Wednesday, February 19, 2025

Perfect Hero Bab 157 : Kegaduhan di Private Room || a Romance Novel by Vella Nine

 


“Eh, kami nggak ngomong macem-macem kok, Bu,” tutur salah seorang perempuan yang ada di ruangan tersebut dengan bibir bergetar.

 

“Iya, bener. Kami lagi sibuk bicarain soal arisan,” sahut yang lainnya.

 

“Bukannya kalian tadi lagi bicarain soal keluarga Hadikusuma?” tanya Rullyta.

 

Semua saling pandang.

 

“Mmh ... iya,” sahut salah seorang di antaranya. Membuat wanita lain membelalakkan mata menatapnya. “Kami memang membicarakan keluarga Hadikusuma yang sangat hebat. Terutama, putera Anda yang masih muda dan sukses dalam berbinis. Kami sangat mengagumi anak-anak muda seperti dia,” jelasnya sambil memaksa bibirnya tersenyum lebar.

 

Rullyta tersenyum sinis. “Kalian pikir, kami nggak dengar apa yang kalian omongin tadi?”

 

“Mmh ... maafkan kami, Bu. Kami ngaku bersalah.” Salah seorang wanita berlutut di depan Yana dan Rullyta.

 

“Kalian udah keterlaluan!” sahut Yana. “Ngomongin orang lain di belakangnya. Padahal, kalian sama sekali nggak punya hubungan apa pun. Kalian pikir, kalian ini hebat?”

 

“Kalian jangan sok hebat di depan kami!” sahut wanita gemuk yang ada di ruangan tersebut. “Kamu mau make kekuasaan buat nindas kami, hah!?”

 

Amara langsung menepuk dahi begitu melihat sikap mama mertuanya yang masih bersikeras melawan Rullyta.

 

“Diam kamu!” sentak Rullyta sambil menunjuk wajah wanita gemuk tersebut.

 

“Eh-eh, mentang-mentang orang kaya, mau semena-mena sama orang lain?” sahut wanita gemuk itu. “Kamu pikir, kami nggak punya uang, hah!?”

 

Rullyta tersenyum sinis. “Kalo kamu memang punya uang, lebih baik kamu pake uang kamu itu buat memperbaiki diri. Daripada sibuk ngurusin hidup orang lain.”

 

“Hei, yang sibuk ngurusin orang lain bukannya kamu? Kamu tiba-tiba nerobos masuk ke ruangan orang lain dan marah-marah. Sebagai orang terhormat, seharusnya kalian punya etika!”

 

“Apa!?” Rullyta melangkah maju, ia sangat kesal dengan sikap wanita gemuk yang ada di ruangan tersebut.

 

“Ma ...!” Yuna menahan lengan Rullyta.

 

Rullyta langsung menoleh ke arah Yuna.

 

Yuna menggelengkan kepala, memberi isyarat pada Rullyta agar tidak terpancing dengan ucapan wanita gemuk tersebut.

 

“Kenapa? Takut?” Wanita gemuk tersebut masih tak mau mengalah. “Mau duel? Ayo! Badan kecil aja, kena angin pun langsung mental.”

 

“Kamu bener-bener mau cari perkara sama aku? Lebih baik kamu urusin badan kamu yang kayak gentong itu!” sentak Rullyta.

 

“Heh!? Kamu pikir kamu udah sempurna? Kamu kelihatan cantik di luarnya doang. Dalemnya busuk.”

 

“Jangan sembarangan ngomong!” teriak Yuna sambil menunjuk wanita gemuk tersebut.

 

Wanita gemuk itu tersenyum sinis. “Kalian ini sama ya? Sama-sama cantik, tapi hatinya busuk.”

 

“Jangan fitnah sembarangan ya!” sentak Yuna.

 

“Aku nggak fitnah. Kenyataannya memang kayak gitu, kan? Kamu yang nyuruh orang lain bunuh diri demi dapetin harta keluarga Hadikusuma, kan? Jahat banget!”

 

“Nggak ada bukti!” sahut Yuna.

 

“Buktinya banyak. Udah beredar di media.”

 

“Cuma isu. Kenyataannya nggak kayak gitu.”

 

“Oh ya? Gimana kenyataan yang sebenarnya?”

 

“Udahlah, Yun. Nggak ada gunanya jelasin ke orang kayak gini,” sahut Rullyta.

 

“Kenapa? Kamu mau nutupin kenyataan di depan semua orang. Jangan-jangan, Yeriko itu memang anak dari hasil hubungan gelap. Makanya, sampai sekarang nggak pernah ada yang tahu siapa ayahnya Yeriko.”

 

Rullyta mengepalkan tangan. Ia menatap wanita gemuk itu penuh amarah. “Kamu jangan fitnah orang sembarangan ya!” sentak Rullyta. “Nggak punya bukti apa pun. Asal aja kalau ngomong! Aku bisa laporin kamu ke polisi sekarang juga!”

 

“Kamu kira aku takut?” Wanita gemuk itu langsung mengambil ponsel dan menelepon seseorang untuk datang membantunya.

 

Rullyta tersenyum sinis. “Katanya nggak takut, tapi minta bantuan orang lain juga.”

 

Semua wanita yang ada di ruangan tersebut merasa sangat takut. Hanya wanita gemuk itu yang terus-menerus bergumam tak jelas dan menunjukkan sikap tidak bersahabat.

 

“Tante, aku minta maaf soal ini. Tolong, jangan terlalu dimasukin hati!” tutur Amara sambil menatap Rullyta.

 

“Kamu pikir kata maaf bisa bikin aku hilang ingatan dan ngelupain kata-kata kalian gitu aja?” sahut Rullyta. “Dia bahkan udah fitnah aku sekejam itu!?” dengusnya sambil menatap wanita gemuk itu.

 

Amara menggigit bibir bawahnya. Mama Yeriko cukup sulit untuk dihadapi, terlebih Rullyta mendapat dukungan dari istri walikota.

 

“Ma, lebih baik Mama minta maaf sama mereka!: pinta Amara berbisik.

 

“Aku nggak akan minta maaf!”

 

“Ma ...!” Amara menatap wajah wanita yang ada di hadapannya. Perasaannya tak karuan, ia sangat khawatir kalau Yuna akan memanggil suaminya dan membuat keluarganya dalam masalah.

 

“Tante, kalau masih nggak mau minta maaf ke Mama. Kami bakal laporin Tante ke polisi karena udah fitnah keluarga kami,” tutur Yuna sambil menatap sinis ke arah wanita gemuk tersebut.

 

“Atas dasar apa kamu mau laporin saya ke polisi?”

 

Yuna tersenyum. Ia melangkah maju dan memutar rekaman suara yang ada di ponselnya.

 

“Kamu!?” Amara berusaha merebut ponsel Yuna.

 

Dengan cepat, Yuna menjauhkan ponselnya dan menyembunyikan di belakang punggungnya.

 

“Yun, jangan laporin ke polisi!” pinta Amara.

 

“Laporin aja!” sahut wanita gemuk tersebut. “Dikira aku takut ngadepin polisi aja?”

 

“Ma ...!” Amara mendelik ke arah mama mertuanya. “Akhir-akhir ini, kita sibuk banget. Bakal makin sibuk kalau harus berurusan sama polisi.”

 

“Kenapa? Aku punya banyak waktu buat ngeladenin dia,” sahut wanita gemuk tersebut.

 

Rullyta menatap wanita gemuk itu tanpa berkedip. Ia tidak mengenal wanita tersebut. Tapi wanita gemuk itu memiliki keberanian yang sangat besar terhadap dirinya.

 

“Oke. Kalau emang itu mau kalian,” sahut Rullyta. “Huft, sebenarnya ... aku sibuk banget. Tapi, anak buahku cukup banyak buat nanganin ini,” lanjutnya santai sambil memainkan kukunya.

 

Yuna tersenyum kecil. Ia menyalakan ponsel dan langsung menelepon Yeriko.

 

“Halo ...! Bisa ke sini sebentar? Oke, aku tunggu!”

 

Yuna langsung mematikan panggilan teleponnya.

 

“Kamu manggil siapa?” tanya Rullyta.

 

“Suamiku. Bukannya dia juga manggil suaminya?”

 

Rullyta tersenyum kecil. “Anak pintar,” tuturnya sambil mengelus lembut kepala Yuna.

 

Yuna tersenyum manis menanggapi Rullyta.

 

“Ternyata, butuh dukungan dari orang lain juga?” sahut wanita gemuk tersebut.

 

“Oh ... jelas!” sahut Yuna ceria. “Kami suami istri, harus saling mendukung. Iya kan?”

 

“Bener banget,” sahut Yana.

 

“Keluarga kalian ini memang senang mengintimidasi orang lain ya? Jangan-jangan, kalian mau maksa aku buat bunuh diri juga kayak yang kamu lakuin ke artis itu?”

 

Yuna langsung melebarkan kelopak matanya. “Kamu jangan ngomong sembarangan ya!” sentaknya sambil menunjuk wanita gemuk tersebut.

 

“Yuna! Bisa nggak kamu nggak ngebentak mamaku?” seru Amara.

 

Yuna melangkah mendekatkan tubuhnya ke hadapan Amara. “Oh, ini mama kamu? Pantes, kelakuannya nggak jauh beda sama kamu.”

 

“Kamu ...!?”

 

Yuna tersenyum menatap Amara. “Kamu udah lupa gimana caranya kamu nyakitin Chandra? Yeriko, nggak akan tinggal diam kalau orang-orang terdekatnya disakiti. Aku yakin banget, sekarang hidup kamu pasti nggak tenang kan?”

 

Amara gelisah mendengar pertanyaan dari Yuna. Ia tak menyangka kalau Yuna bisa mengetahui kesulitan yang sedang dihadapinya saat ini.

 

“Oh ya, suami kamu ... mmh ... siapa namanya? Harry ya? Iya. Si Harry itu, si cowok brengsek itu, pasti menyulitkan kamu kan?”

 

“Heh!? Kamu barusan ngatain anakku apa?” Wanita gemuk itu langsung mendorong pundak Yuna.

 

“Oh, ini mamanya Harry? Mertua kamu?” tanya Yuna sambil menatap Amara.

 

“Hmm ... bukannya tadi kalian ngatain aku sebagai selingkuhannya Yeriko?” Yuna menatap wajah wanita gemuk tersebut. “Bukannya selama ini, Harry yang jadi selingkuhannya Amara. Asal kalian tahu, si Chandra nyaris mati karena kelakuan anak ibu ini!” Yuna menunjuk wajah wanita gemuk itu. “Mereka udah tunangan dan Harry mengacaukan semuanya!”

 

Semua wanita yang ada di dalam ruangan itu saling pandang. Mereka tidak berani mengatakan apa pun, termasuk Amara.

 

(( Bersambung ... ))

 

Makasih udah baca sampai sini. Tunggu part-part manis di cerita selanjutnya ya ...

 Jangan lupa kasih Star Vote juga biar aku makin semangat nulis dan bikin ceritanya lebih seru lagi. Makasih buat yang udah kirimin hadiah juga. Jangan sungkan buat sapa aku di kolom komentar ya! Kasih kripik ... eh, kritik dan saran juga ya!

 

 

Much Love

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

Perfect Hero Bab 156 : Dilabrak Mama Rully || a Romance Novel by Vella Nine

 


“Yun, kamu dengerin tuh kata Bunda Yuna!” tutur Rullyta. “Kalau ada waktu luang, kamu ajak Yeriko main-main ke rumah Pak Walikota!” pinta Rullyta. “Kalian harus belajar banyak dari mereka!”

 

Yuna menganggukkan kepala sambil tersenyum.

 

“Rul, aku rasa Yeriko dan Bapak sudah sering ketemu. Bukannya, banyak proyek yang lagi dikerjain sama Yeri untuk pemerintahan?”

 

“Mmh ..  bener juga. Kalo gitu, dia bisa lebih mudah bikin janji buat ketemu sama kalian. Biar mereka belajar banyak dari rumah tangga kalian. Yeriko itu payah. Nikah aja dia nggak ngerti ngasih cincin atau lamaran. Dia pikir, dengan punya surat nikah, semuanya udah kelar gitu aja. Di mana harga diri kita sebagai wanita?” cerocos Rullyta.

 

“Dia juga nggak mikirin aku sama sekali. Harusnya, aku nemuin keluarga besar Yuna dulu. Dia itu ... bener-bener keterlaluan!”

 

“Ma, selama ini Yeriko memperlakukan aku dengan baik. Dia baik banget. Selalu perhatian dan sayang sama aku. Buat aku, yang paling penting adalah bagaimana kami menjalani rumah tangga dengan baik.”

 

Yana menatap wajah Yuna sambil tersenyum. “Kamu sangat dewasa. Berapa umur kamu sekarang?”

 

“Dua puluh empat.”

 

“Hmm ... masih muda banget? Tapi, pemikiran kamu udah sedewasa ini?”

 

Yuna mengernyitkan dahinya. Ia masih begitu kekanak-kanakkan. Tidak menyangka kalau akan mendapatkan pengakuan berbeda dari istri orang nomor satu di kota Surabaya.

 

“Yuna memang seperti ini. Walau sering terlihat kekanak-kanakkan, tapi pemikirannya sangat dewasa.”

 

“Hmm ... kamu beruntung banget dapet menantu kayak gini,” tutur Yana.

 

“Bunda, aku yang beruntung karena punya mama mertua sebaik Mama Rully.”

 

“Mmh ... sudahlah. Kita makan dulu!” pinta Rullyta. Ia khawatir, Yuna akan sedih karena mengingat mendiang ibunya.

 

Yuna tersenyum sambil mengangguk kecil. Ia melanjutkan makan sambil bercengkrama dengan dua wanita yang bersamanya. Ia merasa sangat bahagia karena sahabat Rullyta begitu baik. Tak seperti yang ia khawatirkan sebelumnya.

 

“Mmh ... kita pulang sekarang!” Rullyta bangkit dari tempat duduknya. “Lain kali, kita ngumpul lagi.”

 

Yana menganggukkan kepala. “Oke.” Ia segera mengikuti langkah Rullyta dan Yana keluar dari ruangan.

 

“Udah denger gosip hot soal keluarga Hadikusuma?”

 

“Oh, soal si pengusaha ganteng pemilik Galaxy Group itu ya?”

 

“Iya. Si Yeriko yang sombong itu.”

 

“Aku udah lihat beritanya. Yang diselingkuhi sama istrinya itu ya? Kasihan banget, udah ganteng dan kaya aja masih diselingkuhi, kurang apa coba?”

 

“Kurang ajar, hahaha.”

 

“Mungkin, dia balas dendam. Soalnya, aku denger-denger si pengusaha muda itu yang duluan selingkuh sama mantan pacarnya.”

 

“Berita yang bener yang mana sih? Yang aku baca, si Yuna yang jadi selingkuhan. Katanya, dia yang ngerebut pacarnya si Refi. Sampe nyuruh Refi lompat dari gedung.”

 

“Hmm ... dia pasti ngelakuin itu karena mau dapetin harta dari pemilik GG itu.”

 

“Oh ya? Keluarga mereka berantakan banget. Aku denger, Mamanya Yeriko punya masa lalu yang nggak bagus. Sampai sekarang, nggak ada yang tahu latar belakang ayahnya Yeriko. Bahkan, dia ikut marga kakeknya, bukan marga ayahnya.”

 

“ Jangan-jangan ... Yeriko itu hasil dari hubungan gelap dia sama pria lain?”

 

Yuna dan Rullyta menghentikan langkahnya saat mereka mendengar desas-desus dari private room yang ada di sebelah private room mereka.

 

Rullyta menarik napas dalam-dalam sambil menatap pintu ruangan yang sedikit terbuka. “Berani-beraninya mereka ngomongin keluarga kita,” gumamnya.

 

Yuna terdiam. Ia merasa, suara yang ada di dalam sana tak asing lagi di telinganya.

 

Rullyta langsung mendorong pintu dan menerobos masuk ke dalam ruangan.

 

“Ma!” Yuna membelalakkan matanya saat melihat Mama mertuanya tiba-tiba menerobos masuk ke dalam private room orang lain. Ia langsung ikut masuk ke dalamnya.

 

“Tante Rully? Yuna?” Salah seorang wanita muda langsung bangkit begitu melihat Yuna dan Rullyta masuk.

 

“Amara?” Yuna mengernyitkan dahinya menatap Amara.

 

“Oh ... kamu mantan tunangannya Chandra kan?” Rullyta langsung menghampiri Amara.

 

“Heh!? Kalian siapa? Tiba-tiba nerobos masuk?” tanya salah seorang di dalam ruangan yang tidak dikenal oleh Yuna dan Rullyta.

 

“Salah masuk ruangan?” sahut yang lainnya.

 

“Eh, eh, eh ... ini ... cewek yang lagi heboh di internet itu kan? Wajahnya sama,” sahut salah satu wanita sambil membandingkan wajah Yuna dengan foto yang ada di layar ponselnya. “Kamu yang nyuruh si Refina lompat dari atas gedung? Jahat banget!?”

 

Yuna mengernyitkan dahi. Ia memejamkan mata, menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya kembali. “Nggak ada gunanya aku jelasin ke mereka, mereka udah termakan gosip,” batin Yuna.

 

“Iya, bener. Ini cewek yang ada di majalah itu. Yang deketin CEO Amora Internasional setelah deketin pemilik Galaxy. Matre banget jadi cewek.”

 

“Wajahnya biasa aja, tapi matrenya luar biasa.”

 

“Hahaha.”

 

“Jangan-jangan, dia dateng ke tempat ini cari mangsa baru. Untungnya, di sini perempuan semua.”

 

“Hahaha. Mungkin, dia kira di sini ada banyak pria tajir.”

 

Rullyta melipat kedua tangan di dada sambil menatap semua orang yang ada di ruangan tersebut.

 

Amara menyadari tatapan berbahaya dari Rullyta. Di dalam ruangan ini, hanya dia yang mengenal Rullyta dengan baik karena hubungannya dengan Chandra.

 

“Kalian nggak tahu aku siapa!?” Rullyta menatap dingin ke seluruh ruangan.

 

Amara melebarkan kelopak matanya. “Ma, Tante ... kalian duduk dulu!” pintanya. Biar aku yang bicara sama ...”

 

“Kenapa? Kamu takut sama perempuan ini?” sahut wanita yang bertubuh gempal.

 

“Ma, ini Bu Rullyta, Mamanya Yeriko,” bisik Amara.

 

“Hah!?”

 

Rullyta tersenyum sinis. “Kalau kalian ini wanita kelas atas, kenapa nggak mengenal kami? Nggak kenal sama orang nomor satu di kota ini?”

 

Yana tak banyak bicara, ia hanya menatap beberapa orang yang ada di ruangan tersebut. “Kenapa diam aja?” tanyanya sambil tersenyum. “Tadi, aku lihat kalian rame banget ngomongin kehidupan orang lain?”

 

“Mmh ... Bu Walikota, sepertinya warga Anda sekarang masih kekurangan kerjaan. Jadi, kerjaannya ngomongin kehidupan orang lain. Gimana kalau kita tambah lagi lapangan kerja untuk mereka?” tutur Rullyta sambil menatap sahabatnya itu.

 

Yana tersenyum kecil sambil mengangguk-anggukkan kepala.

 

“Walikota?” semua wanita yang ada di ruangan tersebut saling berbisik dan tidak berani berkata-kata lagi.

 

“Asal kalian tahu, Yuna adalah menantu yang sudah diakui oleh keluarga Hadikusuma. Siapa pun yang berani macem-macem sama dia, bakal berhadapan langsung sama kamu. Kami nggak akan ngelepasin, siapa pun itu!” tegas Rullyta.

 

“Kamu ngancam kami?”

 

“Ini bukan ancaman, tapi peringatan buat kalian!” tegas Rullyta.

 

Amara terdiam, ia hanya menundukkan kepala. Ia tak menyangka kalau Rullyta memiliki hubungan baik dengan istri walikota. Menghadapi mereka, seperti sedang mempertaruhkan nyawa.

 

Yuna menahan tawa saat melihat ekspresi ketakutan yang keluar dari wajah wanita-wanita yang ada di dalam ruangan tersebut. Ia terus menatap Amara yang masih menundukkan kepala. Ia tak menyangka kalau akan bertemu dengan perempuan tersebut, ia berniat membalas sakit hati yang dialami oleh Chandra.

 

(( Bersambung ... ))

 

Makasih udah baca sampai sini. Tunggu part-part manis di cerita selanjutnya ya ...

 Jangan lupa kasih Star Vote juga biar aku makin semangat nulis dan bikin ceritanya lebih seru lagi. Makasih buat yang udah kirimin hadiah juga. Jangan sungkan buat sapa aku di kolom komentar ya! Kasih kripik ... eh, kritik dan saran juga ya!

 

 

Much Love

@vellanine.tjahjadi

 

Perfect Hero Bab 155 : Sahabat Mama Rully || a Romance Novel by Vella Nine

 



“Hai ...!” sapa Rullyta begitu sampai di private room Kawi Lounge Sheraton.

 

“Hai ...!” balas Yana dengan ramah sambil memberi salam cipika-cipiki.

 

“Kenalin, ini menantu saya.” Rullyta memperkenalkan Yuna pada Yana.

 

“Oh ya? Cantik banget!” puji Yana sambil menatap Yuna.

 

Yuna tersenyum sambil menganggukkan kepala. “Sore, Tante!” sapanya ramah. “Saya Fristi Ayuna, biasa dipanggil Yuna.” Yuna mengulurkan tangannya ke arah Yana.

 

“Nama yang cantik, kayak orangnya.” Yana menyambut uluran tangan Yuna. “Panggil aja saya Bunda Yana!” pintanya.

 

“Bunda Yana?”

 

Yana menganggukkan kepala. “Semua anak-anak saya manggil bunda. Bahkan, komunitas-komunitas dan lembaga di kota ini juga manggil Bunda. Jadi, nggak perlu sungkan!”

 

“Oh. Hehehe. Iya, Bunda.” Yuna menganggukkan kepala.

 

“Ayo, duduk!” pinta Yana.

 

Rullyta dan Yuna duduk bersama dengan istri walikota tersebut.

 

“Hei, kamu mantu diam-diam aja? Gimana bisa nutupin dari sahabat kamu sendiri?” tanya Yana sambil menatap Rullyta.

 

Rullyta tersenyum menanggapi pertanyaan Yana. “Aku nggak nutupin. Aku sendiri nggak tahu sama sekali rencana pernikahan mereka. Yeri itu memang keterlaluan. Nikahin anak orang, Mamanya nggak dikasih tahu sama sekali.”

 

“Eh!? Kenapa bisa begitu?”

 

“Huft, entahlah. Aku nggak habis pikir sama anak itu. Lihat!” Rullyta menoleh ke arah Yuna. “Dia nikahin cewek secantik ini. Bahkan cincin pernikahan pun dia nggak ngasih. Keterlaluan banget!”

 

“Ma, jangan terlalu berlebihan! Aku nggak pernah mempermasalahkan itu,” sela Yuna.

 

“Gimana nggak mempermasalahkan? Yeriko itu nggak kekurangan uang. Gimana bisa dia nikahin kamu tanpa ngasih cincin pernikahan?” tanya Yana sambil menatap Yuna.

 

“Mmh ...”

 

“Apa waktu kamu nikah, kamu nggak tahu kalau Yeriko itu kaya raya?”

 

Yuna menggelengkan kepala.

 

Yana dan Rullyta tertawa bersamaan.

 

“Kenapa?” Yuna menatap Rullyta dan Yana bergantian.

 

“Nggak papa. Nggak papa,” jawab Rullyta dan Yana berbarengan.

 

“Oh ya. Dulu, kamu kuliah di mana?” tanya Yana sambil menuangkan teh untuk Rullyta dan Yuna.

 

“Melbourne,” jawab Yuna lirih.

 

“Wah, ternyata lulusan luar negeri! Pasti, keluarga kamu bukan orang sembarangan.”

 

“Ah, Tante bisa aja. Saya sekolah di luar negeri karena dapet beasiswa juga.”

 

“Oh ya? Itu bagus banget! Nggak semua orang bisa dapet beasiswa. Udah cantik, pintar juga. Sayangnya, udah kenal sama Yeriko duluan. Kalau nggak, Bunda pasti udah jodohin kamu sama anak Bunda.”

 

“Yana, apa kamu berniat mau rebutan menantu sama aku?” dengus Rullyta.

 

“Hahaha. Selera Yeriko memang bagus banget. Dia pinter cari istri. Kalau dia belum jadi istri Yeriko, kayaknya kita emang harus rebutan. Hahaha.”

 

“Kalau soal rebutan, kayaknya Yeriko lebih unggul,” sahut Rullyta penuh percaya diri.

 

“Ya, ya, ya. Aku percaya.” Yana manggut-manggut. “Oh ya, kamu kerja atau di rumah aja?” tanya Yana sambil menatap Yuna.

 

“Kerja, Bunda,” jawab Yuna sambil tersenyum.

 

“Kerja? Kenapa nggak di rumah aja? Yeriko nggak akan kekurangan uang buat ngidupin kamu.”

 

“Yan, Yuna ini perempuan yang mandiri. Udah tahu suaminya punya banyak uang, malah milih buat nyari uang sendiri. Dia bahkan menolak kerja di perusahaan Yeri. Malah kerja di perusahaan orang lain,” jelas Rullyta.

 

“Oh ya?” Yana tersenyum menatap Yuna.

 

“Mama juga perempuan yang mandiri. Aku pengen banget bisa kayak Mama. Setidaknya, aku bisa ngandalin diriku sendiri.”

 

“Aha, bener juga. Mama mertua kamu ini, bener-bener wanita yang mandiri. Dia bahkan bisa menghadapi semuanya sendiri. Membesarkan Yeriko seorang diri sampai bisa jadi kayak sekarang ini.”

 

Yuna tersenyum kecil. Ia menyeruput teh yang ada di depannya. Ia tak berani mengatakan apa pun, terutama tentang masa lalu keluarga Yeriko yang memang tidak ia ketahui sama sekali.

 

“Sudahlah. Nggak usah bahas soal aku. Sekarang udah tua. Nggak pantes buat dipuji-puji,” sahut Rullyta.

 

“Jadi, kita puji yang muda-muda aja?”

 

“Iya. Kalau kita terus yang dipuji, yang muda nggak kebagian. Hahaha.”

 

Yuna tersenyum menanggapi candaan dua wanita di depannya.

 

“Oh ya, minggu ini Dekranasda mau ngadain pameran. Kalian boleh datang kalau ada waktu.”

 

“Oh ya? Ada pameran apa aja, Bun?” tanya Yuna. Ia terlihat sangat antusias saat mendengar ada pameran yang akan diselenggarakan oleh pemerintah.

 

“Pameran produk UMKM, seni, teknologi dan literatur.”

 

“Wah ... kayaknya menarik!?” seru Yuna.

 

“Kamu suka pameran?” tanya Yana.

 

Yuna mengangguk sambil tersenyum senang.

 

“Kalau gitu, kamu harus datang!”

 

Yuna menganggukkan kepala.

 

“Ajakin Yeriko!” pinta Yana.

 

“He-em.” Yuna menganggukkan kepala.

 

“Yan, apa minggu ini kamu lihat gosip di media?” tanya Rullyta.

 

“Aku lumayan sibuk minggu ini. Ada berita apa?” tanya Yana.

 

“Ada artis cari sensasi. Mau ngacau keluarga kami.”

 

“Hah!? Serius?”

 

Rullyta menganggukkan kepala.

 

Yana langsung membuka ponsel dan menelusuri berita tentang keluarga Hadikusuma.

 

“Ini artis mana ya? Kok, aku nggak pernah lihat?”

 

“Dia lebih banyak di luar negeri. Setelah Yeriko nikah, dia balik ke sini dan terobsesi jadi istrinya Yeriko. Dia kira, aku mau punya menantu gila kayak gitu!?” tutur Rullyta kesal.

 

“Hmm ... punya mantu artis, pasti banyak resikonya. Apalagi, kehidupan artis jauh beda sama kehidupan kita.” Yana menimpali.

 

“Iya. Baru kayak gini aja, perusahaan Yeri udah jadi sorotan media. Sahamnya tiba-tiba merosot. Dia, pasti kerja keras banget buat ngadepin krisis di perusahaannya,” keluh Rullyta.

 

Yuna melirik ke arah Rullyta sambil menyeruput tehnya. “Bukannya semalam, Yeri bilang kalau perusahaannya baik-baik aja? Kenapa dia bohongin aku?” batin Yuna.

 

“Hmm ... Yeriko memang anak muda yang berbakat. Terlebih, dia udah sukses di usia mudanya. Pastinya, dia bakal jadi sorotan banyak cewek cantik. Terutama artis-artis yang memang mengincar pengusaha muda dan tampan kayak Yeriko,” tutur Yana sambil menatap Rullyta.

 

“Ah, kamu terlalu berlebihan memuji Yeriko. Biarpun dia sukses di dunia bisnis. Tapi, dia nggak pernah ramah sama orang lain. Dingin, keras kepala dan pembangkang. Cuma satu orang di dunia ini yang bisa jinakin dia.”

 

“Oh ya? Siapa?”

 

Rullyta menunjuk Yuna dengan dagunya.

 

“Aha ... bener-bener. Emang cuma wanita yang bisa menguasai pria.”

 

Yuna tersenyum kecil menatap Yana. Pipinya menghangat hingga tak bisa menyembunyikan rona merah di wajahnya.

 

“Yun, gimana caranya menaklukan pria sedingin Yeriko?” tanya Yana.

 

“Mmh ...” Yuna tidak tahu harus mengatakan apa. Dia tidak mungkin mengatakan kalau ia dipaksa menikah oleh Yeriko.

 

“Yan, perempuan punya seribu cara untuk menaklukan hati laki-laki,” sahut Rullyta. “Yeriko yang ngejar Yuna. Dia udah jatuh cinta pada pandangan pertama.”

 

“Oh ya?” Yana menatap Yuna. “Kamu memang cantik banget. Bunda yang wanita tua ini aja langsung jatuh cinta saat lihat kamu. Pantes aja Yeriko tiba-tiba nikah. Ternyata ...”

 

Yuna meringis sambil menatap Yana. “Ah, Bunda bisa aja. Aku masih biasa aja kalau dibandingkan sama cewek-cewek yang pernah deket sama Yeriko.”

 

“Buat Mama, kamulah yang paling luar biasa buat Mama,” sahut Rullyta sambil mengelus pundak Yuna.

 

“Kamu tahu kalau suami kamu dikelilingi banyak cewek cantik?” tanya Yana.

 

Yuna menganggukkan kepala.

 

“Huft, artinya ... kamu harus menguatkan hati menghadapi suami kamu dimiliki banyak orang. Kayak Pak Walikota.”

 

“Eh!? Maksud Bunda?”

 

“Bapak itu ya, sibuk banget ngurusin warganya. Banyak banget ibu-ibu yang sering ngajakin foto bareng sama Bapak. Bapak Walikota, sangat mencintai mereka. Jadi, Bunda harus berbesar hati untuk berbagi cinta dengan seluruh warga kota.”

 

“Hmm ... gitu ya? Apa Bunda nggak pernah cemburu?”

 

“Huft, awalnya cemburu banget. Tapi, Bapak itu orang yang sangat perhatian dan sayang banget sama keluarga. Nggak mungkin Bunda nggak percaya sama dia. Toh, jadwalnya dia, Bunda tahu semua. Kayaknya, waktunya dia lebih banyak sama ajudannya ketimbang sama Bunda.”

 

Yuna tersenyum menatap Yana. Ternyata, hal yang ia hadapi hari ini belumlah seberapa jika dibandingkan dengan Walikota yang memang sangat dibutuhkan oleh banyak warganya.

 

“Waktu kami baru aja nikah. Banyak hal yang harus kami hadapi. Setiap rumah tangga, pasti ada lika-liku dan ujian hidupnya masing-masing. Bukan soal besar kecilnya ujian yang harus dihadapi. Tapi soal bagaimana kita menghadapinya dan tetap saling menguatkan hingga akhir.”

 

Yuna tersenyum. Ia sangat mengerti perkataan Bunda Yana. Baginya, Bunda Yana memang sosok wanita yang berkharisma.

 

“Kamu jangan khawatir sama masalah yang sedang kalian hadapi! Selama kalian bisa saling percaya dan menguatkan, kalian pasti bisa melewati cobaan dan ujian sesulit apa pun itu,” tutur Yana sambil menyentuh punggung tangan Yuna.

 

Yuna menganggukkan kepala. Ia kini punya tekad yang lebih kuat lagi untuk mempertahankan rumah tangganya.

 

(( Bersambung ... ))

 

Makasih udah baca sampai sini. Tunggu part-part manis di cerita selanjutnya ya ...

 Jangan lupa kasih Star Vote juga biar aku makin semangat nulis dan bikin ceritanya lebih seru lagi. Makasih buat yang udah kirimin hadiah juga. Jangan sungkan buat sapa aku di kolom komentar ya! Kasih kripik ... eh, kritik dan saran juga ya!

 

 

Much Love

@vellanine.tjahjadi

 

 

 


Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas