Wednesday, February 5, 2025

Perfect Hero Bab 64: Cinta Karena Luka | a Romance Novel by Vella Nine

 


“Bi, udah telepon dokter?” tanya Yeriko sambil menatap Bibi War.

 

Bibi War mengangguk. “Sudah, Mas.” Ia mengambil handuk basah yang ada di dahi Yuna, memasukkannya kembali ke dalam ember air hangat dan memerasnya.

 

“Biar aku yang urus dia,” pinta Yeriko sambil merebut handuk yang ada di tangan Bibi War. “Bibi tolong buatkan bubur atau sup untuk Yuna!” perintahnya kemudian.

 

Bibi War mengangguk dan bangkit dari tempat tidur.

 

Yeriko langsung mengambil alih untuk merawat Yuna.

 

“Mas ...!” panggil Bibi War lirih.

 

“Ya.” Yeriko langsung menoleh ke arah Bibi War.

 

“Apa kesalahan Mbak Yuna nggak bisa dimaafkan? Bibi nggak tega ngelihat dia merasa bersalah dan menyiksa diri sendiri seperti ini,” tutur Bibi War sambil mengusap air matanya.

 

Yeriko tersenyum kecil ke arah Bibi War. “Dia nggak salah. Aku yang udah bersalah banget sama dia,” ucapnya sambil menatap wajah Yuna yang pucat pasi. “Andai aku bisa bersikap lebih baik, mungkin dia nggak akan seperti ini.”

 

Bibi War tersenyum lega. Ia sangat berharap kedua majikannya itu bisa akur kembali. Ia langsung bergegas keluar dari kamar Yeriko, melangkahkan kakinya menuju dapur untuk membuatkan sup jahe agar tubuh Yuna kembali fit.

 

Yeriko terus merasa bersalah. Dadanya begitu sesak melihat Yuna yang terbaring lemah. Ia menyentuh pipi Yuna perlahan sambil merapikan anak rambut yang menempel di wajah Yuna.

 

Yuna langsung menggenggam tangan Yeriko begitu pipinya disentuh. “Yeriko ... jangan tinggalin aku!” ucapnya lirih.

 

“Aku di sini, nggak akan ninggalin kamu,” sahut Yeriko berbisik.

 

Mata Yuna masih terpejam dan terus mengigau sembari menyebut nama Yeriko.

 

Yeriko semakin merasa bersalah. Karena sikapnya yang acuh telah membuat Yuna menderita. Ia sama sekali tidak menyangka kalau Yuna begitu menyayanginya. Ia pikir, Yuna masih mencintai Lian atau pria lain. Sebab, ia menikahi Yuna bukan karena saling mencintai sejak awal.

 

Yeriko terus menggenggam tangan Yuna. Ia bisa merasakan suhu tubuh Yuna yang sangat panas.

 

“Yeriko!” teriak Yuna terbangun dari tidurnya. Ia duduk dengan napas tersengal. Ia melihat tangan Yeriko yang masih menggenggam tangannya.

 

“Jangan khawatir, aku di sini!” tutur Yeriko sambil tersenyum.

 

Yuna menatap wajah Yeriko sesaat dan langsung memeluk suaminya itu. “Jangan tinggalin aku!” bisiknya. Ia tersadar dari mimpi buruk yang begitu menyiksanya. Ia benar-benar takut kehilangan suaminya.

 

Yeriko mengelus pundak Yuna lembut. “Aku nggak akan ninggalin kamu,” tuturnya lembut. Ia bisa merasakan suhu tubuh Yuna yang panas dan tetesan air mata hangat yang menetes di pundaknya.

 

“Aku takut,” ucap Yuna lirih. Ia kembali memejamkan mata dan tubuhnya sangat lemas.

 

Yeriko langsung membaringkan Yuna ke tempat tidur. Ia sangat khawatir dengan keadaan Yuna. Dokter yang ia tunggu tak kunjung datang dan hampir membuatnya naik pitam.

 

Beberapa menit kemudian, Bibi War masuk ke kamar bersama seorang dokter.

 

“Dokter, tolong istri saya!” pinta Yeriko panik.

 

Dokter tersebut tersenyum dan langsung memeriksa Yuna.

 

“Gimana keadaannya, Dok?” tanya Yeriko.

 

Yuna membuka matanya perlahan dan mendapati seorang dokter sedang memeriksa. Ia berusaha mengangkat kepala tapi terasa sangat berat.

 

“Yuna!” Yeriko langsung menghampiri Yuna dan memeluk kepala istrinya.

 

Yuna membelalakkan matanya saat dokter yang memeriksanya mengeluarkan jarum suntik. “Dok, aku nggak mau disuntik!” seru Yuna. Ia sangat ketakutan dan langsung memeluk Yeriko.

 

“Disuntik jarum yang gede keenakan, masa jarum yang kecil kayak gini aja takut?” tutur dokter tersebut sambil tersenyum.

 

Yeriko tertawa kecil mendengar ucapan dokter.

 

“Maksudnya?” Yuna makin kesal karena dokter tersebut malah mengajaknya bercanda.

 

“Masa nggak ngerti? Udah pernah disuntik apa belum sama suaminya?” goda dokter tersebut sambil mengalihkan perhatian Yuna.

 

Yeriko tersenyum kecil menatap Yuna. Ia melihat dokter sudah bersiap menyuntik Yuna. Dokter tersebut mengerdipkan mata ke arah Yeriko. Yeriko sangat mengerti bahasa isyarat yang disampaikan oleh dokter. Ia langsung menarik tengkuk Yuna dan mencium bibir istrinya untuk mengalihkan perhatian.

 

Yuna tertegun saat Yeriko menciumnya. Ia sangat malu dengan dokter dan Bibi War yang ada di ruangan itu. Ia berusaha melepaskan diri, tapi Yeriko malah menghisap bibirnya lebih kuat dan membuat Yuna tidak berdaya.

 

Dokter tersebut tersenyum melihat cara Yeriko mengendalikan istrinya yang ketakutan. “Sudah selesai,” ucapnya sambil membereskan alat medisnya.

 

Yeriko langsung melepaskan ciumannya.

 

“Eh!?” Yuna melongo menatap dokter yang baru saja menyuntiknya. “Aku udah disuntik?”

 

Dokter tersebut tersenyum sambil mengangkat kotak medisnya. “Nggak sakit kan?”

 

Yuna nyengir menanggapi pertanyaan dari dokter. “Gimana bisa ngerasain sakit kalau ciuman Yeriko bikin aku lupa segalanya?” gumamnya dalam hati. Pipinya menghangat dan tersenyum malu.

 

“Gimana keadaan dia, Dok?” tanya Yeriko.

 

“Dia akan baik-baik aja. Dia Cuma kelelahan dan dehidrasi. Setelah istirahat yang cukup, dia akan pulih seperti biasa,” jawab dokter tersebut. “Ini resep untuk Nyonya Ye!” lanjutnya sambil memberikan secarik kertas pada Yeriko.

 

“Makasih, Dok!” Yeriko meraih kertas tersebut dan tersenyum sopan.

 

“Oh ya, satu lagi. Buat dia rileks dan tidak membuat pikirannya terbebani. Setress sangat mempengaruhi kesehatannya.”

 

“Baik, Dok!” sahut Yeriko sambil menganggukkan kepalanya.

 

Dokter tersebut tersenyum sambil menepuk bahu Yeriko. “Kalau gitu, saya pamit pulang! Jaga istri kamu dengan baik!” pesan dokter tersebut.

 

“Iya.” Yeriko mengangguk. “Biar saya antar Anda keluar.”

 

Dokter tersebut menganggukkan kepala. Yeriko menoleh ke arah Yuna yang masih berbaring di tempat tidurnya. “Aku antar dokter dulu sampai ke depan.”

 

Yuna menganggukkan kepala.

 

Yeriko langsung melangkah keluar kamar dan bergegas mengantar dokter tersebut sampai depan pintu rumahnya.

 

Yeriko mengucapkan terima kasih beberapa kali, kemudian kembali masuk ke rumahnya?

 

“Bi, masak apa?” tanya Yeriko.

 

“Bikin sup untuk mbak Yuna.”

 

“Oh ... oke. Oh ya, habis masak, Bibi bisa pergi ke apotek depan?”

 

“Bisa.”

 

Yeriko tersenyum. Ia bergegas naik ke atas untuk menemui Yuna. Ia menghampiri Yuna perlahan. Ia duduk di tepi ranjang sembari menatap Yuna yang terbaring lemah.

 

Yuna membuka matanya perlahan saat Yeriko duduk di sampingnya.

 

“Tidurlah!” pinta Yeriko sambil mengelus lembut ujung kepala Yuna.

 

Yuna tersenyum, ia berusaha mengangkat kepala dan bangkit dari tempat tidur.

 

“Kamu masih terlalu lemah. Istirahatlah dulu! Aku temani kamu di sini.”

 

Yuna langsung meraih telapak tangan Yeriko dan menggenggamnya erat. “Suamiku, maafin aku!” pinta Yuna. “Aku dan Andre bener-bener nggak ada hubungan apa-apa selain kami berteman baik sejak kecil.”

 

Yeriko tersenyum ke arah Yuna. “Sudahlah, nggak perlu dibahas lagi. Aku percaya sama kamu.”

 

Yuna kembali meneteskan air mata sambil menatap Yeriko.

 

“Jangan nangis!” pinta Yeriko sambil mengusap air mata Yuna yang hangat. “Kamu masih harus istirahat, nggak perlu memikirkan hal lain.”

 

“Tapi ...”

 

Yeriko menarik kepala Yuna perlahan dan memeluknya erat.

 

“Aku takut ...” bisik Yuna sambil memeluk Yeriko.

 

“Takut apa?”

 

“Aku mimpi buruk semalaman,” ucap Yuna lirih sambil mengeratkan pelukannya. “Aku takut ... kamu ninggalin aku seperti cara Lian ninggalin aku.” Ia makin terisak di pelukan Yeriko.

 

Yeriko menarik napas dalam-dalam. Ia tak menyangka kalau Yuna masih sangat menderita dengan masa lalunya, sikapnya yang mengabaikan Yuna dan pergi dengan wanita lain ternyata membuat Yuna begitu tersiksa.

 

“Aku nggak akan ninggalin kamu,” tutur Yeriko sambil melepas pelukannya dan mengusap air mata Yuna.

 

“Cewek itu ...” Bibir Yuna bergetar sambil menatap Yeriko.

 

Yeriko tersenyum kecil. “Dia cuma klien aku. Nggak ada yang perlu dikhawatirkan!”

 

“Kamu tampan dan kaya. Di luar sana, pasti ada banyak perempuan yang pengen deketin kamu. Mereka cantik, punya tubuh yang bagus dan kaya raya. Sedangkan aku nggak punya apa-apa. Gimana aku bisa bersaing dengan mereka yang ...”

 

“Sst ...!” Yeriko langsung meletakkan jari telunjuk di bibir Yuna. “Sekalipun semua wanita di dunia ini mengejarku, aku cuma lihat kamu di dunia ini.”

 

Yuna merasa ucapan Yeriko begitu hangat dan menenangkan hatinya. Ia langsung memeluk tubuh suaminya. “Janji?”

 

“Iya.” Yeriko membalas pelukan Yuna. Ia berusaha untuk tersenyum, dadanya begitu sesak karena telah membuat Yuna mengkhawatirkan hubungan mereka. Ia berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak membuat Yuna menderita.

 

(( Bersambung ... ))

Makasih yang udah baca “Perfect Hero” yang bakal bikin kamu baper bertubi-tubi. Jangan malu buat sapa aku di kolom komentar ya! Kasih kripik ... eh, kritik dan saran juga ya! Selamat menjalankan ibadah puasa!

 

Much Love

@vellanine.tjahjadi

 

Perfect Hero Bab 63 : Pertengkaran Kecil | a Romance Novel by Vella Nine

 


Lutfi menyeret Yeriko pergi ke bar. Kebetulan, pikiran Yeriko sedang kacau dan ia tidak menolak ajakan Lutfi. Mereka menghabiskan waktu di bar sambil bercerita banyak hal tentang bisnis dan juga wanita di sekeliling mereka.

 

“Eh, kamu sudah punya istri. Ini sudah jam tiga pagi. Apa kamu nggak khawatir ninggalin istrimu?” tanya Lutfi.

 

Yeriko menggelengkan kepala sambil menenggak anggur yang ada di tangannya.

 

“Kenapa? Lagi berantem?” tanya Lutfi sambil tertawa kecil.

 

“Lagi kesel aja sama dia.”

 

“Kesel kenapa?”

 

“Tadi siang, dia pergi makan sama cowok lain.”

 

“Hahaha.” Lutfi malah tertawa lebar mendengar pernyataan Yeriko.

 

“Kenapa malah ketawa?”

 

“Kakak Ipar itu cantik dan menyenangkan, wajar aja kalau ada cowok yang ngajak dia makan siang. Kalau lihat dia makan, kayaknya semua makanan jadi enak banget. Aku juga mau makan bareng dia.”

 

Yeriko langsung mengetuk kepala Lutfi. “Kamu bener-bener nggak menghargai aku ya!?” dengusnya geram.

 

“Hehehe. Kalau cuma nemenin makan siang, aku rasa nggak ada masalah. Cemburumu terlalu gede!” seru Lutfi.

 

“Cemburu?” Yeriko bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Apa benar ia sedang cemburu? Apakah Yuna juga merasa cemburu saat ia makan bersama Cantika?

 

“Eh, Lut ... tadi siang aku juga makan bareng Cantika. Yuna nyamperin aku sambil minta maaf. Tapi, aku cuekin dan ngajak ngobrol Cantika tanpa melihat dia. Apa dia juga bakal cemburu?”

 

Lutfi menatap Yeriko sambil tertawa.

 

“Kenapa malah ketawa?”

 

“Kalau dia marah, jelas dia cemburu. Apalagi, Cantika itu cantik dan seksi. Bukan cuma cemburu, dia pasti sudah salah paham. Apalagi sampai sekarang kamu belum pulang ke rumah. Pasti dia mikir kalau kamu lagi main sama Cantika.”

 

“Apa pemikiran cewek serumit itu?”

 

“Bisa jadi. Bukannya kamu pernah cerita kalau Yuna sebelumnya pernah diselingkuhi sama pacarnya? Dia pasti akan lebih sensitif saat lihat kamu jalan sama cewek lain.”

 

“Tapi ... Cantika cuma klien aku. Dia juga sudah punya tunangan.”

 

“Semua wanita sama, sudah menikah atau belum itu sama aja. Asal suka sama suka, hubungan terlarang bisa aja terjadi,” ucap Lutfi yang sudah setengah sadar karena berada di bawah pengaruh alkohol.

 

Yeriko langsung bangkit dari tempat duduk. Ia meraih jasnya dan bergegas pergi.

 

“Heh!? Mau ke mana?” tanya Lutfi.

 

“Pulang,” jawab Yeriko. Ia bergegas keluar dari bar dan melajukan mobilnya pulang ke rumah.

 

“Mas Yeri, kok baru pulang?” tanya Bibi War saat melihat Yeriko masuk ke dalam rumah.

 

“Bibi belum tidur?”

 

“Belum. Bibi nggak bisa tidur karena Mbak Yuna ...”

 

“Yuna kenapa?”

 

“Dia kelihatan sedih banget sejak pulang kerja. Dia masih nunggu Mas Yeri pulang. Bibi nggak tega lihat dia kayak gitu. Kenapa Mas Yeri pulang sampai pagi kayak gini?”

 

“Lutfi ngajak aku ke bar.” Yeriko melangkah perlahan menaiki anak tangga. Ia tertegun saat melihat Yuna terduduk di lantai dengan tatapan kosong. Ia melangkah perlahan menghampiri Yuna.

 

Yuna menatap sepasang kaki yang tiba-tiba sudah ada di depannya. Ia langsung mengangkat kepala dan menatap Yeriko yang berdiri di hadapannya. “Sudah pulang?” tanyanya lirih.

 

“Belum tidur?” Yeriko balik bertanya. Ia merasa tertekan melihat wajah Yuna yang pucat pasi dan terduduk di lantai. Yeriko berjongkok di depan Yuna sambil merapikan rambut Yuna yang berantakan.

 

“Kamu dari mana?” tanya Yuna dengan mata berkaca-kaca.

 

“Dari bar.”

 

“Sama cewek yang tadi siang?”

 

Yeriko menghela napas. Yuna benar-benar telah berpikir sangat jauh, sama seperti yang diucapkan oleh Lutfi. Ia menggeleng perlahan.

 

“Kenapa nggak jemput aku pulang kerja?”

 

“Aku banyak kerjaan.”

 

“Bohong! Kamu masih jalan sama klien kamu yang cantik itu kan?”

 

“Nggak, Yun!”

 

“Riyan yang bilang sama aku kalau kamu masih jalan sama klien itu. Sebenarnya, dia itu klien kamu atau selingkuhan kamu?”

 

“Yun, jangan berpikir terlalu jauh!” pinta Yeriko. “Dia cuma klien aku.”

 

“Aku nggak percaya.”

 

“Bukannya kamu juga jalan sama cowok lain?”

 

“Andre temen aku dari kecil. Aku juga makan sama dia baru sekali ini setelah nggak ketemu bertahun-tahun. Apa aku nggak boleh cuma pergi makan siang doang?”

 

“Makan siang atau makan malam sama aja! Tetep aja kamu pergi sama cowok lain!” sentak Yeriko.

 

“Apa bedanya sama kamu, hah!? Kamu pakai alasan kerja buat deketin cewek-cewek cantik.”

 

“Kamu jangan nuduh sembarangan kayak gini, Yun! Aku nggak mungkin selingkuh. Aku cuma sayang sama kamu.” Yeriko langsung memeluk tubuh Yuna.

 

Yuna melepaskan pelukan Yeriko perlahan. “Aku pusing, mau tidur,” tutur Yuna sambil bangkit dan naik ke atas ranjang. Kepalanya tiba-tiba berdenyut kuat. Ia menarik selimut menutupi tubuhnya dan bersin beberapa kali.

 

Yeriko menarik napas. Ia melepas jas dan dasinya,  membuka kancing kemeja kemeja. Ia berbalik dan keluar dari kamar. Ia masuk ke ruang kerja dan duduk di sofa.

 

Yeriko mengambil sebatang rokok, menyalakan dan menghisapnya perlahan. “Huft ...!” Ia menghembuskan napas sambil mengeluarkan asap dari mulutnya dan bersandar di sofa.  Belum lama  menikah, mereka harus bertengkar hebat hanya karena sama-sama salah paham.

 

Ia merasa sangat kesal karena Yuna menuduhnya berselingkuh dengan wanita lain. Yeriko langsung menelepon Chandra untuk meminta saran tentang hubungannya.

 

“Kenapa, Yer?” tanya Chandra tanpa basa-basi saat panggilan telepon Yeriko tersambung. “Tumben telepon pagi-pagi banget?”

 

“Sudah bangun?”

 

“Sudah. Kenapa, Yer?”

 

“Apa kamu pernah berantem sama Amara?”

 

“Sering.”

 

“Masalahnya apa?”

 

“Apa yang bikin perempuan paling marah?”

 

“Lihat kita jalan sama cewek lain.”

 

“Maksudnya, selingkuh?”

 

“Yah, nggak juga sih. Tapi, biasanya dia suka marah-marah kalau lihat aku jalan sama cewek lain. Bahkan, dia pernah maki-maki Yuna sama Jheni waktu aku ajak mereka makan siang bareng. Cewek, kalo udah cemburu, semuanya jadi salah, Yer.”

 

“Gitu ya?”

 

“Iya. Ada apa sih? Lagi berantem sama Yuna?”

 

“Dia cemburu sama Cantika. Semalam aku nggak pulang, dia pikir aku masih sama Cantika.”

 

“Kenapa nggak pulang? Parah!”

 

“Lutfi ngajak aku ke bar.”

 

“Terus?”

 

“Yuna nunggu aku pulang sampai jam setengah empat pagi. Waktu aku pulang, dia marah-marah. Aku bener-bener kesel. Kenapa dia bisa berpikiran sejauh itu?”

 

“Namanya juga perempuan, Yer. Wajar kalau dia marah karena suaminya nggak pulang semalaman. Apalagi, dia udah nunggu kamu sampai pagi. Dia begitu, pasti karena sayang banget sama kamu.”

 

Yeriko menghela napas. “Bener juga, sih. Waktu pulang, aku nggak tega lihat mukanya pucat banget. Sebenarnya, aku udah nggak marah sama dia. Tapi, dia malah marah-marah dan bikin aku makin emosi.”

 

“Kamu jangan egois. Kalau urusan cinta, laki-laki harus banyak mengalah. Yuna pasti sangat menderita kalau dia sampai nunggu kamu pulang semalaman.”

 

“Iya.”

 

“Ya sudah. Tunggu apa lagi! Lebih baik kamu bujuk dia secepatnya!”

 

“Oke.” Yeriko langsung mematikan sambungan teleponnya. Ia bangkit, keluar dari ruang kerja dan masuk ke kamarnya.

 

Yeriko mengedarkan pandangannya. Ia tidak mendapati Yuna berbaring di tempat tidur. Ia mengecek kamar mandi dan tidak ada Yuna di sana.

 

“Yuna ...!” panggilnya lirih. Ia bergegas turun dari kamar dan mencari Yuna di meja makan dan ruang tamu. Ia mulai khawatir dengan keberadaan Yuna. “Pergi ke mana sih?” gumamnya sambil melangkah ke dapur.

 

“YUNA!” teriak Yeriko saat melihat tubuh Yuna tergeletak di lantai dapur. Ia langsung mengangkat kepala Yuna. “Yun ...!” panggilnya lirih sambil menepuk pipi Yuna perlahan. “Bangun!” pintanya.

 

Yuna bergeming. Tubuhnya lemas dan suhu badannya sangat tinggi.

 

“Bibi ...!” teriak Yeriko sambil mengangkat tubuh Yuna.

 

Hari masih gelap, Bibi War baru saja terbangun karena tidak bisa tidur semalaman. Ia terkejut mendengar teriakan Yeriko dan bergegas keluar dari kamarnya.

 

“Ada apa, Mas?” tanya Bibi War saat melihat Yeriko menggendong Yuna.

 

“Dia pingsan di dapur. Bibi, tolong panggilkan dokter secepatnya!” pinta Yeriko sambil menggendong Yuna dan membawanya naik ke kamar.

 

“Iya, Mas.” Bibi War langsung menelepon dokter agar bisa memeriksa Yuna secepatnya.

 

Usai menelepon dokter, Bibi War ikut naik ke atas untuk memastikan keadaan Yuna. Ia juga membawa handuk kecil dan air hangat.

 

“Dia nggak mau makan dan nggak tidur semalaman,” tutur Bibi War sambil meletakkan handuk hangat ke dahi Yuna.

 

Yeriko tertunduk lesu. Ia merasa sangat bersalah karena sudah mengabaikan Yuna dan membuat istrinya jatuh sakit. Ia memijat dahinya yang berdenyut dan berusaha menahan rasa perih di matanya sambil menatap  Yuna yang terbaring lemah dan tak sadarkan diri.

 

“Aku sudah salah,” ucapnya lirih. “Maafin aku!” ucap Yeriko dengan mata berkaca-kaca.

 

(( Bersambung ... ))

Makasih yang udah baca “Perfect Hero” yang bakal bikin kamu baper bertubi-tubi. Jangan malu buat sapa aku di kolom komentar ya! Kasih kripik ... eh, kritik dan saran juga ya! Selamat menjalankan ibadah puasa!

 

Much Love

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

Perfect Hero Bab 62: Mimpi Buruk

 



Setelah pulang kerja, Yuna menelepon Yeriko tapi tidak diangkat. Ia bergegas keluar dari kantor dan menunggu Yeriko menjemputnya usai pulang bekerja.

 

Yuna langsung tersenyum begitu melihat mobil Lamborghini Biru menghampirinya. Ia langsung berjalan menuju mobil tersebut dan membuka pintu. “Riyan!?” Ia mengernyitkan dahi saat melihat Riyan yang duduk di belakang kemudi.

 

“Hai ... Nyonya Muda!” sapa Riyan sambil tersenyum manis.

 

Yuna menghela napas dan langsung masuk ke dalam mobil. “Yeriko ke mana?”

 

Riyan menggelengkan kepala. “Katanya, masih ada urusan sama klien.”

 

“Klien yang tadi siang di restoran?”

 

Riyan menganggukkan kepala sambil menjalankan mobilnya perlahan.

 

“Apa ketemu klien harus selama itu?”

 

Riyan tidak menjawab. Melihat Yuna yang kesal, ia takut salah bicara dan membuat majikannya salah paham.

 

“Kenapa diam?” tanya Yuna lagi.

 

“Aku nggak tahu.”

 

“Kamu kan asistennya Yeriko. Kenapa nggak tahu?”

 

“Mmh ...” Riyan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

 

“Kamu nggak usah menutupi kelakuan Yeriko di belakang aku!” sentak Yuna.

 

“Ngg ... ngg ... nggak, Nyonya.”

 

“Cewek cantik yang ketemu sama aku di restoran tadi siang itu siapa? Klien atau Klien!?”

 

“Klien,” jawab Riyan.

 

“Klien beneran atau cuma alasannya dia aja biar bisa jalan sama cewek lain?”

 

Riyan menghela napas. “Bu Cantika, sudah lama menjadi klien kami. Bos Yeri nggak mungkin macem-macem.”

 

Yuna melipat kedua tangannya di dada dan juga melipat wajahnya.

 

Riyan sangat gugup karena menjadi pelampiasan kemarahan istri bosnya. Ia tahu kalau Yuna sedang cemburu dan bisa saja ucapannya semakin membuat rasa cemburu di hati Yuna semakin membesar.

 

Riyan melirik Yuna beberapa kali. Sebelum pergi menjemput Yuna, ia telah menjadi pelampiasan Yeriko karena Yuna pergi makan siang dengan pria lain. Sekarang, ia juga menjadi pelampiasan kemarahan Yuna karena melihat Yeriko pergi makan dengan wanita lain. “Dua orang ini benar-benar sedang cemburu. Nggak nyangka kalau Bos Ye ternyata memang sangat menyayangi istrinya,” tutur Riyan dalam hatinya.

 

Yuna tidak bertanya lagi sampai ia masuk ke rumah. Perasaannya semakin tak karuan. Ia terus melamun dan membuat Bibi War menyadari kalau Yuna sedang ada dalam masalah. Terlebih, ia pulang seorang diri dan hanya diantar oleh Riyan.

 

“Ada masalah dengan Mas Yeri?” tanya Bibi War.

 

Yuna mengangguk sedih.

 

“Ada apa? Cerita ke Bibi!”

 

Yuna menatap Bibi War dengan mata berkaca-kaca. “Yeriko lagi jalan sama cewek lain. Cewek itu cantik banget, punya badan yang bagus dan pakaiannya juga kelihatan sangat mahal. Apa Yeriko bakal mencampakkan aku?”

 

Bibi War tersenyum sambil mengelus rambut Yuna. “Mas Yeri nggak akan seperti itu. Ada banyak cewek cantik dan kaya di sekelilingnya. Dia sudah memilih Mbak Yuna dan Bibi yakin kalau dia nggak akan melihat wanita lain lagi.”

 

“Tapi, Bi ...” Yuna tak bisa melanjutkan ucapannya. Air matanya tiba-tiba menetes deras. Ia teringat bagaimana saat Lian mencampakkan dirinya dan berselingkuh dengan Bellina selama tujuh tahun. Ia tidak bisa membayangkan kalau suaminya berselingkuh dengan wanita lain. Apa yang harus ia lakukan?

 

Bibi War ikut sedih melihat penderitaan Yuna. Ia langsung memeluk kepala Yuna agar bisa membuat gadis itu tenang. Sesekali, ia menoleh ke arah pintu, berharap Yeriko bisa segera pulang dan menenangkan Yuna.

 

“Nanti Bibi bicara dengan Mas Yeri. Sekarang, Mbak Yuna naik dan istirahatlah!” pinta Bibi War sambil melepas pelukannya.

 

Yuna mengangguk sambil mengucap air matanya dan perlahan menaiki anak tangga menuju kamarnya.

 

Yuna terduduk lemas di atas tempat tidur. Ia terus membayangkan hal buruk tentang hubungannya dengan Yeriko. Mereka baru saja menikah. Saat Yuna merasa Yeriko begitu mencintainya, saat itu juga memiliki rasa takut kehilangan yang begitu besar.

 

Yuna masuk ke kamar mandi dan memilih berendam dengan air panas di dalam bathtub. Ia masih saja melamunkan hubungannya dengan Yeriko. “Kenapa sampai sekarang belum pulang juga?” tanya Yuna sambil melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 21.00 WIB.

 

Yuna menengadahkan kepalanya ke langit-langit, ia menyandarkan kepala sambil memejamkan mata.

 

Yuna membuka matanya perlahan dan mendapati dirinya sudah berbaring di sofa ruang kerja Yeriko.

 

“Aah ...!” Yuna mendengar suara desahan wanita dan seorang pria dari balik pintu ruang istirahat yang ada di ruangan Yeriko. Ia bangkit dan melangkah perlahan menuju pintu.

 

Suara desahan semakin terdengar jelas. Yuna semakin penasaran, ia memegang gagang pintu dan membuka pintu itu perlahan. Yuna tertegun saat melihat sepasang pria dan wanita sedang bercinta penuh gairah di atas ranjang.

 

“Yeriko!” panggil Yuna lirih sambil berlinang air mata.

 

Yeriko langsung menoleh ke arah Yuna yang berdiri di depan pintu. “Ayuna!?” Ia langsung melepaskan wanita yang sedang bercinta bersamanya. Yeriko buru-buru memakai pakaiannya dan mengejar Yuna yang sudah berbalik sambil melangkah pergi meninggalkan ruangan Yeriko.

 

“Yuna!” panggil Yeriko.

 

Yuna terus menangis sambil mempercepat langkahnya. Ia tidak menyangka kalau suaminya telah berselingkuh dengan wanita lain yang jauh lebih cantik dan seksi. Ia benar-benar merasa menjadi istri yang tidak berguna.

 

“Yun!” Tangan Yeriko akhirnya bisa meraih lengan Yuna dan menahannya untuk pergi.

 

Yuna menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Yeriko. “Kamu tega ngelakuin ini di belakang aku?” tanya Yuna sambil terisak.

 

Yeriko langsung memeluk tubuh Yuna. “Maafin, aku! Aku sedikit mabuk dan nggak bisa mengendalikan diri. Jangan tinggalin aku, Yun!” pintanya.

 

Yuna memberontak, berusaha melepas pelukan Yeriko dan mendorong Yeriko jauh dari tubuhnya. “Kamu pikir, kata maaf bisa menghapus semua rasa sakit yang aku rasain? Aku bener-bener nggak nyangka kalau kamu tega ngelakuin ini. Aku ini istri kamu! Kamu malah bercinta sama perempuan lain. Apa kamu masih kurang puas sama aku, hah!?”

 

“Bukan gitu, Yun! Aku cuma ...” Yeriko berusaha meraih tubuh Yuna. Tapi Yuna menepis tangan Yeriko dengan kasar.

 

“Mulai sekarang, kita nggak punya hubungan apa-apa lagi!” sentak Yuna. Ia berbalik dan berlari sekuat tenaga meninggalkan Yeriko.

 

Yuna terus berlari sambil menangis. Ia merasakan kakinya sangat lemas, koridor kantor Yeriko menjadi begitu panjang dan ia tidak tahu harus berlari berapa lama. Air matanya pun bercucuran deras. Semua rasa sakit di tubuhnya membuatnya tak berdaya dan menjatuhkan lututnya ke lantai.

 

Yuna menangis histeris sambil berteriak sekuat tenaga karena rasa sakit yang begitu dalam.

 

“Aargh ...!” teriak Yuna sekuat tenaga sambil memejamkan matanya.

 

Yuna mengerjapkan mata sambil melihat ke sekelilingnya. “Aku ketiduran?” tanyanya sambil melihat tubuhnya yang masih berendam di bathtub. “Untungnya cuma mimpi,” gumamnya sambil melihat jam dinding yang ada di kamar mandi. Tak terasa kalau ia sudah berendam di dalam bathtub selama dua jam.

 

Ia segera keluar dari bathtub dan membersihkan diri, kemudian keluar dari kamar mandi dan berganti pakaian.

 

“Hatciiim ...!” Yuna menggosok hidungnya yang gatal. Sepertinya, ia terlalu lama berendam. Ia keluar dari kamar dan turun ke bawah.

 

“Bi, Yeriko belum pulang?” tanya Yuna.

 

“Belum,” jawab Bibi War.

 

Yuna menghela napas kecewa dan berbalik.

 

“Mbak Yuna mau makan?”

 

Yuna menggelengkan kepala dan melangkah kembali naik ke kamarnya. Ia terduduk lemas di lantai sambil bersandar di tempat tidur.

 

“Kenapa jam segini belum pulang juga. Kamu ke mana?” tanya Yuna dengan mata berkaca-kaca. Ia sangat takut kalau mimpinya barusan akan menjadi kenyataan. Bagaimana jika saat ini Yeriko benar-benar sedang bersama wanita lain?

 

Yuna terus melamun sambil terduduk di lantai. Ia terus menatap layar ponsel, berharap kalau Yeriko akan segera memberinya kabar.

 

Satu jam berlalu, tetap tidak ada kabar dari suaminya. Akhirnya, ia memilih untuk menelepon Yeriko, namun tak kunjung diangkat. Yuna semakin sedih, ia memeluk kakinya yang dingin dengan tatapan kosong.

 

Bibi War tidak tega melihat keadaan Yuna, ia terus menatap Yuna dari pintu kamar yang terbuka. Ia juga sangat khawatir dengan Yeriko karena sudah tengah malam dan belum juga kembali ke rumah. Hal ini jelas membuat Yuna semakin menderita.

 

Bibi War melangkah perlahan turun dari kamar. “Kalau masih muda, mungkin Bibi tidak terlalu khawatir. Kamu sudah menikah dan istrimu menunggu di rumah. Kenapa belum pulang juga?” tanya Bibi War sambil menatap pintu masuk rumah dari balik jendela. Ia merasa tidak tenang dan tidak bisa memejamkan mata melihat Yuna begitu menderita.

 

 

 

(( Bersambung ... ))


Makasih yang udah baca “Perfect Hero” yang bakal bikin kamu baper bertubi-tubi. Jangan malu buat sapa aku di kolom komentar ya! Kasih kripik ... eh, kritik dan saran juga ya! Selamat menjalankan ibadah puasa!

 

Much Love

@vellanine.tjahjadi

 


Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas