Thursday, May 29, 2025

Then Love Bab 2 - First Impressions || Teenlit Story by Vella Nine

 

Chapter 2

First Impressions

 


“Gimana kuliahmu?” tanya Astria, Mama Raditya Chilton. Ia sengaja meminta Chilton untuk pulang ke rumah dan makan malam bersamanya. Kebetulan, malam ini ia punya banyak waktu untuk bertemu dengan putera kesayangannya itu.

 

“Baik, Ma. Mama gimana? Masih banyak kesibukan?” tanya Chilton.

 

Astria menghela napasnya, “Yah, ngurus bisnis memang melelahkan dan cukup menyita waktu Mama.”

 

Chilton mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia tahu, mamanya telah melakukan banyak hal untuk membuatnya bahagia. Meski seorang single parent, Astria mampu menyekolahkan Chilton dengan baik dan memberikannya fasilitas yang lumayan.

 

“Mau nginap?” tanya Astria.

 

Chilton menggelengkan kepalanya. Ia memilih tidur di asrama ketimbang di rumahnya yang sepi. Pagi-pagi buta, mamanya sudah berangkat kerja. Bukan karena kesepian, tapi ia tidak tega melihat perjuangan keras mamanya. Wanita seharusnya di rumah, tidak perlu bekerja keras menghidupi keluarga dan menghadapi kehidupan luar yang seharusnya dihadapi para pria.

 

“Kenapa?” tanya Astria.

 

“Nggak apa-apa.”

 

Astria memahami keputusan anaknya. Ia tak lagi banyak bertanya.

 

Chilton memang sikapnya dingin seperti es, jarang sekali berinteraksi dengan orang lain, terlebih orang asing. Bahkan dengan mamanya sendiri pun ia tak banyak bicara.

 

Sikapnya memang dingin, tapi Chilton menjadi salah satu bintang di kampus. Hampir semua cewek di kampus akan berteriak setiap kali Chilton melintas dengan gaya cool-nya. Walau sikapnya terlihat santun, tapi ia selalu menolak pernyataan cinta dari cewek-cewek yang selama ini mengejarnya. Ia sama sekali tidak tertarik untuk mendekati cewek-cewek kampusnya, apalagi untuk berpacaran.

 

Hampir setiap pagi ia jogging karena kebetulan ia tinggal di asrama kampus. Ia hanya akan pulang ke rumahnya pada hari Minggu atau hari libur. Banyak sekali cewek yang mencoba menarik perhatiannya. Tapi, ia tidak tertarik sama sekali untuk berbicara dengan mereka atau salah satunya.

 

Dari sekian banyak cewek cantik yang menggodanya, perhatiannya tertuju pada cewek sederhana yang tidak sengaja bertabrakan dengannya. Cewek berambut pendek bernama Delana. Cewek yang tetap terlihat ceria meski ia dalam kesulitan. Kalau cewek lain yang ia tabrak dan jatuh, mungkin akan menangis manja di depan Chilton dan dia selalu muak dengan cewek-cewek manja dan centil seperti itu. Ia bertemu dengan Delana dan merasakan hal berbeda. Cewek itu terlihat riang dan berhasil membuat bibirnya tersenyum tanpa alasan.

 

 

 

***

 

Kali ini, Delana bisa melihat Chilton masuk ke dalam kelas yang sama dengannya. Tapi, ia tak bisa banyak menatap cowok itu karena cowok itu duduk di bangku paling belakang sementara ia berada di bangku terdepan. Sesekali ia menoleh ke arah Chilton. Di saat yang sama, Chilton juga melihat ke arahnya. Delana jadi salah tingkah dibuatnya.

 

Setelah mata pelajaran selesai, semua mahasiswa keluar dari kelasnya. Sementara Chilton masih bergeming di bangkunya sembari menatap punggung Delana yang tak kunjung keluar dari kelas. Malah sibuk dengan buku di tangannya. Sesekali ia membuka tasnya dan memeriksa ponselnya. Mungkin dia menunggu pesan dari seseorang.

 

Delana hampir dibuat gila dengan materi pelajaran yang berbeda dengan yang ada di dalam bukunya. Ia beberapa kali mencoba untuk browsing di Google karena ada beberapa materi yang sama sekali tidak bisa masuk ke dalam otaknya.

 

Delana menggaruk kepalanya beberapa kali. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan yang sudah kosong. Matanya kemudian tertuju pada Chilton yang sedang menatapnya. Delana tersenyum, ia menutup buku tulis dan memegangnya dengan erat. Ia bangkit dari kursinya dan berjalan menghampiri Chilton untuk menanyakan materi pelajaran yang sama sekali tidak ia mengerti.

 

“Aku boleh nanya sesuatu nggak?” tanya Delana begitu sampai di hadapan Chilton yang duduk sendiri di bangkunya. Ia memeluk buku tulis di dadanya.

 

“Nanya apa?” tanya Chilton menatap Delana.

 

“Aku nggak paham sama sekali sama materi yang dikasih dosen tadi.”

 

“Oh, duduk sini!” pinta Chilton menunjuk bangku kosong yang ada di sampingnya.

 

Tak pernah ada cewek lain yang diminta duduk di bangku itu selain Delana. Mungkin karena sikapnya yang dingin dan jarang sekali mengajak bicara. Terlebih, ia lebih memilih untuk membuat banyak cewek untuk pergi darinya daripada harus sakit hati karena cintanya selalu ditolak oleh Chilton.

 

Delana menjatuhkan tubuhnya di kursi yang berada di samping Chilton.

 

“Tanya yang mana?” tanya Chilton.

 

Delana membuka buku catatannya dan menunjukkan salah satu materi yang tak selesai ia tulis.

 

“Oh, ini?” Chilton menarik buku Delana kemudian menjelaskan beberapa materi yang ditanyakan. Ia tak banyak basa-basi dan langsung menjawab seperlunya.

 

“Makasih, ya!” Delana langsung menutup buku catatannya setelah menanyakan materi yang tidak ia pahami sepanjang dosen menyampaikannya.

 

“Paham?”

 

Delana menganggukkan kepala. Walau sebenarnya ia tidak begitu paham. Ia tak ingin terlihat bodoh di hadapan Chilton.

 

Chilton tersenyum.

 

Delana bangkit dari tempat duduknya. Ia melangkahkan kaki perlahan. Baru selangkah, ia menghentikan langkahnya dan membalikkan tubuh menghadap ke arah Chilton.

 

“Masih mau tanya lagi?” tanya Chilton.

 

Delana tersenyum. Ia menggelengkan kepala dan membalikkan tubuhnya kembali membelakangi Chilton. Belum sampai ia melangkah, ia membalikkan tubuhnya lagi menghadap ke Chilton.

 

Chilton mengerutkan dahi melihat tingkah Delana di hadapannya.

 

“Mmh... besok pagi bisa ketemu di taman?” tanya Delana.

 

“Taman?” Chilton mengernyitkan dahinya.

 

Delana menganggukkan kepalanya sambil tersenyum, “Aku tunggu besok pagi, ya!” Delana langsung ngeloyor pergi tanpa menunggu jawaban dari Chilton. Entah cowok itu akan bilang iya atau tidak, ia akan tetap menunggunya.

 

Chilton menggeleng-gelengkan kepala menatap kepergian Delana. Ia heran dengan sikap cewek yang satu ini. Entah kenapa, ia jadi lebih sering tersenyum setiap kali melihat tingkah laku dan senyuman cewek itu.

 

Delana terus tersenyum sampai ia duduk di bangkunya kembali dan memasukkan bukunya ke dalam tas. Ia mengambil dompet dan ponsel dari dalam tas, memindahkan ke sakunya dan berjalan keluar kelas.

 

“Eh!?” Delana menghentikan langkahnya begitu sampai di pintu kelas. Ia berjalan mundur beberapa langkah dan menoleh ke arah Chilton yang masih duduk sendiri di bangkunya.

 

“Nggak ngantin?” tanya Delana.

 

Chilton menggelengkan kepala. Di tangannya, ia sudah memegang smartphone dan sudah membuka salah satu game online yang sedang hits.

 

Delana tak bertanya lagi. Ia langsung bergegas menuju kantin untuk membeli beberapa minuman dan snack. Ia lebih memilih taman kampus sebagai tempatnya menikmati waktu istirahat.

 

“Huft, andai aja dia di sini. Lagian, betah amat di dalam kelas sendirian,” celetuk Delana lirih.

 

Ia mengambil ponsel di sakunya dan mulai membuka beranda media sosial untuk melihat update terbaru seputar teman dan lingkungannya.

 

Sembari mengunyah snack yang ia beli, ia terpikir untuk mencari nama Chilton di Instagram. Ada beberapa nama yang muncul tapi tidak ia kenal semua.

 

“Masa dia nggak punya akun Instagram sih?” tanyanya pada diri sendiri.

 

Delana terus berpikir, akhirnya ia menulis hashtag nama kampusnya di kolom search. Ia yakin, pasti ada update terbaru seputar kampus dan bisa saja ia menemukan akun Chilton di dalamnya.

 

Delana memainkan mulutnya sembari men-scroll layar ponselnya. Di hashtag kampus tak ada satu pun postingan yang bisa membawanya ke akun pribadi milik Chilton. Ada beberapa foto Chilton yang memang sengaja diambil oleh fans-fansnya namun tetap saja tidak begitu berarti untuk Delana karena foto-foto itu diambil dari kejauhan.

 

Delana menghela napas dan menyerah mencari akun pribadi milik Chilton. Padahal dia sudah berniat untuk stalking akun cowok yang satu itu. Akhirnya ia memilih untuk login ke salah satu game online untuk mengusir badmood yang tiba-tiba menyerangnya.

 

                                                                                               

 

***

 

 

 

Pagi ini, Delana mengajak bertemu dengan Chilton di taman. Delana sudah duduk di kursi taman, menunggu Chilton muncul seperti biasa.

 

Delana tersenyum saat sosok Chilton muncul dari ujung jalan, berlari pagi seperti biasa dan semakin mendekat ke arah Delana.

 

“Hai!” sapa Delana sembari tersenyum ceria begitu Chilton berhenti di hadapannya.

 

Chilton tidak membalas. Ia langsung duduk di samping Delana, “Ada apa?” tanya Chilton tanpa menoleh ke arah Delana. Ia tak banyak basa-basi. Ia tahu, cewek yang mengajaknya bertemu biasanya ingin mengutarakan perasaannya. Chilton sudah bersiap menolak perasaan Delana apabila cewek itu mengungkapkannya.

 

“Sudah sarapan?” tanya Delana.

 

“Belum.”

 

Delana tersenyum, ia mengambil tempat nasi dan menyodorkan ke Chilton, “Aku bikin nasi goreng, mau?”

 

Chilton menoleh ke arah Delana. Menatap cewek itu sesaat kemudian mengalihkan pandangannya pada kotak bekal yang masih ada di tangan Delana.

 

Delana tersenyum riang, ia menganggukkan kepalanya sedikit sebagai tanda perintah agar Chilton mengambilnya.

 

Chilton tersenyum kecil dan meraih kotak bekal pemberian  Delana. Ia membuka kotak itu perlahan dan terpaku melihat isinya. Nasi goreng yang dicetak berbentuk sepatu itu berhasil membuatnya tertawa dalam hati. Ia belum pernah mendapat bekal makanan seperti ini. Entah kenapa Delana membuatnya berbentuk sepatu. Kenapa tidak berbentuk hati seperti cokelat dan kue yang ia terima dari beberapa cewek-cewek yang menyukainya.

 

“Kenapa bentuknya sepatu?” tanya Chilton sembari mengamati nasi goreng berbentuk sepatu dengan topping saos, mayonaise, tomat, wortel, sawi, dan kacang polong yang disusun sedemikian rupa hingga terlihat cantik.

 

“Hmm ... tadinya aku mau bikin bentuk hati gitu. Tapi nggak jadi karena aku lebih sering melihat sepatumu ketimbang hatimu. Aku nggak tahu hatimu bentuknya kayak gimana. Hehehe,” jawab Delana ngasal sambil cengengesan.

 

Chilton menggelengkan kepala sambil tertawa dalam hati.

 

“Kalo mau ketawa, ketawa aja! Nggak usah ditahan-tahan!” celetuk Delana.

 

Chilton tertawa kecil menanggapi ucapan Delana. Ia menatap nasi goreng yang dicetak berbentuk sepatu itu.

 

Delana tersenyum karena sepertinya Chilton menyukai bekal makanan buatannya. Ia menyodorkan sendok ke arah Chilton, “Ini sendoknya.”

 

“Makasih,” Chilton meraih sendok itu dan mencicipi masakan Delana perlahan.

 

Jantung Delana berdebar saat Chilton menyuap makanan pertama kali. Ada rasa cemas kalau cowok itu tidak suka dengan masakannya. Ia terlihat tegang menatap Chilton yang mulai mengunyah nasi goreng buatannya perlahan. Ia menelan ludah begitu melihat Chilton menghentikan kunyahannya.

 

“Oh, My God ...! Dia nggak suka masakanku? Aku harus gimana?” bisiknya dalam hati.

 

Chilton menatap Delana serius kemudian tersenyum sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.

 

“Enak!” ucapnya. Kemudian ia menyuapkan lagi dengan porsi yang lebih banyak sampai mulutnya penuh dan kesulitan bicara.

 

“Pelan-pelan makannya, nanti tersedak!” tutur Delana sambil tersenyum bahagia karena Chilton menyukai nasi goreng buatannya.

 

“Ini masak sendiri?” tanya Chilton dengan mulut masih penuh. Ia kesulitan menelan makanan, Delana dengan cekatan menyodorkan botol minuman ke hadapan Chilton. Chilton tersenyum menatap Delana dan meraih botol yang diberikan Delana.

 

Delana menganggukkan kepala, “Suka?”

 

Chilton mengangguk, “Kirain cewek kayak kamu nggak bisa masak.”

 

“Apa aku kelihatan seburuk itu?” tanya Delana.

 

Chilton tertawa kecil sambil terus memakan nasi goreng buatan Delana, “Kelihatannya begitu.”

 

Delana mengerucutkan bibirnya. Ia tak mengerti kenapa Chilton menyangka dirinya tidak bisa memasak. Padahal, sudah jelas dia perempuan. Delana menyentuh rambutnya yang mulai panjang. Mungkin, penampilannya yang seperti anak laki-laki membuat Chilton mengiranya tidak bisa memasak.

 

“Boleh minta resepnya?” tanya Chilton.

 

 “Resep apa?” tanya Delana.

 

“Ini,” Chilton mengangkat kotak bekal yang ada di tangannya.

 

“Oh.. resep mah gampang. Di Google juga banyak,” jawab Delana.

 

“Google?”

 

“Iya.”

 

“Aku pernah ngikutin resep dari Google. Hasilnya gagal.”

 

“Oh ya? Serius?”

 

Chilton menoleh ke arah Delana, “Apa kelihatan lagi bercanda?”

 

“Hehehe, enggak, sih.” Delana tersenyum. “Emang bisa masak juga?”

 

“Bisa. Masakanku lumayan enak, walau belum seenak ini.”

 

“Oh ya? Kalau kamu mau, aku bisa buatkan lagi.”

 

“Kalo enggak ngerepotin.”

 

“Ya, nggak lah.”

 

Chilton mengangguk-anggukkan kepala sambil terus mengunyah suapan terakhirnya.

 

“Nasi goreng ini nggak gratis,” tutur Delana. Ia menatap Chilton sambil tersenyum.

 

“Eh!?” Chilton spontan menatap Delana yang duduk di sampingnya. ”Kenapa baru ngomong pas nasinya udah habis?” celetuk Chilton dengan mulut yang masih penuh.

 

Delana tergelak melihat ekspresi wajah Chilton yang terkejut.

 

“Berapa duit?” tanya Chilton sembari merogoh saku celananya. “Kalo jualan tuh ngomong dari awal!” gerutunya.

 

Delana cekikikan, “Aku nggak mau dibayar pake duit,” Delana tersenyum menatap Chilton.

 

Chilton menatap tajam ke arah Delana. Ia menilai cewek ini memberikannya sarapan enak supaya bisa menarik perhatiannya.

 

“Trus, pake apa?” tanya Chilton.  “Kalau harus bayar pake cinta, aku nggak bisa.”

 

Delana tersenyum sembari menggelengkan kepalanya, “Nggak. Aku tahu kalau cinta nggak seharusnya dihargai seharga satu porsi nasi goreng.”

 

Chilton tertawa dalam hati saat mendengar ucapan Delana.

 

Memang benar, cinta tidak bisa dihargai seharga satu porsi nasi goreng. Tapi, cinta bisa dimulai dari satu porsi nasi goreng. Delana percaya, bahwa suatu hari nanti ia pasti berhasil membuat Chilton menyukainya.

 

Chilton menaikkan kedua alisnya, ia tak menyangka kalau cewek itu punya permintaan lain selain meminta cinta dan perhatian darinya. Tidak seperti cewek-cewek lain yang dengan cepat mengungkapkan perasaan suka terhadapnya saat mengirimkan hadiah-hadiah. Hadiah yang selalu berakhir tragis di tempat sampah sebelum dibuka.

 

“Aku punya permintaan.”

 

Chilton menoleh ke arah Delana, “Apa itu?”

 

“Aku mau duduk sebangku sama kamu, boleh nggak?”

 

Chilton mengernyitkan dahinya.  Baginya, pertanyaan itu sangat aneh. Lebih aneh lagi kalau dia menolak permintaan Delana yang sesederhana itu. Hanya minta duduk sebangku dengannya. Chilton terbiasa dengan mudah menolak cewek yang mengungkapkan perasaan terhadapnya. Tapi, kalau hanya ingin menjadi teman sebangku, apa pantas jika dia menolaknya?

 

“Gimana?” tanya Delana.

 

“Mmh..” Chilton mengusap dagunya sambil berpikir.

 

“Boleh, dong! Boleh ya! Boleh kan? Please!” Delana menangkupkan kedua telapak tangannya, memohon agar Chilton memberi kesempatan untuk duduk sebangku dengannya.

 

“Oke, deh!”

 

“Yeay...! Makasih...!” seru Delana.

 

Chilton tersenyum kecil melihat Delana terlihat begith riang.

 

“Aku agak kesulitan belajar. Entah kenapa, materinya selalu beda sama buku yang aku bawa. Padahal jadwalnya udah bener.” Delana menghela napas lesu.

 

Chilton mengernyitkan dahinya sembari menatap Delana, “Beda? Emangnya kamu pindahan dari universitas mana?”

 

“Eh!? Kok, pindahan? Aku mahasiswa baru.”

 

“Hah!? Serius?” tanya Chilton. Ia menutup mulutnya dengan genggaman tangan untuk menahan tawa.

 

“Kenapa? Ada yang aneh?” tanya Delana.

 

“Iya,” Akhirnya Chilton tergelak dan tak bisa menahan tawanya.

 

“Kenapa sih?” tanya Delana polos. Ia masih tak paham kenapa Chilton tiba-tiba menertawakannya.

 

“Kamu tuh salah kelas!” sahut Chilton sembari menahan tawanya.

 

Delana membelalakkan matanya. Wajahnya merah merona karena malu. Bagaimana bisa dia salah masuk kelas. Kenapa selama ini tidak ada yang menyadarinya dan membiarkan Delana masuk ke dalam kelas yang salah.

 

Delana menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Bagaimana bisa ia salah masuk kelas sudah satu minggu? Ini gila! Tidak ada satupun dosen atau teman sekelasnya yang bertanya apakah dia murid baru atau pindahan. Atau, karena dia masuk kelas dengan percaya diri, membuat teman-teman sekelasnya mengira kalau dia adalah mahasiswi pindahan.

 

“Kamu baru, kan? Tuh, kelas kamu di sana!” Chilton menggenggam kedua pundak Delana, memutar tubuhnya menghadap ke gedung kampus. Chilton menunjuk ke arah kelas Delana yang seharusnya. Kelas nomor tiga yang berada di lantai dasar.

 

Delana menghela napas, ia memukuli kepalanya sendiri. Ia terlihat sangat bodoh. Bagaimana ia bisa masuk ke kelas yang salah. Dan lebih parahnya lagi, ia masuk ke kelas yang lebih tinggi setingkat darinya. Ini benar-benar konyol! Kalau Belvi dan Ivona tahu, mereka pasti akan menertawakan Delana habis-habisan.

 

Ia tidak hanya malu, tapi juga kecewa karena ternyata tidak bisa duduk sebangku dengan Chilton. Padahal, Chilton sudah bersedia untuk duduk bersamanya.

 

“Huft, baru juga seneng bentar, udah langsung dipatahin harapanku,” batin Delana dalam hatinya.

 

Delana tak bersemangat membereskan bekas makan Chilton. Ia memasukkan kembali kotak bekal tersebut ke dalam tasnya kemudian beranjak dari tempat duduknya.

 

“Mau ke mana?” tanya Chilton melihat Delana sudah berdiri sembari menjinjing  tasnya.

 

“Ke kelas.”

 

Chilton melirik arloji yang ada di pergelangan tangannya, “Jam masuk masih lima belas menit lagi.”

 

“Masuk lebih dulu lebih baik,” Delana melangkahkan kakinya perlahan.

 

“Oke. Hati-hati ya! Jangan sampai salah kelas lagi!” serunya.

 

Delana membalikkan tubuhnya, menatap tajam ke arah Chilton yang sedang menertawakan dirinya, kemudian melanjutkan kembali langkahnya menyusuri jalan taman, koridor, dan masuk ke dalam kelasnya.

 

Delana duduk di salah satu kursi kosong tanpa memperdulikan beberapa pasang mata yang terus menatapnya. Ia mengeluarkan ponsel dari tasnya dan mulai bermain game online sembari menunggu dosen datang.

 

 

 

“Siapa dia? Kok, bisa ngobrol sama kakak kelas yang ganteng itu?”

 

“Katanya, cowok itu selalu menolak didekati cewek-cewek cantik. Kenapa dia mau deketan sama dia?”

 

“Iya. Dia terlalu biasa. Nggak cantik!”

 

 

 

Terdengar beberapa cewek sekelas sedang membicarakan Delana. Delana tidak peduli, ia pura-pura tidak mendengarkan ucapan dari teman-teman sekelasnya.

 

Lima belas menit kemudian, dosen pengajar sudah masuk ke dalam kelas untuk memberikan materi.

 

Kali ini, Delana tidak terlalu kesulitan karena materi yang disampaikan sesuai dengan buku pegangannya.

 

Delana mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Baru sehari ia bisa menikmati satu kelas dengan Chilton. Waktu begitu cepat mengubah keadaan.

 

Delana beberapa kali menoleh ke belakang. Ia merindukan sosok Chilton yang menatap ke arahnya setiap kali ia menoleh ke belakang.

 

Mata pelajaran telah usai. Semua mahasiswa berhambur keluar kelas. Delana perlahan membereskan bukunya dan ikut melangkahkan kaki keluar dari kelas.

 

 

 

 

 

***

 

Delana merebahkan tubuhnya ke atas kasur begitu sampai di rumah. Siang ini panas terik dan dia berjalan kaki pulang ke rumah. Lumayan membuat kulitnya serasa terbakar karena ia tidak membawa payung, juga lupa membawa topi untuk menghindari panasnya terik matahari. Ia menyalakan AC kamar dan menikmati hawa dingin yang mulai merasuk ke pori-pori kulitnya.

 

Hari ini dia bahagia karena bisa mengobrol dengan Chilton. Ia merasa, begitu mudah mengajaknya bicara. Cowok yang terkenal dingin dan tidak banyak bicara itu terlihat berbeda di depan mata Delana. Chilton tak sedingin yang dibilang orang. Ia juga tidak sombong. Ia cukup banyak berbicara dan sesekali tersenyum. Bagi Delana, itu merupakan langkah yang cukup baik untuk bisa mendapatkan cinta Chilton.

 

Delana bangkit, ia membuka tas dan mengambil kotak bekal bekas makan Chilton. Ia tersenyum bahagia memeluk kotak itu. Rasanya, ia tak ingin mencuci kotak bekal itu supaya bekas tangan Chilton tidak hilang dari situ.

 

Delana tak bisa menahan perasaan bahagianya dan ingin segera menceritakan kejadian hari ini kepada kedua sahabatnya. Ia menelepon Ivona, tapi tak dijawab. Kemudian ia menelepon Belvi dan langsung mendapatkan jawaban.

 

“Halo, Belvi!”

 

“Ya. Kenapa?” tanya Belvi melalui sambungan telepon.

 

“Aku mau cerita sesuatu sama kamu.”

 

“Cerita apa?”

 

“Aku tadi ketemuan sama Chilton. Aku bikinin dia nasi goreng dan dia suka banget!” seru Delana dengan perasaan penuh kebahagiaan.

 

“Oh ya? Bagus, dong.”

 

“Iya. Aku seneng banget!”

 

“Iya. Mudah-mudahan berhasil dapetin dia ya! Oh ya, aku masih di kampus. Nanti lagi teleponnya ya,” Belvina langsung mematikan sambungan telepon.

 

“Iih, kalian pada sibuk terus!” maki Delana pada layar ponselnya.

 

Ia meletakkan ponselnya dan bergegas membersihkan badan. Ia terus bersenandung riang sembari menyelesaikan pekerjaan rumahnya.

 

 

 

***

 

Chilton langsung masuk ke kamar yang ada di asrama kampus. Kebetulan, kamarnya ada di lantai tiga. Ia membuka tirai jendela dan menikmati pemandangan jalanan. Hanya ada mobil dan motor lalu lalang. Kemudian, matanya tertuju pada sosok cewek yang sedang berjalan kaki di trotoar, kemudian memasuki gang yang bisa terlihat dengan baik dari jendela kamarnya. Ia terus menatap cewek itu sampai ia tak terlihat lagi karena tertutup bangunan di sekitarnya.

 

Ia tersenyum sembari melangkahkan kaki mendekati ranjang tidurnya. Cewek itu telah berhasil menciptakan senyuman di bibirnya. Senyuman yang jarang sekali ia perlihatkan pada orang lain. Semenjak ia mengenal Delana, ia jadi lebih banyak tersenyum sendiri.

 

Chilton merebahkan tubuhnya di atas ranjang sembari menatap langit-langit kamar. Ia merasa perasaannya kali ini jauh lebih baik dari hari-hari sebelumnya. Ada hal aneh yang menyelimuti dirinya semenjak mengenal gadis sederhana bernama Delana. Ia bahkan tidak bisa bersikap cuek di hadapan cewek itu.

 

Tak ada satu orang pun yang tahu perubahan dalam hati, bahkan dirinya sendiri. Ia sendiri tak mengerti kenapa bisa bersikap baik dengan cewek itu. Senyuman cewek itu terlihat begitu tulus dan... ia nyaman. Namun, ia sendiri belum bisa memastikan apakah ia menyukai cewek itu atau tidak. Bisa jadi ia hanya nyaman sebagai teman, tidak lebih dari itu.

 

 ((Bersambung))

 

 

 

 

 

 

Then Love Bab 1 : Putus Cinta Sebelum Jadian

 


“Delana!” teriak Ivona dari kejauhan.

 

Delana membalikkan tubuhnya dan menatap Ivona yang setengah berlari ke arahnya.

 

“Ada apa?” tanya Delana. Delana Aubrey adalah anak perempuan yang selalu berambut pendek seperti laki-laki.

 

“Aravin mana?” tanya Ivona.

 

Delana mengernyitkan dahinya, “Kenapa nanyain dia?” tanya Delana balik dengan nada ketus.

 

“Idih ... sensi amat!? Aku kan cuma tanya doang. Biasanya kamu nggak pernah pisah sama Aravin,” tutur Ivona dengan wajah tanpa dosa.

 

“Nggak usah sebut nama dia lagi di depanku!” dengus Delana.

 

“Eh!? Kenapa?” Ivona melirik tajam ke arah Delana yang sudah berjalan beriringan di sisinya, “marahan?” Ivona mendekatkan wajahnya ke wajah Delana.

 

“Iya!” jawab Delana sembari mendelik kesal.

 

“Astaga... rasanya kemarin kalian masih akrab banget. Aku pikir udah jadian.”

 

“Belum. Kemarin dia nembak aku, tapi aku tolak.”

 

What!?” Ivona membelalakkan matanya, “bukannya kamu suka sama dia? Kenapa ditolak?” Ivona langsung menghadang langkah Delana. Menatap cewek berambut pendek yang ada di depannya itu. Ia mengerutkan hidungnya, ingin sekali ia memaki sahabatnya itu karena sudah menolak laki-laki yang ia sukai.

 

“Aku kesel sama dia. Selama ini dia manggil aku Bungas. Kata Atma, Bungas itu dalam Bahasa Melayu Sambas artinya cuci muka. Masa iya, dia nembak aku tapi dia ngehina aku banget dengan manggil aku Bungas? Maksudnya dia ngatain muka aku kumel gitu?” tutur Delana kesal, “aku nggak bakalan mau jadian sama cowok kayak gitu. Keliatannya aja baik, sekalinya tega ngehina aku. Aku sakit hati banget!” lanjut Delana.

 

Delana dan Aravin telah menjalani banyak hari bersama. Di SMA Heksa, Delana tak punya banyak teman karena mereka berasal dari SMP yang berbeda. Ia hanya memiliki dua orang teman baik laki-laki yakni Aravinda Farhan dan Atma Anugerah.  Aravinda Farhan adalah siswa yang cerdas dan memiliki nilai sangat bagus sementara Atma Anugerah nilainya tidak begitu bagus, tapi dia sangat tampan.

 

Delana sebenarnya pintar, tapi dia tidak rajin belajar sama sekali. Keberuntungan telah membuat ia tetap bisa masuk ke SMA Heksa, salah satu sekolah ternama di kota Balikpapan. Di SMA Heksa, terbagi menjadi dua kelas yakni kelas unggulan dan kelas reguler. Nilai Delana Aubrey hanya bisa masuk ke kelas reguler.

 

Selama tiga tahun di SMA, Aravin yang memberikan kursus tambahan untuk Delana agar ia bisa masuk ke salah satu universitas ternama di ibukota.

 

Aravin berharap bisa masuk ke universitas yang sama dengan Delana. Usahanya gagal setelah Delana menolak perasaan cintanya hanya karena termakan fitnah dari Atma.

 

Sebenarnya, Bungas artinya adalah cantik atau tampan dalam Bahasa Banjar. Sebab, Delana terlihat begitu cantik dalam kesederhanaannya, penuh semangat dan selalu riang.

 

 “Jadi, kamu mau daftar kuliah ke mana?” tanya Ivona.

 

“Kayaknya deket rumah aja, deh.”

 

“Kenapa? Bukannya kamu pengin bisa kuliah bareng Aravin di ibukota?” tanya Ivona.

 

“Aku nggak tega kalau harus ninggalin Ayah dan Bryan. Aku kepikiran siapa yang mau masak buat mereka, siapin pakaian mereka, dan ngurus keperluan mereka sehari-hari.”

 

Ivona menghela napas, ia menggenggam pundak Delana, “I know, you are a special girl. Always be strong and always cheerful. Aku bangga punya sahabat kayak kamu,” Ivona tersenyum menatap Delana.

 

Delana membalas senyum Ivona, “Makasih.”

 

“Hei, lagi pada apa sih kok kelihatan mesra banget? Aku iri, deh!” seru Belvi sambil menepuk punggung Ivona dari belakang. Cewek tomboy yang satu ini memang senang sekali berteriak sesukanya.

 

“Astaga.. Belvi!” Ivona mengelus dadanya, “jantungku mau copot. Kamu ngagetin aja sih!” maki Ivona.

 

Belvi cengengesan menanggapi makian dari Ivona, “Kalian ngomongin apa sih? Kelihatannya serius banget?” tanyanya. Ia asyik mengunyah permen karet yang ada di dalam mulutnya.

 

“Ngomongin kuliah.”

 

“Oh ya? Kamu jadi kuliah di Jakarta?” tanya Belvi.

 

Delana menggelengkan kepalanya.

 

“Kenapa?” tanya belvi penasaran, “bukannya selama ini kamu semangat banget pengin kuliah ke Jakarta bareng Aravin?”

 

Ivona mendelik ke arah Belvi, ia menginjak sepatu Belvi agar menghentikan pertanyaannya yang tidak ada habisnya.

 

“Ada apa sih, Ivo!” celetuk Belvi kesal karena jari kakinya terasa linu setelah diinjak oleh Ivona.

 

Delana menghela napas panjang, “Nggak usah berantem. Biar aja si Belvi tahu.”

 

“Eh!?” Belvi mengerutkan keningnya, tanda bahwa di kepalanya ada pertanyaan yang tak bisa ia ungkapkan.

 

“Aku abis nolak Aravin,” tutur Delana pelan.

 

“Loh, loh? Kenapa?” tanya Belvi.

 

“Aku suka sama dia. Tapi, aku nggak akan pernah memulai hubungan apa pun sama dia. Dia nggak tulus sama aku. Dia udah nyakitin aku, Bel,” Bulir air mata terlihat menggenang di mata Delana.

 

“Sabar ya!” Belvi merentangkan tangannya dan langsung memeluk Delana. Ivona juga ikut merengkuh tubuh Belvi dan Delana.

 

 

 

***

 

Beberapa minggu kemudian, Delana memilih mendaftar di salah satu universitas yang dekat dengan rumahnya. Ia tak lagi menginginkan kuliah di ibukota dan mengubur dalam-dalam kisahnya bersama Aravin. Cowok yang telah berhasil membuatnya putus cinta sebelum jadian.

 

Usai mendaftar kuliah, Delana dan Belvi bersama-sama pergi ke rumah Ivona. Mereka langsung menyerbu kamarnya, apalagi kalau bukan ingin menghamburkan semua isi kamar Ivona. Mulai dari peralatan sekolah sampai baju dan make-up.

 

“Von, kalau aku panjangin rambutku cocok nggak ya?” tanya Delana sembari memandang dirinya sendiri di depan cermin.

 

“Hah!? Serius!?” tanya Ivona dan Belvi bersamaan. Mereka memandang ke arah Delana yang sibuk memperhatikan wajahnya di depan cermin sembari mengutak-atik rambutnya.

 

Delana menganggukkan kepalanya.

 

Ivona dan Belvi saling pandang, mereka saling bertanya dalam hati. Kemudian tersenyum bersama. Sepertinya, putus cinta telah membuat Delana mulai merubah penampilannya. Tak biasanya ia berdiri lama di depan cermin hanya untuk melihat dirinya sendiri. Meski ia berasal dari keluarga yang berkecukupan, tapi ia tak begitu peduli dengan penampilannya. Sikapnya kali ini sungguh berbeda.

 

Ivona menghampiri Delana dan berdiri di sampingnya, “Like this?”

 

Ivona percaya diri menatap bayangannya di cermin. Ia memang sangat cantik dan memesona. Tak heran jika banyak lelaki yang berebut ingin menjadi pacarnya. Bagi Ivona, ia bisa mendapatkan pria manapun yang ia mau dan juga dengan mudah mencampakkan lelaki yang sudah tak ia suka. Di dalam pikirannya, Life is simple. Mati satu tumbuh seribu.

 

Delana menghela napas, ia tertunduk lesu begitu melihat bayangan di sampingnya terlihat jauh berbeda dengannya. Dari gaya berpakaian saja, Ivona terlihat sangat modis dan kekinian. Sementara Delana terlihat sangat sederhana dengan kaos oblong dan celana tiga perempat. Rambut Ivona ikal panjang berwarna cokelat, sedangkan rambutnya sangat pendek seperti laki-laki. Bagaimana bisa laki-laki akan tertarik dengannya jika penampilannya saja seburuk ini.

 

“Hei, jangan sedih!” tutur Ivona lembut. “Kamu cantik. Hanya butuh dipoles sedikit saja,” Ivona mengedipkan mata ke arah Delana.

 

Ivona memaksa Delana duduk dan mulai mengeluarkan peralatan make up-nya. Kali ini, Ivona berubah bak penata rias profesional.

 

“Gimana, Bel?” tanya Ivona pada Belvi yang sedang asyik berbaring di atas tempat tidur sembari bermain ponsel.

 

Belvi langsung bangkit dan menghampiri Delana, “Wow...! Cantik banget! Aku mau juga didandanin!” seru Belvi. Walau secara fisik Belvi terlihat cewek banget, tapi gaya tomboy-nya masih sangat kental. Terlebih saat bicara suka berteriak-teriak sesukanya tanpa memperhatikan orang lain.

 

“Bantu aku dulu!” pinta Ivona. Ia melangkahkan kaki menuju lemari pakaian empat pintu yang ada di dalam kamarnya. Semua pintunya ia buka dan ia sibuk memilih baju yang cocok untuk Delana.

 

Belvi membantu Ivona memilih baju yang cocok untuk Delana.

 

Ivona sudah mengeluarkan beberapa helai pakaian dari dalam lemari dan meletakkannya di atas ranjang, “Cari lagi yang bagus, Bel!” pinta Ivona.

 

Ia berpindah ke salah satu lemari, mengambil rambut palsu panjang dan ikal. Ia memasangkan rambut palsu tersebut di kepala Delana sementara Belvi masih sibuk memilih baju yang cocok.

 

Belvi meletakkan beberapa helai gaun ke atas ranjang Ivona. “Baju kamu bagus semua. Aku bingung mau pilih yang mana,” gumamnya.

 

Ivona tertawa kecil. Ia meminta Delana mencoba bajunya satu persatu. Ivona dan Belvi jatuh cinta pada gaun berwarna biru arctic yang terlihat begitu lembut membalut tubuh Delana. Kulit putihnya terlihat begitu menyatu dengan warna gaunnya.

 

“Aargh...! Cucok!” teriak Ivona kegirangan. Ia dan Belvi berjingkrak kegirangan. Ivona langsung mencari keberadaan ponselnya dan langsung membidik Delana dengan kamera ponselnya. Mereka berpose beraneka model di dalam kamar.

 

Delana yang belum terbiasa dengan make up di wajahnya sudah mulai merasa gatal. Ia ingin sekali membersihkan wajahnya secepatnya. Sementara Ivona masih mendandani Belvi dan meminta untuk melakukan sesi foto bersama Delana.

 

“Cepetan, Ivo! Mukaku udah gatel banget, nih!” gerutu Delana.

 

“Hah!? Seriusan?” Ivona mendongakkan kepalanya menatap Delana. “Make up aku ini make up mahal. Masa iya bikin kulit gatal? Aku udah pakai make up ini lama dan baik-baik aja, kok.”

 

Delana menghela napasnya, “Ya udah, cepet lanjutin dandannya. Aku udah nggak betah pake make up menor kayak gini.”

 

“Oke. Wait!” pinta Ivona.

 

Setelah selesai merias wajah Belvi, mereka melakukan sesi foto. Ivona langsung memasang story di Instagram dan mendapat banyak pujian dari pengikutnya karena hasil make up yang ia buat sangat cantik.

 

“Aargh ...! Baca, deh!” Ivona menunjukkan komentar yang ada dalam postingan Instagram-nya. “Aku seneng banget!” serunya ketika membaca komentar positif yang membuat dirinya merasa bangga untuk pertama kalinya.

 

“Ini bersihinnya gimana?” Delana menarik tisu dan langsung mengusapkan di wajahnya.

 

“Idih, jangan pakai tisu! Kasar banget, sih!” Ivona merebut tisu dari tangan Delana.

 

“Terus pakai apa?” tanya Delana.

 

Ivona meraih kapas dan micellar water yang terletak di meja riasnya, “Pakai ini!”

 

Delana langsung membersihkan riasannya. Sementara Belvi masih sibuk foto selfie dan tidak mau membersihkan riasannya.

 

“Kalian itu, aslinya cantik. Cuma dipoles make up dikit aja udah kelihatan cantik banget,” Ivona menatap kedua sahabatnya.

 

Drrt... Drrt...

 

Ponsel Delana bergetar. Ia meraih ponselnya dan melihat panggilan dari ayahnya.

 

“Iya, Ayah. Ini udah mau pulang!” seru Delana. Ia langsung terburu-buru membersihkan riasannya, berganti pakaian, kemudian pulang ke rumah secepatnya.

 

 

 

***

 

Setelah sekian purnama terlewati, Delana pun akhirnya resmi lulus dari siswa dan menjadi mahasiswa. Ini hari pertama Delana masuk ke universitas. Ia masih tak percaya kalau dirinya kini mulai bertransisi dari remaja menuju wanita dewasa. Ia melangkahkan kaki penuh percaya diri memasuki halaman kampus.

 

Delana berjalan perlahan melewati taman kampus, ia berpapasan dengan seorang cowok tampan yang sedang lari pagi. Matanya tak berkedip dan kepalanya hampir saja lepas dari tempatnya karena mengikuti arah cowok itu berlari. Ia begitu terpesona dengan cowok tampan yang ada di kampusnya itu.

 

Duh, udah ganteng ... macho ... fresh dan cute banget! Ternyata ada juga cowok di sini yang gantengnya kayak di drama Korea,” batin Delana.

 

Ia tak bisa mengalihkan pandangannya dari cowok itu meski ia sudah berlari menjauh dari tempatnya berdiri dan menghilang.

 

Delana menggigit bibirnya dan mulai memikirkan cara untuk bisa berkenalan dengan cowok itu. Ia mengedarkan pandangannya ke segala arah dan tak satu pun sosok mahasiswa kampus yang ia kenal. Bagaimana ia bisa tahu nama cowok itu, apa dia bisa bertemu lagi dengan cowok itu?

 

Sepulang dari kampus, Delana langsung bertemu dengan kedua sahabatnya di rumah Ivona seperti biasa.

 

“Von, tadi di kampus aku ketemu sama cowok ganteng banget!” seru Delana dengan wajah gemas.

 

“Seriusan? Seganteng apa?” tanya Ivona.

 

“Hmm... mirip-mirip artis Korea gitu. Tinggi, putih, atletis. Pokoknya, cowok idaman banget!”

 

“Cocok sama aku tuh,” sahut Ivona sambil menahan tawa.

 

“Iih, enak aja! Ini spesial buat aku ya! Lagian, kamu kan gampang dapetin cowok-cowok keren. Kasih aku satu napa?” celetuk Delana.

 

“Tajir nggak, dia?” tanya Belvi.

 

Delana mengedikkan bahunya, “Aku belum kenalan. Mana tau tajir atau enggaknya.”

 

What!?” Belvi dan Ivona membelalakkan mata bersama mendengar ucapan Delana. “Wah, gawat! Belum kenalan sudah jatuh cinta. Kemarin, belum jadian sudah putus cinta,” celetuk Belvina.

 

Delana mencebik ke arah Belvi. Belvi memang terkesan ceplas ceplos dalam berbicara, tapi dia sangat peduli dan memperhatikan Delana.

 

“Gimana caranya biar aku bisa kenalan sama dia ya?” tanya Delana.

 

“Ya langsung tegur aja kalau pas papasan!” jawab Belvi sekenanya.

 

“Yee ... kesannya aku gatel banget. Iya kalo dia nanggepin. Pas aku bilang ‘Hai’ terus dia buang muka gimana? Malunya sampe ubun-ubun!” celetuk Delana.

 

“Emang dia kelihatannya gimana? Dingin gitu ya sampe kamu nggak berani nyapa duluan?”

 

“Kelihatannya sih gitu. Di sana banyak cewek yang ngikutin dia jogging dicuekin juga.”

 

“Dia suka jogging?” tanya Belvi.

 

Delana menganggukkan kepalanya.

 

“Wow...! Aku ngebayangin ... cowok yang suka jogging itu body-nya pasti keren,” Belvi menatap langit-langit kamar, membayangkan sosok cowok keren versinya sendiri.

 

“Ya udah, kamu ikutan jogging aja kayak cewek-cewek yang lain!” sahut Ivona.

 

Delana mengedikkan bahunya, “Nggak, ah. Kesannya aku kecentilan banget. Yang lain yang lebih cantik dari aku aja dia cuekin. Gimana sama aku?” ucap Delana lemas. “Kasih saran yang rada elegan, dong!” pintanya.

 

“Hmm ... apa ya?” Belvi dan Ivona sama-sama membantu mencari ide agar Delana bisa menaklukan cowok ganteng yang menjadi bintang di kampusnya itu.

 

Ia terus berpikir bagaimana caranya bisa bicara dengan cowok itu. Ia tak ingin menggunakan cara umum seperti yang dilakukan cewek-cewek lain. Sepertinya cowok itu tidak akan terkesan dengan yang suka menggoda alias cewek yang kecentilan.

 

Namun, takdir membawanya berkenalan dengan cowok itu tanpa sengaja. Hari berikutnya ia berjalan kaki menuju kampusnya karena memang tidak terlalu jauh dari rumah. Di perjalanan ia bertemu dengan seorang anak penjual jeruk.

 

 “Kak, mau beli jeruk?” tawar seorang anak kecil itu.

 

“Berapaan?” tanya Delana saat ia melihat anak kecil tersebut membawa keranjang buah yang berisi jeruk. Ia merasa iba dan ingin membeli buah jeruk tersebut untuk membantunya.

 

“Seribuan, Kak,” jawab anak kecil itu.

 

“Ya sudah. Beli sepuluh ribu ya!” Delana merogoh sakunya dan menyerahkan selembar uang sepuluh ribuan.

 

Anak kecil itu dengan senang hati menerimanya dan langsung membungkuskan 10 buah jeruk.

 

Delana kembali melenggangkan kakinya menuju kampus. Ia berjalan melewati taman seperti biasa. Tapi, sosok cowok yang ia cari belum terlihat. Sementara sudah banyak cewek-cewek yang terlihat juga menanti kehadirannya. Ada yang sekedar duduk-duduk sembari menikmati ketampanan cowok itu melintas di depannya. Ada juga yang sengaja ikut berlari pagi demi menarik perhatian cowok itu. Kenapa Delana bisa menyadari hal tersebut? Jawabannya terlihat jelas dari wajah yang dipoles make up tebal. Mana ada orang yang mau olahraga tapi dandan dulu?

 

Saat Delana melenggang di jalanan taman, tiba-tiba ponselnya berdering. Ia langsung menerima panggilan dari ayahnya tersebut.

 

“Ya, Ayah. Ada apa?” tanyanya pada Harun Aubrey, ayah Delana.

 

“Sudah sampai kampus?” tanya Harun.

 

“Iya. Kenapa, Ayah?”

 

“Ayah harus lembur hari ini. Kamu nggak usah masak buat Ayah, ya,” pinta Harun.

 

“Bryan gimana?” tanya Delana.

 

“Dia ada ekskul tambahan sampai sore. Udah Ayah tambahin uang jajannya. Jadi, kamu nggak perlu masak buat kami.”

 

“Oh ... oke, Ayah. Oh ya, Ayah mau jeruk? Tadi di jalan aku ketemu anak-anak jualan jeruk. Karena kasihan, aku beliin deh.”

 

“Oh, ya? Manis nggak?” tanya Harun.

 

“Mmh... belum aku coba, sih,” Delana memiringkan kepalanya dan menjepit ponsel ke pundak. Tangannya merogoh kantong plastik berisi jeruk.

 

Brug!

 

Tiba-tiba tubuhnya menabrak sesuatu dan  membuatnya terjatuh. Buah jeruk yang ia beli terhambur di jalanan dan ponselnya ikut meluncur ke pangkuannya. Ia merasa lega karena ponselnya tidak jatuh ke jalanan. Ponselnya bisa hancur bila itu terjadi.

 

“Sorry! Aku nggak sengaja. Kamu nggak apa-apa?” tanya cowok itu. Ia membungkukkan tubuhnya dan menatap Delana. Ia segera memunguti buah jeruk yang menggelinding bebas ke berbagai arah dan memasukkannya kembali ke dalam kantong plastik.

 

“Nggak apa-apa. Aku kok yang salah. Jalan nggak lihat-lihat,” ucap Delana sembari menengadahkan kepala menatap sumber suara.

 

Ia terkejut karena cowok yang ia tabrak adalah cowok yang selama ini ingin ia kejar. “Ah, jodoh emang nggak ke mana. Dia dateng sendiri,” batin Delana dalam hatinya.

 

“Serius nggak apa-apa?” tanya cowok itu sekali lagi.

 

“Iya, nggak apa-apa,” Delana berusaha bangkit namun kesulitan. Cowok itu dengan cepat mengulurkan tangan dan membantunya untuk bangun.

 

“Eh, kaki kamu terkilir? Duduk dulu, aku bantu,” cowok itu membantu Delana untuk duduk di salah satu kursi taman yang tak jauh dari mereka.

 

Delana duduk di kursi, sementara cowok itu memijat bagian kakinya yang terkilir.

 

“Masih sakit?” tanya cowok itu begitu selesai memijat kaki Delana.

 

“Udah lumayan, sih,” Delana mengelus lututnya yang kotor. “Untungnya pakai celana panjang. Kalau enggak, udah lecet nih dengkul,” gumam Delana.

 

“Maaf, ya.”

 

“Iya, nggak apa-apa. Aku juga salah karena jalan sambil nelepon.”

 

Cowok itu tersenyum menatap Delana. Delana hampir saja meleleh menjadi air ketika disuguhi senyuman dari cowok itu.

 

“Bener kamu nggak kenapa-kenapa? Aku tau tadi kenceng banget aku nabraknya,” tanya cowok itu lagi.

 

“Iya. Nggak apa-apa,” jawab Delana. Entah kenapa pertanyaan ‘nggak apa-apa?’ dari cowok itu seperti bentuk kekhawatiran dan perhatian cowok itu kepadanya. Ia tak bisa memungkiri kalau ia menyukai cowok itu untuk pertama kalinya.

 

“Kamu emang sering jogging di sini ya?” tanya Delana.

 

Cowok itu menganggukkan kepalanya.

 

“Selain di sini, pernah jogging di tempat lain?” tanya Delana.

 

“Pernah. Tapi tetep nyaman di sini. Aku bisa nyium aroma bunga yang lagi mekar,” cowok itu menunjuk rimbunan bunga mawar dan melati yang tersusun rapi dan terawat dengan baik. “Seger.”

 

“Oh ya? Setiap pagi aku lewat sini. Tapi nggak pernah perhatiin aroma bunga. Mungkin hidung aku emang nggak peka,” celetuk Delana.

 

“Coba pejamkan mata,” pinta cowok itu.

 

“Nggak mau!”

 

“Kenapa?”

 

“Nanti kamu pergi.”

 

Cowok itu tertawa kecil, “Coba pejamkan mata dan tarik napas dalam-dalam. Kamu bakal ngerasain wangi bunga-bunga yang ada di taman ini.”

 

Delana mengikuti perintah cowok itu. Ia perlahan menutup matanya. Menarik napas dalam-dalam. Ia merasakan aroma wangi melintas di dalam lubang hidungnya sampai masuk ke jantung. Seketika ia merasakan jantung dan hatinya begitu sejuk dan nyaman.

 

I feel it,” tutur Delana lirih. Ia membuka matanya perlahan dan menatap cowok yang masih membungkuk di depannya.

 

Cowok itu hanya membalas dengan senyuman kecil.

 

“Oh ya, nama kamu siapa?” tanya Delana.

 

“Raditya Chilton. Panggil aja Chilton!” jawab cowok itu.

 

Delana mengangguk-anggukkan kepala sembari menghafal nama itu di dalam hatinya. Oh, tidak, tidak! Dia tidak sedang menghafal, tapi ia sedang mengukir nama itu di dalam hatinya. Sebab hatinya bergetar memikirkan nama itu.

 

“Nama kamu?” tanya Chilton.

 

“Delana Aubrey. Panggil aja Delana atau Dela.”

 

“Oh, di kelas mana?” tanya Chilton.

 

“Aku? Di kelas yang paling ujung lantai dua.”

 

Chilton mengernyitkan dahinya, “Kita satu kelas?” tanyanya.

 

“Eh!? Masa sih? Aku nggak pernah lihat kamu di dalam kelas.”

 

“Emang belum masuk kelas seminggu ini.”

 

“Kenapa?” tanya Delana.

 

“Pelajaran nggak begitu efektif di minggu-minggu pertama. Jadi mau santai dulu,” Chilton bangkit. “Aku pamit. Sampai ketemu besok.”

 

Chilton bergegas pergi meninggalkan Delana yang masih terpaku menatap kepergian Chilton.

 

Delana bangkit, ia melangkahkan kakinya perlahan menuju kelasnya sambil bersenandung ria. Beberapa cewek yang ia lewati menatapnya sinis, tapi ia tak peduli. Ia tahu kalau cewek-cewek itu menyukai Chilton dan pastinya cemburu melihatnya berbicara dengan salah satu cowok yang menjadi bintang di kampusnya.

 

 

 

 

 

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas