Thursday, March 5, 2026

THEN LOVE BAB 58 : PERTEMUAN DENGAN TEMAN MASA KECIL

 



Bab 58

Pertemuan dengan Teman Masa Kecil

 

Delana tersenyum menatap cowok yang tiba-tiba berdiri di sampingnya saat menunggu pintu lift terbuka. Ia mengenali cowok itu, tapi sepertinya cowok itu tak lagi mengenalinya.

Selama berada di dalam lift bersama Mahesa, Delana hanya diam. Ia bukan tak ingin menyapa cowok itu. Ia tahu kalau Hesa memerhatikan dirinya. Karena Hesa tak juga menyapanya, ia memilih untuk mengabaikan cowok itu.

Delana tersenyum saat ia keluar dari lift dan Hesa masih mengikuti langkahnya.

“Pagi, Mbak!” sapa sekretaris yang berada di luar ruangan Presdir.

“Pagi. Paman ada?” tanya Delana.

“Ada. Beliau sudah menunggu,” jawab sekretaris cantik itu.

“Oke.” Delana tersenyum dan melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan pamannya.

“Pagi, Paman!” sapa Delana begitu ia masuk ke dalam ruangan pamannya.

“Pagi. Akhirnya yang Paman tunggu-tunggu datang juga,” sahut Paman Kam.

Delana tersenyum dan langsung memeluk pamannya.

“Gimana kabar ayah kamu?” tanya Paman Kam.

“Baik. Sepertinya dia betah di Berau,” tutur Delana sambil tertawa kecil.

Paman Kam tergelak mendengar ucapan Delana.

Sementara itu, di luar ruangan Hesa mulai gelisah. Ia langsung menerobos masuk ke dalam kantor Paman Kam.

Delana dan Paman Kam langsung menoleh ke arah pintu yang tiba-tiba terbuka.

“Maaf, Paman. Aku nyelonong masuk. Aku udah lama nunggu di resepsionis ...”

Paman Kam tersenyum. “Nggak papa. Duduk!” perintah Paman Kam.

Hesa langsung duduk dan terus menatap gadis cantik yang ada di depannya.

“Ehem ...!” Paman Kam berdehem ketika melihat Hesa menatap Delana tanpa berkedip.

Hesa langsung gelagapan begitu menyadari kalau ia sibuk mengagumi setiap bagian tubuh gadis yang duduk di samping Paman Kam. Ia langsung mengeluarkan berkas yang ia bawa untuk menutupi perasaan gugupnya.

“Kak Hesa nggak ingat sama aku?” tanya Delana sambil tersenyum manis.

“Eh!? Kamu tahu namaku?” tanya Hesa sambil menunjuk dirinya sendiri. Ia sama sekali tak mengenali wanita yang duduk di depannya. Ia berusaha mengingat deretan pacar dan mantan-mantannya. Tak ada yang seperti gadis yang ada di hadapannya itu. Sekalipun ia seorang playboy. Ia tidak akan pernah lupa wajah cewek yang pernah berkencan dengannya.

Paman Kam dan Delana tertawa melihat Hesa yang kebingungan.

“Aku Delana, Delana Aubrey,” tutur Delana.

“Keponakan Paman. Memang, dia sekarang banyak berubah,” sela Paman Kam.

“Dela!? Yang dulu tomboy itu?” tanya Hesa dengan wajah sumringah. Ia menggeleng-gelengkan kepala menatap Delana dari ujung kaki sampai ke ujung rambut. “Kamu sekarang beda banget. Cantik banget!” pujinya.

“Ah, Kak Hesa bisa aja.”

“Iya. Dulu kamu tuh kayak laki-laki. Udah rembes, ingusan pula,” tutur Hesa sambil tertawa.

Delana mengerucutkan bibirnya menanggapi ucapan Hesa.

“Sorry ... becanda aja, kok. Coba dari dulu kamu kayak gini. Udah aku pacarin,” tutur Hesa.

“Ehem ...!” Paman Kamoga berdehem sebagai isyarat agar Hesa tak menggoda keponakannya.

Hesa menundukkan kepala. Ia membuka berkas kontrak kerja yang ada di tangannya dan menyerahkannya pada Paman Kam. “Bisa Paman cek dulu sebelum ditanda tangani,” tutur Hesa sambil tersenyum.

Paman Kam langsung meraih berkas itu dan membacanya dengan teliti.

“Gimana kabar ayah kamu?” tanya Hesa.

“Baik,” jawab Delana. “Oom Erlan apa kabar?” tanya Delana.

“Baik juga.”

Delana tersenyum. “Kak Hesa udah kelar kuliah?”

“Udah. Baru aja balik dari Auckland beberapa bulan yang lalu.”

“Oh ya? Asyik ya bisa sekolah di luar negeri,” tutur Delana.

Hesa mengangguk-anggukkan kepalanya. “Kamu sendiri kenapa nggak kuliah di luar negeri?”

“Nggak berani. Cukup di sini aja yang deket sama rumah.”

“Oh. Jadi, kuliahnya deket sama rumah kamu?”

“Iya. Di belakang rumah. Tinggal jalan kaki aja kalo mau pergi ke kampus.”

“Rumah kamu masih yang dulu?” tanya Hesa.

“Yang mana?” tanya Delana balik untuk menguji ingatan Hesa.

“Oh ... iya, kamu udah pindah ke Gunung Bahagia ya? Masih di sana?” tanya Hesa.

“Masih.”

“Terus, rumah lama kamu yang dulu waktu masih kecil gimana keadaannya?”

“Udah dijual sama Papa. Sekarang udah jadi bangunan lain.”

“Oh ya? Sayang banget. Padahal, aku suka main di kolam ikan yang ada di belakang rumah kamu itu,” tutur Hesa.

Delana hanya meringis. Ia juga terkadang merindukan rumah masa kecilnya. Tapi, apa boleh buat. Semua hal bisa berubah begitu cepat dan ia tak bisa mencegahnya.

“Kamu ingat nggak waktu dulu kita sering main timezone. Kamu sering nangis gara-gara nggak bisa main capit boneka,” tutur Hesa sambil mengingat masa kecilnya bersama Delana.

“Hahaha. Iya, Paman ingat. Dan dia baru berhenti nangis kalo dibeliin ice cream,” sahut Paman Kam sambil tertawa.

Delana hanya meringis mendengar ucapan Hesa dan Paman Kam tentang masa kecilnya.

Hubungan bisnis antara keluarga Aubrey dan Fino Group membuat Delana dan Mahesa sudah saling mengenal sejak kecil.

Paman Kam tidak memiliki anak perempuan, ia sangat menyayangi Delana seperti anaknya sendiri dan kerap mengajak Delana bermain. Sehingga Delana sudah mengenal Mahesa.

“Terakhir aku lihat kamu, waktu kelas satu SMA, ya?” tanya Hesa.

Delana menganggukkan kepala.

“Waktu itu kamu masih tomboy banget. Rambutnya aja hampir sama kayak rambutku. Sama sekali nggak menarik perhatian,” tutur Hesa.

“Emangnya sekarang menarik?” tanya Delana sambil tertawa kecil.

“Banget.”

Delana terdiam mendengar jawaban pasti dari Hesa. Ia pikir, Hesa bercanda seperti apa yang biasa mereka lakukan dahulu.

Paman Kam bangkit dari sofa dan langsung duduk di meja kerjanya. Ia langsung menandatangani berkas kerjasama yang dibawa oleh Mahesa.

Hesa tersenyum karena Paman Kam menyutujui nilai kontrak yang ia ajukan. Ia kemudian mengalihkan pandangannya pada Delana. Gadis itu kini terlihat begitu menggemaskan.

Tiba-tiba, telepon di meja Paman Kam berdering. Paman Kam langsung menjawab telepon dengan nada serius.

“Del, kamu mau pake mobil jam berapa?” tanya Paman Kam pada Delana.

“Mmh ... janjian sama Dhanuar sama Alan jam empat sore,” jawab Delana. “Kenapa, Paman?”

Paman Kam menghela napas. “Sepertinya, mobilnya mau Paman pakai dulu sebentar. Terlambat sedikit nggak papa?”

Delana tersenyum. “Nggak Papa, Paman. Kami nggak buru-buru, kok.”

“Emangnya mau ke mana?” tanya  Hesa.

“Ke Batu Dinding,” jawab Delana sambil tersenyum.

“Mau aku antar? Kebetulan aku lagi nggak sibuk juga,” tutur Hesa menawarkan diri. Ia merasa, ini kesempatan paling baik untuk dekat dengan Delana.

“Eh!? Emang nggak ngerepotin?” tanya Delana.

“Nggaklah. Buat cewek secantik kamu mah aku nggak bakal pernah repot,” jawab Hesa sambil tersenyum bahagia. Ia berharap, Delana mau menerima tawarannya kali ini.

“Oh, iya. Dia punya mobil George S. Patton. Cocok banget buat kondisi jalan buruk,” tutur Paman Kam pada Delana.

Delana tersenyum sambil berpikir. “Tapi, Kak. Kami mau camping di sana. Jadi, kami mau nginap,” tutur Delana lirih.

“Ah, nggak masalah. Mau camping satu bulan juga aku bisa,” sahut Hesa.

Delana tertawa kecil. Ia tak menyangka kalau Hesa begitu bersemangat ingin mengantarnya. “Kak, tapi lokasinya di tengah hutan, loh. Emangnya Kakak bisa?” tanya Delana.

“Emang di daerah mana?” tanya Hesa.

“Kilo Empat Lima,” jawab Delana.

“Ah, itu mah belum tengah hutan. Kakak kalau ke lokasi tambang, malah lebih tengah hutan lagi,” tutur Hesa.

“Oh ya?” Delana tersenyum manis menatap Hesa.

Perasaan Hesa begitu gelisah setiap kali mendapati senyuman Delana. Gadis itu terlihat begitu tulus dan senyumnya membuat hatinya nyaman.

“Jadi gimana? Mau nggak kalo aku antar?” tanya Hesa.

Delana tersenyum. “Boleh. Tapi, dengan satu syarat!” pinta Delana.

“Gampang. Apa syaratnya?” tanya Hesa.

“Aku nggak mau dengar Kakak mengeluh apa pun. Bahkan cuma karena gigitan nyamuk sekalipun,” tutur Delana.

“Ahsiaap! Itu mah perkara kecil,” sahut Hesa sambil memainkan kedua alisnya.

Delana tersenyum manis.

“Oke. Kalo gitu semuanya udah beres. Kalian bisa pergi bersama. Paman mau keluar dulu karena ada keperluan mendadak,” tutur Paman Kam sambil melangkahkan kakinya.

Paman Kam menoleh ke arah Delana dan Hesa. “Kalian boleh lanjut ngobrolnya di sini. Atau mau cari tempat lain yang lebih asyik sambil minum teh?” tanya Paman Kamoga sambil mengedipkan matanya ke arah Hesa. Ia tersenyum dan langsung bergegas keluar dari ruangannya.

Hesa tersenyum kecil karena Paman Kam terlihat menyukainya. Lebih tepatnya, Paman Kam suka melihatnya mendekati keponakan cantiknya itu.

Berada dalam satu ruangan dengan wanita cantik, membuat Hesa berharap ruangan kerja Paman Kam terus mengecil agar ia bisa duduk berdekatan dengan Delana.

“Kamu udah makan siang?” tanya Hesa pada Delana.

“Belum,” jawab Delana.

“Gimana kalo kita makan siang dulu?” tanya Hesa.

“Mmh ... boleh,” jawab Delana sambil menganggukkan kepala.

“Kamu suka makan di mana?” tanya Hesa.

“Di rumah,” jawab Delana.

Hesa mengangkat kedua alisnya. “Maksudnya? Kamu mau ngundang aku makan di rumah kamu?”

“Mau?” tanya Delana.

Hesa menganggukkan kepala.

“Ya udah, sekalian aja kalo gitu. Abis makan langsung berangkat ke Batu Dinding,” tutur Delana.

“Hah!?”

“Kenapa?” tanya Delana.

Hesa menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Aku ke sini bawa mobil Lambo. Gimana kalo aku tukar mobil dulu ke rumah?” tanya Hesa.

“Bisa,” jawab Delana. “Aku tunggu di rumah ya!” tutur Delana. Ia bangkit dari tempat duduknya. Hesa juga ikut bangkit dan mengikuti langkah Delana keluar dari ruang kerja Paman Kam.

“Kamu nggak mau ikut pulang ke rumahku?” tanya Hesa.

“Nggak,” jawab Delana sambil tersenyum. “Aku siapin makan siang dulu buat kalian.”

Hesa tersenyum. “Rasanya nggak sabar pengen makan masakan kamu,” tutur Hesa.

Delana tertawa kecil menanggapi ucapan Hesa. Mereka berjalan beriringan keluar dari kantor Kamoga Corporation.

 

***

“Del, kok balik naik taksi? Stradanya mana?” tanya Dhanuar begitu Delana masuk ke dalam rumah.

“Nggak jadi.”

“Nggak jadi jalan?” tanya Dhanuar.

“Jadi.”

“Terus?”

“Nggak jadi pinjam mobil papa kamu,” tutur Delana.

Why? Tau gitu ke sana sama aku. Biar langsung dikasih sama Papa,” sahut Dhanuar.

“Nggak ada hubungannya,” dengus Delana sambil masuk ke dalam rumah.

Dhanuar menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Terus? Gimana rencana camping kita? Nggak jadi, dong?” tanya Dhanuar sambil mengikuti langkah Delana.

“Jadi,” jawab Delana.

“Hah!? Kenapa nggak jadi?” tanya Alan yang sedang mengemasi barang di ruang tamu.

“Tau, tuh!” jawab Dhanuar sambil menunjuk Delana. “Dia balik nggak bawa mobil Papa.”

“Pake mobil Oom Harun aja!” tutur Alan.

“Yee ... enak aja!” sahut Delana. “Kalo rusak, mau ganti?” dengusnya.

“Yah, abisnya udah capek-capek nyiapin ini semua tapi nggak jadi berangkat,” celetuk Alan sambil menendang ransel yang ada di dekatnya.

“Yang bilang nggak jadi itu siapa?” tanya Delana.

“Itu si Dhanuar,” jawab Alan sambil menunjuk Dhanuar dengan dagunya.

“Aku kan nggak bilang nggak jadi berangkat. Aku cuma bilang nggak jadi pinjam Stradanya Paman Kam,” tutur Delana. “Dhanu aja yang langsung menyimpulkan kalo kita nggak jadi berangkat.”

“Yah, kan kamu balik nggak bawa mobil. Jelas aja aku mikirnya kita nggak jadi berangkat. Emangnya mau berangkat pake apa coba?” tanya Dhanuar.

Delana menghela napas. “Kita berangkat sama Kak Hesa,” tutur Delana.

“Hah!? Hesa!?” Alan dan Dhanuar saling pandang.

“Gimana ceritanya bisa ketemu sama Hesa?” tanya Dhanuar.

“Pas kebetulan dia lagi ada di kantor Paman Kam. Kayaknya mereka lagi ngurus kontrak kerja, deh. Terus, dia bilang pengen ngantar kita.”

“Ngantar? Terus balik lagi gitu?” tanya Alan.

Delana meringis. “Nggak, sih. Dia bilang mau ikut camping sekalian.”

“Aha ... dah tahu aku, maksudnya dia apa. Pasti ada udang di balik bakpao!” seru Dhanuar.

“Enak dong!?” sahut Alan.

Delana tertawa kecil. “Tolong siapin keperluan Kak Hesa!” pinta Delana.

“Keperluan apaan?” tanya Alan. “Biar aja dia nyiapin keperluannya sendiri,” lanjutnya.

Delana menghela napas. Ia melipat kedua tangannya di depan dada sambil menatap tajam ke arah Alan. “Dia udah berbaik hati mau ngantarin kita. Kamu ngerti caranya berterima kasih nggak?” Delana mendelik ke arah Alan.

Alan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Iya, iya. Apa aja yang harus aku siapin buat dia?”

“Selimut dan perlengkapan mandinya dia. Jangan lupa tambahin stock mie. Takutnya nggak cukup karena orangnya nambah,” pinta Delana.

“Siap, Bu Bos!” sahut Alan. “Cuma selimut sama perlengkapan mandi aja, kan?”

“Iya.”

“Tendanya enggak?” tanya Dhanuar.

“Nggak usah. Kalian bertiga pake satu tenda!” perintah Delana.

“Hadeh, sempit-sempitan dong kalo satu tenda tiga orang!?” protes Alan.

“Jangan-jangan, dia mau satu tenda sama kamu ya?” tanya Dhanuar.

“Enak aja kalo ngomong!” sahut Delana kesal.

“Ya, emang enak, kan?” Dhanuar tersenyum centil ke arah Delana.

Delana mencebik ke arah Dhanuar. “Dasar Omes!”

Dhanuar tertawa kecil.

“Kalian udah makan?” tanya Delana.

“Belum.”

“Kenapa?”

“Kita udah makan cemilan dari tadi,” jawab Dhanuar.

“Oh. Jadi, nggak laper?” tanya Delana.

Dhanuar menggelengkan kepalanya.

“Ya udah. Aku siapin makanan dulu buat Kak Hesa,” tutur Delana sambil melangkahkan kakinya ke dapur.

“Hah!? Dia mau makan siang di sini?” tanya Dhanuar.

Delana tersenyum sambil menganggukkan kepala.

Dhanuar menggeleng-gelengkan kepala. “Emang ya, kalo playboy kelas hiu tuh ada aja akalnya,” gumamnya.

“Hah!? Apa!?” tanya Delana memasang telinganya karena tak begitu mendengar ucapan Dhanuar.

“Nggak papa,” jawab Dhanuar.

Delana langsung ngeloyor masuk ke dapur. Meninggalkan Alan dan Dhanuar yang sedang sibuk menyiapkan perlengkapan yang akan mereka bawa untuk bermalam di Batu Dinding.

“Lan, kamu jadi bawa gitar kan?” tanya Dhanuar.

“Jadi, dong!” sahut Alan.

“Eh, menurut kamu ... kenapa Hesa tiba-tiba mau ikut kita camping? Bukannya dia nggak suka tempat-tempat kayak gitu? Rasanya, dia suka berkencan di tempat yang mewah dan berkelas,” tutur Dhanuar pelan.

“Pasti dia naksir sama Dela,” sahut Alan berbisik.

“Nggak salah lagi. Dia nggak mungkin mau camping kayak gini. Udah di tengah hutan, banyak nyamuk pula. Ckckck.” Dhanuar menggeleng-gelengkan kepala. Ia tak menyangka kalau playboy seperti Hesa bisa melakukan apa saja demi mendapatkan cewek yang ia suka.

“Yah, siapa tahu aja setelah ketemu Dela dia bisa berubah.”

“Berubah gimana? Namanya playboy ya tetep aja playboy! Nggak bakal setia sama satu cewek,” sahut Dhanuar.

“Apa itu pernyataan sesungguhnya seorang playboy?” tanya Alan sambil menatap Dhanuar.

“Eh!? Kenapa ngelihatin aku kayak gitu?” tanya Dhanuar yang menyadari tatapan aneh dari mata Alan.

“Kamu sendiri playboy. Cewekmu banyak. Emangnya beneran nggak ada cewek yang istimewa di hatimu?” tanya Alan.

“Mmh ... sejauh ini semuanya biasa aja. Semuanya sama aja,” jawab Dhanuar santai.

“Sama apanya?”

“Sama enaknya,” jawab Dhanuar sambil tertawa.

“Alan ... jangan lupa bawa lotion anti nyamuk!” teriak Delana dari arah dapur.

Alan dan Dhanuar saling pandang begitu mendengar teriakan Delana.

“Kamu udah beli?” tanya Dhanuar.

Alan menggelengkan kepala. “Kayaknya nggak ada dalam catatan yang kemarin dibuat sama Dela,” tutur Alan sambil mengeluarkan ponsel dan memeriksa catatannya.

“Ada?” tanya Dhanuar.

“Nggak ada,” jawab Alan sambil menunjukkan layar ponselnya ke wajah Dhanuar.

“Jadi, kita mau beli apa nggak?” tanya Dhanuar.

“Belilah! Penting loh itu. Di tengah hutan banyak nyamuk berbahaya. Bisa aja ntar digigit nyamuk malaria atau demam berdarah,” tutur Alan.

“Ya udah. Kamu aja yang pergi belanja!” pinta Dhanuar.

“Ayo, sama-sama!” pinta Alan sambil menarik lengan Dhanuar.

“Nggak, ah. Aku capek!” tutur Dhanuar sambil merebahkan tubuhnya ke sofa.

“Dasar cowok manja!” celetuk Alan. Ia langsung melangkahkan kakinya menghampiri Delana yang sedang sibuk di dapur.

“Mau beli apa lagi? Lotion anti nyamuk nggak kamu catat kemarin. Jadi, belum aku beliin. Kalo ada yang mau dibeli lagi, biar sekalian aku berangkat ke warung cari barangnya,” tutur Alan.

Delana terdiam. Ia berusaha mengingat keperluan yang akan mereka bawa. Tidak boleh ada yang tertinggal satu pun karena bisa menjadikan masalah. Mereka tidak mungkin kembali lagi karena perjalanan cukup jauh.

“Mmh ... kayaknya udah nggak ada lagi,” tutur Delana.

“Beli berapa lotion anti nyamuknya?” tanya Alan.

“Secukupnya aja,” jawab Delana.

“Secukupnya? Satu truck juga cukup, Del!” celetuk Alan.

Delana menghela napas mendengar celetukan Alan. “Beli aja dua botol!” pinta Delana.

“Siap! Apa lagi, nih?” tanya Alan.

“Nggak ada lagi,” jawab Delana.

“Awas aja kalo sampe ada yang ketinggalan. Aku udah nggak mau belanjain lagi,” ancam Alan.

“Iya.”

“Kunci motor mana?” tanya Alan.

Delana langsung melangkahkan kakinya, ia mengambil kunci motor di atas kulkas dan memberikannya pada Alan.

Alan langsung menyambar kunci motor Delana dan bergegas pergi ke minimarket terdekat untuk mencari lotion anti nyamuk.

Dhanuar sibuk bermain game online di ruang tamu. Sementara Delana sibuk menyiapkan makan siang untuk Hesa yang tak lama lagi akan datang ke rumahnya.

 

***

Hesa keluar dari mobilnya dengan senyum bahagia. Ia melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah sambil bersenandung.

“Kelihatan seneng banget. Abis dapet proyek baru?” tanya Astria begitu melihat Hesa masuk ke dalam rumah.

Hesa meringis. “Ma, aku mau camping malam ini.”

Astri mengernyitkan  dahinya. “Camping?”

Hesa menganggukkan kepala sambil tersenyum. Ia melangkahkan kaki menuju kamarnya yang ada di lantai dua rumahnya.

Astria hanya tersenyum melihat wajah sumringah dari anak laki-lakinya itu.

Hesa langsung masuk ke dalam kamar. Ia mengambil ransel kosong yang ia simpan di dalam lemari dan mulai mengisinya dengan beberapa potong pakaian.

Hesa teringat sesuatu. Ia tidak punya tenda untuk berkemah.

Hesa langsung mengirim pesan singkat untuk Delana. “Del, aku nggak punya tenda kemah. Kalo mau beli dulu kayaknya nggak sempat.”

Beberapa menit kemudian, Delana langsung membalas pesan darinya. “Nggak usah mikirin yang lain. Cukup bawa baju ganti dan handuk aja.”

Hesa tersenyum saat membaca pesan balasan dari Delana. Delana memang pengertian dan berhasil membuat perasaan Hesa tak karuan.

Hesa tersenyum sambil menata keperluannya ke dalam tas.

Ia melangkahkan kakinya dan berdiri di depan deretan kunci-kunci mobilnya. Ia langsung menyambar kunci mobil George S. Patton.

Hesa memakai ranselnya dan langsung keluar dari kamar.

“Mau berangkat sekarang?” tanya Astria.

“Iya, Ma.” Hesa meletakkan ranselnya di atas kursi meja makan dan bergegas menuju garasi mobil. Ia langsung masuk ke atas mobil dan menyalakan mesin. Kemudian masuk kembali ke dalam rumah.

“Udah makan?” tanya Astria.

“Belum, Ma.” Hesa langsung duduk di meja makan sembari menunggu memanaskan mobilnya.

“Makan dulu!” pinta Astria.

“Aku udah janji mau makan siang sama seseorang,” tutur Hesa sambil melirik arloji yang ada di tangannya.

Astria tersenyum. “Ya udah kalo gitu.” Astria langsung bergegas pergi.

Hesa tersenyum kecil. Ia mengambil satu buah apel yang sudah tersedia di atas meja makan. Ia terus tersenyum memikirkan Delana. Ia merasakan perasaan yang berbeda sejak pertama kali melihat gadis itu dan ingin selalu menatapnya setiap saat.

Beberapa menit kemudian. Hesa langsung berangkat menuju rumah Delana. Ia sudah beberapa kali mengunjungi rumah Delana bersama dengan Dhanuar, rekan sesama playboy-nya.

Sebelum ke rumah Delana. Ia mampir ke salah satu SPBU terdekat untuk mengisi bahan bakar. Mobil yang saat ini ia pakai memang jarang sekali digunakan. Hanya digunakan di saat-saat tertentu. Tapi, tetap saja selalu mendapatkan perawatan terbaik. Oleh karenanya, ia harus memastikan kalau bahan bakarnya cukup sampai lokasi yang akan mereka tuju.

Setelah mengisi bahan bakar, Hesa langsung melajukan mobilnya menuju rumah Delana. Ia sudah tak sabar ingin bertemu dengan gadis cantik itu.

Di perjalanan, Hesa memikirkan untuk memberikan sesuatu untuk Delana. Tapi, ia masih bingung karena tidak tahu sama sekali apa yang disukai oleh gadis itu.

“Del ... Del, kamu tuh bener-bener cantik. Aku nggak tahu kenapa kamu tiba-tiba penuh di dalam otakku,” gumam Hesa sambil tersenyum.

Hesa membelokkan mobilnya ke arah Gunung Bahagia. Melewati kampus tempat Delana bersekolah. Ia berhenti tepat di depan rumah Delana.

Hesa merapikan jaketnya dan langsung turun dari mobil. Ia merasa begitu gugup karena akan bertemu dengan Delana.

Hesa menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan keberanian untuk bertemu dengan Delana. Ia melangkahkan kakinya perlahan menuju pintu rumah Delana yang setengah terbuka. Ia membayangkan Delana akan menyambut dan langsung memeluknya saat ia datang.

 

((Bersambung...))

Perfect Hero Bab 501 : Kuingin yang Kau Miliki

 


“Oom, Tante Melan mana?” tanya Yuna yang sejak datang belum melihat Melan bergabung di meja makan.

 

“Oh, masih di kamar. Sepertinya masih ganti pakaian.”

 

“Oh.” Yuna mengangguk-anggukkan kepala.

 

“Oom panggil tante kamu dulu!” pamit Tarudi sambil bangkit dari kursinya dan bergegas pergi.

 

“Kenapa tanyain tante kamu? Kangen sama dia?” bisik Yeriko di telinga Yuna.

 

Yuna mengerutkan hidung sambil mencubit perut Yeriko.

 

“Aw ...!” seru Yeriko diiringi desahan dari mulutnya. “Enak. Lagi dong!”

 

Yuna memonyongkan bibirnya ke arah Yeriko. Ia bisa melihat wajah kesal Lian dan Bellina dari sudut matanya. Ia merasa sangat puas bisa melepaskan masa lalunya dengan Lian penuh kebahagiaan. Ia ingin menunjukkan bahwa hidupnya jauh lebih bahagia saat ia sudah tidak bersama Lian lagi.

 

Sementara itu, Melan sibuk mencari obat di dalam kamarnya. “Adjie harus aku kembalikan dalam tidur panjangnya. Supaya nggak ngambil alih perusahaan lagi,” ucapnya sambil menggenggam obat yang baru di dapatnya.

 

Kreek ...!

 

Suara pintu kamar yang terbuka, membuat Melan buru-buru menyembunyikan obat ke belakang tubuhnya.

 

“Ma, Kak Adjie dan Yuna sudah datang dari tadi. Kenapa Mama lama banget?” tanya Tarudi sambil menatap Melan.

 

“Eh ... oh ... eh, bentar, Pa. Mama baru selesai ganti baju. Mama sisir rambut dulu!”

 

Tarudi menganggukkan kepala. Ia menatap wajah Melan yang terlihat gelisah. “Mama kenapa?” tanyanya sambil menghampiri Melan.

 

“Eh!? Nggak papa,” jawab Melan sambil duduk di kursi rias, ia meletakkan obat di bawah pantatnya. Ia mengambil sisir dan mulai menyisir rambutnya.

 

“Ma, jangan bikin ulah lagi sama Kak Adjie!” tegas Tarudi.

 

Melan menggelengkan kepala sambil tersenyum manis. “Papa tenang aja! Semua akan baik-baik aja.”

 

“Ya sudah. Papa tunggu secepatnya!”

 

Melan mengangguk-anggukkan kepala.

 

Tarudi bergegas keluar dari kamarnya dan kembali ke meja makan.

 

“Selamat malam semua ...!” sapa Melan dengan ramah dan tersenyum manis. Ia menyapa semua orang yang ada di ruangan tersebut.

 

Yuna memaksa bibirnya untuk tersenyum saat melihat sikap manis Melan. “Sumpah, ini Maleficent mau apa lagi? Dia cuma nyamar jadi malaikat kalau ada maunya doang,” batinnya.

 

“Kak Adjie, malam ini aku masakin banyak makanan spesial untuk kalian,” tutur Melan sambil mengamati makanan yang sudah terhidang di atas meja.

 

“Sebentar, ada menu yang ketinggalan. Aku ambil dulu!” tutur Melan sambil bergegas masuk ke dapur.

 

Tarudi merasa ada keanehan yang terjadi pada istrinya. Ia langsung bangkit dari tempat duduk dan mengikuti langkah Melan menuju dapur.

 

“Apa ini?” tanya Tarudi sambil menyambar kantong obat dari tangan Melan.

 

Melan membelalakkan matanya sambil menatap Tarudi yang tiba-tiba sudah ada di sebelahnya.

 

“Ma, aku udah bilang ... jangan macam-macam!” tegas Tarudi sambil membuang obat itu ke tempat sampah.

 

“Pa, kita harus bisa bikin si Adjie itu tertidur lagi. Dia akan mengancam posisi Papa di perusahaan.”

 

“Papa punya cara sendiri. Kak Adjie tidak akan melukai Papa atau merebut kekuasaan di perusahaan. Asal Mama jangan macam-macam!”

 

“Pa, kita nggak pernah tahu gimana berbahayanya Adjie buat kita?”

 

Tarudi menghela napas. “Papa tetap nggak setuju dengan cara Mama. Jangan lukai Kak Adjie lagi! Aku memang menginginkan kekuasaan di perusahaan, tapi tidak dengan cara melukai dia. Kita ini sudah semakin tua. Apa yang kita buat sebelas tahun lalu, sudah cukup. Papa ingin hidup tenang. Kita akhiri semua ini dengan cara baik-baik!” pinta Tarudi.

 

Melan mendengus kesal. Tapi ia tak bisa melawan Tarudi yang menatap tajam ke arahnya.

 

“Bawa keluar makanannya dan jangan buat masalah lagi!” perintah Tarudi.

 

Melan langsung mengambil makanan yang belum ia keluarkan dari dapur dan melangkah ke meja makan.

 

Yeriko terus memerhatikan gerak-gerik Melan dan Tarudi sejak masuk ke dapur. Dari balik kaca dapur, ia bisa melihat perdebatan yang terjadi antara Melan dan suaminya.

 

“Maaf, jadi lama,” tutur Melan sambil duduk di kursinya. “Ayo, kita makan!” ajaknya sambil melirik Tarudi yang sudah duduk di kursinya.

 

Tarudi tersenyum. “Ayo, makan! Jarang sekali kita bisa berkumpul di meja makan seperti ini.”

 

Semua orang menganggukkan kepala.

 

Tarudi dan Adjie menikmati makan malam sambil berbincang akrab layaknya kakak beradik.

 

Sementara, Yeriko sibuk memberikan perhatian pada istrinya, bahkan menyuapkan makanan yang ada di tangannya ke mulut Yuna.

 

“Ay, kamu makan sendiri! Kalau disuap ke aku terus, kapan kamu kenyang?”

 

“Asal kamu kenyang, aku juga kenyang,” jawab Yeriko sambil tersenyum.

 

“Aku udah buncit,nih,” sahut Yuna sambil tertawa kecil.

 

“Makanya, si Dedek juga harus dikasih makan yang banyak. Biar sehat terus!” tutur Yeriko sambil mengelus perut Yuna.

 

“Tenang aja, dia nggak kekurangan makanan dan nutrisi karena ayahnya selalu perhatikan dia dengan baik,” tutur Yuna sambil tersenyum bahagia menatap Yeriko.

 

Melan dan Tarudi ikut tersenyum mendengar pembicaraan Yuna dan Yeriko.

 

“Kalian ini memang pasangan yang romantis. Semoga, bisa bertahan sampai kakek-nenek,” tutur Melan sambil tersenyum.

 

Yuna hanya tersenyum menanggapi ucapan tantenya. Ia tidak yakin kalau ucapan yang keluar dari mulut Melan adalah perkataan yang jujur.

 

“Awas kamu, Yun! Aku pasti bikin perhitungan sama kamu dan bakal bikin kamu menderita seumur hidup!” batin Bellina sambil menekan garpu yang ada di tangannya ke atas potongan daging. Kebenciannya pada Yuna belum benar-benar hilang, terlebih saat melihat Yuna begitu bahagia mendapatkan suami yang tampan, kaya dan penyayang.

 

“Yer, Oom dengar ... kamu lagi mau bikin proyek apartemen?”

 

Yeriko menganggukkan kepala. “Iya, Oom,” jawabnya. Tangannya tetap saja melingkar di pinggang Yuna.

 

Tarudi mengangguk-anggukkan kepala. “Di Jakarta atau di sini?”

 

“Dua-duanya, Oom.”

 

“Kenapa kamu nggak tinggal di Jakarta? Bukannya lebih mudah kalau kantor pusat ada di sana?”

 

“Sekarang zaman sudah canggih. Kantor pusat di mana pun nggak akan berpengaruh besar. Bisnis yang di Jakarta juga sudah ditangani langsung sama kakek. Aku fokus mengembangkan bisnis yang ada di kota ini dulu.”

 

“Ada rencana untuk mengembangkan bisnis ke kota-kota lain?” tanya Tarudi lagi.

 

Yeriko menganggukkan kepala. “Bisnis keluarga saya sudah tersebar ke seluruh kota di Indonesia sejak saya masih kecil. Kami sedang mencoba memasuki pasar Eropa-Amerika.”

 

Tarudi mengangguk-anggukkan kepala sambil menoleh ke arah Adjie. “Menantu Kak Adjie sangat hebat. Masih muda, sudah punya bisnis yang sangat besar.”

 

Adjie hanya tersenyum menanggapi pujian dari Tarudi. Ia melirik ke arah Lian yang mungkin saja tersinggung dengan sikap Tarudi.

 

“Biasa aja, Oom. Ini semua karena warisan dari keluarga. Saya hanya meneruskan dan mengembangkan bisnis ini,” tutur Yeriko.

 

Tarudi mengangguk-anggukkan tanda mengerti. Di sebelahnya, wajah Melan terlihat sangat tidak bersahabat.

 

Bellina terus mencuri pandang ke arah Yeriko. Ia selalu menginginkan apa pun yang dimiliki Yuna dan berusaha merebutnya. Kali ini, Yuna mendapatkan begitu banyak kebahagiaan setelah ia berhasil merebut Lian dari pelukkan Yuna. Ia tidak pernah berpikir kalau Yuna justru mendapatkan hidup yang jauh lebih baik dari dirinya.

 

 

((Bersambung ...))

Misteri apa yang belum terpecahkan di Perfect Hero?

Dukung terus cerita ini biar aku makin semangat bikin cerita yang lebih seru lagi.

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas