Wednesday, February 19, 2025

Perfect Hero Bab 154 : Bahagia Denganmu || a Romance Novel by Vella Nine

 


“Aargh ...!” teriak Refi begitu Yuna dan Rullyta keluar dari ruangannya. “Brengsek!” makinya.

 

“Yuna ...! Aku nggak bakal ngebiarin kamu hidup tenang!” teriak Refi.

 

“Kenapa semua orang jadi benci sama aku? Kenapa? Kenapa perhatian semua orang beralih ke Yuna? Kamu, Yun. Bener-bener cewek brengsek!” teriak Refi sambil menjatuhkan semua barang yang ada di atas meja.

 

Refi menatap piring, gelas dan botol obat yang sudah berserakan di lantai. “Kalian udah bikin hidup aku berantakan. Aku bakal ngebalas semua yang udah kalian lakuin ke aku!”

 

 

 

Drrt ... drrt ... drrt ...

 

Refi langsung menatap layar ponsel.

 

“Cowok brengsek!” makinya sambil menjawab panggilan telepon.

 

“Halo, cantik! Apa kabar?” sapa seseorang di ujung telepon.

 

“Mmh ...”

 

“Semua perintah kamu udah aku kerjain dengan baik. Jangan lupa bayar sisanya!”

 

“Ya. Aku ngerti.”

 

“Kamu juga ngerti kalau aku nggak cuma mau uang kan?”

 

“Iya. Aku ngerti.”

 

“Oke. Aku udah siapin kamar. Kamu tahu gimana caranya keluar dari rumah sakit kan?”

 

Refi tak menjawab.

 

“Kamu nggak coba buat kabur kan?”

 

“Nggak.”

 

“Semua rahasia kamu ada di tanganku. Jangan macam-macam kalau masih mau rahasia kamu aman!”

 

“Umh...”

 

“Bagus. Aku udah siapin orang buat jemput kamu. Sampai ketemu lagi, gadis cantik!”

 

Refi langsung mematikan teleponnya. “Aargh ...!” teriaknya. “Kenapa semuanya jadi kayak gini?” Ia terisak dan terus mengamuk di ruangannya.

 

Beberapa perawat dan dokter langsung masuk ke ruangan untuk menenangkan Refi.

 

“Dok, kondisi mental pasien terus seperti ini setiap kali bertemu dengan orang lain. Apa lebih baik kalau dia nggak ketemu sama siapa pun?” tutur perawat setelah dokter menyuntikkan obat penenang.

 

“Kalau gitu, awasi orang-orang yang datang nengokin dia!”

 

“Baik, Dok.”

 

“Coba kamu hubungi Dokter Frisca! Dia harus lebih intensif mengatasi trauma psikis Refina.”

 

“Oke, Dok.”

 

Dokter tersebut menarik napas dan bergegas keluar dari ruang rawat Refina.

 

“Kasihan banget cewek ini,” celetuk perawat yang bertugas.

 

“Iya. Mungkin karena dia kehilangan kaki sekaligus kehilangan pacarnya.”

 

“Hmm ... untungnya dia di sini nggak coba buat bunuh diri.”

 

“Oh, iya. Di rumah sakit sebelumnya, dia coba buat lompat dari gedung ya?”

 

Dua perawat tersebut terus membicarakan Refina. Tak ada yang mengetahui berita heboh yang disebarkan oleh Refina lewat internet, termasuk semua petugas di rumah sakit.

 

 

 

Di sisi lain, Yuna merasa sangat bahagia karena mendapat dukungan dari banyak orang untuk menghadapi Refina. Ia melenggang sambil bersenandung saat menuruni anak tangga menuju dapur. Ia menyeduh susu jahe dan membawanya naik ke ruang kerja Yeriko.

 

“Malam ...!” sapa Yuna ceria saat masuk ke ruang kerja Yeriko.

 

Yeriko langsung menoleh ke arah pintu sambil tersenyum saat Yuna melangkah menghampirinya.

 

“Aku buatin susu buat kamu, diminum ya!” pinta Yuna sambil meletakkan cangkir yang ia bawa.

 

Yeriko menganggukkan kepala.

 

“Masih banyak kerjaannya?” tanya Yuna sambil melingkarkan kedua lengannya di leher Yeriko.

 

Yeriko menengadahkan kepala menatap Yuna yang berdiri di belakang kursinya. “Mau bantuin?”

 

“Boleh?”

 

Yeriko menganggukkan kepala. “Sini!” Ia menarik tubuh Yuna ke pangkuannya.

 

“Bantuin apa, nih?” tanya Yuna bersemangat.

 

“Ini.” Yeriko membuka salah satu aplikasi game yang ada di laptopnya.

 

Yuna langsung menatap wajah Yeriko. “Kamu? Kerja atau nge-game?”

 

“Kerja kalau sendiri. Kalau berdua, bukannya lebih enak main?

 

Aku nggak bisa main game beginian, sahut Yuna.

 

“Kenapa?”

 

“Susah.”

 

“Sini, aku ajarin!”

 

“Gimana?” tanya Yuna.

 

“Tekan ini buat jalan, ini buat lompat, ini buat nembak. Ngerti?”

 

Yuna menganggukkan kepala. Ia langsung mengikuti intruksi dari Yeriko.

 

“Itu musuh. Tembak!” seru Yeriko.

 

Yuna berusaha menembak, namun gagal, ia justru tertembak mati.

 

“Astaga! Musuh udah di depan mata. Kenapa malah ketembak? Lemah!”

 

Yuna mengerucutkan bibirnya dan langsung menutup laptop Yeriko.

 

“Eh!? Kenapa ditutup?”

 

“Males main ginian,” sahut Yuna kesal. “Aku nggak bisa main perang-perangan kayak gini.”

 

“Jadi, bisanya main apa?” tanya Yeriko sambil memutar tubuh Yuna menghadap ke arahnya.

 

“Mmh ...” Yuna memutar bola matanya.

 

“Gimana kalau mainin aku aja?” tanya Yeriko sambil tersenyum menatap Yuna.

 

“Maksud kamu?” Yuna mendekatkan wajahnya ke wajah Yeriko.

 

Yeriko memeluk pinggang Yuna dan mengulum bibir gadis itu.

 

“Kamu abis makan apa?” tanya Yeriko melepas ciumannya.

 

Yuna meringis. “Makan ice cream.”

 

“Rasa durian?”

 

Yuna menganggukkan kepala.

 

Yeriko memutar bola matanya.

 

“Kenapa? Aromanya enak, kan?”

 

Yeriko menganggukkan kepala. “Kamu belum ngantuk?”

 

Yuna menggelengkan kepala.

 

“Aku lanjutin kerjaanku dulu. Kamu tunggu di sana ya!” pinta Yeriko sambil menunjuk sofa yang ada di hadapannya.

 

Yuna menganggukkan kepala. Ia bangkit dari pangkuan Yeriko dan melangkahkan kakinya menuju sofa.

 

Yeriko kembali membuka laporan di laptopnya. Sesekali ia melirik Yuna yang sedang membaca buku.

 

Yuna membaca deretan tulisan yang ada di dalam buku. Ia merasa, bacaan Yeriko sangat membosankan. Semuanya serius dan ia sulit sekali memahami setiap katanya. Bahkan, deretan tulisan itu terlihat beterbangan ke mana-mana dan tak mampu ia baca lagi.

 

Yuna menguap beberapa kali.

 

“Tadi pergi sama Mama?” tanya Yeriko.

 

“Eh!?” Yuna menganggukkan kepala.

 

“Pergi ke mana?” tanya Yeriko. Matanya tetap fokus menatap laptop di hadapannya.

 

“Ke rumah sakit.”

 

Yeriko langsung mengalihkan pandangannya ke wajah Yuna. “Nemuin Refi?”

 

“Kok, tahu?”

 

“Kamu pergi sama mama. Gimana aku nggak tahu?”

 

“Kalo gitu, kenapa masih nanyain aku ke mana?” celetuk Yuna.

 

“Cuma mau mastiin aja. Kalo udah ngantuk, tidur di kamar!”

 

Yuna menganggukkan kepala. Ia bangkit dari sofa dan melangkah perlahan menuju pintu. Ia meraih gagang pintu sambil menoleh ke arah Yeriko. Ia enggan membuka pintu, justru menyandarkan kepalanya di pintu.

 

Yeriko menatap Yuna lewat ekor matanya. Ia tertawa melihat tingkah Yuna. Istrinya itu terlihat begitu imut dan lucu saat membenamkan wajahnya di pintu. Ia menutup laptop dan melangkah perlahan menghampiri Yuna.

 

“Kenapa? Nggak bisa tidur sendiri?” bisik Yeriko sambil memeluk Yuna dari belakang.

 

“Eh!?” Yuna langsung membalikkan tubuhnya menatap Yeriko. Ia tersenyum dan langsung melingkarkan lengannya ke leher Yeriko. “Udah tahu, kenapa masih nyuruh aku pergi sendiri?”

 

Yeriko tersenyum kecil. “Oke. Kita tidur sekarang.” Ia menggendong Yuna dan membawanya masuk ke dalam kamar. Yeriko langsung menjatuhkan tubuh Yuna ke atas tempat tidur.

 

“Oh ya. Besok, Mama ngajak aku ke tempat ... mmh ...” Yuna mengetuk-ngetuk bibir sambil berpikir. “Istri Walikota gitu.”

 

“Oh, Tante Yana?”

 

“Kamu kenal?”

 

Yeriko menganggukkan kepala. “Temen baik Mama sejak masih sekolah.”

 

“Oh ...”

 

“Jam berapa ke sana?”

 

“Mama nggak bilang jam berapa. Dia cuma bilang, mau jemput besok.”

 

“Oke. Ntar kabarin aja! Aku nyusul kalo kerjaanku udah kelar.”

 

“Beneran nyusul?”

 

Yeriko menganggukkan kepala. Ia mengganti pakaiannya dan berbaring di samping Yuna.

 

“Yer ...!” bisik Yuna sambil mengendus dada Yeriko.

 

“Hmm ...”

 

“Apa perusahaan lagi bermasalah karena aku?”

 

“Nggak.”

 

“Jujur! Mama bilang kalau ...”

 

“Cuma masalah kecil. Sudah diatasi.”

 

“Beneran?” Yuna menatap wajah Yeriko.

 

Yeriko mengangguk kecil. Ia mengecup dahi Yuna sambil mengelus pundaknya. “Ayo, tidur!”

 

Yuna mengangguk. Ia memainkan bibirnya di dada Yeriko.

 

Yeriko langsung menekan tubuh Yuna. “Bukannya aku ngajak kamu tidur? Udah mulai nggak patuh ya? Masih mau ngajak main-main?”

 

Yuna meringis menanggapi ucapan Yeriko.

 

Yeriko langsung menggigit leher Yuna.

 

“Aargh ...! Ada vampire,” teriak Yuna.

 

“Vampire? Kalau gitu, kamu harus nyerahin darahmu setiap malam!”

 

“Hahaha.” Mereka tertawa bersama dan menghabiskan banyak waktu untuk bercinta.

 

(( Bersambung ... ))

 

Makasih udah baca sampai sini. Tunggu part-part manis di cerita selanjutnya ya ...

 Jangan lupa kasih Star Vote juga biar aku makin semangat nulis dan bikin ceritanya lebih seru lagi. Makasih buat yang udah kirimin hadiah juga. Jangan sungkan buat sapa aku di kolom komentar ya! Kasih kripik ... eh, kritik dan saran juga ya!

 

 

Much Love

@vellanine.tjahjadi

Perfect Hero Bab 153 : Psikopat Ganas || a Romance Novel by Vella Nine

 


Rullyta mengeratkan bibirnya. Ia semakin kesal dengan sikap Refi yang masih bersikeras mengganggu rumah tangga anaknya.

 

“Angga!” teriak Rullyta sambil menoleh ke arah pintu.

 

“Ya, Bu!” seorang pria muda masuk ke dalam ruangan dan langsung menghampiri Rullyta.

 

“Ambilkan kotak yang ada di mobil! Bawa ke sini!” perintahnya.

 

“Siap, Bu!” Angga, salah satu anak buah Rullyta bergegas keluar dan mengambil barang yang dimaksud oleh Rullyta.

 

Beberapa menit kemudian, kotak tersebut sudah ada di tangan Rullyta. Ia langsung melemparkan kotak tersebut ke pangkuan Refi.

 

“Kamu yang kirim ini!?” sentak Rullyta.

 

Refi terdiam. Ia menatap kotak yang ada di pangkuannya.

 

“Kamu pikir, aku nggak tahu kalau kamu yang ngirim ini?” Rullyta semakin kesal dengan Refi yang tak kunjung mengakui kesalahannya.

 

Refi menatap tajam ke arah Rullyta dan Yuna. Ia sangat kesal karena kedatangan Rullyta bukan untuk membelanya, melainkan membela Yuna. Rasa benci di dalam hati Refi semakin bertambah setiap kali melihat wajah Yuna.

 

Refi tersenyum sinis. “Ya, memang aku yang kirim ini.”

 

“Maksud kamu apa?” tanya Yuna. “Kamu mau ...”

 

“Aku memang mau ngelukain kamu!” seru Refi. “Kalau aku nggak bisa dapetin Yeriko, nggak ada satu orang pun yang bisa miliki dia!” tegas Refi sambil mendelik ke arah Yuna.

 

Yuna tertawa kecil. “Aku udah miliki dia sepenuhnya,” sahut Yuna sambil menatap Refi.

 

“Kamu ...!?” Refi meraih gelas yang ada di sisinya dan langsung melemparkan ke arah Yuna.

 

Yuna menghindari gelas tersebut dengan cepat dan membiarkannya jatuh berderai ke lantai.

 

“Yuna, kamu nggak papa?” Rullyta panik sambil memerhatikan tubuh Yuna.

 

“Kamu udah gila ya!” sentak Rullyta sambil menghampiri Refi. “Kalau sampai Yuna kenapa-kenapa, aku nggak bakal lepasin kamu seumur hidup!”

 

“Ibu nggak papa?” Angga dan dua orang anak buah Rullyta masuk ke dalam ruangan begitu mendengar suara keributan dari dalam ruangan.

 

“Nggak papa.”

 

Refi menatap Yuna penuh amarah. Ia mencengkeram kuat selimut yang ada di tempat tidurnya. Pundaknya naik turun seiring dengan napasnya yang tak teratur.

 

“Dasar, psikopat!” maki Rullyta.

 

Refi tak peduli dengan makian Rullyta. Ia tak lagi berpura-pura baik karena Rullyta sudah tahu banyak tentang dirinya. Rullyta pasti sudah menyelidiki kehidupan Refi beberapa tahun belakangan ini. Ia merasa tak ada artinya lagi di hadapan Rullyta.

 

“Asal kamu tahu, keluarga Hadikusuma cuma ngakuin Yuna sebagai menantu. Nggak akan ada orang lain yang kami akui selain dia!” tegas Rullyta.

 

Refi terdiam. Ia tak bisa mengatakan apa pun di depan Rullyta.

 

“Kalau kamu masih bikin ulah lagi, keluarga kami akan langsung turun tangan buat ngelarin kamu tanpa toleransi lagi!” ancam Rullyta.

 

“Yun, ayo kita pulang!” Rullyta meraih lengan Yuna dan membawanya keluar dari ruang rawat.

 

Yuna mengikuti langkah Rullyta. Ia masih bisa mendengar teriakan histeris dari ruangan Refi. Beberapa perawat dan dokter langsung berlari masuk ke dalam ruangan tersebut.

 

“Ma, apa dia baik-baik aja?”

 

Rullyta menghela napas sembari menatap ke arah Yuna. “Kamu ini terlalu baik atau bodoh?”

 

Yuna mengernyitkan dahi menatap Rullyta.

 

“Mama baru aja belain kamu mati-matian, kamu masih merhatiin dia?” dengus Rullyta.

 

“Aku cuma kasihan aja lihat dia ...”

 

“Mama nggak ngerti otak kamu ini isinya apa?” tanya Rullyta sambil menoyor kening Yuna.

 

Yuna memonyongkan bibirnya sambil memegangi keningnya sendiri. “Ada yang salah?” batinnya.

 

Rullyta tertawa kecil. Walau kesal, ia sangat menyukai Yuna yang baik hati dan begitu manis. Ia menggandeng lengan Yuna dan bergegas keluar dari rumah sakit.

 

“Ngga, tolong kamu hubungi Riyan!” pinta Rullyta saat ia sudah berada di dalam mobil.

 

“Baik, Bu.” Angga langsung menelepon Riyan.

 

“Saya belum suruh kamu ngapain. Mau ngomong apa ke Riyan?” tanya Rullyta.

 

“Eh!?” Angga menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Suruh ngapain, Bu?”

 

“Ck, kamu ini ... selalu aja gitu,” celetuk Rullyta.

 

Yuna menahan tawa sambil menatap Angga yang duduk di belakang kemudi.

 

“Kamu tanya ke Riyan, apa dia udah nemuin orang yang nyebarin gosip ke media?”

 

Angga mengangguk. Ia langsung mengikuti perintah Rullyta.

 

“Halo ...!” sapa Riyan begitu panggilan teleponnya tersambung.

 

“Halo, Yan. Apa kamu sudah dapet informasi soal ...”

 

“Akun anonim yang nyebar gosip?”

 

“He-em. Kok tau kalau aku mau nanya itu?”

 

Riyan tertawa kecil. “Otakmu bawa ke bengkel!”

 

“Eh!?”

 

Riyan tergelak dan langsung mematikan panggilan telepon dari Angga.

 

Rullyta menggelengkan kepala mendengar pembicaraan Riyan dan Angga.

 

Angga memasang safety belt dan langsung menyalakan mesin mobilnya. Ia bergegas melajukan mobilnya menuju rumah Yeriko.

 

“Ma, apa anak buah Mama dan Yeri memang sering kayak gitu?”

 

Rullyta tertawa kecil. “Kadang, mereka itu memang lucu. Kalau Riyan sama Angga, memang sering kayak gitu. Riyan itu asisten Yeri. Yeriko ngelatih dia bagus banget. Pintar, berbakat dan cekatan. Kalau Angga, kamu tahu sendiri. Angga cuma supir Mama. Otaknya kurang se-ons. Mereka lumayan dekat dan sering kayak gitu,” jelasnya sambil tertawa.

 

Yuna ikut tertawa mendengar ucapan Rullyta. “Mmh ... tapi, Angga punya keunggulan lain dibanding Riyan.”

 

“Apa itu, Nyonya Muda?” Angga langsung menoleh ke arah Yuna dan sangat bersemangat.

 

“Lihat jalanan!” sentak Rullyta sambil memukul kursi belakang Angga.

 

“Angga lebih ganteng dari Riyan, sedikit.”

 

“Ehem ...” Angga langsung merapikan kerah bajunya sambil melihat wajahnya di kaca spion.

 

“Hihi ... sedikit aja, Ngga. Masih banyak Riyan,” tutur Yuna lagi.

 

Angga menghela napas kecewa. Tubuhnya seketika lemas. “Aku memang nggak bisa lebih unggul dari Riyan.”

 

“Kalau mau nyamain dia, kamu harus banyak berlatih sama Yeri,” sahut Rullyta.

 

“Eh!? Nggak usah, Nyonya. Saya jadi supir aja.”

 

“Kenapa? Bukannya bagus ya bisa jadi asisten Yeriko?” tanya Yuna.

 

“Semua anak buah Mama, takut sama Yeri. Dia lebih berbahaya dari kakek,” tutur Rullyta.

 

“Oh ya?”

 

Rullyta tersenyum kecil. “Oh ya, besok Mama ada janji mau ketemu sama istri walikota. Kamu ikut Mama ya!” pintanya.

 

“Eh!? Ketemu sama pejabat, Ma?”

 

Rullyta menganggukkan kepala. “Gimana?”

 

“Mmh ... aku nggak pede ketemu sama pejabat.”

 

“Dia sahabat Mama. Orangnya baik banget. Kamu nggak perlu sungkan.”

 

“Oh ya? Tapi ...”

 

“Besok Mama jemput kamu.”

 

Yuna mengangguk. Ia tetap tidak bisa menolak ajakan Rullyta.

 

“Mmh ... Ma. Aku boleh tanya sesuatu?” tanya Yuna sambil menggigit bibir bawahnya.

 

“Apa?” tanya Rullyta.

 

“Papanya Yeriko ke mana ya? Aku nggak pernah ...”

 

Rullyta langsung meraih jemari tangan Yuna dan tersenyum ke arah Yuna.

 

“Jangan pernah tanyakan soal papanya Yeri!” pintanya.

 

Yuna mengangkat kedua alisnya.

 

“Nggak ada satu orang pun yang boleh mengungkit soal papanya Yeri. Terutama di depan Yeri.”

 

Yuna mengangguk. Ia tidak lagi menanyakan keberadaan ayah Yeriko. Walau ia sangat penasaran, tapi ia tidak bisa memaksakan diri untuk mencari tahu keberadaan papa Yeriko. Ia terus bertanya-tanya dalam hatinya.

 

“Kenapa dirahasiakan? Apa dia sudah meninggal? Kalau sudah meninggal, kenapa harus disembunyikan beritanya? Kalau masih hidup ... ah, sudahlah, Yun. Jangan berpikir terlalu jauh,” batin Yuna bertanya-tanya.

 

Rullyta mengantarkan Yuna sampai ke depan rumah.

 

“Ma, nggak masuk dulu?” tanya Yuna.

 

Rullyta menggelengkan kepala. “Mama sudah pergi terlalu lama. Kakek pasti nyariin Mama.”

 

“Ah, Mama pergi ke rumah anak sendiri. Apa yang mau dikhawatirkan?” sahut Yuna.

 

“Kamu bisa aja. Yaudah Mama pulang dulu ya! Bye!” Rullyta melambaikan tangan dan langsung menutup kaca mobil.

 

Yuna membalas lambaian tangan Rullyta. Ia tersenyum senang dan bergegas masuk ke dalam rumah.

 

 

(( Bersambung ... ))

 

Makasih udah baca sampai sini. Tunggu part-part manis di cerita selanjutnya ya ...

 Jangan lupa kasih Star Vote juga biar aku makin semangat nulis dan bikin ceritanya lebih seru lagi. Makasih buat yang udah kirimin hadiah juga. Jangan sungkan buat sapa aku di kolom komentar ya! Kasih kripik ... eh, kritik dan saran juga ya!

 

 

Much Love

@vellanine.tjahjadi

 

 

Perfect Hero Bab 152 : Perdebatan Sengit || a Romance Novel by Vella Nine

 


Rullyta masuk ke dalam ruang rawat Refi.

 

Refi menoleh ke arah pintu dan tersenyum senang saat melihat sosok Rullyta menghampirinya. Ia merasa, akan mendapatkan banyak dukungan dari mamanya Yeriko. “Tante?” Ia berusaha menyapa Rullyta dengan ramah.

 

Raut wajah Refi berubah seketika saat melihat Yuna ikut masuk bersama dengan Rullyta.

 

“Refi, kenapa kamu nggak berhenti bikin onar?” tanya Rullyta sambil menghampiri Refi yang berbaring di tempat tidurnya.

 

“Bikin onar apa, Tante?”

 

“Masih pura-pura nggak tahu?” Rullyta tersenyum sinis. “Kamu yang udah fitnah Yuna dan nyebar gosip macem-macem ke media sosial. Kamu pikir, aku bakal diam aja lihat anakku ditindas sama perempuan kayak kamu?”

 

Refi terdiam beberapa saat.

 

“Tante, gimana kabar Tante? Udah lama banget kita nggak ketemu,” tutur Refi sambil tersenyum.

 

Rullyta melipat kedua tangan di dada sambil menatap tajam ke arah Refi. Ia sangat kesal karena Refi mengalihkan pembicaraan.

 

“Kamu nggak usah pura-pura peduli sama orang lain!” tegas Rullyta.

 

“Tante, apa aku seburuk itu di mata Tante?”

 

“Ya.” Rullyta menganggukkan kepala.

 

Refi menatap sinis ke arah Yuna yang berdiri di samping Rullyta.

 

“Kenapa? Kamu mau ngancam dia lagi?” tanya Rullyta.

 

“Tante, jangan salah sangka dulu!” pinta Refi. “Hubungan aku sama Yuna, nggak seburuk itu. Iya kan, Yuna?” Refi menatap Yuna sambil tersenyum.

 

Yuna tak menjawab pertanyaan Refi.

 

“Yun, bukannya aku udah minta maaf sama kamu? Kamu juga bilang, bakal maafin aku, kan? Kenapa sekarang kamu berubah?”

 

Yuna meremas ujung baju dengan tangannya. Ia sangat kesal dengan sikap Refi. “Ini cewek, bener-bener pinter banget aktingnya, memutar balikkan fakta terus,” gumam Yuna dalam hati.

 

“Heh!? Kamu jangan terus-terusan akting di depanku!” sentak Rullyta. “Kamu pikir, aku nggak tahu kelakuan asli kamu dan masalah yang udah kamu bikin? Yuna, setiap hari selalu sama aku. Aku lebih tahu soal dia.”

 

“Tante, kenapa Tante jadi kayak gini ke aku? Pasti karena dia kan? Dia yang udah pengaruhi Tante dan Yeriko. Dia ... cuma ngincar harta kalian aja,” tutur Refi.

 

“Dia istri sahnya Yeriko. Memang punya hak buat dapetin harta yang dipunya sama Yeri. Kenapa? Ada masalah?” sahut Rullyta.

 

“Tante, dia bisa aja ambil alih semua harta Yeriko.”

 

“Nggak masalah. Toh, Yuna juga istrinya Yeri.”

 

“Apa kalian nggak takut jatuh miskin gara-gara cewek yang satu ini?”

 

Rullyta tersenyum sinis ke arah Refi. “Kamu nggak perlu mengkhawatirkan kami!” pinta Rullyta. “Lebih baik, kamu khawatirkan diri kamu sendiri!”

 

Refi terdiam selama beberapa saat.

 

“Buatku, Yuna sudah menjadi anakku sendiri. Siapa pun yang berani menyakiti dia, bakal berhadapan langsung sama aku!” tegas Rullyta.

 

“Tante, aku juga punya rasa cinta yang besar ke Yeriko dan itu tulus.”

 

Rullyta tersenyum sinis ke arah Refi. “Nggak usah bicara soal ketulusan! Aku masih ingat gimana kamu memperlakukan anakku tiga tahun lalu.” Ia menatap sengit ke arah Refi.

 

“Tante, aku minta maaf!” seru Refi. “Aku memang salah. Aku janji bakal memperbaiki semuanya.”

 

Rullyta tersenyum kecil. “Memperbaiki? Dengan cara bikin onar? Nyebar gosip ke mana-mana. Bikin kekacauan untuk keluarga kami. Itu yang disebut memperbaiki?”

 

“Aku terlalu cinta sama Yeri. Aku nggak rela dia sama orang lain,” tutur Refi dengan mata berkaca-kaca. “Aku udah kehilangan semuanya. Aku cuma mau dia.”

 

“Kamu beneran gila ya? Yeriko itu suamiku!” sahut Yuna kesal. “Kamu pikir, aku bakal nyerahin suamiku ke orang lain?”

 

“Kamu yang ambil Yeriko dari aku!” teriak Refi sambil terisak.

 

Yuna dan Rullyta saling pandang.

 

“Ma ...!” panggil Yuna lirih sambil meraih ujung jemari tangan Rullyta. Ia tahu, kondisi mental Refi tidak stabil. Walau kesal, ia masih memiliki belas kasihan untuk Refi.

 

Rullyta mengelus lengan Yuna untuk menenangkannya. Ia tersenyum, kemudian menatap Refi yang masih menangis di atas tempat tidurnya.

 

Refi menatap pilu ke arah Rullyta. “Tante, bisa ngomong berdua aja?”

 

“Yuna bukan orang lain. Ngomong aja!” sahutnya ketus.

 

Refi menggigit bibir bawahnya. Mereka terdiam selama beberapa saat.

 

“Selama ini, cuma Yeri yang selalu ada buat aku. Dia yang bikin aku bergantung sama dia. Saat ini, aku bahkan nggak punya tujuan hidup. Sekarang udah catat, aku nggak bisa melanjutkan karirku dan ...”

 

“Bukannya kaki kamu masih bisa sembuh?” sahut Yuna.

 

Refi mengangguk. “Ya, kakiku emang bisa sembuh. Tapi, butuh waktu yang lama banget. Aku sendiri nggak tahu kapan kakiku bakal bisa normal lagi. Yeri juga udah janji bakal bertanggung jawab.”

 

“Yun, aku mohon ... aku cuma butuh Yeri. Aku nggak butuh yang lain. Please, lepasin dia buat aku!” pinta Refi.

 

“Maksud kamu?” Rullyta mengernyitkan dahi menatap Refi. “Kamu nyuruh mereka pisah?”

 

Refi menganggukkan kepala. “Please, Tante! Biarkan aku menikah sama Yeri. Tante tahu kalau kami saling mencintai. Jadi ...”

 

“Yeriko nggak bilang begitu,” sahut Rullyta ketus.

 

“Nggak mungkin!” seru Refi. “Aku sama dia saling mencintai sejak dulu. Tante tahu sendiri, hubungan aku dan Yeri sudah lama banget. Dia nggak mungkin ...”

 

“Mungkin aja,” sahut Rullyta. “Yeriko sendiri yang bilang sama aku kalau dia cuma cinta sama Yuna seumur hidupnya. Dia bahkan nggak pernah bilang ke aku kalau dia pernah cinta sama kamu. Sekalipun saat itu, kalian masih pacaran.”

 

“Nggak mungkin!” seru Refi sambil menutup kedua telinga. “Yeriko nggak mungkin bohongin aku. Dia pasti masih cinta sama aku. Nggak mungkin dia bisa cinta sama wanita lain.”

 

“Nggak ada yang nggak mungkin di dunia ini,” sahut Rullyta. “Semua hal akan berubah. Waktu itu, kalian masih remaja. Cuma cinta monyet. Yeriko nggak pernah nganggep serius,” tutur Rullyta sambil tersenyum sinis.

 

“Nggak. Nggak mungkin!” seru Refi. Ie menggeleng-gelengkan kepala dan menatap kosong ke arah lantai.

 

Yuna menarik napas dalam-dalam sambil menatap Refi yang terlihat begitu menyedihkan. Ia merasa iba, namun semua air mata Refi adalah air mata kepalsuan. Ia tidak ingin terjebak kedua kalinya dalam lautan sandiwara yang diciptakan oleh Refi.

 

“Lebih baik, kamu lupakan keinginan kamu buat hidup sama Yeri!” pinta Rullyta. “Dia bakal tetap bertanggung jawab sama masa depan kamu. Bukan berarti, dia bakal nikahin kamu.”

 

Refi semakin terisak mendengar ucapan yang keluar dari mulut Rullyta.

 

“Nggak usah akting!” seru Rullyta. “Kami semua tahu gimana hidup kamu. Hubungan kamu sama keluarga kamu sendiri aja nggak baik. Semua karena kelakuanmu sendiri. Sekarang, nggak ada yang peduli sama kamu. Bahkan, kami yang pernah peduli, saat ini bener-bener nggak punya belas kasihan sedikitpun buat perempuan kayak kamu.”

 

“Tante ... jangan terus-terusan ngungkit masa lalu aku!” seru Refi. “Aku tahu aku salah. Aku janji, bakal memperbaiki semuanya.”

 

“Lebih baik, kamu perbaiki dulu hubungan kamu sama mama kamu. Kamu berharap banyak sama Yeri. Kamu nggak punya keberanian buat kembali ke keluarga kamu sendiri, hah!?”

 

Refi terdiam. Ia merasa tak berdaya saat mendengar pertanyaan dari Rullyta. Banyak hal buruk yang sudah ia lakukan di masa lalu. Bahkan, mamanya sendiri enggan menganggapnya sebagai anak. Ia berhasil menutupi kehidupan masa lalunya dari pemberitaan media.

 

“Aku bisa bongkar semuanya!” seru Rullyta. “Kalau kamu masih macem-macem sama keluarga kami. Aku nggak akan segan-segan buat ngancurin reputasi kamu sebagai artis!” ancam Rullyta.

 

Refi langsung menatap wajah Rullyta. Ia sama sekali tidak menyangka kalau Rullyta datang untuk membela Yuna, bukan membela dirinya. Ia menatap Yuna penuh kebencian karena Yuna berhasil merebut perhatian semua orang. Bahkan, ia sudah mendapat pengakuan dari Rullyta, orang yang penting dalam keluarga besar Hadikusuma.

 

(( Bersambung ... ))

 

Makasih udah baca sampai sini. Tunggu part-part manis di cerita selanjutnya ya ...

 Jangan lupa kasih Star Vote juga biar aku makin semangat nulis dan bikin ceritanya lebih seru lagi. Makasih buat yang udah kirimin hadiah juga. Jangan sungkan buat sapa aku di kolom komentar ya! Kasih kripik ... eh, kritik dan saran juga ya!

 

 

Much Love

@vellanine.tjahjadi

 

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas