Monday, March 2, 2026

Perfect Hero Bab 487 : Karena Kehadiranmu

 


“Yun, apa berteman pun nggak bisa?” batin Lian setelah Yuna menutup panggilan telepon darinya.

 

Lian menghela napas sambil menatap hadiah yang sudah ia siapkan untuk Yuna. Ia ingin membayar semua waktunya yang hilang bersama Yuna. Saat masih menjalin hubungan dengan Yuna, ia hanya bisa mengucapkan selamat ulang tahun pada gadis itu. Sementara, ia juga tak pernah tahu kalau Yuna menghabiskan setiap malam pergantian usianya di perpustakaan universitas.

 

“Li, kamu malam ini ada kesibukan?” tanya Bellina yang tiba-tiba masuk ke dalam ruang kerja Lian.

 

Lian buru-buru menyembunyikan hadiah yang ada di atas meja ke dalam laci mejanya.

 

Bellina menghentikan langkahnya sejenak saat melihat Lian menyembunyikan kotak hadiah. “Pasti hadiah untuk Yuna,” batinnya.

 

Lian tersenyum sambil menatap Bellina. “Nggak ada kesibukan, kenapa?”

 

“Malam ini, beberapa divisi harus lembur karena masalah kemarin. Aku pengen ngajak kamu makan malam. Kamu mau lembur atau makan malam bareng aku?”

 

Lian menghela napas. “Gimana kalau kita makan bareng di kantor aja? Supaya aku juga bisa nemenin karyawan lain yang lembur.”

 

Bellina mengedikkan bahu. “Terlalu suntuk ngabisin waktu di kantor. Aku mau makan di luar.”

 

Lian terdiam sejenak sambil berpikir.

 

“Kenapa? Kamu udah ada janji sama orang lain?” tanya Bellina menyelidik. Ia sangat mengetahui tujuan Lian. Hari ini, adalah hari ulang tahun Yuna. Lian pasti menyiapkan hadiah khusus untuk sepupunya itu.

 

Lian menggelengkan kepala. “Nggak ada janji sama siapa-siapa.”

 

Bellina mengangkat kedua alisnya. “Oh ya? Hari ini ulang tahun Yuna. Kamu mau kasih hadiah ke dia?”

 

Lian menggelengkan kepala. Awalnya, ia memang ingin memberikan hadiah untuk Yuna. Namun, Yuna sudah menolaknya mentah-mentah. Jangankan memberikan hadiah, bertemu sejenak saja ... Yuna tidak menginginkannya.

 

Bellina tersenyum sambil menggenggam erat dokumen di tangannya. Ia berusaha menyembunyikan kebencian dalam hatinya. Selama tujuh tahun belakangan, ia hanya bisa menjadi selingkuhan Lian. Saat ia sudah resmi menjadi istri Lian, ia pun masih menjadi bayangan Yuna.

 

Bellina menghampiri Lian yang masih duduk di meja kerjanya. “Ini dokumen yang kamu minta kemarin.”

 

“Thank’s!” ucap Lian sambil menerima dokumen yang diberikan Bellina. Ia menatap wajah Bellina sejenak. “Kamu mau keluar malam ini?”

 

“Belum tahu. Kalau kamu lembur, aku pasti di rumah sendirian. Paling, pergi ke rumah mama.”

 

Lian tersenyum menatap wajah Bellina. Ia sangat bahagia karena Bellina mau mengerti dan menerima keadaannya. Ia harap, Bellina tidak terus-menerus salah paham. Apa yang ia berikan untuk Yuna, hanya untuk menebus kesalahannya di masa lalu.

 

 

 

...

 

 

 

Tepat di hari ulang tahun dia dan istrinya, Yeriko hanya ingin merayakannya berdua saja. Tak ada orang lain yang mengganggu waktu mereka berdua. Yeriko sudah menyiapkan tempat spesial untuk istrinya. Ia mengajak Yuna pergi ke tempat di mana ia melamar istrinya untuk pertama kali.

 

Yeriko menggandeng tangan istrinya sambil melangkahkan kakinya di atap gedung kantornya. “Kamu ingat tempat ini ‘kan?”

 

Yuna menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.

 

“Hari ini, aku mau menikmati matahari terbenam di sini. Bareng kamu,” bisik Yeriko sambil memeluk Yuna dari belakang. Mereka bersama-sama menatap padatnya kota Surabaya dari atas gedung Galaxy Office. Menatap langit yang luas sembari menikmati semilir angin yang menyapu lembut kulit mereka.

 

Yuna tersenyum sambil mengelus lengan Yeriko yang melingkar di perutnya. “Dunia ini sangat luas. Aku menghabiskan banyak masa mudaku di Melbourne. Kamu juga banyak menghabiskan masa muda kamu menjelajah dunia. Tak disangka, kalau Tuhan mempertemukan kita di titik ini.”

 

Yeriko tersenyum sambil mengecup pipi Yuna. “Di titik ini ... Tuhan mempertemukan kita. Padahal, sebelumnya kita menjalani banyak hari. Tidak saling mengenal, tidak pernah saling menyapa. Namun, rencana Tuhan memang sangat indah. Di titik pertemuan kita pula, semua mimpi-mimpiku berawal.”

 

Yuna menoleh ke wajah Yeriko sambil tersenyum.

 

“Lihat!” Yeriko menunjuk ke bawah gedung. Ada banyak rumah, kendaraan dan hiruk-pikuk manusia di dalamnya. “Sebelum mengenal kamu, aku adalah orang yang paling sombong dan angkuh. Aku selalu berdiri di sini, menatap mereka semua begitu rendah di bawahku. Sama sekali tak ingin melihat ke bawah karena aku takut terjatuh.”

 

“Ternyata ... berada di bawah sana tidak membuatku terjatuh sama sekali. Justru, membuat aku bisa melakukan banyak hal yang tak pernah aku lakukan sebelumnya. Kamu menunjukkan kesederhanaan yang berharga. Bahkan, seisi dunia ini nggak akan lebih berharga dibanding kehadiranmu di sisiku.”

 

“Buatku, kamulah yang paling berharga. Aku nggak punya apa-apa untuk dibanggakan,” sahut Yuna lembut.

 

“Tapi kamu punya hati yang kuat dan mulia. Lihat di sana!” pinta Yeriko sambil memutar tubuh Yuna. “Aku akan menambah Galaxy Hotel. Di sana, aku akan bangun apartemen. Di sana, aku akan buat mall mewah untuk para Crazy Rich. Bukan cuma di kota ini, tapi aku akan buat di kota-kota lain. Di Jakarta, semua sudah diurus kakek dan mama. Yang ada di kota ini, semuanya untuk kamu.”

 

Yuna mengangkat kedua alisnya. “Untuk aku?”

 

Yeriko menganggukkan kepala. “Gimana? Suka?” tanyanya sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Yuna.

 

“Wah ...! Kamu beneran kaya raya!?” seru Yuna.

 

Yeriko menghela napas sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Apa selama ini kamu lihat kekayaanku cuma bercanda?”

 

Yuna meringis sambil menatap wajah Yeriko. “Aku cuma mau jadi istri kamu. Aku nggak bisa dikasih harta sebanyak ini. Gimana ngurusnya?”

 

“Kamu cukup nerima aja! Aku yang akan urus semuanya untuk kamu.”

 

Yuna langsung mendekap tubuh Yeriko. “Aku cuma mau kamu. Aku nggak butuh yang lainnya,” bisiknya sambil menitikan air mata.

 

“Aku dan seluruh hidupku, semuanya untuk kamu.”

 

Yuna menengadahkan kepalanya menatap wajah Yeriko. Ia terus mengecup bibir Yeriko berkali-kali sambil tertawa. “Aku juga, semuanya untuk kamu.”

 

Yeriko melingkarkan tangannya ke belakang kepala Yuna. Ia menarik kepala istrinya dan mengulum lembut bibir Yuna yang mungil. “Selamat ulang tahun ...!” ucapnya lirih.

 

“Selamat ulang tahun juga ...!” balas Yuna sambil melingkarkan kedua lengannya di leher Yeriko. Bibir mereka saling bertautan untuk waktu yang lama.

 

Mereka memilih merayakan ulang tahun mereka berduaan di tempat ini. Menghadap langit sore sambil menikmati matahari yang berganti dengan rembulan. Siang yang berganti malam ... akan menjadi waktu mereka saling mencintai selamanya. Meski bintang dan matahari tak pernah terlihat bersama. Tapi mereka ada di ruang yang sama di atas sana. Sama seperti hati mereka yang tak pernah berubah meski waktu dan musim berganti.

 

Untuk kedua kalinya, Yeriko memindahkan restoran ke atas atap gedung kantornya. Ia ingin menikmati makan malamnya berdua bersama istrinya ... hanya berdua. Tak ada sahabat-sahabat yang mengganggu dan mengacaukan kejutan yang ia berikan khusus untuk istri tercintanya.

 

((Bersambung ...))

 

Mr. Ye siapin hadiah apa ya untuk Ms. Ye?

Baca terus kisahnya dan selamat ber-baper ria. Muach!

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

Perfect Hero Bab 486 : Dilarang Tampil Cantik

 


Yuna  melangkahkan kakinya ke perusahaan setelah ia selesai berbincang dengan Andre dan Nirma di kedai kopi.

 

“Siang, Nyonya Bos ...!” sapa karyawan yang kebetulan berpapasan dengan Yuna di perusahaan.

 

“Siang ...!” sapa Yuna sambil tersenyum. Wajah cantiknya berhasil mengalihkan perhatian semua orang.

 

“Istri Pak Bos dandan cantik banget. Ada perayaan apa ya?” tanya salah seorang karyawan yang kebetulan melihat kehadiran Yuna.

 

Karyawan yang lain mengedikkan bahunya. “Biasanya, istri Pak Bos nggak pernah pakai make-up. Ke sini juga pakai daster biasa aja.”

 

“Mungkin mau ngasih kejutan buat Pak Bos.”

 

“Iya. Jadi orang cantik mah enak. Nggak dandan aja cantik, apalagi dandan kayak gitu.”

 

“Aku suka banget style-nya dia. Feminim dan elegan.”

 

“Sesuai sama kantongnya dia. Semua yang nempel di badan dia barang mahal. Jam tangan dia aja sama kayak gaji kita setahun.”

 

“Iya, sih. Kita mah apa. Cuma karyawan biasa.”

 

“Beruntung banget ya kalau bisa jadi istrinya bos.”

 

“Nggak usah mimpi jadi istrinya bos! Ketemu sama bos aja gemetaran. Hahaha.”

 

“Nggak berani, hahaha.”

 

Beberapa karyawan membicarakan kedatangan Yuna yang tak seperti biasanya. Mereka sudah tak asing lagi dengan Yuna yang hampir setiap hari mengirimkan makan siang untuk suaminya itu.

 

Beberapa menit kemudian, Yuna sudah sampai ke ruang kerja suaminya. Ia dengan santai masuk ke dalam ruangan suaminya tanpa ragu.

 

“Sore ...!” sapa Yuna sambil menghampiri Yeriko yang masih duduk di meja kerjanya.

 

“Sore ...!” balas Yeriko sambil menengadahkan kepala begitu mendengar suara istrinya. Ia termenung selama beberapa menit melihat istrinya yang berdandan sangat cantik.

 

Yuna mengigit bibir saat mendapati Yeriko menatap dingin ke arahnya. Ia mematung di tempatnya selama beberapa menit. “Kenapa ngelihatin aku kayak gitu?” batinnya.

 

Yeriko bangkit dari tempat duduk. Ia menghampiri Yuna sambil memerhatikan tubuh istrinya dari ujung kepala hingga ke ujung kaki. “Kamu jalan-jalan dengan pakaian seperti ini sepanjang hari?” tanya Yeriko.

 

Yuna menggigit bibir sambil meremas gaun yang ia kenakan. “Apa aku salah pilih baju? Kenapa suamiku nggak suka?” batinnya.

 

“Kenapa, diam?” tanya Yeriko lagi.

 

“Jelek ya?” tanya Yuna sambil melipat wajahnya. “Aku pikir, kamu bakalan suka lihat aku kayak gini. Aku sengaja pilih pakaian yang bagus dan dandan untuk ketemu kamu hari ini. Aku cuma mau kelihatan lebih cantik dari biasanya.”

 

Yeriko tertawa kecil. “Apa dengan kayak gini?”

 

Yuna mengerucutkan bibirnya. “Aku udah berusaha buat tampil cantik. Bibi War sama Andre bilang kalau aku cantik banget pakai dress kayak gini. Kenapa kamu malah nggak suka?”

 

“Oh ... jadi, kamu ketemu sama Andre hari ini?” tanya Yeriko.

 

Yuna gelagapan mendengar pertanyaan Yeriko. “Aku nggak sengaja ketemu sama dia. Eh, aku nggak berniat buat ketemu dia. Dia yang maksa buat ketemu sama aku.”

 

“Kenapa kamu nggak bilang sama aku kalau kamu ketemu sama Andre?”

 

“Tadi, waktu keluar dari galeri ... mmh, dia nelpon aku dan minta ketemu sebentar aja. Jadi, aku iyain karena sejalan sama arah ke perusahaan. Lagian, aku nggak cuma berduaan sama dia. Ada Nirma di sana, tunangan dia.”

 

“Apa ada hal penting banget sampai dia ngajak ketemu dadakan?” tanya Yeriko.

 

Yuna menggelengkan kepala. “Cuma ngasih hadiah ulang tahun.”

 

“Kamu terima?” tanya Yeriko menyelidik.

 

Yuna langsung menundukkan kepala. Ia menggigit bibir dan meremas gaunnya sendiri. Ia sadar, menerima hadiah dari Andre adalah kesalahan besar. Yeriko tidak akan suka melihat istrinya menerima hadiah dari pria lain. “Ma-af ... nggak seharusnya aku nerima hadiah dari dia,” ucapnya lirih.

 

“Apa? Aku nggak dengar.”

 

“Seharusnya, aku nggak terima hadiah dari dia.” Yuna meninggikan suaranya, namun kepalanya tetap menatap lantai yang ada di bawah kakinya.

 

Yeriko menahan tawa melihat Yuna yang menyadari kesalahannya. “Sekarang, di mana hadiah dari dia?”

 

“Masih di mobil. Nanti aku buang!” sahut Yuna sambil mengangkat wajahnya menatap Yeriko.

 

Yeriko tersenyum kecil. “Kamu udah bersuami, sebaiknya jangan menerima hadiah dari laki-laki lain. Kamu minta apa aja, pasti aku kasih. Apa yang aku kasih selama ini masih kurang?”

 

Yuna menggelengkan kepala.

 

“Kamu ketemu sama dia dengan penampilan seperti ini aja, udah salah. Apalagi sampai menerima hadiah dari dia.”

 

Yuna menggigit bibirnya. “Iya, maaf!”

 

“Lain kali, jangan keliaran di luar sana dengan penampilan secantik ini!” pinta Yeriko.

 

Yuna langsung mengangkat kedua alisnya. “Cantik? Cantik atau jelek, sih?” batinnya.

 

“Kamu keluar tanpa dandan, pakai daster atau piyama aja sudah bikin si Andre dan Lian tergila-gila sama kamu. Padahal, mereka sudah punya pasangan. Kalau kamu keliaran dengan penampilan secantik ini ... akan ada berapa lagi laki-laki yang tergila-gila sama kamu, hah!?”

 

“Ini hari ulang tahun kita. Aku cuma pengen tampil cantik buat kamu. Aku salah?”

 

“Setiap hari, kamu udah cantik. Nggak perlu berdandan kayak gini. Di luar sana, pasti banyak laki-laki yang merhatiin kamu. Keluyuran sendirian di luar sana dengan penampilan seperti ini ... kamu mencoba menarik perhatianku atau perhatian banyak orang?” tanya Yeriko.

 

Yuna menundukkan kepala sambil menggigit bibir. Ia tidak tahu kalau yang selama ini ia lakukan adalah sebuah kesalahan. Ia meremas gaun putih yang ia kenakan, air matanya mulai menetes. Ia kecewa pada dirinya sendiri.

 

“Jangan nangis!” pinta Yeriko sambil mengusap air mata yang jatuh di pipi Yuna. “Aku cuma nggak mau kamu jadi khayalan nakal pria-pria di luar sana. Lain kali, jangan keluyuran sendirian dengan penampilan seperti ini!” lanjutnya sambil menarik tubuh Yuna ke dalam pelukannya.

 

Yuna mengangguk-anggukkan kepalanya.

 

Yeriko melepas pelukannya. Ia meletakkan kedua tangan di pundak Yuna sambil memerhatikan wajah istinya itu. “Aku tetap cinta sama kamu walau kamu nggak pake make-up dan nggak pake baju.”

 

Yuna langsung memonyongkan bibirnya sambil meninju perut Yeriko.

 

Yeriko terkekeh. “Serius. Aku nggak suka kamu jalan-jalan dengan dandanan secantik ini. Kalau masih pakai make-up kayak gini terus, aku pajang di meja resepsionis atau di toko.”

 

“Iih, jahat banget! Emangnya, aku pajangan?”

 

Yeriko terkekeh. Perhatiannya beralih pada ponsel Yuna yang tiba-tiba berdering.

 

Yuna merogoh ponsel dari dalam tas tangannya. Ia menatap nama kontak yang tertera di layar ponselnya.

 

“Siapa?” tanya Yeriko.

 

“Wilian,” jawab Yuna lirih.

 

“Oh. Angkat aja!” perintah Yeriko sambil berbalik dan kembali ke tempat duduknya.

 

Yuna menggigit bibir melihat sikap suaminya yang pencemburu. Ia mengusap layar ponsel dan menempelkan ke telinganya. “Halo ...!” sapanya begitu ia menjawab panggilan telepon dari Lian.

 

“Halo ...! Kamu di mana, Yun?” tanya Lian dari seberang telepon.

 

“Di perusahaan suamiku. Ada apa, Li?”

 

“Bisa ketemu sebentar?” tanya Lian.

 

Yuna langsung menoleh ke arah Yeriko yang duduk santai sambil memutar-mutar tubuhnya ke kanan dan ke kiri. Ia tidak mungkin menerima ajakan Lian karena Yeriko masih diselimuti perasaan cemburunya.

 

“Yun ...!”

 

“Eh!?”

 

“Bisa ketemu?”

 

“Nggak bisa, Li.”

 

“Kenapa?”

 

“Aku sibuk banget.”

 

“Sebentar aja, Yun.”

 

“Tetep nggak bisa, Li. Hari ini, aku mau ngerayain ulang tahunku berdua aja sama suami.”

 

Lian terdengar menghela napas. “Oke. Selamat ulang tahun, Yun!”

 

“He-em. Thanks!”

 

Hening.

 

“Ada yang mau dibicarakan lagi?” tanya Yuna.

 

“Nggak ada, Yun. Aku cuma mau ngucapin selamat ulang tahun buat kamu.”

 

“Oke. Makasih, Li. Aku matiin teleponnya ya? Bye-bye!” ucapnya dan langsung mematikan panggilan teleponnya.

 

Yuna menghela napas. Ia menghampiri Yeriko yang duduk di kursi kerjanya. “Masih marah?”

 

Yeriko menggelengkan kepala. Ia tersenyum bahagia karena Yuna bisa dengan tegas menolak mantan kekasihnya itu. Ia menarik tubuh Yuna ke pangkuannya dan mencumbunya dengan mesra.

 

 ((Bersambung ...))

Sabar ya, Mr. Ye cemburunya emang gede banget.

Thanks yang udah dukung ceritanya sampai sini. Sekuel, Prekuel dan Spin-Off jadi satu aja ya? Ya, ya ya? Boleh kaaan?

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas