Wednesday, February 12, 2025

Perfect Hero Bab 108 : Amara Harry vs Chandra Jheni || a Romance Novel by Vella Nine

 


“Harry? Pagi-pagi gini udah dateng, ada apa?” tanya Amara saat membuka pintu rumahnya.

 

Harry langsung menerobos masuk ke dalam rumah Amara. “Orang tua kamu mana?” tanyanya.

 

Amara mengernyitkan dahinya. “Aku nggak tinggal sama orang tuaku. Kenapa?” tanya Amara.

 

“Aku mau kita nikah sekarang juga,” jawab Harry.

 

“Nikah? Kenapa mendadak banget?”

 

“Amara …!” Harry menggenggam kedua tangan Amara. “Aku serius sama kamu. Apa kamu nggak mau nikah sama aku?”

 

Amara tersenyum bahagia. “Aku mau nikah sama kamu. Tapi …”

 

“Kenapa?”

 

“Statusku masih sebagai tunangan Chandra. Aku harus jelasin ke keluarga aku tentang hubungan kita. Mereka pasti bakal nanyain kalau aku menikah sama pria lain.”

 

Harry menganggukkan kepala. “Gimana kalau hari ini, kita nikah dulu? Setelah menikah, kita jelaskan ke orang tua kamu tentang hubungan kita.”

 

“Kamu serius?” tanya Amara sambil menatap mata Harry.

 

Harry menganggukkan kepala. “Aku serius sama kamu, aku nggak mau main-main lagi!”

 

“Tapi … apa ini nggak terlalu cepat?”

 

Harry menggelengkan kepala. “Kita sudah lama saling kenal dan saling mencintai. Bukankah akhir yang paling indah dari sebuah hubungan adalah pernikahan?”

 

Amara tersenyum sambil menganggukkan kepala.

 

“Kamu mau nikah hari ini juga?” tanya Harry dengan mata berbinar dan penuh semangat.

 

Amara mengangguk. “Aku mau.”

 

Harry tersenyum dan langsung memeluk erat tubuh Amara. “I love you …”

 

Amara memeluk punggung Harry dan tersenyum bahagia.

 

“Kamu siapin dokumen kamu ya! Kita ke KUA sekarang juga,” pinta Harry.

 

Amara mengangguk sambil tersenyum. “Aku mandi dulu.”

 

Harry mengangguk, ia duduk di sofa untuk menunggu Amara mempersiapkan berkas yang mereka perlukan untuk mendapatkan surat nikah resmi.

 

Mereka langsung bergegas pergi ke salah satu kantor urusan agama terdekat. Harry telah mengumpulkan beberapa saksi dan wali hakim sebagai salah satu syarat pernikahan mereka dan mendapatkan surat nikah resmi.

 

“Makasih ya, kamu udah membuktikan kalau kamu serius sama hubungan kita. Nggak kayak Chandra, yang cuma ngajak aku tunangan dan nggak pernah ngomongin pernikahan sama sekali. Bahkan, dia itu cuek banget sama tunangannya sendiri,” tutur Amara saat ia dan Harry sudah resmi menjadi sepasang suami istri.

 

Harry tersenyum menatap Amara. Ia tidak menyangka kalau harus melepas masa lajangnya dalam waktu yang begitu singkat. Kalau bukan karena uang yang diberikan Yeriko, ia masih belum siap menikah dan ingin menghabiskan waktunya untuk bersenang-senang.

 

“Kenapa? Kamu kelihatannya nggak bahagia?” tanya Amara.

 

Harry menarik napas dalam-dalam. “Aku bukan nggak bahagia. Aku masih nggak percaya aja kalau sekarang aku sudah menjadi seorang suami. Punya istri yang cantik, seksi dan pandai. Aku adalah pria yang paling beruntung di dunia ini.”

 

“Ah, kamu bisa aja.” Amara tersipu mendengar pujian yang keluar dari mulut Harry.

 

Harry tersenyum menatap Amara. “Kamu, mau bulan madu ke mana?” tanyanya.

 

“Mmh ... ke mana ya? Ke luar negeri boleh?”

 

Harry menganggukkan kepala. “Boleh ke mana aja.”

 

“Mmh ... aku pengen ke Paris. Kota itu terkenal sebagai salah satu kota paling romantis di dunia. Terus, aku pengen ke New York, Beijing, Den Haag dan masih banyak lagi.”

 

Harry menganggukkan kepala sambil tersenyum ke arah Amara.

 

“Serius? Kamu punya uang banyak buat ajak aku keliling dunia?” tanya Amara.

 

“Akan selalu ada buat kamu.”

 

“Aargh ...! Thank you so much! Aku makin sayang sama kamu!” seru Amara sambil memeluk erat tubuh Harry.

 

“Kita pulang sekarang!” pinta Harry. “Masih ada hal yang harus aku lakukan hari ini.”

 

“Di kantor?”

 

Harry menggelengkan kepala. “Nanti, aku cerita setelah kita sampai di rumah.”

 

Amara menganggukkan kepala. Mereka berpamitan dan bergegas keluar dari KUA.

 

Di perjalanan pulang, Harry langsung menelepon Yeriko.

 

“Halo ...!” jawab Yeriko begitu panggilan telepon Harry tersambung.

 

“Halo, Pak. Saya baru pulang dari KUA dan sudah sah menikah dengan Amara.”

 

“Bagus. Selamat ya!”

 

“Iya, Pak. Terima kasih.”

 

“Kasih tahu Amara buat hubungi Chandra dan bilang ke Chandra kalau dia sudah menikah. Buat Chandra mematikan semua perasaannya untuk Amara!”

 

“Siap, Pak!”

 

Yeriko langsung mematikan panggilan telepon Harry tanpa banyak berkata lagi.

 

“Siapa?” tanya Amara sambil menatap Harry.

 

“Rekan kerja.”

 

“Oh.”

 

“Amara, sore ini bisa ke rumah sakit?”

 

“Ngapain?”

 

“Jengukin mantan tunangan kamu itu.”

 

Amara mengernyitkan dahinya. “Ogah, ah!”

 

“Sekaligus buat ngasih tahu dia soal hubungan kita. Jadi, dia nggak lagi berharap sama kamu. Aku mau, kamu bener-bener memutuskan hubungan kamu sama dia karena kita sudah menikah.”

 

“Oh, gitu?”

 

Harry menganggukkan kepala.

 

“Oke. Ntar sore jam berapa ke sana?” tanya Amara.

 

“Abis aku pulang dari kantor. Gimana?”

 

Amara mengangguk, ia menyandarkan kepalanya di pundak Harry. “Kapan kita temui orang tuaku?” tanya Amara kemudian.

 

“Besok.”

 

“Serius?”

 

Harry menganggukkan kepala.

 

“Gimana sama orang tua kamu?”

 

“Sekalian aja besok ketemu juga sama orang tuaku.”

 

“Mmh ... kira-kira, Mama kamu bakal suka sama aku atau nggak ya?”

 

“Pasti suka, dong! Kamu cantik dan baik hati. Mama pasti suka sama kamu.”

 

“Beneran?” tanya Amara sambil tersenyum bahagia.

 

Harry menganggukkan kepala. Ia bergegas melajukan mobilnya menuju ke rumah Amara.

 

 

 

Di saat yang sama ...

 

Jheni melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruang rawat Chandra sambil membawa sup buatannya untuk Chandra.

 

“Pagi ...!” sapa Jheni saat masuk ke dalam ruangan.

 

“Pagi ...” Chandra langsung menoleh ke arah pintu ruangan yang terbuka. Ia tersenyum begitu melihat wajah cantik Jheni.

 

“Gimana? Udah baikan?” tanya Jheni.

 

“Lumayan, lukanya udah mulai kering, kok. Tinggal pemulihan aja,” jawab Chandra.

 

“Udah sarapan atau belum?” tanya Jheni. “Aku bawain sup ayam hangat buat kamu.”

 

Chandra menggelengkan kepala. “Kamu selalu repot-repot masakin buat aku.”

 

Jheni tersenyum ke arah Chandra. “Nggak repot, kok. Aku tinggal di rumah sendiri. Setiap hari selalu masak dan sering kelebihan. Semenjak Yuna menikah, nggak ada yang ngabisin makanan di rumahku,” tutur Jheni sambil tertawa kecil.

 

Chandra tersenyum menanggapi ucapan Jheni. Ia terus menatap Jheni yang sedang menyiapkan sup untuknya.

 

“Ini!” Jheni menyodorkan semangkuk sup ke hadapan Chandra.

 

“Makasih!” Chandra tersenyum sambil menerima mangkuk sup pemberian Jheni. Ia mencoba menyendok sup perlahan dan dengan susah payah karena luka di tangan kanannya belum benar-benar pulih.

 

Jheni tertawa kecil sambil meraih mangkuk sup dari tangan Chandra. “Bilang aja kalau butuh bantuan!”

 

“Eh!?” Chandra melongo menatap Jheni. “Aku jadi nggak enak sama kamu. Udah dimasakin, masih disuapin lagi.”

 

Jheni tersenyum menanggapi ucapan Chandra. “Sesama teman harus saling membantu kan?” ucapnya sambil tersenyum manis ke arah Chandra. Ia menyendok sup yang ada di tangannya dan menyuapkan ke mulut Chandra.

 

Chandra tak berkedip menatap wajah Jheni yang ada di hadapannya. “Kalau diperhatikan, dia cantik juga,” bisiknya dalam hati.

 

Jantung Jheni berdetak sangat kencang saat ia menyadari tatapan Chandra ke arahnya. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan saat ini. Ada dalam posisi yang sangat ambigu. Walau ia sangat menyukai Chandra, ia tidak akan membiarkan Chandra mengetahui perasaannya.

 

“Kamu nggak kerja?” tanya Chandra.

 

Jheni menggelengkan kepala. “Aku kerjaannya nggak nentu. Kalau ada kerjaan, pergi kerja. Kalau nggak, ya di rumah aja atau jalan-jalan.”

 

Chandra tertawa kecil. “Enak ya? Kerjanya bebas?”

 

“Hahaha. Berasa perusahaan punya sendiri,” sahut Jheni.

 

“Kenapa kamu lebih milih buat jadi freelancer? Bukannya lebih enak kerja di perusahaan dan jadi karyawan tetap?”

 

“Mmh ... terlalu membosankan kerja di satu kantor. Kalau kayak gini, aku bisa pindah-pindah kantor sesuka aku dan nggak terikat sama waktu kerja. Yang penting, proyek kelar dengan baik dan klien puas.”

 

Chandra tersenyum. Ia mulai menyukai gaya Jheni bercerita. Ia menanyakan banyak hal tentang kehidupan Jheni dan juga mengajaknya membicarakan hal-hal yang terjadi di sekeliling mereka.

 

Bahkan, Chandra sampai memperdebatkan soal perbedaan rumput jepang dan rumput gajah mini. Hal yang tak pernah dilakukan oleh Chandra sebelumnya adalah banyak bicara dan tertawa. Jheni membuatnya nyaman dan ia sendiri tidak menyadari kalau menjadi pria yang hangat dan banyak bicara.

 

(( Bersambung ... ))

Thanks buat temen-temen yang udah setia baca Perfect Hero sampai di sini. Makasih banyak untuk apresiasi yang begitu besar. Jangan sungkan sapa aku di kolom komentar ya!

Happy Eid Mubarak! Minal Aidzin Wal Faidzin, Mohon maaf lahir dan batin ...

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

Tuesday, February 11, 2025

Perfect Hero Bab 107 : Istri Idaman || a Romance Novel by Vella Nine

 


“Kenapa minta maaf? Kamu sadar salahmu apa?”

 

Harry menengadahkan kepala menatap orang yang berdiri menjulang di hadapannya. “Ma … maaf, Pak Ye! Saya nggak bermaksud mengambil Amara. Dia yang terus mengejar dan menjerat saya untuk masuk ke dalam hidupnya. Saya bisa meninggalkan dia sekarang juga.”

 

Yeriko tersenyum sinis. “Kamu tahu kalau Amara sudah punya tunangan?”

 

Harry menganggukkan kepala.

 

“Tahu tunangannya siapa?”

 

Harry mengangguk lagi. “Chandra Muchtar,” jawabnya lirih.

 

“Kamu tahu Chandra Muchtar itu siapa?”

 

Harry menganggukkan kepala.

 

“Dia bisa bikin bisnis ayah kamu bangkrut hanya dengan satu coretan tangannya. Ngerti maksudnya?”

 

Harry menganggukkan kepala. “Saya minta maaf. Saya bersedia meninggalkan Amara sekarang juga.”

 

Yeriko tersenyum sinis. Ia membungkukkan tubuhnya di depan Harry. “Sudah berapa kali kamu nidurin tunangannya Chandra?”

 

“Saya nggak ngitung,” jawab Harry lirih.

 

“Kamu tahu aku ini siapa?” tanya Yeriko sambil menatap lekat wajah Harry.

 

Harry menganggukkan kepala perlahan. “Tuan Yeriko. Yeriko Sanjaya Hadikusuma. Direktur Utama dan CEO Galaxy Group.”

 

Yeriko tersenyum kecil sambil menepuk-nepuk pipi Harry. “Kamu memang beneran pengusaha. Tapi … sayangnya perusahaan yang kamu pegang, nggak bisa menghasilkan uang yang lebih banyak.”

 

Harry mengangguk pelan. Ia tidak bisa mengelak tentang kondisi keuangan perusahaannya. Sebanyak apa pun uang yang bisa ia hasilkan, selalu ia habiskan untuk bersenang-senang.

 

“Aku bisa bantu kamu menghasilkan uang lebih banyak,” tutur Yeriko sambil berjalan menuju sofa dan duduk santai sambil menatap Harry. “Kamu bisa memegang kendali sepenuhnya atas perusahaan ayah kamu dan bisa bikin bisnis kamu meningkat dalam waktu dekat.”

 

Harry tertegun sesaat mendengar ucapan Yeriko. Ia tidak menyangka kalau Yeriko akan memberikan bisnis besar untuk perusahaannya. Ia langsung terlihat sumringah. Ia bangkit dan langsung menghampiri Yeriko.

 

“Apa beneran bisa?” tanya Harry.

 

Yeriko mengangguk kecil. “Bukan hal yang sulit untuk seorang Tuan Ye,” jawab Yeriko angkuh.

 

“Gimana caranya?” tanya Harry.

 

Yeriko langsung memberi isyarat pada Riyan untuk memberikan dokumen yang telah ia persiapkan sebelumnya.

 

Riyan langsung menyodorkan dokumen tersebut ke hadapan Harry.

 

“Apa ini?” tanya Harry sambil mengernyitkan dahinya.

 

“Baca!” perintah Yeriko.

 

Harry langsung membuka dokumen tersebut dan membacanya.

 

“Gimana?” tanya Yeriko.

 

Mata Harry  berbinar melihat dokumen yang ada di tangannya. “Ini beneran?” tanyanya saat melihat nilai uang yang begitu banyak.

 

Yeriko menganggukkan kepala. “Kamu bisa dapetin semua itu. Asal kamu mau setuju dengan syaratnya.”

 

Harry menganggukkan kepala. Selain mendapatkan banyak uang, ia juga bisa menguasai sepenuhnya perusahaan milik ayahnya. Ia akan memiliki banyak uang untuk bersenang-senang.

 

“Aku bakal ninggalin Amara sekarang juga!” tegas Harry. “Pulpen mana pulpen?” tanyanya pada Riyan. Ia tak sabar menandatangani dokumen yang ada di tangannya.

 

“Aku nggak minta kamu buat ninggalin Amara,” sahut Yeriko.

 

“Eh!? Terus?” Harry menaikkan kedua alisnya. Ia bingung karena tidak mengerti sama sekali maksud hati Yeriko. Bukankah ia telah berselingkuh dengan Amara dan menyebabkan Chandra menderita? Kenapa Yeriko justru tidak menginginkan Harry meninggalkan Amara?

 

“Uang yang aku kasih ke kamu ini, harus kamu gunakan untuk menikahi Amara secepatnya!” pinta Yeriko.

 

“Hah!? Menikah!?” Harry menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

 

“Kenapa? Keberatan? Aku bisa bikin perusahaan kamu maju atau bangkrut dalam sekejap!” tegas Yeriko.

 

“Jangan, Pak Ye! Aku bakal ngurus pernikahanku sama Amara malam ini juga,” sahut Harry.

 

“Bagus. Setelah sah menikah, kamu dan Amara harus nemuin Chandra di rumah sakit. Tunjukkan ke Chandra kalau kalian sudah resmi menjadi sepasang suami istri!” pinta Yeriko.

 

Harry langsung membelalakkan matanya. “Tapi … apa itu tidak akan memperburuk keadaan Chandra?”

 

“Soal Chandra, aku jauh lebih tahu dia daripada kamu!” tegas Yeriko.

 

“Baik, Pak Ye!” Harry menganggukkan kepala dan menuruti semua perintah Yeriko.

 

Yeriko menatap Harry dingin. Ia langsung melemparkan pena ke hadapan Harry. “Setelah semuanya selesai, jangan pernah muncul ke hadapan Chandra lagi!”

 

Harry mengangguk dan langsung menandatangani dokumen yang sudah ada di tangannya.

 

Yeriko tersenyum puas. Ia langsung meminta Harry segera keluar dari kamarnya.

 

“Pak Bos, mau nginap di sini atau pulang?” tanya Riyan begitu Harry pergi.

 

“Pulang.”

 

“Oh, oke. Mau saya antar?”

 

“Nggak usah. Aku pulang sendiri aja.”

 

Riyan menganggukkan kepala.

 

Yeriko bangkit dan keluar dari kamar hotel. Ia bergegas meninggalkan hotel dan pulang ke rumahnya.

 

Sesampainya di rumah, Yeriko melihat Yuna yang sudah tertidur pulas di sofa ruang tamu. Ia tersenyum kecil sambil menghampiri Yuna. Menatap istrinya beberapa saat dan mengecup keningnya.

 

Yuna membuka matanya perlahan saat ia merasakan sentuhan di keningnya. Ia langsung duduk begitu melihat Yeriko sudah ada di hadapannya. “Sudah pulang?” tanya Yuna.

 

Yeriko mengangguk sambil tersenyum. “Kamu nungguin aku pulang?”

 

Yuna menganggukkan kepala sambil merapikan rambutnya.

 

“Kenapa nggak nunggu di kamar aja?”

 

“Kalau aku nunggu di kamar, aku nggak akan tahu kamu pulang,” jawab Yuna sambil bangkit dari sofa. “Aku bikinkan minum dulu. Kamu pasti capek kan?”

 

Yeriko menganggukkan kepala. Ia menatap tubuh Yuna yang berjalan menuju dapur. Ia tersenyum kecil. Ada rasa bahagia yang tak bisa ia ungkapkan saat istrinya memberikan perhatian kecil kepadanya. Ia tidak menyangka kalau Yuna rela tidur di sofa hanya untuk menunggunya pulang ke rumah.

 

“Ada urusan apa di hotel malam-malam? Ketemu klien?” tanya Yuna sambil menyuguhkan susu jahe ke hadapan Yeriko.

 

Yeriko menganggukkan kepala. “Aku lagi ngelarin masalah Chandra?”

 

“Chandra?” Yuna mengerutkan dahinya.

 

“Iya. Amara sama selingkuhannya itu ada di dalam kamar hotel.”

 

“Kamu ngintipin orang lagi berhubungan…?”

 

Yeriko tersenyum kecil. “Nggaklah. Aku cuma ngajak Harry ketemu setelah mereka bersenang-senang.”

 

“Terus?”

 

“Aku suruh dia menikahi Amara secepatnya.”

 

“What!? Kamu gila ya!?

 

“Gila kenapa?”

 

“Bukannya itu bakal memperburuk kondisi Chandra? Kalau dia tahu, dia bakal tambah sakit.”

 

Yeriko tersenyum kecil. “Sakitnya cuma sebentar. Setelah itu, dia bakal ngelupain Amara dan nggak akan berharap lagi.”

 

“Kamu sadis banget, sih?” celetuk Yuna.

 

“Sadis gimana? Bagus kan? Jadi, Chandra udah nggak perlu berharap lagi sama Amara kalau Amara sudah nikah sama cowok lain.”

 

“Tapi, Yer … ini terlalu kejam. Aku nggak sanggup ngebayanginnya. Dia aja belum sembuh karena tahu kalau tunangannya selingkuh. Gimana kalau dia tahu si Amara lebih milih cowok lain?”

 

“Tenang aja! Dia itu cowok. Nggak bakal baperan kayak cewek,” sahut Yeriko.

 

Yuna menghela napas. “Ya udah, deh. Terserah kamu. Gimana baiknya aja menurut kamu.”

 

Yeriko tersenyum kecil sambil menyesap minuman yang telah dibuatkan istrinya.

 

“Mau mandi sekarang? Aku siapin air hangat.”

 

Yeriko menarik lengan Yuna dan memeluk Yuna ke pangkuannya.

 

“Suami kamu baru aja sampai rumah. Apa nggak ada sambutan yang lebih manis lagi dari susu jahe ini?” tanya Yeriko sambil menempelkan hidungnya ke hidung Yuna.

 

“Mmh … apa ya?” sahut Yuna sambil menahan tawa.

 

“Pura-pura nggak tahu pula.” Yeriko langsung mengecup bibir Yuna.

 

Yuna tersenyum kecil dan balas mengecup semua wajah Yeriko berkali-kali. “Aku siapin air hangat dulu buat kamu mandi,” pamitnya sambil bangkit dari pangkuan Yeriko.

 

Yeriko tersenyum sambil menganggukkan kepala. Ia merasa kalau Yuna sangat mengagumkan dan terus memberikan perhatian lebih untuknya. Sejak masuk ke rumah ini, Yuna telah memberikan banyak kehangatan untuknya dan keluarganya.

(( Bersambung ... ))

Thanks buat temen-temen yang udah setia baca Perfect Hero sampai di sini. Makasih banyak untuk apresiasi yang begitu besar. Jangan sungkan sapa aku di kolom komentar ya!

Happy Eid Mubarak! Minal Aidzin Wal Faidzin, Mohon maaf lahir dan batin ...

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

Perfect Hero Bab 106 : Satu Langkah || a Romance Novel by Vella Nine

 


“Halo ... kenapa, Yer?” tanya Lutfi lewat sambungan telepon.

 

“Kamu di mana?”

 

“Di Bali aku. Kenapa?”

 

“Hari ini, aku mau ngasih pelajaran ke Amara.”

 

“Gimana caranya?”

 

Yeriko langsung menjelaskan dengan detil rencana yang telah ia susun.

 

“Gila! Rencana kamu bagus juga,” sahut Lutfi.

 

Yeriko  tersenyum sinis menanggapi ucapan Lutfi. “Aku mau eksekusi sore ini juga. Kamu bisa balik ke Surabaya?”

 

“Sore ini? Aku baru nyampe di Bali nih. Kalo udah kelar urusan di sini, langsung ke sana. Besok pagi masih harus ke Gili lagi.”

 

“Kalau emang nggak bisa, nggak papa. Aku bisa selesaikan sendiri sama orang-orangku.”

 

“Serius?”

 

“He-em. Ada Riyan.”

 

“Okelah kalo gitu. Ntar kabarin ya!”

 

“Iya.”

 

“Nggak sabar aku pengen lihat mereka menderita. Benci banget aku sama Amara. Cewek bangsat itu harus dibikin jera!” tutur Lutfi kesal.

 

Yeriko tersenyum sinis menanggapi ucapan Lutfi.

 

“Nanti aku telepon lagi. Aku lagi di jalan mau ke kantor.”

 

“Oke.”

 

Yeriko langsung mematikan telepon yang tersambung dengan mobilnya dan melajukan mobil menuju kantor.

 

“Pak, saya udah atur semuanya.” Riyan langsung menghampiri Yeriko begitu ia sampai di kantor.

 

“Di Hotel mana?”

 

“Shangri-La. Aku udah pesan kamar yang paling mewah dan mahal.”

 

“Bagus. Jadwal meeting hari ini sampai jam berapa?”

 

“Meeting pagi sampai jam sebelas. Jam makan siang ada jadwal ketemu sama Marco, dari Exim Europe Corporation,” jawab Riyan.

 

“Sore kosong?”

 

Riyan menganggukkan kepala. “Sudah saya atur jadwalnya. Sore ini bisa langsung eksekusi si Harry.”

 

“Good!” Yeriko langsung melangkah menuju ruang meeting untuk memimpin rapat direksi.

 

Usai menyelesaikan semua pekerjaannya. Yeriko langsung menuju salah satu kamar mewah di Sangri-La Hotel. Ia sudah mendapatkan informasi dari Riyan kalau Harry juga telah menyewa salah satu kamar yang ada di hotel tersebut.

 

Yeriko menunggu kabar selanjutnya. Ia merogoh ponsel di sakunya dan langsung menelepon istrinya.

 

“Halo ...! Kenapa jam segini belum pulang? Pulang kerja, aku nggak dijemput. Sampe sekarang masih belum pulang. Masih banyak kerjaan di kantor?” cerocos Yuna begitu sambungan teleponnya tersambung.

 

“Bawel banget!” celetuk Yeriko. “Bisa nggak ngomongnya pelan-pelan?” pintanya kemudian. “Aku lagi di hotel.”

 

“What!? Ngapain di hotel? Sama siapa di sana?” seru Yuna.

 

Yeriko langsung menjauhkan ponselnya saat mendengar teriakan Yuna.

 

“Yeriko! Kenapa nggak jawab!?”

 

“Suara kamu keras banget! Abis makan toa ya?”

 

“Huft, kamu tuh nyebelin banget, sih!? Bisa-bisanya kamu enak-enak di hotel dan ninggalin aku sendirian di rumah!?” sentak Yuna.

 

“Aku nggak ngapa-ngapain. Lagi nunggu seseorang.”

 

“Siapa? Cewek apa cowok?”

 

“Cowok.”

 

“Kamu ada main sama cowok juga?” seru Yuna.

 

“Astaga! Kamu jangan salah paham gitu. Nanti aku ceritain kalo aku udah pulang.”

 

“Hiks ..., kamu tega banget sama aku. Aku nggak nyangka kalau kamu ...” Suara Yuna terdengar parau.

 

Yeriko memijat keningnya. “Yun, tenang dulu! Aku di sini sama Riyan. Apa aku suruh dia jemput kamu biar kamu percaya kalau aku nggak macem-macem di sini?”

 

“Oh, sama Riyan?”

 

“He-em.”

 

“Ya udah, lanjutin aja urusannya. Aku mau tidur cepet,” tutur Yuna dan langsung mematikan panggilan teleponnya.

 

“RIYAN ...!” teriak Yeriko.

 

“Iya, Pak Bos!” Riyan langsung menghampiri Yeriko.

 

“Jam berapa mereka check-in?”

 

“Sudah masuk setengah jam yang lalu.”

 

“Oke.”

 

Riyan mengangguk. Ia merogoh ponselnya yang berdering. Ia terpaku menatap layar ponselnya. Kemudian bergantian memandang Yeriko.

 

“Kenapa?” tanya Yeriko sambil menuangkan wine ke dalam gelas.

 

“Nyonya Muda yang telepon,” jawab Riyan gelisah.

 

“Angkat aja!”

 

Riyan mengangguk dan langsung menjawab telepon dari Yuna. “Halo ... Nyonya, ada apa? Hmm ... iya. Oke.” Ia langsung mematikan panggilan teleponnya.

 

“Dia ngomong apa?”

 

“Nggak ada ngomong apa-apa. Cuma mastikan kalau Pak Bos nggak telat makan.”

 

“Oh.” Yeriko manggut-manggut sambil tersenyum. Walau istrinya itu banyak bicara, tapi diam-diam juga memperhatikan dirinya.

 

Di hotel yang sama, di saat yang sama. Amara dan Harry masuk ke dalam kamar hotel yang telah mereka pesan sebelumnya. Pasangan kekasih ini terlihat sangat mesra dan bahagia.

 

Berkencan di kamar hotel bersama pria yang ia sukai, bukanlah hal baru bagi Amara. Ia sangat suka bersenang-senang dan memuaskan dirinya sendiri. Terlebih, Harry juga pria yang selalu menuruti keinginannya dan mengerti bagaimana menghabiskan waktunya untuk bersenang-senang.

 

“Amara, makasih karena kamu selalu membuatku bahagia dan tahu bagaimana memberikan cinta yang begitu nikmat,” bisik Harry sambil melucuti pakaian Amara dan mencumbu tubuhnya dengan mesra.

 

Desahan yang keluar dari mulut Amara membuat Harry semakin bergairah dan mereka menikmati waktu yang mereka miliki untuk bercinta.

 

“Amara, kenapa kamu lebih milih aku daripada Chandra?” tanya Harry sambil memeluk erat tubuh Amara usai bercinta.

 

“Karena dia terlalu dingin, cuek dan membosankan,” jawab Amara santai.

 

“Apa kamu dan dia juga sering tidur bareng kayak gini? Dia tunangan kamu. Pasti ...”

 

“Dia nggak pernah menyentuh aku. Cowok satu itu terlalu alim dan nggak tahu caranya bersenang-senang.”

 

“Oh ya? Jadi, kamu udah resmi putus sama tunangan kamu itu?”

 

Amara menganggukkan kepala. “Karena aku bisa merasa bahagia saat sama kamu doang.”

 

Harry tersenyum penuh kemenangan dan langsung mengecup bibir Amara.

 

Amara balas tersenyum. Ia mengelus dada Harry yang kekar dan basah karena keringat. Tangannya mulai memancing gairah Harry agar bisa melakukan adegan cinta selanjutnya yang lebih nikmat lagi.

 

Harry merasa terbang melayang karena Amara selalu memuaskan dirinya. Namun, konsentrasinya terganggu saat ponselnya tiba-tiba berdering. Ia langsung bangkit dan mengambil ponsel yang ia letakkan di atas meja.

 

“Siapa?” tanya Amara.

 

“Nggak tahu.” Harry menggelengkan kepala sambil menatap layar ponselnya. Ia langsung menjawab panggilan telepon dari nomor yang tidak dikenalnya tersebut.

 

“Halo ...!” sapa Harry. Wajahnya langsung memerah begitu mendengar suara orang yang berbicara di ujung teleponnya. Ia menjauhkan dirinya dari Amara sambil menelan ludah beberapa kali. Ia tidak bisa menyembunyikan perasaan takutnya.

 

“Kenapa?” tanya Amara.

 

“Nggak papa,” jawab Harry sambil mengusap keringat dingin yang mengucur dari dahinya. Ia langsung mengambil pakaiannya yang berserakan dan memakainya.

 

“Mau ke mana?” tanya Amara kebingungan.

 

“Aku ada urusan mendadak. Kamu mau tidur di sini atau langsung pulang?”

 

“Aku langsung pulang. Ntar dicariin orang rumah kalau aku nggak pulang.”

 

“Aku pesankan taksi sekarang.”

 

“Kenapa sih? Tiba-tiba kamu ketakutan kayak gini?”

 

“Nggak ada apa-apa. Ada sedikit masalah sama bisnis aku.  Aku harus pergi buat menyelesaikan secepatnya.”

 

“Tapi ... ini udah malam. Kamu mau ke kantor?”

 

Harry menggelengkan kepala. “Aku harus ketemu sama seseorang sekarang juga.”

 

“Aku gimana?” tanya Amara kesal saat melihat Harry sudah mengenakan semua pakaiannya, sementara ia belum mengenakan sehelai kain pun di tubuhnya.

 

“Aku udah pesenin taksi,” jawab Harry sambil memakai sepatunya. “Setelah urusanku selesai, aku langsung telepon kamu.” Ia bergegas menarik gagang pintu dan keluar dari kamar.

 

“Iih ... ngeselin banget!” Amara memukul ranjang tidurnya yang empuk. “Baru juga main sekali, udah main pergi aja,” celetuknya kesal. Ia turun dari ranjang dan langsung mengenakan pakaiannya kembali.

 

Harry langsung menuju salah satu kamar hotel yang dikirim lewat ponselnya. Ia langsung menekan bel kamar hotel tersebut. Pintu kamar hotel terbuka dengan sendirinya. Ia langsung masuk ke dalam kamar hotel mewah tersebut sambil mengedarkan pandangannya.

 

“Udah puas tidur sama tunangan orang?”

 

Harry tertegun menatap seseorang yang duduk santai di sofa sambil menatap dirinya. Tenggorokannya sangat cekat dan ia kesulitan menelan ludahnya sendiri. Tatapan mata orang tersebut begitu tajam, seperti sebuah belati yang bersiap memotong lehernya hanya dalam satu libasan.

 

Orang yang berhadapan dengan Harry bangkit dan tersenyum sinis. Ia langsung menghampiri Harry sambil menatap penuh kebencian.

 

“Ma ... maaf!” Harry tidak kuat mendapati tatapan mata orang yang ada di hadapannya. Ia langsung menjatuhkan lututnya ke lantai. Ia merasa sangat bersalah dan tidak berdaya melawan orang yang sedang berdiri angkuh di depannya.

 

(( Bersambung ... ))

Thanks buat temen-temen yang udah setia baca Perfect Hero sampai di sini. Makasih banyak untuk apresiasi yang begitu besar. Jangan sungkan sapa aku di kolom komentar ya!

Happy Eid Mubarak! Minal Aidzin Wal Faidzin, Mohon maaf lahir dan batin ...

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi


Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas