Melan tak bisa menyembunyikan
kegelisahannya. Ia duduk di sofa sambil memperhatikan suaminya yang berbincang
dengan kakak kandungnya. Ia menarik napas dan bangkit dari sofa.
“Mau ke mana, Tante?” tanya
Yuna.
“Mau ke toilet, sebentar,”
jawab Melan.
“Oh.”
Melan tersenyum. Ia bergegas
keluar dari ruangan tersebut dan melangkahkan kakinya menuju toilet.
Yuna dan Jheni saling pandang
begitu Melan keluar dari ruang rawat tersebut. “Jhen, temenin aku ke kantin!”
pinta Yuna sambil meraih pergelangan tangan Jheni.
Jheni menganggukkan kepala.
Ia sangat mengerti tujuan Yuna kali ini dan langsung melangkahkan kakinya
mengiringi langkah Yuna.
“Jhen, aku curiga banget sama
Tante Melan. Dari pertama datang, dia kelihatan gugup banget. Lagian, ayahku
dirawat di ruang VVIP yang sudah dilengkapi sama toilet di dalamnya. Kenapa dia
harus pergi ke luar kalau cuma mau ke toilet?”
Jheni menganggukkan kepala.
“Iya, Yun. Pasti ada hal yang disembunyikan sama tante kamu kali ini. Kelihatan
banget dia gelisah di dalam ruangan tadi.”
Yuna mengangguk sambil
melangkahkan kakinya menuju ke toilet umum.
“Kenapa nggak kamu terus aja
tadi waktu di dalam ruangan? Biar dia nggak perlu keluar dari sana?”
“Aku mau hadapi Tante Melan
tanpa harus canggung karena ada ayah.”
Jheni menganggukkan kepala.
“Aku dukung kamu!”
“Harus!” sahut Yuna sambil
melangkahkan kakinya menuju ke toilet.
Yuna dan Jheni sengaja
menunggu di depan pintu. Mereka benar-benar terlihat seperti penjaga pintu
neraka yang bersiap menerkam Melan saat wanita itu keluar.
Beberapa menit kemudian,
Melan keluar dari pintu toilet. Ia membelalakkan mata begitu melihat Yuna dan
Jheni sudah ada di hadapannya.
“Hai, Tante ...!” sapa Yuna
dan Jheni bersamaan. Mereka memasang senyuman termanis di dunia tapi berhasil
menusuk hati Melan.
“Ka-kalian mau apa?” tanya
Melan.
Yuna tersenyum kecil sambil
memainkan jemari tangannya. “Kenapa Tante ketakutan? Apa karena lihat ayahku
dalam keadaan baik-baik aja?”
“Kamu nyurigain Tante?” tanya
Melan balik.
“Nggak,” jawab Yuna santai.
“Aku cuma mau ngasih tahu Tante supaya lebih berhati-hati lagi!” lanjutnya
sambil tersenyum manis.
Melan menatap wajah Yuna
penuh kebencian. Ia melihat Yuna semakin mirip dengan Arum. Wanita yang paling
ia benci seumur hidup.
“Tante, sekarang zaman sudah
modern. Kami pasti menemukan siapa orang yang sudah menabrak Oom Adjie,” tutur
Jheni.
“Kalau sampai Tante terbukti
ada di balik ini semua. Aku nggak akan pernah ngelepasin Tante sampai kapan
pun!” tegas Yuna. “Aku bukan cuma bisa mengambil alih perusahaan. Tapi juga
akan membuat Tante membusuk di penjara!”
Melan tersenyum sinis
menanggapi ucapan Yuna. “Kamu bisa ngancam Tante karena berlindung di balik
keluarga Hadikusuma? Kamu nggak ingat berapa lama aku menghidupi kamu sampai
bisa seperti sekarang? Anak nggak tahu terima kasih!”
“Tante, nggak usah bawa-bawa
masa lalu!” sahut Jheni kesal. “Yuna lebih banyak mendapatkan penderitaan
daripada kebahagiaan.”
“Kamu ...!?” Melan mendelik
ke arah Jheni. “Kamu siapa? Berani-beraninya ikut campur urusan keluarga kami,
hah!?”
“Emang Tante siapa, hah!?
Tante juga bukan siapa-siapa di keluarga Linandar. Kalau bukan Oom Rudi yang
mungut Tante ... Tante cuma perempuan jalanan yang nggak punya apa-apa. Bahkan
status pun nggak punya.”
PLAK ...!
Melan langsung menampar wajah
Jheni. “Jangan sembarangan kalo ngomong!”
Jheni menatap wajah Melan
penuh kebencian. Ia langsung mendorong bahu Melan hingga punggungnya menyentuh
dinding toilet. “Kamu pikir, aku takut sama kamu, hah!?” seru Jheni sambil
menarik rambut Melan.
“Anak kurang ajar!” sahut
Melan sambil mencengkeram pergelangan tangan Jheni yang menarik rambutnya.
Jheni semakin menarik kuat
rambut Melan.
“Tolong ...!” teriak Melan.
“Udah, Jhen. Jangan bikin
kegaduhan!” pinta Yuna sambil menarik tubuh Jheni untuk menjauh. Ia tidak ingin
menimbulkan keributan karena banyak mata yang mulai menoleh ke arah mereka.
Jheni langsung melepas rambut
Melan dari genggamannya. “Beraninya teriak minta tolong aja!” gerutunya sambil
melangkah mundur mengikuti tarikan tangan Yuna.
“Preman kayak kalian itu,
lebih cocok tinggal di jalanan!” seru Melan.
“Ini Mak Lampir sialan!”
umpat Jheni, ia kembali berbalik menatap tubuh Melan dan bersiap menyerangnya.
“Udah, Jhen ...! Nggak usah
diladeni!” pinta Yuna sambil menahan tubuh Jheni.
Melan tersenyum sinis sambil
menatap Jheni dan Yuna yang bergerak menjauh. “Teruskan aja! Biar semua orang
tahu kalau kalian itu bukan Tuan Puteri, tapi preman jalanan!”
Jheni menarik napas
dalam-dalam sambil memejamkan matanya menahan emosi yang bersiap meletus dari
ubun-ubunnya.
Yuna berbalik dan tersenyum
ke arah Melan. “Ada yang salah dengan preman jalanan? Mereka juga manusia.
Bahkan, mereka lebih mulia dari perempuan tua yang licik kayak Tante.”
Melan tersenyum sinis. “Nggak
usah munafik! Emangnya kamu mau tinggal di jalanan?”
Yuna tertawa kecil sambil
menatap wajah Melan. “Tante, aku bertahun-tahun ada di jalanan. Hosier Lane
jadi salah satu saksi bagaimana aku bertahan hidup di Melbourne. Yang Tante
bilang kalau membiayai seluruh hidupku ke semua keluarga, ke semua orang ...
itu cuma omong kosong!”
“Kamu ...!? Kamu pikir, biaya
rumah sakit ayah kamu itu murah, hah!? Siapa yang bayarin kalau bukan aku?”
Yuna tersenyum sinis. “Dulu
aku terlalu bodoh sampai nggak tahu sama sekali apa yang sudah Tante lakuin ke
ayahku. Aku selalu menuruti semua yang Tante mau, demi ayah. Sekarang, aku udah
tahu semuanya. Uang yang Tante pakai untuk pengobatan ayah adalah uang yang
seharusnya kami miliki saat ini.”
Melan terdiam mendengar
ucapan Yuna.
“Bahkan semua yang Tante
punya saat ini ... seharusnya adalah milikku. Seharusnya, Tante Melan yang tahu
diri! Apa yang Tante Melan punya sekarang adalah milikku! Tante akan kehilangan
semua yang tidak seharusnya Tante miliki!” tegas Yuna sambil berbalik dan pergi
meninggalkan Melan.
Melan menatap tubuh Yuna
dengan perasaan berdebar. Ia tak menyangka kalau gadis yang pernah ia kuasai
dan ia manfaatkan itu, kini berbalik menyerangnya.
“Kalau dia nggak ada di bawah
perlindungan suaminya, aku pasti bisa manfaatin Yuna untuk dapetin uang yang
lebih banyak lagi,” batin Melan.
Sementara itu, Yuna dan Jheni
melangkahkan kakinya menyusuri koridor yang menuju ke ruang rawat Adjie.
“Tante kamu itu sialan
banget, Yun. Seumur hidup aku tinggal sama orang tua angkat. Tapi semua
keluarga angkatku baik. Nggak ada yang jahat kayak Maleficent itu!”
“Huft, entahlah. Padahal, aku
nggak pernah macem-macem ke dia. Dia benci banget sama aku.”
“Dia itu benci bukan karena
kamu salah. Tapi karena dia nggak mampu buat dapetin apa yang kamu sekarang.
Orang kalau punya penyakit iri hati dan dengki berkepanjangan kayak gitu,
matinya bakal kena azab. Ntar aku bikin komik yang aku kasih judul ... Azab
Tante-Tante Mata Duitan!”
“Hahaha. Udah kayak sinetron
aja,” sahut Yuna.
“Biar aja! Kalo perlu, aku
bikin dia kena azab bertubi-tubi. Ngeselin banget!”
“Udah, Jhen! Cooling down ...!” pinta Yuna saat
mereka sudah sampai di depan ruang rawat Adjie.
Jheni menarik napas
dalam-dalam sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. “Eh, kita kan tadi bilang
kalau mau ke kantin. Baliknya nggak bawa apa-apa?”
“Iya juga ya?”
“Ya udah, ke kantin dulu!
Beli kerupuk, kek. Biar nggak ketahuan bohongnya.”
“Nggak usah, Jhen! Bilang aja
kalau kita ke kantin buat minum jus!”
Jheni langsung tersenyum
lebar sambil menatap Yuna. “Bener juga. Sejak nikah sama Yeriko, tingkat
kecerdasanmu lumayan meningkat.”
Yuna memonyongkan bibirnya.
“Aku tuh udah cerdas dari lahir. Cuma nggak mau show up aja,” tuturnya sambil
tertawa kecil. Ia mendorong pintu hingga terbuka dan masuk
ke dalamnya.
Yuna dan Jheni kembali
berbaur dengan tiga pria yang ada di ruangan tersebut. Mereka berbicara banyak
hal hingga Melan kembali ke ruangan tersebut.
Melan, Yuna dan Jheni
bertingkah seolah tidak terjadi apa-apa di luar sana. Mereka sama-sama berusaha
menutupi pertengkaran yang terjadi beberapa menit lalu.
“Kak Adjie, kami pulang
dulu!” pamit Tarudi. “Cepet sehat, ya!”
Tarudi menganggukkan kepala.
“Kak Adjie, cepet sehat ya!”
tutur Melan sambil tersenyum manis.
Adjie mengangguk-anggukkan
kepalanya. Ia hanya tersenyum kecil, membiarkan adik dan istrinya itu keluar
dari kamar rawatnya.
Yuna memutar bola matanya. Ia
sangat kesal dengan sikap Melan yang begitu manis di hadapan ayahnya. Kali ini,
ia tidak akan membiarkan Melan terus-menerus melukai orang-orang yang ia
cintai. Ia akan berusaha melindungi orang-orang tercintanya dari apa pun yang
akan melukai mereka.
((Bersambung
...))

0 komentar:
Post a Comment