Bab
58
Pertemuan
dengan Teman Masa Kecil
Delana
tersenyum menatap cowok yang tiba-tiba berdiri di sampingnya saat menunggu
pintu lift terbuka. Ia mengenali cowok itu, tapi sepertinya cowok itu tak lagi
mengenalinya.
Selama
berada di dalam lift bersama Mahesa, Delana hanya diam. Ia bukan tak ingin
menyapa cowok itu. Ia tahu kalau Hesa memerhatikan dirinya. Karena Hesa tak
juga menyapanya, ia memilih untuk mengabaikan cowok itu.
Delana
tersenyum saat ia keluar dari lift dan Hesa masih mengikuti langkahnya.
“Pagi,
Mbak!” sapa sekretaris yang berada di luar ruangan Presdir.
“Pagi.
Paman ada?” tanya Delana.
“Ada.
Beliau sudah menunggu,” jawab sekretaris cantik itu.
“Oke.”
Delana tersenyum dan melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan pamannya.
“Pagi,
Paman!” sapa Delana begitu ia masuk ke dalam ruangan pamannya.
“Pagi.
Akhirnya yang Paman tunggu-tunggu datang juga,” sahut Paman Kam.
Delana
tersenyum dan langsung memeluk pamannya.
“Gimana
kabar ayah kamu?” tanya Paman Kam.
“Baik.
Sepertinya dia betah di Berau,” tutur Delana sambil tertawa kecil.
Paman
Kam tergelak mendengar ucapan Delana.
Sementara
itu, di luar ruangan Hesa mulai gelisah. Ia langsung menerobos masuk ke dalam
kantor Paman Kam.
Delana
dan Paman Kam langsung menoleh ke arah pintu yang tiba-tiba terbuka.
“Maaf,
Paman. Aku nyelonong masuk. Aku udah lama nunggu di resepsionis ...”
Paman
Kam tersenyum. “Nggak papa. Duduk!” perintah Paman Kam.
Hesa
langsung duduk dan terus menatap gadis cantik yang ada di depannya.
“Ehem
...!” Paman Kam berdehem ketika melihat Hesa menatap Delana tanpa berkedip.
Hesa
langsung gelagapan begitu menyadari kalau ia sibuk mengagumi setiap bagian
tubuh gadis yang duduk di samping Paman Kam. Ia langsung mengeluarkan berkas
yang ia bawa untuk menutupi perasaan gugupnya.
“Kak
Hesa nggak ingat sama aku?” tanya Delana sambil tersenyum manis.
“Eh!?
Kamu tahu namaku?” tanya Hesa sambil menunjuk dirinya sendiri. Ia sama sekali
tak mengenali wanita yang duduk di depannya. Ia berusaha mengingat deretan
pacar dan mantan-mantannya. Tak ada yang seperti gadis yang ada di hadapannya
itu. Sekalipun ia seorang playboy. Ia tidak akan pernah lupa wajah cewek
yang pernah berkencan dengannya.
Paman
Kam dan Delana tertawa melihat Hesa yang kebingungan.
“Aku
Delana, Delana Aubrey,” tutur Delana.
“Keponakan
Paman. Memang, dia sekarang banyak berubah,” sela Paman Kam.
“Dela!?
Yang dulu tomboy itu?” tanya Hesa dengan wajah sumringah. Ia
menggeleng-gelengkan kepala menatap Delana dari ujung kaki sampai ke ujung
rambut. “Kamu sekarang beda banget. Cantik banget!” pujinya.
“Ah,
Kak Hesa bisa aja.”
“Iya.
Dulu kamu tuh kayak laki-laki. Udah rembes, ingusan pula,” tutur Hesa sambil
tertawa.
Delana
mengerucutkan bibirnya menanggapi ucapan Hesa.
“Sorry
... becanda aja, kok. Coba dari dulu kamu kayak gini. Udah aku pacarin,” tutur
Hesa.
“Ehem
...!” Paman Kamoga berdehem sebagai isyarat agar Hesa tak menggoda keponakannya.
Hesa
menundukkan kepala. Ia membuka berkas kontrak kerja yang ada di tangannya dan
menyerahkannya pada Paman Kam. “Bisa Paman cek dulu sebelum ditanda tangani,”
tutur Hesa sambil tersenyum.
Paman
Kam langsung meraih berkas itu dan membacanya dengan teliti.
“Gimana
kabar ayah kamu?” tanya Hesa.
“Baik,”
jawab Delana. “Oom Erlan apa kabar?” tanya Delana.
“Baik
juga.”
Delana
tersenyum. “Kak Hesa udah kelar kuliah?”
“Udah.
Baru aja balik dari Auckland beberapa bulan yang lalu.”
“Oh
ya? Asyik ya bisa sekolah di luar negeri,” tutur Delana.
Hesa
mengangguk-anggukkan kepalanya. “Kamu sendiri kenapa nggak kuliah di luar
negeri?”
“Nggak
berani. Cukup di sini aja yang deket sama rumah.”
“Oh.
Jadi, kuliahnya deket sama rumah kamu?”
“Iya.
Di belakang rumah. Tinggal jalan kaki aja kalo mau pergi ke kampus.”
“Rumah
kamu masih yang dulu?” tanya Hesa.
“Yang
mana?” tanya Delana balik untuk menguji ingatan Hesa.
“Oh
... iya, kamu udah pindah ke Gunung Bahagia ya? Masih di sana?” tanya Hesa.
“Masih.”
“Terus,
rumah lama kamu yang dulu waktu masih kecil gimana keadaannya?”
“Udah
dijual sama Papa. Sekarang udah jadi bangunan lain.”
“Oh
ya? Sayang banget. Padahal, aku suka main di kolam ikan yang ada di belakang
rumah kamu itu,” tutur Hesa.
Delana
hanya meringis. Ia juga terkadang merindukan rumah masa kecilnya. Tapi, apa
boleh buat. Semua hal bisa berubah begitu cepat dan ia tak bisa mencegahnya.
“Kamu
ingat nggak waktu dulu kita sering main timezone. Kamu sering nangis
gara-gara nggak bisa main capit boneka,” tutur Hesa sambil mengingat masa
kecilnya bersama Delana.
“Hahaha.
Iya, Paman ingat. Dan dia baru berhenti nangis kalo dibeliin ice cream,”
sahut Paman Kam sambil tertawa.
Delana
hanya meringis mendengar ucapan Hesa dan Paman Kam tentang masa kecilnya.
Hubungan
bisnis antara keluarga Aubrey dan Fino Group membuat Delana dan Mahesa sudah
saling mengenal sejak kecil.
Paman
Kam tidak memiliki anak perempuan, ia sangat menyayangi Delana seperti anaknya
sendiri dan kerap mengajak Delana bermain. Sehingga Delana sudah mengenal
Mahesa.
“Terakhir
aku lihat kamu, waktu kelas satu SMA, ya?” tanya Hesa.
Delana
menganggukkan kepala.
“Waktu
itu kamu masih tomboy banget. Rambutnya aja hampir sama kayak rambutku. Sama
sekali nggak menarik perhatian,” tutur Hesa.
“Emangnya
sekarang menarik?” tanya Delana sambil tertawa kecil.
“Banget.”
Delana
terdiam mendengar jawaban pasti dari Hesa. Ia pikir, Hesa bercanda seperti apa
yang biasa mereka lakukan dahulu.
Paman
Kam bangkit dari sofa dan langsung duduk di meja kerjanya. Ia langsung
menandatangani berkas kerjasama yang dibawa oleh Mahesa.
Hesa
tersenyum karena Paman Kam menyutujui nilai kontrak yang ia ajukan. Ia kemudian
mengalihkan pandangannya pada Delana. Gadis itu kini terlihat begitu
menggemaskan.
Tiba-tiba,
telepon di meja Paman Kam berdering. Paman Kam langsung menjawab telepon dengan
nada serius.
“Del,
kamu mau pake mobil jam berapa?” tanya Paman Kam pada Delana.
“Mmh
... janjian sama Dhanuar sama Alan jam empat sore,” jawab Delana. “Kenapa,
Paman?”
Paman
Kam menghela napas. “Sepertinya, mobilnya mau Paman pakai dulu sebentar.
Terlambat sedikit nggak papa?”
Delana
tersenyum. “Nggak Papa, Paman. Kami nggak buru-buru, kok.”
“Emangnya
mau ke mana?” tanya Hesa.
“Ke
Batu Dinding,” jawab Delana sambil tersenyum.
“Mau
aku antar? Kebetulan aku lagi nggak sibuk juga,” tutur Hesa menawarkan diri. Ia
merasa, ini kesempatan paling baik untuk dekat dengan Delana.
“Eh!?
Emang nggak ngerepotin?” tanya Delana.
“Nggaklah.
Buat cewek secantik kamu mah aku nggak bakal pernah repot,” jawab Hesa sambil
tersenyum bahagia. Ia berharap, Delana mau menerima tawarannya kali ini.
“Oh,
iya. Dia punya mobil George S. Patton. Cocok banget buat kondisi jalan buruk,”
tutur Paman Kam pada Delana.
Delana
tersenyum sambil berpikir. “Tapi, Kak. Kami mau camping di sana. Jadi, kami mau
nginap,” tutur Delana lirih.
“Ah,
nggak masalah. Mau camping satu bulan juga aku bisa,” sahut Hesa.
Delana
tertawa kecil. Ia tak menyangka kalau Hesa begitu bersemangat ingin
mengantarnya. “Kak, tapi lokasinya di tengah hutan, loh. Emangnya Kakak bisa?”
tanya Delana.
“Emang
di daerah mana?” tanya Hesa.
“Kilo
Empat Lima,” jawab Delana.
“Ah,
itu mah belum tengah hutan. Kakak kalau ke lokasi tambang, malah lebih tengah
hutan lagi,” tutur Hesa.
“Oh
ya?” Delana tersenyum manis menatap Hesa.
Perasaan
Hesa begitu gelisah setiap kali mendapati senyuman Delana. Gadis itu terlihat
begitu tulus dan senyumnya membuat hatinya nyaman.
“Jadi
gimana? Mau nggak kalo aku antar?” tanya Hesa.
Delana
tersenyum. “Boleh. Tapi, dengan satu syarat!” pinta Delana.
“Gampang.
Apa syaratnya?” tanya Hesa.
“Aku
nggak mau dengar Kakak mengeluh apa pun. Bahkan cuma karena gigitan nyamuk
sekalipun,” tutur Delana.
“Ahsiaap!
Itu mah perkara kecil,” sahut Hesa sambil memainkan kedua alisnya.
Delana
tersenyum manis.
“Oke.
Kalo gitu semuanya udah beres. Kalian bisa pergi bersama. Paman mau keluar dulu
karena ada keperluan mendadak,” tutur Paman Kam sambil melangkahkan kakinya.
Paman
Kam menoleh ke arah Delana dan Hesa. “Kalian boleh lanjut ngobrolnya di sini.
Atau mau cari tempat lain yang lebih asyik sambil minum teh?” tanya Paman
Kamoga sambil mengedipkan matanya ke arah Hesa. Ia tersenyum dan langsung
bergegas keluar dari ruangannya.
Hesa
tersenyum kecil karena Paman Kam terlihat menyukainya. Lebih tepatnya, Paman
Kam suka melihatnya mendekati keponakan cantiknya itu.
Berada
dalam satu ruangan dengan wanita cantik, membuat Hesa berharap ruangan kerja
Paman Kam terus mengecil agar ia bisa duduk berdekatan dengan Delana.
“Kamu
udah makan siang?” tanya Hesa pada Delana.
“Belum,”
jawab Delana.
“Gimana
kalo kita makan siang dulu?” tanya Hesa.
“Mmh
... boleh,” jawab Delana sambil menganggukkan kepala.
“Kamu
suka makan di mana?” tanya Hesa.
“Di
rumah,” jawab Delana.
Hesa
mengangkat kedua alisnya. “Maksudnya? Kamu mau ngundang aku makan di rumah kamu?”
“Mau?”
tanya Delana.
Hesa
menganggukkan kepala.
“Ya
udah, sekalian aja kalo gitu. Abis makan langsung berangkat ke Batu Dinding,”
tutur Delana.
“Hah!?”
“Kenapa?”
tanya Delana.
Hesa
menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Aku ke sini bawa mobil Lambo. Gimana
kalo aku tukar mobil dulu ke rumah?” tanya Hesa.
“Bisa,”
jawab Delana. “Aku tunggu di rumah ya!” tutur Delana. Ia bangkit dari tempat
duduknya. Hesa juga ikut bangkit dan mengikuti langkah Delana keluar dari ruang
kerja Paman Kam.
“Kamu
nggak mau ikut pulang ke rumahku?” tanya Hesa.
“Nggak,”
jawab Delana sambil tersenyum. “Aku siapin makan siang dulu buat kalian.”
Hesa
tersenyum. “Rasanya nggak sabar pengen makan masakan kamu,” tutur Hesa.
Delana
tertawa kecil menanggapi ucapan Hesa. Mereka berjalan beriringan keluar dari
kantor Kamoga Corporation.
***
“Del,
kok balik naik taksi? Stradanya mana?” tanya Dhanuar begitu Delana masuk ke
dalam rumah.
“Nggak
jadi.”
“Nggak
jadi jalan?” tanya Dhanuar.
“Jadi.”
“Terus?”
“Nggak
jadi pinjam mobil papa kamu,” tutur Delana.
“Why?
Tau gitu ke sana sama aku. Biar langsung dikasih sama Papa,” sahut Dhanuar.
“Nggak
ada hubungannya,” dengus Delana sambil masuk ke dalam rumah.
Dhanuar
menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Terus? Gimana rencana camping
kita? Nggak jadi, dong?” tanya Dhanuar sambil mengikuti langkah Delana.
“Jadi,”
jawab Delana.
“Hah!?
Kenapa nggak jadi?” tanya Alan yang sedang mengemasi barang di ruang tamu.
“Tau,
tuh!” jawab Dhanuar sambil menunjuk Delana. “Dia balik nggak bawa mobil Papa.”
“Pake
mobil Oom Harun aja!” tutur Alan.
“Yee
... enak aja!” sahut Delana. “Kalo rusak, mau ganti?” dengusnya.
“Yah,
abisnya udah capek-capek nyiapin ini semua tapi nggak jadi berangkat,” celetuk Alan
sambil menendang ransel yang ada di dekatnya.
“Yang
bilang nggak jadi itu siapa?” tanya Delana.
“Itu
si Dhanuar,” jawab Alan sambil menunjuk Dhanuar dengan dagunya.
“Aku
kan nggak bilang nggak jadi berangkat. Aku cuma bilang nggak jadi pinjam
Stradanya Paman Kam,” tutur Delana. “Dhanu aja yang langsung menyimpulkan kalo
kita nggak jadi berangkat.”
“Yah,
kan kamu balik nggak bawa mobil. Jelas aja aku mikirnya kita nggak jadi
berangkat. Emangnya mau berangkat pake apa coba?” tanya Dhanuar.
Delana
menghela napas. “Kita berangkat sama Kak Hesa,” tutur Delana.
“Hah!?
Hesa!?” Alan dan Dhanuar saling pandang.
“Gimana
ceritanya bisa ketemu sama Hesa?” tanya Dhanuar.
“Pas
kebetulan dia lagi ada di kantor Paman Kam. Kayaknya mereka lagi ngurus kontrak
kerja, deh. Terus, dia bilang pengen ngantar kita.”
“Ngantar?
Terus balik lagi gitu?” tanya Alan.
Delana
meringis. “Nggak, sih. Dia bilang mau ikut camping sekalian.”
“Aha
... dah tahu aku, maksudnya dia apa. Pasti ada udang di balik bakpao!” seru
Dhanuar.
“Enak
dong!?” sahut Alan.
Delana
tertawa kecil. “Tolong siapin keperluan Kak Hesa!” pinta Delana.
“Keperluan
apaan?” tanya Alan. “Biar aja dia nyiapin keperluannya sendiri,” lanjutnya.
Delana
menghela napas. Ia melipat kedua tangannya di depan dada sambil menatap tajam
ke arah Alan. “Dia udah berbaik hati mau ngantarin kita. Kamu ngerti caranya
berterima kasih nggak?” Delana mendelik ke arah Alan.
Alan
menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Iya, iya. Apa aja yang harus aku siapin
buat dia?”
“Selimut
dan perlengkapan mandinya dia. Jangan lupa tambahin stock mie. Takutnya nggak
cukup karena orangnya nambah,” pinta Delana.
“Siap,
Bu Bos!” sahut Alan. “Cuma selimut sama perlengkapan mandi aja, kan?”
“Iya.”
“Tendanya
enggak?” tanya Dhanuar.
“Nggak
usah. Kalian bertiga pake satu tenda!” perintah Delana.
“Hadeh,
sempit-sempitan dong kalo satu tenda tiga orang!?” protes Alan.
“Jangan-jangan,
dia mau satu tenda sama kamu ya?” tanya Dhanuar.
“Enak
aja kalo ngomong!” sahut Delana kesal.
“Ya,
emang enak, kan?” Dhanuar tersenyum centil ke arah Delana.
Delana
mencebik ke arah Dhanuar. “Dasar Omes!”
Dhanuar
tertawa kecil.
“Kalian
udah makan?” tanya Delana.
“Belum.”
“Kenapa?”
“Kita
udah makan cemilan dari tadi,” jawab Dhanuar.
“Oh.
Jadi, nggak laper?” tanya Delana.
Dhanuar
menggelengkan kepalanya.
“Ya
udah. Aku siapin makanan dulu buat Kak Hesa,” tutur Delana sambil melangkahkan
kakinya ke dapur.
“Hah!?
Dia mau makan siang di sini?” tanya Dhanuar.
Delana
tersenyum sambil menganggukkan kepala.
Dhanuar
menggeleng-gelengkan kepala. “Emang ya, kalo playboy kelas hiu tuh ada aja
akalnya,” gumamnya.
“Hah!?
Apa!?” tanya Delana memasang telinganya karena tak begitu mendengar ucapan
Dhanuar.
“Nggak
papa,” jawab Dhanuar.
Delana
langsung ngeloyor masuk ke dapur. Meninggalkan Alan dan Dhanuar yang sedang
sibuk menyiapkan perlengkapan yang akan mereka bawa untuk bermalam di Batu
Dinding.
“Lan,
kamu jadi bawa gitar kan?” tanya Dhanuar.
“Jadi,
dong!” sahut Alan.
“Eh,
menurut kamu ... kenapa Hesa tiba-tiba mau ikut kita camping? Bukannya dia
nggak suka tempat-tempat kayak gitu? Rasanya, dia suka berkencan di tempat yang
mewah dan berkelas,” tutur Dhanuar pelan.
“Pasti
dia naksir sama Dela,” sahut Alan berbisik.
“Nggak
salah lagi. Dia nggak mungkin mau camping kayak gini. Udah di tengah hutan,
banyak nyamuk pula. Ckckck.” Dhanuar menggeleng-gelengkan kepala. Ia tak
menyangka kalau playboy seperti Hesa bisa melakukan apa saja demi mendapatkan
cewek yang ia suka.
“Yah,
siapa tahu aja setelah ketemu Dela dia bisa berubah.”
“Berubah
gimana? Namanya playboy ya tetep aja playboy! Nggak bakal setia sama satu
cewek,” sahut Dhanuar.
“Apa
itu pernyataan sesungguhnya seorang playboy?” tanya Alan sambil menatap
Dhanuar.
“Eh!?
Kenapa ngelihatin aku kayak gitu?” tanya Dhanuar yang menyadari tatapan aneh
dari mata Alan.
“Kamu
sendiri playboy. Cewekmu banyak. Emangnya beneran nggak ada cewek yang istimewa
di hatimu?” tanya Alan.
“Mmh
... sejauh ini semuanya biasa aja. Semuanya sama aja,” jawab Dhanuar santai.
“Sama
apanya?”
“Sama
enaknya,” jawab Dhanuar sambil tertawa.
“Alan
... jangan lupa bawa lotion anti nyamuk!” teriak Delana dari arah dapur.
Alan
dan Dhanuar saling pandang begitu mendengar teriakan Delana.
“Kamu
udah beli?” tanya Dhanuar.
Alan
menggelengkan kepala. “Kayaknya nggak ada dalam catatan yang kemarin dibuat
sama Dela,” tutur Alan sambil mengeluarkan ponsel dan memeriksa catatannya.
“Ada?”
tanya Dhanuar.
“Nggak
ada,” jawab Alan sambil menunjukkan layar ponselnya ke wajah Dhanuar.
“Jadi,
kita mau beli apa nggak?” tanya Dhanuar.
“Belilah!
Penting loh itu. Di tengah hutan banyak nyamuk berbahaya. Bisa aja ntar digigit
nyamuk malaria atau demam berdarah,” tutur Alan.
“Ya
udah. Kamu aja yang pergi belanja!” pinta Dhanuar.
“Ayo,
sama-sama!” pinta Alan sambil menarik lengan Dhanuar.
“Nggak,
ah. Aku capek!” tutur Dhanuar sambil merebahkan tubuhnya ke sofa.
“Dasar
cowok manja!” celetuk Alan. Ia langsung melangkahkan kakinya menghampiri Delana
yang sedang sibuk di dapur.
“Mau
beli apa lagi? Lotion anti nyamuk nggak kamu catat kemarin. Jadi, belum aku
beliin. Kalo ada yang mau dibeli lagi, biar sekalian aku berangkat ke warung
cari barangnya,” tutur Alan.
Delana
terdiam. Ia berusaha mengingat keperluan yang akan mereka bawa. Tidak boleh ada
yang tertinggal satu pun karena bisa menjadikan masalah. Mereka tidak mungkin
kembali lagi karena perjalanan cukup jauh.
“Mmh
... kayaknya udah nggak ada lagi,” tutur Delana.
“Beli
berapa lotion anti nyamuknya?” tanya Alan.
“Secukupnya
aja,” jawab Delana.
“Secukupnya?
Satu truck juga cukup, Del!” celetuk Alan.
Delana
menghela napas mendengar celetukan Alan. “Beli aja dua botol!” pinta Delana.
“Siap!
Apa lagi, nih?” tanya Alan.
“Nggak
ada lagi,” jawab Delana.
“Awas
aja kalo sampe ada yang ketinggalan. Aku udah nggak mau belanjain lagi,” ancam
Alan.
“Iya.”
“Kunci
motor mana?” tanya Alan.
Delana
langsung melangkahkan kakinya, ia mengambil kunci motor di atas kulkas dan
memberikannya pada Alan.
Alan
langsung menyambar kunci motor Delana dan bergegas pergi ke minimarket terdekat
untuk mencari lotion anti nyamuk.
Dhanuar
sibuk bermain game online di ruang tamu. Sementara Delana sibuk menyiapkan
makan siang untuk Hesa yang tak lama lagi akan datang ke rumahnya.
***
Hesa
keluar dari mobilnya dengan senyum bahagia. Ia melangkahkan kakinya masuk ke
dalam rumah sambil bersenandung.
“Kelihatan
seneng banget. Abis dapet proyek baru?” tanya Astria begitu melihat Hesa masuk
ke dalam rumah.
Hesa
meringis. “Ma, aku mau camping malam ini.”
Astri
mengernyitkan dahinya. “Camping?”
Hesa
menganggukkan kepala sambil tersenyum. Ia melangkahkan kaki menuju kamarnya
yang ada di lantai dua rumahnya.
Astria
hanya tersenyum melihat wajah sumringah dari anak laki-lakinya itu.
Hesa
langsung masuk ke dalam kamar. Ia mengambil ransel kosong yang ia simpan di
dalam lemari dan mulai mengisinya dengan beberapa potong pakaian.
Hesa
teringat sesuatu. Ia tidak punya tenda untuk berkemah.
Hesa
langsung mengirim pesan singkat untuk Delana. “Del, aku nggak punya tenda
kemah. Kalo mau beli dulu kayaknya nggak sempat.”
Beberapa
menit kemudian, Delana langsung membalas pesan darinya. “Nggak usah mikirin
yang lain. Cukup bawa baju ganti dan handuk aja.”
Hesa
tersenyum saat membaca pesan balasan dari Delana. Delana memang pengertian dan
berhasil membuat perasaan Hesa tak karuan.
Hesa
tersenyum sambil menata keperluannya ke dalam tas.
Ia
melangkahkan kakinya dan berdiri di depan deretan kunci-kunci mobilnya. Ia
langsung menyambar kunci mobil George S. Patton.
Hesa
memakai ranselnya dan langsung keluar dari kamar.
“Mau
berangkat sekarang?” tanya Astria.
“Iya,
Ma.” Hesa meletakkan ranselnya di atas kursi meja makan dan bergegas menuju
garasi mobil. Ia langsung masuk ke atas mobil dan menyalakan mesin. Kemudian
masuk kembali ke dalam rumah.
“Udah
makan?” tanya Astria.
“Belum,
Ma.” Hesa langsung duduk di meja makan sembari menunggu memanaskan mobilnya.
“Makan
dulu!” pinta Astria.
“Aku
udah janji mau makan siang sama seseorang,” tutur Hesa sambil melirik arloji
yang ada di tangannya.
Astria
tersenyum. “Ya udah kalo gitu.” Astria langsung bergegas pergi.
Hesa
tersenyum kecil. Ia mengambil satu buah apel yang sudah tersedia di atas meja
makan. Ia terus tersenyum memikirkan Delana. Ia merasakan perasaan yang berbeda
sejak pertama kali melihat gadis itu dan ingin selalu menatapnya setiap saat.
Beberapa
menit kemudian. Hesa langsung berangkat menuju rumah Delana. Ia sudah beberapa
kali mengunjungi rumah Delana bersama dengan Dhanuar, rekan sesama playboy-nya.
Sebelum
ke rumah Delana. Ia mampir ke salah satu SPBU terdekat untuk mengisi bahan
bakar. Mobil yang saat ini ia pakai memang jarang sekali digunakan. Hanya
digunakan di saat-saat tertentu. Tapi, tetap saja selalu mendapatkan perawatan
terbaik. Oleh karenanya, ia harus memastikan kalau bahan bakarnya cukup sampai
lokasi yang akan mereka tuju.
Setelah
mengisi bahan bakar, Hesa langsung melajukan mobilnya menuju rumah Delana. Ia
sudah tak sabar ingin bertemu dengan gadis cantik itu.
Di
perjalanan, Hesa memikirkan untuk memberikan sesuatu untuk Delana. Tapi, ia
masih bingung karena tidak tahu sama sekali apa yang disukai oleh gadis itu.
“Del
... Del, kamu tuh bener-bener cantik. Aku nggak tahu kenapa kamu tiba-tiba
penuh di dalam otakku,” gumam Hesa sambil tersenyum.
Hesa
membelokkan mobilnya ke arah Gunung Bahagia. Melewati kampus tempat Delana
bersekolah. Ia berhenti tepat di depan rumah Delana.
Hesa
merapikan jaketnya dan langsung turun dari mobil. Ia merasa begitu gugup karena
akan bertemu dengan Delana.
Hesa
menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan keberanian untuk bertemu dengan Delana.
Ia melangkahkan kakinya perlahan menuju pintu rumah Delana yang setengah
terbuka. Ia membayangkan Delana akan menyambut dan langsung memeluknya saat ia
datang.
((Bersambung...))
.png)
