Thursday, July 14, 2022

Bab 14 - Istri Berbahaya

 





Nanda buru-buru melangkah keluar dari ruang kerjanya ketika ia baru saja selesai menerima panggilan telepon dari Arlita yang memintanya untuk mencarikan tempat tinggal baru karena ibunya mengambil paksa apartemen yang digunakan oleh wanita itu.

“Mau ke mana?” Ayu menghadang langkah Nanda yang baru saja sampai di pintu utama perusahaan tersebut. Ia tersenyum sambil memegang rantang makanan di tangannya.

“A-ayu? Ngapain kamu ke sini?” Nanda gelagapan saat melihat Ayu tiba-tiba datang ke perusahaannya.

“Mau antar makan siang untuk kamu,” jawab Ayu sambil mengangkat rantang yang ada di tangannya. Tentunya dengan senyuman manis yang terukir indah di bibirnya.

Nanda terdiam sambil memeriksa layar ponselnya saat notifikasi pesan dari Arlita masuk ke sana.

“Sudah ada janji sama orang lain?” tanya Ayu sambil menatap wajah Nanda.

“Eh!?” Nanda menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

Ayu menghela napas. “Ada janji makan siang sama siapa?”

“Sama klien,” jawab Nanda.

“Klien yang kamu kasih apartemen gratis untuk tinggal di sana?” tanya Ayu. Ia langsung melangkah santai menuju meja resepsionis yang ada di sana.

Nanda mengernyitkan dahi sambil menatap tubuh Ayu. Ia mengikuti langkah istrinya itu perlahan, tidak tahu apa yang sedang direncanakan wanita itu. Kehadiran Roro Ayu dalam hidupnya, benar-benar mengacaukan hidupnya.

“Permisi, Mbak ...!” sapa Ayu sambil tersenyum manis ke arah petugas resepsionis yang ada di sana. “Saya boleh minta copy schedule bos kalian?”

Petugas resepsionis itu melongo, ia melirik ke arah Nanda yang berdiri tak jauh di belakang Ayu.

“Saya istrinya Pak Nanda. Apa nggak boleh tahu schedule dia?” tanya Ayu sambil menatap wajah resepsionis itu.

“Ay, kamu ngapain sih mau tahu jadwalku segala? Kamu cukup istirahat di rumah, nggak perlu urusin perusahaan kayak gini,” pinta Nanda sambil memutar tubuh Ayu agar menatap ke arahnya.

“Aku bukan lagi ngurus perusahaan. Tapi aku lagi ngurus suamiku. Bukannya istri yang baik harus mengurus semua keperluan suami dengan baik juga? Aku harus tahu jadwalmu supaya aku nggak telat nyiapin semua kebutuhanmu,” jawab Ayu sambil tersenyum.

Ayu menyodorkan ponselnya ke arah resepsionis itu. “Ini alamat email saya. Kirimkan schedule suami saya secara berkala!”

“Ay, nggak perlu kayak gini banget ‘kan? Kamu itu makin lama makin nyebelin. Aku sudah ajak kamu berdamai dan baik-baik. Nggak usah kayak anak kecil gini, deh!” pinta Nanda lirih.

Ayu tersenyum sinis. “Ada anak kecil yang bisa minta schedule bos ke perusahaan?”

Nanda menghela napas. Ia merangkul tubuh Ayu dan membawanya pergi dari sana. “Kamu bawa makanan untuk aku ‘kan? Kita makan siang bareng, ya!” pintanya. Ia membawa Ayu masuk ke dalam lift dan naik ke ruang kerjanya yang ada di lantai empat.

KLEK!

Nanda langsung mengunci pintu ruangannya begitu ia dan Ayu sudah masuk ke sana. “Ay, mau kamu apa sih?”

Ayu meletakkan rantang ke atas meja dan membukanya satu per satu.

“Ayu ...! Aku lagi ngomong sama kamu.”

“Mau makan siang ‘kan?” tanya Ayu sambil tersenyum manis.

Nanda menghela napas dan duduk di sofa, tepat di sebelah Ayu. “Aku tahu kamu istriku, Yu. Tapi menyelidiki aku seperti ini, apa pantas? Apa yang ada di dalam pikiranmu sampai minta schedule aku segala?”

“Aku sudah jawab pertanyaan itu. Nggak ada pertanyaan lain?” tanya Ayu balik.

Nanda gelagapan sambil mengusap wajahnya dengan perasaan tak karuan.

“Kenapa? Kamu menyesal punya istri sepertiku?” tanya Ayu sambil menyodorkan sepasang sendok dan garpu ke hadapan Nanda. “Makanlah! Setelah selesai makan, baru kita bicara.”

Nanda menghela napas. Ia menatap makanan yang sudah disiapkan Ayu untuknya. Udang goreng, perkedel kentang, sup jamur dan potongan ayam goreng, sudah terhidang di hadapannya. Ia menusuk satu buah perkedel dan menggigitnya perlahan. Manik matanya, terus mengawasi Ayu yang bergerak perlahan menyusuri ruang kerjanya.

Aku memperhatikan setiap detail ruang kerja Nanda. Ini pertama kalinya ia masuk ke dalam ruang kerja suaminya itu setelah mereka menikah. Sepertinya, ia terlalu lama terlarut dalam kesedihan. Tidak bisa menerima apa yang sekarang ia miliki dan baru menyadari kalau suaminya punya kedudukan yang begitu bagus, kedudukan yang diinginkan semua wanita di dunia. Terutama wanita yang tidak bisa hidup mandiri dan menggantungkan hidup mereka pada pria berduit.

“Ruang kerjamu lumayan juga,” puji Ayu sambil duduk di kursi kerja Nanda. “Sepertinya, sudah lama aku nggak duduk di kursi seperti ini,” lanjutnya sambil menyandarkan punggungnya ke kursi.

Nanda tak menyahut. Hanya mengawasi Ayu dengan matanya sambil menikmati makanan yang ada di hadapannya satu per satu.

Ayu tersenyum sambil menekan tombol power yang ada di laptop Nanda. “Aku boleh akses laptop ini?”

“Mau ngapain, Ay?” tanya Nanda sambil memperhatikan Ayu lewat sofa yang tak jauh dari meja kerjanya.

“Mau lihat-lihat aja. Setahu aku, istri sah boleh dapet akses ke perusahaan suami kalau dia yang punya perusahaan itu. Mmh, kepemilikan perusahaan ini udah punya kamu atau punya Oom Andre?” tanya Ayu balik sambil menatap layar laptop Nanda yang sudah menyala dan ia harus memasukkan pasword untuk mendapat akses semua aktivitas di laptop suaminya itu.

“Masih punya papa,” jawab Nanda.

“Oh.” Ayu manggut-manggut. “Kalau gitu, aku minta akses sama Oom Andre aja. Lebih mudah daripada minta sama kamu.”

“Jangan dikit-dikit bawa papa, dong!” pinta Nanda sambil menatap wajah Ayu.

“Nggak. Aku nggak akan bawa Oom Andre kalau kamu bisa kelarin urusan kita tanpa membuatku menyerang orang tuamu,” sahut Ayu sambil tersenyum manis.

Nanda menghela napas. “Kamu mau apa?”

“Pasword laptop kamu,” jawab Ayu sambil tersenyum manis.

“Ultahku,” jawab Nanda.

Ayu manggut-manggut. “Basicly banget,” celetuknya sambil memasukkan pasword ke laptop Nanda dan langsung membuka akses perusahaan tersebut.

Nanda menghela napas. Ia meletakkan makanan yang ada di tangannya dan bangkit dari sofa.

“Habisin makannya! Jangan menyinggungku karena aku bisa membuatmu kahilangan semua yang kamu miliki dalam sekejap,” pinta Ayu.

Nanda kembali menjatuhkan pantatnya ke sofa dan menyuapkan makanan ke mulutnya dengan cepat sambil menahan kesal di dalam dadanya. Memiliki istri yang terlalu cerdas, memang sangat berbahaya. Harusnya, ia tidak menikahi wanita seperti ini karena akan membuatnya tidak bisa berkutik ketika seorang istri ikut campur dalam urusan bisnis.

“Selain Arlita, siapa lagi perempuan yang kamu hidupi di luar sana?” tanya Ayu sambil melirik Nanda.

“Bukan urusan kamu,” sahut Nanda.

“Sekarang sudah jadi urusanku. Semua yang ada di hidupmu akan berhubungan dengan masa depan anak kita. Satu hal yang harus aku lakukan adalah menyelamatkan masa depan anakku. Waktumu untuk bersenang-senang sudah habis sejak malam itu. Semua yang kamu miliki sebagai bapak, akan diwariskan ke anakmu ini ‘kan?”

Nanda mengangguk.

“Termasuk wanita-wanita milikmu itu?”

“Maksudmu?” Nanda langsung menatap Ayu yang sedang memainkan laptopnya.

“Kalau kamu masih pelihara wanita-wanita di luar sana, warisin juga ke anakmu!” jawab Ayu.

Nanda terdiam mendengar ucapan Ayu. Ia mulai memikirkan ucapan istrinya itu. Ya, memiliki banyak wanita di luar sana adalah kebanggaannya di usia muda. But, ada saatnya ia harus mengakhiri semua itu. Hanya saja, ia tidak memiliki alasan yang tepat untuk meninggalkan kesenangan-kesenangan itu.

“You wanna be a dad. Aku tidak bisa menolak takdir kalau anak yang kulahirkan adalah keturunan darimu. Aku wanita baik-baik, terlahir di keluarga yang baik, dididik dengan baik untuk menjadi teladan yang baik juga untuk keturunan kamu. Kamu bukan hanya seorang suami. Kamu adalah seorang ayah dan juga leader untuk keluarga kita. Apa kamu berencana memberikan sepuluh Mom untuk anak kita?” tanya Ayu sambil menatap layar laptopnya.

Nanda menghela napas sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

“Aku sudah bisa menyingkirkan Arlita yang terus menggerogoti hartamu. Bersihkan perempuan-perempuan kecilmu yang lain sebelum aku yang bertindak!” pinta Ayu.

“Kamu ...!? Diam-diam kamu berbahaya, ya? Aku nggak nyangka kamu setega ini.”

“It’s your fault!” sahut Ayu. “Kamu menghancurkan semua impianku dan kamu harus membayar semuanya!” tegasnya.

Nanda terdiam sambil memijat keningnya yang berdenyut. Apa pun yang keluar dari mulutnya, semua akan menjadi kesalahan di hadapan Ayu. Berdebat dengan dia, tidak akan pernah ada habisnya. Tidak tahu apa yang bisa ia lakukan untuk membuat Ayu tunduk terhadapnya dan berhenti menyelidiki semua hal yang ia lakukan.

 

((Bersambung...))

 

Terima kasih sudah menghargai semua karya author!

Semoga, author bisa menjadi sahabat setia bercerita dan memberikan hiburan yang baik untuk pembaca.

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

 

 


0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas