Wednesday, February 26, 2025

Perfect Hero Bab 162 : Air Mata Amara || a Romance Novel by Vella Nine

 


Amara menggigit bibirnya saat perjalanan pulang. Wajah Chandra berkelebat di pikirannya. Sudah lama berlalu, di saat seperti ini, ia merasa kalau Chandra masih menyukainya.

 

“Kenapa kalian takut sama anak muda itu? Emangnya, dia bisa apa?” tanya Indri sambil menatap suaminya yang duduk di balik kemudi.

 

“Ma, Yeriko itu bukan anak muda sembarangan. Perusahaan kita lagi krisis. Nyari masalah sama dia, sama aja bunuh diri!” sentak Ery.

 

“Krisis?” Indri mengernyitkan dahi menatap suaminya. “Gimana bisa?”

 

“Banyak masalah di perusahaan,” jawab Ery sambil menghentikan mobilnya di depan rumah. Ia menatap beberapa orang pria bertubuh kekar yang menghadang mobilnya.

 

“Mereka siapa, Pa?” tanya Indri.

 

“Nggak tahu.”

 

Salah seorang pria melangkah maju dan langsung memukul bagian depan mobil menggunakan balok kayu yang dibawanya.

 

“Astaga!” Indri langsung memegang dadanya. Jantungnya berdebar kencang.

 

“Mereka siapa, Ma!?” Amara yang duduk di belakang ikut berteriak.

 

“Mama nggak tahu!”

 

“Begal!?”

 

“Jangan sembarangan! Masa begal di depan rumah kita?”

 

“Terus siapa? Mereka semua bawa kayu. Apa tukang pukul?” tanya Amara.

 

“Pa, Papa nggak punya hutang kan?” seru Indri.

 

Ery menggelengkan kepala.

 

“Terus, mereka siapa?”

 

“Papa nggak tahu!”

 

“KELUAR KALIAN!” seru preman tersebut sambil menaikkan satu kakinya ke bagian depan mobil Bantley milik ayah Harry.

 

“Jangan keluar, Pa! Bahaya,” pinta Amara.

 

“Iya. Mereka semua bawa pukulan. Kalau keluar, bisa celaka,” sahut Indri.

 

Ery melepas safety belt dan menoleh ke arah Amara yang duduk di kursi belakang. “Kamu telepon polisi!”

 

Amara mengangguk dan langsung menghubungi kantor polisi terdekat.

 

Ery membuka pintu mobil dan keluar perlahan.

 

“Harry di mana?” tanya Preman tersebut sambil mengacungkan tongkat baseball me arah Ery.

 

“Harry? Dia lagi dinas di luar kota.”

 

“Bohong!” sentak preman tersebut.

 

“Kalian ada perlu apa nyari anak saya?” tanya Ery.

 

“Anak kamu itu, punya hutang yang besar sama bos kami. Hari ini, kami datang menagih sesuai perjanjian.”

 

“Berapa hutangnya dia?”

 

“Delapan ratus juta.”

 

“Apa!? Kalian mau meras kami? Nggak mungkin dia punya hutang sebanyak itu!” sahut Ery.

 

Preman itu memainkan kayu yang dipegangnya. “Harry di mana?”

 

“Nggak ada di sini. Mungkin, dia ada di rumahnya.”

 

“Dia udah nyerahin rumahnya ke kami. Dia nggak akan punya nyali buat balik ke rumah itu lagi.”

 

“Apa!? Nggak mungkin. Nggak mungkin dia sampai kayak gini,” tutur Ery sambil memutar-mutar tubuhnya. Ia langsung menoleh ke dalam pintu mobil dan menatap Amara.

 

“Kami kasih waktu tiga hari. Kalau Harry nggak muncul dan bayar hutangnya, kami pastikan dia pulang ke rumah orang tuanya tanpa tangan dan kaki!”

 

“Berani-beraninya kalian ngancam saya!?”

 

Preman tersebut langsung melayangkan kayu ke arah Ery.

 

Ery berusaha menghindarinya hingga kayu tersebut mendarat di kaca mobil.

 

“Pa ...!” teriak Indri. Ia bergegas keluar dari mobil dan membantu suaminya.

 

Amara juga ikut keluar dari mobil karena preman yang lain memecahkan kaca mobil dan terus memukuli mobil Ery dengan membabi buta.

 

“Tolong!” teriak Amara.

 

“Pa, Papa nggak papa?” tanya Indri.

 

“Nggak papa. Lebih baik, kalian pergi dari sini!” pinta Ery.

 

“Nggak, Pa. Aku nggak akan ngebiarin Papa di sini sendirian.”

 

“Pergi!” teriak Ery.

 

Indri bersikeras membantu suaminya. Ia menarik lengan suaminya agar pergi bersamanya.

 

Amara berteriak histeris minta tolong sambil menangis. Ia membuka ponsel dan kembali menelepon kantor polisi.

 

“Heh!? Kamu telepon siapa?” Salah seorang preman menyodorkan kayu ke hadapan Amara.

 

Amara menggelengkan kepala.

 

“Bisa suruh Harry datang ke sini sekarang juga?”

 

Amara menggelengkan kepala lagi.

 

Pria itu langsung mengangkat kayu dan bersiap memukul Amara.

 

“Mereka panggil polisi!” seru pria yang lain. “Awas ya! Kami pasti balik lagi!” ancamnya sambil bergegas pergi meninggalkan Amara dan orang tua Harry.

 

“Ma ...!” teriak Ery saat melihat istrinya tiba-tiba pingsan dan kepalanya mengeluarkan darah.

 

“Pa, Ma ...!” teriak Amara sambil menghampiri kedua mertuanya yang tersungkur di tanah.

 

“Cepet telepon ambulance!” perintah Ery sambil memeluk istrinya.

 

Amara mengangguk, ia membuka ponsel dengan tangan bergetar.

 

“Halo ...! Tolong kirimkan ambulance ke jalan Wijaya Kusuma nomer dua puluh! Umh ...” Amara mengangguk dan langsung mematikan ponselnya.

 

“Papa nggak papa?” tanya Amara.

 

Ery merintih kesakitan, ia masih merasakan pukulan keras di bahunya. “Nggak papa,” jawabnya.

 

“Sebentar lagi ambulance datang. Biar Amara yang pegang Mama!” pinta Amara sambil meraih tubuh Indri.

 

“Sebenarnya, Harry ke mana?” tanya Ery.

 

Amara menggelengkan kepala. “Dia cuma bilang, ada kerjaan di luar kota.”

 

“Gimana bisa dia punya hutang sebanyak itu?” tanya Ery sambil berusaha bangkit. “Anak itu memang nggak berguna!” makinya. Ia bersandar di mobilnya yang sudah terlihat mengenaskan.

 

“Aku nggak tahu. Hampir setiap malam dia pulang dalam keadaan mabuk.”

 

“Kamu tahu kalau rumahnya dia diambil orang?”

 

Amara menggelengkan kepala.

 

“Sekarang, kalian tinggal di mana?”

 

“Di rumahku, Pa.”

 

Ery mengangguk-anggukkan kepala. “Kebiasaan judinya masih jalan?”

 

Amara menganggukkan kepala.

 

“Huft, dia pasti punya hutang karena main judi. Hutangnya sampai sebanyak itu. Anak nggak tahu diri!” maki Ery.

 

Amara terdiam. Ia tak menyangka kalau hidupnya akan mengalami banyak kesulitan setelah berpisah dengan Chandra. Banyak hal yang ia sesali saat ini. Andai ia masih bersama Chandra, mungkin hidupnya akan jauh lebih baik. Chandra selalu memperlakukan dirinya dengan baik.

 

Beberapa saat kemudian, ambulans datang dan langsung membawa mereka bertiga ke rumah sakit terdekat. Mereka langsung mendapatkan perawatan di UGD.

 

“Dok, kondisi Mama saya gimana?” tanya Amara usai menyelesaikan keperluan administrasi untuk pengobatan mertuanya.

 

“Lukanya nggak terlalu parah. Setelah sadar, dia akan baik-baik aja,” jawab dokter yang baru saja selesai menangani luka di kepala Indri.

 

Amara mengangguk tanda mengerti. “Makasih, Dok!”

 

Dokter tersebut mengangguk dan melangkah pergi.

 

Amara langsung menghampiri Indri yang terbaring di salah satu ranjang di ruang UGD. Ia duduk di ranjang kosong yang ada di sebelahnya sambil menunggu mama mertuanya itu sadar.

 

“Pa, papa istirahat aja! Biar aku yang jagain Mama,” tutur Amara sambil menatap papa mertuanya.

 

Ery mengangguk. Ia berbaring di ranjang kosong yang ada di ruangan UGD tersebut.

 

Amara melihat jam yang ada di ponselnya. Waktu sudah menunjukkan pukul 02.00 WIB. Ia merasa, akhir-akhir ini hidupnya sangat melelahkan. Harus menghadapi Harry yang memiliki temperamen tinggi. Belum lagi soal usahanya yang kini juga sedang dalam masalah.

 

Beberapa saat kemudian, Indri tersadar.

 

“Ma ...!” Amara langsung menghampiri Indri begitu melihat mamanya sudah sadarkan diri.

 

Indri menatap Amara. Wajahnya sangat tidak bersahabat. Ia membuang pandangannya ke arah lain.

 

Amara mengernyitkan dahi melihat perubahan sikap mama mertuanya tersebut.

 

“Ma ...!”

 

“Pergi dari sini!” pinta Indri tanpa memandang Amara.

 

“Ma, aku salah apa?”

 

Indri langsung menoleh ke arah Amara. “Kamu sadar nggak? Setelah kamu masuk ke keluarga kami, banyak masalah yang datang. Si Harry sampai terlibat hutang sebanyak itu. Apa lagi kalau bukan karena kamu yang pembawa sial!”

 

“Ma ...!” Mata Amara berkaca-kaca. Ia tak menyangka kalau mama mertuanya akan mengatakan hal yang begitu menyakitkan. “Kenapa Mama bilang begitu?”

 

“Emang iya. Dulu, keluarga kami baik-baik aja. Kehidupan kami juga stabil dan bagus. Semenjak kamu masuk ke keluarga kami. Ada aja masalah. Kamu emang nggak becus jadi istrinya Harry.”

 

Air mata Amara berderai mendengar kalimat Indri. Ia merasa, kalimat itu seperti sebilah pisau yang sedang menyayat-nyayat hatinya. Ia berbalik dan melangkah pergi meninggalkan Indri.

 

Amara mempercepat langkahnya dan berlari keluar dari rumah sakit. Ia duduk di kursi taman bersama derai air mata yang terus membasahi pipinya. Ia tak bisa menahan kesedihannya. Di saat seperti ini, ia teringat pada Chandra yang selalu memperlakukannya dengan baik.

 

Walau tak pernah mengajaknya bersenang-senang, Chandra tak pernah membuatnya bersedih. Bahkan Chandra selalu memaafkan dirinya yang telah berselingkuh beberapa kali.

 

(( Bersambung ... ))

 

Makasih udah baca sampai sini. Tunggu part-part manis di cerita selanjutnya ya ...

 Jangan lupa kasih Star Vote juga biar aku makin semangat nulis dan bikin ceritanya lebih seru lagi. Makasih buat yang udah kirimin hadiah juga. Jangan sungkan buat sapa aku di kolom komentar ya! Kasih kripik ... eh, kritik dan saran juga ya!

 

 

Much Love

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

Wednesday, February 19, 2025

Perfect Hero Bab 161 : Hadiah Kecil untuk Yuna || a Romance Novel by Vella Nine

 


“Yan, menurut kamu bagusnya bikin pesta outdoor atau indoor ya?” tanya Rullyta saat berkunjung ke rumah Yana.

 

“Dua-duanya bagus.”

 

“Aku sih maunya indoor aja. Kalo outdoor takutnya hujan. Pasti ribet.”

 

“Rencananya mau ambil bulan berapa acaranya?”

 

“Bulan Juli.”

 

“Mmh ... kayaknya bulan Juli belum musim penghujan. Kalau Agustus, agak mengkhawatirkan.”

 

“Iya, sih. Tapi, akhir-akhir ini cuaca nggak nentu. Kalo bikin pesta outdoor, resikonya hujan.”

 

“Pake pawang aja!”

 

“Eh!?” Rullyta mengernyitkan dahinya. “Pawang?”

 

Yana menganggukkan kepala.

 

“Boleh juga, sih. Nanti aku coba diskusi lagi deh sama Yuna.”

 

Yana tersenyum sambil menyeruput teh yang ada di tangannya. “Kelihatannya, kamu deket banget sama menantu kamu itu?”

 

Rullyta menganggukkan kepala. “Dia itu ... sederhana, baik dan lucu. Karena ibunya udah meninggal, dia nganggep aku udah kayak ibunya sendiri. Aku juga suka banget sama dia.”

 

“Itu bagus. Kadang, ada anak menantu yang menganggap orang tuanya seperti orang lain. Anak saya yang pertama, istrinya begitu. Jarang banget mau main ke rumah. Apalagi mau ngobrol-ngobrol kayak gini.”

 

“Masa sih?”

 

Yana menganggukkan kepala. “Kalo sama suaminya ya sayang banget. Tapi, kalo sama saya biasa aja. Main ke sini kalau udah saya telepon karena udah kangen sama cucu.”

 

“Aku pikir, hubungan kalian baik-baik aja.”

 

“Emang baik-baik aja. Kami nggak pernah bertengkar, jarang juga bicara. Yah, biasa-biasa aja.”

 

“Oh. Kalo si Yuna, intens banget komunikasi sama aku. Ngalah-ngalahin Yeri ngasih perhatiannya. Kadang, aku ngerasa si Yuna yang jadi anak kandungku ketimbang Yeri. Tahu sendiri, Yeri itu dingin dan suka bantah omongan mamanya.”

 

“Hahaha. Anak laki-laki memang kebanyakan kayak gitu.”

 

“Iya. Kayaknya, dia itu nggak pernah ngehirauin kalau mamanya ngomel. Tapi, kalo Yuna yang ngocehin dia, dia nurut aja, tuh.”

 

“Yah, namanya juga cinta.”

 

“Hehehe. Iya juga, sih. Nggak nyangka kalau Yeriko bisa juga nikah. Aku agak khawatir karena udah sedewasa itu, nggak pernah bawa cewek ke rumah.”

 

“Emang belum waktunya. Apa yang kamu khawatirkan? Dia laki-laki dan sudah mapan. Perempuan mana yang nggak mau sama dia?” sahut Yana sambil tertawa kecil.

 

“Banyak perempuan yang mau sama dia. Tapi, nggak ada satu pun yang bikin dia tertarik. Kakeknya sampe harus turun tangan nyarikan dia jodoh. Semuanya dia tolak. Padahal, kakeknya itu nyarikan perempuan yang cantik dan kaya. Dia tetep nggak mau. Diam-diam, dia udah nikahin cewek yang nggak kami kenal sama sekali.”

 

“Dia pasti sudah memperhitungkan Yuna sebelumnya,” sahut Yana sambil tersenyum menatap Rullyta.

 

Rullyta menganggukkan kepala. “Semua orang mengira, dia bakal nyari istri yang berkelas. Ternyata, dia lebih suka wanita sederhana kayak Yuna. Yuna tuh nggak neko-neko. Sederhana banget. Bayangin aja, nikah sama Yeri tanpa gaun pengantin, tanpa cincin dan dia nggak pernah ngebahas harta Yeri sama sekali.”

 

“Sekarang, dia malah kerja di perusahaan lain. Padahal, Yeri nggak akan kekurangan buat ngidupin dia.”

 

“Iya juga, ya? Kenapa dia nggak pilih di rumah aja? Bukannya malah santai?”

 

“Huft, entahlah. Dia bilang, pengen bisa mandiri. Dia bilang, kalau suatu hari Yeriko ninggalin dia, dia sudah punya karir yang stabil.”

 

Yana menahan tawa mendengar pernyataan Rullyta. “Menantu kamu itu lucu juga. Dia bahkan udah punya persiapan. Apa dia selalu mikir kalau suaminya bakal ninggalin dia?”

 

“Entahlah. Mungkin karena Yeri dikelilingi banyak perempuan cantik. Apalagi masalah yang lagi mereka hadapi saat ini. Bikin Yuna selalu ngerasa kalau Yeriko bakal ninggalin dia.”

 

“Hmm ... iya juga, sih. Tapi, aku lihat dia perempuan yang kuat.”

 

Rullyta menganggukkan kepala. “Aku rasa begitu. Tapi, aku sendiri nggak pernah tahu sebenarnya dia seperti apa. Yang aku tahu, Yeriko cinta banget sama dia. Aku cuma takut, mereka nggak bisa mempertahankan rumah tangga mereka. Baru aja nikah, ujian mereka udah sebesar ini.”

 

“Kamu harus ngasih dukungan terus ke mereka!”

 

Rullyta mengangguk.

 

“Oh ya, malam ini nginap di sini aja! Gimana?” pinta Yana.

 

“Nginap?”

 

“Iya. Udah lama nggak main ke sini. Sesekali nginap nggak papa, kan?”

 

“Tapi ...”

 

“Kebetulan, Bapak lagi dinas ke luar kota. Kita bisa punya banyak waktu buat cerita-cerita.”

 

“Mmh ... oke.”

 

“Nah, gitu dong!”

 

Rullyta tersenyum menatap sahabatnya. “Oh ya, lusa ada waktu nggak?” tanya Rullyta.

 

“Kenapa?”

 

“Ke Singapura, yuk!”

 

“Nggak bisa. Aku lagi persiapan untuk pameran Dekranasda. Mana bisa mau keluyuran ke luar negeri.”

 

“Ke Singapura doang. Deket, Yan. Dua hari aja, kok. Pameran kan pasti udah ada anggota yang nanganin, kan?”

 

“Mau ngapain di sana?”

 

“Mau ngecek toko yang di sana.”

 

“Oh ya, kamu punya cabang toko di sana ya?”

 

Rullyta menganggukkan kepala.

 

“Nggak salah kalau Yeriko jadi pebisnis yang tangguh. Mamanya juga pintar berbisnis.”

 

“Ah, kamu terlalu berlebihan,” sahut Rullyta.

 

Yana tersenyum kecil. “Oh ya, kabar Kakek Ali gimana? Sehat, kan?”

 

Rullyta menganggukkan kepala. “Lumayan sehat.”

 

“Lumayan?” Yana mengernyitkan dahi.

 

“Yah, Papa memang sudah tua. Dia rajin olahraga, kondisi badannya lumayan sehat. Tapi, penyakit jantungnya bisa aja kambuh sewaktu-waktu. Aku sedikit kesulitan nyembunyikan masalah rumah tangga Yeriko kali ini. Apalagi, itu mempengaruhi saham perusahaan. Kalau Yeri nggak bisa nyelesaiin secepatnya. Aku khawatir kakek bakal tahu.”

 

“Kamu khawatir sama kemampuan anak kamu sendiri? Biasanya, kamu selalu percaya diri?”

 

“Masalahnya beda, Yan. Ini bukan murni urusan bisnis. Dia harus ngadepin mantan pacar dan istrinya juga. Entahlah, dia bisa ngelarin semuanya atau nggak.”

 

“Apa itu artinya ... dia bakal makin hebat kalau berhasil menyelesaikan ini dengan baik?” tanya Yana.

 

“Mmh ...” Rullyta menopang dagu dengan kedua tangannya. Ia memutar bola mata dan menatap Yana. “Aku harap begitu,” tuturnya sambil tersenyum.

 

Yana tersenyum. Ia bangkit dari duduknya. “Aku mau nunjukin sesuatu ke kamu.”

 

“Apa?”

 

“Ayo!”

 

Rullyta bangkit, ia mengikuti langkah Yana menuruni anak tangga dan masuk ke salah satu ruangan yang ada di sudut rumahnya.

 

“Wow ...!” Rullyta mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan.

 

“Ini karya seniman-seniman lokal yang aku kumpulin. Mereka anak-anak muda yang berbakat.”

 

Rullyta memerhatikan sebuah tas rajut berwarna biru malam. “Ini, harganya berapa?”

 

“Nggak dijual. Ini khusus untuk dipamerkan aja.”

 

“Kamu bisa pesen lagi sama senimannya kan?”

 

“Iya.”

 

“Ini buat aku ya!” pinta Rullyta. “Kayaknya, cantik banget kalau dipake Yuna.”

 

“Kamu mau ngasih ini buat menantu kamu?”

 

Rullyta menganggukkan kepala.

 

“Ambillah!”

 

“Serius?”

 

Yana menganggukkan kepala.

 

“Oke. Aku ambil. Kamu pesen lagi sama senimannya!”

 

Yana menganggukkan kepala sambil tersenyum. “Gampang.”

 

Rullyta tersenyum senang. Setiap kali melihat barang bagus, ia selalu teringat pada menantu kesayangannya itu. “Kamu tahu sendiri, aku suka banget sama anak perempuan. Apalagi, Yuna itu ... cantik dan lucu. Setiap lihat barang bagus, aku selalu teringat sama anak itu.”

 

Yana tersenyum kecil. Ia mengambil sebuah kotak kayu yang ada di atas meja dan menunjukkan sebuah gelang yang ada di dalamnya. “Lihat! Ini cocok untuk Yuna.”

 

“Wah ...! Ini buatan tangan juga?”

 

Yana menganggukkan kepala. “Ambillah! Kasihkan ke Yuna!” pintanya. “Anggap aja, ini hadiah dari aku.

 

Rullyta menganggukkan kepala. “Dia pasti seneng banget sama gelang batu kayak gini.”

 

“Oh ya?”

 

“Iya.” Rullyta memerhatikan gelang yang ada di dalam kotak kayu tersebut. Ia merasa, gelang itu sangat cantik dan cocok untuk Yuna. “Makasih, ya!”

 

(( Bersambung ... ))

 

Makasih udah baca sampai sini. Tunggu part-part manis di cerita selanjutnya ya ...

 Jangan lupa kasih Star Vote juga biar aku makin semangat nulis dan bikin ceritanya lebih seru lagi. Makasih buat yang udah kirimin hadiah juga. Jangan sungkan buat sapa aku di kolom komentar ya! Kasih kripik ... eh, kritik dan saran juga ya!

 

 

Much Love

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

Perfect Hero Bab 160 : Si Genit || a Romance Novel by Vella Nine

 


Yeriko menghentikan mobilnya tepat di halaman rumah. Ia melepas safety belt-nya dan juga safety belt yang melingkar di tubuh Yuna.

 

Yuna langsung merangkul leher Yeriko. “Beruang ... kenapa kamu ganteng banget?” tanyanya sambil memicingkan mata menatap Yeriko.

 

Yeriko tersenyum kecil menatap Yuna. “Baru sadar?”

 

Yuna menganggukkan kepala sambil menepuk pipi Yeriko. “Punya suami ganteng kayak kamu, selalu jadi rebutan cewek-cewek cantik. Tapi, aku nggak bakal ngelepasin kamu.”

 

Yeriko tersenyum. Ia melepaskan lengan Yuna dari lehernya. Tapi, Yuna malah mengeratkan lingkaran lengannya.

 

“Mau ke mana?” tanya Yuna.

 

“Masuk, yuk! Kita udah sampe rumah.”

 

“Emh ...” Yuna memonyongkan bibirnya.

 

Yeriko tersenyum kecil. Ia langsung mengecup bibir Yuna.

 

Yuna meringis dan menjatuhkan kembali tubuhnya ke kursi.

 

Yeriko tersenyum kecil sambil menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah Yuna yang begitu agresif saat mabuk. Ia keluar dari mobil dan menggendong Yuna keluar dari dalam mobil.

 

“Mbak Yuna kenapa, Mas?” tanya Bibi War begitu Yeriko masuk ke dalam rumah.

 

“Nggak papa. Cuma kebanyakan minum.”

 

“Oh.”

 

Yeriko terus melangkahkan kakinya naik ke kamar dan menjatuhkan tubuh Yuna ke atas tempat tidur.

 

“Nyalain AC!” pinta Yuna. “Panas banget.”

 

Yeriko langsung mengambil remote AC dan menyalakan AC di kamarnya.

 

Yuna melepas semua pakaiannya karena merasa suhu ruangan di kamarnya sangat panas.

 

Yeriko menarik napas dan menyelimuti tubuh Yuna.

 

Yuna langsung menarik tubuh Yeriko hingga menekan tubuhnya. Ia merangkul leher Yeriko dan terus menciumi wajah Yeriko.

 

Yeriko berusaha bangkit dan melepaskan diri dari Yuna. Tapi, Yuna malah berguling dan membuat tubuhnya berada di bawah tubuh Yuna.

 

“Yun, aku mau mandi dulu!” tutur Yeriko.

 

Yuna menggelengkan kepala. Ia menjatuhkan kepalanya di dada Yeriko.

 

Yeriko menghela napas dan memeluk tubuh istrinya. “Jangan sampai mabuk kalau pergi tanpa aku!”

 

Yuna mengangguk kecil. Ia mengangkat kepala dan mengendus leher Yeriko.

 

“Yer, kenapa tadi ketawa waktu keluar dari Sheraton? Apa kamu ... lagi memperhitungkan seseorang?” bisik Yuna.

 

Yeriko tertawa menanggapi pertanyaan Yuna.

 

Yuna menatap wajah Yeriko yang masih tertawa. “Ketawa jahat. Pasti lagi ngerencanain sesuatu. Apa itu?” dengus Yuna.

 

“Mmh ... nggak boleh tahu!” sahut Yeriko.

 

“Iih ... ngeselin!” seru Yuna sambil memukul dada Yeriko dan menghisap kuat leher suaminya.

 

“Yun, sakit!” seru Yeriko. “Kamu udah jadi vampire juga?”

 

“Iya.”

 

Yeriko tertawa, ia langsung menghisap bibir Yuna dan bermain-main di tubuh istrinya dalam waktu yang lama.

 

“Mandi yuk!” ajak Yeriko usai bercinta dengan istrinya.

 

Yuna menganggukkan kepala.

 

Yeriko bangkit dan langsung menggendong Yuna ke kamar mandi. Ia memasukkan tubuh Yuna ke dalam bathtub dan menyalakan kran.

 

Yuna tersenyum menatap suaminya. Ia menarik tubuh Yeriko masuk ke dalam bathtub bersamanya.

 

“Masih aja genit, masih kurang?” bisik Yeriko sambil menjepit hidung Yuna.

 

Yuna tersenyum menatap Yeriko. “Masih bisa bangun?”

 

“Hmm ... capek,” sahut Yeriko sambil menyandarkan kepalanya.

 

Yuna tertawa kecil dan memeluk tubuh Yeriko.

 

“Yer, gimana kita ngadepin Refi?” tanya Yuna.

 

“Kamu tenang aja! Aku lagi ngumpulin bukti-bukti buat ngelawan dia. Departemen Humas juga sudah nyiapin jadwal buat konferensi pers.”

 

“Hah!? Konferensi pers?”

 

Yeriko menganggukkan kepala. “Kenapa?”

 

Yuna menundukkan kepala. “Nggak papa. Aku  males aja ketemu sama wartawan. Apalagi mereka bar-bar kayak kemarin itu.”

 

Yeriko tersenyum kecil. “Nggak usah khawatir. Merek nggak akan ngelakuin itu.”

 

Yuna tersenyum lega.

 

“Oh ya, hubungan kamu sama sepupu kamu gimana? Udah lama nggak denger kamu nyeritain dia. Udah baikan?”

 

Yuna menggelengkan kepala. “Kapan dia mau baikan sama aku?”

 

Yeriko tersenyum kecil sambil menatap Yuna.

 

“Lihat aja besok, kalo ketemu pasti ngajak berantem lagi. Kayaknya, dia itu kangen banget kalo nggak berantem sama aku.”

 

“Apa aku perlu turun tangan buat ngatasi dia?”

 

“Jangan!” seru Yuna. Ia tidak akan membiarkan suaminya ikut campur masalahnya dengan Bellina. Walau sering berkelahi, Bellina tetaplah kakak sepupunya. Ia tidak akan tega membiarkan suaminya menangani Bellina.

 

“Kenapa?” Yeriko mengernyitkan dahi.

 

“Mmh ... walau aku sama dia sering berantem. Tapi, mereka sayang sama aku, kok.”

 

“Sayang?” Yeriko mengernyitkan dahi. “Mereka selalu bikin perkara sama kamu. Kamu masih aja berbaik hati sama mereka.”

 

Yuna meringis menatap Yeriko. Ia sangat mengetahui perangai suaminya. Ia tidak ingin menjadi orang yang tak tahu balas budi. Selama sebelas tahun, Oom dan tantenya sudah banyak membantu merawat ayahnya yang terbaring di rumah sakit. Walau mereka kejam, tapi masih sangat memperdulikan kesehatan ayahnya.

 

“Mmh ... biar gimana pun, mereka tetep keluarga aku. Aku yang bakal ngadepin mereka. Mereka nggak akan nyelakain aku, kok.”

 

Yeriko menganggukkan kepala. “Selama masih dalam batasan yang bisa ditolerir. Kalau udah berlebihan, aku bakal ngasih pelajaran ke mereka sekalipun mereka keluarga kamu!” tegas Yeriko.

 

“Yer ...!” Yuna menatap wajah Yeriko. Ia memohon agar tak melakukan apa pun terhadap keluarganya.

 

“Ck, kamu ini ...” Yeriko langsung merengkuh kepala Yuna dan mencium keningnya.

 

Yuna tersenyum sambil mengeratkan pelukannya. Ia merasa sangat bahagia karena suaminya selalu ada di sisinya dan membantunya menyelesaikan masalah. Mereka terus bermesraan hingga pagi menjelang.

 

 

 

Di sisi lain, Bellina merasa sangat senang melihat pemberitaan yang menimpa Yuna beberapa hari terakhir.

 

“Hmm ... akhirnya, dia kena batunya juga,” celetuk Bellina sambil tersenyum penuh kemenangan.

 

“Ada apa?” tanya Melan sambil menatap Bellina.

 

“Si Yuna lagi diserang sama netizen di media sosial.”

 

“Kok, bisa?”

 

“Dia cari perkara sama pacarnya Yeriko.”

 

“Yeriko punya pacar?”

 

Bellina menganggukkan kepala. “Pacarnya itu artis dan karirnya di luar negeri cukup bagus. Penggemarnya banyak dan langsung nyerang Yuna. Lihat, deh!” Bellina menyodorkan ponselnya ke hadapan Melan.

 

Melan meraih ponsel Bellina dan membaca semua komentar yang menyerang Yuna. “Wah, berita seheboh ini, kenapa baru kasih tahu Mama sekarang?”

 

“Mama aja yang nggak update,” sahut Bellina.

 

“Pacarnya Yeriko, cantik dan berkelas. Kenapa dia malah nikain Yuna?” tanya Melan sambil menatap foto Refi.

 

Bellina mengedikkan bahu. “Pasti si Yuna yang godain Yeriko sampe cowok itu tergila-gila sama dia.”

 

“Kok bisa ya? Jangan-jangan itu anak pake pelet. Bisa-bisanya dapetin cowok kaya raya kayak Yeriko.”

 

“Hah!? Jangan-jangan si Yuna emang main dukun, Ma. Kalo nggak, nggak mungkin Yeriko bisa suka sama cewek yang biasa kayak dia. Dia juga nggak punya apa-apa. Hartanya udah habis dipake buat ngobatin ayahnya yang lumpuh itu.”

 

“Ehem ...!” Tarudi berdehem. “Kalo lagi makan, jangan ngobrol terus! Nggak selesai-selesai makannya.” Ia bangkit dari tempat duduk dan bergegas pergi.

 

“Papamu kenapa? Aneh banget,” tutur Melan.

 

Bellina mengedikkan bahunya.

 

“Cepet makannya! Ntar telat ke kantor.”

 

“Emang siapa yang mau marahin aku kalo telat?” sahut Bellina santai.

 

Melan tersenyum ke arah Bellina. “Iya juga, sih.” Ia melanjutkan menghabiskan sarapan bersama puteri kesayangannya.

 

 

 

(( Bersambung ... ))

 

Makasih udah baca sampai sini. Tunggu part-part manis di cerita selanjutnya ya ...

 Jangan lupa kasih Star Vote juga biar aku makin semangat nulis dan bikin ceritanya lebih seru lagi. Makasih buat yang udah kirimin hadiah juga. Jangan sungkan buat sapa aku di kolom komentar ya! Kasih kripik ... eh, kritik dan saran juga ya!

 

 

Much Love

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas