Thursday, November 9, 2017

Cerpen "Casual Love"


Aku duduk di salah satu meja restoran. Restoran yang terletak di pusat perbelanjaan ini sangat ramai dikunjungi orang. Bahkan aku bisa dengan jelas melihat orang yang berlalu-lalang untuk berbelanja atau hanya sekedar jalan-jalan saja. Aku perhatikan gadis-gadis yang lewat atau bahkan yang duduk di restoran itu juga. Zaman sekarang ini, banyak perempuan yang mengumbar auratnya, bahkan terkadang membuat bulu kudukku berdiri ketika melihat seorang wanita berpakaian super seksi. Hal yang normal untuk seorang laki-laki. Namun perasaan itu segera kutepiskan. Ada juga wanita yang berhijab tapi makeupnya menor banget, dengan alis cetar membahana seperti menggunakan spidol dan bibir merah merona. Dan masih banyak lagi kulihat wanita-wanita yang sedang ngikuti tren masa kini. Tren yang semakin gila kurasa. Kemudian, pandanganku tertuju pada salah satu meja panjang. Beberapa wanita baru saja duduk memesan makanan. Di saat semua sibuk dengan smartphone-nya. Salah satu wanita kulihat tidak memegang handphone. Dia hanya memperhatikan ke enam temannya yang sibuk sendiri dengan handphone. Sambil sesekali melihat ke arah meja resepsionis atau melihat ke sekeliling restoran. Bahkan pandangan mata kami sempat bertemu dalam sepersekian detik. 

Aku heran, ternyata masih ada gadis sesederhana dia? Bahkan ketika semua sibuk dengan gadget, dia asyik menikmati sekitarnya tanpa memegang gadget. Penampilannya juga sederhana, hanya dengan celana jeans warna biru dan kaos oblong putih yang sedikit longgar alias tidak ketat di badannya. Rambutnya lurus terurai hingga bahunya. Wajahnya terlihat alami tanpa make up. Memang dia tidak secantik teman-temannya yang menggunakan make up. Tapi, kesederhanaannya lah yang membuat hatiku terenyuh dan bahkan aku tidak mengalihkan pandanganku dari wajahnya. Ku perhatikan setiap gerakannya, bahkan senyumnya yang sangat manis ketika menanggapi candaan teman-temannya. Entah apa yang mereka bicarakan aku tak begitu mendengarnya karena jarak kami lumayan jauh. Ku lihat matanya memperhatikan sekeliling dan kali ini tepat bertatapan dengan mataku. Aku yang duduk sendirian di meja paling pojok. Tiba-tiba jantungku seolah berhenti berdetak, apa benar dia melihatku juga? Cukup lama dia tidak mengalihkan pandangannya. Dan itu membuatku jadi salting. Kemudian aku berpura-pura menyerutup minuman yang tersaji di atas meja untuk mengalihkan rasa saltingku. Tak berapa lama aku meliriknya kembali dan dia sedang menempelkan sebuah smartphone iphone 6s di telinganya. Sepertinya dia menerima telepon dari seseorang. Kemudian dia letakkan kembali smartphone itu ke dalam tasnya. Aku pikir dia sendiri yang tidak main handphone karena tidak punya. Ternyata dia punya lebih mahal dari teman-temannya yang hanya menggunakan smartphone android merk biasa. Wanita itu membuatku kagum dengan kesederhanaannya. Ah, entah kenapa aku jadi penasaran ingin mengenalnya atau sekedar menyapanya. Tapi, jantungku justru berdegup kencang. Telapak tanganku berkeringat, padahal aku masih duduk diam dan baru berniat untuk menyapanya. Perasaan apa ini? Aku belum pernah merasakannya. Aku yang biasanya begitu mudah menaklukan para gadis. Sekarang jadi tak berdaya. Apa aku jatuh cinta? Oh tidak! Tidak mungkin aku jatuh cinta dengan seorang gadis yang biasa saja. Bahkan menyapanya saja aku belum pernah. Aku mengetuk-ngetuk meja dengan ujung jemariku untuk menghilangkan rasa grogiku. Tak lama kemudian gadis itu bergegas pergi seorang diri dan meninggalkan teman-temannya. Aku pun segera menuju kasir untuk membayar makananku dan mengikuti langkahnya dengan santai agar tidak ada yang curiga kalau aku membuntutinya. Kulihat dia berjalan kaki keluar dari tempat parkir. Artinya dia pasti tidak naik kendaraan pribadi. Aku bergegas menstarter motorku dan mengejar langkahnya.
"Mba mau ke mana?" tanyaku setelah berada tepat di sisinya yang sedang menunggu kendaraan umum melintas.
"Mau pulang Mas." jawabnya.
"Mau saya antarkan?" tanyaku kemudian.
"Nggak usah Mas. Saya naik angkot aja." jawabnya sambil memberhentikan salah satu angkot yang kebetulan sedang melintas.

Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi dan membiarkannya pergi begitu saja. Entahlah, aku tak bisa mengendalikan jantungku yang berdegup sangat kencang ketika berbicara dengannya. Tak seperti biasanya yang dengan mudahnya merayu perempuan dan bikin mereka klepek-klepek. Kali ini dia sangat cuek, sepertinya dia sama sekali tidak tertarik dengan ketampananku ataupun dengan kendaraan yang kubawa. Biasanya nih, kalau cewek lihat cowok ganteng pake motor Ninja udah histeris duluan minta diboncengin. Tapi, kali ini perempuan yang aku temui cuek-cuek aja. Sepertinya dia tidak begitu tertarik denganku. Apa karena dia sudah punya pacar ya? Ah, pikiranku semakin kacau balau. Aku memacu motorku dan bergegas pulang ke rumah.
Sesampainya di rumah aku merebahkan diri ke atas tempat tidur. Sambil menatap langit-langit kamar, kubayangkan wajah dan senyumannya dari kejauhan. Pemandangan di restoran siang tadi terus terbayang di wajahku. Ah, tidak mungkin aku suka pada gadis yang biasa saja, gadis yang sangat casual. Semua perempuan yang aku kenal memiliki selera tinggi dan penampilan yang sangat menarik. Kenapa aku justru tertarik pada gadis yang biasa saja? Aku berjalan menuju balkon. Melihat beberapa orang lalu lalang membeli sate yang sedang ngetem tepat si seberang rumahku. Mataku kemudian tertuju pada seorang gadis yang baru keluar dari pintu rumah seberangku dengan mengenakan jaket warna hijau lumut. Itukan gadis yang aku temui tadi siang? Dia tetanggaku? Ternyata sangat dekat sekali.
“Emang kalau jodoh nggak kemana.” Celetukku sambil bergegas turun dari kamar dan langsung keluar rumah.
“Paklek, kenal nggak sama cewek yang barusan pake jaket hijau lumut?” tanyaku pada Paklek Sate langganan komplek.
“Oh,,, yang barusan beli sate?” tanya Paklek.
“Iya Paklek.”
“Lah kok tumben nanyain? Biasanya makan sate bareng di sini nggak pernah nanya.” Tanya Paklek heran.
Hah? Aku makin melongo. Apa iya gadis itu sering makan di sini juga? Apa aku yang nggak begitu perhatikan ya?
“Duduk aja dulu Mas, saya bikinkan satenya. Sebentar lagi gadis itu pasti ke sini lagi. Soalnya dia kalo beli di bawa pulang itu buat ibunya. Kalo dia pasti makannya langsung di sini.” Tutur Paklek.

Belum lima menit gadis itu benar-benar keluar dari rumahnya dan duduk tepat di sampingku, memesan satu porsi sate ayam. Kuperhatikan wajahnya dari dekat, aku seperti pernah melihatnya. Wajahnya familiar di ingatanku tapi aku tetap tidak tahu dia ini siapa. Atau memang aku yang sudah terlalu silau dengan penampilan wah seorang perempuan sehingga aku tidak pernah memperhatikannya.
“Mas, kok lihatin saya seperti itu?” tanya gadis itu.
“Eh,,, Nggak papa. Kamu tinggalnya di sini? Kok baru lihat ya?” tanyaku gugup.
Gadis itu tertawa. “Mas Aryo... Sering banget saya lihat Mas Aryo makan di sini. Bahkan di tempat makan yang lain juga. Ya nggak lihat lah orang Mas Aryo kalau makan kan sudah ada yang nemenin, cantik-cantik pula.”
“Ah masa sih? Kamu juga cantik kok.”
“Iya, karena aku kan perempuan. Kalau laki-laki pasti ganteng.” Sahutnya sambil meraih seporsi sate yang ia pesan.
“Serius. Kamu itu cantiknya alami.”
Gadis itu hanya tersenyum.
“Oh ya, nama kamu siapa?” tanyaku penasaran.
“Tetangga bertahun-tahun masa nggak ingat sama aku. Aku Sonya.” Jawab gadis itu.
“Hah!? Kamu beneran Sonya?” tanyaku kaget. Yang aku tahu Sonya itu tomboi, pake kacamata dan rambutnya selalu pendek seperti laki-laki. “Aku pikir kamu sepupu atau sodaranya Sonya, soalnya Sonya yang aku kenal nggak kayak gini.” Tuturku sambil memperhatikan setiap detil perubahan yang terjadi padanya. Dan kami pun asyik bercerita tentang banyak hal.
Hari-hari berikutnya aku lebih banyak menghabiskan waktu bersama Sonya. Dia perempuan yang sederhana, kami punya waktu bersama untuk jogging, makan siang bareng ataupun sekedar menemaninya pergi latihan. Sekali saja dia tidak pernah mengajakku ke mall. Belanja apa yang dia inginkan seperti perempuan-perempuan lain yang pernah kudekati. Beberapa panggilan telepon, sms, whatsapp dan sejenisnya dari wanita-wanita yang pernah kudekati tak lagi kuhiraukan. Ada yang marah-marah tanpa sebab karena sekian banyak chat hanya kubaca. Aku mulai malas meladeni mereka. Bukan pacar, hanya dekat saja. Tapi sering kali mengajakku jalan ke mall atau ke salon. Benar-benar dunia perempuan yang membosankan.

Aku lebih nyaman jalan dengan Sonya. Penampilannya simpel, sangat casual. Tidak pernah merengek dan bermanja-manja. Selalu ceria setiap bersamanya. Bahkan aku sama sekali tidak pernah mendapat telepon atau sms dari dia saat kami sedang tidak bersama. Justru tanganku yang gatal ingin terus meneleponnya. Terkadang dia marah saat menjelang tidur dan aku masih mengganggunya. Atau saat dia sedang jam belajar dan aku sibuk menelepon atau sms. Aku sering senyum-senyum sendiri mengingat wajah manyunnya saat ketemu sambil mengomel ‘Jangan telepon aku di jam belajar!’ atau ‘Jangan ganggu aku malam-malam!’. Sederhana sekali, tapi aku tidak pernah bisa melupakannya walau hanya sedetik.
“Son, kamu mau nggak temenin aku nonton? Ada film baru.” Ajakku memberanikan diri. Ini bukan pertama kalinya aku mengajaknya nonton. Selama 6 bulan kedekatan kami, dia selalu menolak jika ku ajak nonton atau sekedar makan malam di luar.
“Nggak ah, aku nggak suka nonton di bioskop.” Jawab Sonya.
“Jadi sukanya nonton di mana?” tanyaku.
“Nggak di mana-mana. Aku nggak tertarik nonton film, menghabiskan waktu 2 jam hanya untuk duduk manis mantengin layar film. Buat aku itu membosankan banget.” Celetuknya.
Aku terdiam sejenak. Berpikir. Apa yang disukai Sonya? Apa cuma makan malam di kedai sate keliling di depan rumah? Kan nggak keren banget kalau aku nyatain perasaanku di sini. Nggak romantis. Kira-kira ke mana ya Sonya mau kuajak jalan? Tempat yang tidak membosankan? Tempat yang selalu bikin ceria.
“Kamu pengen banget ya nonton film itu?” tanya Sonya yang menyadari lamunanku.
“Eh,,, nggak juga sih.” Jawabku sambil melahap sate yang sudah lama terhidang di depanku.
“Trus?”
“Aku pengen aja sekali-kali jalan bareng sama kamu. Nonton film, makan malam atau jalan-jalan ke tempat yang romantis.” Jawabku.
“Seperti cewek-cewek yang selalu kamu dekati? Aku bukan mereka Mas. Aku nggak suka pergi nonton, aku nggak suka makan malam berdua, aku nggak suka menghabiskan waktu jalan-jalan berdua aja. Sementara kita cuma diam. Cuma saling pandang kayak drama sinetron. Aku tipe orang yang suka keramaian. Ngumpul sama keluarga besar, sama teman-teman. Sekedar barbeque atau seru-seruan yang lain. Aku lebih senang jalan ke pasar malam, ke pantai, ke tempat outbond atau ....” ucapan Sonya terhenti saat aku dengan cepat meraih tangannya.
“Kenapa?”
“Kamu suka pasar malam kan? Ayo kita ke sana!” ajakku bergegas.
“Nggak sekarang juga, ini udah malam.”
“Baru juga jam tujuh.” Seretku sambil berlalu pergi. Tak lupa aku tinggalkan uang untuk bayar 2 porsi sate yang sudah kami makan.
“Kembaliannya Mas!” teriak Paklek.
“Ambil aja.”
Aku bergegas masuk ke halaman rumah untuk mengambil mobil.
“Nggak usah pake mobil Mas. Kan pasar malam dekat aja di lapangan komplek. Kita jalan kaki aja lebih seru.” Ucap Sonya saat aku memintanya naik ke mobil.
Aku melongo mendengar ucapan Sonya. Bergegas aku kembalikan mobil ke garasi dan berlari masuk rumah untuk mengambil kunci. Mama dan Papa sempat bertanya karena aku terlihat terburu-buru.
“Pa, aku pinjem jaket Papa.” Aku langsung meraih jaket Papa yang ia letakkan di atas kursi ruang keluarga.
“Kamu kenapa kok terburu-buru begitu?” tanya Papa.
“Mau jalan Pa sama Sonya.”
“Tapi kenapa harus lari-lari gitu. Badan kamu kan bisa berkeringat. Masa jalan sama cewek badannya keringatan kan bau.” Celetuk Mama.
Aku mencium kedua ketiakku bergantian untuk memastikan badanku tidak bau. “Masalahnya Sonya ngajak jalan kaki aja. Nggak mau pake mobil atau motor. Tadi sudah ambil mobil dan harus Aryo balikin lagi ke garasi.” Aku langsung bergegas pergi setelah jaket papa terpasang di tubuhku.
“Lama ya?” tanyaku pada Sonya yang masih menunggu di pekarangan rumah.
Sonya menggeleng. Kami segera bergegas menuju lapangan komplek perumahan yang sedang ada pasar malam. Pasar malam ini selalu berpindah. Terkadang beberapa bulan lagi baru ada di komplek kami. Dan lamanya hanya seminggu. Aku lihat dia sangat asyik mencoba beberapa kuliner sambil terus minta di foto. Juga mencoba semua permainan yang ada. Ini kali pertama aku ke pasar malam lagi setelah 15 tahun tidak pernah menginjakkan kaki di pasar tradisional penuh keceriaan ini. Ini juga pertama kalinya aku merasa sangat bahagia. Tertawa dan berteriak sepuasnya. Bahkan tanpa sadar kami saling berangkulan dan bergandengan tangan dengan asyiknya. Mungkin Sonya tidak sadar karena saking senangnya. Biasanya ia paling tak mau aku menyentuh tangannya, apalagi sampai bergandengan dan berangkulan seperti ini.
“Capek banget.” Tutur Sonya saat kami berjalan pulang. Ia duduk di trotoar sambil meminum es cendol.
“Masih kuat jalan?” tanyaku yang melihat napasnya tersengal.
“Masih lah. Bentar aku habisin amunisiku dulu.” Tuturnya sambil menyerot es cendol sampai habis dan segera berdiri kembali.
“Aku bahagia banget malam ini. Makasih ya!” ucap Sonya memegang pundakku sambil berjalan beriringan.
“Iya sama-sama. Aku juga bahagia bisa ngabisin waktu malam ini sama kamu dan lihat kamu bahagia banget.”
Sonya tertawa kecil. “Aouw...!” aku terkejut mendengar teriakan Sonya yang terjerembab di selokan. Selokan ini sudah ditutupi dengan besi sehingga bisa dipakai untuk berjalan. Tapi, ada beberapa besi yang sudah patah dan membuat berlubang. Kaki kiri Sonya tepat masuk ke dalam sela-sela besi yang rusak. Aku bergegas menarik kakinya keluar dari selokan. “Sakit.” Ucapnya kemudian setelah ku lihat beberapa goresan di kakinya. Sepertinya besi-besi selokan yang rusak melukai kakinya.
“Bisa berdiri?” tanyaku sambil memapahnya untuk berdiri.
“Bisa kayaknya, cuma lecet-lecet aja kok.” Jawab Sonya sambil berusaha berdiri. “Aduh, sepertinya kaki kanan aku yang keseleo saat nahan tadi.” Tuturnya kemudian.
“Ya udah sini aku gendong.” Tuturku sambil berjongkok menawarkan punggungku.
“Nggak usah. Kaki kiri aku masih bisa dipakai jalan kok, cuma lecet-lecet aja.”
“Udah, cepet naik! Kalau jalan sendiri nanti lama sampe rumahnya. Ini udah jam setengah 12 loh. Nanti Mama sama Papa kamu marah pulangnya kemalaman.”
Tanpa protes lagi Sonya langsung naik ke punggungku. Aku berjalan perlahan, tubuh Sonya semakin lama semakin berat.
“Kamu berat banget sih.” Celetukku. Tidak ada respon dari Sonya. Ternyata dia tertidur, mungkin karena kelelahan.
“Kalian darimana?” orang tua Sonya sudah menunggu dan panik karena sudah malam mereka belum pulang juga.
“Tadi Sonya pengen ke pasar malam tante. Jadi saya ajak ke sana jalan kaki.” Jawabku sambil menidurkan Sonya di sofa ruang tamu.
“Itu kenapa kaki Sonya berdarahan?” tanya Papa Sonya.
“Tadi dia terjerembab di selokan Om. Kakinya lecet kena besi selokan yang rusak.” Jawabku.
“Kok bisa? Kamu ngajak jalan anak saya nggak bisa jaga dia.” Sentak Papa Sonya.
“Sudah Pa, jangan di marahin!” pinta Mama Sonya.
“Yo, tolong pindahin Sonya ke kamarnya ya di lantai dua. Soalnya tante sama Om pasti nggak kuat gendong dia lagi.” Pinta Mama Sonya. “Bi, bawakan air hangat sama handuk ke kamar Sonya ya!” pintanya kemudian pada asisten rumah tangga mereka.
Aku bergegas membawa Sonya yang masih tertidur ke kamarnya diikuti dengan langkah Bibi Sarti.
“Ini Mas air sama handuknya.” Bibi Sarti menyodorkan ember kecil berisi air hangat setelah aku selesai meletakkan tubuh Sonya di atas kasur.
“Ada obat bi?” tanyaku sambil membersihkan luka di kaki kiri Sonya.
Bibi Sarti mengangguk dan bergegas pergi mengambil obat.
“Aouw..!” teriak Sonya terbangun. “Perih.” Katanya saat aku menempelkan handuk hangat untuk membersihkan lukanya.
“Aku kok sudah di sini?” tanyanya sambil mengangkat tubuhnya untuk duduk.
“Kamu tadi ketiduran. Capek banget ya? Tidurnya sampai ngorok loh.” Ucapku bercanda.
Sonya hanya tersenyum menganggapi candaanku. Aku masih terus membersihkan kaki Sonya dengan teliti. Bibi Sarti sudah kembali dengan membawa kotak obat dan berlalu pergi lagi. Sonya meringis menahan sakit saat aku memberikan cairan iodine pada lukanya.
“Aku nggak bisa urut kaki kanan kamu. Nggak ngerti caranya. Besok aku panggilkan tukang urut buat urut kaki kamu yang keseleo ya.” Tuturku kemudian.
“Makasih ya Mas.”
“Aku yang makasih sama kamu. Karena malam ini adalah malam paling bahagia yang aku punya seumur hidupku.”
“Gombal.”
“Kok Gombal sih?”
“Iya, bukannya bahagia itu kalau makan malam romantis sama cewek-cewek cantik di kota ini? Setiap jalan sama cewek selalu bilang hal yang sama.”
“Suer deh, baru sekali ngomong gini sama kamu doang.”
“Kenapa cuma sama aku doang? Bukannya Mas Aryo sudah...” ucapan Sonya terhenti ketika dengan spontan aku meletakkan jari telunjuk di bibirnya.
“Karena kamu beda. Gayamu yang casual, hari-harimu yang casual, hidupmu yang casual dan selera casual kamu bikin aku bener-bener jatuh cinta sama kamu. Bisa saja aku jatuh cinta sama Shinta, cewek yang super cantik bak model dengan dandanan yang supermodis. Tapi itu tidak terjadi. Tuhan menjatuhkan cintaku sama kamu. Cewek casual yang bikin aku gelisah dan uring-uringan setiap hari. Aku tau ini bukan tempat yang tepat untuk nyatain perasaan aku. Aku nggak pernah berhasil ngajak kamu makan di restoran yang romantis. Tapi ini saat yang tepat untuk aku tau gimana perasaan kamu sama aku. Kamu mau kan jadi ...” ucapanku terhenti. Aku bingung harus bilang apa. Jadi pacar? Jadi istri? Jadi pendamping hidup? Jadi teman hidup? Atau apa ya yang keren dan mengesankan.
“Jadi apa Mas?” tanya Sonya sambil memandangi wajahku.
Aku gugup untuk mengatakannya. “Aku bingung jadi apa ya?” kataku nervous. “Kalau jadi istri nggak mungkin, kamu kan masih kuliah. Kalau jadi pacar, rasanya aneh karena aku sudah dewasa. Kata pacar kan cocoknya buat anak remaja. Kalau jadi pendamping hidup, nggak keren. Bibi Sarti pun bisa dampingin hidup aku dari kecil sampai sekarang. ...” Kataku terus nyerocos.
Sonya tertawa mendengar pernyataanku.
“Kok malah tertawa?”
“Lucu aja. Mas Aryo yang terkenal playboy dan don juan nggak ngerti nyatain cinta kayak gimana?” katanya sambil tertawa.
“Lah, kamu cinta nggak sama aku?” tanyaku kemudian.
“Nggak tau.”
“Kok, nggak tau?”
“Yah, kan tadi Mas Aryo belum selesaikan pertanyaan yang pertama? Aku mau dijadikan apa? Dijadikan pembantu kayak Bi Sarti?” tanyanya.
Aku menggeleng. Menggaruk kepalaku yang tidak gatal. Kali ini aku benar-benar keki. Sonya memang tidak suka basa-basi. Selalu to the point dan bikin aku salting nggak karuan. Aku masih berpikir sampai dapat kata-kata yang tepat untuk kukatakan.
“Jadi?” tanya Sonya lagi.
Aku menggenggam kedua tangan Sonya sambil menarik napas sebelum aku akhirnya mengatakan “Kamu mau kan jadi satu-satunya wanita yang aku cintai seumur hidupku?”
Sonya tersenyum “Kalau itu aku mau.” Jawabnya kemudian.
“Beneran?” tanyaku kegiarangan sampai-sampai tak sengaja aku menyenggol kaki Sonya dan membuatnya mengaduh kesakitan.
“Sampai ketemu besok ya. Tidur yang nyenyak! Aku pulang dulu,” ucapku sambil bergegas pergi meninggalkan rumah Sonya dengan senyum sumringah yang tidak dapat kusembunyikan dari siapapun.


______________________________
🅒 Copyright.
Karya ini dilindungi undang-undang.
Dilarang menyalin atau menyebarluaskan tanpa mencantumkan nama penulis.




0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas