Yuna melangkahkan
kakinya ke perusahaan setelah ia selesai berbincang dengan Andre dan Nirma di
kedai kopi.
“Siang, Nyonya Bos ...!”
sapa karyawan yang kebetulan berpapasan dengan Yuna di perusahaan.
“Siang ...!” sapa Yuna
sambil tersenyum. Wajah cantiknya berhasil mengalihkan perhatian semua orang.
“Istri Pak Bos dandan
cantik banget. Ada perayaan apa ya?” tanya salah seorang karyawan yang
kebetulan melihat kehadiran Yuna.
Karyawan yang lain
mengedikkan bahunya. “Biasanya, istri Pak Bos nggak pernah pakai make-up. Ke
sini juga pakai daster biasa aja.”
“Mungkin mau ngasih
kejutan buat Pak Bos.”
“Iya. Jadi orang cantik
mah enak. Nggak dandan aja cantik, apalagi dandan kayak gitu.”
“Aku suka banget
style-nya dia. Feminim dan elegan.”
“Sesuai sama kantongnya
dia. Semua yang nempel di badan dia barang mahal. Jam tangan dia aja sama kayak
gaji kita setahun.”
“Iya, sih. Kita mah apa.
Cuma karyawan biasa.”
“Beruntung banget ya
kalau bisa jadi istrinya bos.”
“Nggak usah mimpi jadi
istrinya bos! Ketemu sama bos aja gemetaran. Hahaha.”
“Nggak berani, hahaha.”
Beberapa karyawan
membicarakan kedatangan Yuna yang tak seperti biasanya. Mereka sudah tak asing
lagi dengan Yuna yang hampir setiap hari mengirimkan makan siang untuk suaminya
itu.
Beberapa menit kemudian,
Yuna sudah sampai ke ruang kerja suaminya. Ia dengan santai masuk ke dalam
ruangan suaminya tanpa ragu.
“Sore ...!” sapa Yuna
sambil menghampiri Yeriko yang masih duduk di meja kerjanya.
“Sore ...!” balas Yeriko
sambil menengadahkan kepala begitu mendengar suara istrinya. Ia termenung
selama beberapa menit melihat istrinya yang berdandan sangat cantik.
Yuna mengigit bibir saat
mendapati Yeriko menatap dingin ke arahnya. Ia mematung di tempatnya selama
beberapa menit. “Kenapa ngelihatin aku kayak gitu?” batinnya.
Yeriko bangkit dari
tempat duduk. Ia menghampiri Yuna sambil memerhatikan tubuh istrinya dari ujung
kepala hingga ke ujung kaki. “Kamu jalan-jalan dengan pakaian seperti ini
sepanjang hari?” tanya Yeriko.
Yuna menggigit bibir
sambil meremas gaun yang ia kenakan. “Apa aku salah pilih baju? Kenapa suamiku
nggak suka?” batinnya.
“Kenapa, diam?” tanya
Yeriko lagi.
“Jelek ya?” tanya Yuna
sambil melipat wajahnya. “Aku pikir, kamu bakalan suka lihat aku kayak gini.
Aku sengaja pilih pakaian yang bagus dan dandan untuk ketemu kamu hari ini. Aku
cuma mau kelihatan lebih cantik dari biasanya.”
Yeriko tertawa kecil.
“Apa dengan kayak gini?”
Yuna mengerucutkan
bibirnya. “Aku udah berusaha buat tampil cantik. Bibi War sama Andre bilang
kalau aku cantik banget pakai dress kayak gini. Kenapa kamu malah nggak suka?”
“Oh ... jadi, kamu
ketemu sama Andre hari ini?” tanya Yeriko.
Yuna gelagapan mendengar
pertanyaan Yeriko. “Aku nggak sengaja ketemu sama dia. Eh, aku nggak berniat
buat ketemu dia. Dia yang maksa buat ketemu sama aku.”
“Kenapa kamu nggak
bilang sama aku kalau kamu ketemu sama Andre?”
“Tadi, waktu keluar dari
galeri ... mmh, dia nelpon aku dan minta ketemu sebentar aja. Jadi, aku iyain
karena sejalan sama arah ke perusahaan. Lagian, aku nggak cuma berduaan sama
dia. Ada Nirma di sana, tunangan dia.”
“Apa ada hal penting
banget sampai dia ngajak ketemu dadakan?” tanya Yeriko.
Yuna menggelengkan
kepala. “Cuma ngasih hadiah ulang tahun.”
“Kamu terima?” tanya
Yeriko menyelidik.
Yuna langsung
menundukkan kepala. Ia menggigit bibir dan meremas gaunnya sendiri. Ia sadar,
menerima hadiah dari Andre adalah kesalahan besar. Yeriko tidak akan suka
melihat istrinya menerima hadiah dari pria lain. “Ma-af ... nggak seharusnya
aku nerima hadiah dari dia,” ucapnya lirih.
“Apa? Aku nggak dengar.”
“Seharusnya, aku nggak
terima hadiah dari dia.” Yuna meninggikan suaranya, namun kepalanya tetap
menatap lantai yang ada di bawah kakinya.
Yeriko menahan tawa
melihat Yuna yang menyadari kesalahannya. “Sekarang, di mana hadiah dari dia?”
“Masih di mobil. Nanti
aku buang!” sahut Yuna sambil mengangkat wajahnya menatap Yeriko.
Yeriko tersenyum kecil.
“Kamu udah bersuami, sebaiknya jangan menerima hadiah dari laki-laki lain. Kamu
minta apa aja, pasti aku kasih. Apa yang aku kasih selama ini masih kurang?”
Yuna menggelengkan
kepala.
“Kamu ketemu sama dia
dengan penampilan seperti ini aja, udah salah. Apalagi sampai menerima hadiah
dari dia.”
Yuna menggigit bibirnya.
“Iya, maaf!”
“Lain kali, jangan
keliaran di luar sana dengan penampilan secantik ini!” pinta Yeriko.
Yuna langsung mengangkat
kedua alisnya. “Cantik? Cantik atau jelek, sih?” batinnya.
“Kamu keluar tanpa
dandan, pakai daster atau piyama aja sudah bikin si Andre dan Lian tergila-gila
sama kamu. Padahal, mereka sudah punya pasangan. Kalau kamu keliaran dengan
penampilan secantik ini ... akan ada berapa lagi laki-laki yang tergila-gila sama
kamu, hah!?”
“Ini hari ulang tahun
kita. Aku cuma pengen tampil cantik buat kamu. Aku salah?”
“Setiap hari, kamu udah
cantik. Nggak perlu berdandan kayak gini. Di luar sana, pasti banyak laki-laki
yang merhatiin kamu. Keluyuran sendirian di luar sana dengan penampilan seperti
ini ... kamu mencoba menarik perhatianku atau perhatian banyak orang?” tanya
Yeriko.
Yuna menundukkan kepala
sambil menggigit bibir. Ia tidak tahu kalau yang selama ini ia lakukan adalah
sebuah kesalahan. Ia meremas gaun putih yang ia kenakan, air matanya mulai
menetes. Ia kecewa pada dirinya sendiri.
“Jangan nangis!” pinta
Yeriko sambil mengusap air mata yang jatuh di pipi Yuna. “Aku cuma nggak mau
kamu jadi khayalan nakal pria-pria di luar sana. Lain kali, jangan keluyuran
sendirian dengan penampilan seperti ini!” lanjutnya sambil menarik tubuh Yuna
ke dalam pelukannya.
Yuna
mengangguk-anggukkan kepalanya.
Yeriko melepas
pelukannya. Ia meletakkan kedua tangan di pundak Yuna sambil memerhatikan wajah
istinya itu. “Aku tetap cinta sama kamu walau kamu nggak pake make-up dan nggak
pake baju.”
Yuna langsung
memonyongkan bibirnya sambil meninju perut Yeriko.
Yeriko terkekeh.
“Serius. Aku nggak suka kamu jalan-jalan dengan dandanan secantik ini. Kalau
masih pakai make-up kayak gini terus, aku pajang di meja resepsionis atau di
toko.”
“Iih, jahat banget!
Emangnya, aku pajangan?”
Yeriko terkekeh.
Perhatiannya beralih pada ponsel Yuna yang tiba-tiba berdering.
Yuna merogoh ponsel dari
dalam tas tangannya. Ia menatap nama kontak yang tertera di layar ponselnya.
“Siapa?” tanya Yeriko.
“Wilian,” jawab Yuna
lirih.
“Oh. Angkat aja!”
perintah Yeriko sambil berbalik dan kembali ke tempat duduknya.
Yuna menggigit bibir
melihat sikap suaminya yang pencemburu. Ia mengusap layar ponsel dan
menempelkan ke telinganya. “Halo ...!” sapanya begitu ia menjawab panggilan
telepon dari Lian.
“Halo ...! Kamu di mana,
Yun?” tanya Lian dari seberang telepon.
“Di perusahaan suamiku.
Ada apa, Li?”
“Bisa ketemu sebentar?”
tanya Lian.
Yuna langsung menoleh ke
arah Yeriko yang duduk santai sambil memutar-mutar tubuhnya ke kanan dan ke
kiri. Ia tidak mungkin menerima ajakan Lian karena Yeriko masih diselimuti
perasaan cemburunya.
“Yun ...!”
“Eh!?”
“Bisa ketemu?”
“Nggak bisa, Li.”
“Kenapa?”
“Aku sibuk banget.”
“Sebentar aja, Yun.”
“Tetep nggak bisa, Li.
Hari ini, aku mau ngerayain ulang tahunku berdua aja sama suami.”
Lian terdengar menghela
napas. “Oke. Selamat ulang tahun, Yun!”
“He-em. Thanks!”
Hening.
“Ada yang mau
dibicarakan lagi?” tanya Yuna.
“Nggak ada, Yun. Aku
cuma mau ngucapin selamat ulang tahun buat kamu.”
“Oke. Makasih, Li. Aku
matiin teleponnya ya? Bye-bye!” ucapnya dan langsung mematikan panggilan
teleponnya.
Yuna menghela napas. Ia
menghampiri Yeriko yang duduk di kursi kerjanya. “Masih marah?”
Yeriko menggelengkan
kepala. Ia tersenyum bahagia karena Yuna bisa dengan tegas menolak mantan
kekasihnya itu. Ia menarik tubuh Yuna ke pangkuannya dan mencumbunya dengan
mesra.
((Bersambung ...))
Sabar ya, Mr. Ye cemburunya emang gede banget.
Thanks yang udah dukung ceritanya sampai sini.
Sekuel, Prekuel dan Spin-Off jadi satu aja ya? Ya, ya ya? Boleh kaaan?
Much Love,
@vellanine.tjahjadi

0 komentar:
Post a Comment