Tuesday, April 28, 2026

Perfect Hero Bab 515 : Melan vs Yuna

 


Melan tak bisa menyembunyikan kegelisahannya. Ia duduk di sofa sambil memperhatikan suaminya yang berbincang dengan kakak kandungnya. Ia menarik napas dan bangkit dari sofa.

 

“Mau ke mana, Tante?” tanya Yuna.

 

“Mau ke toilet, sebentar,” jawab Melan.

 

“Oh.”

 

Melan tersenyum. Ia bergegas keluar dari ruangan tersebut dan melangkahkan kakinya menuju toilet.

 

Yuna dan Jheni saling pandang begitu Melan keluar dari ruang rawat tersebut. “Jhen, temenin aku ke kantin!” pinta Yuna sambil meraih pergelangan tangan Jheni.

 

Jheni menganggukkan kepala. Ia sangat mengerti tujuan Yuna kali ini dan langsung melangkahkan kakinya mengiringi langkah Yuna.

 

“Jhen, aku curiga banget sama Tante Melan. Dari pertama datang, dia kelihatan gugup banget. Lagian, ayahku dirawat di ruang VVIP yang sudah dilengkapi sama toilet di dalamnya. Kenapa dia harus pergi ke luar kalau cuma mau ke toilet?”

 

Jheni menganggukkan kepala. “Iya, Yun. Pasti ada hal yang disembunyikan sama tante kamu kali ini. Kelihatan banget dia gelisah di dalam ruangan tadi.”

 

Yuna mengangguk sambil melangkahkan kakinya menuju ke toilet umum.

 

“Kenapa nggak kamu terus aja tadi waktu di dalam ruangan? Biar dia nggak perlu keluar dari sana?”

 

“Aku mau hadapi Tante Melan tanpa harus canggung karena ada ayah.”

 

Jheni menganggukkan kepala. “Aku dukung kamu!”

 

“Harus!” sahut Yuna sambil melangkahkan kakinya menuju ke toilet.

 

Yuna dan Jheni sengaja menunggu di depan pintu. Mereka benar-benar terlihat seperti penjaga pintu neraka yang bersiap menerkam Melan saat wanita itu keluar.

 

Beberapa menit kemudian, Melan keluar dari pintu toilet. Ia membelalakkan mata begitu melihat Yuna dan Jheni sudah ada di hadapannya.

 

“Hai, Tante ...!” sapa Yuna dan Jheni bersamaan. Mereka memasang senyuman termanis di dunia tapi berhasil menusuk hati Melan.

 

“Ka-kalian mau apa?” tanya Melan.

 

Yuna tersenyum kecil sambil memainkan jemari tangannya. “Kenapa Tante ketakutan? Apa karena lihat ayahku dalam keadaan baik-baik aja?”

 

“Kamu nyurigain Tante?” tanya Melan balik.

 

“Nggak,” jawab Yuna santai. “Aku cuma mau ngasih tahu Tante supaya lebih berhati-hati lagi!” lanjutnya sambil tersenyum manis.

 

Melan menatap wajah Yuna penuh kebencian. Ia melihat Yuna semakin mirip dengan Arum. Wanita yang paling ia benci seumur hidup.

 

“Tante, sekarang zaman sudah modern. Kami pasti menemukan siapa orang yang sudah menabrak Oom Adjie,” tutur Jheni.

 

“Kalau sampai Tante terbukti ada di balik ini semua. Aku nggak akan pernah ngelepasin Tante sampai kapan pun!” tegas Yuna. “Aku bukan cuma bisa mengambil alih perusahaan. Tapi juga akan membuat Tante membusuk di penjara!”

 

Melan tersenyum sinis menanggapi ucapan Yuna. “Kamu bisa ngancam Tante karena berlindung di balik keluarga Hadikusuma? Kamu nggak ingat berapa lama aku menghidupi kamu sampai bisa seperti sekarang? Anak nggak tahu terima kasih!”

 

“Tante, nggak usah bawa-bawa masa lalu!” sahut Jheni kesal. “Yuna lebih banyak mendapatkan penderitaan daripada kebahagiaan.”

 

“Kamu ...!?” Melan mendelik ke arah Jheni. “Kamu siapa? Berani-beraninya ikut campur urusan keluarga kami, hah!?”

 

“Emang Tante siapa, hah!? Tante juga bukan siapa-siapa di keluarga Linandar. Kalau bukan Oom Rudi yang mungut Tante ... Tante cuma perempuan jalanan yang nggak punya apa-apa. Bahkan status pun nggak punya.”

 

PLAK ...!

 

Melan langsung menampar wajah Jheni. “Jangan sembarangan kalo ngomong!”

 

Jheni menatap wajah Melan penuh kebencian. Ia langsung mendorong bahu Melan hingga punggungnya menyentuh dinding toilet. “Kamu pikir, aku takut sama kamu, hah!?” seru Jheni sambil menarik rambut Melan.

 

“Anak kurang ajar!” sahut Melan sambil mencengkeram pergelangan tangan Jheni yang menarik rambutnya.

 

Jheni semakin menarik kuat rambut Melan.

 

“Tolong ...!” teriak Melan.

 

“Udah, Jhen. Jangan bikin kegaduhan!” pinta Yuna sambil menarik tubuh Jheni untuk menjauh. Ia tidak ingin menimbulkan keributan karena banyak mata yang mulai menoleh ke arah mereka.

 

Jheni langsung melepas rambut Melan dari genggamannya. “Beraninya teriak minta tolong aja!” gerutunya sambil melangkah mundur mengikuti tarikan tangan Yuna.

 

“Preman kayak kalian itu, lebih cocok tinggal di jalanan!” seru Melan.

 

“Ini Mak Lampir sialan!” umpat Jheni, ia kembali berbalik menatap tubuh Melan dan bersiap menyerangnya.

 

“Udah, Jhen ...! Nggak usah diladeni!” pinta Yuna sambil menahan tubuh Jheni.

 

Melan tersenyum sinis sambil menatap Jheni dan Yuna yang bergerak menjauh. “Teruskan aja! Biar semua orang tahu kalau kalian itu bukan Tuan Puteri, tapi preman jalanan!”

 

Jheni menarik napas dalam-dalam sambil memejamkan matanya menahan emosi yang bersiap meletus dari ubun-ubunnya.

 

Yuna berbalik dan tersenyum ke arah Melan. “Ada yang salah dengan preman jalanan? Mereka juga manusia. Bahkan, mereka lebih mulia dari perempuan tua yang licik kayak Tante.”

 

Melan tersenyum sinis. “Nggak usah munafik! Emangnya kamu mau tinggal di jalanan?”

 

Yuna tertawa kecil sambil menatap wajah Melan. “Tante, aku bertahun-tahun ada di jalanan. Hosier Lane jadi salah satu saksi bagaimana aku bertahan hidup di Melbourne. Yang Tante bilang kalau membiayai seluruh hidupku ke semua keluarga, ke semua orang ... itu cuma omong kosong!”

 

“Kamu ...!? Kamu pikir, biaya rumah sakit ayah kamu itu murah, hah!? Siapa yang bayarin kalau bukan aku?”

 

Yuna tersenyum sinis. “Dulu aku terlalu bodoh sampai nggak tahu sama sekali apa yang sudah Tante lakuin ke ayahku. Aku selalu menuruti semua yang Tante mau, demi ayah. Sekarang, aku udah tahu semuanya. Uang yang Tante pakai untuk pengobatan ayah adalah uang yang seharusnya kami miliki saat ini.”

 

Melan terdiam mendengar ucapan Yuna.

 

“Bahkan semua yang Tante punya saat ini ... seharusnya adalah milikku. Seharusnya, Tante Melan yang tahu diri! Apa yang Tante Melan punya sekarang adalah milikku! Tante akan kehilangan semua yang tidak seharusnya Tante miliki!” tegas Yuna sambil berbalik dan pergi meninggalkan Melan.

 

Melan menatap tubuh Yuna dengan perasaan berdebar. Ia tak menyangka kalau gadis yang pernah ia kuasai dan ia manfaatkan itu, kini berbalik menyerangnya.

 

“Kalau dia nggak ada di bawah perlindungan suaminya, aku pasti bisa manfaatin Yuna untuk dapetin uang yang lebih banyak lagi,” batin Melan.

 

Sementara itu, Yuna dan Jheni melangkahkan kakinya menyusuri koridor yang menuju ke ruang rawat Adjie.

 

“Tante kamu itu sialan banget, Yun. Seumur hidup aku tinggal sama orang tua angkat. Tapi semua keluarga angkatku baik. Nggak ada yang jahat kayak Maleficent itu!”

 

“Huft, entahlah. Padahal, aku nggak pernah macem-macem ke dia. Dia benci banget sama aku.”

 

“Dia itu benci bukan karena kamu salah. Tapi karena dia nggak mampu buat dapetin apa yang kamu sekarang. Orang kalau punya penyakit iri hati dan dengki berkepanjangan kayak gitu, matinya bakal kena azab. Ntar aku bikin komik yang aku kasih judul ... Azab Tante-Tante Mata Duitan!”

 

“Hahaha. Udah kayak sinetron aja,” sahut Yuna.

 

“Biar aja! Kalo perlu, aku bikin dia kena azab bertubi-tubi. Ngeselin banget!”

 

“Udah, Jhen! Cooling down ...!” pinta Yuna saat mereka sudah sampai di depan ruang rawat Adjie.

 

Jheni menarik napas dalam-dalam sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. “Eh, kita kan tadi bilang kalau mau ke kantin. Baliknya nggak bawa apa-apa?”

 

“Iya juga ya?”

 

“Ya udah, ke kantin dulu! Beli kerupuk, kek. Biar nggak ketahuan bohongnya.”

 

“Nggak usah, Jhen! Bilang aja kalau kita ke kantin buat minum jus!”

 

Jheni langsung tersenyum lebar sambil menatap Yuna. “Bener juga. Sejak nikah sama Yeriko, tingkat kecerdasanmu lumayan meningkat.”

 

Yuna memonyongkan bibirnya. “Aku tuh udah cerdas dari lahir. Cuma nggak mau show up aja,” tuturnya sambil tertawa kecil. Ia mendorong pintu hingga terbuka dan masuk ke dalamnya.

 

Yuna dan Jheni kembali berbaur dengan tiga pria yang ada di ruangan tersebut. Mereka berbicara banyak hal hingga Melan kembali ke ruangan tersebut.

 

Melan, Yuna dan Jheni bertingkah seolah tidak terjadi apa-apa di luar sana. Mereka sama-sama berusaha menutupi pertengkaran yang terjadi beberapa menit lalu.

 

“Kak Adjie, kami pulang dulu!” pamit Tarudi. “Cepet sehat, ya!”

 

Tarudi menganggukkan kepala.

 

“Kak Adjie, cepet sehat ya!” tutur Melan sambil tersenyum manis.

 

Adjie mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia hanya tersenyum kecil, membiarkan adik dan istrinya itu keluar dari kamar rawatnya.

 

Yuna memutar bola matanya. Ia sangat kesal dengan sikap Melan yang begitu manis di hadapan ayahnya. Kali ini, ia tidak akan membiarkan Melan terus-menerus melukai orang-orang yang ia cintai. Ia akan berusaha melindungi orang-orang tercintanya dari apa pun yang akan melukai mereka.

 

 ((Bersambung ...))

 

 

 

 

 

 

Friday, March 27, 2026

Perfect Hero Bab 514 : Tempat Teristimewa

 


“Bi, aku mau masak buat ayah,” tutur Yuna begitu ia sampai di rumah dan langsung menuju ke dapur. “Ini catatan bahan yang aku butuhkan. Ada semua nggak di rumah?”

 

Bibi War membaca semua bahan yang ada di kertas catatan tersebut. “Pak Adjie sudah siuman?”

 

Yuna menganggukkan kepala. “Dia minta dibikinin sup. Makanya, aku pulang dulu bareng Jheni biar bisa masakin buat ayahku.”

 

“Oh.” Bibi War mengangguk-anggukkan kepala. “Syukurlah kalau Pak Adjie sudah sadar. Bahan yang kurang, biar Bibi yang belikan.”

 

Yuna menganggukkan kepala. “Tolong ya, Bi! Aku juga harus masak cepat. Kasihan ayah nunggu lama.”

 

Bibi War menganggukkan kepala. “Bibi belanja dulu!”

 

“Hati-hati ya, Bi!” tutur Jheni sambil menatap Bibi War.

 

“Iya. Bantuin Mbak Yuna ya!” perintah Bibi War. “Soalnya, dia sering bikin kacau di dapur kalau dibiarkan sendirian.”

 

“Iih ... Bibi ...! Itu ‘kan dulu. Beda sama sekarang!” sahut Yuna sambil meraih apron dari dalam lemari dinding dan memasangkan ke tubuhnya.

 

Bibi War tertawa kecil. Ia mengambil tas belanja dan bergegas keluar dari rumah.

 

“Aku bantuin apa?” tanya Jheni begitu Bibi War sudah meninggalkan mereka.

 

“Bentar. Biasanya, Bibi War selalu simpan ayam kampung di kulkas,” tutur Yuna sambil membuka pintu kulkas. “Nah, bener kan!?” serunya sambil meraih box transparan berisi potongan ayam kampung.

 

“Sini, biar aku yang cuci ayamnya!” pinta Jheni sambil merebut box dari tangan Yuna.

 

Yuna meringis sambil menatap Jheni. “Thank you!”

 

“Kamu yang bikin bumbunya!” perintah Jheni.

 

“Siap, Bos!” sahut Yuna sambil tersenyum. Ia mencari beberapa bahan yang ia butuhkan. “Duh, Goji Berry habis!”

 

“Mungkin, lagi dicari sama Bibi War. Tunggu aja!” sahut Jheni.

 

Yuna menganggukkan kepala. Ia menyalakan kompor dan memanaskan air yang akan ia gunakan untuk membuat Gallus Chicken Soup.

 

Jheni menemani dan membantu Yuna memasak sup untuk ayahnya. Ia terus memerhatikan gerak-gerik Yuna yang begitu menguasai dapur di rumahnya.

 

“Yun ...!”

 

“Umh.”

 

“Menurut kamu ... aku ketemu sama orang tua Chandra atau nggak, ya?”

 

“Kamu sendiri gimana? Udah siap atau belum?” tanya Yuna balik. Ia langsung menoleh ke arah pintu begitu melihat Bibi War masuk.

 

“Mbak, ini bahan yang kurang,” tutur Bibi War.

 

Yuna mengangguk. “Makasih, Bi ...!”

 

Bibi War menganggukkan kepala. “Mau Bibi bantuin masaknya?”

 

“Nggak usah. Sebentar lagi selesai, kok,” jawab Yuna.

 

“Kalau gitu, Bibi ke halaman belakang dulu!”

 

Yuna menganggukkan kepala. Ia melanjutkan berkutat di dapur bersama Jheni.

 

“Mmh ... kalau jadi, minggu-minggu ini si Chandra mau ajak aku ke Jogja. Ketemu sama orang tuanya. Aku bingung banget, Yun. Jantungku deg-degan banget ngebayangin sikap orang tuanya ke aku.”

 

Yuna tertawa kecil mendengar ucapan Jheni.

 

“Malah ngetawain!? Kamu sih enak. Keluarganya Yeriko, semuanya baik dan sayang sama kamu. Sedangkan Chandra, dia aja dijodohin sama Amara karena mama tirinya yang galak itu. Dia juga sering berantem sama papanya sendiri.”

 

“Kamu tahu, Yun ... aku ini orangnya emosian. Kalau aku ketemu sama mama tirinya dan berantem, gimana?”

 

Yuna menghela napas sambil menatap Jheni. “Jhen, cinta itu butuh perjuangan dan pengorbanan. Kalau keluarga Chandra nggak suka sama kamu, kamu harus pahami alasan mereka menolak kehadiran kamu. Selama Chandra bisa menerima kamu apa adanya ... aku yakin, kamu juga bisa meluluhkan hati keluarganya.”

 

Jheni menghela napas. “Iya juga, sih. Oh ya, bagusnya aku bawa apa ya kalau ke rumahnya? Aku nggak tahu hadiah apa yang cocok untuk mama tirinya karena aku belum pernah mengenal mereka.”

 

“Kamu tanya aja ke Chandra!”

 

“Chandra juga nggak begitu dekat dengan keluarganya. Kayaknya, perseteruan dia sama papanya cukup serius. Kalau aku tanya, dia selalu emosi.”

 

Yuna menoleh ke arah Jheni sambil mencicipi sup yang sudah dibumbui lengkap. “Aku juga nggak pernah berani mengungkit masa lalu ayahnya Yeriko. Mama Rully sudah memperingatkan aku tanpa memberitahu alasannya.”

 

“Ya sudahlah. Lebih baik kita berlapang dada aja menerima semuanya. Mendesak mereka hanya membuat masalah baru. Nikmati sajalah! Sampai waktunya mereka nyaman untuk bercerita dengan sendirinya.”

 

Yuna menganggukkan kepala. Ia langsung menyiapkan sup buatannya ke dalam termos makanan.

 

“Udah kelar?” tanya Jheni.

 

Yuna mengangguk. Ia segera melepas apron dari tubuhnya dan meletakkan di atas meja. “Kita berangkat sekarang!”

 

“Dapurnya nggak diberesin dulu?” tanya Jheni.

 

“Ada yang beresin. Kasihan ayahku udah kelaparan.”

 

“Iya juga, sih.” Jheni meringis ke arah Yuna. Mereka bergegas kembali ke rumah sakit.

 

 

 

...

 

 

 

Begitu sampai di rumah sakit, Yuna langsung menghampiri ayahnya dan menyuapkan sup sedikit demi sedikit.

 

“Makasih ya! Sudah mau masakin untuk Ayah!”

 

Yuna tersenyum sambil menganggukkan kepala. “Ayah harus cepat sembuh, ya! Biar bisa jalan-jalan bareng kami lagi.”

 

Adjie menganggukkan kepala. “Ayah tidak bisa memenuhi janji ayah sebelas tahun lalu untuk mengajak kamu liburan ke luar negeri. Sekarang, kita nggak punya apa-apa. Maafkan Ayah!”

 

“Ayah ... ayah nggak perlu ngomong seperti ini!” pinta Yuna. “Semua tempat di dunia ini adalah tempat yang istimewa. Yang paling istimewa adalah ... tempat yang selalu ada ayah di dalamnya.”

 

Adjie tertawa kecil menanggapi ucapan Yuna. “Ayah sudah tua seperti ini, masih kamu gombalin?”

 

Yuna memonyongkan bibirnya. “Aku nggak gombalin. Beneran!”

 

“Beneran apa? Nanti ada yang cemburu kalau kamu gombalin ayah,” tutur Adjie sambil melirik Yeriko.

 

Yeriko hanya tertawa kecil menanggapi ucapan Adjie.

 

“Kalo Oom Adjie sih nggak akan dicemburui. Kalau sama yang lain, tanduk iblisnya langsung keluar,” ucap Jheni sambil mengacungkan dua jari telunjuk ke atas kepalanya.

 

Semua orang tertawa melihat tingkah Jheni.

 

“Laki-laki cemburu, itu wajar. Asal tidak berlebihan,” tutur Adjie.

 

“Wuih, kalo Yeriko cemburunya sampe tumpah-tumpah!” sahut Jheni. “Dia bukan cuma cemburuan, tapi juga over protective dan posesif banget. Kalau bukan Yuna yang hatinya sekuat baja dan selembut bulu, nggak ada perempuan yang mau jadi pasangannya.”

 

“Kamu ngomong apa!?” tanya Yeriko kesal. “Kamu nggak lihat ada ribuan cewek di luar sana yang antri mau jadi pasanganku?”

 

Jheni terkekeh mendengar pertanyaan Yeriko. “Itu karena mereka nggak kenal sifat buruk kamu yang posesif banget.”

 

“Kamu ...!? Aku masih bisa dapetin banyak cewek di luar sana!” sahut Yeriko kesal.

 

“Oh ... jadi, masih mau cari cewek yang banyak di luar sana?” tanya Yuna.

 

Yeriko tersenyum kecut sambil menatap wajah Yuna. “Aku bercanda, Sayang!”

 

Yuna hanya melirik sinis ke arah Yeriko. Ia tak memilih diam sambil mengaduk-aduk sup yang ada di tangannya.

 

“Jhen, kamu seneng banget mancing emosi orang!” dengus Yeriko sambil mendelik ke arah Jheni.

 

“Siapa yang mancing? Emang kenyataan kalau ...” Jheni menghentikan ucapannya saat Yuna masih menundukkan kepala.

 

“Yun, kami cuma bercanda ...!” tutur Jheni sambil menghampiri Yuna yang sesenggukkan. “Kamu tahu kalau Yeriko cinta banget sama kamu. Dia nggak mungkin cari cewek lain di luar sana,” tutur Jheni sambil mengangkat rahang Yuna.

 

“Duaar ...!” teriak Yuna sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Jheni.

 

“Kamu pura-pura nangis? Ngerjain kita, hah!?” sahut Jheni sambil menggelitiki perut Yuna.

 

“Jangan, Jhen! Sup aku tumpah!” seru Yuna sambil mempertahankan sup di tangannya sambil berkelit.

 

Adjie langsung meraih termos sup dari tangan Yuna. Ia dan Yeriko hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah Jheni dan Yuna.

 

“Geli, Jhen ...! Udah ...!” seru Yuna sambil tertawa.

 

“Berani-beraninya kamu akting nangis di depanku, hah!?”

 

“Aku nggak akting, Jhen.”

 

“Terus?”

 

“Cuma pura-pura, hahaha.”

 

“Sama aja!” dengus Jheni sambil menggelitiki pinggang Yuna.

 

Yuna terus tertawa sambil membalas perbuatan Jheni. Mereka saling menggoda dan tertawa.

 

“Selamat siang ...!” Suara seorang pria yang baru memasuki pintu, mengalihkan perhatian mereka.

 

Yuna dan yang lainnya langsung menoleh ke arah pintu. Kemudian, mereka saling pandang.

 

Yuna menarik napas panjang sambil melangkah menghampiri dua orang yang sudah masuk ke dalam ruangan itu. “Oom Rudi? Tante Melan!? Kalian tahu dari mana kalau kami di rumah sakit ini?”

 

Melan tersenyum sambil menatap wajah Yuna. “Nggak sulit bagi kami untuk mencari informasi tentang keberadaan ayah kamu.”

 

“Gimana keadaan Kak Adjie?” tanya Tarudi sambil melangkahkan kakinya mendekati tempat tidur Adjie. Ia menghela napas lega saat melihat Adjie sudah sadar dan dalam keadaan baik-baik saja.

 

Yuna terus memperhatikan Melan yang ada di dalam ruangan itu. Ia tetap tidak bisa berhenti menaruh kecurigaan pada wanita setengah baya yang begitu kejam memperlakukan dirinya selama sebelas tahun belakangan.

 

“Kenapa, Tante?” tanya Yuna saat mendapati raut wajah Melan tidak bahagia.

 

“Eh!? Nggak papa. Tante sangat senang karena ayah kamu terlihat baik-baik saja,” jawab Melan sambil tersenyum manis. Ia pikir, ia berhasil mencelakai Adjie. Tak disangka kalau ternyata Adjie dalam keadaan baik-baik saja dan membuat hatinya sedikit gelisah. Ia takut kalau perbuatannya kali ini diketahui oleh orang lain.

 

“Aku harus memastikan kalau Lonan tidak meninggalkan jejak sedikitpun pada kecelakaan kali ini,” batin Melan. Bibirnya tetap tersenyum menatap semua orang yang ada di dalam ruangan itu, meski hatinya diselimuti kebencian.

 

((Bersambung ...))

Dukung terus cerita ini biar aku semangat nulisnya setiap hari.

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas