Wednesday, February 11, 2026

Perfect Hero Bab 387 : Gigit Koin dalam Beras

 


“Nyonya muda, ini pesanan Nyonya.” Riyan langsung menghampiri Yuna sambil membawa tiga buah nampan, beras dan uang koin yang diminta oleh Yuna.

 

Yuna langsung bangkit dari tempat duduk. Ia menghampiri seorang pria pemilik tempat latihan tersebut dan membisikkan sesuatu di telinganya.

 

Pria itu mengangguk sambil mengacungkan jempol.

 

“Makasih ...!” Yuna berbalik menghampiri Riyan.

 

“Yan, bantu aku ya!” pinta Yuna.

 

Riyan menganggukkan kepala.

 

“Berasnya, dibagi ke tiga nampan ini!” perintah Yuna sambil menyodorkan nampan berbentuk bundar ke hadapan Riyan.

 

Riyan meletakkan nampan tersebut di atas meja.

 

“Yun, kamu mau bikin apa?” tanya Jheni.

 

“Bikin lomba tujuh belasan,” jawab Yuna santai sambil menghitung uang koin yang ada di tangannya.

 

“Mau lomba makan beras? Kamu ini, jangan aneh-aneh deh!”

 

Yuna tertawa kecil. “Ini ... baru lomba yang bakal seru untuk tiga tuan muda yang manja itu. Sayangnya, Lutfi masih sakit. Kalo ada dia, pasti lebih seru lagi.”

 

Jheni tertawa kecil. Ia memerhatikan Yuna yang memasukkan koin ke dalam beras yang ada di nampan tersebut.

 

“Perlombaan sudah siap!” seru Yuna sambil menunjukkan meja yang ada di sebelahnya.

 

Yeriko dan dua sahabatnya langsung menoleh ke arah Yuna.

 

“Lomba apaan?” tanya Satria sambil menatap tiga nampan berisi beras yang ada di atas meja. “Mau nyuruh kami lomba makan beras?”

 

Yuna menganggukkan kepala. “Nggak makan beras. Lebih tepatnya, lomba nyari koin di dalam beras ini,” jawab Yuna sambil tersenyum.

 

Ketiga pria itu saling pandang selama beberapa saat.

 

“Kenapa? Nggak berani?” tanya Yuna.

 

“Yer, otaknya istrimu ini terbuat dari apa?” bisik Satria.

 

Yeriko mengedarkan pandangannya, kemudian melihat wajah Yuna. “Sat, di sini nggak rame, kok. Ikuti aja maunya istriku!” pinta Yeriko berbisik.

 

“Kamu ...!?” Satria mendelik ke arah Yeriko. Ia menoleh ke arah Chandra yang terlihat sangat tenang.

 

“Chan ...! Kamu mau kayak gini?” bisik Satria.

 

“Kamu bisa ngelawan kemauan Yeriko?” balas Chandra berbisik.

 

Satria menahan geram.

 

“Kenapa? Takut sama beras?” tantang Jheni sambil menatap Satria.

 

“Siapa yang takut?” sahut Satria.

 

Jheni memberi isyarat dengan kepalanya agar tiga pria itu segera berdiri di depan meja.

 

Ketiga pria itu berdiri di depan meja. Jheni langsung mengikat tangan mereka di belakang badan.

 

“Kenapa diikat?” tanya Satria.

 

“Nggak boleh pake tangan,” jawab Jheni.

 

“Terus? Pake apa?” tanya Satria.

 

“Pake mulut,” jawab Yuna.

 

“APA!?” seru Satria.

 

Yuna dan Jheni menahan tawa. Mereka berdiri di seberang ketiga pria tersebut untuk menjaga mereka.

 

“Jhen, mau ditaruh mana muka gantengku ini!?” seru Satria.

 

“Taruh aja di situ!” sahut Jheni.

 

“Awas kamu ya! Abis ini, aku bakal bikin permainan yang lebih seru lagi buat kalian berdua!” ancam Satria.

 

Yuna dan Jheni hanya tersenyum menanggapi ucapan Satria.

 

“Waktunya enam puluh detik ya! Yang paling banyak ngumpulin koin, dia yang menang,” tutur Yuna.

 

Tiga ...

 

Dua ...

 

Satu ...

 

“Mulai ...!” seru Jheni sambil menekan stopwatch di ponselnya.

 

Ketiga pria itu langsung mencari koin di dalam beras menggunakan mulutnya. Wajah mereka berubah seketika menjadi putih karena Yuna dengan sengaja menambahkan tepung ke dalamnya.

 

“Aseem ...!” seru Satria setelah mendapatkan satu koin dari jilatan lidahnya.

 

Yuna dan Jheni tergelak melihat tiga pria tampan yang kini wajahnya tak berbentuk lagi.

 

“Ayo ...!”

 

“Ayo ...!”

 

“Ayo ...!”

 

Seketika, mereka menjadi pusat perhatian semua orang yang ada di tempat itu. Mereka semua menonton perlombaan gigit koin dalam beras yang dilakukan oleh tiga pria tampan itu.

 

Yuna menahan tawa saat melihat Yeriko ragu-ragu menyentuhkan bibirnya ke beras. “Ayo, sayangku! Harus menang!” seru Yuna sambil menatap wajah Yeriko.

 

Yeriko melirik ke arah istrinya. Ia bergegas mengejar ketertinggalannya. Buru-buru mencari koin lebih banyak untuk menyenangkan hati istrinya itu.

 

Semua orang terus berteriak memberi semangat. Sampai akhirnya, waktu mereka habis.

 

“Jhen, kamu hitung punya Chandra. Riyan hitung punya Satria. Aku hitung punya suamiku,” tutur Yuna sambil meraih gelas berisi koin yang ada di meja tersebut.

 

Jheni dan Riyan menganggukkan kepala. Mereka mulai menghitung koin yang didapat oleh ketiga pria tersebut.

 

“Lepasin tanganku!” pinta Satria.

 

Beberapa orang yang ada di sana, membantu melepas ikatan tali yang ada di tangan ketiga pria tersebut.

 

“Yeay ...! Chandra pemenangnya!” seru Jheni. Ia melompat kegirangan sambil memeluk tubuh  Chandra.

 

Yuna memonyongkan bibirnya. “Kita kalah lagi,” ucapnya tak bersemangat.

 

“Nggak papa. Cuma permainan,” tutur Yeriko sambil membersihkan wajahnya menggunakan tisu yang ada di atas meja tersebut.

 

“Aku ke toilet dulu!” tutur Satria sambil melangkah pergi. Chandra dan Yeriko mengikuti langkahnya dari belakang. Mereka bergegas masuk ke dalam toilet pria untuk mencuci wajahnya.

 

“Istri kalian ini bener-bener nggak punya perasaan!” dengus Satria sambil menatap wajahnya di cermin.

 

Yeriko tertawa kecil. “Tapi, seru juga sih.”

 

“Seru apanya? Muka jadi begini. Tadi, ada yang videoin kita atau nggak ya?” tanya Satria.

 

“Banyak,” jawab Chandra santai.

 

“Aih, bakal rame lagi di instagram. Anak Walikota yang super ganteng ini, tiba-tiba jadi badut kayak gini,” tutur Satria sambil mengelap wajahnya menggunakan handuk miliknya.

 

 “Hahaha.” Yeriko tergelak.

 

“Kamu nggak malu, Yer?” tanya Satria.

 

Yeriko menggelengkan kepala. “Malu kenapa?”

 

“Mukamu dilihat banyak orang dalam keadaan kayak gini.”

 

“Mau diapain lagi? Waktu latihan militer, mukaku jauh lebih buruk dari ini.”

 

“Beda, Yer!” sahut Satria kesal. “Latihan militer, nggak ada mata kamera di mana-mana.”

 

“Anggap aja nggak ada,” tutur Chandra.

 

“Eh, kalian berdua ini udah diracuni sama cinta? Sampe mau jadi jelek kayak gini buat nyenengin wanita kalian itu?”

 

Yeriko dan Chandra hanya tersenyum kecil menanggapi ucapan Satria. Setelah memastikan wajah mereka bersih kembali, mereka bergegas keluar dari toilet.

 

“Woii ...! Kebiasaan, main tinggalin aja!” seru Satria. Ia ingin mengejar langkah Yeriko, namun panggilan alam menghentikan langkah kakinya. “Duh, malah mau pipis.” Ia kembali masuk ke dalam toilet.

 

Yeriko dan Chandra melangkah santai mendekati Yuna dan Jheni.

 

“Ay, lihat deh!” Yuna menghampiri Yeriko sambil menunjukkan rekaman video yang ada di ponselnya. “Kalian lucu banget. Hahaha.”

 

Yeriko ikut tertawa melihat rekaman video tersebut. “Chan, jeleknya mukamu!” serunya sambil tertawa terbahak-bahak.

 

“Sama aja. Kamu juga.”

 

“Eits, lihat! Aku tetep ganteng walau kayak gini,” sahut Yeriko.

 

“Lihat mukanya Satria! Astaga! Hahaha.” Chandra tertawa lebar sambil memegangi perutnya.

 

“Kalo dia tahu ini ... bisa dibanting ini hape,” tutur Yeriko sambil menahan tawanya.

 

“Eh, harusnya ... yang perempuan juga lomba kayak gini. Lumayan pake masker beras, nggak usah ke salon lagi,” tutur Chandra sambil menatap wajah Jheni dan Yuna.

 

Yuna memonyongkan bibirnya.

 

“Nggak mau!” sahut Jheni dan Yuna bersamaan.

 

“Kompak banget,” tutur Chandra sambil memutar ulang video tersebut. Ia dan Yeriko tertawa bersamaan.

 

Chandra menatap wajah Yeriko sejenak. Sudah lama, mereka tidak pernah tertawa sebahagia ini. Kehadiran Yuna dan Jheni, berhasil membuat dunianya jauh lebih indah.

 

“Eh, simpan hapenya!” pinta Chandra sambil mematikan layar ponsel Yuna dan memberikannya pada Yeriko saat Satria melangkah ke arah mereka.

 

“Kalian lagi pada ngetawain apa?” tanya Satria.

 

“Nggak ada,” jawab Chandra santai.

 

Satria langsung duduk santai di kursi sambil mengeluarkan rokok dari sakunya.

 

“Jangan ngerokok di dekat istriku! Dia lagi hamil,” pinta Yeriko.

 

“Ck.” Satria berdecak dan mencari tempat duduk yang lebih jauh dari Yuna.

 

Yeriko tersenyum kecil. Ia merangkul lengan istrinya sambil mengajaknya duduk bersantai di tempat tersebut bersama Chandra dan Jheni.


((Bersambung...))



 

 

 

 

 

 

Perfect Hero Bab 386 : Romantic Arrow

 


“Yeriko ...! Akhirnya, datang juga. Udah lama nggak lihat kamu main panah,” sapa Satria begitu Yeriko dan Yuna menghampiri mereka.

 

“Berlebihan,” gumam Yeriko. Ia langsung duduk di kursi sambil menatap beberapa orang yang juga berlatih panah.

 

“Udah dari tadi, Jhen?” tanya Yuna sambil menghampiri Jheni.

 

“Nggak juga. Baru nyampe lima belas menit yang lalu.

 

“Mereka beneran mau lomba memanah?” tanya Yuna.

 

Jheni menganggukkan kepala. “Buat seru-seruan aja.”

 

“Hah!? Seru-seruan mereka kayak gini? Apa serunya main anak panah?” gerutu Yuna.

 

Jheni memerhatikan tiga pria yang berdiri tak jauh darinya. “Mungkin, buat mereka seru.”

 

“Huft, selera pria memang aneh. Terus, kita disuruh nontonin mereka doang?”

 

“Kalau kamu mau ikut manah. Manah aja!” sahut Jheni.

 

Yuna mengedikkan bahunya. “Aku nggak bisa manah. Cuma bisa marah.”

 

“Marah sama siapa? Yeriko?”

 

“Sama kamu,” jawab Yuna sambil mencebik.

 

“Cepet keriput kalo marah-marah mulu,” tutur Jheni. Matanya menatap tiga pria yang mulai memainkan busur dan anak  panah di tangannya.

 

“Yun ...!” panggil Jheni tanpa mengalihkan pandangannya dari tangan Chandra yang sedang menarik busur panahnya.

 

“Hmm.”

 

“Kayaknya, emang seru deh.”

 

“Apanya?”

 

“Main panahan,” jawab Jheni sambil bangkit dari tempat duduknya. Ia melangkahkan kakinya menghampiri Chandra.

 

Yuna menautkan kedua alisnya sambil menatap Jheni.

 

Jheni tersenyum sambil menatap Chandra.

 

“Kenapa?” Chandra langsung menoleh ke arah Jheni yang tiba-tiba sudah ada di depan wajahnya. “Wajahmu menghalangi pandanganku.”

 

Jheni tersenyum sambil menahan anak panah yang sudah siap dilepaskan Chandra dari busurnya. “Ajari aku!”

 

“Hah!?”

 

“Ajari aku memanah!”

 

Chandra mengendurkan tenaganya perlahan. Ia menurunkan busurnya sambil menatap Jheni. “Beneran mau belajar memanah?”

 

Jheni menganggukkan kepala.

 

Chandra langsung menyerahkan busur di tangannya ke tangan Icha.

 

“Lumayan berat juga ya?” gumamnya.

 

Chandra tertawa kecil. “Coba mulai memanah!” perintahnya.

 

Jheni menganggukkan kepala. Ia meletakkan  anak panah di busurnya. Kemudian, ia mulai menarik kuat-kuat tali busur tersebut dan melepaskannya.

 

 

 

SHAAT ...!

 

 

 

Anak panah tersebut melesat hanya tiga meter dari tempatnya berdiri.

 

“Sial ...!” umpat Jheni.

 

Chandra tertawa kecil.

 

Jheni mengambil anak panah tersebut dan berusaha  lagi.

 

“Jhen, cara megangnya salah,” tutur Chandra sambil berdiri tepat di belakang Jheni. Kedua tangannya menjulur ke depan, memegang busur dan anak panah yang masih dipegang Jheni. Kedua tangan Chandra, tepat berada di atas punggung tangan Jheni. Ia menunjukkan bagaimana posisi tangan yang seharusnya.

 

“Tarik nock-nya pelan-pelan,” bisik Chandra sambil membantu menarik tali busur.

 

“Nock yang mana?” tanya Jheni.

 

“Yang ini,” jawab Chandra sambil menunjuk ujung anak panah yang menempel pada tali.

 

Jheni mengangguk sambil tersenyum.

 

“Jangan gemetaran!” bisik Chandra.

 

“Aku nervous banget,” tutur Jheni lirih.

 

Chandra tersenyum kecil. “Arahkan mata panah ke lingkaran merah yang ada di tengah papan target itu. Kalau sudah yakin pas, lepaskan!”

 

“Gimana ngepasinnya?”

 

“Lihat lurus mata panahnya sejajar sama titik merah yang ada di sana. Jangan gemetaran!” bisik Chandra.

 

Jheni menganggukkan kepala.

 

Chandra melepas tangannya perlahan. Membiarkan Jheni memegang busur panahnya sendiri.

 

 

 

SHAAT ...!

 

 

 

Anak panah yang ada di tangan Jheni, melesat melewati papan papan target.

 

“Sial ...!” umpat Jheni lagi.  Ia kembali mengambil anak panah.

 

Chandra tersenyum kecil. “Jangan gemetaran!”

 

“Ini busurnya berat banget. Gimana aku nggak gemetaran?”

 

Chandra kembali membimbing Jheni. Dadanya yang kekar, tepat menempel di punggung Jheni.

 

Satria memukul lengan Yeriko menggunakan anak panah yang ada di tangannya. “Eh, lihat!” pintanya sambil menunjuk Chandra dengan dagunya. “Mereka romantis juga. Si Chandra udah pintar nyari kesempatan.”

 

Yeriko menatap Chandra sejenak. Ia meletakkan busur dan anak panah yang ada di tangannya, kemudian melangkah menghampiri Yuna.

 

Yuna yang sedang menikmati kemesraan sahabatnya, langsung membelalakkan mata saat tubuh Yeriko tiba-tiba sudah ada di hadapannya.

 

“Lihat apa?” tanya Yeriko.

 

“Lihat Chandra sama Jheni. Kamu ngapain berdiri di sini?” tanya Yuna balik sambil menepis tubuh Yeriko.

 

Yeriko menyambar pergelangan tangan Yuna. Ia menarik Yuna menuju tempat ia berlatih. Ia langsung mengambil busur dan memberikan ke tangan Yuna.

 

“Apa ini?” tanya Yuna.

 

“Busur.”

 

“Aku tahu. Maksudnya apa?”

 

“Aku ajari kamu memanah.”

 

“Ay, kamu kan tahu kalau aku nggak suka olahraga. Aku nggak bisa main beginian,” tutur Yuna.

 

“Bisa. Gampang, kok.” Yeriko mengambil anak panah.

 

“Oke.” Yuna mengangguk. Ia tahu kalau ia tidak akan bisa membantah keinginan Yeriko.

 

Yeriko mulai menuntun Yuna mengendalikan busur dan anak panahnya.

 

“Ini busur berat banget,” celetuk Yuna.

 

Yeriko tersenyum kecil. “Nanti akan terbiasa. Jangan mau kalah sama Jheni. Nanti, kalian juga harus bertanding. Aku bakal kasih hadiah yang bagus buat kalian.”

 

“Beneran?”

 

Yeriko mengangguk sambil tersenyum.

 

Satria menghela napas melihat kemesraan dua sahabatnya. “Hampir setiap hari aku latihan di sini. Nggak pernah bawa perempuan. Kalian malah mesra-mesraan kayak gini?” gumam Satria kesal. “Nggak mikirin nasib jomblo kayak aku?” gumamnya sambil memukul dadanya sendiri.

 

 

 

Satria kembali menarik busurnya dan melesatkan anak panahnya dengan kecepatan yang tak biasa. “Bener-bener nggak berperasaan!” celetuknya. “Apa menyiksa jomblo harus dengan cara seperti ini?”

 

Jheni dan Yuna saling pandang. Mereka bersemangat untuk belajar memanah hingga akhirnya bisa mengendalikan anak panah tanpa bantuan dari pasangan mereka masing-masing.

 

“Oke. Kalian berdua udah bisa. Sekarang, kalian berdua yang lomba. Yang menang, bakal dapet hadiah dari aku,” tutur Yeriko.

 

“Hadiahnya apa?” tanya Jheni.

 

“Kalian boleh minta apa aja kalau menang.”

 

“Oke.” Yuna dan Jheni mengangguk bersamaan. Akhirnya, mereka bertanding. Sementara tiga cowok tampan yang bersamanya. Duduk bersantai di kursi sambil menikmati dua Srikandi yang sedang berlomba memanah.

 

 “Yeay ...!” seru Jheni saat ia berhasil mengalahkan Yuna. “Aku menang ...!” Ia menjulurkan lidahnya ke arah Yuna.

 

Yuna memonyongkan bibirnya sambil melemparkan busurnya begitu saja ke lantai.

 

Yeriko langsung bangkit dan menghibur istrinya. “Nggak usah sedih!” pintanya. “Aku tetep kasih hadiah buat kamu.”

 

Yuna memonyongkan bibirnya. “Kamu nyuruh lomba yang aku nggak bisa. Jelas aja aku kalah.”

 

“Yee ... aku juga nggak bisa. Kita sama-sama baru belajar. Impas!” sahut Jheni sambil menjulurkan lidahnya.

 

Yuna memonyongkan bibirnya. “Kalo gitu, kalian bertiga harus lomba seperti yang aku mau!”

 

“Hah!?” Satria dan Chandra menoleh ke arah Yuna bersamaan. Mereka saling pandang karena mengetahui sifat jahil Yuna.

 

Yuna tersenyum. Ia memanggil Riyan dan membisikkan sesuatu ke telinga pria itu.

 

Riyan menganggukkan kepala. Ia bergegas pergi dari tempat tersebut.

 

“Kakak Ipar Kecil ngerencanain apa?” tanya Satria.

 

“Bikin lomba tujuh belasan buat kalian. Kalian tanding panah aja dulu! Sambil aku siapin lomba lain buat kalian bertiga.”

 

Ketiga pria itu saling pandang. Mereka bergegas ke posisi mereka masing-masing untuk bertanding.

 

Jheni dan Yuna terus memerhatikan ketiga pria itu penuh ketegangan.

 

“Gila ...! Yeriko hebat juga mainnya,” tutur Jheni.

 

“Mereka memang suka olahraga. Wajar aja kalo suamiku begitu. Tapi, Satria rajin latihan di sini. Kenapa suamiku yang menang terus?”

 

“Iya, ya? Hoki terus si Yeri.”

 

“Aargh ...!” seru Satria sambil membanting busurnya ke lantai. “Kamu ...!? Udah lama nggak pernah main beginian. Kemampuanmu nggak menurun sedikit pun,” lanjutnya sambil menatap Yeriko kesal.

 

Yeriko tersenyum kecil. “Gimana? Mau tanding lagi?”

 

“Sekali lagi!” pinta Satria. Ia masih tidak bisa menerima kekalahan dirinya dari Yeriko.

 

“Ayo ...!” Yeriko menyetujui permintaan Yeriko.

 

Chandra hanya tersenyum. Ia terlihat sangat tenang dalam permainan ini. Ia sudah mengetahui kemampuan dua orang di hadapannya. Ia hanya meramaikan hari kemerdekaan yang tidak bisa mereka lakukan seperti orang biasa. Mereka tidak pernah bisa turun ke jalanan atau berbaur dengan banyak orang di luar sana.


((Bersambung...))

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas