Thursday, March 5, 2026

THEN LOVE BAB 59: PESONA KECANTIKAN DELANA

 


BAB 59

PESONA KECANTIKAN DELANA

 

“Hei, Hesa ...!” sapa Dhanuar yang sedang duduk di ruang tamu dan melihat Hesa sudah berdiri di depan pintu. “Masuk!” pintanya.

Hesa tersenyum dan langsung masuk ke dalam rumah Delana. “Dela mana?” tanya Hesa. Ia langsung duduk di samping Dhanuar.

“Ada di dapur. Katanya lagi nyiapin makan siang buat kamu,” jawab Dhanuar.

Hesa tertawa kecil. “Cewek idaman banget,” gumamnya.

“Apa?” tanya Dhanuar yang mendengar gumaman Hesa.

“Nggak papa,” jawab Hesa sambil menoleh ke arah pintu dapur. Saat itu juga, Delana terlihat keluar dari dapur. Hesa langsung tersenyum menatap gadis cantik yang masih mengenakan apron itu.

Delana tersenyum dan melangkahkan kakinya menghampiri Hesa. “Udah dari tadi?” tanya Delana.

“Nggak. Baru aja sampai, kok,” jawab Hesa.

“Kita makan dulu, abis itu langsung berangkat!” ajak Delana sambil berbalik ke arah dapur.

Hesa melongo menatap punggung Delana. Delana langsung menoleh ke arah Hesa yang masih terpaku menatapnya dan tak segera beranjak dari tempat duduknya. “Ayo!” ajak Delana. “Kita makan di dapur!” ajak Delana.

“Kamu udah makan?” tanya Hesa pada Dhanuar.

“Udah. Kalian makan aja, dulu!” sahut Dhanuar tanpa mengalihkan pandangannya dari ponsel yang ia genggam.

Hesa tersenyum. Ia menepuk paha Dhanuar, kemudian beranjak mengikuti langkah Delana menuju dapur.

Rumah Delana memang bisa dibilang mewah dan meja makan berada di dalam dapur yang cukup luas. Hesa mengedarkan pandangannya, menatap design interior dapur yang begitu cantik.

“Ini dapur, kamu design sendiri?” tanya Hesa.

Delana menganggukkan kepala. “Ayo duduk!” perintah Delana. Ia mengajak Hesa untuk duduk di meja makan. “Aku lebih banyak menghabiskan waktu di dapur. Jadi, aku bikin designnya soft dan nggak ngebosenin,” tutur Delana sambil tersenyum.

“Oh ya?” Hesa menatap Delana sambil tersenyum. “Masakan kamu pasti enak-enak, nih.” Hesa menatap beberapa menu yang tersedia di atas meja.

“Nggak juga. Aku masak nggak terlalu banyak karena kita mau pergi juga. Paling, Bryan aja yang makan di rumah,” tutur Delana sambil menyendokkan nasi untuk Hesa.

“Dia nggak ikut?” tanya Hesa. Ia menerima piring berisi nasi yang disodorkan oleh Delana. Hesa tersenyum, ia senang sekali dengan perlakuan Delana yang penuh perhatian. Ia berharap, Delana belum punya kekasih.

“Nggak. Dia ada ujian karate sih katanya. Jadi, nggak bisa ikut camping,” tutur Delana.

“Oh.” Hesa mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Kita makan dulu, yuk!” ajak Delana.

Hesa menganggukkan kepala. Ia melirik Delana yang duduk di hadapannya. Ini pertama kalinya ia menyantap makanan yang dimasak sendiri oleh gadis cantik yang ia kenal. Biasanya, ia menghabiskan waktu makan siang atau makan malam di restoran. Memilih restoran terbaik untuk memikat para cewek yang ia suka.

Tapi, kali ini ia bukan sedang memikat seorang gadis cantik. Ia justru terpikat dengan kecantikan dan kebaikan gadis ini. Delana tidak hanya cantik dan ramah. Tapi, dia juga pandai memasak, lembut dan penuh perhatian.

“Kok, diam aja? Mau lauk apa?” tanya Delana yang melihat Hesa tak kunjung mengambil lauk, justru sibuk melamun.

“Eh!?” Hesa gelagapan. Ia kemudian menertawakan dirinya sendiri. Ia tak pernah merasakan gugup dan kehabisan kata-kata seperti ini. Bagaimana bisa, jurus rayuan mautnya tidak bisa ia keluarkan. Ia malah sibuk mengagumi Delana dalam hati.

“Mau ayam atau ikan?” tanya Delana.

“Ayam aja,” jawab Hesa tanpa berkedip menatap Delana.

Delana tersenyum dan mengambilkan satu potong daging ayam, ia meletakkannya ke atas piring Hesa. “Makan sayur, nggak?” tanya Delana.

Hesa menganggukkan kepala. Matanya tertuju pada bibir Delana yang mungil dan begitu menggoda.

Delana menghela napas. Ia menyendokkan sayur untuk Hesa.

“Kak Hesa ...!” panggil Delana sambil melambaikan tangannya di depan wajah Hesa.

“Eh ... oh ... eh ...” Hesa benar-benar gugup. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia langsung memperbaiki posisi duduknya yang sudah benar dan mulai menyuap makanan ke mulutnya.

“Kakak ngelamunin apaan sih?” tanya Delana. “Ada yang lagi di pikirin?” tanya Delana.

Hesa menggelengkan kepala. “Aku lagi mikirin kamu,” bisiknya dalam hati.

“Ya udah, cepet makan gih! Makan yang banyak!” pinta Delana sambil tersenyum.

“Iya. Masakan kamu enak banget. Aku pasti makan banyak,” tutur Hesa dengan mulut penuh makanan.

Delana tertawa kecil. Mereka menikmati makan siang bersama sebelum berangkat ke Batu Dinding.

Setelah selesai makan, Delana langsung membereskan dapur. Hesa tak beranjak dari tempat duduknya dan terus memerhatikan gerak-gerik Delana.

“Dhan ... Alan belum balik?” teriak Delana sambil mencuci piring.

“Belum,” jawab Dhanuar dari ruang tamu.

“Kok, tumben lama banget? Padahal cuma beli lotion anti nyamuk doang,” tutur Delana.

“Emang dia ke mana?” tanya  Hesa.

“Beli lotion anti nyamuk. Lupa nggak dibeli tadi pagi,” jawab Delana.

“Oh. Di mana belinya?”

“Kayaknya cuma di minimarket depan sana. Harusnya sih udah balik dari tadi,” jawab Delana sambil meletakkan peralatan dapur yang sudah ia cuci ke tempatnya.

“Telpon aja!” tutur Hesa.

“Iya, juga ya?” Delana langsung mengelap tangannya dan mengambil ponsel yang ia letakkan di meja dapur.

Delana langsung menelepon nomor Alan. Ia menoleh ke arah ruang tamu karena nada ponsel Alan terdengar dari sana. “Udah balik kali dia.” Delana langsung melangkahkan kakinya keluar dari dapur.

“Kamu yang nelpon?” tanya Dhanuar.

“Iya.”

“Hp-nya nggak dibawa,” tutur Dhanuar.

“Hadeh ...!” Delana memutar bola matanya.

“Tunggu aja! nggak papa, kok,” tutur Hesa. Ia melangkahkan kakinya menghampiri Dhanuar yang sedang asyik bermain game online.

Beberapa menit kemudian, motor Delana masuk ke dalam garasi. Alan langsung masuk ke dalam rumah. Ia menyapa semua orang yang menunggunya di ruang tamu.

“Lama banget? Beli lotion-nya di Makassar?” tanya Delana.

Alan tertawa kecil. Ia memasukkan dua botol lotion anti nyamuk ke dalam tas ranselnya. “Ban motormu bocor tadi. Aku masih ke bengkel dulu.”

“Astaga ...! Pantesan lama,” sahut Delana. “Terus, diganti atau ditambal?” tanya Delana.

“Aku ganti aja. Kalo nambal nunggunya lama.”

“Berapa duit? Ntar aku ganti duitnya,” tutur Delana.

“Nggak usah,” sahut Alan.

“Jadi, kita berangkat sekarang?” tanya Dhanuar. Ia bangkit dari tempat duduk dan menyimpan ponselnya ke dalam kantong.

“Sekarang?” tanya Alan.

“Iya. Dari tadi cuma nunggu kamu aja,” jawab Dhanuar.

“Ayo!” Alan terlihat bersemangat untuk pergi berlibur.

“Aku ganti baju sama ambil tasku dulu di kamar. Kalian bawa dulu ini semuanya ke mobil!” pinta Delana sambil menunjuk barang-barang yang sudah disiapkan sebagai bekal untuk camping.

Dhanuar, Alan dan Hesa langsung bersiap membawa barang-barang mereka ke mobil satu persatu. Sementara Delana langsung naik ke kamarnya untuk bersiap.

Beberapa menit kemudian, Delana turun dari kamar dan langsung keluar dari rumahnya. Ia memastikan semua pintu rumahnya terkunci dengan baik. Kemudian, ia menghampiri Hesa dan dua sepupunya yang sudah menunggunya di mobil.

Mereka menikmati perjalanan dengan canda tawa. Karena Alan membawa gitar, Delana dan Dhanuar asyik bernyanyi riang gembira sepanjang perjalanan.

Sesekali Hesa melirik Delana yang begitu ceria di sampingnya sambil fokus menyetir. Delana terlihat sangat cantik saat tertawa. Bukan hanya cantik, tapi tawanya memberikan kebahagiaan tersendiri di hati Hesa.

“Del, kamu tahu nggak. Aku berkali-kali mau pinjam mobilnya Hesa nggak pernah dikasih. Giliran kamu yang pinjam mobil langsung dikasih, malah diantar sekalian,” tutur Dhanuar.

“Oh ya?” tanya Delana menoleh ke arah Dhanuar. “Emang bener kayak gitu?” tanya Delana menatap Hesa.

Hesa tersenyum kecil. “Dia tuh pinjem mobil buat hal-hal nggak penting,” jawab Hesa.

“Nggak penting gimana? Penting tau! Kamunya aja medit bin pelit!” dengus Dhanuar.

Keperluan cowok itu nggak terlalu penting, keperluan cewek baru penting banget buat aku,” tutur Hesa dalam hatinya.

“Tuh lihat! Mukanya songong gitu, Del,” bisik Dhanuar di telinga Delana.

Delana hanya tertawa kecil sambil menatap Hesa yang terus fokus menyetir.

“Nyanyi lagi!” pinta Delana sambil menatap Alan yang masih memegang gitarnya.

“Nyanyi apa?” tanya Alan.

“Sembarang aja! Yang penting jangan lagu sedih!” pinta Delana.

“Kenapa emangnya kalo lagu sedih?”

“Ngerusak suasana,” sahut Delana.

Alan dan Dhanuar tertawa. Mereka kembali bernyanyi gembira sampai mereka memasuki jalanan kecil yang menuju ke Batu Dinding.

Mobil Hesa berhenti di pos penjagaan pertama.

“Maaf, Mas. Mobilnya nggak boleh masuk,” tutur petugas yang berjaga di pos jaga.

“Hah!? Terus gimana?” tanya Hesa.

“Mobilnya ditinggal di sini. Yang boleh masuk cuma kendaraan roda dua sampai pos terakhir,” tutur petugas jaga.

“Kenapa begitu, Pak?” tanya Dhanuar.

“Jalannya terlalu sempit, Mas. Mobil memang nggak bisa masuk.”

“Oh. Jadi, kalo mau ke Batu Dinding gimana, Pak?” tanya Delana.

“Jalan kaki, Mbak.”

“Seberapa jauh?” tanya Delana.

“Sekitar tiga kilometer ke dalam.”

Delana mengernyitkan dahinya. Ia menatap tiga cowok yang bersamanya dan mengajaknya berkompromi.

“Tiga kilo itu nggak kejauhan? Kita bawa barang banyak. Kalian sanggup jalan kaki?” bisik Delana.

“Sanggup kalo cuma tiga kilo aja mah deket,” sahut Hesa.

“Deket apanya? Masalahnya barang bawaan kita juga banyak. Emangnya kuat sambil bawa barang?” tanya Delana menatap Hesa.

Hesa menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Di sini nggak ada penyewaan motor? Atau ojek gitu yang bisa bawa barang-barang kita masuk?” tanyanya.

“Hmm ...” Delana melirik ke atas. Ucapan Hesa benar juga. Kalau ada penyewan motor atau ojek, mereka tidak perlu jalan kaki. Lagipula, hari sudah sore dan mereka harus membuat tenda sebelum gelap.

Delana melangkahkan kakinya menghampiri petugas pos jaga. “Pak, nggak ada penyewaan motor atau ojek buat ke sana?” tanya Delana.

“Mmh ... nggak ada, Mbak.”

“Please, Pak! Kita mau jalan kaki ke sana jauh banget dan barang bawaan kita juga banyak.”

“Kalian mau camping?” tanya petugas jaga tersebut.

Delana menganggukkan kepala sambil tersenyum.

“Cuma ada dua motor kalau mau diantar, Mbak.”

“Gantian gitu ya?” tanya Delana memastikan.

“Iya, Mbak.”

“Ya udah, nggak papa gantian. Yang penting kami ke sana nggak jalan kaki,” tutur Delana.

“Bisa, Mbak.” Petugas pos itu memanggil dua orang yang ada di dalam warung untuk mengantarkan Delana dan tiga cowok yang bersamanya.

“Siapa yang mau duluan?”

“Aku belakangan aja,” tutur Delana.

“Aku juga,” sahut Hesa.

Dhanuar tersenyum sambil mengangkat alisnya menatap Hesa. “Ayo, Lan! Kita duluan!” perintah Dhanuar pada Alan.

“Ayolah!” sahut Alan. Mereka bergegas membawa tas yang berisi tenda dan tas lain yang berisi makanan dan pakaian ganti mereka.

Delana tersenyum menatap dua saudaranya itu. “Hati-hati ya!” seru Delana sambil melambaikan tangan ke arah Dhanuar dan Alan yang mulai meninggalkan mereka.

“Mau minum?” tanya Hesa.

Delana menoleh ke arah Hesa, kemudian ia menatap warung yang ada di belakangnya. “Boleh juga. Ada minuman dingin nggak ya?” tanyanya sambil melangkahkan kaki memasuki warung.

“Cari apa, Mbak?” tanya penjaga warung.

“Ada minuman dingin?” tanya Delana.

“Nggak ada, Mbak. Es batunya habis.”

“Oh. Ya udah, beli ini aja, Bu,” tutur Delana sambil meraih satu botol air mineral yang ada di warung itu.

Hesa langsung duduk di kursi kayu yang ada di dalam warung. “Ada kopi, Bu?” tanya Hesa.

“Ada, Mas,” jawab ibu penjaga warung sambil tersenyum.

“Kopi satu ya!” pinta Hesa.

Delana menggigit bibirnya dan langsung duduk di hadapan Hesa. “Aku nggak mau Kakak lama-lama ngopinya. Keburu sore ntar.”

Hesa tertawa kecil menanggapi ucapan Delana. “Selow aja! Masih lama mereka balik ke sini. Masih bisa ngopi-ngopi,” tutur Hesa. Ia mengeluarkan rokok dari sakunya. Ia mengambil satu batang dan menyalakan api untuk membakar satu batang rokok yang sudah ia jepit di bibirnya.

Delana menatap Hesa dengan seksama. Ia tidak suka cowok perokok, tapi entah kenapa gaya Hesa saat merokok terlihat lebih keren. Huft ... apa otaknya sudah rusak? Delana memukul-mukul kepalanya perlahan untuk mengembalikan kondisi otaknya agar berfungsi dengan baik.

“Kenapa lihatin aku kayak gitu? Aku ganteng ya?” tanya Hesa sambil tersenyum menatap Delana.

Delana mencebik mendengar ucapan Hesa.

Hesa hanya tertawa kecil melihat ekspresi Delana yang begitu lucu. Ia kemudian asyik menikmati sebatang rokok dan secangkir kopi hitam.

“Kita balik ke Balikpapan kapan?” tanya Hesa.

“Besok sore,” jawab Delana. “Aku masih pengen nikmatin suasana di sini.”

Hesa mengangguk-anggukkan kepalanya.

Beberapa menit kemudian, sepeda motor yang mengantar Dhanuar dan Alan kembali.        

“Mereka udah datang. Yuk!” ajak Delana. Ia bangkit dari tempat duduk dan bergegas keluar dari warung.

“Berapa semuanya, Bu?” tanya Hesa pada penjual warung sambil merogoh sakunya.

“Lima belas ribu, Mas.”

Hesa langsung mengeluarkan selembar uang dua puluh ribuan. “Ambil aja kembaliannya!” pintanya. Ia mengejar Delana keluar dari warung.

Delana langsung melangkahkan kakinya menuju mobil. Mengambil beberapa barang yang belum terbawa. Hesa hanya tersenyum melihat Delana yang terlihat begitu energik. Ia langsung mengunci mobilnya dan bergegas menghampiri sepeda motor yang sudah menunggunya.

Delana langsung naik ke atas motor. “Ayo, jalan Pak!” pinta Delana. Supir ojek itu langsung menyalakan sepeda motornya dan bergegas pergi.

Delana menoleh ke belakang. Melihat Hesa yang tak kunjung naik motor. Ia justru sibuk mengobrol dengan petugas penjaga pos. Entah apa yang dibicarakan oleh kedua orang itu. Ia mengalihkan pandangannya saat Hesa sudah selesai mengobrol dan mulai menaiki sepeda motor. Mereka bersama-sama menuju pos terakhir dan bersiap untuk menghabiskan malam bersama di tempat ini.

Delana tersenyum bahagia begitu sampai di lokasi dan mendapati dua sepupunya sudah selesai membuat satu tenda.

“Kalian memang selalu bisa diandalkan,” tutur Delana begitu ia turun dari motor.

“Enak aja! Ini mah tenda buat kita. Kamu bikin sendiri lah,” sahut Dhanuar.

“What!?” Delana menatap kedua sepupunya dengan kesal.

“Makasih ya, Pak!” Hesa turun dari motor. Ia merogoh dompet di saku celananya dan memberikan empat lembar uang seratus ribuan pada pengendara motor yang mengantarnya. “Jangan lupa ya!” pinta Hesa.

“Siap, Mas!” sahut pengendara motor itu sambil mengacungkan jempolnya. “Kalo ada perlu telpon aja, Mas!” pintanya.

“Sip!” tutur Hesa sambil mengangkat jempolnya.                 

“Kami balik dulu, Mas!” pamit kedua pengendara sepeda motor.

“Hati-hati ya!” seru Hesa sambil melambaikan tangannya.

Kedua pengendara motor itu menganggukkan kepala dan bergegas pergi.

Delana menghampiri Hesa. “Kamu ada kompromi apa sama mereka?” bisik Delana penasaran.

“Kompromi apaan?” tanya Hesa.

“Tadi tuh orang ngomongnya telepon aja kalo ada perlu. Emangnya kamu udah tukeran nomer hp sama dia?” tanya Delana.

Hesa tersenyum penuh arti. “Kalo cuma dapetin nomer hp aja gampang,” tuturnya.

Delana mencebik. Ia langsung meninggalkan Hesa dan menghampiri kedua sepupunya.

“Pasangin tenda aku juga, dong!” pinta Delana pada Dhanuar dan Alan yang sudah duduk santai di atas rerumputan.

“Males, ah!” sahut Dhanuar. Ia tersenyum sambil menoleh ke arah Alan. Mereka terlihat kompak tidak mau memasangkan tenda untuk Delana.

“Iih ...!” dengus Delana kesal sambil menghentakkan kakinya. Ia langsung menyeret tenda miliknya dan mulai memasang sendirian.

“Sini aku bantuin!” Hesa langsung menawarkan bantuan begitu melihat Delana kesulitan.

“Nggak usah! Aku bisa sendiri,” sahut Delana dengan wajah kesal.

Hesa menahan tawa melihat tingkah Delana. Terlihat jelas kalau ia kesulitan tapi masih saja tidak mau menerima bantuan orang lain. Hesa tak lagi menghiraukan apakah Delana mengizinkan membantunya atau tidak. Dengan cepat ia membantu Delana memasang tenda.

Dhanuar menyikut Alan. Ia tersenyum kecil sambil menunjuk Hesa dengan dagunya.

Alan hanya tersenyum menanggapinya. “Hesa lagi pedekate sama Dela. Kita jangan ganggu mereka. Sebelum gelap, kita cari kayu bakar yuk!” ajak Alan.

“Ayo!” Dhanuar dan Alan langsung bangkit dan bergegas pergi.

“Kalian mau ke mana?” tanya Delana begitu menyadari kedua sepupunya beranjak pergi dari tempat mereka mendirikan tenda.

“Mau cari kayu bakar,” jawab Alan.

“Oh.” Delana tak banyak bertanya. Ia kembali membantu Hesa untuk menyelesaikan memasang tenda.

“Kak Hesa pernah camping sebelumnya?” tanya Delana.

“Dulu, waktu masih SMA. Itupun karena ikut ekskul pramuka.”

“Oh, pantesan!”

“Kenapa emangnya?” tanya Hesa menatap Delana yang ada di sampingnya.

“Nggak papa. Kak Hesa pintar pasang tendanya,” tutur Delana.

Hesa tersenyum kecil. “Rasanya, semua cowok harus tahu gimana caranya pasang tenda untuk camping. Kebangetan kalo sampe nggak bisa masang.”

“Hmm ... tapi bukannya Kakak lama di luar negeri? Masih ingat caranya?”

“Untuk mahasiswa lulusan luar negeri seperti aku, apa masih perlu diragukan lagi soal ingatannya?” tutur Hesa sambil tersenyum kecil.

“Sepertinya begitu. Buktinya, Kak Hesa lupa sama aku,” tutur Delana sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Hesa.

“Bukan lupa, itu karena kamu ...” Hesa menoleh ke arah Delana yang berdiri di sampingnya. Ia tertegun saat mendapati wajah Delana begitu dekat dengannya. Hanya berjarak lima belas sentimeter dan berhasil membuat degup jantungnya tak karuan.

Hesa terpaku menatap bayangan dirinya yang terlukis di manik mata Delana. Dalam benaknya, ia ingin masuk lebih dalam dan lebih dalam lagi sampai ke dalam relung hati Delana.

“Kak ...!” panggil Delana.

Panggilan Delana membuyarkan lamunan Hesa.

“Kok, malah ngelamun?” tanya Delana.

“Nggak papa.” Hesa memalingkan wajahnya dan kembali menyelesaikan memasang tenda. “Dikit lagi kelar,” tutur Hesa sambil mengeratkan ujung tali terakhirnya.

“Selesai!” seru Hesa sambil membersihkan tangannya.

“Hore ...! Makasih ya, Kak!” tutur Delana. “Kalo nggak ada Kak Hesa. Aku pasti udah pasang tenda sendiri,” tutur Delana sambil merengut.

“Mereka nggak mungkin biarin cewek secantik kamu pasang tenda sendiri,” sahut Hesa.

“Buktinya, mereka beneran nggak mau bantu aku pasang tenda.”

“Mereka bercanda aja. Dan kamunya juga gampang ngambek.”

Delana hanya meringis mendengar ucapan Hesa.

Hesa melangkahkan kaki dan duduk di atas kayu pohon yang telah tumbang.

“Mereka kok lama ya?” gumam Delana.

“Namanya juga cari kayu bakar. Mungkin cari kayunya agak susah.”

“Aku takutnya mereka nyasar,” tutur Delana.

Hesa tertawa kecil. “Mereka udah gede. Nggak bakalan nyasar. Lagipula, tempat ini bukan hutan belantara.”

“Hmm ... iya, juga sih.” Delana duduk di samping Hesa.

Hesa menatap langit yang mulai berwarna jingga. “Kita naik yuk! Lihat sunset,” ajak Hesa.

“Tapi, Dhanuar sama Alan gimana? Kita tinggal?” tanya Delana. Ia ragu untuk meninggalkan kedua sepupunya itu.

“Nanti mereka pasti nyusul,” tutur Hesa. “Aku ambil kamera dulu!” Hesa melangkahkan kakinya menuju tenda. Ia masuk ke dalam tenda dan keluar dengan kamera DSLR di tangannya.

“Kak Hesa bawa kamera?” tanya Delana dengan mata berbinar.

“Iya,” jawab Hesa sambil tersenyum.

“Aku nggak kepikiran bawa kamera gede. Cuma bawa bekal kamera hp aja. Ntar fotoin aku ya Kak!” pinta Delana.

“Iya. Naik sekarang yuk!” ajak Hesa sambil meraih lengan Delana dan mengajaknya pergi menaiki Batu Dinding.

Delana menatap lengan Hesa yang menggenggam pergelangan tangannya. Ia teringat pada seseorang yang pernah menggenggam tangannya seperti ini. Delana menghela napas, ia masih belum bisa melupakan cowok itu sepenuhnya.

“Kamu naik duluan!” pinta Hesa saat mereka akan menaiki bebatuan yang hanya cukup dilewati oleh satu orang saja.

“Aku?” Delana menunjuk dirinya sendiri.

Hesa tersenyum sambil menganggukkan kepala. Ia mempersilakan Delana untuk berjalan di depannya.

Delana melangkahkan kakinya perlahan melewati tubuh Hesa yang tadi di depannya. Hesa langsung mengikuti langkah Delana. Ia memerhatikan setiap gerakan kaki Delana untuk memastikan kalau kaki gadis itu tidak berada dalam bahaya.

Delana menginjak bebatuan kecil dan membuat kakinya sedikit terpeleset. Dengan cepat Delana langsung memegang kayu pagar yang menjadi pembatas tepi batu Dinding agar tidak terjatuh.

Hesa dengan cepat memegangi tubuh Delana dari belakang. “Hati-hati!” pinta Hesa.

“Sorry!” Delana memperbaiki posisinya dan kembali berjalan menaiki Batu Dinding yang cukup curam.

“Kalo hujan, di sini bakal licin banget,” tutur Hesa.

“Sepertinya begitu. Mudahan nggak hujan,” sahut Delana.

“Aamiin.”

Delana dan Hesa akhirnya bisa berada di atas Batu Dinding. “Kakak berani ke ujung sana?” tanya Delana sambil menunjuk ujung puncak tertinggi Batu Dinding.

“Berani. Tapi, aku rasa kita nggak usah ke sana.”

“Why?”

“Ini udah senja. Kalau kita ke sana. Balik ke sini lagi pasti malam. Tempat ini terlalu tinggi dan ekstrim banget. Aku nggak mau ambil resiko.”

“Hmm ... ya udah. Jadi, kita di sini aja?” tanya Delana.

“Iya.” Hesa langsung mengeluarkan kameranya dan membidik ojek sunset yang begitu indah.

“Kalo gitu, besok pagi pas sunrise, kita harus ke sana ya!” pinta Delana.

Hesa menatap Delana sambil tersenyum. “Kalo besok pagi, boleh.”

Delana tersenyum senang. Ia tahu kalau Hesa mengkhawatirkan dirinya. Mereka lebih memilih menikmati sunset dari satu sudut ketinggian Batu Dinding. Semuanya terlihat begitu indah.

Hesa terus menatap wajah Delana yang tertimpa cahaya matahari senja. Gadis itu benar-benar memikat hati dengan sikap cueknya itu. Ia berharap, hubungannya dengan Delana tidak hanya sekedar teman baik.

 

((Bersambung...))

 

 

 

 

 

 

THEN LOVE BAB 58 : PERTEMUAN DENGAN TEMAN MASA KECIL

 



Bab 58

Pertemuan dengan Teman Masa Kecil

 

Delana tersenyum menatap cowok yang tiba-tiba berdiri di sampingnya saat menunggu pintu lift terbuka. Ia mengenali cowok itu, tapi sepertinya cowok itu tak lagi mengenalinya.

Selama berada di dalam lift bersama Mahesa, Delana hanya diam. Ia bukan tak ingin menyapa cowok itu. Ia tahu kalau Hesa memerhatikan dirinya. Karena Hesa tak juga menyapanya, ia memilih untuk mengabaikan cowok itu.

Delana tersenyum saat ia keluar dari lift dan Hesa masih mengikuti langkahnya.

“Pagi, Mbak!” sapa sekretaris yang berada di luar ruangan Presdir.

“Pagi. Paman ada?” tanya Delana.

“Ada. Beliau sudah menunggu,” jawab sekretaris cantik itu.

“Oke.” Delana tersenyum dan melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan pamannya.

“Pagi, Paman!” sapa Delana begitu ia masuk ke dalam ruangan pamannya.

“Pagi. Akhirnya yang Paman tunggu-tunggu datang juga,” sahut Paman Kam.

Delana tersenyum dan langsung memeluk pamannya.

“Gimana kabar ayah kamu?” tanya Paman Kam.

“Baik. Sepertinya dia betah di Berau,” tutur Delana sambil tertawa kecil.

Paman Kam tergelak mendengar ucapan Delana.

Sementara itu, di luar ruangan Hesa mulai gelisah. Ia langsung menerobos masuk ke dalam kantor Paman Kam.

Delana dan Paman Kam langsung menoleh ke arah pintu yang tiba-tiba terbuka.

“Maaf, Paman. Aku nyelonong masuk. Aku udah lama nunggu di resepsionis ...”

Paman Kam tersenyum. “Nggak papa. Duduk!” perintah Paman Kam.

Hesa langsung duduk dan terus menatap gadis cantik yang ada di depannya.

“Ehem ...!” Paman Kam berdehem ketika melihat Hesa menatap Delana tanpa berkedip.

Hesa langsung gelagapan begitu menyadari kalau ia sibuk mengagumi setiap bagian tubuh gadis yang duduk di samping Paman Kam. Ia langsung mengeluarkan berkas yang ia bawa untuk menutupi perasaan gugupnya.

“Kak Hesa nggak ingat sama aku?” tanya Delana sambil tersenyum manis.

“Eh!? Kamu tahu namaku?” tanya Hesa sambil menunjuk dirinya sendiri. Ia sama sekali tak mengenali wanita yang duduk di depannya. Ia berusaha mengingat deretan pacar dan mantan-mantannya. Tak ada yang seperti gadis yang ada di hadapannya itu. Sekalipun ia seorang playboy. Ia tidak akan pernah lupa wajah cewek yang pernah berkencan dengannya.

Paman Kam dan Delana tertawa melihat Hesa yang kebingungan.

“Aku Delana, Delana Aubrey,” tutur Delana.

“Keponakan Paman. Memang, dia sekarang banyak berubah,” sela Paman Kam.

“Dela!? Yang dulu tomboy itu?” tanya Hesa dengan wajah sumringah. Ia menggeleng-gelengkan kepala menatap Delana dari ujung kaki sampai ke ujung rambut. “Kamu sekarang beda banget. Cantik banget!” pujinya.

“Ah, Kak Hesa bisa aja.”

“Iya. Dulu kamu tuh kayak laki-laki. Udah rembes, ingusan pula,” tutur Hesa sambil tertawa.

Delana mengerucutkan bibirnya menanggapi ucapan Hesa.

“Sorry ... becanda aja, kok. Coba dari dulu kamu kayak gini. Udah aku pacarin,” tutur Hesa.

“Ehem ...!” Paman Kamoga berdehem sebagai isyarat agar Hesa tak menggoda keponakannya.

Hesa menundukkan kepala. Ia membuka berkas kontrak kerja yang ada di tangannya dan menyerahkannya pada Paman Kam. “Bisa Paman cek dulu sebelum ditanda tangani,” tutur Hesa sambil tersenyum.

Paman Kam langsung meraih berkas itu dan membacanya dengan teliti.

“Gimana kabar ayah kamu?” tanya Hesa.

“Baik,” jawab Delana. “Oom Erlan apa kabar?” tanya Delana.

“Baik juga.”

Delana tersenyum. “Kak Hesa udah kelar kuliah?”

“Udah. Baru aja balik dari Auckland beberapa bulan yang lalu.”

“Oh ya? Asyik ya bisa sekolah di luar negeri,” tutur Delana.

Hesa mengangguk-anggukkan kepalanya. “Kamu sendiri kenapa nggak kuliah di luar negeri?”

“Nggak berani. Cukup di sini aja yang deket sama rumah.”

“Oh. Jadi, kuliahnya deket sama rumah kamu?”

“Iya. Di belakang rumah. Tinggal jalan kaki aja kalo mau pergi ke kampus.”

“Rumah kamu masih yang dulu?” tanya Hesa.

“Yang mana?” tanya Delana balik untuk menguji ingatan Hesa.

“Oh ... iya, kamu udah pindah ke Gunung Bahagia ya? Masih di sana?” tanya Hesa.

“Masih.”

“Terus, rumah lama kamu yang dulu waktu masih kecil gimana keadaannya?”

“Udah dijual sama Papa. Sekarang udah jadi bangunan lain.”

“Oh ya? Sayang banget. Padahal, aku suka main di kolam ikan yang ada di belakang rumah kamu itu,” tutur Hesa.

Delana hanya meringis. Ia juga terkadang merindukan rumah masa kecilnya. Tapi, apa boleh buat. Semua hal bisa berubah begitu cepat dan ia tak bisa mencegahnya.

“Kamu ingat nggak waktu dulu kita sering main timezone. Kamu sering nangis gara-gara nggak bisa main capit boneka,” tutur Hesa sambil mengingat masa kecilnya bersama Delana.

“Hahaha. Iya, Paman ingat. Dan dia baru berhenti nangis kalo dibeliin ice cream,” sahut Paman Kam sambil tertawa.

Delana hanya meringis mendengar ucapan Hesa dan Paman Kam tentang masa kecilnya.

Hubungan bisnis antara keluarga Aubrey dan Fino Group membuat Delana dan Mahesa sudah saling mengenal sejak kecil.

Paman Kam tidak memiliki anak perempuan, ia sangat menyayangi Delana seperti anaknya sendiri dan kerap mengajak Delana bermain. Sehingga Delana sudah mengenal Mahesa.

“Terakhir aku lihat kamu, waktu kelas satu SMA, ya?” tanya Hesa.

Delana menganggukkan kepala.

“Waktu itu kamu masih tomboy banget. Rambutnya aja hampir sama kayak rambutku. Sama sekali nggak menarik perhatian,” tutur Hesa.

“Emangnya sekarang menarik?” tanya Delana sambil tertawa kecil.

“Banget.”

Delana terdiam mendengar jawaban pasti dari Hesa. Ia pikir, Hesa bercanda seperti apa yang biasa mereka lakukan dahulu.

Paman Kam bangkit dari sofa dan langsung duduk di meja kerjanya. Ia langsung menandatangani berkas kerjasama yang dibawa oleh Mahesa.

Hesa tersenyum karena Paman Kam menyutujui nilai kontrak yang ia ajukan. Ia kemudian mengalihkan pandangannya pada Delana. Gadis itu kini terlihat begitu menggemaskan.

Tiba-tiba, telepon di meja Paman Kam berdering. Paman Kam langsung menjawab telepon dengan nada serius.

“Del, kamu mau pake mobil jam berapa?” tanya Paman Kam pada Delana.

“Mmh ... janjian sama Dhanuar sama Alan jam empat sore,” jawab Delana. “Kenapa, Paman?”

Paman Kam menghela napas. “Sepertinya, mobilnya mau Paman pakai dulu sebentar. Terlambat sedikit nggak papa?”

Delana tersenyum. “Nggak Papa, Paman. Kami nggak buru-buru, kok.”

“Emangnya mau ke mana?” tanya  Hesa.

“Ke Batu Dinding,” jawab Delana sambil tersenyum.

“Mau aku antar? Kebetulan aku lagi nggak sibuk juga,” tutur Hesa menawarkan diri. Ia merasa, ini kesempatan paling baik untuk dekat dengan Delana.

“Eh!? Emang nggak ngerepotin?” tanya Delana.

“Nggaklah. Buat cewek secantik kamu mah aku nggak bakal pernah repot,” jawab Hesa sambil tersenyum bahagia. Ia berharap, Delana mau menerima tawarannya kali ini.

“Oh, iya. Dia punya mobil George S. Patton. Cocok banget buat kondisi jalan buruk,” tutur Paman Kam pada Delana.

Delana tersenyum sambil berpikir. “Tapi, Kak. Kami mau camping di sana. Jadi, kami mau nginap,” tutur Delana lirih.

“Ah, nggak masalah. Mau camping satu bulan juga aku bisa,” sahut Hesa.

Delana tertawa kecil. Ia tak menyangka kalau Hesa begitu bersemangat ingin mengantarnya. “Kak, tapi lokasinya di tengah hutan, loh. Emangnya Kakak bisa?” tanya Delana.

“Emang di daerah mana?” tanya Hesa.

“Kilo Empat Lima,” jawab Delana.

“Ah, itu mah belum tengah hutan. Kakak kalau ke lokasi tambang, malah lebih tengah hutan lagi,” tutur Hesa.

“Oh ya?” Delana tersenyum manis menatap Hesa.

Perasaan Hesa begitu gelisah setiap kali mendapati senyuman Delana. Gadis itu terlihat begitu tulus dan senyumnya membuat hatinya nyaman.

“Jadi gimana? Mau nggak kalo aku antar?” tanya Hesa.

Delana tersenyum. “Boleh. Tapi, dengan satu syarat!” pinta Delana.

“Gampang. Apa syaratnya?” tanya Hesa.

“Aku nggak mau dengar Kakak mengeluh apa pun. Bahkan cuma karena gigitan nyamuk sekalipun,” tutur Delana.

“Ahsiaap! Itu mah perkara kecil,” sahut Hesa sambil memainkan kedua alisnya.

Delana tersenyum manis.

“Oke. Kalo gitu semuanya udah beres. Kalian bisa pergi bersama. Paman mau keluar dulu karena ada keperluan mendadak,” tutur Paman Kam sambil melangkahkan kakinya.

Paman Kam menoleh ke arah Delana dan Hesa. “Kalian boleh lanjut ngobrolnya di sini. Atau mau cari tempat lain yang lebih asyik sambil minum teh?” tanya Paman Kamoga sambil mengedipkan matanya ke arah Hesa. Ia tersenyum dan langsung bergegas keluar dari ruangannya.

Hesa tersenyum kecil karena Paman Kam terlihat menyukainya. Lebih tepatnya, Paman Kam suka melihatnya mendekati keponakan cantiknya itu.

Berada dalam satu ruangan dengan wanita cantik, membuat Hesa berharap ruangan kerja Paman Kam terus mengecil agar ia bisa duduk berdekatan dengan Delana.

“Kamu udah makan siang?” tanya Hesa pada Delana.

“Belum,” jawab Delana.

“Gimana kalo kita makan siang dulu?” tanya Hesa.

“Mmh ... boleh,” jawab Delana sambil menganggukkan kepala.

“Kamu suka makan di mana?” tanya Hesa.

“Di rumah,” jawab Delana.

Hesa mengangkat kedua alisnya. “Maksudnya? Kamu mau ngundang aku makan di rumah kamu?”

“Mau?” tanya Delana.

Hesa menganggukkan kepala.

“Ya udah, sekalian aja kalo gitu. Abis makan langsung berangkat ke Batu Dinding,” tutur Delana.

“Hah!?”

“Kenapa?” tanya Delana.

Hesa menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Aku ke sini bawa mobil Lambo. Gimana kalo aku tukar mobil dulu ke rumah?” tanya Hesa.

“Bisa,” jawab Delana. “Aku tunggu di rumah ya!” tutur Delana. Ia bangkit dari tempat duduknya. Hesa juga ikut bangkit dan mengikuti langkah Delana keluar dari ruang kerja Paman Kam.

“Kamu nggak mau ikut pulang ke rumahku?” tanya Hesa.

“Nggak,” jawab Delana sambil tersenyum. “Aku siapin makan siang dulu buat kalian.”

Hesa tersenyum. “Rasanya nggak sabar pengen makan masakan kamu,” tutur Hesa.

Delana tertawa kecil menanggapi ucapan Hesa. Mereka berjalan beriringan keluar dari kantor Kamoga Corporation.

 

***

“Del, kok balik naik taksi? Stradanya mana?” tanya Dhanuar begitu Delana masuk ke dalam rumah.

“Nggak jadi.”

“Nggak jadi jalan?” tanya Dhanuar.

“Jadi.”

“Terus?”

“Nggak jadi pinjam mobil papa kamu,” tutur Delana.

Why? Tau gitu ke sana sama aku. Biar langsung dikasih sama Papa,” sahut Dhanuar.

“Nggak ada hubungannya,” dengus Delana sambil masuk ke dalam rumah.

Dhanuar menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Terus? Gimana rencana camping kita? Nggak jadi, dong?” tanya Dhanuar sambil mengikuti langkah Delana.

“Jadi,” jawab Delana.

“Hah!? Kenapa nggak jadi?” tanya Alan yang sedang mengemasi barang di ruang tamu.

“Tau, tuh!” jawab Dhanuar sambil menunjuk Delana. “Dia balik nggak bawa mobil Papa.”

“Pake mobil Oom Harun aja!” tutur Alan.

“Yee ... enak aja!” sahut Delana. “Kalo rusak, mau ganti?” dengusnya.

“Yah, abisnya udah capek-capek nyiapin ini semua tapi nggak jadi berangkat,” celetuk Alan sambil menendang ransel yang ada di dekatnya.

“Yang bilang nggak jadi itu siapa?” tanya Delana.

“Itu si Dhanuar,” jawab Alan sambil menunjuk Dhanuar dengan dagunya.

“Aku kan nggak bilang nggak jadi berangkat. Aku cuma bilang nggak jadi pinjam Stradanya Paman Kam,” tutur Delana. “Dhanu aja yang langsung menyimpulkan kalo kita nggak jadi berangkat.”

“Yah, kan kamu balik nggak bawa mobil. Jelas aja aku mikirnya kita nggak jadi berangkat. Emangnya mau berangkat pake apa coba?” tanya Dhanuar.

Delana menghela napas. “Kita berangkat sama Kak Hesa,” tutur Delana.

“Hah!? Hesa!?” Alan dan Dhanuar saling pandang.

“Gimana ceritanya bisa ketemu sama Hesa?” tanya Dhanuar.

“Pas kebetulan dia lagi ada di kantor Paman Kam. Kayaknya mereka lagi ngurus kontrak kerja, deh. Terus, dia bilang pengen ngantar kita.”

“Ngantar? Terus balik lagi gitu?” tanya Alan.

Delana meringis. “Nggak, sih. Dia bilang mau ikut camping sekalian.”

“Aha ... dah tahu aku, maksudnya dia apa. Pasti ada udang di balik bakpao!” seru Dhanuar.

“Enak dong!?” sahut Alan.

Delana tertawa kecil. “Tolong siapin keperluan Kak Hesa!” pinta Delana.

“Keperluan apaan?” tanya Alan. “Biar aja dia nyiapin keperluannya sendiri,” lanjutnya.

Delana menghela napas. Ia melipat kedua tangannya di depan dada sambil menatap tajam ke arah Alan. “Dia udah berbaik hati mau ngantarin kita. Kamu ngerti caranya berterima kasih nggak?” Delana mendelik ke arah Alan.

Alan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Iya, iya. Apa aja yang harus aku siapin buat dia?”

“Selimut dan perlengkapan mandinya dia. Jangan lupa tambahin stock mie. Takutnya nggak cukup karena orangnya nambah,” pinta Delana.

“Siap, Bu Bos!” sahut Alan. “Cuma selimut sama perlengkapan mandi aja, kan?”

“Iya.”

“Tendanya enggak?” tanya Dhanuar.

“Nggak usah. Kalian bertiga pake satu tenda!” perintah Delana.

“Hadeh, sempit-sempitan dong kalo satu tenda tiga orang!?” protes Alan.

“Jangan-jangan, dia mau satu tenda sama kamu ya?” tanya Dhanuar.

“Enak aja kalo ngomong!” sahut Delana kesal.

“Ya, emang enak, kan?” Dhanuar tersenyum centil ke arah Delana.

Delana mencebik ke arah Dhanuar. “Dasar Omes!”

Dhanuar tertawa kecil.

“Kalian udah makan?” tanya Delana.

“Belum.”

“Kenapa?”

“Kita udah makan cemilan dari tadi,” jawab Dhanuar.

“Oh. Jadi, nggak laper?” tanya Delana.

Dhanuar menggelengkan kepalanya.

“Ya udah. Aku siapin makanan dulu buat Kak Hesa,” tutur Delana sambil melangkahkan kakinya ke dapur.

“Hah!? Dia mau makan siang di sini?” tanya Dhanuar.

Delana tersenyum sambil menganggukkan kepala.

Dhanuar menggeleng-gelengkan kepala. “Emang ya, kalo playboy kelas hiu tuh ada aja akalnya,” gumamnya.

“Hah!? Apa!?” tanya Delana memasang telinganya karena tak begitu mendengar ucapan Dhanuar.

“Nggak papa,” jawab Dhanuar.

Delana langsung ngeloyor masuk ke dapur. Meninggalkan Alan dan Dhanuar yang sedang sibuk menyiapkan perlengkapan yang akan mereka bawa untuk bermalam di Batu Dinding.

“Lan, kamu jadi bawa gitar kan?” tanya Dhanuar.

“Jadi, dong!” sahut Alan.

“Eh, menurut kamu ... kenapa Hesa tiba-tiba mau ikut kita camping? Bukannya dia nggak suka tempat-tempat kayak gitu? Rasanya, dia suka berkencan di tempat yang mewah dan berkelas,” tutur Dhanuar pelan.

“Pasti dia naksir sama Dela,” sahut Alan berbisik.

“Nggak salah lagi. Dia nggak mungkin mau camping kayak gini. Udah di tengah hutan, banyak nyamuk pula. Ckckck.” Dhanuar menggeleng-gelengkan kepala. Ia tak menyangka kalau playboy seperti Hesa bisa melakukan apa saja demi mendapatkan cewek yang ia suka.

“Yah, siapa tahu aja setelah ketemu Dela dia bisa berubah.”

“Berubah gimana? Namanya playboy ya tetep aja playboy! Nggak bakal setia sama satu cewek,” sahut Dhanuar.

“Apa itu pernyataan sesungguhnya seorang playboy?” tanya Alan sambil menatap Dhanuar.

“Eh!? Kenapa ngelihatin aku kayak gitu?” tanya Dhanuar yang menyadari tatapan aneh dari mata Alan.

“Kamu sendiri playboy. Cewekmu banyak. Emangnya beneran nggak ada cewek yang istimewa di hatimu?” tanya Alan.

“Mmh ... sejauh ini semuanya biasa aja. Semuanya sama aja,” jawab Dhanuar santai.

“Sama apanya?”

“Sama enaknya,” jawab Dhanuar sambil tertawa.

“Alan ... jangan lupa bawa lotion anti nyamuk!” teriak Delana dari arah dapur.

Alan dan Dhanuar saling pandang begitu mendengar teriakan Delana.

“Kamu udah beli?” tanya Dhanuar.

Alan menggelengkan kepala. “Kayaknya nggak ada dalam catatan yang kemarin dibuat sama Dela,” tutur Alan sambil mengeluarkan ponsel dan memeriksa catatannya.

“Ada?” tanya Dhanuar.

“Nggak ada,” jawab Alan sambil menunjukkan layar ponselnya ke wajah Dhanuar.

“Jadi, kita mau beli apa nggak?” tanya Dhanuar.

“Belilah! Penting loh itu. Di tengah hutan banyak nyamuk berbahaya. Bisa aja ntar digigit nyamuk malaria atau demam berdarah,” tutur Alan.

“Ya udah. Kamu aja yang pergi belanja!” pinta Dhanuar.

“Ayo, sama-sama!” pinta Alan sambil menarik lengan Dhanuar.

“Nggak, ah. Aku capek!” tutur Dhanuar sambil merebahkan tubuhnya ke sofa.

“Dasar cowok manja!” celetuk Alan. Ia langsung melangkahkan kakinya menghampiri Delana yang sedang sibuk di dapur.

“Mau beli apa lagi? Lotion anti nyamuk nggak kamu catat kemarin. Jadi, belum aku beliin. Kalo ada yang mau dibeli lagi, biar sekalian aku berangkat ke warung cari barangnya,” tutur Alan.

Delana terdiam. Ia berusaha mengingat keperluan yang akan mereka bawa. Tidak boleh ada yang tertinggal satu pun karena bisa menjadikan masalah. Mereka tidak mungkin kembali lagi karena perjalanan cukup jauh.

“Mmh ... kayaknya udah nggak ada lagi,” tutur Delana.

“Beli berapa lotion anti nyamuknya?” tanya Alan.

“Secukupnya aja,” jawab Delana.

“Secukupnya? Satu truck juga cukup, Del!” celetuk Alan.

Delana menghela napas mendengar celetukan Alan. “Beli aja dua botol!” pinta Delana.

“Siap! Apa lagi, nih?” tanya Alan.

“Nggak ada lagi,” jawab Delana.

“Awas aja kalo sampe ada yang ketinggalan. Aku udah nggak mau belanjain lagi,” ancam Alan.

“Iya.”

“Kunci motor mana?” tanya Alan.

Delana langsung melangkahkan kakinya, ia mengambil kunci motor di atas kulkas dan memberikannya pada Alan.

Alan langsung menyambar kunci motor Delana dan bergegas pergi ke minimarket terdekat untuk mencari lotion anti nyamuk.

Dhanuar sibuk bermain game online di ruang tamu. Sementara Delana sibuk menyiapkan makan siang untuk Hesa yang tak lama lagi akan datang ke rumahnya.

 

***

Hesa keluar dari mobilnya dengan senyum bahagia. Ia melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah sambil bersenandung.

“Kelihatan seneng banget. Abis dapet proyek baru?” tanya Astria begitu melihat Hesa masuk ke dalam rumah.

Hesa meringis. “Ma, aku mau camping malam ini.”

Astri mengernyitkan  dahinya. “Camping?”

Hesa menganggukkan kepala sambil tersenyum. Ia melangkahkan kaki menuju kamarnya yang ada di lantai dua rumahnya.

Astria hanya tersenyum melihat wajah sumringah dari anak laki-lakinya itu.

Hesa langsung masuk ke dalam kamar. Ia mengambil ransel kosong yang ia simpan di dalam lemari dan mulai mengisinya dengan beberapa potong pakaian.

Hesa teringat sesuatu. Ia tidak punya tenda untuk berkemah.

Hesa langsung mengirim pesan singkat untuk Delana. “Del, aku nggak punya tenda kemah. Kalo mau beli dulu kayaknya nggak sempat.”

Beberapa menit kemudian, Delana langsung membalas pesan darinya. “Nggak usah mikirin yang lain. Cukup bawa baju ganti dan handuk aja.”

Hesa tersenyum saat membaca pesan balasan dari Delana. Delana memang pengertian dan berhasil membuat perasaan Hesa tak karuan.

Hesa tersenyum sambil menata keperluannya ke dalam tas.

Ia melangkahkan kakinya dan berdiri di depan deretan kunci-kunci mobilnya. Ia langsung menyambar kunci mobil George S. Patton.

Hesa memakai ranselnya dan langsung keluar dari kamar.

“Mau berangkat sekarang?” tanya Astria.

“Iya, Ma.” Hesa meletakkan ranselnya di atas kursi meja makan dan bergegas menuju garasi mobil. Ia langsung masuk ke atas mobil dan menyalakan mesin. Kemudian masuk kembali ke dalam rumah.

“Udah makan?” tanya Astria.

“Belum, Ma.” Hesa langsung duduk di meja makan sembari menunggu memanaskan mobilnya.

“Makan dulu!” pinta Astria.

“Aku udah janji mau makan siang sama seseorang,” tutur Hesa sambil melirik arloji yang ada di tangannya.

Astria tersenyum. “Ya udah kalo gitu.” Astria langsung bergegas pergi.

Hesa tersenyum kecil. Ia mengambil satu buah apel yang sudah tersedia di atas meja makan. Ia terus tersenyum memikirkan Delana. Ia merasakan perasaan yang berbeda sejak pertama kali melihat gadis itu dan ingin selalu menatapnya setiap saat.

Beberapa menit kemudian. Hesa langsung berangkat menuju rumah Delana. Ia sudah beberapa kali mengunjungi rumah Delana bersama dengan Dhanuar, rekan sesama playboy-nya.

Sebelum ke rumah Delana. Ia mampir ke salah satu SPBU terdekat untuk mengisi bahan bakar. Mobil yang saat ini ia pakai memang jarang sekali digunakan. Hanya digunakan di saat-saat tertentu. Tapi, tetap saja selalu mendapatkan perawatan terbaik. Oleh karenanya, ia harus memastikan kalau bahan bakarnya cukup sampai lokasi yang akan mereka tuju.

Setelah mengisi bahan bakar, Hesa langsung melajukan mobilnya menuju rumah Delana. Ia sudah tak sabar ingin bertemu dengan gadis cantik itu.

Di perjalanan, Hesa memikirkan untuk memberikan sesuatu untuk Delana. Tapi, ia masih bingung karena tidak tahu sama sekali apa yang disukai oleh gadis itu.

“Del ... Del, kamu tuh bener-bener cantik. Aku nggak tahu kenapa kamu tiba-tiba penuh di dalam otakku,” gumam Hesa sambil tersenyum.

Hesa membelokkan mobilnya ke arah Gunung Bahagia. Melewati kampus tempat Delana bersekolah. Ia berhenti tepat di depan rumah Delana.

Hesa merapikan jaketnya dan langsung turun dari mobil. Ia merasa begitu gugup karena akan bertemu dengan Delana.

Hesa menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan keberanian untuk bertemu dengan Delana. Ia melangkahkan kakinya perlahan menuju pintu rumah Delana yang setengah terbuka. Ia membayangkan Delana akan menyambut dan langsung memeluknya saat ia datang.

 

((Bersambung...))

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas