Friday, March 27, 2026

Perfect Hero Bab 507 : Selidiki Kasus

 


“Dokter, gimana kondisi ayah saya?” tanya Yuna setelah dokter melakukan operasi selama empat jam.

 

Dokter membuka maskernya dan menatap wajah Yuna. “Operasinya berjalan dengan lancar. Kami masih harus memantau perkembangan pasien selama beberapa jam ke depan untuk memastikan kondisi beliau.”

 

“Dia baik-baik aja ‘kan, Dokter?” tanya Yuna.

 

Dokter itu hanya menghela napas. “Saya tidak bisa memberi banyak harapan, banyak-banyak berdoa untuk keselamatan ayah kamu.”

 

Yuna kembali terisak saat mendengar ucapan dokter tersebut.

 

“Apa kami sudah bisa jenguk ayah kami, Dokter?” tanya Yeriko.

 

“Bisa. Setelah pasien dipindahkan dari ruang operasi,” jawab dokter tersebut sambil berlalu pergi.

 

“Hiks ... hiks ... ayahku gimana?” Yuna terus terisak sambil meremas baju Yeriko.

 

Yeriko langsung memeluk erat tubuh Yuna. “Ayah adjie akan baik-baik aja! Dia pasti baik-baik aja,” tutur Yeriko lirih. Meski ia tak yakin dengan ucapannya sendiri. Ia tetap berusaha untuk menenangkan hati istrinya.

 

Yuna terus terisak dalam pelukkan Yeriko hingga membuat kemeja suaminya basah dengan air mata dan ingus yang keluar dari hidungnya.

 

“Kamu temani ayah dulu di sini. Aku akan urus ini sama Satria!” pinta Yeriko.

 

Yuna menganggukkan kepala. “Hati-hati ...!” pinta Yuna sambil melirik ke arah tiga pria berseragam polisi yang sudah menginterogasi kejadian kecelakaan ini beberapa jam sebelumnya.

 

Yeriko menganggukkan kepala. Ia melangkahkan kakinya menghampiri tiga pria berseragam polisi dan melangkah pergi untuk melakukan penyelidikan lebih lanjut atas kejadian yang menimpa Adjie kali ini.

 

Yeriko merogoh ponsel dari dalam sakunya dan langsung menelepon Satria.

 

“Halo, Sat! Pesan yang aku kirim beberapa jam lalu, sudah diurus?”

 

“Sudah, Yer.”

 

“Posisi di mana, sekarang?” tanya Yeriko.

 

“Di Satlantas.”

 

Yeriko langsung menoleh ke arah pria berseragam polisi yang ada di sebelahnya. “Satlantas deket sini ‘kan?”

 

“Iya, Mas. Cuma enam menit dari sini.”

 

“Oke. Teman saya sudah di sana untuk bantu penyelidikan. Saya mau kasus ini diusut sampai selesai!”

 

“Siap, Mas! Kami juga akan melaksanakan tugas kami dengan baik.”

 

Yeriko mengangguk. Ia bergegas masuk ke mobil dan melaju menuju lokasi Satria berada.

 

“Gimana, Sat?” tanya Yeriko saat ia baru sampai di kantor Satlantas dan melihat Satria sudah keluar dari sana.

 

“Udah dapet copy rekaman CCTV yang aku butuhkan. Kita kerjain di rumah aja. Kalau nunggu penyidikan dari kepolisian, mereka lambat,” bisik Satria.

 

Yeriko tertawa kecil sambil menggelengkan kepala.

 

“Mereka nggak bisa disuruh lembur sampai pagi. Dapetin ini rekaman juga ribet. Untung papaku walikota, hihihi.”

 

“Ada gunanya juga jadi anak walikota,” sahut Yeriko.

 

“Ck, aku ini anak walikota, juga komandan TNI-AD. Masih aja diremehkan kayak gini?”

 

“Heh, orang hebat itu sesekali perlu diremehkan supaya kemampuannya semakin meningkat,” sahut Yeriko.

 

“Teorimu, Yer! Kamu sendiri nggak terima kalau diremehkan orang lain.

 

“Hahaha. Buruan masuk mobil!” perintah Yeriko.

 

“Aku bawa motor, Yer.”

 

“Mana motormu?” tanya Yeriko sambil mengedarkan pandangannya ke halaman parkir tersebut.

 

“Itu!”

 

“Kamu pake motor siapa?”

 

“Biasa. Motor anggota. Kalau pake mobil, nggak bebas bergerak di jalanan. Enakan pake motor,” jawab Satria sambil memasangkan helm di kepalanya.

 

“Oke. Aku tunggu kamu di rumah,” tutur Yeriko.

 

“Eh, di rumahku aja!” sahut Satria.

 

“Kenapa?”

 

“Lebih gampang di rumahku. Peralatanku di rumah semua.”

 

“Oke. Aku langsung meluncur ke sana.”

 

“Yo’i!”

 

Yeriko bergegas menyalakan kembali mesin mobilnya. Ia berpamitan dengan beberapa orang berseragam polisi yang sedang bertugas dan bergegas pergi.

 

Beberapa menit kemudian, Yeriko sudah berada di dalam kamar Satria. Mereka sibuk mengamati rekaman CCTV yang tak jauh dari lokasi kejadian.

 

“Putar lagi, Sat!” perintah Yeriko saat melihat tubuh Adjie melayang ke udara karena benturan tubuhnya dengan mobil yang melaju kencang malam itu.

 

“Yer, bukannya mertua kamu itu di perjalanan mau ke resort? Kenapa dia jalan kaki di sini?”

 

Yeriko menggelengkan kepala. “Di tempat sebelumnya ada CCTV, nggak?”

 

“Bentar, aku nunggu kabar dari anak buahku, Yer.”

 

Yeriko memijat keningnya yang berdenyut.

 

“Gimana keadaan mertua kamu?” tanya Satria.

 

Yeriko menggelengkan kepala. “Belum sadar.”

 

“Ini kasus tabrak lari. Jelas-jelas pelakunya kabur. Aku masih nunggu tersambung ke semua CCTV di kota ini, Yer. Udah malam gini, agak lama minta izin aksesnya.”

 

“Emangnya yang piket nggak gantian.”

 

“Ada yang piket, tapi nggak ngerti caranya ngasih akses.”

 

Yeriko termenung sambil mengamati rekaman CCTV yang ada di layar laptop Satria.

 

“Masuk, Yer!” tutur Satria.

 

“Gimana?” tanya Yeriko saat layar komputer Satria memunculkan banyak rekaman CCTV dari setiap sudut kota.

 

“Nah, ini taksi yang dipakai sama ayah mertua kamu!” tutur Satria. Ia langsung mengambil pena dan buku, kemudian mencatat plat nomor taksi tersebut untuk mengecek perjalanan mobil itu.

 

“Semuanya kelihatan normal sampai di sini ... terus ... Pak Adjie berhenti di jalanan itu untuk beli sesuatu di minimarket. Dan ini ... ini ... ini mobil yang nabrak Pak Adjie!” seru Satria.

 

“Kelihatan plat mobilnya dari sudut itu?” tanya Yeriko.

 

“Nggak terlalu jelas karena malam hari, Yer. Aku coba telusuri lewat CCTV lain.”

 

Yeriko menghela napas. “Aku dari dulu sudah curiga sama tantenya Yuna. pasti dia yang sudah mencelakai ayah mertuaku.”

 

“Kita belum punya bukti, Yer. Pengendara mobil itu jelas-jelas cowok. Tapi mukanya nggak tertangkap jelas.”

 

“Dari semua CCTV yang ada di kota ini, masa nggak ada satu pun yang bisa merekam itu plat mobil!?” tutur Yeriko mulai kesal.

 

“Sabar, Yer. Pencahayaan di malam hari, nggak sebaik waktu siang.”

 

“Besok, kamu suruh ayah kamu yang walikota itu buat ganti semua lampu kota dengan lampu yang lebih terang lagi!”

 

“Bangsat kamu, Yer! Kamu kira pakai anggaran negara bisa seenak udelmu!?”

 

Yeriko hanya tersenyum kecil menanggapi ucapan Satria.

 

“Eh, yang ini dapet plat mobilnya. Yer, ini mobil sempat berhenti beberapa meter dari lokasi kejadian. Artinya, pelaku tabrak lagi ini sudah menargetkan Pak Adjie. Lihat! Setelah kejadian tabrakan, kecepatan mobil dia di atas enam puluh kilometer per jam. Ini bukan tabrakan biasa,” tutur Satria sambil meraih ponselnya dan menelepon seseorang.

 

“Halo, Bang!”

 

“Bisa lacak plat mobil DD 1168 C yang hilang ke arah Sidoarjo malam ini?” tanya Satria tanpa basa-basi.”

 

“Bisa, Bang. Berapa tadi nomor platnya?”

 

“DD 1168 C.”

 

“Itu plat wilayah SulSel, Bang. Ada apa sama plat itu?”

 

“Sulawesi Selatan?”

 

“Iya, Bang.”

 

“Bisa dilacak pemilik mobilnya?”

 

“Wah, kalau ke Samsat Sulsel  agak rumit, Bang.”

 

“Emangnya nggak bisa minta link nasional? Semua data pemerintahan seharusnya sudah terintegrasi. Masa nggak ada datanya di Samsat online?” tanya Satria.

 

“Bang, harus minta akses ke Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan untuk dapetin datanya. Data yang ada sama saya punya Pemerintah Provinsi Jawa Timur.”

 

“Berapa lama minta akses ke sana?” tanya Satria.

 

“Nggak lama kalau ada surat perintah dari Walikota. Ini sudah terlalu malam. Kalau besok pagi, gimana?”

 

“Aku nggak bisa nunggu terlalu lama!” sahut Satria. “Kamu pikirin idenya gimana!?”

 

“Saya bisa buatkan surat permohonan aksesnya, Bang. Tapi butuh tanda tangan Pak Wali, gimana?”

 

“Papaku di rumah! Ke rumah sekarang juga!”

 

“Tapi, Bang ... saya nggak enak kalau mengganggu waktu istirahat Pak Wali.”

 

“Halah, nggak usah kebanyakan alasan!” sahut Satria. “Aku yang tanggung jawab. Ntar aku yang bangunin papa!”

 

“Oke, Bang! Saya langsung ke sana.”

 

“Lima belas menit sudah sampai di sini ya!” perintah Satria.

 

“Dua puluh menit, Bang!” pinta pria yang ada di seberang telepon tersebut.

 

“Lima belas menit aja lama. Malah minta dua puluh menit!”

 

“Saya butuh waktu untuk cetak surat dan siap-siap karena ini di luar jam kerja.”

 

“Jam kerja memang ada batasnya. Tapi tanggung jawab, nggak ada waktunya. Ini menyangkut hidup dan mati seseorang. Kalau sampai nggak mau bantuin, aku suruh papaku pecat kamu dan blacklist nama kamu dari pemerintahan atau swasta!” ancam Satria.

 

“Iya, Bang! Siap! Lima belas menit, saya sudah sampai di sana.

 

“Nah, gitu dong!” seru Satria sambil tertawa lebar. Ia langsung mematikan panggilan teleponnya begitu saja.

 

“Gimana?” tanya Yeriko.

 

“Wait! Sabar, ya! Aku udah suruh orang untuk melacak pemilik mobil itu. Pemiliknya kemungkinan adalah orang suruhan Melan.

 

“Kalau sampai si Melan yang sengaja mencelakai ayah mertuaku, aku nggak akan ngelepasin dia gitu aja,” gerutu Yeriko.

 

Satria terus melakukan penyelidikan untuk menemukan siapa orang yang telah menabrak Adjie dengan kecepatan tinggi. Kali ini, ia menggeleng-gelengkan kepala karena mobil tersebut sengaja mencelakai ayah Yuna.

 

((Bersambung ...))

Dukung terus Bang Satria biar makin keren kalau melakukan penyelidikan. Kasih saran yang bagus buat Bang Sat biar cepet nemuin pelaku tabrak larinya ya!

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

 

Thursday, March 26, 2026

Perfect Hero Bab 506 : Mimpi yang Menjadi Kenyataan

 


“Ay, kenapa ngajak aku ke sini?” tanya Yuna sambil melangkahkan kakinya di taman.

 

“Pengen suasana baru,” jawab Yeriko sambil merangkul tubuh Yuna. “Maaf, aku cuma bisa ajak kamu ke sini! Belum bisa ajak kamu liburan ke luar negeri.”

 

Malam ini, Yeriko mengajak Yuna untuk menghabiskan liburan di salah satu resort mewah yang ada di kawasan Genteng, Kota Surabaya. Kesibukan di perusahaan dan kondisi Yuna yang sedang hamil, membuatnya tak bisa mengajak istrinya bepergian jauh.

 

Yuna tersenyum sambil menatap wajah suaminya. “Ke sini aja, aku udah bahagia, kok.”

 

Yeriko tersenyum sambil menghentikan langkahnya. Ia memutar tubuh Yuna menghadap ke arahnya. “Kalau anak kita sudah lahir, aku akan bawa kalian keliling dunia!”

 

“Really?” tanya Yuna dengan mata berbinar.

 

Yeriko menganggukkan kepala.

 

Yuna tersenyum. Ia menghela napas sambil melangkahkan kakinya kembali. “Dulu, Ayah selalu ngajak aku pergi liburan setiap tahunnya. Ke Singapura, ke Tokyo atau ke halaman belakang rumah kalau ayah lagi sibuk banget dengan pekerjaannya.”

 

Yeriko tersenyum sambil mengiringi langkah Yuna. “Aku juga akan melakukan itu untuk kamu dan anak kita.”

 

Yuna tersenyum sambil mengangguk-anggukkan kepala. Ia mengelus perutnya yang buncit. “Ingat janji ayah kamu, ya! Kalau dia bohong, kita harus kasih hukuman!”

 

Yeriko tertawa kecil. “Oke. Emangnya, mau kasih hukuman apa?”

 

“Mmh ...” Yuna melirik ke atas. “Rahasia.”

 

“Kalian mau main rahasia-rahasiaan?” tanya Yeriko sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Yuna.

 

Yuna tertawa sambil melangkahkan kakinya. Ia berbalik sambil menatap wajah suaminya. “Rahasia perempuan,” tuturnya sambil menjulurkan lidah. Ia tertawa kecil sambil berjalan mundur menjauhi Yeriko.

 

Yeriko tertawa kecil sambil menggeleng-gelengkan kepala. Ia mempercepat langkahnya menghampiri Yuna.

 

“Eh, itu Mama Rully sama Kakek Ali udah datang!” seru Yuna sambil melangkahkan kaki menghampiri mama dan kakek mertuanya.

 

Yeriko tersenyum sambil mengikuti langkah Yuna.

 

“Kalian udah lama nunggu kami?” sapa Rullyta.

 

“Belum, Ma. Lagian, tempat ini asyik banget! Sepi, tenang, nyaman dan sejuk banget.”

 

Rullyta tersenyum menatap Yuna. “Kamu suka?”

 

Yuna menganggukkan kepala.

 

“Baguslah. Kita bisa menginap di sini malam ini,” tutur Rullyta.

 

Yuna mengangguk lagi.

 

“Ayah kamu mana?” tanya Rullyta sambil mengedarkan pandangannya. Sementara, Kakek Nurali dan Yeriko sudah duduk berbincang di salah satu meja yang ada di taman tersebut.

 

“Belum dateng, Ma. Katanya, masih di jalan.”

 

“Oh.” Rullyta tersenyum. Ia mengajak Yuna untuk duduk bersama Yeriko. Mereka duduk bersama sambil berbincang banyak hal tentang keseharian mereka masing-masing.

 

 

 

Dua jam berlalu ...

 

Hingga tiba waktu makan malam, Adjie belum juga sampai ke resort yang sudah mereka janjikan.

 

Yuna mulai gelisah karena ayahnya tak kunjung datang ke tempat tersebut.

 

“Ayah kamu belum sampai juga?” tanya Rullyta.

 

Yuna menggelengkan kepala. “Aku coba telepon lagi.”

 

“Dua jam yang lalu, dia bilang sudah berangkat? Harusnya sudah sampai di sini,” tutur Rullyta.

 

“Iya,” sahut Yuna yang mulai gelisah. “Aku khawatir sama Ayah. Kalau kenapa-kenapa di jalan, gimana?”

 

Yeriko langsung menoleh ke arah Yuna. “Yun, jangan berpikiran macam-macam! Ayah pasti baik-baik aja.”

 

“Ay, dari rumah ke sini cuma tiga puluh menit. Ini sudah dua jam, ayahku belum nyampe juga,” sahut Yuna. Ia menjatuhkan ponsel yang ada di tangannya karena tangannya yang gemetaran.

 

Yeriko langsung menangkap ponsel Yuna sebelum menyentuh lantai ruang makan tersebut. “Jangan panik! Biar aku yang telepon ayah!” pintanya sambil menekan ponsel mertuanya.

 

Yuna menautkan kedua telapak tangan sambil menggigit kuku jempolnya.

 

“Jangan gigitin kuku!” pinta Yeriko sambil menurunkan lengan Yuna, ia memasukkan jemari tangannya ke sela-sela jemari tangan Yuna.

 

Yuna menarik napas dalam-dalam saat tangan Yeriko menggenggamnya. Ia merasa lebih tenang dari sebelumnya. Hanya saja, ia tak bisa mengusir perasaan khawatir yang sedang menyerang tubuhnya.

 

“Halo ...!” sapa suara asing di seberang sana begitu panggilan telepon dari yeriko tersambung.

 

“Halo, ini siapa?” tanya Yeriko. Matanya menatap Yuna, Rullyta dan kakeknya bergantian.

 

“Maaf, apa Anda keluarga pemilik ponsel ini?” tanya seseorang di seberang sana.

 

“Iya, benar. Saya anaknya.”

 

“Kenapa?” tanya Yuna tanpa suara. Ia berusaha merebut ponsel dari telinga Yeriko, tapi Yeriko malah menjauhkannya.

 

“Sebentar!” pinta Yeriko sambil meletakkan jari telunjuk di bibirnya.

 

“Bapak yang punya telepon ini mengalami kecelakaan di jalan Dharmawangsa. Sekarang, beliau ada di IGD rumah sakit Dr. Soetomo.”

 

“Apa!?” Yeriko membelalakkan mata sambil bangkit dari tempat duduknya. “Saya ke sana, sekarang!”

 

“Ay, ada apa?” tanya Yuna.

 

“Ayah kecelakaan,” jawab Yeriko. “Kamu di sini aja sama Mama!”

 

“Apa!? Aku ikut!” seru Yuna.

 

“Kamu di sini aja. Aku akan urus ayah kamu.”

 

“Nggak mau! Aku ikut!” seru Yuna sambil menitikkan air mata.

 

Yeriko menghela napas sejenak. Ia menoleh ke arah mama dan kakeknya.

 

“Bawalah dia!” perintah Rullyta.

 

Yeriko menatap Yuna sekali lagi. “Kamu yakin mau ikut?”

 

Yuna menganggukkan kepala.

 

“Jangan panik dan jangan nangis!” pinta Yeriko.

 

Yuna menganggukkan kepala. Ia menghapus air mata yang sudah jatuh membasahi pipinya dan melangkahkan kakinya bersama Yeriko.

 

“Kenapa mimpiku jadi kenyataan?” batin Yuna sambil memasang safety belt saat ia sudah masuk ke dalam mobil.

 

Yeriko memerhatikan Yuna lewat ekor matanya. Ia sangat mengerti kegelisahan yang sedang menyelimuti Yuna. Ia terus mempercepat laju mobilnya menuju rumah sakit Dr. Soetomo.

 

Begitu sampai rumah sakit, Yuna dan Yeriko langsung menuju ruang IGD.

 

“Apa ayah ada di dalam?” tanya Yuna sambil mendorong pintu IGD yang tertutup rapat.

 

“Yun, sabar!” pinta Yeriko sambil merengkuh tubuh Yuna.

 

“Ayah di mana? Keadaannya sekarang gimana?” tanya Yuna sambil terisak.

 

Yeriko menyentuh pintu IGD yang terkunci rapat. “Mungkin, dokter lagi ...” Ia menghentikan ucapannya saat pintu ruang IGD tersebut terbuka.

 

“Cari siapa?” tanya perawat yang keluar dari pintu tersebut.

 

“Apa ada pasien yang mengalami kecelakaan di Dharmawangsa?” tanya Yuna.

 

“Kalian siapa?”

 

“Saya anaknya, Suster!” jawab Yuna.

 

“Kebetulan kalau begitu. Pasien harus segera dioperasi dan membutuhkan persetujuan dari keluarga. Karena orang yang membawa pasien bukanlah keluarganya. Jadi, kami menunggu keluarga untuk menyetujui tindakan operasi yang akan kami lakukan.”

 

“Lakukan yang terbaik, Suster!” perintah Yeriko.

 

Perawat itu menganggukkan kepala. “Tunggu sebentar!” perintahnya sambil masuk kembali ke ruang IGD tersebut.

 

Yuna dan Yeriko menganggukkan kepala.

 

“Kalian keluarga Pak Adjie Linandar?” Suara seorang pria mengalihkan perhatian Yuna dan Yeriko. Mereka langsung berbalik menatap pria muda yang sudah ada di belakang mereka.

 

“Siapa ya?” tanya Yeriko.

 

“Kamu yang nolongin ayah saya?” tanya Yuna sambil menatap pria muda itu.

 

Pria itu menganggukkan kepala. “Maaf, saya ambil dompet dan ponsel beliau untuk mengetahui identitasnya,” tuturnya sambil menyodorkan dompet dan ponsel ke arah Yuna.

 

“Makasih banyak, ya!” ucap Yuna.

 

Pria muda itu menganggukkan kepala.

 

“Kamu yang nabrak ayah kami?” tanya Yeriko.

 

Pria muda itu tertawa kecil. “Bukan, Mas. Dia korban tabrak lari. Saya yang bawa dia ke rumah sakit ini.”

 

“Oh, makasih banyak ya! Boleh tahu namanya siapa?” tanya Yuna.

 

“Arjuna, panggil aja Arjun!” pintanya sambil tersenyum menatap wajah Yuna. Ia memperhatikan wajah Yuna. Ia merasa sangat familiar dengan wanita cantik yang ada di hadapannya itu.

 

Yeriko menatap Arjuna yang sedang memerhatikan istrinya.

 

Arjuna tertawa kecil saat menyadari tatapan Yeriko yang begitu menyelidik. “Keluarganya sudah datang, saya harus pergi!” ucapnya sambil melirik arloji dan berbalik.

 

“Tunggu ...!” seru Yuna.

 

Arjuna langsung menghentikan langkah kakinya.

 

“Bisa minta nomor telepon kamu?” tanya Yuna.

 

Arjuna berbalik sambil tersenyum ke arah Yuna. “Untuk apa?”

 

“Kamu sudah nolong ayahku, apa bisa tinggalin nomor telepon untuk ...” Ucapan Yuna terhenti saat Arjuna tertawa kecil sambil menatapnya.

 

“Kalau mau cari aku, aku selalu ada di Arjuna Club,” tutur Arjuna sambil tersenyum. Kemudian ia berbalik dan melangkah pergi.

 

“Arjuna Club?” gumam Yuna sambil menatap punggung pria itu.

 

Yeriko merengkuh tubuh Yuna. Mereka kembali berbalik saat pintu ruang IGD terbuka.

 

“Siapa yang bertanggung jawab atas pasien yang bernama Adjie Linandar?” tanya perawat yang keluar dari ruangan tersebut.

 

“Saya, Dokter!” jawab Yuna dan Yeriko bersamaan.

 

Perawat itu memandang Yuna dan Yeriko bergantian.

 

“Saya anak menantunya. Saya yang akan bertanggung jawab!” tutur Yeriko sambil menarik dokumen dari tangan perawat tersebut dan langsung menandatanginya.

 

Perawat tersebut tersenyum begitu membaca nama besar Hadikusuma yang sudah terkenal di kota tersebut. “Kami akan langsung mengambil tindakan. Pasien akan segera memasuki ruang operasi,” ucapnya sambil masuk kembali ke dalam ruang gawat darurat tersebut.

 

Yeriko menganggukkan kepala. Ia mengajak Yuna untuk duduk di salah satu kursi tunggu yang ada di depan pintu ruangan operasi.

 

Yuna duduk sambil menutup wajahnya. Ia dan Yeriko sudah melakukan banyak cara untuk melindungi ayahnya. Namun, nasib malang tetap saja menimpa dirinya. Ia sangat berharap kalau ayahnya bisa diselamatkan dan kembali sehat.

 

((Bersambung...))

Apa yang akan dilakukan Mr. Ye selanjutnya?

Ikuti terus kisah selanjutnya ya ...

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas