Wednesday, February 26, 2025

Perfect Hero Bab 167 : Penyesalan || a Romance Novel by Vella Nine

 


“Li, bisa mampir ke warung dulu nggak? Aku haus banget,” pinta Bellina. Ia mencoba mengulur waktu agar tidak sampai ke rumah sakit secepatnya. Ia berharap, saat sampai di rumah sakit, jadwal pemeriksaan di poli kandungan sudah tutup.

 

Lian membuka laci dashboard. “Itu, ada air minum!” tuturnya sambil menunjuk botol mineral yang ada di dalamnya.

 

Bellina langsung mengambil botol minum tersebut. Ia berusaha mencari cara untuk menggagalkan Lian ke rumah sakit. Tapi, pikirannya buntu dan tidak tahu harus melakukan apa. Terlebih, sikap Lian yang begitu dingin, membuatnya tak berani mengatakan banyak hal.

 

“Mmh ... aku laper,” celetuk Bellina.

 

Lian tak menghiraukan ucapan Bellina. Ia terus melajukan mobilnya menuju rumah sakit.

 

Bellina menggigit bibirnya. Ia mencoba untuk terlihat santai agar Lian tidak mencurigai kebohongannya kali ini.

 

Sesampainya di rumah sakit, Lian langsung mendaftar untuk melakukan pemeriksaan ke dokter kandungan.

 

“Li, aku ke toilet dulu ya!” pamit Bellina sambil bangkit dari kursi ruang tunggu.

 

Lian mengangguk. “Jangan lama-lama!” pintanya.

 

“Iya.” Bellina bergegas pergi meninggalkan Lian. Ia langsung menelepon mamanya.

 

“Halo ...!” sapa Melan begitu panggilan telepon Bellina tersambung.

 

“Ma, Lian maksa aku periksa ke rumah sakit. Gimana dong?”

 

“Hah!? Emangnya kamu nggak bisa cari alasan?”

 

“Nggak bisa. Sekarang, aku udah di rumah sakit. Semua ini gara-gara Yuna.”

 

“Dia yang ngebocorin ini semua?”

 

“Iya.”

 

“Anak itu, memang minta dikasih pelajaran. Berani-beraninya dia bikin masalah sama Mama!” ucap Melan geram.

 

“Terus, aku harus gimana, dong?”

 

“Kamu tenang aja! Kamu bisa cari alasan yang bagus supaya Lian mau maafin kamu.”

 

“Tapi, Ma ...”

 

“Pakai cara seperti biasa. Dia pasti mudah buat kamu taklukan.”

 

“He-em. Oke. Kalo gitu, aku matiin teleponnya. Lian bakal tambah marah kalo aku kelamaan di toilet.”

 

“Oke. Kamu pasti bisa!”

 

“He-em.” Bellina langsung mematikan panggilan teleponnya. Ia bergegas menghampiri Lian yang masih menunggu di kursi tunggu.

 

Beberapa menit kemudian, Bellina dan Lian dipanggil masuk ke ruang pemeriksaan.

 

Bellina menarik napas dalam-dalam sebelum melangkah masuk. Ia berharap, kali ini Tuhan akan berpihak kepadanya.

 

“Baru pertama kali periksa?” tanya dokter begitu Bellina masuk ke dalam ruang pemeriksaan.

 

Bellina mengangguk kecil.

 

Lian melipat kedua tangan menatap Bellina. “Bukannya udah beberapa kali periksa?” tanyanya dalam hati.

 

Bellina salah tingkah menghadapi tatapan Lian. Ia tahu apa yang sedang dipikirkan oleh tunangannya itu. Lian sudah mengetahui kalau ia beberapa kali pergi ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan kandungan.

 

“Baring dulu!” pinta dokter tersebut.

 

Bellina mengangguk. Ia naik ke ranjang pasien dan berbaring.

 

Dokter tersebut langsung melakukan USG untuk melihat kondisi janin yang ada di rahim Bellina.

 

“Kandungannya baru usia dua bulan. Masih berupa embrio. Denyut jantungnya bagus,” tutur dokter tersebut. “Nanti, kembali USG kalau sudah usia lima bulan ya! Kita lihat lagi perkembangan janinnya!”

 

Bellina tersenyum sambil menganggukkan kepala.

 

“Jaga asupan makanan dan jangan terlalu lelah!” pinta dokter. “Kondisi kandungan di usia muda sangat rentan.”

 

Bellina mengangguk lagi.

 

Dokter tersebut mempersilakan Bellina keluar usai melakukan pemeriksaan.

 

Bellina menghela napas lega begitu ia keluar dari ruang pemeriksaan.

 

Lian menatap tajam ke arah Bellina dan langsung menarik lengan Bellina. Ia terus melangkah keluar dan menekan tubuh Bellina ke dinding. “Bukannya kandungan kamu harusnya udah umur empat bulan? Selama ini, kamu memang bohongin aku?”

 

Bellina terdiam. Ia hanya menggigit bibir dan tak berani menatap wajah Lian.

 

“Kamu gila ya!” sentak Lian. “Hal penting kayak gini kamu bikin lelucon!”

 

“Maaf ...!” tutur Bellina dengan mata berkaca-kaca. “Awalnya, aku memang bohongin kamu. Tapi, kali ini aku emang beneran hamil, Li.”

 

“Bell, aku selalu percaya sama kamu. Kenapa kamu malah bohongin aku kayak gini?”

 

“Aku nggak mau kehilangan kamu.”

 

“Aku pasti nikahin kamu, Bel. Tapi nggak kayak gini caranya. Nggak perlu pura-pura hamil buat dapetin perhatian aku!” tegas Lian.

 

“Aku nggak bermaksud kayak gitu.”

 

“Terus, udah kayak gini maksudnya apa?” seru Lian.

 

Bellina terdiam. Ia mencoba mencari jawaban yang tepat untuk pertanyaan Lian kali ini.

 

“Aargh ...!” Lian meninju dinding yang ada di sebelah wajah Bellina. Ia menghela napas kesal dan melangkah pergi meninggalkan Bellina.

 

“Lian ...!” panggil Bellina sambil mengikuti langkah Lian.

 

“Aku perlu waktu buat sendiri.” Lian mempercepat langkahnya.

 

“Li ... Lian ...! Dengerin aku dulu!” seru Bellina.

 

Lian tak menghiraukan panggilan Bellina. Ia terus melangkah pergi, meninggalkan Bellina di rumah sakit.

 

Bellina menghentakkan kakinya. Ia tidak terima dengan sikap Lian yang meninggalkannya begitu saja. “Yuna ...! Ini semua gara-gara kamu!”

 

Lian tak menghiraukan Bellina. Ia melangkah keluar dari rumah sakit, bergegas mengambil mobil dan melajukan mobilnya menuju pantai yang berjarak 7.6 kilometer dari pusat kota dengan jarak tempuh sekitar dua puluh menit.

 

Lian menyandarkan tubuhnya di mobil sambil menatap pantai yang terbentang luas di hadapannya. Ia menyeruput bir kaleng yang ada di tangannya. Di tepi pantai, ia melihat Yuna tertawa riang, bermain pasir dan berlarian ke sana ke mari bersama teman-temannya yang masih mengenakan seragam sekolah.

 

Lian tersenyum kecil mengenang masa-masa indahnya bersama dengan Yuna. “Yun, aku terlalu bodoh. Udah nyia-nyiain kamu gitu aja. Andai semua bisa kembali kayak dulu lagi.”

 

“Bellina bener-bener menyulitkan aku. Saat kita masih sama-sama, kamu begitu ceria, penuh semangat dan pandai bikin orang lain tersenyum. Bahkan sampai sekarang, kamu masih nggak berubah. Aku yang terlalu bodoh. Sudah terlambat menyadarinya,” tutur Lian. Ia menengadahkan kepalanya menatap langit yang luas.

 

Lian tersenyum menatap gumpalan awan yang terus bergerak di atasnya. “Yuna ...!” panggilnya lirih. “Maafin aku ...! Bahkan sampai sekarang aku masih nggak bisa lihat awan cinta yang kamu lukis buat aku. Bodoh!” ucap Lian sambil menertawakan dirinya sendiri.

 

Perasaan Lian semakin tak karuan. Yuna dan Bellina memang saudara sepupu. Tapi, keduanya memiliki karakter yang jauh berbeda. Setiap kali Bellina mengatakan hal buruk tentang Yuna, saat itu juga ia memiliki rasa bersalah yang begitu besar dalam hatinya.

 

“Bellina ... ada berapa banyak kebohongan yang udah kamu buat?” seru Lian sambil memijat keningnya yang berdenyut.

 

Kini, ia terjebak dalam pelukan Bellina. Tidak bisa pergi meninggalkan ibu dari anaknya. Ia sangat berharap kalau suatu hari Bellina bisa merubah sikapnya.

 

 Lian merosot ke bawah, duduk bersandar di ban mobilnya sambil terus meminum beberapa kaleng bir yang ia bawa. “Oh ... Wilian! Kenapa hidupmu begitu menyedihkan?”

 

(( Bersambung ... ))

 

Makasih udah baca sampai sini. Tunggu part-part manis di cerita selanjutnya ya ...

 Jangan lupa kasih Star Vote juga biar aku makin semangat nulis dan bikin ceritanya lebih seru lagi. Makasih buat yang udah kirimin hadiah juga. Jangan sungkan buat sapa aku di kolom komentar ya! Kasih kripik ... eh, kritik dan saran juga ya!

 

 

Much Love

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

Perfect Hero Bab 166 : Ketakutan Bellina || a Romance Novel by Vella Nine



Yuna melenggang memasuki kantor Wijaya Group dengan ceria. Minggu ini adalah minggu terakhir dia bekerja di kantor Wijaya Group. Ia ingin meninggalkan kesan baik pada teman-teman departemennya sebelum berpisah.

 

“Pagi ...!” sapa Yuna ceria.

 

“Pagi juga,” sahut karyawan yang lainnya.

 

“Hei, Tuan Puteri akhirnya masuk kerja juga. Udah sembuh kakinya?” tanya Juan.

 

Yuna menganggukkan kepala. “Kenapa? Kangen ya sama aku?” tanya Yuna sambil tertawa kecil. Ia langsung duduk di kursi meja kerjanya.

 

“Iya. Ruangan sepi tanpamu, Yun. Kayak hatiku,” sahut Juan.

 

“Preett ...!” Yuna mencebik ke arah Juan.

 

“Godain istri orang, ntar dihajar suaminya baru tahu rasa,” sahut Icha.

 

“Ahciyeee ... kamu cemburu, Cha?” tanya Juan.

 

“Idih, ngapain cemburu sama kamu?” sahut Icha sambil memutar bola matanya.

 

Yuna tertawa kecil. “Kayaknya, Juan makin jago ngegombal. Jangan-jangan, udah punya pacar ya?”

 

Juan tersenyum sambil mengelus dagunya. “Juan gitu loh. Siapa cewek yang nggak mau sama cowok ganteng kayak aku? Kalo nggak ada Pak Yeriko, kamu pasti udah tergila-gila sama aku.”

 

Yuna dan Icha tertawa bersamaan. “Ngimpi!”

 

“Astaga ...! Kalian ini memang nggak bisa lihat orang senang,” sahut Juan.

 

Yuna terkekeh geli. Ia menoleh ke arah Icha yang duduk di sebelahnya. “Cha, gimana hubungan kamu sama Lutfi?” tanyanya lirih.

 

“Baik banget,” jawab Icha sambil tersenyum.

 

“Mama kamu gimana? Udah ngerestuin atau belum?”

 

Icha mengangguk sambil tersenyum.

 

“Beneran? Wah ... udah dapet lampu ijo nih dari mama kamu?” tanya Yuna penuh semangat.

 

“Hehehe. Ya, begitulah.”

 

“Tinggal kamu yang ngegaet camer,” tutur Yuna.

 

“Eh!? Aku belum siap buat itu.”

 

“Kenapa?”

 

Icha menarik napas dalam. “Lutfi juga nggak pernah ngebahas soal orang tua dia.”

 

“Mmh ...” Yuna mengetuk-ngetuk dagunya.

 

“Kenapa?”

 

“Nggak papa. Oh ya, minggu ini masa magang aku habis. Gimana kalo aku traktir kalian makan siang?”

 

“Eh!? Emangnya kamu nggak mau lanjut kerja di sini lagi setelah magang?”

 

“Mmh ... belum tahu, Cha. Aku masih mau di rumah dulu.”

 

“Yah, kantor pasti sepi banget kalo nggak ada kamu.”

 

“Kalo mau rame, ajak si Bellina berantem,” sahut Yuna lirih.

 

“Idih ... mana berani cari masalah sama dia. Aku nggak pandai berdebat kayak kamu.”

 

“Hahaha.” Yuna tergelak mendengar ucapan Icha.

 

“Oh ya, aku pergi fotocopy dulu!” pamit Yuna sambil bangkit dari tempat duduknya. Ia membawa beberapa dokumen yang akan ia salin.

 

Yuna melangkah keluar dari ruang kerjanya. Menyusuri koridor menuju ruang fotocopy. Langkahnya terhenti saat melihat Bellina berada di hadapannya.

 

“Hadeh ... males banget ketemu sama ini orang,” batin Yuna. Ia berbalik dan melangkah pergi.

 

“Heh! Mau ke mana?” Bellina langsung menarik lengan Yuna.

 

Yuna memutar bola matanya. “Bel, kamu nggak ada bosennya gangguin aku mulu?” tanyanya sambil berbalik menatap Bellina.

 

Bellina tergelak mendengar pertanyaan Yuna. “Aku cuma pengen lihat wajah kamu aja. Gimana? Udah jadian sama Andre?”

 

Yuna menatap Bellina tanpa berkedip. Ia melipat kedua tangan di dada dan melangkah mendekati Bellina.

 

Bellina tertawa kecil menatap Yuna. “Hartanya Yeriko udah kamu habisin ya? Makanya, sekarang ngincar Andre buat jadi mangsa baru kamu?”

 

Yuna tersenyum sinis. “Aku bukan cewek yang deketin cowok karena harta.”

 

“Oh ya? But, everybody know. Kamu cuma deketin cowok-cowok kaya doang. Siapa yang nggak kenal Yeriko sama Andre? Dua-duanya CEO perusahaan besar.”

 

“Bel, kamu nggak usah nyari masalah sama aku. Kamu tahu sendiri kalo Andre itu temen kita dari kecil. Bukan cowok yang baru aja aku kenal.”

 

Bellina tersenyum kecil menanggapi ucapan Yuna. “Tapi, dia suka banget sama kamu, kan? Kamu pikir, aku nggak tahu kalo Andre lagi ngejar kamu? Kamu tuh udah bersuami, Yun. Mana ada cowok yang mau ngejar-ngejar istri orang kalau bukan karena kamu yang kecentilan!”

 

“Heh! Jaga mulut kamu ya!” sentak Yuna. “Kamu kira aku cewek apaan!?” dengusnya.

 

Bellina tersenyum menatap Yuna. “Kamu jual diri kamu cuma buat uang, kan?”

 

 

 

PLAK!

 

Telapak tangan Yuna langsung mendarat di pipi Bellina.

 

Bellina menarik napas dalam-dalam sambil memegangi pipinya yang terasa panas dan perih. Ia menatap Yuna penuh amarah dan langsung mendorong dada Yuna.

 

“Kamu berani sama aku?” teriak Bellina.

 

“Kenapa nggak berani? Kita sama-sama makan nasi. Kalo kamu tiap hari makan besi, baru aku takut sama kamu,” sahut Yuna.

 

“Kamu!?” Bellina melayangkan tangannya ke arah Yuna. Namun, dengan cepat Yuna menahan lengan Bellina dan mencengkeramnya sangat erat.

 

“Bel, sebelum kamu ngata-ngatain orang lain. Lebih baik kamu ngaca dulu, deh!” pinta Yuna. “Bukannya kamu yang ngelakuin segala cara buat dapetin hartanya Lian?”

 

Bellina tak menyahut. Ia berusaha melepaskan tangannya dari cengkeraman Yuna.

 

Yuna tersenyum sinis. “Kamu bahkan ngerebut Lian dari saudara kamu sendiri. Sekarang, kamu juga pura-pura hamil cuma buat dapetin Lian. Biar dia mau nikahin kamu secepatnya, iya kan?”

 

Bellina menatap sengit ke arah Yuna.

 

“Kamu kira, kita bisa dibegoin kayak kamu ngebegoin si Lian? Kalo kamu hamil, harusnya perut kamu udah mulai buncit. Kenapa masih flat aja?”

 

“Kamu beneran nggak hamil?” Lian tiba-tiba sudah berdiri di dekat Yuna dan Bellina.

 

Bellina membelalakkan mata menatap Lian. “Kamu nggak usah percaya omongannya Yuna. Dia cuma ngada-ngada. Aku udah periksa kandungan rutin. Kamu nggak percaya sama aku?”

 

Yuna tersenyum menatap Lian. “Coba aja kamu bawa dia periksa sendiri! Dia yang bohong atau aku yang bohong?” tutur Yuna sambil melepas tangan Bellina dari cengkeramannya.

 

Lian menatap dingin ke arah Bellina.

 

“Li, kamu nggak usah percaya sama dia!” pintanya. “Dia cuma mau ngancurin hubungan kita karena dia itu masih nggak rela lihat kita hidup bahagia.”

 

“Sorry ya!” sahut Yuna. “Hidupku sekarang jauh lebih bahagia dari hidup kalian,” sahut Yuna sambil berlalu pergi meninggalkan Bellina dan Lian.

 

“Ayo, sekarang juga kita ke rumah sakit!” pinta Lian sambil menarik lengan Bellina.

 

“Li, aku nggak bohongin kamu. Aku beneran hamil. Aku ...”

 

“Jelasin nanti setelah periksa di rumah sakit!” pinta Lian sambil melangkahkan kakinya keluar dari kantor.

 

“Li, kenapa sih kamu lebih percaya sama Yuna daripada sama aku?” tanya Bellina saat Lian membukakan pintu mobil untuknya.

 

Lian menatap wajah Bellina. “Kalo kamu nggak salah, kenapa harus setakut ini?”

 

“Aku nggak takut,” jawab Bellina. Ia tetap tak bisa menyembunyikan perasaan gugupnya.

 

“Masuk!” pinta Lian dingin.

 

Bellina masuk ke dalam mobil perlahan. Ia menatap gedung kantor Lian penuh amarah. “Awas kamu, Yun! Aku bakal bikin perhitungan sama kamu!” batinnya.

 

Lian bergegas masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya menuju rumah sakit. Pikirannya terus tertuju pada Yuna. Wanita cantik yang pernah menjadi pacarnya selama tujuh tahun dan tak pernah menipunya.

 

 

(( Bersambung ... ))

 

Makasih udah baca sampai sini. Tunggu part-part manis di cerita selanjutnya ya ...

 Jangan lupa kasih Star Vote juga biar aku makin semangat nulis dan bikin ceritanya lebih seru lagi. Makasih buat yang udah kirimin hadiah juga. Jangan sungkan buat sapa aku di kolom komentar ya! Kasih kripik ... eh, kritik dan saran juga ya!

 

 

Much Love

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

  

Perfect Hero Bab 165 : Camer Galak || a Romance Novel by Vella Nine

 


“Jelasin!” pinta Ratna sambil menatap Icha dan Lutfi.

 

“Ada hubungan apa antara kamu dan anak saya?”

 

 “Cuma temen, Ma,” jawab Icha.

 

“Kenapa sembunyi?”

 

“Takut dimarahi Mama,” jawab Icha.

 

“Katanya cuma makan bareng? Kenapa harus takut? Ada yang kamu sembunyikan dari Mama?”

 

Icha menggelengkan kepala.

 

“Maaf, Tante. Ini salah saya. Bukan salah Icha.”

 

“Dua-duanya salah!” sahut Ratna.

 

“Maaf, Tante ...”

 

“Kenapa kamu bisa ada di rumah anak saya?” tanya Ratna.

 

“Sudah empat hari saya perjalanan dinas ke luar kota. Sore ini, saya baru balik ke sini. Jadi, saya berinisiatif masak untuk Icha karena beberapa hari nggak bisa ketemu dan ...”

 

“Kamu masakin buat Icha?”

 

Lutfi menganggukkan kepala.

 

“Kenapa? Apa hubungan pertemanan harus sedekat ini? Kamu sampai masakin buat Icha?”

 

“Ma, kita temen baik,” sahut Icha.

 

“Mama tanya sama dia. Bukan sama kamu!”

 

“Mmh ... “ Lutfi menarik napas dalam-dalam dan menegakkan tubuhnya. “Saya suka sama anak Tante.”

 

“Apa!?”

 

“Saya suka sama Icha.”

 

Ratna mengernyitkan dahi. “Ini apa-apaan?” serunya kesal. “Dari tadi kalian mau mempermainkan saya, heh!? Kenapa omongan kalian berubah-ubah?”

 

“Kali ini serius, Tante. Saya sama Icha. Mmh ... kami ... kami ...”

 

“Apa?”

 

“Kami udah pacaran.”

 

Icha langsung menoleh ke arah Lutfi. “Kenapa ngomong gitu?” bisiknya.

 

“Sejak kapan?” tanya Ratna ketus.

 

“Baru seminggu.”

 

Ratna langsung menatap Icha. “Kamu udah berani pacaran?”

 

Icha terdiam. Ia tak berani menjawab pertanyaan mamanya.

 

“Tante, Icha sudah dewasa. Kenapa masih dilarang pacaran?”

 

“Tante nggak ngelarang dia pacaran. Tapi dia hidup di tempat orang. Jauh dari orang tua. Gimana kalo dia berhubungan sama laki-laki yang cuma manfaatin dia aja?”

 

“Tante, saya serius sayang sama Icha. Saya janji, bakal mencintai dia, menjaga dan melindungi dia. Tante nggak usah khawatir!” sahut Lutfi sambil mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya bersamaan.

 

“Apa kamu bisa dipercaya?” Ratna menatap wajah Lutfi penuh curiga.

 

Lutfi merogoh dompet di sakunya dan mengeluarkan kartu nama. “Ini kartu nama saya. Tante bisa hubungi saya. Saya standby dua puluh empat jam.” Ia mengulurkan kartu nama kepada Ratna yang berdiri di hadapannya.

 

Ratna meraih kartu dari tangan Lutfi. Ia tersenyum kecil dan langsung menyimpan kartu tersebut ke dalam tasnya.

 

“Oke. Tante percaya sama kamu. Kalau sampe kenapa-kenapa sama Icha, kamu orang pertama yang Tante cari!”

 

Lutfi menganggukkan kepala.

 

“Makannya udah selesai kan? Kamu udah boleh pulang.”

 

Lutfi mengangguk. Ia bangkit dari tempat duduknya. “Aku pulang dulu, kamu baik-baik ya!” tutur Lutfi sambil menatap Icha.

 

Icha menganggukkan kepala.

 

“Mmh ... Tante, saya pamit pulang dulu.”

 

Ratna mengangguk.

 

Lutfi bergegas keluar dari rumah Icha.

 

Ratna melipat kedua tangan di depan dada sambil menatap Icha.

 

Icha meringis menatap mamanya. “Mama mau nginap di sini?”

 

“Udah jauh-jauh datang dari Kalimantan, kamu mau Mama langsung bulik?”

 

Icha menggelengkan kepala. “Nggak, Ma.” Ia bangkit dan langsung memeluk mamanya. “Kangen banget sama Mama. Mama mau makan apa? Kita keluar sambil jalan-jalan. Gimana?”

 

Ratna tersenyum kecil menanggapi pertanyaan Icha. “Oke.”

 

Icha tersenyum bahagia sambil mengeratkan pelukannya. “Oke. Aku mandi dulu!”

 

Beberapa menit kemudian, Icha dan mamanya pergi makan ke salah satu tempat makan favorite Icha yang berada tak jauh dari rumahnya.

 

“Cha, pacar kamu itu kerjanya apa?”

 

“Dia punya usaha sendiri.”

 

“Usaha apa?”

 

“Villa sama hotel,” jawab Icha.

 

“Dia pengusaha kaya, Cha?” tanya Ratna.

 

“Mmh ... aku rasa begitu.”

 

“Astaga! Icha. Kamu nggak salah pilih pacar kan?”

 

“Eh!? Kenapa, Ma? Dia baik.”

 

“Cha, keluarga kita biasa-biasa aja. Kamu pikir, punya hubungan sama orang kaya itu gampang? Banyak hal yang harus kamu hadapi. Sebelum terlanjur jauh, lebih baik kamu pikirkan lagi!” pinta Ratna.

 

Icha menggigit bibir bawahnya.

 

“Ulun kada malarang ikam mau suka sama lakian mana haja Galuh ae. Tapi beingat jua kita ini siapa! Ikam kira jadi mantu orang sugih tuh enak? Lihat si Naimah, anaknya Julak Wadai yang deket rumah tuh. Nikah lawan urang sugih, kada sampe dua bulan sudah cerai. Muntung martuhanya pang kayak cabai, pedes banget.” (( muntung = mulut, martuha = mertua))

 

“Ma, Mama berpikir terlalu jauh. Aku sama Lutfi cuma pacaran. Bukan mau nikah.”

 

“Apa gunanya pacaran kalo kada nikah?”

 

“Ma, pacaran itu proses!” sahut Icha. “Proses untuk saling mengenal lebih dekat. Kalo cocok, besanding di pelaminan. Kalo kada cocok, diundang ke pelaminan. Pian kada pusing mamikirkan. Ulun masih muda.” (( pian = Anda, ulun = aku))

 

Ratna menghela napas panjang. “Anak zaman sekarang, kalo dikasih tahu sama orang tua. Bisa aja jawabnya.”

 

Icha meringis sambil menatap mamanya. “Makan yang banyak, Ma!” pintanya. “Besok, aku ajak Mama pergi belanja. Mama boleh beli apa aja yang Mama suka.”

 

“Kamu mau nyogok Mama?”

 

Icha menggelengkan kepala. “Uang Mama lebih banyak dari uangku. Kayaknya, nggak perlu disogok, hehehe.”

 

“Emangnya Mama nggak hafal sama kelakuan kamu? Baik-baik sama Mama kalo ada maunya doang,” sahut Ratna.

 

Icha meringis sambil menatap mamanya. Ia langsung menoleh ke ponsel yang berdering di atas meja. “Ma, Yuna telepon aku. Aku angkat dulu ya?”

 

“Yuna atau pacar kamu?” tanya Ratna saat Icha bangkit dari tempat duduknya.

 

“Yuna, Ma.”

 

“Kenapa harus pergi angkat teleponnya?”

 

“Di sini bising. Aku ke toilet dulu,” jawab Icha sambil berlari pergi ke arah toilet.

 

“Halo ...! Yun, ada apa?” tanya Icha begitu ia menjawab panggilan telepon dari Yuna.

 

“Tadi si Lutfi chat aku. Dia bilang, mama kamu datang dan mergokin dia ada di rumah kamu?”

 

“He-em.” Icha menganggukkan kepala.

 

“Emangnya bener, Mama kamu marah-marah gitu?”

 

“Nggak, kok.”

 

“Dia bilang, Mama kamu marah-marah pake bahasa daerah gitu. Mama kamu nggak suka sama Lutfi?”

 

“Nggak juga sih, Yun. Dia nggak bilang suka, nggak benci juga.”

 

“Terus? Apa perlu bantuanku buat jelasin ke mama kamu?”

 

“Nggak perlu, deh. Mama udah nggak ngebahas Lutfi lagi, kok. Tenang aja, aku bisa ngatasi Mama, kok.”

 

“Serius?”

 

“He-em.” Icha menganggukkan kepala.

 

“Ya udah. Baik-baik, ya! Jangan sampe bikin Lutfi patah hati!”

 

“Hehehe. Iya. Makasih ya, Yun!”

 

“Makasih untuk apa?”

 

“Karena udah perhatiin aku.”

 

“Hmm ... kalian bukan orang lain buat aku. Udah seharusnya aku peduli.”

 

Icha tersenyum kecil. Ia merasa sangat bahagia karena bisa mendapat sahabat sebaik Yuna.

 

“Ya udah. Udah dulu, ya! Aku matiin teleponnya,” pamit Yuna. “Bye!” serunya sambil mematikan panggilan telepon.

 

Icha tersenyum sambil menatap layar ponselnya. Ia melangkahkan kakinya menghampiri mamanya yang sedang menikmati makan malam bersamanya.

 

TING ...!

 

Icha langsung membuka layar ponsel dan membaca pesan yang dikirim oleh Lutfi.

 

“Gimana Mama kamu? Masih marah?” tanya Lutfi.

 

“Tenang aja. Semua baik-baik aja, kok.”

 

“Oke. Besok sore aku jemput kamu.”

 

“Oke.” Icha tersenyum sambil membalas chat dari Lutfi.

 

“Simpan dulu hp-nya kalau lagi makan!” sentak Ratna.

 

“Eh!? Iya, Ma.” Icha langsung menyimpan ponselnya ke dalam tas.

 

Ratna sangat berharap kalau Icha bisa fokus menghabiskan waktu bersamanya dan tidak terganggu dengan kehadiran orang lain.

 

 

 (( Bersambung ... ))

 

Makasih udah baca sampai sini. Tunggu part-part manis di cerita selanjutnya ya ...

 Jangan lupa kasih Star Vote juga biar aku makin semangat nulis dan bikin ceritanya lebih seru lagi. Makasih buat yang udah kirimin hadiah juga. Jangan sungkan buat sapa aku di kolom komentar ya! Kasih kripik ... eh, kritik dan saran juga ya!

 

 

Much Love

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas