Blog ini menceritakan tentang Kehidupan yang aku jalani. Keseharian yang ada dalam hidupku. Tentang cinta, tentang perjuangan dan pengorbanan, tentang rasa sakit dan tentang orang-orang yang ada di dalam kehidupanku. Tentang Desa Kecil dan gadis kecil yang mengabdikan hidupnya untuk masyarakat sekitar.

Saturday, March 21, 2020

Pecel Gorengan Legendaris di Beringin Agung




Hai ... hai ...!

Buat temen-temen yang tinggal di wilayah Desa Beringin Agung,   pastinya udah nggak asing dengan sosok yang satu ini. Siapa sih? Ya inilah sosok Mbah Mudin yang sudah terkenal sebagai penjual gorengan sejak aku masih kecil. Oh, No! Mungkin sejak aku belum dilahirkan.

Dari dulu sampe sekarang, rasa pecel dan gorengannya yang khas itu nggak pernah berubah. Dulu, setiap hari selalu langganan beli sama Mbah ini waktu masih sekolah. Dulu sih, belum banyak yang jualan di sekolah. Cuma Mbah ini aja. Nggak kayak sekarang yang makin banyak jajanan beragam di sekolah.

Sering kali, kita kangen sama pecel dan gorengan yang legendaris ini. Kenapa? Karena rasanya bener-bener mengingatkan pada masa-masa indah di bangku sekolah dasar.

Sampai sekarang, beliau masih berjualan di sekolahan. 
Hayo ngaku ... siapa yang makan gorengan lima biji, tapi bilangnya cuma tiga biji? wkwkwk ...
Alhamdulillah ... aku sih belum pernah ngisengin mbah ini. Mending aku bilang ngutang dulu daripada harus bohongin beliau. ( Asli, aku mah tukang ngutang gorengan sama Mbah ini )


 Beberapa waktu lalu, aku juga berbincang sama salah satu guru SMP. Yah, beliau juga bilang kalau Mbah Mudin sudah jualan pecel dan gorengan sejak dia masih kecil. 

Hmm ... kalau dihitung-hitung, beliau udah jualan pecel gorengan lebih dari 30 tahunan kali ya? Pasalnya, usiaku sekarang aja udah dua puluh delapan tahun.

Katanya, bagus tuh kalau kisah hidupnya dijadikan inspirasi dan masuk ke HITAM PUTIH-nya Trans7. Tapi, gimana caranya ya? Kayaknya harus ada pengajuan dulu buat ngajukan kisah hidup beliau yang masih konsisten jual pecel dan gorengan selama puluhan tahun. Pastinya, perlu dukungan dari orang-orang di sekitar juga.

Ah, itu cuma intermezzo dan khayalan nakal semata. Tak perlu ditanggapi serius!

Yang serius itu, pecel dan gorengannya selalu enak. Kalau jualannya di sekolah nggak habis. Biasanya, beliau akan berkeliling kampung supaya pecel dan gorengannya bisa habis.

Aku sering bertanya kalau lagi makan pecel buatan beliau.

"Mbah, sudah tua kok masih kuat jualan gorengan kayak gini? Masaknya jam berapa, Mbah?" tanyaku.
"Jam tiga subuh, Mbah sudah bangun bikin adonannya. Nanti, gorengnya di sekolahan," jawab Beliau.

"Oh ... sehat terus ya, Mbah!"

Aku tersenyum dan berharap beliau selalu diberikan kesehatan biar aku bisa sering-sering makan pecelnya. Bahkan, puteri kecilku juga pasti beli gorengannya mbah ini setiap kali Mbah Mudin lewat depan rumah. Dia nggak mau ketinggalan dan melewatkan gorengannya Mbah.

So, yang udah ngerasain pecel dan gorengan legendaris ini pastinya generasi turun-temurun. Mulai dari Mbahku, Mamaku sampe ke anak-anakku.

Kalian juga suka sama pecel dan gorengan mbah ini?

Bagi ceritanya di kolom komentar juga bisa, kok.



Salam manis,


@rin.muna



2 comments:

  1. Jualan sejak harga 25 perak dan smpai saat ini msih jualan....jd ingat saat msih putih merah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, bener banget. Dulu dikasih uang jajan 500 perak aja udah kenyang banget dapet ote2, pecel sama esnya Mbah Mudin. Hihihi ... kalo makan sambel kacangnya Mbah, pasti langsung ingat waktu lari-larian di sekolah EsDe

      Delete

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas