“Yun, apa berteman pun nggak bisa?” batin Lian
setelah Yuna menutup panggilan telepon darinya.
Lian menghela napas sambil menatap hadiah yang
sudah ia siapkan untuk Yuna. Ia ingin membayar semua waktunya yang hilang
bersama Yuna. Saat masih menjalin hubungan dengan Yuna, ia hanya bisa
mengucapkan selamat ulang tahun pada gadis itu. Sementara, ia juga tak pernah
tahu kalau Yuna menghabiskan setiap malam pergantian usianya di perpustakaan
universitas.
“Li, kamu malam ini ada kesibukan?” tanya Bellina
yang tiba-tiba masuk ke dalam ruang kerja Lian.
Lian buru-buru menyembunyikan hadiah yang ada di
atas meja ke dalam laci mejanya.
Bellina menghentikan langkahnya sejenak saat
melihat Lian menyembunyikan kotak hadiah. “Pasti hadiah untuk Yuna,” batinnya.
Lian tersenyum sambil menatap Bellina. “Nggak ada
kesibukan, kenapa?”
“Malam ini, beberapa divisi harus lembur karena
masalah kemarin. Aku pengen ngajak kamu makan malam. Kamu mau lembur atau makan
malam bareng aku?”
Lian menghela napas. “Gimana kalau kita makan
bareng di kantor aja? Supaya aku juga bisa nemenin karyawan lain yang lembur.”
Bellina mengedikkan bahu. “Terlalu suntuk ngabisin
waktu di kantor. Aku mau makan di luar.”
Lian terdiam sejenak sambil berpikir.
“Kenapa? Kamu udah ada janji sama orang lain?”
tanya Bellina menyelidik. Ia sangat mengetahui tujuan Lian. Hari ini, adalah
hari ulang tahun Yuna. Lian pasti menyiapkan hadiah khusus untuk sepupunya itu.
Lian menggelengkan kepala. “Nggak ada janji sama
siapa-siapa.”
Bellina mengangkat kedua alisnya. “Oh ya? Hari ini
ulang tahun Yuna. Kamu mau kasih hadiah ke dia?”
Lian menggelengkan kepala. Awalnya, ia memang
ingin memberikan hadiah untuk Yuna. Namun, Yuna sudah menolaknya mentah-mentah.
Jangankan memberikan hadiah, bertemu sejenak saja ... Yuna tidak
menginginkannya.
Bellina tersenyum sambil menggenggam erat dokumen
di tangannya. Ia berusaha menyembunyikan kebencian dalam hatinya. Selama tujuh
tahun belakangan, ia hanya bisa menjadi selingkuhan Lian. Saat ia sudah resmi
menjadi istri Lian, ia pun masih menjadi bayangan Yuna.
Bellina menghampiri Lian yang masih duduk di meja
kerjanya. “Ini dokumen yang kamu minta kemarin.”
“Thank’s!” ucap Lian sambil menerima dokumen yang
diberikan Bellina. Ia menatap wajah Bellina sejenak. “Kamu mau keluar malam
ini?”
“Belum tahu. Kalau kamu lembur, aku pasti di rumah
sendirian. Paling, pergi ke rumah mama.”
Lian tersenyum menatap wajah Bellina. Ia sangat
bahagia karena Bellina mau mengerti dan menerima keadaannya. Ia harap, Bellina
tidak terus-menerus salah paham. Apa yang ia berikan untuk Yuna, hanya untuk
menebus kesalahannya di masa lalu.
...
Tepat di hari ulang tahun dia dan istrinya,
Yeriko hanya ingin merayakannya berdua saja. Tak ada orang lain yang mengganggu
waktu mereka berdua. Yeriko sudah menyiapkan tempat spesial untuk istrinya. Ia
mengajak Yuna pergi ke tempat di mana ia melamar istrinya untuk pertama kali.
Yeriko menggandeng tangan istrinya sambil
melangkahkan kakinya di atap gedung kantornya. “Kamu ingat tempat ini ‘kan?”
Yuna menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.
“Hari ini, aku mau menikmati matahari terbenam di
sini. Bareng kamu,” bisik Yeriko sambil memeluk Yuna dari belakang. Mereka
bersama-sama menatap padatnya kota Surabaya dari atas gedung Galaxy Office.
Menatap langit yang luas sembari menikmati semilir angin yang menyapu lembut
kulit mereka.
Yuna tersenyum sambil mengelus lengan Yeriko yang
melingkar di perutnya. “Dunia ini sangat luas. Aku menghabiskan banyak masa
mudaku di Melbourne. Kamu juga banyak menghabiskan masa muda kamu menjelajah
dunia. Tak disangka, kalau Tuhan mempertemukan kita di titik ini.”
Yeriko tersenyum sambil mengecup pipi Yuna. “Di
titik ini ... Tuhan mempertemukan kita. Padahal, sebelumnya kita menjalani
banyak hari. Tidak saling mengenal, tidak pernah saling menyapa. Namun, rencana
Tuhan memang sangat indah. Di titik pertemuan kita pula, semua mimpi-mimpiku
berawal.”
Yuna menoleh ke wajah Yeriko sambil tersenyum.
“Lihat!” Yeriko menunjuk ke bawah gedung. Ada
banyak rumah, kendaraan dan hiruk-pikuk manusia di dalamnya. “Sebelum mengenal
kamu, aku adalah orang yang paling sombong dan angkuh. Aku selalu berdiri di
sini, menatap mereka semua begitu rendah di bawahku. Sama sekali tak ingin
melihat ke bawah karena aku takut terjatuh.”
“Ternyata ... berada di bawah sana tidak membuatku
terjatuh sama sekali. Justru, membuat aku bisa melakukan banyak hal yang tak
pernah aku lakukan sebelumnya. Kamu menunjukkan kesederhanaan yang berharga.
Bahkan, seisi dunia ini nggak akan lebih berharga dibanding kehadiranmu di
sisiku.”
“Buatku, kamulah yang paling berharga. Aku nggak
punya apa-apa untuk dibanggakan,” sahut Yuna lembut.
“Tapi kamu punya hati yang kuat dan mulia. Lihat
di sana!” pinta Yeriko sambil memutar tubuh Yuna. “Aku akan menambah Galaxy
Hotel. Di sana, aku akan bangun apartemen. Di sana, aku akan buat mall mewah
untuk para Crazy Rich. Bukan cuma di kota ini, tapi aku akan buat di kota-kota
lain. Di Jakarta, semua sudah diurus kakek dan mama. Yang ada di kota ini,
semuanya untuk kamu.”
Yuna mengangkat kedua alisnya. “Untuk aku?”
Yeriko menganggukkan kepala. “Gimana? Suka?”
tanyanya sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Yuna.
“Wah ...! Kamu beneran kaya raya!?” seru Yuna.
Yeriko menghela napas sambil menggaruk kepalanya
yang tidak gatal. “Apa selama ini kamu lihat kekayaanku cuma bercanda?”
Yuna meringis sambil menatap wajah Yeriko. “Aku
cuma mau jadi istri kamu. Aku nggak bisa dikasih harta sebanyak ini. Gimana
ngurusnya?”
“Kamu cukup nerima aja! Aku yang akan urus
semuanya untuk kamu.”
Yuna langsung mendekap tubuh Yeriko. “Aku cuma mau
kamu. Aku nggak butuh yang lainnya,” bisiknya sambil menitikan air mata.
“Aku dan seluruh hidupku, semuanya untuk kamu.”
Yuna menengadahkan kepalanya menatap wajah Yeriko.
Ia terus mengecup bibir Yeriko berkali-kali sambil tertawa. “Aku juga, semuanya
untuk kamu.”
Yeriko melingkarkan tangannya ke belakang kepala
Yuna. Ia menarik kepala istrinya dan mengulum lembut bibir Yuna yang mungil.
“Selamat ulang tahun ...!” ucapnya lirih.
“Selamat ulang tahun juga ...!” balas Yuna sambil
melingkarkan kedua lengannya di leher Yeriko. Bibir mereka saling bertautan
untuk waktu yang lama.
Mereka memilih merayakan ulang tahun mereka
berduaan di tempat ini. Menghadap langit sore sambil menikmati matahari yang
berganti dengan rembulan. Siang yang berganti malam ... akan menjadi waktu
mereka saling mencintai selamanya. Meski bintang dan matahari tak pernah
terlihat bersama. Tapi mereka ada di ruang yang sama di atas sana. Sama seperti
hati mereka yang tak pernah berubah meski waktu dan musim berganti.
Untuk kedua kalinya, Yeriko memindahkan restoran
ke atas atap gedung kantornya. Ia ingin menikmati makan malamnya berdua bersama
istrinya ... hanya berdua. Tak ada sahabat-sahabat yang mengganggu dan
mengacaukan kejutan yang ia berikan khusus untuk istri tercintanya.
((Bersambung ...))
Mr. Ye siapin hadiah apa ya untuk Ms. Ye?
Baca terus kisahnya dan selamat ber-baper ria.
Muach!
Much Love,
@vellanine.tjahjadi

