Thursday, March 13, 2025

Perfect Hero Bab 182 : Ice Cream Full Love

 


“Nonton apaan?” tanya Yeriko sambil menghampiri Yuna yang sedang menatap layar ponsel sambil duduk santai di sofa.

 

“Video kita konferensi pers tadi siang,” jawab Yuna sambil tersenyum.

 

“Oh.” Yeriko duduk di samping Yuna sambil menyalakan rokoknya.

 

“Kamu ganteng banget sih?” tutur Yuna sambil tertawa kecil menatap layar ponselnya.

 

“Baru sadar kalo suami kamu ganteng?”

 

“Udah sadar dari dulu,” jawab Yuna. “Lihat!” Yuna mendekatkan layar ponselnya ke wajah Yeriko. “Ternyata, di kamera aku imut banget ya?”

 

Yeriko tersenyum kecil sambil merengkuh kepala Yuna dan mengecup ujung kepala Yuna.

 

Yuna menengadahkan kepalanya menatap Yeriko. “Makasih  ya! Udah bersihkan namaku.”

 

“Udah tugasku sebagai suami,” jawab Yeriko sambil tersenyum. Ia langsung mengecup bibir Yuna.

 

Yuna tersenyum. Ia balas mengecup bibir Yeriko berkali-kali.

 

Yeriko meletakkan rokoknya ke atas meja dan langsung mendorong tubuh Yuna jatuh ke sofa. Ia menekan tubuh istrinya dan menghisap kuat bibir Yuna hingga dada istrinya itu menegang. Yeriko mengendus perlahan leher Yuna dan memainkan bibirnya di dada Yuna yang putih mulus dan kenyal bak telur rebus.

 

“Yer ...!” panggil Yuna sambil menangkup wajah Yeriko dengan kedua telapak tangannya.

 

“Kenapa?” tanya Yeriko sambil menatap wajah Yuna.

 

“Kamu sadar nggak, kita lagi di ruang tamu.”

 

“Emang kenapa?”

 

“Nggak enak kalo dilihat sama Bibi,” jawab Yuna.

 

“Biar aja,” sahut Yeriko sambil memainkan hidungnya di dada Yuna.

 

“Iih ... kamu ini.” Yuna menarik rahang Yeriko dan menatap wajah Yeriko sambil memonyongkan bibirnya.

 

Yeriko tersenyum dan langsung mengecup bibir Yuna.

 

“Mmh ... aku pengen makan ice cream,” tutur Yuna.

 

Yeriko mengernyitkan dahi. “Ice cream?”

 

Yuna mengangguk sambil tersenyum.

 

Yeriko bangkit dari tubuh Yuna. Ia menarik lengan Yuna untuk bangkit. “Ayo!”

 

“Ke mana?”

 

“Ke kedai ice cream.”

 

“Oke,” sahut Yuna ceria. “Aku ganti baju dulu.”

 

“Nggak usah. Pake itu aja!” perintah Yeriko.

 

“Eh!?” Yuna menatap tubuhnya sendiri yang hanya mengenakan piyama pendek. “Nggak papa pake ini? Ntar dikira orang aku mau tidur di sana.”

 

Yeriko tertawa kecil. “Emang mau tidur. Setelah makan ice cream,” sahut Yeriko.

 

Yuna memonyongkan bibirnya.

 

“Kenapa masih diam? Mau makan ice cream atau nggak?”

 

“Mau!” sahut Yuna.

 

“Ayo!” ajak Yeriko sambil melangkah ke luar.

 

Yuna tersenyum riang. Ia langsung melompat ke punggung Yeriko.

 

Yeriko tersenyum kecil sambil memutar kepalanya menatap Yuna yang sudah naik ke punggungnya.

 

Yuna tersenyum sambil memainkan matanya. Ia menguatkan pegangan tangannya dan melingkarkan kakinya ke pinggang Yeriko.

 

“Ternyata aku punya anak bayi,” celetuk Yeriko sambil menggendong Yuna. Ia tak menyangka kalau hidupnya bisa berubah dalam waktu yang begitu singkat.

 

Yeriko sangat membenci gadis manja dan merepotkan. Tapi, sejak mengenal Yuna dalam hidupnya. Ia justru menyukai sifat Yuna yang manja dan bising. Setiap hari, ia justru merindukan teriakan-teriakan Yuna. Rumahnya yang biasa tenang dan monoton, tiba-tiba menjadi ramai dan berwarna hanya karena Ayuna.

 

Beberapa menit kemudian, mereka sudah duduk bersama sambil menikmati ice cream di tempat favorite mereka.

 

“Yer, besok aku mau ambil barang-barangku di kantor Lian sekalian pamitan. Kamu bisa temenin aku?” tanya Yuna sambil menikmati ice cream yang sudah ia pesan.

 

“Besok?”

 

Yuna menganggukkan kepala.

 

“Bisa,” jawab Yeriko sambil tersenyum.

 

“Makasih!” tutur Yuna sambil tersenyum manja.

 

“Gimana Lian? Dia nggak pernah gangguin kamu?”

 

Yuna menggelengkan kepala. “Mana berani dia gangguin aku. Ada satpam yang jagain dia dua puluh empat jam.”

 

“Oh ya?”

 

“Si Bellina,” tutur Yuna sambil tertawa.

 

“Beneran sampe kayak gitu?”

 

Yuna menganggukkan kepala. “Saking cintanya sama Lian. Takut Lian kepincut sama cewek lain.”

 

“Kenapa kamu nggak kayak gitu?”

 

“Eh!? Maksudnya?”

 

“Kamu nggak pernah jagain suami kamu. Nggak cinta?”

 

“Cinta, dong. Tapi nggak segitunya juga. Kalo kayak Bellina itu udah super overprotective banget!”

 

“Bukannya dia ngelakuin itu karena takut kehilangan Lian?”

 

Yuna menganggukkan kepala.

 

“Kamu nggak takut kehilangan aku?”

 

Yuna langsung menatap wajah Yeriko. “Kamu ini ... lagi ngiri sama hubungan mereka?” tanya Yuna menggoda.

 

“Nggak ngiri. Cuma pengen tahu aja kenapa kamu nggak takut kehilangan aku. Apa kamu ...?”

 

“Aku juga takut,” sahut Yuna. “Kamu pikir, aku nggak takut saat Refi muncul di kehidupan kamu lagi? Aku takut banget tersingkir dari hati kamu setelah ada dia. Dia cantik, kaya, berbakat dan terkenal. Aku nggak ada apa-apanya kalo dibandingkan sama dia. Terlebih, kalian sudah lama saling mengenal. Aku takut banget saat itu. Tapi, aku percaya sama kamu. Kamu nggak akan ninggalin aku. Bener kan?”

 

Yeriko tersenyum sambil menatap Yuna.

 

“Yer, hal yang paling menakutkan dalam hidupku adalah ... saat kamu berhenti mencintaiku,” tutur Yuna dengan mata berkaca-kaca.

 

“Itu nggak akan terjadi,” sahut Yeriko sambil mengusap mata Yuna yang basah menggunakan jemari tangannya.

 

Yuna tersenyum sambil mengusap air matanya. “Aku cengeng ya?”

 

Yeriko menganggukkan kepala.

 

“Maaf, aku selalu jadi istri yang merepotkan.”

 

Yeriko menarik napas sambil menatap wajah Yuna. “Sorry! Awalnya aku emang nggak suka cewek ribet. Entah kenapa, semakin hari aku menyukai keribetan dan keributan yang kamu buat. Kamu udah berhasil mengubah hidupku tanpa aku menyadarinya.”

 

Yuna menatap Yeriko penuh cinta. “Kamu juga udah banyak ngerubah hidupku. Aku pikir, nggak akan pernah nemuin kebahagiaan. Tapi semenjak kenal kamu. Aku selalu bahagia setiap hari.”

 

“Baguslah. Aku cuma mau lihat senyum kamu setiap hari. Ke depannya, kita akan melewati hal yang lebih sulit lagi. Aku harap, kamu bisa menerimanya dengan baik dan tetap percaya sama aku.”

 

Yuna menganggukkan kepala.

 

“Kamu percaya sama aku kan?” tanya Yeriko.

 

Yuna menganggukkan kepala.

 

“Oh ya, besok kita jenguk ayah kamu kalo kita udah keluar dari kantor kamu. Gimana?”

 

Yuna menganggukkan kepala. “Aku juga kangen sama Ayah.”

 

Yeriko tersenyum menatap wajah Yuna yang begitu ceria menikmati ice cream di hadapannya.

 

“Mau jenguk Refi sekalian?” tanya Yuna.

 

Yeriko menggelengkan kepala.

 

“Kondisinya dia gimana setelah konferensi pers? Apa nggak berbahaya buat mentalnya?”

 

Yeriko menggelengkan kepala. “Kenapa kamu masih peduli sama musuh kamu sendiri?” tanya Yeriko sambil mengernyitkan dahinya.

 

“Aku cuma khawatir aja. Katanya, kondisi psikis dia bisa mempengaruhi proses pengobatannya. Kalo dia baik-baik aja, harusnya bisa cepat pulih kan? Kalo dia cepet pulih, dia nggak perlu nempel ke kamu lagi,” jelas Yuna sambil memainkan sendok ice cream-nya.

 

“Kamu cemburu?”

 

Yuna mengangguk. Ia tidak bisa menyembunyikan perasaannya lagi. Baginya, Refi seperti duri dalam hubungan mereka.

 

Yeriko mengelus kepala Yuna. “Yun, aku nggak mudah buat nerima orang lain masuk ke dalam hidupku. Sekali kamu masuk, kamu nggak akan pernah bisa keluar lagi. Percayalah! Aku cuma cinta sama kamu. Nggak ada yang lain.”

 

Yuna menatap wajah Yeriko penuh kehangatan. Ia tak tahu harus mengungkapkan kebahagiaannya dengan kata apa yang paling tepat. Cinta, bahagia atau sebuah harapan? Ia mengecup pipi Yeriko tanpa permisi, sama seperti perasaan cintanya yang tiba-tiba sudah tumbuh begitu baik tanpa ia tahu kapan benih-benih cinta itu tertanam dalam hatinya.

 

“Bibir kamu dingin banget?” tutur Yeriko.

 

“Makan ice cream. Pasti dingin. Emangnya  bibir kamu nggak dingin?”

 

“Dingin banget. Makanya, kamu harus tanggung jawab!”

 

“Tanggung jawab apa?”

 

“Jam segini ngajak makan ice cream. Sampe rumah harus hangatin aku!”

 

Yuna meringis sambil menatap Yeriko. “Siap, Bos!” sahutnya sambil mengangkat tangan kanannya ke atas kepala.

 

Yeriko tersenyum kecil dan langsung mengecup bibir Yuna.

 

“Eh, banyak orang!” seru Yuna berbisik.

 

“Biar aja,” sahut Yeriko sambil merengkuh kepala Yuna ke dadanya. Mereka tertawa bahagia.

 

(( Bersambung ... ))

 

Makasih udah dukung cerita ini terus. Makasih buat yang udah kirimin hadiah juga. Jangan sungkan buat sapa aku di kolom komentar ya! Kasih kripik ... eh, kritik dan saran juga ya!

 

 

Much Love

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

 

 

 

Wednesday, March 12, 2025

Penulis Pengendali Moral Bangsa



Beberapa tahun terakhir ini, dunia kepenulisan diramaikan dengan banyaknya platform buku digital. Tidak hanya memudahkan akses bahan bacaan bagi pembaca, tapi juga memberikan kesempatan kepada penulisnya untuk mendapatkan uang.

Sebelum tahun 2020, platform buku digital seperti Wattpad, Storial, dan Cabaca menjadi tempat favorite bagi para penulis untuk menyalurkan ide-ide dan pemikirannya. Kemudian, sekitar tahun 2020 mulai bermunculan platform baca berbayar seperti Noveltoon, Goodnovel, Novelme, Joylada, dan sebagainya.

Wabah Covid-19 menjadi salah satu pemicu perubahan gaya hidup. Saat semua orang harus WFH, mereka tidak memiliki rutinitas yang padat, sehingga memiliki banyak waktu untuk membaca buku digital. Platform baca berbayar menjadi salah satu tempat favorite bagi banyak pembaca dan penulis, saya satunya adalah saya sendiri.

Kemudian, kehadiran platform baru bernama Fizzo mampu menggempur platform-platform buku digital. Fizzo menghadirkan cerita gratis bagi pembaca, tapi tetap mampu membayar penulisnya. Platform ini menjadi salah satu platform baca paling favorite bagi banyak orang.

Sayangnya, kehadiran platform baca yang memudahkan, juga menimbulkan masalah baru. Salah satunya adalah genre cerita yang bercampur aduk dan lebih banyak bernuansa adegan ranjang. Dari seluruh cerita yang ada di platform, 90% mengandung cerita dewasa yang tidak layak untuk dibaca oleh anak remaja, apalagi anak-anak di bawah umur.

Platform-platform ini sebenarnya sudah melakukan langkah yang baik untuk memisahkan genre remaja dan dewasa. Sayangnya, semua itu tidak bisa berjalan sebagaimana mestinya. Sebab, akun digital tidak mampu mendeteksi usia pengguna yang sesungguhnya. Anak yang baru berusia 10 tahun, bisa mengatur akunnya sesuai tahun lahir sehingga bisa memilih berusia 40 tahun. Hal ini tentunya sangat mengkhawatirkan bagi generasi penerus bangsa. Bagaimana jika anak usia 10 tahun bisa mengakses cerita-cerita dewasa?

Di satu waktu, saya berbincang dengan salah satu anak taman baca yang saat itu baru berusia 11 tahun. Dia mengatakan bahwa ia sangat suka membaca buku di Fizzo. Yang ia baca ialah cerita-cerita young adult. Cerita ini sebenarnya belum layak dikonsumsi oleh anak yang berusia 11 tahun. Tapi, mau bagaimana lagi kalau penulis dan platform menghadirkannya kepada pembaca dengan tujuan komersil.

Bicara tentang komersil, tentunya akan selalu berorientasi dengan uang. Platform akan selalu berusaha menghadirkan produk yang digemari pasar dan penulis akan selalu berusaha menciptakan produk yang dibutuhkan oleh platform. Sehingga, semuanya memiliki keterikatan dan ekosistem ini tidak dapat diubah begitu saja.

Ekosistem yang telah ada, melahirkan sebuah kebiasaan baru dan menjadi pengaruh besar bagi generasi masa depan. Generasi sekarang selalu mendapatkan hidangan yang mengenyangkan, tapi tidak berkualitas dan bermanfaat bagi kesehatan kehidupan mereka. Sama halnya dengan mengonsumsi makanan dan minuman. Hampir semua produk yang dihidangkan adalah untuk menghancurkan mental dan moral generasi muda masa depan.

Dari sekian banyak penulis platform, tak banyak yang bisa mendapatkan pembaca tanpa menulis adegan dewasa. Penulis-penulis yang memilih untuk menulis dengan baik, ceritanya tidak begitu digemari oleh pembaca. Oleh karenanya, kita tidak bisa mengubah ekosistem yang ada, tapi kita masih bisa berusaha mengendalikannya.

Lalu, siapa yang bisa mengendalikannya? Tentunya para penulis. Ya, penulis memiliki peran besar dalam mengendalikan moral bangsa. Karena karya tulis yang diciptakan akan memengaruhi pemikiran pembacanya. Pembaca yang terbiasa dihidangkan konten-konten “Blue”, hidupnya akan selalu berorientasi pada seksualitas saja. Tidak ada ilmu kehidupan yang didapat dari kisah-kisah seksual. Sebab, kegiatan seksualitas adalah sebuah rutinitas yang dilakukan oleh sepasang suami-istri. Hal ini tentunya akan berdampak buruk bagi pembaca di bawah umur yang memalsukan umurnya pada akun google.

Sudah selayaknya, penulis bisa menghadirkan lebih banyak cerita-cerita yang berkualitas. Cerita kehidupan yang bisa memengaruhi dan mengendalikan moral generasi masa depan. Semakin banyak penulis yang bisa menciptakan bahan bacaan berkualitas, maka akan semakin besar pula peluang untuk menenggelamkan cerita-cerita yang lebih banyak pengaruh negatifnya bagi pembaca.

Pengaruh negatif bagi generasi muda dapat dilihat dari banyak kejadian-kejadian nyata yang terjadi di sekitar kita dan di media sosial. Seperti cerita skandal cinta antara murid SMA dan guru. Cerita tentang anak sekolah yang hamil di luar nikah dan lain sebagainya. Meski sebagian pembaca mampu melihatnya dari persektif berbeda, tapi sebagian besar dari mereka memiliki persektif yang sama. Terlebih dengan rendahnya kemampuan literasi di Indonesia.

Oleh karenanya, kita sebagai penulis memiliki tanggung jawab besar pada perubahan sosial yang akan terjadi di masa depan. Ciptakanlah sebuah karya yang berkualitas dan tidak memberikan inspirasi negatif bagi pembacanya.

Penulis adalah sumber dari semua karya yang akan tercipta. Bahkan, sebuah video iklan yang singkay pun memerlukan  skenario dari penulis sebelum diproduksi. Buah dari pemikiran berasal dari tulisan. Jika tulisan baik, maka baiklah pemikiran generasi masa depan. Jika tulisan buruk, maka buruklah pemikiran generasi masa depan.



©Copyright



Perfect Hero Bab 181 : Jodoh untuk Andre

 


Andre menatap layar ponsel sambil berdiri di depan jendela ruang kerjanya. Konferensi pers yang sedang ditonton membuatnya lega sekaligus kesal. Ia sangat lega karena Yuna bisa menjalani hari-harinya dengan tenang. Walau, ia masih belum bisa merelakan Yuna sepenuhnya.

 

Di saat krisis kepercayaan melanda Galaxy Group, saham perusahaan tersebut justru melejit.

 

“Kenapa aku selalu kalah sama kamu?” gumam Andre sambil menatap pemandangan kota dari jendela. “Aku nggak bisa menangin Yuna, juga nggak bisa menangin bisnis.” Ia berbalik dan melangkah menuju sofa yang ada di ruang kerjanya.

 

Andre menuangkan minuman ke dalam gelas dan menenggaknya perlahan.

 

Drrt ... Drrt ... Drrt ...

 

Ponsel Andre berdering. Ia menatap layar ponsel dan langsung menjawab telepon.

 

“Ma, tumben nelpon. Ada apa?”

 

“Yulia udah sampai di sana?” sahut wanita yang ada di ujung telepon.

 

Andre langsung menyemburkan air yang ada di dalam mulutnya. “Uhuk ... uhuk ...!” Ia menarik beberapa tisu dan langsung mengelap wajahnya yang basah. “Yulia!?”

 

“Iya. Mama suruh Yulia ke sana buat nemuin kamu. Dia belum nyampe di apartemen?”

 

“Apartemen? Ma, aku di kantor.”

 

“Oh. Harusnya, dia udah sampai di apartemen kamu.”

 

“Apa!? Mama kirim dia ke sini buat apa?” seru Andre.

 

“Buat nemenin kamu. Lagian, Yulia itu kan pinter. Dia bisa bantu kerjaan kamu di sana. Bukannya kamu sendiri yang bilang kalau di sana punya saingan berat dan belum bisa menangani. Yulia, pasti bisa bantu kamu.”

 

“Aduh, Ma. Ini nggak membantu. Malah bikin aku pusing!” sahut Andre.

 

“Ndre, kata orang jawa, witing tresno jalaran soko kulino. Kalo Yulia di sana, kalian bisa lebih sering ketemu.”

 

“Ma, aku udah bilang kalo aku nggak suka sama Yulia. Kenapa Mama masih mau jodohin aku sama dia?”

 

“Ndre, kamu itu udah dewasa. Udah waktunya berkeluarga. Sampai sekarang, kamu belum juga bawain calon menantu buat Mama. Yulia, perempuan yang paling cocok dampingi kamu. Dia cantik, baik dan pandai berbisnis. Keluarga kita juga sudah saling mengenal dengan baik.”

 

“Aku tahu itu, Ma. Tapi aku nggak cinta sama Yulia. Kenapa masih aja maksain aku sama dia?”

 

“Cinta itu bisa ditanam dan tumbuh setelah kalian menikah nanti.”

 

“Ma ...!” Andre merengek manja. “Kasih aku kesempatan lagi buat dapetin cewek yang aku cintai!”

 

“Mama udah bosan denger alasan kamu ini. Kalo kamu nggak mau nikah sama Yulia. Kamu bakal kehilangan posisi kamu sebagai CEO di Amora!”

 

“Mama ngancam aku?”

 

“Kamu pikirin baik-baik! Dia pasti lagi nunggu kamu di apartemen. Mama nggak mau denger hal buruk soal hubungan kalian. Kamu nggak mikirin kesehatan Papa kamu?”

 

“Oke. Oke. Aku turuti mau kalian. Tapi jangan suruh Yulia tinggal di apartemen aku, Ma. Dia kan bisa tinggal sama orang tuanya.”

 

“Dia datang dari Jakarta buat bantuin bisnis kamu. Rumah orang tuanya jauh dari kantor kamu. Kalo dia tinggal di rumah orang tuanya, bakalan telat masuk kantor.”

 

“Mama masukin dia ke perusahaan kita?”

 

“He-em.”

 

“Astaga, Mama!” seru Andre geram.

 

“Kenapa? Bukannya bagus kalo dia bantuin bisnis kamu?”

 

Andre menarik napas dalam-dalam. “Mama nyuruh dia tinggal di apartemen aku dan kerja di sini juga? Mama tahu nggak, orang kalo keseringan ketemu malah gampang bosan. Aku sewain apartemen lain buat dia.”

 

“Ndre, bisnis kamu lagi nggak stabil. Kalo kamu sewa apartemen lagi, apa nggak terlalu boros? Lagipula, apartemen kamu itu kan luas. Masih lega banget kalo ditinggali kalian berdua.”

 

“Mama niat banget ngejodohin orang. Cowok sama cewek kalo tinggal bareng itu nggak baik, Ma. Kalo terjadi hal-hal yang nggak diinginkan gimana? Aku ini cowok normal, Ma. Kalau aku khilaf gimana?”

 

“Bagus kan? Artinya, hubungan kalian selangkah lebih maju. Jadi, bisa secepatnya menikah.”

 

Andre memutar bola matanya. “Mama berpikir terlalu jauh.”

 

“Mama Cuma mikirin masa depan kamu. Udah cukup dewasa, udah mapan, udah saatnya berkeluarga.”

 

“Sempat-sempatnya Mama mikir sejauh itu. Mama lagi nggak ada kerjaan?”

 

“Nggak ada.”

 

“Nggak ada arisan?” tanya Andre.

 

“Nggak ada, sih.”

 

“Papa udah minum obat?” tanya Andre. Ia mencoba mengalihkan pembicaraan.

 

“Udah. Kamu mulai ngeles ya?”

 

“Ngeles apaan?”

 

“Kamu pikir, Mama nggak tahu kalo lagi mengalihkan pembicaraan.”

 

“Nggak gitu, Ma. Emangnya salah kalo aku perhatiin Papa?”

 

“Papa kamu baik-baik aja. Soal Yulia belum kelar. Kamu ke apartemen sekarang juga!”

 

“Iya, Ma. Iya.” Andre geram dan langsung mematikan panggilan teleponnya.

 

“Ini cewek, ngapain sih muncul di saat kayak gini?” Ia bangkit dan bergegas keluar dari ruang kerjanya.

 

Beberapa menit kemudian, Andre sudah tiba di apartemen dan mendapati Yulia ada di dalamnya.

 

“Kamu bisa masuk apartemenku? Kamu tahu sandinya?”

 

Yulia mengangguk. “Mama kamu yang kasih tahu.”

 

“Astaga, Mama!” maki Andre.

 

“Aku udah siapin makan siang buat kamu. Kita makan siang bareng, gimana?”

 

Andre langsung duduk di meja makan. “Kenapa nggak kabarin aku dulu kalo kamu mau ke sini?”

 

“Mau ngasih kejutan.”

 

“Kejutan?”

 

Yulia menganggukkan kepala. “Bilang Mama kamu, bisnis kamu lagi ada masalah? Dia khusus minta aku buat bantuin bisnis kamu.”

 

Andre menggelengkan kepala. “Bisnisku baik-baik aja. Mama yang ngada-ngada.”

 

“Eh!? Tapi ...” Yulia menatap wajah Andre yang dingin, Ia duduk di hadapan Andre sambil menatap pria yang berbicara dengannya.

 

“Kamu mau tinggal di sini?” sela Andre.

 

Yulia mengangguk. “Tante yang nyuruh aku tinggal di sini.”

 

“Aku sewain satu apartemen lagi buat kamu. Kita nggak perlu tinggal serumah.”

 

“Tapi ...”

 

“Satu lagi. Kamu jangan selalu ngadu ke Mamaku soal hubungan kita!” pinta Andre. “Dia nggak akan tahu kamu tinggal di apartemen lain, selama kamu nggak ngomong ke dia.”

 

Yulia menggigit bibirnya, ia mengangguk perlahan. “Makan dulu!” pintanya.

 

Andre tersenyum kecil sambil menatap Yulia. Sebenarnya, tak ada yang salah dengan hubungan mereka. Ia hanya tak ingin memberikan begitu banyak harapan pada Yulia. Di hatinya, ia masih tak bisa melepaskan Yuna begitu saja.

 

“Kamu boleh lakuin apa aja di sini. Tapi aku nggak izinin kamu nginap di sini.”

 

Yulia tersenyum sambil menganggukkan kepala. Ia menyadari kalau dirinya belum bisa mengambil hati Andre. Mereka memang dijodohkan oleh keluarga, namun ia sendiri tak bisa memungkiri kalau ia mulai mengagumi Andre seiring waktu yang telah mereka habiskan bersama.

 

“Kamu mau balik ke kantor lagi?” tanya Yulia.

 

Andre menganggukkan kepala.

 

“Mmh ... abis pulang kerja. Bisa temenin aku jalan-jalan?”

 

Andre langsung menatap wajah Yulia.

 

Yulia tersenyum manis ke arah Andre. Ia berharap, Andre bisa meluangkan waktu untuknya.

 

Andre menghela napas. “Oke.” Ia tidak tega menolak permintaan Yulia.

 

Yulia tersenyum manis. “Makasih!”

 

Andre mengangguk kecil. Usai menghabiskan makan siangnya, ia bergegas kembali ke tempat kerjanya. Ia tidak menginginkan Yulia masuk dalam kehidupannya. Dalam hatinya, hanya ada Ayuna. Gadis kecil yang tak pernah bisa ia lupakan meski dipisah waktu dan jarak.

 

(( Bersambung ... ))

 

Makasih udah dukung cerita ini terus.Makasih buat yang udah kirimin hadiah juga. Jangan sungkan buat sapa aku di kolom komentar ya! Kasih kripik ... eh, kritik dan saran juga ya!

 

 

Much Love

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas