Tuesday, February 3, 2026

Perfect Hero Bab 314 : Menantu Sialan

 


“Yer, semalam aku denger dari Jheni kalau ada video viral lagi soal Yuna?” tanya Chandra. Ia dan Lutfi tiba-tiba sudah ada di depan meja kerja Yeriko.

Yeriko menatap kedua sahabatnya itu sejenak. “Lagi diselidiki sama Riyan.”

“Bukan Deny lagi?” tanya Chandra.

Yeriko menggelengkan kepala. “Deny nggak mungkin punya foto-foto kecil Yuna. Yuna nggak pernah main medsos. Apalagi sampai ekspose foto-foto pribadi dia.”

“Hmm ….bener juga, sih. Kakak Ipar lumayan tertutup dari publik. Kalau dia mau jadi selebgram, pasti laku banget. Dia cantik, pintar dan baik hati. Nggak jadi artis aja hidupnya disorot banget. Apalagi jadi artis. Kayaknya cocok kalau endorse villaku,” cerocos Lutfi.

Yeriko langsung melempar Lutfi menggunakan pena yang ada di tangannya. “Kamu masih aja pengen istriku jadi selebgram?” dengusnya kesal.

“Dia cantik Yer. Bisa dimanfaatkan,” ucap Lutfi terkekeh.

“Icha aja nggak kamu ekspose ke media. Malah mau manfaatin istriku?”

“Icha itu terlalu sempurna buat aku pamerkan.”

“Halah, alasan!” sahut Chandra sambil menoyor kepala Lutfi.

“Serius, Chan. Kalo sampe Icha terekspose media, aku kan nggak bebas pacaran sama dia. Ke mana-mana diikutin paparazi.”

“Kamu mesra-mesraan di media sama banyak selebgram, nggak takut sama paparazi. Alasan aja!” sahut Chandra.

“Aargh, sudah, sudah! Nggak usah bahas aku sama Icha!” pinta Lutfi. “Kita ke sini mau bantu Kakak Ipar.”

Yeriko menatap tajam ke arah Lutfi. “Video itu lagi ditangani sama Riyan. Aku masih punya banyak waktu buat interogasi kamu.”

Lutfi mengerutkan dahinya. “Aku? Aku kenapa?”

“Kamu sama Icha, sebenarnya pacaran atau nggak?”

“Pacaran.”

“Kontrak?”

Lutfi menggelengkan kepala.

“Yuna udah cerita ke aku. Icha sendiri yang ngomong kalau hubungan kalian cuma kontrak.”

“Ck, aku suka beneran sama Icha. Tapi, dia itu nggak percaya sama aku karena aku deket sama banyak cewek. Kami putus. Aku ngajuin hubungan kontrak ke dia supaya kami bisa sama-sama lagi. Kebetulan, dia lagi ada masalah dan aku cuma manfaatin momen aja, Yer,” jelas Lutfi.

“Tapi, nggak kontrak juga kali, Lut. Kayak gitu, bikin Icha ngerasa kalo kamu emang gak cinta sama dia.”

“Bodo amat!” sahut Lutfi. “Aku nggak peduli gimana cara dia lihat aku. Aku cuma mau dia nggak pergi dari aku. Itu aja!”

“Caramu nggak gitu, Lut!” sahut Chandra.

“Heh!? Aku yang paling tahu hubunganku kayak gimana. Hubungan kamu sama Jheni aja masih nggak jelas. Nggak usah sok nyeramahin aku!”

“Setidaknya, aku bisa menghargai Jheni sebagai wanita.”

“Aku udah hargai Icha. Dia nggak keberatan jadi pacar kontrak, kalo kontraknya udah habis, bisa pacaran beneran lagi. Kenapa kamu yang sewot?” sahut Lutfi kesal.

“Heh, kenapa kalian jadi berantem?” tanya Yeriko sambil menatap Lutfi dan Chandra bergantian.

Chandra terdiam. Ia melangkahkan kakinya menuju sofa yang tak jauh dari meja kerja Yeriko.

“Terserah gimana cara kalian mencintai wanita kalian masing-masing!” tutur Yeriko. “Jangan berantem cuma karena cara yang kalian gunakan berbeda!” pintanya.

“Tuh, dengerin!” dengus Lutfi sambil menatap Chandra.

Chandra mengangkat vas bunga yang ada di atas meja dan bersiap melemparkannya ke arah Lutfi.

“Weits, nggak boleh pake kekerasan!” pinta Lutfi sambil menghampiri Chandra. Ia langsung merangkul sahabatnya itu. “Kenapa sensitif banget? Nggak dapet jatah dari Jheni?” bisik Lutfi.

Chandra langsung menyikut perut Lutfi.

“Aw ...!” seru Lutfi. Ia terkekeh sambil menatap wajah Chandra.

Yeriko tersenyum, ia melangkah menghampiri kedua sahabatnya dan mulai berdiskusi untuk menghadapi orang yang sedang berusaha merusak reputasi keluarganya.

 

...

 

-Rumah keluarga Wijaya-

 

“Dari mana?” tanya Mega yang sudah menghadang Bellina di pintu rumahnya.

“Dari luar.”

“Kenapa pake baju seksi banget kayak gini? Kamu ada main sama laki-laki lain?” tanya Mega.

“Mama nggak usah berpikir macam-macam. Aku jalan sama mamaku sendiri.”

“Kalo jalan sama mama kamu. Apa harus pakai pakaian seseksi ini? Kamu pergi tanpa suami kamu. Seharusnya, tidak menggunakan pakaian kayak gini. Biar laki-laki lain tergoda lihat kamu?”

Bellina terdiam. Ia sangat kesal mendapati pertanyaan mama mertuanya. “Kenapa Mama curigaan banget sama aku?”

“Gimana nggak curiga kalau kamu selalu aja keluar setiap hari. Nggak jelas perginya ke mana. Pulang sampai malam. Suami kamu sibuk kerja, kamu malah foya-foya di luar sana.”

“Lian tahu aku pergi ke mana aja,” sahut Bellina.

Mega tetap tidak terima dengan sikap dingin menantunya tersebut. “Kamu ... berani ngelawan aku!?”

“Aku nggak ngelawan. Mama aja yang selalu berpikir negatif tentang aku.”

“Emang kamu selalu bikin ulah. Emang kamu nggak bisa berdiam diri di rumah? Ngurus rumah, ngurus keluarga. Jadi menantu nggak becus. Bahkan, jaga anak kamu sendiri aja kamu nggak bisa!”

Bellina mengerutkan bibirnya, ia menatap tajam ke arah Mega.

“Kenapa? Mau marah? Mau ngelawan Mama?”

“Kalau Mama nggak terima sama aku yang keguguran, harusnya Mama cari Yuna buat balas dendam ke dia. Dia yang udah bikin aku keguguran!” seru Bellina.

“Kamu nyalahin orang lain? Kamu sendiri yang nggak bisa jaga anak kamu. Heran, makin ke sini aku makin muak sama kamu. Nyesel banget udah bikin Lian jatuh ke tangan perempuan kayak kamu.”

Bellina mendelik begitu mendengar ucapan mama mertuanya. Ia tidak ingin terus bertengkar dan memilih untuk melangkah pergi.

“Heh!? Mama belum selesai ngomong!” seru Mega. “Dasar anak pembangkang! Lian jadi ngelawan sama Mama juga karena kamu yang udah pengaruhi dia,” teriaknya.

Bellina mendengarkan ucapan Mega sambil lalu. Ia tidak ingin bertengkar dengan mama mertuanya.

“Menantu sialan!” umpat Mega. Ia menertawakan dirinya sendiri. “Kenapa aku bisa ketipu sama dia? Sebelum nikah sama Lian, dia manis banget,” celetuknya kesal.

Sementara itu, Bellina masuk ke dalam kamar dengan perasaan kesal bukan kepalang. Ia tidak tahu kenapa mama mertuanya terus-menerus mengajaknya bertengkar.

“Semenjak aku keguguran, Mama Mega berubah drastis. Dia nggak pernah lihat aku lagi,” gumam Bellina sambil melepas sepatunya dan berbaring di tempat tidur.

“Huft, aku harus pikirin cara supaya aku bisa hamil lagi. Aku nggak mau dikucilkan terus di keluarga ini kalau belum bisa punya anak. Bisa-bisa, aku ditendang dari sini,” ucap Bellina.

Bellina bangkit dari tempat tidur, ia berjalan mondar-mandir sembari memikirkan cara agar keluarga Lian percaya kepada dirinya dan bisa segera memberikan keturunan.

“Sekarang, Yuna sudah hamil. Bahkan, papanya juga sembuh dari mati surinya itu. Dia punya suami yang kaya, ganteng dan penyayang. Makin bahagia aja hidupnya dia. Sedangkan aku? Aargh ...!” Bellina mengacak-acak rambutnya sendiri.

“Si Lian, makin hari bukan makin sayang sama aku. Malah sibuk terus sama kerjaan dan masih aja mikirin Yuna. Mertuaku juga mulai terpengaruh sama omongan di luar sana. Kenapa hidupku jadi begini?” Bellina meratap sambil menjatuhkan tubuhnya ke lantai.

“Aku nggak boleh nyerah!” ucap Bellina lagi. “Aku pasti bisa bikin Lian sayang sama aku sepenuhnya dan ngelupain Yuna selama-lamanya. Aku nggak mau di antara kami masih ada bayang-bayang Yuna.”

Bellina tidak bisa menerima kenyataan kalau hidup Yuna lebih bahagia dari dirinya. Rasa cemburunya terhadap Yuna, semakin lama semakin meningkat seiring dengan kebahagiaan yang didapatkan Yuna terus-menerus.

 

(( Bersambung ... ))

Semoga kita semua dijauhkan dari sifat iri dan dengki seperti Bellina. Author akan bikin hidupnya menderita secara perlahan seperti keinginan Mr. Ye

Terima kasih sudah dukung Perfect Hero terus.

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

 

 

 

Perfect Hero Bab 313 : Pelaku Hate Speech

 


Andre tersenyum kecil, ia sengaja mendownload postingan video yang beredar di media sosial dan sengaja menjadikan salah satu gambarnya sebagai wallpaper ponselnya. Ia tidak ambil pusing dengan komentar-komentar buruk yang ditujukan kepada Yuna.

“Yeriko, pasti sudah mengatasi ini semua,” gumam Andre sembari membaca beberapa postingan komentar yang mulai menghilang satu persatu.

“Permisi, Pak!” Asisten Andre tiba-tiba masuk ke dalam ruangan.

“Kenapa?”

“Ada pesan dari Bapak kalau ...”

“Aargh! Aku nggak mau dijodohin lagi!” seru Andre. “Bilang sama Papa kalau aku mau fokus ngurus perusahaan!”

“Tapi, Pak ...”

“Nggak pake tapi-tapian!” sahut Andre ketus.

“Bapak sudah mengatur perjodohan untuk Pak Andre. Beliau berpesan kalau Pak Andre harus menjemput Mbak Nirmala di Bandara sore ini juga.”

“Apa!?” Andre membelalakkan matanya. “Orang tua satu itu nggak pernah nyerah jodohin aku!” celetuknya kesal.

“Kamu aja yang jemput Nirmala di Bandara!” perintah Andre.

“Tapi, Pak ...?”

“Tapi lagi? Kenapa banyak tapinya? Kalo tape, udah mabok kamu!” sentak Andre.

Asisten itu terdiam. Ia tidak berani lagi membantah ucapan Andre.

Andre menatap asistennya yang menundukkan kepala. “Kalau kamu nggak bisa jemput dia, suruh supir aja!” perintah Andre.

“Baik, Pak!”

“Ya udah. Ngapain masih di sini?”

“Oh. Permisi, Pak!”

Andre langsung merebahkan tubuhnya ke kursi begitu asistennya pergi ke luar dari ruang kerjanya. Ia meraih ponsel di atas meja dan menekan salah satu kontak dengan perasaan kesal.

“Halo ...!” Terdengar suara berat dari seberang telepon.

“Pa, kenapa masih atur perjodohan lagi buat aku?” tanya Andre tanpa basa-basi.

“Kamu bisa atur sendiri?”

“Ck, aku nggak mau dijodohin. Aku bisa nemuin cewek yang aku suka buat aku nikahin. Papa nggak perlu repot urus masalah percintaan aku. Lagipula, aku mau fokus ngurus perusahaan.”

“Kamu bisa tetep urus perusahaan. Papa udah atur Nirmala jadi sekretaris pribadi kamu.”

“Apa!?”

“Cobalah untuk membuka hati!” pinta ayah Andre. “Dia cantik, kaya dan baik hati. Siapa tahu, kalian bisa berjodoh.”

“Berjodoh apaan? Papa aja yang ...”

“Jemput dia sore ini!” sela ayah Andre. “Papa masih banyak urusan.”

“Gila! Kalo bukan papaku, udah kupites ini orang,” maki Andre pada ponselnya yang sudah mati.

“Kenapa si Papa dapet aja cewek buat dijodohin ke aku? Apa hidupnya dia cuma ngurusin jodohku doang? Terus, aku disuruh ngurus perusahaan?” omel Andre sambil melemparkan ponselnya ke atas meja.

“Yuna, kenapa kamu udah nikah sih?” tanya Andre kesal.

Setelah perjodohannya dengan Yulia batal, Andre dijodohkan kembali dengan Nirmala. Andre tidak bisa menolak karena ayah Nirmala memiliki banyak jasa untuk perusahaan keluarga Andre.

Andre meraih berkas di atas meja kerjanya. Ia memilih untuk menyibukkan diri dengan pekerjaan dan tidak ingin memikirkan jodoh.

 

...

 

Di saat yang sama, di tempat yang berbeda ...

Lian membaca postingan yang beredar di media sosial. Ia merasa sangat cemburu melihat kedekatan Andre dan Yuna dalam video tersebut. Ia yang pernah menjadi kekasih Yuna, tak pernah membuat slide video yang begitu romantis.

Mata Lian tertuju pada komentar buruk yang menyerang Yuna.

“Siapa yang ngirim video ini? Masa Andre?” batin Lian. Ia memutar kembali video itu beberapa kali.

“Cuma Bellina yang punya foto-foto masa kecilnya Yuna. Apa dia yang sengaja bikin video ini?” gumam Lian. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Kapan istriku ini berhenti berulah?” Ia menyandarkan kepalanya ke kursi.

Lian benar-benar dilema saat menghadapi perselisihan antara Bellina dan Yuna. Dua-duanya, wanita yang singgah dalam hatinya. Semua ini, juga dimulai dari dirinya. Dari awal, ia sudah membuat dua wanita bersaudara ini terus berselisih paham dan ia sendiri tak punya kemampuan untuk mengakhirinya.

Lian meraih ponselnya dan langsung menelepon Bellina.

“Halo, Sayang ...!” sapa Bellina dari ujung telepon.

“Kamu di mana?”

“Aku lagi di mall. Kenapa?”

“Kamu udah lihat video yang lagi ramai di media sosial?”

“Video apaan?” tanya Bellina.

“Video Yuna sama Andre.”

“Oh ya? Ada apa sama mereka?”

“Ck, nggak papa. Kamu lanjutin aja kegiatan kamu. Aku masih banyak kerjaan.”

“Oke.”

Lian langsung mematikan panggilan teleponnya. “Bellina nggak tahu soal video itu. Apa memang Andre sendiri yang buat?” gumam Lian.

“Permisi, Pak! Rapat dimulai sepuluh menit lagi.” Asisten Lian, tiba-tiba masuk ke dalam ruangan.

“Oke.” Lian bangkit, ia bergegas menuju ruang rapat. Menepikan masalah yang terjadi antara Yuna dan Bellina.

 

 

...

 

Bellina menatap layar komputer. Ia mulai cemas karena Lian menanyakan keberadaannya.

“Untung aja dia nggak curiga,” gumam Bellina.

Bellina mulai menyadari ada sesuatu yang ganjal ketika komentar-komentar yang ia tulis menghilang satu persatu.

“Kenapa komentarnya pada hilangan?” gumam Bellina. Ia mengedarkan menoleh ke arah pengguna komputer lain. Ia mulai khawatir ada orang yang sudah mengendalikannya.

Bellina merapatkan cone jaket ke kepalanya. Ia bangkit dari tempat duduk dan melangkah menuju kasir. “Berapa, Mas?” tanya Bellina.

 “Dua puluh ribu.”

Bellina langsung menyodorkan selembar uang dua puluh ribuan dan bergegas pergi sembari menyembunyikan wajahnya menggunakan masker, kacamata dan topi.

 

Tak sampai tiga menit kepergian Bellina. Riyan menghentikan mobilnya tepat di halaman parkir warnet tersebut. Ia langsung menerobos masuk bersama dua orang IT yang ia bawa.

“Mas, IP Address ini, komputernya yang mana?” tanya Riyan tanpa basa-basi.

Pemilik warnet melongo mendapati pertanyaan Riyan. Ia tidak mengerti kenapa ada orang yang tiba-tiba menanyakan IP Address komputer-komputer miliknya.

“Bentar. Saya cek.”

Riyan menunggu pemilik warnet tersebut mengecek IP Address yang dia cari.

“Yang itu Mas.”

“Berarti bener, orang itu akses internet lewat sini,” tutur Riyan kepada dua tim yang bersamanya.

“Ini ada apa ya, Mas?” tanya pemilik warnet.

“Kami mau nangkap penjahat. Di sini ada CCTV?”

Pemilik warnet tersebut menggelengkan kepala. “Saya nggak pasang CCTV.”

Riyan menepuk dahinya. “Mas punya komputer sebanyak ini, nggak pasang CCTV? Kalau ada maling yang masuk sini dan ngambil semua komputer yang ada di sini, nggak rugi banyak?”

Pemilik warnet tersebut terdiam. Ucapan Riyan ada benarnya juga. Berdalih tidak ingin mengganggu privasi pelanggannya, tapi ia sendiri lupa dengan keamanan barang-barangnya sendiri. “Mmh ... tapi, di luar pintu saya pasang CCTV.”

“Pasang? Bisa dicek?”

“Bisa, Mas.”

“Gimana cara ngecek pelaku yang di dalam kalau nggak ada CCTV?” tanya Riyan pada timnya.

“Hans baru aja ngabarin. Kita bisa cocokkan waktu dia posting komentar di internet dan waktu penggunaan komputer di sini. Biasanya, di warnet ada history pelanggan.”

Riyan tersenyum sambil menatap pemilik warnet yang masih duduk di tempatnya. “Ambil alih!” perintah Riyan.

“Tapi, Mas ...” Pemilik warnet berusaha mempertahankan komputer yang ada di hadapannya.

“Pilih selesaikan secara damai atau lewat kantor polisi? Kamu baru aja melindungi penjahat. Kalau aku laporkan ke kantor polisi, semua komputer kamu bakal disita untuk penyelidikan. Kamu bisa hitung berapa kerugian kamu dalam sehari?” tanya Riyan sambil menatap tajam pemilik warnet tersebut.

Pemilik warnet akhirnya menyerah. Ia bangkit dari kursi dan menyerahkan kursinya pada dua orang IT yang sedang melacak pelaku hate speech yang telah membahayakan bos mereka.

Tak lama, Riyan sudah mendapatkan bukti-bukti yang dia inginkan.

“Terima kasih atas kerjasamanya!” ucap Riyan sambil menepuk bahu pemilik warnet dan bergegas pergi meninggalkan warnet tersebut.

 

((Bersambung ...))

Thanks udah baca sampai di sini, pengen lihat gimana Yeriko menghukum Bellina? Baca terus kisah selanjutnya ya...

 

Perfect Hero Bab 312 : Menghadapi Hate Speech

 


Yuna tersenyum sambil memejamkan mata. Namun, ia masih penasaran dengan video tersebut. Rasa penasarannya membuatnya tak bisa tidur dengan nyenyak. Diam-diam, ia membuka mata dan meraih ponselnya kembali.

Diam-diam, Yuna membuka ponselnya tanpa melepaskan diri dari pelukan Yeriko. Ia membuka komentar yang masuk ke dalam video tersebut.

 

“Romantis banget sih, cowoknya.”

 

“So sweet, bikin baper!”

 

“Keren banget videonya. Cerita cinta sejak masa kanak-kanak.”

 

“Itu video Fristi Ayuna (Istri Dirut Galaxy Group) dan Andre Muchtar (CEO Amora International). Mereka selingkuh?”

 

Yuna membelalakkan matanya begitu membaca salah satu komentar dari akun anonim. “Gila, ini ada kompor di sini?” batin Yuna. Ia semakin penasaran dengan komentar-komentar yang lainnya.

 

“Wah, kayaknya bener deh. Ini cewek yang digosipin ngerebut pacarnya Refina beberapa bulan lalu, kan?”

 

“Astaga! Bener, banget. Cewek yang itu. Sekarang dia selingkuh sama cowok lain?”

 

“Kasihan banget sih, itu cowok. Ganteng-ganteng, mau jadi selingkuhan.”

 

“Ayuna lagi hamil, jangan-jangan anak yang dikandung sama dia hasil dari perselingkuhan?”

 

 

Yuna geram dengan salah satu akun yang sengaja memancing komentar-komentar negatif. Semua komentar negatif itu ditujukan untuk dirinya.

“Siapa sih dia? Komennya ngeselin banget!” celetuk Yuna.

Yeriko langsung membuka mata perlahan. “Kamu belum tidur?” tanyanya.

Yuna meringis. Ia menyembunyikan ponselnya ke bawah bantal.

Yeriko menyadari apa yang disembunyikan oleh istrinya. Tangannya menyeberang kepala Yuna dan merogoh ponsel yang ada di bawahnya. Ia membuka ponsel tersebut dan langsung membaca komentar negatif yang ditujukan untuk istrinya.

Yeriko langsung bangkit. Ia terus membaca komentar dari netizen yang semakin menjadi-jadi. Ia turun dari ranjang sambil meraih ponselnya.

“Mau ke mana?” tanya Yuna.

“Kamu tidur aja!” perintah Yeriko. “Aku nau telepon Riyan.” Ia langsung menempelkan ponsel ke telinganya dan berjalan keluar dari kamar.

Yuna memonyongkan bibir karena Yeriko membawa pergi ponsel miliknya. Ia masih penasaran dengan semua komentar yang ada di sana.

Yeriko langsung melangkah menuju ruang kerjanya sambil menatap ponsel Yuna. Ia sedikit kesal karena Riyan tak kunjung menjawab teleponnya.

“Halo …! Kenapa nggak angkat-angkat teleponku!?” sentak Yeriko saat Riyan baru mengangkat panggilannya yang ketiga.

“Maaf, Pak Bos. Saya udah tidur.”

Yeriko menghela napas. “Buka laptop sekarang juga!” pinta Yeriko. Ia juga langsung membuka laptop miliknya.

“Ada apa, Pak Bos? Saya cuci muka dulu.”

“Umh.” Yeriko memindai barcode Whatsapp Web ke ponsel Yuna sambil menunggu Riyan membasuh wajahnya.

“Pak Bos, saya udah di depan laptop.”

“Buka WA kamu. Aku kirim link.”

“Oke.”

“Kamu cek komentar dari akun anonim yang nulis hate speech ke Yuna!” perintah Yeriko.

“Siap, Pak Bos!” sahut Riyan.

“Bisa hubungi tim IT buat nyari pemilik akun itu?” tanya Yeriko.

“Bisa, Pak Bos.”

“Aku tunggu kabarnya besok pagi.”

“Tapi,ini sudah jam dua belas malam. Kemungkinan mereka sudah tidur. Gimana, kalau saya hubungi mereka besok pagi?”

“Kamu coba hubungi satu-satu dari sekarang. Yang bisa angkat telepon, berarti dia belum tidur. Aku nggak mau nunggu lama.”

“Siap, Pak Bos!”

“Oke. Aku tunggu kabarnya besok pagi. Jangan sampai lepasin orang itu kalau udah ketemu!” perintah Yeriko.

“Oke, Pak Bos!”

Yeriko langsung mematikan ponsel dan meletakkan begitu saja ke atas meja. Ia terus membaca komentar-komentar itu satu persatu. Ia sangat kesal karena ada beberapa akun yang memang sengaja menyebarkan kalimat kebencian yang ditujukan pada Yuna.

 

Yeriko menonaktifkan ponsel Yuna dan menyimpannya ke dalam laci meja. Ia tidak ingin perasaan Yuna memburuk karena hate speech yang tertuju kepadanya dan mengganggu kondisi janin yang ada di perut Yuna.

 

Yeriko kembali masuk ke kamarnya. Ia mendapati Yuna masih bersandar di tempat tidur. “Belum tidur?”

“Nggak bisa tidur.”

Yeriko tersenyum. Ia naik ke tempat tidur dan memeluk tubuh Yuna. “Nunggu dikelonin?” godanya.

Yuna memonyongkan bibir sambil mencubit perut Yeriko.

“Aw …! Jangan nyubit perut!” pinta Yeriko. “Ntar aku nafsu.”

Yuna tertawa kecil sambil menenggelamkan kepalanya di ketiak Yeriko.

“Tidur, udah malam!” pinta Yeriko sambil menepuk-nepuk bahu Yuna. “Soal video tadi, nggak usah kamu pikirin! Aku bakal nyelesaikan sampai tuntas.

 

 

Keesokan harinya …

Yeriko langsung masuk ke ruang tim IT sebelum ia masuk ke ruang kerjanya.

“Gimana, yang aku minta semalam udah dapet?” tanya Yeriko. Ia langsung menodong pertanyaan kepada Head IT Departement.

“Apa itu, Pak?” tanya Darwis, Head IT. Ia tidak mengerti maksud pertanyaan Yeriko.

“Maaf, Pak Bos. Semalam, saya hubungi Pak Darwis tidak bisa karena sudah larut malam. Saya hubungi Hans untuk membantu menangani masalah ini.”

“Hans yang mana?” tanya Yeriko sambil mengedarkan pandangannya.

“Hans belum datang?” tanya Darwis pada salah satu anak buahnya.

“Belum, Pak.”

“Ck, jam segini belum datang?”

“Mungkin, dia ngecek postingan itu sampai pagi, Pak.” Riyan mencoba menenangkan bosnya yang sudah tak sabar menunggu hasil penyelidikan semalam.

“Nah, itu dia!” seru Darwis saat melihat Hans memasuki ruangan.

“Pak Yeri?” sapa Hans setengah membungkuk. Ia sedikit khawatir karena pemilik perusahaan memergokinya telat masuk kantor.

“Gimana penyelidikan tadi malam?” tanya Yeriko tanpa basa-basi.

“Eh!? Oh, sudah saya temukan IP Address pelaku tersebut.” Hans langsung melepas ransel di punggungnya. Ia mengeluarkan laptop, meletakkan di atas meja dan mulai menunjukkan hasil penyelidikan yang sudah ia kerjakan semalam.

“Gimana?” tanya Yeriko.

“Ada lima belas akun dari IP Address yang sama,” jelas Hans. “Kemungkinan, pelaku hate speech ini masih orang yang sama. Dia sengaja membuat banyak akun untuk memancing kehebohan.”

“Bisa dilacak?” tanya Yeriko.

Hans menganggukkan kepala. “Dari warnet.”

“Warnet lagi?” tanya Riyan.

Hans menganggukkan kepala. “Cara paling mudah supaya tidak terdeteksi adalah melalui warnet.”

“Beneran nggak bisa terdeteksi?” tanya Yeriko.

“Sebenarnya bisa, kalau di warnet itu ada CCTV dan pemilik warnet bisa diajak kerjasama.,” jelas Hans.

“Yan, cek  CCTV warnet itu! Aku pantau dari sini,” perintah Yeriko.

Riyan menganggukkan kepala. Ia bergegas menuruti perintah bosnya. Ia langsung pergi membawa dua orang IT dari departemen tersebut.

Darwis, memerintahkan timnya untuk membantu Hans.

“Pak, saya sudah kirim titik poin lokasi warnet itu. Tinggal tunggu Pak Riyan saja. Pelaku memposting video pertama kami jam 09:19 WIB. Pak Riyan bisa mencari informasi pelaku yang masuk ke sana sebelum postingan itu dimulai,” tutur Hans.

“Oke.” Yeriko mengeluarkan ponsel dari sakunya dan langsung menelepon Riyan. Ia terus memantau dari kejauhan.

“Pak Darwis, saya mau komentar-komentar negatif di postingan itu dihapus.” Yeriko menatap Darwis yang ada di ruangan tersebut. “Kalau perlu, hapus juga videonya. Pemilik akun itu juga diblokir aja!”

Darwis menganggukkan kepala.

“Saya harus ke ruang kerja saya. Saya tunggu kabar ini secepatnya!”

“Siap, Pak!”

Yeriko tersenyum sinis. Ia segera melangkahkan kakinya keluar dari ruangan tersebut dan menuju ke ruang kerjanya.

 

 

 ((Bersambung...))

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Perfect Hero Bab 311 : Mr. Jealous

 


“Biar aku aja yang masak!” pinta Yuna sambil mengeluarkan bahan makanan dari kantong belanja.

“Aku aja!” Yeriko keukeuh ingin membuatkan  masakan untuk ayah mertuanya.

“Kamu nggak bisa nyium bau ikan, kan?” tanya Yuna. “Biar aku aja yang masak.”

“Bisa, kok.”

“Eh!? Yakin? Nggak mual?”

Yeriko menganggukkan kepala. “Udah nggak, kok.”

Yuna tersenyum bahagia mendengar ucapan Yeriko. “Baiklah.” Ia melenggang, menghampiri ayahnya yang duduk santai di meja makan yang tak jauh dari pantry.

“Kamu nggak bantuin suami kamu?” tanya Adjie.

Yuna menggelengkan kepala. “Kalau lagi di dapur, dia nggak mau diganggu.”

“Dia pandai masak juga?”

Yuna tersenyum sambil mengangguk. Ia duduk di samping Adjie sambil menoleh ke arah Yeriko yang mulai asyik berkutat di dapur.

“Dia suami yang baik dan bertanggung jawab. Kamu harus menjaga dia dengan baik!” tutur Adjie lirih.

Yuna menganggukkan kepala. “Pasti, dong!”

“Oh ya … tadi, ayah dengar perdebatan kamu dengan tante kamu itu. Apa bener kalau dia mau jual kamu?”

Yuna menganggukkan kepala. Ia merasa, tak perlu ada hal yang harus ia tutupi lagi soal keluarga pamannya itu. “Untungnya, mereka nggak berhasil.”

“Oh ya? Kamu berhasil melawan mereka?”

Yuna menggelengkan kepala. “Yeriko yang udah menyelamatkan aku.”

“Dia?” Adjie mengernyitkan dahi sambil menatap Yeriko dari kejauhan.

Yuna mengangguk. “Dia selalu jadi penolongku saat aku susah. Padahal, dia nggak kenal sama aku. Dia baik banget, Yah. Aku sampai nggak tahu gimana caranya membalas budi. Saat dia minta aku jadi istrinya, aku ngerasa cuma ini yang aku bisa lakuin buat membalas kebaikan dia.”

“Huft, Ayah juga merasa berhutang budi sama dia. Dia sudah menjaga puteri Ayah dengan baik,” tutur Adjie sambil mengelus rambut Yuna.

“Bukan cuma menjaga aku, tapi juga menjaga ayah dengan baik sampai sembuh.”

“Zaman seperti ini, masih ada pria yang berbudi seperti dia.”

Yuna tersenyum. Ia menoleh ke arah Yeriko yang masih sibuk di dapur. “Dia ganteng kan, Yah?”

Adjie mengangguk. “Masih ganteng ayah waktu masih muda.”

“Iih ..  Ayah pede banget ngomong kayak gitu?”seru Yuna.

Adjie tergelak.

“Ceritain ke aku, gimana Ayah bisa jatuh cinta ke Bunda?”

“Bunda kamu yang jatuh cinta ke Ayah duluan.”

“Bohong, ya?” dengus Yuna. “Nggak mungkin Bunda yang jatuh cinta duluan. Pasti Ayah, kan?”

Yeriko tersenyum melihat Yuna dan ayahnya saling bercanda. Ia membawa beberapa piring dan meletakkannya di atas meja.

Yuna bangkit dari kursi, bermaksud membantu Yeriko. Namun, Yeriko melarangnya untuk bergerak.

“Disitu aja!” perintah Yeriko.

Beberapa menit kemudian, makanan sudah terhidang dengan baik di atas meja.

“Kamu sampai repot-repot kayak gini,” tutur Adjie.

“Nggak repot, kok. Aku sudah biasa masak.”

“Bukannya, di rumah kalian ada pembantu?”

Yeriko mengangguk. “Kalau lagi nggak sibuk, kami tetap masak sendiri. Apalagi masak untuk orang yang kita cintai, terasa lebih tulus daripada mengajak makan di luar.”

“Bener, bener, bener,” sahut Adjie sambil tersenyum bangga.

“Ayo, makan!” ajak Yeriko.

Mereka mulai menikmati makan malam sambil terus berbincang.

“Di antara kalian berdua, siapa yang jatuh cinta duluan?” tanya Adjie.

Yeriko langsung menunjuk Yuna dengan dagunya.

“Iih, culas! Kamu yang jatuh cinta ke aku duluan.”

“Bukannya kamu yang nangis-nangis duluan, takut aku jalan sama cewek lain?”

“Kamu yang tiba-tiba ngajak aku nikah duluan,” dengus Yuna.

Yeriko menganggukkan kepala. “Kenapa kamu mau diajak nikah?”

Yuna mendelik ke arah Yeriko. Ia mengomel menggunakan matanya.

Yeriko tertawa kecil. Ia melirik ayah mertuanya yang tersenyum menatap mereka.

“Perempuan emang gitu. Nggak mau ngaku kalau dia sudah lebih dulu jatuh cinta,” tutur Adjie.

Yeriko menahan tawa. Ia tak menyangka kalau ayah mertuanya akan membela dirinya.

“Ayah …!?”

“Kenapa?” tanya Adjie lembut.

“Ayah kenapa belain dia?”

“Kita sesama pria, harus saling membela.”

Yuna memonyongkan bibirnya. Ia tidak bisa berkata-kata lagi, sebab dua pria yang bersamanya mulai bekerja sama untuk memojokkan dirinya.

“Oh ya, gimana kamu bisa ada di toko itu juga?” tanya Yuna. “Bukannya, kamu bilang kalau mau pergi ngurus berkas perusahaan kamu?”

Yeriko tersenyum kecil. “Urusan perusahaan cuma sebentar. Jadi, aku nyusul kalian.”

“Oh. Gimana hasilnya?”

Yeriko tersenyum menatap Yuna. “Menurut kamu?”

“Kelihatannya sukses?”

Yeriko tersenyum sambil memainkan alisnya. Mereka tertawa bahagia, bercanda sembari menghabiskan makannya.

Usai makan malam bersama ayahnya, Yuna dan Yeriko berpamitan untuk pulang.

“Ayah, jangan keluar apartemen sendirian ya!” pinta Yuna.

Adjie mengangguk. “Makasih, sudah perhatian sama Ayah. Ayah akan baik-baik aja.”

Yeriko tersenyum. “Kami pulang dulu!” pamitnya.

Adjie menganggukkan kepala. Ia tersenyum bahagia melepas kepergian Yuna dan Yeriko.

Sesampainya di rumah, Yuna sedikit gelisah meninggalkan ayahnya seorang diri di apartemen.

“Ayah akan baik-baik aja. Nggak usah berpikir macam-macam!” pinta Yeriko seolah mengerti kegelisahan yang menyelimuti pikiran Yuna.

Yuna mengangguk sambil tersenyum. “Oh ya, si Refi nggak pernah telepon kamu lagi?” tanya Yuna.

Yeriko menggelengkan kepala. “Aku blokir nomernya.”

“Baguslah. Mudahan aja dia sadar dan nyerah ngejar kamu,” tutur Yuna sambil mengganti pakaiannya.

Yeriko tersenyum kecil. Ia tidak ingin Yuna mengkhawatirkan dirinya. “Kamu tenang aja, aku cuma cinta sama kamu. Walau ada seribu perempuan yang kayak Refi godain aku, aku nggak akan tergoda.”

“Bener?”

Yeriko menganggukkan kepala.

“Janji?”

“Iya.”

“Kamu juga ya!”

“Apa?”

“Nggak akan tergoda sama cowok lain.”

“Tergantung, kalau dia lebih ...”

“Hmm.”

Yuna terkekeh. “Iya, Mr. Jealous yang tersayang!” ucap Yuna gemas sambil mencubit pipi Yeriko.

Yeriko tersenyum kecil, ia langsung mengulum bibir Yuna.

 

Nada dering ponsel Yuna menghentikan aksi Yeriko. “Siapa telepon malam-malam begini?” celetuknya kesal.

Yuna tertawa kecil. Ia meraih ponsel yang ia letakkan di atas nakas. “Jheni?”

“Hmm ... dia sengaja mau ganggu kita malam-malam gini?” tanya Yeriko.

Yuna tertawa kecil. “Siapa tahu, ada hal penting. Soalnya, dia lagi sibuk banget. Kalo nelepon, pasti ada perlu.” Yuna langsung menjawab panggilan telepon dari sahabatnya itu.

“Halo ...!” sapa Yuna.

“Halo, Yun. Kamu udah lihat berita di internet?” tanya Jheni.

“Berita apaan?”

“Ada yang nyebarin video kamu sama Andre.”

“Hah!? Video apaan?” tanya Yuna.

“Ck, itu video masa kecil kalian sampai sekarang. Ada puisi cintanya pula. Itu video udah dibagikan ribuan kali.”

Yuna terdiam, ia berpikir sejenak. “Apa si Refi lagi yang bikin sensasi?”

“Aku rasa, Refi nggak punya video masa kecil kalian.”

“Iya juga, sih.”

“Kalau bukan Bellina, pasti Andre sendiri.”

Yuna menoleh ke arah Yeriko. “Kamu kirimin link-nya ya! Aku cek videonya.”

“Oke.” Jheni menutup teleponnya. Ia segera mengirimkan tautan video yang sedang viral di media sosial.

“Kenapa?” tanya Yeriko.

“Ada yang nyebarin video aku sama Andre. Nggak tahu, video apaan,” jawab Yuna sambil meng-klik tautan yang dikirim Jheni.

“Ck, kamu ada jalan berduaan sama dia?”

Yuna menggelengkan kepala. “Terakhir ketemu Andre waktu di restoran puncak malam itu. Tapi, aku nggak ngapa-ngapain. Suer!”

Yuna memutar video yang sedang ramai dibicarakan di media sosial. Yeriko juga ikut melihat video tersebut.  Dari detik pertama, mereka sudah mengenali kalau wanita dan pria yang ada di dalam slide video tersebut adalah Yuna dan Andre.

“Siapa yang upload video itu?” tanya Yeriko.

Yuna menggelengkan kepala. “Nama akunnya, nggak aku kenal. Kayaknya, ini akun palsu.”

“Huft, ada-ada aja. Apa mungkin si Andre yang bikin itu video?” tanya Yeriko.

“Aku rasa, Andre nggak akan bikin video kayak gini. Lagipula, foto yang di kafe ini ... jelas-jelas dipotret sama orang lain dari kejauhan.”

“Hmm ... puisinya keren! Mengharukan,” celetuk Yeriko kesal.

“Cemburu?” tanya Yuna sambil tertawa kecil.

“Aku suami kamu. Gimana nggak cemburu kalau ada orang lain yang mengabadikan momen kamu bareng Andre, ketimbang sama aku?”

Yuna tertawa kecil. “Mungkin karena aku terlalu cantik.”

Yeriko tertawa kecil. “Udah, nggak usah hirauin video itu!” pinta Yeriko sambil merebut ponsel Yuna. “Mending tidur. Aku percaya sama kamu, kok.” Yeriko langsung memeluk tubuh Yuna dan menenggelamkan di dadanya.

 

 ((Bersambung...))

 

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas