Wednesday, February 4, 2026

Perfect Hero Bab 348 : Lian's Regret

 


“Bel, kami mau dengar pengakuan kamu. Apa yang sebenarnya terjadi selama ini?” tanya Abdi sambil menatap Bellina.

“Ma, Pa ... aku beneran nggak ngelakuin apa-apa,” jawab Bellina lirih.

“Kamu masih nggak mau mengakui kesalahan kamu selama ini?” tanya Mega.

Bellina menggeleng perlahan. “Aku nggak tahu, maksud Mama apa.”

Mega tersenyum sinis. Ia memutar rekaman pembicaraan antara Melan dan Bellina.

“Bel, kamu harus berhasil masuk ke keluarga Wijaya. Hanya ini satu-satunya cara untuk menguasai harta mereka.” Terdengar jelas suara Melan di dalam alat rekaman tersebut.

“Tenang aja, Ma. Aku pasti lakuin apa yang Mama mau. Aku pasti bisa masuk ke keluarga mereka dengan mudah ...”

....

Bellina membelalakkan mata mendengar suara rekaman tersebut. “Itu bukan aku, Ma! Rekaman itu pasti palsu!” serunya.

“Jelas-jelas ini suara kamu dan Melan. Kamu masih mau ngelak lagi?”

“Ma, ini nggak seperti apa yang kalian pikirkan. Aku menikah karena aku sayang sama Lian. Bukan karena uang. Aku nggak pernah ngomong kayak gini. Rekaman ini pasti palsu. Yeriko, pasti sengaja bikin ini semua buat balas dendam.”

“Kamu tahu dari mana kalau rekaman ini dari Yeriko?” tanya Lian.

Bellina langsung gelagapan. Bukankah semua paketan yang dikirim Yeriko bukan atas nama Yeriko sendiri? Bagaimana bisa ia keceplosan menyebut nama Yeriko.

“Bel, lebih baik kamu jujur. Aku akan maafin kamu kalau kamu mau mengakui kesalahan kamu,” tutur Lian.

“Aku beneran nggak ngelakuin itu semua.”

“Istri kamu ini benar-benar penjahat!” tutur Mega. “Dia bahkan sengaja membunuh anak kamu!” seru Mega sambil menatap Lian.

Lian membelalakkan matanya. Ia langsung menatap wajah Bellina. “Bener, Bel?”

Bellina menggelengkan kepalanya. “Aku nggak ngelakuin itu, Li. Semua ini nggak bener!” seru Bellina dengan mata berkaca-kaca.

“Li, kamu udah dibohongi sama perempuan ini!” seru Mega.

“Ma, aku nggak bohong. Aku beneran tulus cinta sama Lian.”

“Kalau kamu tulus sama anak saya, kenapa masih aja kegatelan ngelirik laki-laki lain?”

Bellina menggelengkan kepala. “Nggak, Ma. Aku nggak ada suka sama cowok lain.”

“Halah, alasan! Kamu bunuh anak kamu sendiri, pasti karena kamu simpan laki-laki lain. Kamu ngincar laki-laki yang lebih kaya dari anak saya?”

“Ma, Mama jangan termakan omongan orang lagi. Tuduhan Mama ini nggak berdasar. Bellina nggak mungkin bunuhnya sendiri,” sahut Lian.

“Oh ....kamu masih nggak percaya sama Mama? Kamu mau buktinya?” Mega langsung menyodorkan sebuah tablet yang dikirim oleh Yeriko dan memutar semua rekaman kejahatan Bellina. Bellina yang sengaja mencelakai dirinya dan bayinya untuk memfitnah Yuna. Juga tentang penyerangan yang ia lakukan lewat internet.

Bellina tercengang karena Yeriko benar-benar membuktikan ucapannya. Ia tidak tahu sejak kapan Yeriko mulai menyelidiki tentang dirinya. Bahkan, ia yang sengaja menyiksa dokter Heru pun ada dalam rekaman tersebut.

“Ma, ini nggak sama dengan apa yang terjadi. Aku udah difitnah. Yeriko pasti udah sengaja malsukan rekaman-rekaman ini.” Bellina bersikeras tak mau mengakui perbuatannya.

“Bel ...!” sentak Lian. “Kamu tahu kalau ini semua Yeriko yang ngirim?”

Bellina menganggukkan kepala.

“Jadi, selama ini dia tahu apa yang kamu lakukan di belakang aku? Yeriko sama Yuna masih bersikap baik sama kamu, Bel. Aku nggak tahu iblis apa yang sudah masuk dalam tubuh kamu ini. Tega-teganya kamu mencelakai Yuna terus meneru, juga membunuh anak kita!” seru Lian kesal. Ia tak menyangka kalau Bellina telah membohongi dan mengkhianatinya selama ini.

“Li, aku nggak bunuh anak kita. Semua ini nggak sengaja. Aku nggak mungkin bunuh anak aku sendiri,” sahut Bellina dengan mata berkaca-kaca. Ia tidak tahu bagaimana meyakinkan Lian kalau sebenarnya, ia juga tak sengaja melakukan itu semua.

“Bel, lebih baik kamu jujur sama aku. Apa aja yang udah kamu lakuin di belakang aku? Kamu punya rencana jahat apa lagi?” tanya Lian.

Bellina menggelengkan kepala sambil menangis. “Nggak ada, Li. Aku nggak ngerencanain apa pun. Please, kamu percaya sama aku!”

Mata Lian memerah. Ia sangat kecewa dengan apa yang sudah dilakukan oleh Bellina di belakangnya. Membuatnya meninggalkan seorang wanita sebaik Yuna dan terus-menerus mempercayai kebohongan Bellina.

“Aku nggak nyangka kalau kamu tega ngelakuin ini semua, Bel.” Lian menggeleng-gelengkan kepala sambil meneteskan air mata. “Aku pikir, selama ini kamu tulus sayang sama aku. Aku pikir, nggak ada satu hal pun yang kamu sembunyikan dari aku.”

“Aku tulus sayang sama kamu, Li. Rekaman itu nggak bener.” Bellina meraih lengan Lian.

Lian langsung menepiskan tangan Bellina. Ia merasa sangat bodoh karena selama ini telah dipermainkan oleh Bellina. Ia juga dengan mudah termakan rayuan dan mempercayai ucapan Bellina begitu saja.

“Kamu masih bilang tulus sama aku? Kalau kamu tulus, kenapa kamu bunuh anak kita!?” seru Lian makin histeris.

Bellina menggelengkan kepala. “Aku nggak bunuh anak kita. Yuna yang udah bikin anak kita terbunuh,” jelas Bellina sambil menangis.

“Kamu masih nyalahin Yuna? Jelas-jelas, semua ini karena sikap kamu sendiri! Kalau aja kamu bisa bersikap baik sama Yuna. Semuanya nggak akan jadi seperti ini!” sahut Lian.

Bellina menggelengkan kepala sambil menangis. Ia tetap tidak mau mengakui kesalahannya di depan keluarga Lian. Ia tidak ingin Lian membencinya. Namun, ia juga tidak punya kekuatan untuk membela dirinya sendiri.

“Aargh ...!” teriak Lian sambil menjambak rambutnya sendiri. Di saat ia baru saja ingin belajar menerima Bellina. Ia malah mengetahui sebuah kenyataan kejam ini. “Aku selalu belain kamu, karena aku pikir kamu jauh lebih baik dari Yuna. Jadi, selama ini kamu bohongin aku? Kamu bilang kalau Yuna nggak beneran cinta sama aku. Cuma suka sama harta yang aku punya. Ternyata, justru kamu yang menikah sama aku karena harta.”

“Nggak gitu, Li. Aku beneran cinta sama kamu. Kamu harus percaya sama aku! Aku nggak mungkin menghianati kamu.”

“Terus, kenapa kamu bunuh anak kita?” tanya Lian. Mata merahnya menatap Bellina, menuntut pertanggungjawaban.

Bellina terdiam. Mulutnya tak sanggup mengatakan apa pun. Hanya air matanya yang berderai. Semua kalimat yang ingin ia ungkapkan hanya mampu sampai ke tenggorokan. Tak punya kekuatan untuk keluar dari bibirnya.

“Bahkan dokter pun mengatakan kalau kamu ibu yang sangat kejam,” tutur Mega.

“Nggak, Ma. Aku nggak sengaja bunuh anak aku,” tutur Bellina sambil menangis.

“Nggak sengaja?” Lian menatap tajam ke arah Bellina. “Apa itu artinya kamu memang membunuh dia? Sengaja atau enggak, membunuh tetaplah membunuh!” seru Lian. Ia bangkit dari sofa dan melangkah pergi.

“Li, dengerin dulu penjelasan aku!” pinta Bellina sambil mengejar Lian.

“Nggak ada yang perlu dijelaskan, Bel. Lebih baik, kamu introspeksi diri kamu sendiri. Apa yang sudah kamu lakukan selama ini, benar-benar membuat aku kecewa.” Lian terus melangkah pergi meninggalkan Bellina.

“Li, semua ini nggak seperti yang kamu pikir. Aku bener-bener cinta sama kamu. Aku rela ngelakuin apa pun untuk menebus ini semua. Please, jangan tinggalin aku!” pinta Bellina terus mengejar langkah Lian.

Lian tak peduli lagi. Ia mempercepat langkah kakinya dan segera masuk ke dalam mobil.

“Li,. Lian ...!” seru Bellina sambil mengetuk kaca mobil Lian. “Buka pintunya, Li. Dengerin dulu penjelasan aku!” pinta Bellina.

Lian tetap saja tak ingin mendengarkan apa pun. Baginya, kenyataan yang ia terima hari ini terlalu pahit. Ia ingin menenangkan hatinya. Lari dari rasa bersalah pada masa lalu yang semakin hari semakin dalam.

Bellina terduduk lemas di pekarangan rumah begitu mobil Lian benar-benar meninggalkan dirinya. Ia menangis penuh kesedihan. Ia tidak tahu bagaimana cara mengembalikan semuanya seperti semula. Ia tidak menyangka kalau Lian kini benar-benar meninggalkan dirinya di saat ia baru saja merasakan perhatian yang belum pernah diberikan Lian sebelumnya.

 

  ((Bersambung ...))

 

Terima kasih sudah baca sampai di sini. Dukung terus cerita ini biar aku makin semangat bikin cerita yang lebih seru lagi.

 

 

Much love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 


Perfect Hero Bab 347 : Menghindar

 


“Selamat pagi, Bu!” sapa salah seorang karyawan saat Bellina memasuki lobby kantor Wijaya Group.

“Pagi ...!” balas Bellina sambil tersenyum. Ia melangkah beriringan dengan langkah Lian yang berjalan di sampingnya.

Beberapa pasang mata mulai tertuju pada sepasang suami istri pemilik perusahaan tersebut.

“Eh, itu Bu Belli kan?” tanya salah seorang karyawan yang melihat dari kejauhan.

“Iya. Katanya, dia sekarang masuk kerja di perusahaan lagi.”

“Dia sempat berhenti kerja karena hamil. Udah melahirkan ya?”

“Katanya sih keguguran.”

“Hah!? Serius?”

“Iya.”

“Jadi, sekarang dia kerja di kantor utama? Bukan di kantor cabang lagi?”

“Aku denger sih gitu.”

“Hmm ... pasti bakal seru kalau si Yuna ada di sini juga.”

“Ah, kamu ini ... malah senang lihat orang berantem.”

“Huft, perseteruan antar saudara memang yang paling seru untuk dinikmati. Apalagi, sumbernya itu berawal dari cinta ...”

“Hahaha.”

“Eh, tapi ... ngerasa ada yang beda atau nggak sih dari sebelumnya?”

“Beda gimana?”

“Pak Bos sama istrinya kelihatan mesra banget. Nggak kayak biasanya.”

“Iya, juga sih. Bu Belli yang biasanya dateng dengan muka cemberut, sekarang nebar senyuman ke mana-mana.”

“Baguslah. Kita nggak perlu jadi korban kekesalan dia.”

“Hehehe. Iya juga, sih.”

Semua karyawan mulai membicarakan kehadiran Bellina sebagai Nyonya Bos di perusahaan tersebut. Terlebih, Bellina akan menangani secara langsung Divisi Personalia. Membuat banyak karyawan mulai khawatir dengan sikap Bellina yang kejam dan suka menindas karyawan di bawahnya.

Di ruangannya, Bellina terus tersenyum. Akhirnya, ia bisa bekerja di satu kantor bersama Lian.

“Akhirnya, aku bisa kerja di kantor utama juga,” ucap Bellina sambil tersenyum senang.

Sebelumnya, Lian membiarkan dirinya bekerja di kantor anak perusahaan Wijaya Group. Membuatnya selalu khawatir karena Lian lebih memilih Yuna bekerja di kantornya.

“Permisi, Bu!” sapa salah seorang karyawan sambil masuk ke ruang kerja Bellina.

“Ya.”

“Ini beberapa dokumen yang membutuhkan verifikasi dari ibu.”

“Oke. Taruh aja di atas meja sini!” perintah Bellina.

Karyawan tersebut mengangguk. Ia mengikuti perintah Bellina. Kemudian, bergegas keluar dari ruangan tersebut.

Bellina mulai bekerja seperti biasa. Kesibukannya kali ini benar-benar membuat dirinya bisa melupakan semua masalah yang sedang ia hadapi.

Waktu terus berjalan. Hingga sore hari, Bellina enggan beranjak dari ruang kerjanya. Terlalu banyak hal yang harus ia hadapi dan enggan kembali ke rumah keluarga Wijaya.

“Bel, belum mau pulang?” Lian tiba-tiba sudah berdiri di depan meja kerja Bellina.

“Aku masih banyak kerjaan.” Bellina mencoba mengalihkan perhatiannya ke layar komputer yang ada di depannya.

“Ini hari pertama kamu masuk kerja.  Apa sudah sesibuk ini?”

Bellina menganggukkan kepala.

Lian menatap wajah Bellina. Ia bisa mengerti kalau Bellina sengaja menyibukkan diri agar tidak kembali ke rumah keluarganya secepatnya.

“Aku mau ajak kamu makan bareng di luar. Mau?”

Bellina langsung menoleh ke arah Lian. “Sekarang?” tanyanya dengan mata berbinar.

Lian menganggukkan kepala.

“Oke.” Bellina tersenyum senang. Ia segera mematikan komputer dan bergegas keluar dari ruangannya bersama Lian.

 

Beberapa menit kemudian ...

Bellina dan Lian sudah ada di salah satu restoran Perancis yang ada di pusat kota.

“Bel, tadi mamaku telepon. Dia minta kita ke sana, malam ini,” tutur Lian di sela-sela menikmati makanan yang sudah terhidang di mejanya.

“Malam ini?” Bellina melebarkan kelopak matanya.

Lian menganggukkan kepala.

“Besok aja, gimana?” tanya Bellina.

“Mama minta harus malam ini.”

“Hmm, oke.”

Lian tersenyum menatap wajah Bellina. Ia harap, hubungannya dengan Bellina bisa membaik dan harmonis seperti dulu. Ia ingin belajar mencintai apa yang sudah ia miliki saat ini.

Bellina sengaja memperlambat makannya. Ia bahkan memesan beberapa makanan lagi agar ia bisa lebih lama berada di restoran tersebut bersama Lian.

Lian bisa mengerti mengapa Bellina merasa berat untuk kembali ke rumah keluarganya. Sebab, Bellina seringkali bertengkar dengan mamanya dan membuat suasana hati Bellina semakin memburuk. Ia hanya bisa menunggu Bellina dengan sabar.

Usai makan malam bersama. Lian langsung mengajak Bellina pergi ke rumah keluarga Wijaya.

“Li, kamu nggak mau ajak aku jalan dulu?” tanya Bellina saat mereka dalam perjalanan.

“Ke mana?”

“Ke mall atau ke bar gitu?”

“Mama udah nyuruh kita cepet pulang. Jalan-jalannya diganti besok aja, ya?”

“Hmm ... oke.” Bellina meremas tali safety belt yang melingkar di dadanya. Ia benar-benar tak tahu apa yang harus ia lakukan sekarang untuk menghindari pertengkaran dengan mama mertuanya.

Lian tersenyum. Ia bergegas melajukan mobilnya menuju rumah orang tuanya.

“Bel, ayo turun!” ajak Lian begitu ia memarkirkan mobilnya tepat di halaman rumah.

Bellina masih bergeming. Ia menggigit bibir sambil meremas tali safety belt. “Kalau Mama Mega marah lagi sama aku, gimana?”

“Tenang aja. Ada aku. Semua akan baik-baik aja.”

Bellina mengangguk pelan. Ia melepas safety belt perlahan. Entah kenapa, ia tidak punya keberanian berhadapan dengan mertuanya. Ia harap, setelah membuka pintu mobil, ia terbangun dari mimpi.

Sayangnya, khayalan Bellina tidak menjadi kenyataan. Ia keluar dari mobil. Menatap rumah besar keluarga Wijaya.

Lian menggenggam tangan Bellina dan mengajaknya masuk ke dalam rumah tersebut.

Bellina menahan napas berkali-kali sambil melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah itu.

Lian dengan santai masuk ke dalam rumah. Sementara, Mega dan Abdi sudah menunggu kedatangan mereka.

Mega menatap Bellina sambil menahan amarah hingga tubuhnya bergetar. Ia benar-benar membenci semua hal yang telah dilakukan Bellina di belakangnya, membuat keluarga Wijaya sangat malu.

“Akhirnya, kalian datang juga. Udah jam berapa ini?” sapa Mega.

“Masih makan di luar, Ma.” Lian menjawab santai.

“Mama udah minta kamu datang ke rumah ini sejak tadi sore. Kenapa jam sembilan malam baru muncul?” tanya Mega.

“Kami masih makan dulu, Ma. Tadi udah aku jawab,” jawab Lian.

“Kenapa nggak makan malam di sini? Malah di luar? Kalian sengaja mau menghindari kami?” tanya Mega lagi.

Bellina tak menjawab. Ia hanya menundukkan kepala di samping Lian.

“Kami nggak menghindar. Aku sudah terlanjur reservasi sejak siang tadi,” jawab Lian.

“Kamu sekarang sudah pintar beralasan, hah!?”

“Ma, ini kenyataan. Bukan alasan,” sahut Lian.

“Kamu pikir Mama nggak tahu. Pasti dia udah pengaruhi kamu supaya nggak datang ke sini, kan?” tanya Mega sambil menunjuk Bellina.

“Nggak ada hubungannya sama dia. Aku yang ngajak dia makan di luar.”

“Kamu sekarang bener-bener udah terpengaruh sama lintah satu ini!” dengus Mega kesal.

“Ma, Mama terlalu berlebihan. Cuma karena masalah sepele, Mama selalu ngajak Belli berantem. Dia juga sedih karena kehilangan anaknya. Mama seharusnya bisa mengerti posisi Bellina saat ini.”

“Dia yang seharusnya ngerti posisinya dia di keluarga kita!” seru Mega.

“Maksud Mama?” Lian makin kesal dengan ucapan mamanya.

“Duduk dulu!” pinta Abdi sambil menatap Lian.

“Pa ...!”

“Papa minta, kalian duduk dulu! Ada hal yang harus kalian jelaskan pada kami.”

Lian menatap wajah papanya. Akhirnya, ia mengajak Bellina untuk duduk di ruang tamu. Berhadapan langsung dengan orang tuanya.

Bellina menatap wajah mertuanya sambil meremas ujung bajunya.

“Bel, kamu jelasin sama Mama soal alasan kamu masuk ke keluarga ini!” pinta Mega. “Kamu nggak beneran sayang sama anak saya?”

Bellina langsung menggelengkan kepalanya. “Aku sayang sama Lian, Ma.”

“Bohong!” sahut Mega sambil memukul meja yang ada di depannya.

Bellina terdiam. Ia mulai gelisah dengan pertanyaan Mega. Satu hal yang ia lupa hari ini. Ia tidak memeriksa paketan yang dikirim ke kantor Wijaya Group atau pun ke rumah besar keluarga Wijaya. Ia curiga kalau mama mertuanya sudah menerima rekaman-rekaman yang ada di tangan Yeriko. Kini, ia tidak tahu harus bagaimana untuk menyelamatkan dirinya sendiri. Ia hanya berharap, Lian akan mempercayai ucapannya saja. Bukan mempercayai hasil rekaman yang dikumpulkan oleh Yeriko.

 

  ((Bersambung ...))

 

Terima kasih sudah baca sampai di sini. Dukung terus cerita ini biar aku makin semangat bikin cerita yang lebih seru lagi.

 

 

Much love,

@vellanine.tjahjadi

 

Perfect Hero Bab 346 : We are the One

 


Yuna meringis sambil menutupi pergelangan tangan dengan telapak tangan satunya. Ia terlalu terburu-buru mengambil air panas di dapur hingga mengenai tangannya sendiri.

“Kamu kenapa?” tanya Yeriko sambil menatap wajah Yuna. Ia langsung meraih tangan Yuna. “Buka!” perintahnya saat Yuna semakin menekan kuat genggamannya.

Yuna melonggarkan genggamannya perlahan. Tanda kemerahan di lengannya cukup lebar dan berhasil membuat Yeriko panik.

“Ikut aku!” Yeriko langsung mengajak Yuna ke dapur.

“Kenapa nggak hati-hati, sih!?”

“Buru-buru.” Yuna menggigit bibirnya.

Yeriko langsung mengambil garam dapur. Menumpahkan di telapak tangannya dan langsung menggosok perlahan pergelangan tangan Yuna yang memerah.

“Kenapa pakai garam?” tanya Yuna mengerutkan dahi.

“Sebelum melepuh. Pakai garam ini bisa mencegah peradangan di kulit.”

“Oh ya? Aku baru tahu. Biasanya, kalo kena panas aku kasih air atau pasta gigi.”

“Nggak ada salep luka bakar di sini. Cuma ini cara yang bisa aku lakuin supaya tangan kamu nggak melepuh dan berbekas. Harus cepat dikasih garam sebelum kulit mengalami peradangan. Kalau kena benda panas, jangan langsung dikasih pertolongan dengan benda yang dingin. Kulit akan mengalami peradangan dan bisa melepuh. Semoga, cara ini berhasil,” jelas Yeriko sambil terus melumuri pergelangan tangan Yuna menggunakan garam.

Yuna terus memerhatikan wajah Yeriko dengan seksama. Ia benar-benar tak menyangka kalau suaminya itu masih begitu perhatian terhadap dirinya. “Kenapa kamu masih perhatian banget sama aku?” tanya Yuna lirih.

“Karena kamu istri aku dan aku sayang sama kamu,” jawab Yeriko sambil meniup perlahan pergelangan tangan Yuna.

Yuna tersenyum. Matanya tak berkedip menatap Yeriko. “Kata orang ... setelah menikah, laki-laki nggak akan begitu memperhatikan istrinya. Mereka jauh lebih sayang dan perhatian sebelum menikah.”

“Apa bedanya sebelum dan sesudah?” tanya Yeriko.

Yuna menggelengkan kepala. “Mungkin, karena sudah berhasil mendapatkan wanita yang mereka inginkan sepenuhnya.”

Yeriko menatap wajah Yuna. “Sebelum atau sesudah menikah. Bagiku sama aja. Kamu tetaplah Fristy Ayuna, wanita yang aku cintai dan harus aku lindungi. Sampai dunia ini kiamat ... aku cuma ada satu, begitu juga dengan kamu.  Aku dan kamu ... sekarang jadi satu kata. Yaitu, kita.”

Yuna ingin berteriak sekuat-kuatnya saat mendengar ucapan Yeriko. Teriakan itu hanya ia keluarkan dalam hati hingga membuat seluruh wajahnya tersenyum.

“Yun, kita adalah satu. Satu hal yang nggak akan bisa tergantikan oleh apa pun di dunia ini. Jika satu dari kita menghilang, maka hanya tersisa separuh. Maka, kita harus sama-sama menjaga separuh hati kita. Merawatnya, mencintainya dan melindungi separuh hati kita dengan sepenuh hati.”

Yuna tersenyum  sambil menganggukkan kepala. Ia tak pernah bisa membalas setiap ucapan-ucapan manis yang keluar dari mulut Yeriko. Ia tak pandai merangkai kata. Bicara asal-salan. Bahkan, ia lebih sering bercanda saat Yeriko mengajaknya membicarakan hal yang serius.

“Yun ... Yuna ...!” Yeriko melambaikan tangannya di depan wajah Yuna. “Kenapa bengong?”

Yuna gelagapan menanggapi pertanyaan Yeriko. “Aku bukan bengong. Aku nggak tahu harus jawab apa.”

“Aku nggak minta jawaban. Itu pernyataan, bukan pertanyaan!” tegas Yeriko.

Yuna tersenyum. “Jadi?”

“Kamu cukup jadi istri yang penurut!” pinta Yeriko sambil mencubit hidung Yuna.

“Baiklah.” Yuna mengangguk-anggukkan kepala.

“Cuci lenganmu!” perintah Yeriko.

“Sudah boleh?”

Yeriko menganggukkan kepala. Ia mencuci tangannya terlebih dahulu. Kemudian melangkah pergi menghampiri Adjie yang masih duduk di sofa.

“Yah, nggak usah khawatir! Yuna, sekarang baik-baik aja. Aku akan berusaha melindungi kalian,” tutur Yeriko.

Adjie menoleh ke arah Yeriko. Ia menatap pria itu penuh harap. Ia mengangguk-anggukkan kepalanya. “Ayah percaya sama kamu.”

Yeriko mengangguk pasti. Ia tidak ingin semua orang saling mengkhawatirkan. “Jangan sampai Yuna mengkhawatirkan Ayah dan membuat janin di perutnya ikut tersakiti!” bisik Yeriko.

Adjie menghela napas sejenak. “Kamu benar. Seharusnya, Ayah bisa bersikap lebih tenang. Ayah hanya ... masih tidak percaya kalau Yuna benar-benar mendapatkan perlakuan buruk dari saudaranya sendiri.”

“Ayah nggak perlu khawatir sama aku. Aku udah terbiasa. Udah kebal,” tutur Yuna sambil meringis.

Adjie tersenyum menatap puterinya. Ia tahu, semakin ia mengkhawatirkan puterinya, Yuna akan semakin khawatir dengannya.

Yeriko merasa tidak nyaman karena suasana menjadi canggung. “Hmm ... sekarang sudah masuk bulan Agustus. Peringatan hari kemerdekaan sebentar lagi. Kamu punya ide?” tanya Yeriko menatap wajah Yuna.

“Ide apa?”

“Ide merayakan hari jadi negara.”

“Bukannya kamu yang keluarga militer. Pastinya, lebih banyak ide buat ngerayain hari ulang tahun negara.”

Yeriko memutar lidah di dalam mulutnya sendiri. Sebenarnya, ia hanya ingin mengembalikan suasana kebersamaan mereka agar tidak canggung. “Kami selalu membuat perayaan khusus untuk merayakannya. Aku mau dengar ide dari kamu.”

“Aku? Aku mau lomba lari dari kenyataan. Hahaha.”

“Serius, Yun!” pinta Yeriko lembut.

“Hehehe. Emangnya, mau buat acara di mana? Di kantor?”

“Di kantor udah ada yang urus. Buat kita.”

“Kita? Maksudnya, aku sama kamu?”

Yeriko menganggukkan kepala. “Sama yang lain juga.”

“Oh. Aku ngerti.” Yuna mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Gimana?” tanya Yeriko lagi.

“Mmh ... aku ikut aja. Biasanya, kamu bikin lomba apa?”

“Biasanya ... lomba memanah, gebuk bantal, makan kerupuk ... yah, gitu-gitu. Yang udah biasa dilakukan pada umumnya.”

“Ya udah. Kayak biasanya aja!”

“Nggak ada ide lain buat aku?”

“Mmh ... belum ada. Nanti, kalo sudah ada. Aku kasih tahu.”

Yeriko tertawa kecil sambil mengelus ujung kepala Yuna.

“Ayah ikut ya!” pinta Yuna.

Adjie tertawa kecil. “Ayah sudah tua. Mana bisa ikut lomba.”

“Nonton aja, Yah. Aku juga lagi hamil. Nggak bisa ikutan lomba-lomba gitu. Ayah temenin aku ya!” pinta Yuna.

“Kalian saja. Ayah nggak mau ganggu kebahagiaan kalian.”

Yeriko dan Yuna saling pandang. Kemudian sama-sama menatap ayahnya.

“Kenapa?” tanya Adjie saat mendapati tatapan mata Yuna dan Yeriko menodong ke arahnya.

“Sejak kapan kami bilang kalau Ayah mengganggu kebahagiaan kami?” tanya Yuna.

“Yun. Ayah ini sudah tua. Rasanya, sungkan kalau harus bergabung dengan kalian yang masih muda. Seharusnya, kalian bisa bebas melakukan apa pun sesuai dengan usia kalian. Lebih baik, ayah di rumah saja main catur.”

“Main catur sama siapa?” tanya Yuna.

“Eh!? Bisa main catur sama Rudi.”

“Ayah masih mau terima dia masuk ke rumah ini?” dengus Yuna.

“Rudi nggak pernah berbuat jahat pada Ayah. Ayah nggak punya alasan untuk menolak orang-orang yang datang ke rumah ini dan bersikap baik.”

Yuna memonyongkan bibirnya.

Yeriko melirik papan catur yang tergeletak di bawah meja. “Hmm, gimana kalau kita hari ini main catur?” tanya Yeriko sambil meraih papan catur tersebut dan meletakkannya di atas meja. “Kalau Ayah kalah, harus ikut kami. Gimana?”

Adjie tertawa kecil. “Oke.” Ia mengangguk-anggukkan kepala.

“Kamu yakin?” tanya Yeriko berbisik.

Yeriko mengangguk. Ia dan Adjie mulai bermain catur bersama. Sementara, Yuna bergelayut manja di pundak Yeriko.

“Yah, kakek juga suka main catur. Pasti, kalau kalian bertemu akan sangat cocok.”

“Oh ya?” Adjie tertawa kecil. “Kalau gitu, Ayah akan bawa papan catur ini saat bertemu sama beliau.”

Yeriko tertawa kecil. Sementara Yuna yang tidak mengerti bagaimana bermain catur, hanya bisa menunggunya hingga menguap beberapa kali.

Yeriko langsung meletakkan kepala Yuna di pangkuannya saat istrinya itu benar-benar terlelap.

“Mau dipindahin ke kamar saja?” tanya Adjie berbisik.

Yeriko menggelengkan kepala. “Biarkan di sini saja,” jawabnya ikut berbisik sambil mengelus lembut pipi Yuna. Ia terus tersenyum menatap wajah cantik istrinya itu.

“Baiklah.” Adjie manggut-manggut. Ia menjalankan salah satu kuda miliknya dan ...

SKAK MAT!

Yeriko membelalakkan matanya. Ia menertawakan dirinya sendiri sambil menepuk dahi.

“Kamu sengaja mengalah sama Ayah?” tanya Adjie.

Yeriko menggelengkan kepala. “Aku kurang konsen.”

“Wanita memang sangat mengganggu konsentrasi,” celetuk Adjie menggoda.

“Ah, Ayah bisa aja.”

Mereka tertawa bersama dan kembali melanjutkan permainan untuk mengisi waktu luang mereka, sementara Yuna terlelap di tengah-tengah dua pria yang mencintainya sepenuh hati.

 

  ((Bersambung ...))

 

Terima kasih sudah baca sampai di sini. Dukung terus cerita ini biar aku makin semangat bikin cerita yang lebih seru lagi.

 

 

Much love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

 

 

Perfect Hero Bab 345 : Melawan Melan

 


Yuna meletakkan secangkir teh panas ke hadapan Melan dengan kesal.

Adjie memerhatikan sikap Yuna yang tidak ingin berdamai dengan tantenya sendiri.

Yuna duduk di samping ayahnya, tepat di hadapan Melan. “Mau apa ke sini?” tanya Yuna ketus.

“Yun, nggak baik bersikap seperti itu sama orang tua!” tegur Adjie dengan lembut.

“Ayah nggak usah bersikap baik sama dia!” pinta Yuna. “Nggak lama, sifat aslinya dia bakal keluar.”

Melan sangat kesal mendapat sambutan buruk dari Yuna. Ia memaksa bibirnya untuk tersenyum demi mengambil perhatian semua orang.

“Kak Adjie, sebenarnya aku ke sini karena ada perlu sama Yuna dan suaminya. Tadi, aku sudah ke rumah mereka. Pembantu mereka bilang kalau mereka ada di sini. Jadi, aku langsung nyusul ke sini.”

“Kenapa Tante cari aku? Mau pura-pura minta maaf, terus jebak aku lagi?” tanya Yuna ketus.

Melan langsung membelalakkan matanya. Sikap dan perkataan Yuna berhasil menyulut emosinya dengan mudah. “Yun, Tante ke sini dengan niat baik. Kenapa kamu malah bersikap buruk sama Tante dan menuduh Tante sembarangan!”

“Tante lupa kapan terakhir kali minta maaf sama aku?” tanya Yuna ketus. “Tante hampir aja bikin aku masuk penjara!”

Melan terdiam. “Tante tahu, itu semua memang kesalahan Bellina. Makanya, hari ini Tante datang untuk minta maaf atas nama Bellina.”

“Minta maaf? Kemarin Oom, sekarang Tante. Kalo emang mau minta maaf, kenapa nggak Bellina yang datang sendiri ke sini?”

“Yun, Bellina itu masih sangat muda. Emosinya tidak stabil. Dia nggak mikir dulu kalau ngomong. Tante harap, kalian bisa memaklumi dan memaafkan Bellina.”

“Masih sangat muda? Oh ya? Bellina lahir seminggu lebih dulu daripada aku. Walau dalam urutan keluarga dia masih adikku. Usia dia hampir sama, sama aku. Apa cuma dia yang bisa ditolerir kesalahannya, sementara aku nggak?” sahut Yuna kesal.

“Kamu!?” Melan mulai geram dengan pertanyaan-pertanyaan Yuna. Bukan, itu bukan pertanyaan, tapi serangan untuknya. Ia menatap Yeriko yang hanya tersenyum lima puluh persen.Sementara, Adjie hanya mendengarkan ucapan puterinya tanpa ada keinginan untuk mencegahnya.

Yuna tersenyum  menatap Melan. Banyak hal yang sudah ia lalui. Semuanya membuat Yuna merasa kalau Melan dan keluarganya itu tidak akan pernah tulus meminta maaf kepada dirinya.

“Yuna, Tante bener-bener minta maaf atas semua kesalahan yang dilakukan Bellina. Tuan Ye, tolong maafkan kami dan lepaskan Bellina!” pinta Melan. Ia bangkit dari sofa sambil membungkukkan badannya di hadapan Yuna dan Yeriko.

Yuna tersenyum  sinis. Ia sangat mengetahui sifat tantenya. Ia tidak mungkin membungkuk dan berlutut di depan orang lain hanya untuk meminta maaf atas kesalahannya sendiri. Gengsi tantenya itu terlalu besar. Jika ia melakukannya dengan mudah, sudah pasti ada maksud tertentu di baliknya.

“Tante akan menjamin kalau Bellina tidak akan melakukan kesalahan dan mengganggu hidup kalian lagi. Tante mohon, maafkan dan lepaskan Bellina!”

Yuna menoleh ke arah Yeriko yang berdiri di sampingnya. Ia tidak tahu apa yang telah diperbuat suaminya hingga membuat tantenya datang untuk meminta maaf. Membungkuk di hadapannya tanpa diminta.

Yeriko menggelengkan kepala.

Melan melebarkan matanya menatap Yeriko. “Yeriko, kita masih keluarga. Tolong berikan maaf untuk Bellina dan lepaskan dia!” pinta Melan.

“Bellina bersalah sama istriku. Yang berhak memberikan maaf cuma Yuna. Yang seharusnya meminta maaf juga Bellina. Kalau dia memang ingin mengakui kesalahannya,” tegas Yeriko.

“Yer, Bellina masih sangat muda. Dia butuh masa depan yang baik. Tolong, jangan hancurkan hidup dia! Tante mohon sekali lagi, maafkan dan lepaskan dia!”

Yeriko tersenyum sinis. “Aku nggak akan ngelepasin dia sekalipun dia berlutut di hadapanku saat ini!”

Melan menatap wajah Yuna dan Yeriko penuh kebencian. Ia sudah berkorban merendahkan dirinya sendiri, namun tetap saja mendapatkan penolakan. Ia merasa kalau pengorbanannya sia-sia saja.

“Oke, kalau kalian emang nggak mau memaafkan dan melepaskan Bellina. Aku bakal ngelawan kalian sampai titik darah penghabisan!” tutur Melan kesal.

Yeriko tertawa kecil. “Tante nggak perlu melawan kami. Kami nggak akan menyentuh kalian sejengkal pun dan nggak butuh perlawanan dari kalian!”

Melan menatap sengit ke arah Yeriko. “Hentikan ancaman-ancaman kamu ke Bellina!” pintanya.

“Ancaman apa?”

“Kamu yang ngirim rekaman-rekaman itu ke keluarga Wijaya untuk menghancurkan Bellina ‘kan?”

“Rekaman apa?” tanya Yeriko santai.

“Rekaman soal kejahatan Bellina.”

“Hahaha.” Yuna tergelak mendengar ucapan Melan.

“Kenapa kamu ketawa?” Melan mendelik ke arah Yuna.

“Tante mengakui kalau Bellina sudah melakukan kejahatan?”

“Kamu!?”

Yuna tertawa kecil. “Tante, Bellina yang udah ngebunuh anaknya sendiri. Dia sengaja manfaatin aku buat menutupi kesalahan dan kejahatan dia selama ini. Aku dituduh sebagai pembunuh. Melakukan perbuatan keji yang nggak pernah aku lakukan. Tante pikir, kami akan ngelepasin Bellina gitu aja?”

“Jadi, selama ini kamu sudah bersikap tidak adil terhadap anak saya?” tanya Adjie sambil menatap Melan. “Saya sudah salah menilai kalian. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana hari-hari anak saya saat tinggal bersama kalian.”

“Kak Adjie, ini nggak seperti yang dia katakan. Semua ini cuma salah paham,” tutur Melan.

“Di saat seperti ini, Tante masih aja berbohong untuk membela diri sendiri.” Yuna tersenyum ke arah Melan. “Aku jadi pengen tahu, gimana reaksi keluarga Wijaya kalau tahu, mereka sedang dipermainkan.”

Melan membelalakkan matanya menatap Yuna.

“Kenapa, Tante?” tanya Yuna menghadapi tatapan Melan. “Takut kalau Bellina dibuang dari keluarga Wijaya?”

 “Kalian!? Berani-beraninya mengancam kami!?” seru Melan makin kesal.

Yuna tersenyum kecil. “Suatu saat, Bellina akan menyadari kalau dia cuma dijadikan alat untuk mendapatkan banyak uang. Aku masih nggak ngerti kenapa ada seorang ibu yang tega menjual harga diri anaknya sendiri.”

“Kamu jangan ngomong sembarangan ya!” sentak Melan.

“Aku nggak ngomong sembarangan. Yeriko saksinya. Tante yang udah jual aku ke direktur tua bangka itu. Tante nggak ada bedanya sama germo.”

Adjie membelalakkan matanya mendengar ucapan Yuna. Ia kini mulai mengerti bagaimana adik iparnya itu memperlakukan Yuna dengan keji. “Kamu tega menjual anak saya demi uang!?” sentak Adjie.

Tubuh Melan gemetaran mendapati bentakkan dari Adjie. Ia hanya menundukkan kepala. Mulutnya bergetar seolah berada dalam ruang pendingin bersuhu minus lima derajat.

“JAWAB SAYA!” sentak Adjie.

Melan meremas jemari tangannya sendiri. “Ka ... ka ... karena ... kami butuh uang banyak untuk biaya pengobatan kamu.”

Tubuh Adjie melemas mendengar ucapan Melan. Ia menoleh ke arah Yuna yang duduk di sampingnya. Begitu banyak penderitaan yang dihadapi puterinya. Keluarga satu-satunya yang ia percaya akan selalu mengayomi puterinya, justru menjadi sebilah pisau yang terus menerus melukai Yuna.

“Mel, aku udah kasih semua yang kalian mau!” seru Adjie menitikan air mata. “Saham perusahaan sudah ada di tangan kalian. Bahkan, Yuna juga seharusnya menjadi pemilik saham di perusahaan itu. Kenapa kalian memperlakukan anakku dengan tidak adil setelah apa yang kalian dapatkan?”

Melan terdiam. Ia tak bisa berkata-kata. Ia sangat tahu bagaimana saham Adjie berpindah seluruhnya ke tangan suaminya.

Adjie meratap pilu. Ia merasa hatinya sangat sakit saat mengetahui kalau selama ini puterinya mendapatkan begitu banyak penderitaan.

Yuna sangat kesal karena Melan membuat perasaan ayahnya sangat buruk. Ia bangkit dan bergegas menuju dapur.

Melan menarik napas dalam-dalam. “Tolong maafkan kami dan lepaskan Bellina!” pintanya lagi.

Yuna kembali menghampiri Melan sambil tersenyum lebar. Di tangannya masing-masing memegang cangkir berisi air.

Melan menatap wajah Yuna, ia balas tersenyum pada Yuna yang berdiri tak jauh di hadapannya. Ia berpikir kalau Yuna akan memaafkan dan melepaskan puterinya. Ia memperbaiki posisi duduknya dan siap meminta maaf kembali pada Yuna.

“Tante, lebih baik pergi dari sini!” seru Yuna sambil menyiramkan air dingin yang ada di tangannya ke wajah Melan.

Melan langsung membuka mulutnya lebar-lebar saat air dingin membasahi kepala dan gaunnya yang terlihat mahal. “Kamu!?” Ia mendelik kesal ke arah Yuna.

Yuna tersenyum kecil. Ia masih memegang satu cangkir di tangannya.

Melan menyadari kalau Yuna membawa air panas dalam cangkir tersebut, sebab asap masih mengepul di atasnya.

Yuna langsung melayangkan tangannya ke arah Melan. Membuat Melan spontan melindungi wajah menggunakan tangannya.

“Kalo nggak pergi sekarang juga, aku bakal siram air yang lebih banyak lagi!” sentak Yuna.

Melan meringis saat melihat lengannya memerah terkena cipratan air panas yang disiramkan oleh Yuna. Ia meraih tas tangannya dan bangkit dari sofa.

Tatapan Adjie dan Yeriko, membuat dirinya sangat ketakutan. Ia berlari keluar dari rumah aji dengan tubuh gemetaran. Ia tak menyangka kalau Yuna berani menyerangnya. 

 

  ((Bersambung ...))

 

Terima kasih sudah baca sampai di sini. Dukung terus cerita ini biar aku makin semangat bikin cerita yang lebih seru lagi.

 

 

Much love,

@vellanine.tjahjadi

 

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas