Wednesday, February 26, 2025

Perfect Hero Bab 164 : Kepergok || a Romance Novel by Vella Nine

 


“Kamu udah lama di sini?” tanya Icha saat masuk rumah dan mendapati Lutfi sedang memasak di dapurnya.

 

Lutfi menganggukkan kepala. “Hari ini, aku masakin khusus buat kamu. Anggap aja, permintaan maaf karena beberapa hari ini nggak bisa ketemu sama kamu.”

 

“Aku tahu kamu sibuk. Baru balik dari Jogja, langsung ke sini?”

 

Lutfi menganggukkan kepala.

 

“Kenapa nggak pulang ke rumah kamu dulu?”

 

“Karena rindu,” jawab Lutfi sambil melepas apron dari tubuhnya.

 

“Bisa aja ngegombalnya,” celetuk Icha sambil menggantung tasnya di dinding.

 

“Ayo, makan!” ajak Lutfi sambil menarik kursi untuk Icha.

 

Icha tersenyum dan langsung duduk. “Thanks.”

 

Lutfi tersenyum. Ia duduk di hadapan Icha dan menikmati makan bersama.

 

“Mmh ... Cha ...!” panggil Lutfi sambil menatap wajah Icha.

 

“Ya.”

 

“Minggu depan ada waktu nggak?”

 

“Kenapa?”

 

“Aku mau ajak kamu ke Pulau Derawan.”

 

“Nggak bisa, Lut. Aku kerja.”

 

“Sehari doang, Cha. Sabtu berangkat, minggu kita udah balik ke sini.”

 

“Males, ah. Capek doang.”

 

“Eh!?”

 

“Lut, perjalanan dari Bandara Balikpapan ke Pulau Derawan itu butuh waktu berjam-jam. Udah gitu, jadwal penerbangan ke sana juga nggak setiap hari. Mana bisa mau ke Derawan cuma sehari doang,” jelas Icha.

 

“Cha, aku bisa nyewa helikopter buat ke Derawan. Perjalanan dari sini ke Balikpapan cuma satu jam aja. Abis itu, aku sewa helikopter ke sana. Paling, dua jam udah nyampe.”

 

Icha menghela napas. “Ya, ya, ya. Kalau banyak duit emang gitu. Kamu ke sana buat urusan kerjaan juga kan? Aku mau ngapain? Nggak mungkin mau liburan kalo kamu kerja.”

 

“Kan bisa sambil liburan, Cha. Aku cuma mau lihat lokasi aja.”

 

“Aku nggak bisa.”

 

“Cha ...!” rengek Lutfi manja.

 

Icha menghela napas sambil menatap wajah Lutfi. “Lut, itu terlalu jauh. Kalo cuma ke Bali atau ke Jogja, aku bisa aja.”

 

“Nggak bisa ambil cuti? Aku telepon Lian, nih. Kalo mau, sekalian main ke rumah orang tua kamu. Satu minggu. Gimana?”

 

“Eh!? Buat apa main ke rumah orang tua aku?”

 

“Kenalan, Cha. Masa aku nggak boleh kenalan sama orang tua kamu.”

 

“Boleh. Tapi nggak sekarang!”

 

“Besok?”

 

“Nggak juga!” seru Icha kesal. “Kita baru aja jadian. Aku nggak mau orang tuaku tahu kalau aku udah punya pacar.”

 

“Kenapa?”

 

“Ribet. Mama orangnya super cerewet. Aku pasti dibunuh sama dia kalo ketahuan pacaran.”

 

“Bukannya kamu udah dewasa. Kenapa masih dilarang pacaran?”

 

“Lut, bukan dilarang. Tapi ... aku pasti disuruh nikah cepet-cepet. Mama bilang, kalo aku punya suami, dia nggak perlu khawatir lagi karena ada yang jagain aku. Kalo aku cuma pacaran doang dan nggak mau nikah, Mama bilang ... lebih baik aku pulang ke Kalimantan dan cari kerja di sana.”

 

“Jangan, Cha!” sahut Lutfi.

 

“Ya udah. Lebih baik kamu kenalan sama orang tuaku, kalo emang hubungan kita serius.”

 

“Emangnya sekarang nggak serius? Aku serius sama kamu, Cha. Mau nikah sekarang juga, aku udah siap.”

 

“Aku belum siap,” jawab Icha dingin.

 

“Kenapa?”

 

“Aku masih terlalu muda. Baru mulai kerja. Setelah kehidupanku stabil, baru aku pertimbangkan buat nikah.”

 

“Cha, apa kamu takut kalo aku nggak bisa ngidupin kamu?”

 

“Sedikit.”

 

“Hah!?”

 

“Kita baru aja jadian. Banyak hal yang masih belum aku pahami tentang kamu. Kita jalani aja dulu.”

 

Lutfi menatap serius ke wajah Icha.

 

Icha tersenyum sambil menyuap makanan ke mulutnya.

 

 

 

Tok ... tok ... tok ...!

 

Icha dan Lutfi langsung menoleh ke arah pintu.

 

“Siapa?” tanya Lutfi sambil menatap wajah Icha.

 

“Nggak tahu. Mungkin si Yuna.” Ia bangkit dari tempat duduk dan melangkah perlahan menghampiri pintu rumahnya.

 

 Icha membuka pintu rumahnya. Ia membelalakkan mata begitu melihat wanita setengah baya berdiri di depan pintu. Ia langsung menutup pintu rumahnya kembali. Ia langsung mengunci pintu dan berbalik membelakangi pintu.

 

“Astaga!” Icha berlari menghampiri Lutfi yang masih duduk di meja makan.

 

“Kenapa?” Lutfi melongo menatap Icha yang terlihat ketakutan.

 

“Mamaku datang!” seru Icha. “Ngumpet dulu!”

 

“Ngumpet di mana?” tanya Lutfi.

 

Icha langsung menarik lengan Lutfi. “Di sini!” Ia menyembunyikan tubuh Lutfi di balik tirai jendela.

 

“Duh, masih kelihatan!” seru Icha. Ia kembali menarik lengan Lutfi. “Di sini aja!” Icha menunjuk meja dapur.

 

“Yakin?”

 

“Iya. Nanti aku bawa Mama keluar jalan-jalan. Kamu langsung pulang ya!”

 

Lutfi mengernyitkan dahi menatap Icha. “Kenapa harus sembunyi sih, Cha? Kita kan nggak ngapa-ngapain.”

 

“Iih ... Mama itu ribet dan pemarah banget. Nggak usah banyak tanya! Sembunyi! Cepet!”

 

Lutfi langsung memasukkan tubuhnya ke bawah meja. “Astaga! Baru ini aku pacaran kayak gini. Emangnya aku ini jelek banget sampe dia nggak mau ngenalin aku ke mamanya? Aku ini Tuan Muda keluarga Anput, semua orang tua pengen aku jadi menantunya. Ini malah disembunyiin. Mana sempit banget ini tempatnya,” omel Lutfi.

 

“Aduh!” Lutfi mengelus kepalanya yang terbentur meja. “Lutfi, menyedihkan banget nasibmu,” gumamnya.

 

Icha menarik napas dalam-dalam. Ia merapikan rambut dan pakaiannya, kemudian melangkah perlahan menuju pintu dan membukakan pintu untuk mamanya.

 

“Sore, Ma!” sapa Icha sambil tersenyum manis.

 

Wajah Ratna berubah suram sambil menatap tajam ke arah Icha. Ia langsung melangkah masuk ke dalam rumah Icha. “Kamu lagi ngapain? Kenapa lama banget buka pintunya?”

 

“Oh ... eh, rumahku tadi berantakan banget. Mama kan nggak suka kalo berantakan. Jadi, aku beresin dulu sebelum mama masuk. Mama ke sini, kok nggak ngasih kabar dulu ke aku?”

 

Ratna mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan sambil melangkahkan kakinya. “Kamu abis makan sama siapa?” tanyanya sambil menunjuk meja makan.

 

“Eh!? Itu, Ma. Tadi si Yuna ke sini.”

 

“Yuna?”

 

“Iya. Temen kantor yang sering aku ceritain ke Mama. Waktu itu pernah vidcall sama Mama juga, kan? Aku belum sempat beresin,” jawab Icha sambil membereskan meja makan dan membawanya ke dapur.

 

Ratna melangkah mengikuti Icha.

 

“Ma, mau minum apa?” tanya Icha sambil menarik lengan mamanya menjauhi dapur. “Mama duduk aja ya! Aku ambilin minum.” Icha bergegas mengambil air minum dan menyodorkannya ke hadapan Ratna.

 

“Kamu nggak lagi nyembunyikan orang di rumah ini kan?” tanya Ratna.

 

“Eh!? Enggak, Ma.” Icha menggelengkan kepala. “Mama curigaan banget.”

 

“Kamu nggak bermaksud buat bohongin Mama, kan?”

 

“Enggak, Ma. Mana berani aku ngebohongin Mama.”

 

“Sekarang udah berani?” tanya Ratna ketus.

 

Icha menggelengkan kepala.

 

“Itu sepatu siapa?” tanya Ratna sambil menunjuk rak sepatu dengan dagunya.

 

Icha membelalakkan mata sambil memutar kepalanya. “Mampus!” batinnya sambil menggigit bibir.

 

“Jelasin ke Mama!” pinta Ratna.

 

“Emh ... anu, Ma. Itu ... mmh ... kemarin aku nggak sengaja ngotorin sepatunya temen. Jadi, aku bawa pulang buat dibersihin. Besok aku kembaliin, kok.”

 

“Bewaluh ikam, Cha!” sahut Ratna. “Disuruh bulik kampung kada mau, di sini ikam jadi papuyu bagincu.” (( Bewaluh = berbohong, papuyu bagincu = julukan untuk wanita nakal)

 

“Ma ...!” teriak Icha dengan mata berkaca-kaca. “Mama tega banget sih ngatain anak sendiri kayak gitu? Aku di sini beneran kerja, Ma.”

 

Ratna semakin kesal dengan Icha yang masih terus mengelak. “Kaluarkan pang lakian yang ikam simpan itu!” sentaknya. ((ikam = kamu))

 

“Nggak ada Ma, aku nggak ada simpan laki-laki di sini,” sahut Icha.

 

“Oke.” Ratna mengangguk-anggukkan kepala. “Kalo masih nggak mau ngaku, sekarang juga ikut Mama balik ke Kalimantan!”

 

“Ma ... aku masih magang.”

 

“Kada usah kerja! Kalo cuma ngasih makan ikam sorang haja, Mama lawan Abah kamu masih bisa.” (( sorang = 1 orang))

 

“Aku nggak mau pulang!” sahut Icha.

 

“Kamu udah nggak sayang sama orang tua kamu. Apa kata orang kalau mereka tahu, kamu di sini kerjanya jual diri? Nyimpan laki-laki di rumah?”

 

“Ma, aku nggak kayak gitu. Kenapa sih Mama masih aja ngatain anak sendiri kayak gitu.”

 

“Kalo gitu, sekarang juga ikut Mama pulang!” Ratna langsung menarik lengan Icha.

 

“Nggak, Ma. Aku masih mau di sini,” tutur Icha sambil menangis.

 

Lutfi menundukkan kepala sambil memejamkan mata. Ia tak tahan mendengar perkelahian Icha dan Mamanya. Ia menarik napas dan memutuskan untuk keluar dari persembunyiannya.

 

“Tante ...!” panggil Lutfi sambil menatap Icha dan mamanya.

 

Ratna langsung berbalik, ia menatap Lutfi yang berdiri di dapur Icha. “Kamu punya nyali buat keluar juga? Ngapain kamu di sini?”

 

Lutfi melangkah perlahan mendekati Ratna. “Tante jangan salah paham dulu. Aku sama Icha, cuma makan bareng aja.”

 

“Makan bareng?”

 

Lutfi menganggukkan kepala.

 

“Cha, kamu udah bohongin Mama dari awal. Buat laki-laki kayak gini, kamu tega bohongin orang tua kamu sendiri?”

 

Icha menggelengkan kepala.

 

“Jelas-jelas, tadi kamu bilang kalo kamu makan sama Yuna. Ternyata sama dia?”

 

Icha menggigit bibir sambil menganggukkan kepala.

 

Ratna menarik napas panjang. Ia menatap Lutfi dan Icha bergantian. “Duduk!” perintahnya.

 

Icha dan Lutfi duduk berdampingan di sofa sambil menundukkan kepala.

 

 

(( Bersambung ... ))

 

Makasih udah baca sampai sini. Tunggu part-part manis di cerita selanjutnya ya ...

 Jangan lupa kasih Star Vote juga biar aku makin semangat nulis dan bikin ceritanya lebih seru lagi. Makasih buat yang udah kirimin hadiah juga. Jangan sungkan buat sapa aku di kolom komentar ya! Kasih kripik ... eh, kritik dan saran juga ya!

 

 

Much Love

@vellanine.tjahjadi

 

 

Perfect Hero Bab 163 : Teman Lama || a Romance Novel by Vella Nine

 


“Kerjaannya masih banyak?” tanya Yuna sambil melingkarkan tangannya ke leher Yeriko.

 

Yeriko menganggukkan kepala. “Kenapa? Udah ngantuk?”

 

Yuna menggelengkan kepala. “Baru jam sembilan. Belum ngantuk.”

 

Yeriko menengadahkan kepala, menatap Yuna yang berdiri di belakang kursinya. Ia mengambil map yang ada di atas meja kerja dan memberikannya pada Yuna.

 

“Apa ini?” tanya Yuna.

 

“Baca!” pinta Yeriko.

 

Yuna meraih map tersebut dan membukanya. Ia langsung melihat profil seorang pria yang ada di dalamnya. “Deny Kaswara? Ini siapa?”

 

“Baca dulu semua!” pinta Yeriko. “Baru boleh tanya.”

 

Yuna memonyongkan bibirnya ke arah Yeriko. Ia membuka lembar berikutnya dan mendapati beberapa foto. Ia masih tak mengerti dengan dokumen yang diberikan oleh Yeriko. “Apaan sih? Nggak kenal sama orang ini,” celetuk Yuna sambil meletakkan kembali map tersebut ke atas meja.

 

“Huft ...” Yeriko menghela napas. Ia memutar kursinya menghadap ke arah Yuna. “Kamu ini ... bener-bener nggak ngerti?”

 

Yuna menggelengkan kepala.

 

“Dia ini, fotografer yang bantuin Refi nyebar gosip di luar sana.”

 

“Dia wartawan juga?”

 

Yeriko menganggukkan kepala.

 

“Mmh ... terus? Mau kamu apain?” tanya Yuna.

 

“Tadi Mama telepon, tiga hari lagi kami bakal ngadain konferensi pers soal berita yang beredar. Departemen Humas udah ngirim jadwalnya ke aku. Kemungkinan besar, Deny akan ada di konferensi pers.”

 

“He-em. Terus?”

 

“Kamu harus ikuti rencanaku buat jebak dia!” pinta Yeriko.

 

“Oh. Oke.” Yuna mengangguk-anggukkan kepala.

 

Yeriko mengernyitkan dahi menatap Yuna. “Kenapa kamu santai banget?”

 

“Bukannya kamu juga santai?”

 

“Eh!?”

 

“Mama bilang, perusahaan lagi ada masalah besar. Kamu bilang semuanya baik-baik aja. Apa aku nggak pantas buat tahu masalah kamu?”

 

Yeriko tersenyum kecil. “Ini cuma masalah kecil. Mama Rully yang terlalu membesar-besarkan masalah ini. Setelah konferensi pers, semuanya bakal kembali seperti semula.”

 

“Beneran?”

 

Yeriko menganggukkan kepala.

 

“Aku khawatir kalau ...”

 

“Kamu mengkhawatirkan aku atau perusahaan?” tanya Yeriko sambil menarik pinggang Yuna agar mendekat ke tubuhnya.

 

“Kamu,” jawab Yuna sambil mencubit hidung Yeriko.

 

“Bukan perusahaan?”

 

Yuna menggelengkan kepala.

 

“Kamu nggak peduli sama perusahaan?”

 

“Eh!? Bukan gitu. Kalo aku mengkhawatirkan kamu, artinya aku mengkhawatirkan apa pun yang berhubungan sama kamu. Tetap kamu yang paling penting buat aku,” tutur Yuna sambil mencubit kedua pipi Yeriko.

 

“Mmh ... kalau aku bilang, perusahaan butuh kamu. Apa kamu mau masuk ke perusahaanku?”

 

Yuna memutar bola matanya.

 

“Apa Wilian lebih penting dari aku?”

 

Yuna menggelengkan kepala. “Aku cuma karyawan magang. Masuk ke perusahaan kamu, bukannya bakal jadi pengacau?”

 

“Siapa yang bilang begitu? Aku percaya sama kemampuanmu.”

 

“Hmm ... bisa dipertimbangkan. Tapi, aku juga percaya sama kemampuan suamiku. Dia, pasti bisa ngatasi masalah perusahaan dengan baik. Perusahaan nggak butuh aku.”

 

“Oke. Aku yang butuh kamu.”

 

Yuna tersenyum kecil dan langsung mengecup bibir Yeriko. “Aku yang butuh kamu,” tuturnya sambil duduk di pangkuan Yeriko. Ia langsung memeluk tubuh Yeriko dan bermanja-manja di tubuh suaminya.

 

“Oh ya, minggu ini ... masa magang aku habis.”

 

“Oh ya? Apa perlu kita rayain?”

 

“Boleh.”

 

“Apa rencana kamu selanjutnya?”

 

Yuna melingkarkan tangannya ke leher Yeriko. “Belum punya rencana apa pun. Mau jadi Nyonya Ye sepenuhnya. Boleh?”

 

Yeriko tersenyum menatap Yuna. “Beneran?” Matanya berbinar saat mendengar Yuna akan berhenti bekerja.

 

Yuna menganggukkan kepala. “Gimana? Boleh?”

 

“Sangat boleh,” jawab Yeriko sambil menempelkan hidungnya ke hidung Yuna. “Baik-baik jadi Nyonya Ye!” bisiknya.

 

Yuna mengangguk sambil tersenyum.

 

Yeriko balas tersenyum, ia langsung mengulum bibir Yuna yang begitu manis selama beberapa saat. Ia baru menghentikan ciumannya ketika ponselnya tiba-tiba berdering.

 

“Siapa?” tanya Yuna saat melihat Yeriko menatap layar ponselnya.

 

“Temen lama.”

 

“Angkatlah!” pinta Yuna sambil bangkit dari pangkuan Yeriko. “Aku mau ke bawah dulu.”

 

Yeriko mengangguk dan langsung menjawab telepon dari teman sekolahnya.

 

“Halo ...! David, how are you?” sapa Yeriko sambil menatap Yuna yang berjalan keluar dari ruang kerjanya.

 

“Fine. Lagi apa?”

 

“Lagi nyantai. Ada kabar terbaru?” tanya Yeriko.

 

“Sesuai rencana. Dia sekarang kabur karena nggak bisa bayar hutang judinya.”

 

“Kabur ke mana?”

 

“Nggak tahu. Aku udah sita rumah pribadinya. Sekarang, dia mungkin sembunyi di suatu tempat. Seharusnya, dia nggak pergi jauh dari kota ini.”

 

“Oh ya? Bagus. Tekan dia terus!”

 

“Oke.”

 

“Kamu memang bisa diandalkan,” tutur Yeriko.

 

“Tenang aja! Aku udah kirim orang-orangku buat ngejar dia terus. Oh ya, sebenarnya ada masalah apa antara kamu sama dia? Kenapa kamu sampai sekejam ini?” tanya David.

 

Yeriko tertawa kecil. “Masalah kecil.”

 

“Hahaha. Masalah kecil bisa bikin Tuan Ye semurka ini? Kamu pikir aku percaya?”

 

Yeriko tertawa kecil. “Dia sedikit ngeganggu.”

 

“Ganggu perusahaan kamu?”

 

“Ganggu orang terdekatku.”

 

“Istrimu?”

 

“Chandra.”

 

“Chandra? Apa hubungannya sama kamu?”

 

“Kami sudah seperti keluarga. Masalah dia, masalahku juga. Aku pasti kelarin sampe tuntas.”

 

“Hahaha. Nggak ada orang lain yang lebih kejam dari kamu, Yer.”

 

Yeriko tersenyum kecil menanggapi ucapan David. “Aku rasa, Raja judi kayak kamu jauh lebih kejam dari aku.”

 

“Hahaha. Sama aja, kamu jauh lebih licik dari aku. Cara mainnya aja yang beda. Kamu pakai cara yang jauh lebih terhormat.”

 

Yeriko mengangguk-anggukkan kepala.

 

“Oh ya, udah dulu. Aku masih ada urusan. Kalau ada kabar terbaru, aku bakal kabarin kamu secepatnya.”

 

“Oke. Thanks!”

 

“Oke.” David langsung mematikan panggilan teleponnya.

 

Yeriko tersenyum kecil dan meletakkan ponselnya ke atas meja. Ia bangkit, melangkahkan kakinya menuruni anak tangga dan menghampiri Yuna yang sedang berkutat di dapur.

 

“Masak apa?” tanya Yeriko.

 

“Eh!?” Yuna langsung membalikkan badannya menatap Yeriko. “Masak mie instan. Mau?”

 

“Boleh.”

 

“Oke. Aku masakin.”

 

Yeriko menganggukkan kepala. Ia terus memerhatikan Yuna yang sedang memasak di dapur.

 

“Kamu udah mulai pintar pakai dapur ini?” tegur Yeriko.

 

Yuna langsung memutar kepalanya menatap Yeriko. “Kamu pikir, aku bakal ngacauin dapur ini lagi?” dengusnya.

 

Yeriko tersenyum kecil. “Besok masuk kerja?”

 

Yuna menganggukkan kepala. “Ini minggu terakhir aku kerja. Harus meninggalkan kesan yang baik buat perusahaan. Mmh ... aku pengen ngajak temen-temen kantor makan bareng sebelum aku berhenti kerja. Boleh?”

 

Yeriko menganggukkan kepala. “Bawa aku!” pintanya.

 

Yuna menganggukkan kepala. Ia meletakkan dua mangkuk mie yang sudah selesai ia masak ke atas nampan dan membawanya ke meja makan.

 

“Aku bisa tenang kalau kamu di rumah,” tutur Yeriko sambil menikmati mie instan buatan Yuna. “Setidaknya, kamu nggak harus berantem sama sepupu kamu terus-terusan.”

 

Yuna tersenyum lebar. “Mmh ... sebenarnya, aku suka banget sama suasana di tempat kerja itu. Walau Bellina sering banget ngajak berantem. Tapi, semua temen di departemenku care banget sama aku. Aku pasti bakal kangen banget saat-saat kerja bareng mereka.”

 

Yeriko tersenyum kecil. “Kalau kangen sama mereka, bisa ajak mereka makan di luar!”

 

“Mmh ... iya juga, sih. Apa boleh?”

 

“Kenapa nggak boleh? Asal kamu senang, aku juga ikut senang.”

 

“Makasih!” sahut Yuna dengan gaya manjanya.

 

Yeriko terus tersenyum. Tak ada hal lain yang lebih membahagiakan baginya selain melihat senyum manis di bibir istri tercintanya itu.

 

 

(( Bersambung ... ))

 

Makasih udah baca sampai sini. Tunggu part-part manis di cerita selanjutnya ya ...

 Jangan lupa kasih Star Vote juga biar aku makin semangat nulis dan bikin ceritanya lebih seru lagi. Makasih buat yang udah kirimin hadiah juga. Jangan sungkan buat sapa aku di kolom komentar ya! Kasih kripik ... eh, kritik dan saran juga ya!

 

 

Much Love

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas