Book Author and Ambassador Novelme. Love to imagination, telling story and making money.

Thursday, February 4, 2021

2 Tahun Bersama Mamuja - Menjaga Kebersamaan Itu Tidak Mudah

 


03 Februari 2021.

Pagi-pagi sekali, tiba-tiba group dikejutkan dengan peringatan hari ulang tahun MAMUJA yang muncul di Facebook.
Dari delapan orang anggotanya, nggak ada yang ingat sama hari ulang tahun Mamuja kali ini. Entah, mungkin karena kesibukan masing-masing. Juga mungkin karena aku pernah bilang mau merayakannya saat peresmian Rumah Literasi Kreatif. Jadi, emang nggak diingat-ingat, hahaha.

Mamuja adalah salah satu komunitas divisi Literasi Finansial yang ada di taman bacaku. Aku bentuk satu tahun setelah aku mendirikan Rumah Literasi Kreatif pada 18 Februari 2018.


Alhasil, karena nggak ingat .. cuma beli kue ulang tahun doang. Itupun karena aku sekalian keluar nyari kayu. 

Akhirnya, kami harus merayakan tahun kedua kami dengan cara yang sangat sederhana. Mmh ... sebelumnya juga sangat sederhana, sih. Kami ini orang kampung, makan daun singkong dan iwak asin saja sudah merasa mewah. Hehehe.

Meski dalam kesederhanaan, tapi kami tetap bersama-sama. Menjadi teman dalam suka dan duka. Meski tak punya banyak uang, asal bisa bersama-sama menikmati kebersamaan.

Tak terasa, dua tahun sudah aku membersamai Mamuja. Salah satu komunitas ibu-ibu kreatif yang kami bentuk secara mandiri. Bergerak dengan dana pribadi yang kami mampu untuk tetap bisa berkarya dan menginspirasi masyarakat di sekitar.

Kami bukan satu-satunya komunitas di desa ini. Kami hanya sebagian kecil yang ada di sini. Tidak banyak yang bisa kami lakukan, hanya bisa mencoba menjadi orang yang bermanfaat dan berguna bagi orang lain.

Setiap kali melihat semangat ibu-ibu ini ... aku selalu terharu. Banyak suka dan duka yang sudah kami lalui. Mungkin, orang hanya melihat sukanya saja. Tapi tidak tahu bagaimana kami berjuang hingga sampai di titik ini.

Dengan banyak hal yang harus kami hadapi, mereka tetap solid, tetap bersama dan menemani langkahku berjuang hingga detik ini. 

Terkadang, ada sebuah pertanyaan yang kerap mendera. Untuk apa aku memperjuangkan orang lain hingga sampai seperti ini?

Jawabannya, karena kebahagiaan dan obat dari rasa sakit yang teramat dalam. Aku bahagia melihat orang lain, ingin membuat mereka bisa merasakan kebahagiaan. Sebab, merasakan hidup menderita dan dikucilkan di masyarakat adalah salah satu hal yang membuat hidup tidak nyaman.

Awalnya, aku sudah merasa tidak percaya diri saat aku nggak tahu lagi harus membawa mereka ke mana. Berkoordinasi dengan pemerintah pun tidak akan ada hasilnya untuk komunitas pengepul sampah yang kecil seperti kami. Kalau menunggu bantuan, tidak akan ada kegiatan yang kita buat. Akhirnya, kami berinisiatif untuk mengumpulkan uang kas yang akan kita gunakan untuk kesejahteraan anggota nantinya.

Alhamdulillah ... hanya dengan modal 5rb per pertemuan ... sekarang sudah bisa memiliki uang kas di atas 2 juta rupiah dan menjadi modal bagi Mamuja untuk mulai menjadi pelaku ekonomi kreatif. Saat ini, kami tidak perlu lagi memungut uang kas dari anggota dan tetap bisa berkarya, tentunya juga menghasilkan finansial.

Harapan saya, orang-orang ini tidak hanya membesarkan komunitas ini. Tapi juga bisa menjadi besar karena komunitas. Sebab, aku baru berhasil ketika mereka bisa merasakan manfaatnya, merasakan ilmu yang mereka dapat di Rumah Literasi Kreatif benar-benar berguna.

Untuk bisa menyamaratakan visi dan misi tidaklah mudah. Dari seratus orang, mungkin hanya ada 1 orang yang berjiwa sosial dan peduli dengan orang lain. Mereka adalah bagian dari orang-orang itu dan saya bersyukur dipertemukan dengan ibu-ibu muda yang begitu hebat.

Sebab, Mamuja memanglah sebuah komunitas sosial. Lebih banyak kegiatan sosialnya daripada kegiatan ekonominya. Tapi ... dengan kegiatan sosial kita bisa mendapatkan banyak hal. Hal yang tidak akan bisa dinilai dengan uang.

Uang sebanyak apa pun, akan habis dalam sekejap. Tapi ilmu yang kita dapat walau secuil, akan berguna untuk bekal dunia dan akhirat. 
Dengan berkegiatan sosial, kita mengenal banyak orang yang beragam. Memiliki profesi dan pola pikir yang berbeda pula. Bisa mendapatkan banyak ilmu yang mungkin saja tidak bisa dinilai dengan uang. Mendapatkan banyak pengalaman yang mungkin saja tidak bisa dinilai dengan harta yang hanya titipan.

Terima kasih Mamuja ...!
Kalian mengajarkan banyak hal padaku.
Mengajarkan kebersamaan, kekeluargaan.
Mengajarkan tentang bagaimana aku bisa menerima kekurangan orang lain.
Mengajarkan tentang bagaimana aku bisa menunjukkan kekuranganku pada orang lain.
Mengajarkan tentang sabar dan ikhlas dalam menghadapi hidup.
Mengajarkan tentang kekuatan dan keuletan dalam menjalani sesuatu.
Mengajarkan tentang semangat saat aku berada di titik terakhir hampir menyerah.
Mengajarkan tentang cinta dan kasih sayang yang bisa tumbuh meski tak punya pertalian darah.

Aku bahkan belum memberi apa-apa. Apa yang kuberikan tak sebanding dengan apa yang kuterima. Kalian sudah memberikan begitu banyak hal untukku. Pengalaman hidup yang tidak akan bisa aku beli dengan semua uang yang kuhasilkan seumur hidupku.

Terima kasih ... selama 2 tahun bersama dan tetap menjaga kebersamaan.
Suatu hari ... anak-anak kita akan bercerita tentang kita di masa depan. 
Tentang bagaimana kisah kita tertulis hingga 1000 tahun kemudian ...











0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas