Monday, February 17, 2025

Perfect Hero Bab 146 : Melawan Godaan || a Romance Novel by Vella Nine

 


“Yun, suami kamu ke mana?” tanya Andre saat mereka dalam perjalanan ke rumah sakit.

 

“Lagi meeting ke Malang. Kenapa, Ndre?”

 

“Bukan itu maksud aku.”

 

“Terus?”

 

“Aku udah lihat berita di internet sejak lima hari yang lalu. Apa suami kamu nggak bisa ngatasi ini? Setiap hari, berita tentang kamu makin menjadi-jadi. Bukannya Refina itu mantan Yeriko? Suami kamu nggak sanggup ngadepin mantan pacarnya sendiri?”

 

Yuna menarik napas dalam-dalam. “Kamu tahu sendiri kalau Yeriko orangnya sibuk. Berita yang tersebar di media, lama-lama akan tenggelam dengan sendirinya.”

 

“Tenggelam gimana? Beritanya semakin parah. Kamu dan Yeriko memilih untuk diam dan si Refina semakin merajalela.”

 

“Nanti kalau dia udah capek juga berhenti sendiri.”

 

“Dia mungkin bisa berhenti. Tapi, jari netizen nggak akan berhenti sampai kamu dan Yeriko bisa ngasih klarifikasi soal berita yang beredar. Apa susahnya buat Yeriko ngakuin kamu sebagai istrinya?”

 

“Semua orang juga udah tahu kalau aku istrinya Yeriko.”

 

“Semua orang? Orang kantor kamu dan kantornya Yeriko? Gimana sama netizen yang nggak tahu sama sekali hubungan kamu dan Yeriko?”

 

“Mmh ...” Yuna menggigit jemari tangannya.

 

“Kamu sadar nggak sih, Yun? Yeriko itu nggak beneran cinta sama kamu. Di saat kayak gini, dia bahkan nggak peduli sama sekali sama kamu. Dia bisa pergi buat nolongin cewek itu. Tapi dia nggak bisa melindungi istrinya sendiri. Cowok kayak gitu masih aja mau kamu pertahankan?”

 

“Yeriko bukan laki-laki yang seperti itu. Dia penyayang dan bertanggung jawab,” tutur Yuna.

 

“Bertanggung jawab?” Andre tertawa kecil. “Di saat kayak gini, dia ada di mana sekarang?”

 

Yuna bergeming.

 

“Kamu boleh cinta sama dia, tapi jangan bego, Yun!”

 

“Ndre, kamu jangan bikin aku makin pusing!” pinta Yuna sambil memijat keningnya yang berdenyut.

 

Andre menghela napas, ia menghentikan mobilnya tepat di depan ruang IGD dan membawa Yuna masuk.

 

“Mbak, tolong temen saya!” minta Andre pada petugas medis yang sedang berjaga.

 

“Baik. Silakan tunggu di luar ya, Mas!”

 

Andre mengangguk dan segera keluar.

 

Yuna langsung mendapat perawatan selama beberapa menit. Setelah membersihkan dan membalut lutut Yuna, petugas medis memperbolehkan Yuna keluar.

 

“Oh ya, Mbak. Ini resep obat yang harus ditebus di apotek.” Petugas medis memberikan selembar kertas resep kepada Yuna.

 

Yuna mengangguk sambil tersenyum. “Makasih!”

 

Petugas medis tersebut mengangguk sambil tersenyum ramah. “Semoga lekas sembuh!” ucapnya sambil membantu Yuna keluar menggunakan kursi roda.

 

Andre yang menunggu di luar ruangan langsung bangkit begitu melihat Yuna sudah keluar dan mendapat perawatan. Matanya tertuju pada secarik kertas yang dipegang Yuna.

 

“Resep?”

 

Yuna mengangguk.

 

“Biar aku yang ambil.” Andre merebut kertas dari tangan Yuna. Kemudian mendorong kursi roda Yuna dan membawanya bersama menuju tempat pengambilan obat.

 

“Makasih ya, udah repot-repot bantuin aku!” ucap Yuna saat Andre sudah mengambil obat dan memberikannya pada Yuna.

 

Andre tersenyum dan berjongkok di hadapan Yuna. “Nggak perlu sungkan! Bukannya kita teman baik dari dulu?”

 

Yuna tersenyum ke arah Andre. Ia berharap, Andre tetap menganggapnya sebagai teman baik.

 

“Yun ...!” panggil Andre lirih.

 

“Ya.”

 

“Aku nggak rela kalau kamu harus menjalani hidup kayak ini. Apa kamu nggak mau mempertimbangkan lagi hubungan kamu sama Yeriko?” tanya Andre.

 

“Maksud kamu?”

 

“Yeriko bukan laki-laki biasa. Banyak cewek yang ngejar dia. Banyak masalah yang harus kamu hadapi karena dia. Sedangkan dia, nggak peduli sama perasaanmu sedikitpun. Dia bahkan nggak bisa nolong kamu keluar dari masalah ini.”

 

“Ndre, aku percaya sama dia sepenuhnya.”

 

“Yun, apa kamu nggak mau menjalani hidup yang lebih bahagia lagi?”

 

“Aku sudah sangat bahagia.”

 

Andre tertawa kecil. “Kamu udah terluka kayak gini, masih bilang bahagia? Kamu itu terlalu baik atau bodoh sih, Yun? Bellina nindas kamu, suami kamu diam aja. Sekarang, mantan pacar dia nindas kamu, dia juga nggak ngelakuin apa-apa. Diam aja kayak gitu?” seru Andre kesal.

 

Yuna menarik napas dalam-dalam sambil menatap wajah Andre. “Ndre, dia bukan nggak mau bantu aku. Dia selalu mau bantu, tapi aku yang nggak mau menyulitkan dia. Dia cukup sibuk dengan pekerjaannya dan ...”

 

“Pekerjaan dia lebih penting dari kamu?”

 

Yuna terdiam.

 

“Yun, aku rela kamu memilih bersama siapa pun asalkan kamu bahagia. Aku nggak rela lihat kamu kayak gini. Kamu cinta sama dia. Apa dia beneran cinta sama kamu?”

 

Yuna tersenyum mendengar pertanyaan Andre. “Dia cinta banget sama aku dan aku percaya sama dia.”

 

“Yun, kenapa sih kamu masih nggak sadar juga kalau Yeriko cuma mempermainkan kamu aja? Kalau dia beneran cinta sama kamu, dia pasti melindungi kamu.”

 

Yuna menggigit bibir bawahnya. Ucapan Andre ada benarnya juga. Yeriko tak kunjung mengambil tindakan menghadapi Refi. Apa memang benar kalau Yeriko masih menyimpan rasa cintanya untuk Refi?

 

“Yun, aku janji bakal bikin kamu bahagia dan melindungi kamu asalkan kamu mau berpisah sama Yeriko,” tutur Andre sambil menggenggam tangan Yuna.

 

Yuna langsung menepis tangan Andre. “Sorry, Ndre. Aku ini istrinya Yeriko, bukan pacarnya dia. Hubungan kami serius di bawah naungan ijab kabul. Bukan untuk main-main!” tegas Yuna. “Aku akan tetap bertahan, sesulit apa pun rintangan yang harus kami hadapi.”

 

Andre menatap iba ke arah Yuna. Yuna sangat berprinsip. Dalam kondisi yang buruk pun ia tak mampu mengambil hati Yuna. Ia tidak bisa mempengaruhi Yuna untuk segera meninggalkan suaminya.

 

“Yun, dari tadi aku cari kamu. Sekalinya di sini.” Icha tiba-tiba muncul di hadapan Yuna.

 

“Iya, lagi nebus obat.”

 

“Nggak dirawat?” tanya Icha.

 

Yuna menggelengkan kepala. “Cuma luka sedikit aja. Masa mau di-opname?”

 

Icha tersenyum kecil.

 

“Mmh ... aku beli minum dulu. Kalian mau minum apa?” tanya Andre.

 

“Sembarang aja, Ndre,” jawab Yuna.

 

Andre tersenyum dan bergegas pergi.

 

“Kamu izin juga? Aku baik-baik aja kok, Cha.”

 

Icha menganggukkan kepala. “Yeriko nyuruh aku ke sini.”

 

Yuna mengernyitkan dahi. “Yeriko?”

 

“Iya. Tadi aku telepon dia buat ngasih tahu keadaan kamu. Dia nyuruh aku ke sini.”

 

Yuna tertawa kecil. “Dia berlebihan banget. Padahal, kakiku cuma lecet doang.”

 

“Mmh ... kayaknya dia cemburu sama Andre.”

 

Yuna langsung menepuk dahinya. “Kumat lagi cemburunya,” gumam Yuna.

 

“Itu karena dia sayang sama kamu, Yun.”

 

Yuna meringis sambil menatap Icha.

 

“Yun, kamu nggak papa?” Yeriko tiba-tiba muncul dan langsung menghampiri Yuna yang masih duduk di kursi roda.

 

Yuna mengangguk. “Aku nggak papa, cuma luka sedikit aja.”

 

 “Kamu bener-bener bikin aku khawatir.”

 

“Aku nggak papa, kok. Kamu udah selesai meeting?”

 

“Aku balik duluan. Riyan yang nge-handle di sana.”

 

“Sorry! Bikin kerjaan kamu berantakan.”

 

“Nggak sama sekali. Kenapa kamu nggak kabarin aku? Malah si Icha yang telepon aku?”

 

“Aku nggak mau ganggu kerjaan kamu. Lagian, aku cuma lecet sedikit aja, kok,” jawab Yuna sambil tersenyum manis.

 

Yeriko tersenyum, ia mengecup kening Yuna perlahan. “Maaf, aku nggak bisa melindungi kamu. Aku janji, bakal nyelesaikan semuanya secepatnya.”

 

Yuna mengangguk.

 

Icha tersenyum menatap Yuna dan Yeriko yang terlihat begitu manis.

 

Di ujung koridor, Andre menatap kemesraan Yuna dan Yeriko. Ia menertawakan dirinya sendiri yang terlihat begitu bodoh. Mencintai seorang wanita yang jelas-jelas telah menjadi istri pria lain. Ia menarik napas dalam-dalam, menghembuskannya perlahan dan melangkah menghampiri Yuna dan Yeriko.

 

“Ini minuman untuk kalian.” Andre menyodorkan kantong plastik berisi botol air mineral.

 

Yeriko langsung menoleh ke arah Andre. Mereka tak saling menyapa, namun tatapan keduanya sama-sama dingin. Ada peperangan yang tak mampu dilihat oleh orang lain.

 

(( Bersambung ... ))

 

Makasih udah baca sampai sini. Tunggu part-part manis di cerita selanjutnya ya ...

 Jangan lupa kasih Star Vote juga biar aku makin semangat nulis dan bikin ceritanya lebih seru lagi. Makasih buat yang udah kirimin hadiah juga. Jangan sungkan buat sapa aku di kolom komentar ya! Kasih kripik ... eh, kritik dan saran juga ya!

 

 

Much Love

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

Sunday, February 16, 2025

Perfect Hero Bab 145 : Menghadapi Rumor || a Romance Novel by Vella Nine

 


“Yun, pagi ini aku ada meeting di Malang. Kamu, berangkat naik taksi nggak papa?” tanya Yeriko sambil mengenakan pakaiannya usai mandi.

 

“Mmh ... pantes aja pagi-pagi banget udah rapi,” sahut Yuna. “Berapa hari di sana?”

 

“Selesai meeting langsung balik ke sini.”

 

“Oh. Kirain nginap, hehehe.” Yuna membantu Yeriko memakai dasi dan jasnya.

 

“Kalau aku nginap, aku pasti bawa kamu.”

 

Yuna tertawa kecil. “Buat apa bawa aku? Buat ganggu kerjaan kamu?”

 

“Buat ... nemenin aku tidur.”

 

Yuna tersenyum sambil menatap tubuh Yeriko.

 

“Kamu nggak papa naik taksi? Lutfi sama Chandra masih di Gili. Jadi, aku nggak bisa minta tolong mereka buat antar kamu.”

 

“Biasanya juga naik taksi kalau kamu sibuk. Nggak usah ngerepotin orang lain!”

 

“Kamu nganggep mereka orang lain?”

 

“Mmh ...” Yuna menunduk sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

 

Yeriko memeluk pinggang Yuna. “Aku berangkat duluan. Kamu sarapan sendirian, nggak papa kan?”

 

Yuna menganggukkan kepala.

 

Yeriko tersenyum dan langsung mengecup kening Yuna. “Aku pergi dulu, Riyan udah nunggu di bawah.”

 

Yuna mengangguk. “Aku antar.”

 

Mereka bergegas turun dari kamar. Yuna mengantar suaminya sampai ke halaman rumah.

 

“Pagi, Nyonya Muda!” sapa Riyan yang sedang berdiri di samping mobil.

 

“Pagi!” sahut Yuna. “Udah lama di sini? Kenapa nggak masuk?” tanya Yuna.

 

“Baru aja sampai. Kalau masuk, ntar dibikinin kopi sama Bibi. Malah jadi lama,” sahut Riyan.

 

Yuna tertawa kecil.

 

“Aku berangkat dulu ya! Karena perjalanan lumayan jauh. Nggak boleh telat terlalu lama,” tutur Yeriko.

 

Yuna mengangguk sambil tersenyum. “Hati-hati ya! Bawain aku apel malang!”

 

Yeriko tersenyum sambil menatap Yuna. “Tumben, biasanya nggak pernah minta oleh-oleh?”

 

“Sesekali nggak papa, kan?”

 

Yeriko menganggukkan kepala. “Aku pergi dulu!” Ia mengecup kening istrinya dan bergegas pergi.

 

Yuna menghela napas lega dan tersenyum. Ia kembali masuk ke dalam rumah. Setelah bersiap dan sarapan, Yuna bergegas berangkat ke tempat kerjanya.

 

Sesampainya di tempat kerja, Yuna terkejut dengan kerumunan wartawan yang tiba-tiba menghampiri dan mengambil foto wajahnya dengan terburu-buru.

 

“Mbak, bisa klarifikasi hubungan Mbak Ayuna dengan Pak Yeriko?”

 

“Apa benar kalau Mbak Ayuna adalah orang ketiga dibalik retaknya hubungan Yeriko dan Refina?”

 

Yuna menutup wajah menggunakan tas tangannya dan tidak ingin menjawab pertanyaan yang diajukan oleh wartawan. Ia berusaha menerobos kerumunan wartawan yang mengelilinginya. Namun, ia sangat kesulitan.

 

“Mbak, tolong kasih klarifikasi ke media!”

 

“Apa berita yang tersebar itu benar?”

 

“Semua orang menghujat sikap Mbak Ayuna. Apakah tidak ada yang perlu diklarifikasi?”

 

“Apakah benar kalau Mbak Ayuna mengintimidasi Refi dan menyuruhnya melompat dari atap gedung?”

 

Yuna tidak sanggup mendengar begitu banyak pertanyaan yang menghujani dirinya. Ia berusaha keluar dari kerumunan wartawan dengan susah payah.

 

“Pak, tolong Yuna!” pinta Icha pada security yang mengerumuni Yuna. Ia sangat khawatir dengan Yuna yang dikerumuni banyak wartawan dan ia tidak bisa membantu Yuna keluar.

 

Dua orang security kantor langsung membantu Yuna membukakan jalan.

 

Yuna bernapas lega, ia langsung berlari menghindari kerumunan wartawan yang mengerumuninya.

 

“Aw ...!” teriak Yuna. Belum sampai masuk ke pintu kantor. Yuna malah tersandung di tangga terakhir dan membuat kakinya terkilir.

 

Icha yang melihat Yuna terjatuh, langsung melangkah menghampiri Yuna. Namun, ia kalah cepat dengan Andre yang tiba-tiba sudah berlutut di sisi Yuna.

 

“Yun, kamu nggak papa?” tanya Andre sambil memerhatikan lutut Yuna yang berdarah.

 

“Nggak papa. Cuma lecet sedikit,” jawab Yuna.

 

“Ayo, bangun!” Andre langsung membantu Yuna untuk bangkit.

 

Wartawan yang ada di sana semakin menjadi. Mereka langsung mengambil foto-foto Andre dan Yuna.

 

Yuna gelagapan saat melihat banyak kamera membidik ke arahnya.

 

“Mas, apa hubungan anda dengan Mbak Yuna?” tanya salah satu wartawan. Diikuti dengan cecaran wartawan lainnya.

 

Andre mengedarkan pandangannya. Menatap wartawan yang ada di hadapannya satu per satu. Ada begitu banyak pertanyaan dan cukup membuatnya geram.

 

“Stop!” teriak Andre. “Kalian semua, pergi dari sini!”

 

Semua wartawan terdiam dan saling pandang. Mereka saling berbisik dan mulai melangkah pergi satu per satu. Beberapa di antaranya, masih mencoba membidik Yuna dengan kameranya.

 

Yuna dan Andre menghela napas lega.

 

“Makasih ya, udah bantuin!” tutur Yuna.

 

Andre menganggukkan kepala. Ia membantu Yuna masuk ke dalam lobi kantor dan duduk di salah satu kursi.

 

Yuna meringis sambil memegangi kakinya yang terluka.

 

“Yun, kamu nggak papa?” tanya Icha ikut khawatir.

 

“Nggak papa. Cuma lecet sedikit.”

 

“Yun, darahnya banyak banget. Ini mah nggak sedikit,” sahut Icha sambil menatap luka yang ada di lutut Yuna.

 

Yuna tersenyum ke arah Icha. “Ada tisu?”

 

Icha mengangguk dan langsung memberikan tisu pada Yuna.

 

Yuna meraih tisu dari tangan Icha dan mengelap darah segar yang mengalir di kakinya.

 

“Kenapa wartawan itu tiba-tiba muncul dan bar-bar banget?” tutur Icha.

 

Andre menghela napas sambil menunjukkan majalah yang ia bawa.

 

Yuna dan Icha langsung membaca headline dan foto yang ada di cover majalah tersebut.

 

“Yun ...!” Icha langsung menatap wajah Yuna. “Ini ...”

 

“Huft, ternyata emang bener dugaanku,” tutur Yuna sambil menunduk lesu.

 

“Kenapa?” tanya Andre.

 

“Refi sengaja ngajak ketemu cuma buat ngejebak aku,” jawab Yuna sambil memijat keningnya yang tiba-tiba berdenyut.

 

“Ya ampun, jahat banget sih cewek itu? Dia itu beneran mantan pacarnya Yeriko?” tanya Icha.

 

Yuna mengangguk perlahan.

 

“Sudahlah. Lebih baik, kita ke rumah sakit dulu!” ajak Andre. “Luka kamu harus segera diobati.”

 

Yuna mengangguk.

 

Andre menggenggam kedua pundak Yuna dan membantunya berdiri. Ia bergegas membawa Yuna ke rumah sakit.

 

Icha menggigit jarinya saat melihat Andre membawa Yuna pergi. Ia langsung mengambil ponsel dan menghubungi Lutfi.

 

“Halo ...! Aku bisa minta nomer hp Yeriko?” tanya Icha.

 

“Bisa. Ada apa, Cha?” tanya Lutfi.

 

“Ada masalah sama Yuna.”

 

“Kakak Ipar kenapa?”

 

“Dia sekarang lagi ke rumah sakit.”

 

“What!? Dia sakit apa?”

 

“Jatuh di depan kantor waktu banyak wartawan nyerang dia.”

 

“Dia ...?”

 

“Kamu belum baca gosip yang beredar?”

 

“Belum.”

 

“Ya udah. Kalau nggak sibuk, buka internet. Sekarang, kamu kirim nomer Yeriko. Aku harus kabari dia.”

 

“Oke.” Lutfi langsung mematikan panggilan telepon dari Icha dan mengirimkan nomer Yeriko kepada Icha.

 

Tanpa pikir panjang, Icha langsung menelepon Yeriko dan memberitahukan cedera yang dialami oleh Yuna.

 

“Sekarang, Yuna di mana?” tanya Yeriko lewat telepon.

 

“Sudah ke rumah sakit,” jawab Icha.

 

“Sama kamu?”

 

“Nggak. Aku masih di kantor.”

 

“Dia ke rumah sakit sama siapa?”

 

“Sama ... Andre,” jawab Icha lirih.

 

“Oh. Oke. Makasih udah ngabarin, Cha!”

 

“He-em.” Icha menganggukkan kepala.

 

“Aku langsung ke rumah sakit setelah pulang dari Malang. Aku bisa minta tolong?”

 

“Apa?”

 

“Tolong susul Yuna ke rumah sakit ya! Jangan biarin dia berduaan aja sama Andre! Aku masih meeting satu jam lagi. Mungkin, setelah jam makan siang baru sampai di Surabaya.”

 

“Oh. Oke.”

 

“Makasih, Cha!”

 

“Iya.”

 

Yeriko langsung mematikan sambungan teleponnya.

 

Icha menarik napas dalam-dalam. Ia masuk ke ruang departemennya untuk meminta izin menemani Yuna di rumah sakit. Setelahnya, ia langsung bergegas melajukan sepeda motornya menuju rumah sakit.

 

(( Bersambung ... ))

 

Makasih udah baca sampai sini. Tunggu part-part manis di cerita selanjutnya ya ...

 Jangan lupa kasih Star Vote juga biar aku makin semangat nulis dan bikin ceritanya lebih seru lagi. Makasih buat yang udah kirimin hadiah juga. Jangan sungkan buat sapa aku di kolom komentar ya! Kasih kripik ... eh, kritik dan saran juga ya!

 

 

Much Love

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

Perfect Hero Bab 144 : Mas-Mas Koki || a Romance Novel by Vella Nine

 


“Aargh ...!” teriak Refi sambil memukul kursi rodanya sendiri. Ia mengambil ponsel dari sakunya dan langsung menelepon seseorang.

 

“Halo ...!”

 

“Halo, kamu di mana?” tanya Refi.

 

“Di rumah. Kenapa?”

 

“Aku butuh bantuan?”

 

“Apa?”

 

Refi mengatakan semua rencananya pada orang tersebut.

 

“Gimana?” tanya Refi.

 

“Ck, agak berat dan beresiko. Aku pikir-pikir dulu!”

 

“Aku bakal bayar berapa pun yang kamu mau. Asal mau bantu aku!” seru Refi.

 

“Oh ya, aku lupa kalau kamu orang yang kaya raya. Seharusnya, kamu sudah tahu berapa uang yang sepantasnya kamu keluarkan untuk ini.”

 

“Oke. Aku bakal transfer ke rekening kamu. Sisanya, aku bayar setelah kamu berhasil.”

 

“Kamu tahu kalau aku bukan cuma mau uang kamu.”

 

“Oke. I see ... aku bakal kasih apa pun yang kamu minta.”

 

“Oke.”

 

Refi langsung menutup panggilan teleponnya. “Dasar, cowok licik!” celetuknya kesal. Ia menyandarkan kepalanya ke kursi. “Yun, aku bersumpah kalau bakal bikin hidup kamu menderita!” ucapnya penuh kebencian.

 

 

 

Di sisi lain, Yuna terus berpikir selama di perjalanan. Ia merasa ada yang tidak beres dengan pertemuannya dengan Refi kali ini. Sepertinya, Refi memang berusaha memancing emosinya.

 

“Duh, Yuna ...!” bisik Yuna sambil mengetuk-ngetuk kepalanya sendiri. “Apa yang lagi direncanakan sama Refi kali ini? Dia ngajak ketemu bukan untuk minta maaf, tapi malah ngajak berantem,” tutur Yuna dalam hati. Perasaannya makin tak karuan. Sepertinya, ia telah melakukan kesalahan karena memenuhi permintaan Refi untuk bertemu.

 

Sesampainya di rumah, Yuna berjalan tak bersemangat sambil memainkan tas tangannya. Ia terus melamun hingga tak menyadari kehadiran Yeriko yang sedang duduk di sofa ruang tamu, melewatinya begitu saja.

 

Yeriko mengernyitkan dahi melihat sikap istrinya yang tak biasa. Ia bangkit dan mengikuti langkah Yuna perlahan hingga masuk ke dalam kamar.

 

Yuna langsung menelungkupkan tubuhnya ke atas kasur. “Yuna ...! Bodoh ... bodoh ... bodoh!” makinya sambil memukul-mukul kasur di bawahnya.

 

“Ada apa?” tanya Yeriko.

 

Yuna mengangkat kepala sambil membelalakkan matanya, kemudian membalikkan tubuhnya menatap Yeriko. Ia bangkit dan meraih tangan Yeriko yang berdiri di hadapannya.

 

“Mmh ... tadi aku ketemuan sama Refi.”

 

Yeriko mengernyitkan dahi. “Di mana?”

 

“Di rumah sakit.”

 

“Kenapa?” tanya Yeriko. “Dia bikin ulah lagi?”

 

“Nggak sih. Dia cuma ... mmh ... awalnya dia minta maaf soal pemberitaanku di media. Tapi dia sama sekali nggak tulus minta maafnya. Malah ngajak berantem.”

 

Yeriko tertawa kecil.

 

“Kenapa ketawa?” tanya Yuna sambil mengernyitkan dahinya.

 

“Nggak papa. Aku lagi ngebayangin aja kamu berantem sama Refi.”

 

“Kamu seneng kalau aku berantem sama mantan pacar kamu itu?” seru Yuna kesal.

 

“Nggaklah. Aku cuma seneng aja lihat wajah kamu kalau lagi marah,” tutur Yeriko sambil mencubit kedua pipi Yuna.

 

Yuna memonyongkan bibirnya. “Huft, sebenarnya aku nggak mau berantem sama dia. Kalau lihat kondisinya dia, aku ngerasa kasihan. Tapi, sikapnya bener-bener nyebelin. Bisa-bisanya dia secara terang-terangan mau ngambil suami orang. Udah gitu, nyebar gosip ke media kalau aku yang jadi selingkuhan. Ngeselin banget, kan?” cerocos Yuna.

 

Yeriko duduk di samping Yuna. “Sifat Refi memang seperti itu. Dia terlalu berambisi. Aku harap, kamu nggak terpancing sama dia.”

 

“Gimana nggak terpancing. Dia selalu membandingkan aku sama dia. Kalian sudah lama saling mengenal bahkan menjalin hubungan dalam waktu yang lama. Sedangkan aku, memang baru aja masuk ke dalam kehidupan kamu. Apa kamu ... bener-bener sudah ngelupain masa lalu kamu sama dia?”

 

Yeriko menganggukkan kepala. “Kamu masih meragukan perasaanku ke kamu?”

 

Yuna menggelengkan kepala. “Aku cuma sedikit terganggu sama masa lalu kalian. Aku takut ...”

 

“Semua akan baik-baik aja!” sahut Yeriko sambil merengkuh tubuh Yuna. “Walau bagaimanapun, Refi adalah tanggung jawabku sampai dia benar-benar sembuh. Aku minta maaf karena sikap dia bikin kamu jadi kayak gini.”

 

Yuna menengadahkan kepalanya menatap Yeriko. “Kamu ... minta maaf untuk dia?”

 

Yeriko menganggukkan kepala. “Dia jadi seperti ini karena aku. Aku khawatir, dia akan melukai kamu.”

 

Yuna menatap wajah Yeriko dengan mata berkaca-kaca.

 

“Kenapa?” Yeriko tertegun menatap mata Yuna. “Apa aku ada salah ngomong?” batinnya dalam hati.

 

Yuna terus menatap Yeriko. “Apa kamu ... nggak akan melindungi aku saat Refi yang berusaha melukaiku? Kenapa kamu mengkhawatirkannya?” bisik Yuna dalam hati.

 

Yeriko tersenyum sambil mengelus pundak Yuna. “Aku pasti bantu kamu menghadapi Refi.”

 

Yuna tersenyum sambil menganggukkan kepala. Ia meletakkan kepalanya di dada Yeriko. Air matanya menetes begitu saja. Ia tetap tidak bisa menahan perasaannya. Saat ini, ia merasa begitu buruk. “Mungkin benar kata Refi, Yeriko masih menyimpan perasaan cintanya untuk Refi walau hanya sedikit,” bisik Yuna dalam hati.

 

“Cepetan mandi!” pinta Yeriko. “Aku tunggu di bawah! Hari ini, aku bikin masakan spesial buat kamu.”

 

Yuna mengusap air mata dan melepaskan tubuhnya dari pelukan Yeriko. Ia tersenyum menatap wajah Yeriko. “Kamu yang masak?”

 

Yeriko menganggukkan kepala.

 

Yuna tersenyum senang. Ia bangkit dan bergegas mandi, sementara Yeriko menunggunya di meja makan.

 

“Mas, apa Mbak Yuna baik-baik aja?” tanya Bibi War sambil menyuguhkan secangkir kopi untuk Yeriko.

 

Yeriko menganggukkan kepala. “Sudah lebih baik. Bibi jangan menanyakan apa pun ke dia!” pintanya.

 

Bibi War menganggukkan kepala.

 

“Oh ya, Bi. Besok pagi, Bibi nggak usah masak. Biar aku yang masak buat Yuna.”

 

Bibi War menganggukkan kepala. “Mau masak apa? Biar Bibi siapkan bahan-bahannya.”

 

“Kertas sama pena!”

 

Bibi War bergegas mengambil buku catatan dan pena yang ada di dapurnya dan memberikannya pada Yeriko.

 

Yeriko langsung mencatat bahan makanan dan memberikannya kepada Bibi War.

 

Bibi War tersenyum menatap catatan yang ada di tangannya dan bergegas pergi meninggalkan Yeriko di meja makan.

 

Beberapa menit kemudian, Yuna turun dari kamarnya dan menghampiri Yeriko. Matanya berbinar saat melihat makanan di atas meja.

 

Yeriko  tersenyum menatap Yuna. “Ayo, makan!”

 

Yuna mengangguk dan duduk di kursi. “Mmh ... kamu sering bikinin aku masakan enak. Tapi aku nggak pernah masak buat kamu. Gimana kalau besok, aku masakin buat kamu?” tanya Yuna sambil menyendok makanannya.

 

“Emang bisa masak?” tanya Yeriko.

 

“Bisa.”

 

“Enak?”

 

Yuna memonyongkan bibir sambil memutar bola matanya. “Mmh ... nggak tahu.”

 

Yeriko tersenyum sambil mengetuk dahi Yuna. “Aku nggak izinin kamu kena asap dapur!”

 

Yuna tersenyum bahagia. Ia merasa hidupnya sebagai seorang istri sangatlah santai.

 

“Oh ya, aku denger dari Icha kalau si Lutfi juga bisa masak. Apa kalian memang cowok-cowok koki?”

 

Yeriko tertawa kecil. “Aku, Chandra dan Lutfi pernah masuk ke pendidikan militer. Harus bisa masak.”

 

“Oh ya?”

 

Yeriko menganggukkan kepala.

 

“Aku pengen denger cerita kalian waktu belajar masak!” pinta Yuna. “Bukannya Refi bilang kalau Yeriko belajar masak karena dia?” batin Yuna.

 

“Nanti aku ceritain. Habiskan dulu makanannya!” pinta Yeriko.

Yuna tersenyum dan kembali melahap makanannya sampai habis untuk mendengarkan cerita Yeriko selanjutnya.

 

 

(( Bersambung ... ))

 

Makasih udah baca sampai sini. Tunggu part-part manis di cerita selanjutnya ya ...

 Jangan lupa kasih Star Vote juga biar aku makin semangat nulis dan bikin ceritanya lebih seru lagi. Makasih buat yang udah kirimin hadiah juga. Jangan sungkan buat sapa aku di kolom komentar ya! Kasih kripik ... eh, kritik dan saran juga ya!

 

 

Much Love

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas