Wednesday, February 11, 2026

Perfect Hero Bab 386 : Romantic Arrow

 


“Yeriko ...! Akhirnya, datang juga. Udah lama nggak lihat kamu main panah,” sapa Satria begitu Yeriko dan Yuna menghampiri mereka.

 

“Berlebihan,” gumam Yeriko. Ia langsung duduk di kursi sambil menatap beberapa orang yang juga berlatih panah.

 

“Udah dari tadi, Jhen?” tanya Yuna sambil menghampiri Jheni.

 

“Nggak juga. Baru nyampe lima belas menit yang lalu.

 

“Mereka beneran mau lomba memanah?” tanya Yuna.

 

Jheni menganggukkan kepala. “Buat seru-seruan aja.”

 

“Hah!? Seru-seruan mereka kayak gini? Apa serunya main anak panah?” gerutu Yuna.

 

Jheni memerhatikan tiga pria yang berdiri tak jauh darinya. “Mungkin, buat mereka seru.”

 

“Huft, selera pria memang aneh. Terus, kita disuruh nontonin mereka doang?”

 

“Kalau kamu mau ikut manah. Manah aja!” sahut Jheni.

 

Yuna mengedikkan bahunya. “Aku nggak bisa manah. Cuma bisa marah.”

 

“Marah sama siapa? Yeriko?”

 

“Sama kamu,” jawab Yuna sambil mencebik.

 

“Cepet keriput kalo marah-marah mulu,” tutur Jheni. Matanya menatap tiga pria yang mulai memainkan busur dan anak  panah di tangannya.

 

“Yun ...!” panggil Jheni tanpa mengalihkan pandangannya dari tangan Chandra yang sedang menarik busur panahnya.

 

“Hmm.”

 

“Kayaknya, emang seru deh.”

 

“Apanya?”

 

“Main panahan,” jawab Jheni sambil bangkit dari tempat duduknya. Ia melangkahkan kakinya menghampiri Chandra.

 

Yuna menautkan kedua alisnya sambil menatap Jheni.

 

Jheni tersenyum sambil menatap Chandra.

 

“Kenapa?” Chandra langsung menoleh ke arah Jheni yang tiba-tiba sudah ada di depan wajahnya. “Wajahmu menghalangi pandanganku.”

 

Jheni tersenyum sambil menahan anak panah yang sudah siap dilepaskan Chandra dari busurnya. “Ajari aku!”

 

“Hah!?”

 

“Ajari aku memanah!”

 

Chandra mengendurkan tenaganya perlahan. Ia menurunkan busurnya sambil menatap Jheni. “Beneran mau belajar memanah?”

 

Jheni menganggukkan kepala.

 

Chandra langsung menyerahkan busur di tangannya ke tangan Icha.

 

“Lumayan berat juga ya?” gumamnya.

 

Chandra tertawa kecil. “Coba mulai memanah!” perintahnya.

 

Jheni menganggukkan kepala. Ia meletakkan  anak panah di busurnya. Kemudian, ia mulai menarik kuat-kuat tali busur tersebut dan melepaskannya.

 

 

 

SHAAT ...!

 

 

 

Anak panah tersebut melesat hanya tiga meter dari tempatnya berdiri.

 

“Sial ...!” umpat Jheni.

 

Chandra tertawa kecil.

 

Jheni mengambil anak panah tersebut dan berusaha  lagi.

 

“Jhen, cara megangnya salah,” tutur Chandra sambil berdiri tepat di belakang Jheni. Kedua tangannya menjulur ke depan, memegang busur dan anak panah yang masih dipegang Jheni. Kedua tangan Chandra, tepat berada di atas punggung tangan Jheni. Ia menunjukkan bagaimana posisi tangan yang seharusnya.

 

“Tarik nock-nya pelan-pelan,” bisik Chandra sambil membantu menarik tali busur.

 

“Nock yang mana?” tanya Jheni.

 

“Yang ini,” jawab Chandra sambil menunjuk ujung anak panah yang menempel pada tali.

 

Jheni mengangguk sambil tersenyum.

 

“Jangan gemetaran!” bisik Chandra.

 

“Aku nervous banget,” tutur Jheni lirih.

 

Chandra tersenyum kecil. “Arahkan mata panah ke lingkaran merah yang ada di tengah papan target itu. Kalau sudah yakin pas, lepaskan!”

 

“Gimana ngepasinnya?”

 

“Lihat lurus mata panahnya sejajar sama titik merah yang ada di sana. Jangan gemetaran!” bisik Chandra.

 

Jheni menganggukkan kepala.

 

Chandra melepas tangannya perlahan. Membiarkan Jheni memegang busur panahnya sendiri.

 

 

 

SHAAT ...!

 

 

 

Anak panah yang ada di tangan Jheni, melesat melewati papan papan target.

 

“Sial ...!” umpat Jheni lagi.  Ia kembali mengambil anak panah.

 

Chandra tersenyum kecil. “Jangan gemetaran!”

 

“Ini busurnya berat banget. Gimana aku nggak gemetaran?”

 

Chandra kembali membimbing Jheni. Dadanya yang kekar, tepat menempel di punggung Jheni.

 

Satria memukul lengan Yeriko menggunakan anak panah yang ada di tangannya. “Eh, lihat!” pintanya sambil menunjuk Chandra dengan dagunya. “Mereka romantis juga. Si Chandra udah pintar nyari kesempatan.”

 

Yeriko menatap Chandra sejenak. Ia meletakkan busur dan anak panah yang ada di tangannya, kemudian melangkah menghampiri Yuna.

 

Yuna yang sedang menikmati kemesraan sahabatnya, langsung membelalakkan mata saat tubuh Yeriko tiba-tiba sudah ada di hadapannya.

 

“Lihat apa?” tanya Yeriko.

 

“Lihat Chandra sama Jheni. Kamu ngapain berdiri di sini?” tanya Yuna balik sambil menepis tubuh Yeriko.

 

Yeriko menyambar pergelangan tangan Yuna. Ia menarik Yuna menuju tempat ia berlatih. Ia langsung mengambil busur dan memberikan ke tangan Yuna.

 

“Apa ini?” tanya Yuna.

 

“Busur.”

 

“Aku tahu. Maksudnya apa?”

 

“Aku ajari kamu memanah.”

 

“Ay, kamu kan tahu kalau aku nggak suka olahraga. Aku nggak bisa main beginian,” tutur Yuna.

 

“Bisa. Gampang, kok.” Yeriko mengambil anak panah.

 

“Oke.” Yuna mengangguk. Ia tahu kalau ia tidak akan bisa membantah keinginan Yeriko.

 

Yeriko mulai menuntun Yuna mengendalikan busur dan anak panahnya.

 

“Ini busur berat banget,” celetuk Yuna.

 

Yeriko tersenyum kecil. “Nanti akan terbiasa. Jangan mau kalah sama Jheni. Nanti, kalian juga harus bertanding. Aku bakal kasih hadiah yang bagus buat kalian.”

 

“Beneran?”

 

Yeriko mengangguk sambil tersenyum.

 

Satria menghela napas melihat kemesraan dua sahabatnya. “Hampir setiap hari aku latihan di sini. Nggak pernah bawa perempuan. Kalian malah mesra-mesraan kayak gini?” gumam Satria kesal. “Nggak mikirin nasib jomblo kayak aku?” gumamnya sambil memukul dadanya sendiri.

 

 

 

Satria kembali menarik busurnya dan melesatkan anak panahnya dengan kecepatan yang tak biasa. “Bener-bener nggak berperasaan!” celetuknya. “Apa menyiksa jomblo harus dengan cara seperti ini?”

 

Jheni dan Yuna saling pandang. Mereka bersemangat untuk belajar memanah hingga akhirnya bisa mengendalikan anak panah tanpa bantuan dari pasangan mereka masing-masing.

 

“Oke. Kalian berdua udah bisa. Sekarang, kalian berdua yang lomba. Yang menang, bakal dapet hadiah dari aku,” tutur Yeriko.

 

“Hadiahnya apa?” tanya Jheni.

 

“Kalian boleh minta apa aja kalau menang.”

 

“Oke.” Yuna dan Jheni mengangguk bersamaan. Akhirnya, mereka bertanding. Sementara tiga cowok tampan yang bersamanya. Duduk bersantai di kursi sambil menikmati dua Srikandi yang sedang berlomba memanah.

 

 “Yeay ...!” seru Jheni saat ia berhasil mengalahkan Yuna. “Aku menang ...!” Ia menjulurkan lidahnya ke arah Yuna.

 

Yuna memonyongkan bibirnya sambil melemparkan busurnya begitu saja ke lantai.

 

Yeriko langsung bangkit dan menghibur istrinya. “Nggak usah sedih!” pintanya. “Aku tetep kasih hadiah buat kamu.”

 

Yuna memonyongkan bibirnya. “Kamu nyuruh lomba yang aku nggak bisa. Jelas aja aku kalah.”

 

“Yee ... aku juga nggak bisa. Kita sama-sama baru belajar. Impas!” sahut Jheni sambil menjulurkan lidahnya.

 

Yuna memonyongkan bibirnya. “Kalo gitu, kalian bertiga harus lomba seperti yang aku mau!”

 

“Hah!?” Satria dan Chandra menoleh ke arah Yuna bersamaan. Mereka saling pandang karena mengetahui sifat jahil Yuna.

 

Yuna tersenyum. Ia memanggil Riyan dan membisikkan sesuatu ke telinga pria itu.

 

Riyan menganggukkan kepala. Ia bergegas pergi dari tempat tersebut.

 

“Kakak Ipar Kecil ngerencanain apa?” tanya Satria.

 

“Bikin lomba tujuh belasan buat kalian. Kalian tanding panah aja dulu! Sambil aku siapin lomba lain buat kalian bertiga.”

 

Ketiga pria itu saling pandang. Mereka bergegas ke posisi mereka masing-masing untuk bertanding.

 

Jheni dan Yuna terus memerhatikan ketiga pria itu penuh ketegangan.

 

“Gila ...! Yeriko hebat juga mainnya,” tutur Jheni.

 

“Mereka memang suka olahraga. Wajar aja kalo suamiku begitu. Tapi, Satria rajin latihan di sini. Kenapa suamiku yang menang terus?”

 

“Iya, ya? Hoki terus si Yeri.”

 

“Aargh ...!” seru Satria sambil membanting busurnya ke lantai. “Kamu ...!? Udah lama nggak pernah main beginian. Kemampuanmu nggak menurun sedikit pun,” lanjutnya sambil menatap Yeriko kesal.

 

Yeriko tersenyum kecil. “Gimana? Mau tanding lagi?”

 

“Sekali lagi!” pinta Satria. Ia masih tidak bisa menerima kekalahan dirinya dari Yeriko.

 

“Ayo ...!” Yeriko menyetujui permintaan Yeriko.

 

Chandra hanya tersenyum. Ia terlihat sangat tenang dalam permainan ini. Ia sudah mengetahui kemampuan dua orang di hadapannya. Ia hanya meramaikan hari kemerdekaan yang tidak bisa mereka lakukan seperti orang biasa. Mereka tidak pernah bisa turun ke jalanan atau berbaur dengan banyak orang di luar sana.


((Bersambung...))

Perfect Hero Bab 385 : Independence Day

 


-  17 Agustus 2017, Halaman Kantor Dinas Walikota Surabaya –

 

DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA KE-72

 

 

 

“Yer, kami beneran nggak bawa Yuna?” bisik Chandra saat mereka memasuki area untuk tamu undangan VIP.

 

Yeriko menggelengkan kepala sambil memperbaiki posisi dasinya. “Kaku sendiri, nggak bawa Jheni?” tanya Yeriko balik.

 

Chandra menggelengkan kepala. “Dia nggak mau ikut upacara.”

 

“Kenapa?”

 

“Katanya sih malu. Nggak ada yang dia kenal di sini.”

 

“Ada Bunda Yana.”

 

“Iya, sih. Emang nggak mau kali. Makanya, banyak alasan.”

 

Yeriko tertawa kecil. “Istriku malah ngerengek mau ikut. Nggak aku bolehin.”

 

“Kenapa sih, Yer?”

 

“Chan, di sini banyak orang penting. Kita harus memanfaatkan momen ini. Kalo aku bawa Yuna, ntar nggak ada yang jagain dia.”

 

Chandra mengangguk-anggukkan kepala. Ia mengerti maksud Yeriko.

 

Beberapa menit kemudian. Prosesi upacara bendera dimulai dan berlangsung dengan hikmat hingga akhir.

 

Yeriko dan Chandra menyempatkan diri menyapa Walikota. Membuat mereka akhirnya masuk ke dalam gedung kantor dinas untuk menikmati hidangan yang telah disediakan.

 

“Yer, Kakak Ipar Kecil beneran nggak datang?” Satria yang masih mengenakan seragam militer langsung menghampiri Yeriko.

 

Yeriko menggelengkan kepala. “Ntar sore aja aku bawa ke area panahan.”

 

“Kenapa sih, Yer? Kamu jangan terlalu mengekang istrimu!” tutur Satria.

 

“Ini bukan mengekang, Sat. Tapi menjaga. Kamu tahu, dia lagi hamil. Aku nggak mungkin bawa dia ke tempat seramai ini.”

 

“Sat, kamu tahu kalau ada banyak perempuan yang terobsesi sama Yeri dan ingin menyingkirkan Yuna. Dia takut istrinya kenapa-kenapa.”

 

“Nggak sampe segitunya, Yer. Di sini aman. Aman banget. Udah disterilkan. Penjagaannya juga ketat banget. Kamu meragukan kemampuanku, hah!?”

 

“Aih, sudahlah ... nggak perlu dipermasalahkan. Dia juga butuh banyak istirahat. Semalam udah begadang. Ntar sore aja kuajak ke area panahan.”

 

“Hmm ... iya juga, sih. Takutnya dia kecapekan.” Satria mengangguk-anggukkan kepalanya.

 

Yeriko tersenyum kecil.

 

“Eh, kamu yang bantu urus tes DNA Lutfi sama adiknya itu kan? Gimana hasilnya?” tanya Satria.

 

“Belum keluar.”

 

“Lama banget?” tanya Satria sambil menikmati hidangan yang tersedia.

 

“Dikira main sulap? Itu tes DNA harus diperiksa bener-bener. Dua sampai empat minggu baru bisa keluar hasilnya. Aku udah minta dipercepat. Kemungkinan satu mingguan baru selesai,” jelas Yeriko.

 

“Oh.” Satria manggut-manggut. “Kalo emang Icha adiknya Lutfi, aku pacaran aja. Lumayan.”

 

“Emangnya, Icha mau sama kamu?”

 

“Witing trenso, jalaran soko kulino!” sahut Satria.

 

“Yaelah, gayamu!”

 

Satria terkekeh. “Daripada Icha pacaran sama orang lain, mending sama aku kan?”

 

“Hahaha. Bener juga sih. Kamu nampung mantan pacar temen?”

 

“Asem ...!” dengus Satria.

 

“Jeruknya asem, Sat?” tanya Chandra sambil menahan tawa.

 

“Kamu yang asem!”

 

“Hahaha.”

 

Mereka menikmati jamuan sambil berbincang banyak hal. Yeriko dan Chandra juga menyempatkan diri untuk menyapa beberapa pejabat penting yang ada di kota tersebut.

 

 

 

Usai mengikuti upacara Hari Kemerdekaan, Yeriko langsung kembali ke rumah.

 

Begitu sampai di rumah, Yeriko langsung mencari Yuna. Namun, ia tak menemukan istrinya di dalam kamar.

 

“Yuna ...!” panggil Yeriko sambil mencari ke kamar bayi, ke balkon dan tempat-tempat yang biasa digunakan istrinya untuk bersantai.

 

“Bi, Yuna ke mana?” tanya Yeriko sambil menuruni anak tangga.

 

“Lagi berenang di belakang.”

 

“Berenang? Siang-siang gini?”

 

“Udah dari tadi pagi. Tapi belum masuk ke rumah. Masih santai di pinggir kolam.”

 

“Oh.” Yeriko bergegas melangkah menuju halaman belakang rumahnya. Ia menghampiri Yuna yang sedang berbaring di bangku yang ada di tepi kolam.

 

 Yeriko tersenyum sambil melihat wajah Yuna yang tertidur pulas. Ia langsung duduk di samping Yuna.

 

Yuna langsung membuka mata begitu ia merasakan sentuhan di pahanya. “Udah pulang?”

 

Yeriko menganggukkan kepala. “Kenapa tidur di sini?”

 

“Aku nggak tidur beneran. Cuma baring-baring aja.”

 

“Kamu habis berenang?” tanya Yeriko.

 

Yuna menganggukkan kepala. “Kamu udah makan?” tanyanya balik.

 

Yeriko menggelengkan kepala.

 

“Emangnya, di sana nggak dikasih makan sama Bunda Yana?”

 

“Ada perjamuan untuk tamu. Tapi, aku nggak bisa makan di sana.”

 

“Kenapa?”

 

“Aku mau makan siang sama kamu.”

 

Yuna tersenyum. “Oke. Aku mandi dulu!” Ia bangkit dari duduknya.

 

Yeriko ikut bangkit. Ia melangkahkan kakinya sambil merangkul pinggang Yuna. “Lain kali, jangan berenang sendirian ya!” pintanya sambil mengelus perut Yuna.

 

“Kenapa?”

 

“Khawatir aja. Setidaknya, ada pelayan yang nemenin kamu.”

 

“Tadi aku ditemenin sama Bibi,” tutur Yuna.

 

“Oh. Baguslah.”

 

“Gimana upacara tadi?”

 

“Lancar. Abis makan siang, kita ke arena panahan. Yang lain, udah nunggu di sana.”

 

“Jadi mau lomba manah?”

 

“Jadi, dong.”

 

“Terus, aku ngapain? Nggak bisa ikut lomba dong?” tanya Yuna.

 

“Nggak usah ikut lomba manah. Kamu ikut lomba bikin anak aja!” sahut Yeriko.

 

“Iih ... aku nanya serius!” dengus Yuna sambil menepuk punggung tangan Yeriko yang masih bersarang di perutnya.

 

“Aku juga serius,” ucap Yeriko sambil menahan tawa.

 

Yuna memonyongkan bibirnya. “Aku mandi dulu, kamu tunggu di sini aja!” pinta Yuna sambil melangkah menuju tangga ke kamarnya.

 

Yeriko mengangguk. Ia duduk di kursi meja makan sambil menyulut rokok.

 

“Mas, kok ngerokok di sini?” Bibi War yang sedang menyiapkan makan siang, langsung menegur Yeriko.

 

“Eh!?” Yeriko menatap Bibi War.

 

“Mbak Yuna lagi hamil. Nggak baik kalau kena asap rokok.”

 

“Lupa, Bi. Aku ke belakang dulu. Kalo Yuna udah turun, panggil aku ya!” pinta Yeriko sambil bangkit dari tempat duduknya.

 

Bibi War menganggukkan kepala.

 

Beberapa menit kemudian, Yuna turun dari kamar dan langsung menuju meja makan.

 

Sesuai perintah Yeriko, Bibi War langsung memanggilnya saat Yuna masih menuruni anak tangga.

 

Yeriko langsung mematikan rokoknya dan bergegas menghampiri Yuna di meja makan.

 

“Bi, sore ini nggak usah masak ya!” pinta Yeriko. “Aku sama Yuna, bakal keluar sampai  malam. Kita makan di luar.”

 

Bibi War menganggukkan kepala.

 

“Kita mau ke mana? Bukannya cuma mau lomba memanah sore ini?” tanya Yuna.

 

“Kita jalan-jalan.”

 

Yuna tersenyum senang. “Akhirnya ... beberapa hari ini udah bosen banget di dalam rumah terus,” batinnya.

 

Yeriko tersenyum kecil sambil menatap wajah Yuna. “Makan yang banyak!” pintanya.

 

Yuna langsung melahap makanannya penuh semangat.

 

“Chandra dan Satria ikut upacara?” tanya Yuna.

 

Yeriko menganggukkan kepala.

 

“Wah, sayang banget. Aku nggak bisa lihat. Ada pawai budaya atau nggak?”

 

“Ada.”

 

Yuna memonyongkan bibirnya.

 

“Kamu lagi hamil. Di sana terlalu ramai. Bukannya kamu nggak terlalu suka sama keramaian?”

 

Yuna terdiam. “Iya juga ya? Kenapa sekarang aku suka sedih kalo sendirian?” batinnya.

 

Yeriko tersenyum menatap Yuna. “Nggak usah sedih. Hari ini, aku bawa kamu jalan-jalan. Boleh ngelakuin apa aja sepuas kamu.”

 

“Serius?”

 

Yeriko menganggukkan kepala.

 

“Mmh ... enaknya ngapain ya?” tanya Yuna sambil mengetuk-ngetuk dagunya.

 

“Ntar aja kalo kita udah pulang dari area panahan. Aku bawa kamu keliling kota. Hari ini perayaan negara. Pasti ada banyak pertunjukkan di jalanan dan di taman-taman kota.”

 

Yuna menganggukkan kepala. Ia terlihat sangat bersemangat.

 

“Dapet salam dari Bunda Yana.”

 

“Oh ya, salam balik ya! Mama Rully, di sana juga?”

 

“Mama nggak bilang apa-apa sama kamu?”

 

“Eh!? Dia bilang dapet undangan upacara juga.”

 

“Mama sama kakek, upacaranya di Istana Presiden. Di Jakarta sana. Bukan di sini.”

 

“Astaga ...! Jadi, kakek dan mama dapet undangan VIP dari presiden!?” seru Yuna.

 

Yeriko menganggukkan kepala. “Kakek pensiunan jenderal. Setiap tahunnya, beliau akan ikut upacara kenegaraan di Istana Negara.”

 

“Wah ... keren banget! Kapan aku bisa ketemu sama presiden?”

 

“Mau ketemu?”

 

Yuna menganggukkan kepala.

 

“Kalo udah nggak hamil, aku aturkan waktu buat ketemu sama presiden.”

 

“Hah!? Emang bisa? Semudah itu?”

 

Yeriko tertawa kecil. “Kita bisa ikut kakek. Dia sering ketemu sama Presiden saat akhir pekan,” jawab Yeriko berbisik.

 

“Wah ...!” Mata Yuna berbinar. Ia tak menyangka kalau dirinya menjadi bagian dari keluarga yang begitu hebat. Bukan hanya suaminya yang terkenal sebagai direktur muda kaya raya. Tapi, mama mertua dan kakek mertuanya yang memiliki reputasi penting dalam dunia militer dan pemerintahan.

 

 ((Bersambung....))

 

 

 

 

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas