Wednesday, February 26, 2025

Perfect Hero Bab 172 : Yeri vs Refi || a Romance Novel by Vella Nine

 


Yeriko dan Chandra beriringan melangkah menyusuri koridor rumah sakit untuk bertemu dengan profesor ortopedi.

 

Prof, gimana keadaan Refi?” tanya Chandra begitu mereka sudah berhadapan dengan dokter ortopedi yang menangani Refi.

 

“Sejauh ini perkembangannya cukup bagus. Dia sudah mau mengikuti terapi secara rutin. Jika tidak ada kendala. Dia akan pulih lebih cepat dari waktu yang sudah diperkirakan.”

 

“Hanya saja ... kondisi mental Refi tidak terlalu bagus. Kami khawatir ini akan menjadi hambatan untuk proses penyembuhan. Sudah beberapa kali ia menolak untuk melakukan terapi.”

 

Yeriko menarik napas dalam-dalam. “Apa yang seharusnya kami lakukan, Prof?”

 

“Semuanya tergantung Refi. Ini, laporan diagnosis kondisi Refi.” Dokter tersebut menyodorkan map ke arah Chandra.

 

Chandra meraih map tersebut dan langsung membaca hasil pemeriksaan kondisi Refina. Ia tersenyum sambil memandang Yeriko yang berdiri di sebelahnya.

 

“Oke, Prof. Terima kasih atas informasinya. Kami permisi dulu!” pamit Yeriko.

 

Dokter tersebut mengangguk.

 

Chandra dan Yeriko bergegas keluar dari ruangan. Mereka menyusuri koridor menuju ke ruangan Refi.

 

“Aku rasa, Refi udah nggak bisa make penyakitnya buat nguasain kamu,” tutur Chandra.

 

“Nguasain apaan?” Yeriko mengernyitkan dahi menatap Chandra.

 

“Yah, dia masih pengen balik ke kamu kan?”

 

“Aku nggak mau.”

 

“Dah cinta mati sama Yuna?”

 

Yeriko tersenyum kecil. “Dia istriku, Chan. Wajar kan kalo aku cinta sama dia?”

 

“Ya, ya, ya.” Chandra mengangguk-anggukkan kepalanya.

 

Mereka terus melangkah memasuki ruang rawat Refina.

 

“Yeriko?” Mata Refi berbinar begitu melihat sosok Yeriko masuk ke dalam ruangannya.

 

Yeriko tersenyum sinis menanggapi sapaan Refi.

 

“Aku tahu, kamu pasti bakal datang lihat aku.” Refi tersenyum menatap Yeriko. Ia menjalankan kursi rodanya menghampiri Yeriko.

 

“Yer, aku bisa minta tolong?”

 

“Apa?”

 

“Temenin aku makan. Aku pengen banget makan bareng kamu.”

 

“Aku udah makan sama Yuna,” sahut Yeriko dingin. “Kalo mau, makan sama Chandra?”

 

“Eh!? Aku juga udah makan.”

 

“Ya udah, minta temenin makan sama suster aja!” tutur Yeriko sambil menatap wajah Refina.

 

Refi mengeratkan bibirnya. Ia semakin kesal dengan sikap Yeriko yang begitu dingin terhadapnya. Tidak seperti saat mereka masih bersama. Yeriko begitu lembut dan penuh perhatian.

 

“Gimana kaki kamu, udah ada perkembangan?”

 

“Masih kayak gini.”

 

Yeriko merebut map dari tangan Chandra dan melemparkan ke pangkuan Refi. “Itu laporan perkembangan kesehatan kamu. Kamu masih bisa sembuh.”

 

Refi membuka map tersebut dan membacanya.

 

“Jangan buat alasan apa pun buat nggak ikut jadwal terapi yang udah ditentuin sama dokter!” perintah Yeriko.

 

Refi tersenyum sambil mengangguk. Ia merasa, Yeriko masih begitu memperhatikan kondisi kesehatannya.

 

“Aku nggak mau kamu bikin kekacauan lagi di luar!” tutur Yeriko.

 

“Aku nggak ngelakuin apa-apa, Yer.”

 

“Kamu pikir, aku nggak tahu apa yang udah kamu lakuin di belakang aku?”

 

“Yer, aku emang nggak ngelakuin apa-apa. Semua yang aku bilang ke media itu bener. Kamu aja yang nggak sadar kalo istri kamu itu kelakuannya kayak setan.”

 

“Apa kamu bilang!?” sentak Yeriko.

 

“Dia emang ngancam aku buat jauhin kamu.”

 

“Udah seharusnya kamu jauhin aku!”

 

“Yer ...!” Refi menatap pilu ke arah Yeriko. Ia menoleh ke arah Chandra yang berdiri di samping Yeriko. “Bisa ngomong berdua aja?”

 

“Chandra bukan orang lain. Ngomong aja!”

 

Refi menggigit bibir bawahnya. “Aku ...”

 

Yeriko mengangkat kedua alis menatap Refi.

 

“Aku ... mau ngasih tahu soal Yuna. Sebenarnya, emang Yuna yang ngancam aku buat jauhin kamu dan maksa aku buat loncat dari atap gedung. Aku nggak tahan sama kata-katanya dia. Dia bener-bener bikin aku sakit hati banget.”

 

“Kamu pikir kami percaya sama omong kosong kamu ini?” sahut Yeriko.

 

“Yer, kamu harus percaya sama aku. Kamu harus tahu sifat asli istri kamu. Dia nggak sebaik yang kamu kira. Di belakang kamu ...”

 

“Aku jauh lebih tahu dia daripada kamu,” sahut Yeriko dingin.

 

“Kamu nggak percaya sama aku?” tanya Refi dengan mata berkaca-kaca.

 

“Aku nggak akan ngebiarin siapa pun ngejelek-jelekin istriku!” tegas Yeriko.

 

Refi menatap sengit ke arah Yeriko dan Chandra.

 

Chandra menggeleng pelan dan memilih keluar dari ruangan Refi. Ia tidak begitu berniat mendengarkan omong kosong Refi. Hanya Yeriko yang bisa menghadapi wanita itu.

 

Refi tersenyum dalam hati saat melihat Chandra keluar dari ruangannya.

 

“Yer, aku sama sekali nggak berniat ngejelekin istri kamu. Tapi, kenyataannya emang kayak gitu. Dia selalu ngancam aku. Aku nggak tahu gimana ngadepin dia. Aku terlalu lemah. Aku nggak bisa apa-apa,” jelas Refi sambil menitikkan air mata.

 

“Oh ya?” Yeriko tersenyum ke arah Refi. Ia merasa kalau Refi memiliki kekuatan besar untuk mengacaukan rumah tangganya. Refi terlalu pandai bersandiwara.

 

Yeriko melangkah menghampiri Refi yang duduk di kursi roda. Ia tersenyum sambil membungkukkan badannya, menatap wajah Refi lebih dekat dengannya.

 

Refi tersenyum saat wajah Yeriko berada hanya beberapa sentimeter dari wajahnya. Ia sangat percaya diri kalau Yeriko akan kembali ke pelukannya.

 

Yeriko mencubit dagu Refina sambil tersenyum menatap gadis itu. “Aku nggak mau denger lagi kamu ngomong macam-macam soal istriku!” tegas Yeriko. “Kalau kamu masih gangguin dia, aku bakal balikin kamu ke Paris bareng orang yang ada di belakang kamu selama ini!” ancam Yeriko.

 

Refi melebarkan kelopak matanya. Ia sama sekali tidak mengerti, bagaimana Yeriko mengetahui masa lalunya dengan baik.

 

Yeriko tersenyum sinis ke arah Refi. Ia kembali berdiri tegak sambil melipat kedua tangan. “Kamu pikir, aku nggak tahu siapa dia?”

 

“Kamu ...!?”

 

“Yuna itu segalanya buat aku. Aku nggak akan ngebiarin siapa pun nyakitin dia. Aku udah ngumpulin banyak bukti soal hubungan kamu sama Deny. Aku bakal bikin perhitungan sama kalian kalo masih berani nyakitin Yuna.”

 

“Datang ke konferensi pers besok!” pinta Yeriko. “Ini kesempatan terakhir buat kamu.” Yeriko berbalik dan melangkah menuju pintu. “Oh ya, aku udah nyuruh orangku buat jemput kamu besok.” Yeriko menarik gagang pintu dan langsung keluar dari ruangan Refina.

 

“Aargh ...!” Refi berteriak histeris saat Yeriko keluar dari ruangannya. “Kenapa jadi kayak gini?” tanyanya sambil terisak. “Gimana dia bisa tahu soal Deny? Ceroboh!” maki Refi.

 

Di luar ruangan, Chandra langsung menoleh ke arah pintu begitu Yeriko keluar dari ruangan Refi.

 

Chandra tersenyum sambil menatap Yeriko. “Kelihatannya seneng banget? Udah beres?”

 

Yeriko tertawa dan langsung merangkul pundak Chandra. “Ayo, kita jalan-jalan!”

 

“Ke mana?”

 

“Jemput istriku dulu!”

 

“Di mana?”

 

“Di rumah Jheni.”

 

“Eh!?”

 

“Ayolah!”

 

Mereka melangkah keluar dari rumah sakit.

 

“Kamu yang nyetir!” pinta Yeriko sambil melempar kunci mobilnya ke arah Chandra.

 

Chandra langsung menangkap kunci mobil. “Kenapa aku?”

 

“Aku mau nyantai dulu, sambil telepon istriku,” jawab Yeriko santai.

 

Chandra tersenyum kecil, mereka bergegas masuk mobil dan melaju menuju rumah Jheni.

 

 

(( Bersambung ... ))

 

Makasih udah dukung cerita ini terus.

 Jangan lupa kasih Star Vote juga biar aku makin semangat nulis dan bikin ceritanya lebih seru lagi. Makasih buat yang udah kirimin hadiah juga. Jangan sungkan buat sapa aku di kolom komentar ya! Kasih kripik ... eh, kritik dan saran juga ya!

 

 

Much Love

@vellanine.tjahjadi

 

Perfect Hero Bab 171 : Makin Dekat || a Romance Novel by Vella Nine

 


Chandra enggan membuka mata, namun suara perabotan dapurnya yang saling bersentuhan membuatnya bangkit dari tempat tidur. Ia mengendus aroma makanan dari arah dapur begitu membuka pintu kamarnya.

 

Chandra melangkahkan kakinya menuju dapur. “Pagi ...!” sapanya pada gadis yang sedang menguasai dapurnya.

 

“Pagi ...! Sudah bangun?” sahut Jheni.

 

Chandra menganggukkan kepala. Ia menguap beberapa kali dan duduk di kursi. “Pagi-pagi udah ke sini. Nggak kerja?”

 

Jheni menggelengkan kepala. “Hari ini aku free. Kamu kerja?”

 

Chandra menganggukkan kepala. “Aku izin dulu!” tuturnya sambil menatap layar ponsel.

 

“Eh, kenapa izin?”

 

“Kamu di sini. Masa aku tinggal kerja?”

 

“Nggak papa, kali. Aku langsung pulang kalo udah selesai sarapan.”

 

“Nggak papa. Aku juga lagi males ke tempat kerja,” sahut Chandra.

 

“Kenapa?” tanya Jheni sambil meletakkan hidangan ke atas meja.

 

“Nggak banyak kerjaan. Oh ya, aku mandi dulu ya!”

 

Jheni menganggukkan kepala.

 

Chandra bergegas masuk kembali ke dalam kamarnya.

 

Jheni tersenyum sambil menatap pintu kamar Chandra. Walau Chandra tak pernah mengatakan cinta kepadanya, tapi hubungan mereka sudah jauh lebih baik. Terlebih, Chandra telah mempercayakan kunci rumahnya di tangan Jheni. Ia bisa bebas keluar masuk ke rumah Chandra seperti rumahnya sendiri.

 

“Akhirnya, kelar juga.” Jheni tersenyum sambil menatap sarapan yang telah ia siapkan untuk Chandra.

 

Pandangan Jheni tiba-tiba beralih pada ponsel Chandra yang berdering.

 

“Amara?” Ia langsung meraih ponsel Chandra dan menjawab panggilan telepon dari Amara.

 

“Halo ...!” sapa Jheni begitu ia menjawab panggilan telepon dari Amara.

 

Jheni mengernyitkan dahi karena Amara tak kunjung membalas sapaannya.

 

“Halo ...! Ada apa ya? Kok, nggak ngomong?” tanya Jheni.

 

“Eh, halo ...! Ini siapa ya? Chandra ada?”

 

“Chandra lagi mandi,” jawab Jheni santai.

 

“Mandi?”

 

“He-em. Kenapa?” Jheni langsung menatap layar ponsel Chandra. “Kok, langsung dimatiin?” gumamnya. Ia kembali meletakkan ponsel Chandra ke atas meja.

 

Beberapa menit kemudian, Chandra menghampiri Jheni yang sudah duduk di meja makan.

 

“Udah beres masaknya?” tanya Chandra sambil menatap hidangan yang sudah tersedia di atas meja.

 

Jheni mengangguk.

 

“Sering-sering aja kayak gini!” tutur Chandra, ia tersenyum sambil mengusap ujung kepala Jheni, kemudian duduk di samping gadis itu.

 

“Ayo, makan!” ajak Jheni. Ia mengambilkan makan untuk Chandra.

 

Chandra tersenyum sambil menatap wajah Jheni.

 

“Kenapa lihatin aku kayak gitu?” tanya Jheni tersipu.

 

“Nggak papa. Hari ini, kamu free kan?”

 

Jheni mengangguk. “Kenapa?”

 

“Bisa temenin aku?”

 

“Ke mana?”

 

“Ke suatu tempat. Kamu pasti suka.”

 

“Oh ya?” Jheni mengangguk-anggukkan kepalanya. “Eh, tadi ada si Amara telepon. Sorry ...! Aku jawab teleponnya, tapi dia nggak ada ngomong.”

 

“Oh.”

 

Jheni mengernyitkan dahi menatap Chandra. “Cuma oh?”

 

“Terus, mau apa?”

 

“Mantan pacar kamu nelpon. Kangen kali sama kamu.”

 

“Biarkan aja! Dia udah nikah juga. Buat apa kangen sama aku?”

 

Jheni tersenyum menatap Chandra. “Emang kamu nggak kangen? Beneran udah move on nih?” godanya.

 

Chandra tersenyum kecil menatap Jheni.

 

“Telepon balik, gih! Siapa tahu, dia butuh kamu,” tutur Jheni.

 

“Nggak perlu.”

 

“Seriusan nggak perlu?” goda Jheni lagi.

 

“Serius.”

 

“Ciyee ... udah move on? Selamat ya!” tutur Jheni sambil mengulurkan tangannya ke arah Chandra.

 

“Apa-apaan!?” sahut Chandra sambil menepis tangan Jheni.

 

“Idih, marah? Masih belum bisa lupain Ama ...” ucapan Jheni terhenti saat Chandra membungkam mulutnya dengan potongan daging. Ia langsung mengunyah daging tersebut.

 

“Nggak usah bercanda terus! Makan!” perintah Chandra.

 

Jheni meringis dan meneruskan makannya.

 

“Eh, waktu kamu masih sama Amara, apa dia suka datang ke sini juga?” tanya Jheni.

 

“Jarang.”

 

“Kenapa?”

 

Chandra mengedikkan bahunya. “Dia sibuk sama usahanya.”

 

“Oh. Dia nggak punya kunci rumah kamu? Bisa aja kan dia tiba-tiba datang ke sini karena kamu ...”

 

“Dia nggak akan datang ke sini kalo aku nggak minta,” sahut Chandra.

 

“Oh. Kenapa kamu kasih kunci rumah kamu ke aku?”

 

“Mmh ... biar kamu bisa bikinin aku sarapan setiap hari.”

 

Jheni mengernyitkan dahi. “Kamu mau manfaatin kebaikanku?” dengusnya.

 

“Nggak. Ntar siang, aku yang traktir kamu makan enak.”

 

“Beneran?”

 

Chandra mengangguk. “Kamu sama Yuna emang punya hobi yang sama ya?”

 

“Eh!?”

 

“Sama-sama suka makan.”

 

“Iya, dong. Siapa yang nggak demen makan? Apalagi gratis. Hehehe.”

 

Chandra tersenyum kecil menatap Jheni. “Jhen ...!”

 

“Umh.”

 

“Kamu ... udah pernah pacaran?”

 

Jheni menganggukkan kepala.

 

“Berapa kali?”

 

“Sekali. Waktu masih SMA. Masih cinta monyet.”

 

“Oh.”

 

“Kenapa? Kamu sendiri, udah pernah pacaran berapa kali?”

 

“Belum pernah.”

 

“Hah!? Amara itu ...?”

 

“Langsung tunangan. Dijodohin sama keluarga.”

 

“Oh. Jadi, awalnya kamu cuma dijodohin. Terus, jatuh cinta beneran?”

 

“Belum bisa dibilang jatuh cinta,” jawab Chandra sambil menyuap makanan ke mulutnya.

 

“Kenapa?”

 

Chandra menarik napas dalam-dalam sambil menatap Jheni. “Makin ke sini, aku makin menyadari kalau sebenarnya perasaanku ke dia itu bukan cinta. Tapi tanggung jawab.”

 

Jheni mengernyitkan dahinya.

 

“Aku nggak mau ngecewain keluarga. Ada banyak hal yang jadi alasan buat tetep pertahanin dia. Terutama keluarga besar kami.”

 

“Oh.” Jheni mengangguk-anggukkan kepala. “Apa ... kayak kamu bertanggung jawab sama Refi?”

 

Chandra menganggukkan kepala. “Ya.”

 

“Oh ya, gimana kabarnya dia sekarang? Aku geregetan banget. Bisa-bisanya dia cari masalah sama Yuna. Aku tahu banget Yuna itu gimana. Hidupnya udah banyak menderita. Aku nggak rela Yuna dijahatin sama Refi. Kalo bukan kamu sama Yeri yang nahan aku, udah kucabik-cabik muka tuh cewek!”

 

Chandra tersenyum kecil. “Kondisi psikisnya Refi nggak baik. Jangan sampai dia menyerah sama hidupnya. Setidaknya, ini cara yang bisa kami lakuin buat mempercepat kesembuhan kaki Refi.”

 

“Terus, setelah sembuh, apa rencana kalian?”

 

“Yeriko pasti udah ngatur semuanya. Dia planner yang handal.”

 

“Kamu ini masih aja belain Yeriko. Masalah Yuna udah viral di medsos gara-gara Refi. Dia nyantai aja. Ngeselin banget!”

 

“Nggak bisa nyelesaikan masalah dengan gegabah. Dia emang selalu tenang ngadepin setiap masalah. Semuanya, pasti udah dia rencanain.”

 

“Moga aja dia buang si Refi ke segitiga bermuda sana!” seru Jheni. “Ngeri kali tuh orang.”

 

“Kenapa kamu yang emosi? Yuna kelihatan santai aja.”

 

“Kelihatannya aja santai. Kalo datang ke rumah, tetep aja mewek-mewek!” sahut Jheni kesal.

 

Chandra mengernyitkan dahi menatap Jheni.

 

“Eh, kamu jangan bilangin ke Yeri ya!”

 

“Kenapa?”

 

“Yuna nggak mau membebani Yeri. Dia bilang, perusahaannya juga lagi bermasalah.”

 

Chandra tertawa kecil.

 

“Kenapa ketawa?” dengus Jheni.

 

Yeri nggak pernah ngeluhin masalah perusahaan. Dia justru lebih banyak memikirkan hubungannya sama Yuna. Artinya, masalah perusahaan masih bisa dia atasi dengan baik.”

 

“Gitu ya?”

 

Chandra menganggukkan kepala.

 

“Eh, tapi beneran. Jangan sampe kasih tahu ke Yeri!”

 

“Asal sesuai sama penutup mulutnya. Aku bakal diam.”

 

“Kamu mau meras aku?”

 

Chandra tertawa kecil. “Menurut kamu?”

 

“Iih ... nyesel kali aku ngomong ke kamu!”

 

Chandra tersenyum kecil. Ia bangkit dari tempat duduknya. “Ayo!”

 

“Ke mana?”

 

“Kalo hari ini kamu bisa bikin aku puas. Aku bakal tutup mulut.”

 

“Apa!? Kamu kira aku cewek apaan!?” seru Jheni kesal.

 

“Kamu jangan salah paham dulu! Aku mau ajak kamu main di luar.”

 

“Main apa?”

 

“Aih, kebanyakan tanya! Ayo!” Chandra langsung menyambar tangan Jheni.

 

Chandra membawa Jheni keluar rumah untuk jalan-jalan menikmati keindahan kota Surabaya.

 

(( Bersambung ... ))

 

Makasih udah baca sampai sini. Tunggu part-part manis di cerita selanjutnya ya ...

 Jangan lupa kasih Star Vote juga biar aku makin semangat nulis dan bikin ceritanya lebih seru lagi. Makasih buat yang udah kirimin hadiah juga. Jangan sungkan buat sapa aku di kolom komentar ya! Kasih kripik ... eh, kritik dan saran juga ya!

 

 

Much Love

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

Perfect Hero Bab 170 : Hancur || a Romance Novel by Vella Nine

 


“Aw ...! Sakit, Har!” seru Amara sambil menahan rambutnya yang dijambak oleh Harry.

 

“Mana uang kamu?” dengus Harry sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Amara.

 

Amara bisa langsung mencium aroma alkohol yang menyengat dari tubuh Harry. “Aku nggak punya uang.”

 

“Bohong!” sahut Harry sambil mencekik rahang Amara.

 

“Usahaku lagi krisis, aku bener-bener nggak punya uang. Lagian, kamu udah punya hutang banyak banget. Apa nggak bisa ninggalin kebiasaan kamu berjudi?”

 

“Apa kamu bilang!? Kamu mau ngatur aku, hah!? Kamu pikir, kamu ini siapa?”

 

“Aku ini istri kamu. Harusnya, kamu yang ngasih aku uang!” sahut Amara kesal.

 

“Kamu udah berani bentak aku, hah!? Kapan aku nggak ngasih kamu uang? Aku selalu kasih apa aja yang kamu mau. Sekarang, aku jadi kayak gini juga gara-gara kamu!”

 

“Gara-gara aku!? Kamu numpahin semua kesalahan ke aku? Jelas-jelas, kamu yang ngabisin uang kamu buat foya-foya.”

 

“Kamu juga ikut nikmati uang aku kan? Aku sekarang udah bangkrut dan kamu nggak mau dukung aku?”

 

“Har, usaha aku juga lagi krisis. Aku nggak bisa bantu kamu.”

 

“Perempuan nggak berguna!” maki Harry sambil melangkah menuju sofa.

 

“Apa kamu bilang? Kamu sadar nggak sama diri kamu sendiri? Kamu yang nggak berguna jadi suami. Setiap hari cuma mabuk sama main judi, doang!” sahut Amara sambil menghampiri Harry.

 

“Aargh ...! Kamu jangan bikin aku tambah pusing!” teriak Harry.

 

“Kenapa? Kamu sekarang dikejar-kejar sama preman penagih hutang itu? Kamu kira, aku nggak tahu? Mama kamu sampe masuk rumah sakit gara-gara masalah ini.”

 

Harry bangkit dan langsung mendorong tubuh Amara ke dinding. “Kamu memang pembawa sial!” teriaknya. “Sebelum masuk ke keluargaku, semuanya baik-baik aja. Sekarang, usahaku bangkrut, perusahaan Papa bangkrut, dia sekarang ada di penjara. Semuanya gara-gara kamu!”

 

Amara menatap Harry dengan mata berkaca-kaca. “Aku nggak nyangka kalau kamu tega kayak gini sama aku. Aku bener-bener nyesel udah milih kamu jadi suamiku!” tuturnya sambil menangis.

 

“Aku juga nyesel udah jadiin kamu sebagai istriku!” Harry mendorong tubuh Amara hingga tersungkur di lantai. Ia melangkah masuk ke dalam kamar Amara. Mendekati lemari dan mencari barang-barang berharga milik Amara.

 

“Jangan, Har! Itu perhiasan aku!” Amara langsung menerobos masuk kamar dan merebut kotak perhiasan yang ada di tangan Harry.

 

“Aku harus bayar hutangku!” sentak Harry sambil menatap Amara. “Kasih ke aku perhiasan itu!”

 

“Nggak, Har. Perhiasan ini aku beli pake uang aku sendiri sebelum nikah sama kamu!” tegas Amara. “Aku nggak akan ngelepasin ini buat kamu.”

 

“Aku juga sering beliin kamu perhiasan!” sentak Harry. “Kamu udah mulai perhitungan sama aku?”

 

“Perhiasan yang kamu kasih ke aku, semuanya udah ludes kamu pake judi. Ini semua punya aku!”

 

“Aku pinjam!” Harry berusaha merebut kotak perhiasan tersebut dari tangan Amara. Amara dengan gigih tetap mempertahankan kotak perhiasan yang ada di tangannya.

 

Harry menatap Amara sambil melebarkan kelopak matanya. Tangannya langsung menyambar leher Amara dan menekannya kuat.

 

“Aw ...! Sakit, Har!” teriak Amara dengan suara yang hampir tak terdengar. Ia menjatuhkan kotak perhiasan hingga berserakan di lantai. Kedua tangannya berusaha melepas cengkeraman tangan Harry dari lehernya.

 

Harry langsung menoleh ke lantai, matanya berbinar melihat koleksi perhiasan milik Amara. Ia melepas cengkeraman tangannya dari leher Amara dan langsung mengambil perhiasan yang berserakan di lantai.

 

“Aku bisa lunasin hutang-hutangku pakai perhiasan ini,” tutur Harry sambil memeluk kotak perhiasan milik Amara.

 

“Jangan, Har!” teriak Amara sambil menarik lengan Harry dan berusaha mengambil kotak perhiasannya kembali.

 

Harry menatap tajam ke arah Amara. Ia langsung mendorong tubuh Amara.

 

“Aw ...!” Amara merintih saat punggungnya terbentur bibir meja.

 

“Kamu berani ngelawan suami kamu sendiri?” sentak Harry sambil menendang tubuh Amara yang sudah tersungkur di lantai.

 

“Nggak, Har! Ampun!” teriak Amara sambil menangis.

 

Harry mengambil hanger besi yang tergeletak di atas meja dan memukuli Amara.

 

“Sakit, Har!” rintih Amara sambil menangis.

 

Harry berdiri menatap tubuh Amara yang terduduk lemah di lantai. Ia menarik napas dan melemparkan hanger tersebut ke lantai. Ia bergegas pergi meninggalkan Amara sambil membawa kotak perhiasan milik Amara.

 

“Har, jangan dibawa pergi!” seru Amara sambil terisak.

 

Harry tak menghiraukan teriakan Amara. Ia terus melangkahkan kakinya keluar dari rumah Amara. Perhiasan yang dimiliki Amara cukup banyak dan mahal. Ia bisa menggunakannya untuk membayar hutang judi dan bersenang-senang di luar sana.

 

Amara menangis sejadi-jadinya. “Kenapa kamu berubah jadi jahat dan kasar kayak gini?” Ia bangkit dari lantai dan duduk di tepi ranjang.

 

Amara menatap luka-luka yang ada di lengannya. Bayangan Chandra, berkelebat di pelupuk matanya yang basah. “Andai aku bisa kembali kayak dulu lagi. Chandra nggak akan pernah biarin aku luka kayak gini,” tuturnya sambil mengusap air mata yang tak berhenti berderai.

 

Amara menatap ponsel yang tergeletak di atas meja. Ia menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Jemari lentiknya menghapus air mata yang membasahi pipinya. Ia meraih ponsel tersebut, menatap layar ponsel selama beberapa saat.

 

“Chan, kamu cowok paling baik yang pernah aku temui,” bisik Amara. “Aku yakin, kamu pasti bisa maafin aku, kan?” tanyanya sambil menatap nama kontak yang tertera di layar ponselnya.

 

Amara langsung menelepon Chandra. Ia harap, Chandra bisa membantunya keluar dari masalahnya kali ini.

 

“Halo ...!” sapa seseorang di ujung sana begitu panggilan telepon Amara tersambung.

 

Amara terdiam selama beberapa saat. “Kenapa yang angkat perempuan?” tanyanya dalam hati.

 

“Halo ...! Ada apa ya? Kok, nggak ngomong?”

 

“Eh, halo ...! Ini siapa ya? Chandra ada?”

 

“Chandra lagi mandi.”

 

“Mandi?” Amara langsung mematikan panggilan teleponnya. Ia menundukkan kepala dan kembali terisak.

 

“Ternyata, kamu udah nemuin perempuan lain? Apa aku udah nggak punya tempat lagi di hati kamu? Pagi-pagi kayak gini, udah ada perempuan di rumah kamu.”

 

“Aargh ...!” Amara berteriak histeris sambil melempar ponselnya ke dinding.

 

“Chan, kamu selalu maafin dan nerima aku lagi saat aku jalan sama cowok lain. Apa sekarang, kamu udah dapet cewek lain dan nggak ada kesempatan lagi buat aku?”

 

“Andai aku belum nikah, mungkin semuanya bakal lebih mudah. Aku bisa lepas dari Harry dengan mudah, aku bisa kembali sama kamu dengan mudah. Chan, maafin aku ....!”

 

Amara membuka laci meja, mengambil kotak P3K dan mengeluarkan obat dari kotak tersebut. Dengan perlahan, ia mengoleskan obat antiseptik menggunakan cotton bud ke bekas luka yang ada di tangannya.

 

Amara merintih menahan sakit. Air matanya terus mengalir saat mengingat Chandra yang begitu lembut memperlakukan dirinya. Ia telah beberapa kali melukai Chandra dan laki-laki itu tetap menerimanya kembali tanpa syarat.

 

(( Bersambung ... ))

 

Makasih udah baca sampai sini. Tunggu part-part manis di cerita selanjutnya ya ...

 Jangan lupa kasih Star Vote juga biar aku makin semangat nulis dan bikin ceritanya lebih seru lagi. Makasih buat yang udah kirimin hadiah juga. Jangan sungkan buat sapa aku di kolom komentar ya! Kasih kripik ... eh, kritik dan saran juga ya!

 

 

Much Love

@vellanine.tjahjadi

 

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas