Thursday, July 7, 2022

Bab 13 - Pembalasan dari Roro Ayu

 






“Tante, kasih aku kesempatan buat tinggal di sini! Aku belum dapet tempat tinggal baru, Tante,” pinta Arlita sambil menatap wajah Nia dan Roro Ayu yang ikut di belakangnya.

“Gimana mau dapet kalau kamu nggak nyari?” tanya Ayu sambil menatap wajah Arlita.

Arlita langsung menatap tajam ke arah Ayu. Benih kebencian di dalam hatinya tiba-tiba muncul ketika Ayu merenggut semua yang seharusnya menjadi miliknya.

“Arlita, keluarga kami menolongmu, bukan berarti kamu harus terus menikmati kekayaan kami seperti ini terus. Sudah saatnya kamu mandiri. Nanda bukan lagi pacarmu dan semua harta yang dia miliki, sudah sah jadi milik Roro Ayu.”

“Tante, aku yang pacarnya Nanda dan kami saling mencintai. Kalau bukan karena Roro yang gatel, dia nggak akan menikahi Roro. Roro yang udah ngerebut Nanda dari aku, Tante. Selama ini hubungan kita baik dan Tante sayang sama Lita ‘kan?” Arlita menatap wajah Nia dengan mata berkaca-kaca.

Nia terdiam sambil melirik Roro yang berdiri di sisi belakangnya, ia tidak berani berkutik saat menantunya itu memintanya mengambil semua fasilitas yang diberikan Nanda untuk Arlita. Sebagai istri sah, Ayu memang berhak untuk mengambil semua itu. Terlebih, Nanda dan Arlita memang tidak memiliki ikatan pernikahan. Ia tidak mungkin mendukung Arlita yang hanya bisa menggerogoti dan menikmati fasilitas dari Nanda saja.

“Ay, kenapa kamu tega banget kayak gini sama aku?” tanya Arlita sambil menatap wajah Ayu dengan berlinang air mata. “Aku mau tinggal di mana kalau aku keluar dari sini?”

“Kamu juga biasanya tinggal di kos-kosan saat kamu belum pacaran sama Nanda. Sudah dienakin sama suamiku, ketagihan?” tanya Ayu.

“Harusnya aku yang jadi pemilik ini semua, Ay! Bukan kamu!”

“Kenyataannya, aku yang udah miliki semuanya! Karena kesalahan pacar kamu itu ... semua harta keluarga Perdanakusuma jadi taruhannya. Kamu berharap kalau aku dan Nanda bisa bercerai ‘kan? Aku juga seneng kalau bisa bercerai sama Nanda. Karena aku bisa dapetin semua harta keluarganya,” sahut Ayu sambil tersenyum manis.

“Kamu jahat, Ay!” ucap Arlita sambil menghapus air matanya.

“Yang jahat itu pacar kamu. Pacar kamu yang udah paksa aku buat melayani dia sampai aku hamil. Dia yang udah menghancurkan semua impianku. Semua harta yang dimiliki keluarga Oom Andre, nggak akan bisa membayar harga diri keluarga besarku!” sahut Ayu sambil menatap Arlita penuh keberanian.

“Ay, kamu cuma hamil dan Nanda sudah bertanggung jawab. Kenapa kamu masih jahat sama keluarganya Nanda? Tega banget mau bikin mereka miskin cuma karena hamil di luar nikah doang. Nggak mungkin kamu nggak menikmatinya saat Nanda nidurin kamu?” sahut Arlita.

PLAK!

Telapak tangan Ayu langsung mendarat di pipi Arlita. “Aku bukan kamu dan kamu tidak akan bisa menginjak harga diriku, Lit!”

Mulut Arlita ternganga lebar sambil memegangi pipinya yang memanas. “Kamu itu di luar sok malaikat, tapi dalamnya busuk dan jahat. Nanda harus tahu kalau dia sudah menikahi perempuan yang salah. Tante Nia, bukan aku yang morotin harta Nanda, tapi perempuan ini!”

Ayu menghela napas sambil memutar bola matanya. “Kamu masih cari pembelaan, Lit? Nevermind. Aku malah berharap kalau Nanda pilih kamu dan segera menceraikan aku. Dengan begitu, aku bisa dapetin perusahaan dan semua aset kekayaan keluarganya. Kamu nganggur, loh. Kalau Nanda jadi pengangguran juga, kamu masih mau sama dia?” tanya Ayu sambil tersenyum manis.

“Kamu ...!?” Arlita mendelik ke arah Ayu. Ia berusaha menyerang Ayu, namun dua orang bodyguard yang ada di belakangnya, langsung melindungi Ayu dari serangannya. “Awas kamu, Ay! Aku nggak akan biarin kamu hidup bahagia sama Nanda!”

Ayu hanya mengedikkan bahu sambil menatap santai ke arah Arlita.

“Arlita, kamu harus tahu sedang berhadapan dengan siapa. Roro Ayu ini bukan wanita sembarangan, masih cucu Keraton Solo. Anak tante memang sudah melakukan kesalahan karena berani merenggut kesucian puteri mereka dengan paksa. Keluarga kami harus menerima hukum adat yang sudah diputuskan oleh mereka. Harta keluarga kami menjadi taruhannya. Jadi, mengertilah keadaan kami! Kalau kamu sayang sama Nanda, tinggalkan dia!” pinta Nia sambil menatap wajah Arlita.

“Ayu, kamu masih cinta sama Sonny ‘kan? Kenapa malah mengikat Nanda seperti ini? Dengan bercerai dengan Nanda saja, kamu sudah bisa kembali ke cowok yang kamu cintai. Kenapa harus ngambil semua harta Nanda?” tanya Arlita. “Kamu jahat, Ay!”

“Aku sudah bilang kalau semua harta yang dimiliki Nanda, tidak cukup untuk membayar harga diriku, Lit. Aku bukan perempuan miskin yang bergantung hidup sama laki-laki. Tanggung jawab Nanda, bukan sekedar menikahiku saja. Ada banyak banyak tanggung jawab yang harus dia lakukan untukku. Memberiku nafkah lahir dan batin. Dan kamu tahu ... nafkah batin yang seharusnya dia berikan untukku adalah meninggalkan kamu dan wanita-wanita simpanannya yang lain,” sahut Ayu tak mau kalah.

Arlita terdiam menatap wajah Ayu. Ia memang tidak pernah mempermasalahkan ada berapa banyak wanita yang ada di sisi Nanda. Asalkan semua kebutuhannya terpenuhi, ia akan menerima dan melayani pria itu dengan baik. Bahkan, ia bisa dengan senang hati memberikan wanita lain untuk Nanda saat ia sedang tidak bisa melayani pria itu karena datang bulan.

“Aku nggak mau ada wanita lain yang menggunakan fasilitas dari suamiku. Mau dia kasih apa pun ke kamu, kamu bisa nolak ‘kan? Kamu cantik dan seksi. Bisa cari pria lain yang kaya raya dan bisa menghidupimu ‘kan? Tapi bukan Nanda. Kalau kamu masih tidak mau melepaskan Nanda, aku akan buat kalian semua jadi gembel di kota ini!” tegas Ayu sambil berbalik dan melangkah pergi.

“Ayu, kamu ini bener-bener jahat, ya!?” seru Arlita.

“Karena aku jahat, sebaiknya kamu keluar dari apartemen ini sebelum orang-orangku menyeretmu dengan paksa!” sahut Ayu sambil melangkah keluar dari pintu Apartemen.

Nia menghela napas dan mengikuti langkah Roro Ayu. Ia benar-benar tidak menyangka jika menantunya itu memiliki keberanian untuk menghadapi wanita-wanita yang ada di sisi Nanda dan menyingkirkannya satu per satu. Meski terlihat kasar dan jahat, ia harap Roro bisa mengubah hidup puteranya. Menjadi pria yang bertanggung jawab dan berhenti bermain-main dengan banyak wanita di luar sana.

Roro menghela napas lega saat ia sudah masuk ke dalam mobil bersama Nia. Ia langsung mengambil air mineral dan meminumnya. “Tante, sebenarnya aku nggak tega sama Arlita. Aku kenal dia sejak kami masih SMP. Dia memang nggak kerja dan ... keluarga dia di kampung, keadaannya nggak begitu baik. Sayangnya, dia memilih untuk menjadi wanita simpanan dan cuma morotin duit Nanda doang.”

“Tante juga nggak tahu kalau Arlita kerjaannya seperti itu. Yang tante tahu, dia itu model.”

Ayu menghela napas. “Yah, aku sudah tahu dari awal. Saat itu aku nggak peduli karena aku tahu dari Sonny kalau Nanda juga kelakuannya sama aja sama dia. Mereka sebenarnya cocok sih, Tante. Aku sama Nanda yang nggak cocok. Apa aku sama dia cerai aja, ya? Aku nggak tahan diduain terus meski aku nggak begitu sayang sama dia.”

“Jangan gitu, dong! Kamu jangan ngomong cerai, ya!” pinta Nia lembut.

“Kenapa? Tante takut kehilangan semua harta Tante Nia?”

Nia menggigit bibir bawahnya sambil menatap wajah Ayu. “Harta bisa kami cari lagi, Ay. Tapi ada hal lain yang membuat Tante tidak menginginkan perceraian di antara kalian. Kamu wanita baik yang dikirim Tuhan untuk mengubah hidup putera tante. Tante mohon, beri kesempatan untuk Nanda memperbaiki hidupnya dan bertanggung jawab pada keluarga!” pintanya lembut.

Ayu mengangguk. Ia tidak memiliki alasan untuk menolak lagi. Toh, ia sudah terikat pernikahan dengan Nanda dan ia tidak mungkin bisa membenci pria yang akan menjadi ayah untuk anaknya. Ia melakukannya bukan untuk Nanda, tapi untuk anak yang sedang ia kandung. Ia ingin, saat anak itu terlahir ... dia melihat ayahnya sebagai sosok yang baik dan menjadi panutan untuk masa depan. Bukan sebagai don juan yang memiliki banyak wanita dalam hidupnya.

 

((Bersambung...))

 

Terima kasih sudah jadi sahabat setia bercerita!

Dukung terus karya-karya author biar makin semangat nulisnya!

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas