yuna nggak bisa masak buat suami tercintaah ...!”
Rullyta tertawa sambil mencubit pipi Yuna.
Pandangannya beralih pada Bellina. “Bel, cobain!” pintanya sambil menyodorkan
piring tersebut ke hadapan Bellina.
Bellina mengangguk sambil tersenyum. Ia
segera mencomot kue salju buatan Rullyta dan memasukkan ke mulutnya perlahan.
“Gimana? Enak?” tanya Rullyta sambil menatap
Bellina.
Bellina menganggukkan kepala. “Enak, Tante.”
Rullyta tersenyum puas melihat hasil
olahannya kali ini karena mendapat pujian dari dua orang yang ada di
hadapannya. Sebab, ia tidak begitu mahir membuat kue. Mendapatkan pujian, tentu
menjadi hal yang menyenangkan baginya.
“Ma, sekarang lagi nge-trend kue kering yang
bentuknya ulat sutra. Mama mau cobain? Ntar Yuna bikinin.”
Rullyta langsung mengernyitkan dahi. Ia
mengedikkan bahu sambil membayangkan ulat sutra yang bergerak-gerak di atas
piring. “Argh, kamu ada-ada aja! Bayanginnya aja mama udah geli. Kenapa nggak
bikin kue kering bentuk belatung sekalian!?”
“Hahaha. Nanti aku bikinin!” sahut Yuna
sambil tertawa.
“Iih ... mama buang sebelum masuk ke dalam
rumah mama,” sahut Rullyta.
“Idih, mama nggak menghargai kerja keras
anaknya. Bikinnya itu susah, Ma. Harus detil dan teliti banget. Mama harus
menghargai karya tangan anak kesayangan mama ini, dong!” pinta Yuna manja.
“Minta dihargai berapa, hah!?” sahut Melan
sambil menatap wajah Yuna dengan gaya mengejek.
Yuna memutar bola matanya. “Berapa ya?”
“Seribu?”
“Boleh. Kurs dollar ya?” sahut Yuna sambil
menahan tawa.
“Kamu mulai mata duitan, hah!?” tanya Rullyta
sambil mencolek pinggang Yuna.
Yuna tertawa sambil menahan geli di
pinggangnya.
Bellina memperhatikan keakraban antara Yuna
dan mama mertuanya. Semenjak menikah, Yuna mendapatkan begitu banyak
kebahagiaan dan kasih sayang dari orang-orang yang ada di sekitarnya.
Bellina mulai membandingkan sosok Mega dan
Rullyta sebagai seorang mama mertua, ia juga kerap membandingkan Lian dan
Yeriko sebagai sosok suami dalam kehidupan.
“Eh, udah makin sore. Mama pulang dulu ya!”
pamit Rullyta sambil melihat arloji di tangannya.
“Buru-buru banget?” tanya Yuna sambil menatap
wajah Rullyta.
“Iya. Udah waktunya ngasih makan ayam,” jawab
Rullyta sekenanya.
“Ayam apaan?” tanya Yuna sambil menahan tawa.
“Ayam yang bisa menghasilkan telur emas,”
jawab Rullyta sambil memainkan alisnya. Ia melongo ke bagian dalam rumah
Yeriko.
“Ngga, Angga ...!” panggil Rullyta. “Ayo,
kita pulang!”
“Iya, Nyonya ...!” sahut Angga dari dalam
rumahnya.
“Sari, tolong bawakan tas saya sekalian ya!”
“Baik, Nyonya.”
Melan tersenyum. Ia berpamitan dengan Yuna
sambil bersalaman pipi.
“Hati-hati ya, Ma!” seru Yuna sambil menatap
tubuh Rullyta yang didampingi oleh supir dan beberapa pelayan yang bekerja di
rumah keluarga besar Hadikusuma.
Rullyta mengangguk sambil tersenyum. Ia
bergegas pergi meninggalkan Yuna yang masih berbincang hangat dengan Bellina.
Ia harap, kehadiran Bellina tidak akan membahayakan Yuna dan janinnya. Ia sudah
menyuruh orang-orang di rumah itu untuk selalu waspada dengan kehadiran
Bellina.
((Bersambung ...))

0 komentar:
Post a Comment