Sunday, February 16, 2025

Perfect Hero Bab 138 : Dukungan untuk Yuna || a Romance Novel by Vella Nine

 


“Kamu kenapa?” tanya Yeriko saat melihat istrinya melahap sarapan penuh emosi.

 

“Aku lagi kesel,” sahut Yuna dengan mulut penuh makanan.

 

“Kesel sama siapa?”

 

“Sama mantan pacar kamu itu. Aku harus makan yang banyak. Nyiapin banyak tenaga buat ngadepin dia.”

 

Yeriko tertawa kecil melihat kelakuan Yuna yang lucu.

 

“Kenapa ketawa?” tanya Yuna.

 

“Nggak papa,” jawab Yeriko sambil menahan tawa. Ia melanjutkan sarapannya dengan santai sambil memerhatikan Yuna.

 

Yuna melahap sarapannya dengan brutal. Ia masih sangat kesal dengan pemberitaan tentang dirinya. Bagaimana bisa Refi mengatakan kalau Yuna adalah orang ketiga dibalik putusnya hubungan Refi dan Yeriko. Ia baru mengenal Yeriko beberapa bulan lalu, sedangkan Refi dan Yeriko sudah putus sejak tiga tahun lalu.

 

(You still have all of my ... You still have all of my ... You still have all of my heart ...)

 

Yuna langsung mengambil ponsel dan menatap nomor baru yang tertera di layar ponselnya. Ia mengerutkan dahi.

 

“Siapa?” tanya Yeriko.

 

Yuna mengedikkan bahu. “Nomor baru.”

 

“Angkat! Siapa tahu ada hal penting.

 

Yuna mengangguk dan langsung menjawab panggilan telepon. Belum sampai bicara banyak, Yuna langsung mematikan sambungan teleponnya.

 

“Siapa?”

 

“Media. Gimana mereka bisa tahu nomor hp-ku?” Yuna langsung meletakkan ponsel ke atas meja.

 

“Media?”

 

Yuna menganggukkan kepala. “Mereka pasti ...” Yuna kembali menatap layar ponselnya. Ia kembali menerima telepon dari nomor baru. Rumor yang disebarkan Refi sungguh sangat mengganggunya. Ia juga tidak mengerti dari mana media bisa mengetahui nomor ponselnya.

 

Yeriko meraih ponsel Yuna. Ia menatap layar ponsel dan melihat nama yang tertera di layar ponsel. “Ini Cantika,” tuturnya sambil menunjukkan layar ponsel ke hadapan Yuna.

 

Yuna langsung mengambil ponsel dan menjawab panggilan dari Cantika.

 

“Halo!” sapa Yuna.

 

“Halo! Yun, are you ok?”

 

“He-em.”

 

“Aku udah baca berita soal kalian. Yeriko bukan orang sembarangan. Dia pasti bisa menyelesaikan semuanya dengan baik.”

 

“He-em.” Yuna mengangguk sambil tersenyum.

 

“Jangan sungkan hubungi aku. Aku pasti bantu kamu.”

 

“Makasih banyak. Maaf kalau merepotkan.”

 

“Sesama teman, nggak perlu sungkan,” sahut Cantika.

 

“Kalau gitu, aku bakal sering ngerepotin  kamu,” tutur Yuna sambil tertawa kecil.

 

“Hahaha. Kamu bisa aja. Jangan terpengaruh sama pemberitaan di media!” pinta Cantika. “Si Refi memang terlalu berambisi. Aku bakal bantu kamu menghadapi dia.”

 

“Iya. Makasih banyak ya!” tutur Yuna sambil tersenyum senang.

 

“Oke. Aku tutup teleponnya. Bye!”

 

Yuna tersenyum dan langsung meletakkan ponselnya kembali ke atas meja.

 

“Dia bilang apa?” tanya Yeriko sambil menatap Yuna.

 

“Semua akan baik-baik aja.”

 

Yeriko tersenyum sambil mengelus rambut Yuna. “Percayalah! Aku akan berusaha mengatasi Refi dengan baik.”

 

Yuna tersenyum sambil menganggukkan kepala.

 

Yeriko merogoh ponselnya yang tiba-tiba berdering.

 

“Siapa?” tanya Yuna.

 

“Mama Rully.”

 

“Oh.”

 

Yeriko langsung menjawab panggilan telepon dari mamanya. “Halo ...!”

 

“Halo, Yer. Gimana Yuna? Apa dia baik-baik aja?”

 

“Baik.”

 

“Gimana bisa ada berita seperti itu? Sejak kapan Refi balik ke Indonesia?” tanya Rullyta.

 

“Dua minggu yang lalu.”

 

“Huft, kalian tenang aja! Mama bakal bantu menghadapi Refi.”

 

“Apa Kakek ...?”

 

“Sementara, Mama tidak izinkan kakek mengakses televisi dan internet.”

 

“Oke, Ma. Jangan sampai kakek tahu.”

 

“He-em. Kamu tahu kalau kakek sangat menyayangi Yuna. Kondisi kesehatannya lagi nggak bagus. Mama takut akan berpengaruh.”

 

“Oke.”

 

“Oke. Kamu tenangin Yuna dulu. Mama akan bantu menghadapi Refi.”

 

“Oke. Makasih Ma!”

 

Yeriko langsung mematikan sambungan telepon dan menggeletakkan ponselnya ke atas meja begitu saja.

 

“Huft, kenapa sih masalah selalu datang bertubi-tubi. Kayaknya, hidupku emang terlalu malang,” tutur Yuna.

 

Yeriko tersenyum kecil menatap Yuna. “Kamu nggak usah khawatir! Asal kamu percaya sama aku, kita pasti bisa menyelesaikan semuanya.”

 

Yuna menganggukkan kepala.

 

“Oh ya, hari ini kamu nggak kerja. Gimana kalau kita pergi ke luar?”

 

Yuna menatap wajah Yeriko sejenak. “Aku lagi jadi headline di media. Kamu malah ngajak aku keluar. Gimana kalau ketemu wartawan?”

 

“Apa yang kamu takutkan?”

 

Yuna menggigit bibirnya. “Aku ...”

 

“Kita tunjukkan ke semua orang kalau kita adalah pasangan suami-istri. Nggak perlu takut sama mereka,” tutur Yeriko sambil mengecup bibir Yuna.

 

Yuna mengangguk sambil tersenyum bahagia.

 

Yeriko mengajak Yuna ke luar untuk menenangkan diri sejenak.

 

“Kita mau ke mana?” tanya Yuna saat mereka sudah melewati perbatasan kota Surabaya.

 

Yeriko tersenyum sambil menatap Yuna. “Ke suatu tempat. Kamu pasti suka.”

 

“Oh ya?”

 

Yeriko mengangguk dan terus melajukan mobilnya. Setelah menempuh perjalanan hampir dua jam, akhirnya mereka sampai di salah satu kebun teh yang ada di Desa Toyomarto, Kabupaten Malang.

 

Yuna menarik napas dalam-dalam sambil menatap tanaman teh yang terhampar luas di hadapannya. “Di sini tenang banget!” tuturnya sambil tersenyum senang.

 

“Suka?” tanya Yeriko.

 

Yuna menganggukkan kepala. “Setidaknya, aku bisa melupakan sejenak masalah yang sedang aku hadapi. Makasih, sudah bawa aku ke sini.”

 

Yeriko tersenyum sambil merangkul pinggang Yuna. “Banyak hal yang sudah kita hadapi. Kamu tahu, aku adalah pemilik GG. Mungkin, masih ada banyak rintangan di depan sana. Apa kamu bakal kuat menghadapinya?”

 

Yuna tersenyum sambil menatap Yeriko. “Selama kamu ada di sampingku. Aku nggak akan pernah lemah.”

 

Yeriko tersenyum, ia memeluk pundak Yuna sambil mengecup keningnya.

 

“Eh, kenapa nggak ada orang yang metik teh?” tanya Yuna sambil menatap hamparan kebun teh yang luas.

 

Yeriko melihat arloji di tangannya. “Bukan waktu yang tepat untuk memetik teh. Gimana kalau kita keliling? Di sana ada Tea House.”

 

Yuna menganggukkan kepala. Mereka melangkah perlahan sambil menikmati pemandangan dan bangunan-bangunan di sekitar mereka.

 

“Yun, apa kamu menyesal jadi istriku?”

 

“Mmh ... awalnya iya.”

 

Yeriko langsung menoleh ke arah Yuna.

 

Yuna tersenyum kecil. “Jadi Nyonya Ye memang sangat melelahkan. Tapi, aku nggak akan pernah menyesalinya.”

 

“Aku harap, kita bisa seperti ini terus. Saling menguatkan.” Yeriko menggenggam tangan Yuna dan mengecup punggung tangannya.

 

Yuna menghela napas. “Rasanya, aku lebih lelah menghadapi Refi daripada Belli.”

 

“Kenapa?”

 

“Aku rasa, Refi lebih berbahaya. Dia udah tahu kalau aku ini istri kamu. Malah memutar balikkan fakta di depan media. Dia juga punya banyak penggemar. Semua penggemarnya nyerang aku. Ck, aku nggak punya kekuatan untuk melawan mereka.”

 

“Nggak perlu melawan mereka. Mereka nggak tahu apa-apa. Cuma bisa berkomentar.”

 

Yuna tersenyum. “Iya juga, sih. Mungkin memang nasibku yang malang. Pacarku diambil sama saudaraku sendiri. Sekarang, suamiku terancam diambil sama orang lain,” tutur Yuna sambil menundukkan kepala.

 

“Kamu tahu sendiri, suamimu ini ganteng dan kaya. Cewek mana yang nggak mau sama aku?”

 

“Iih ... pede banget ngomong kayak gitu! Nggak sadar kalau statusmu pria beristri?”

 

Yeriko tertawa kecil. “Emangnya kenapa dengan status pria beristri? Rekan bisnisku, usianya sudah tua, berkulit hitam, badannya gempal. Dia juga pria beristri, tapi masih bisa memikat banyak wanita. Bahkan, dia mengambil empat istri sekaligus.”

 

Yuna menatap tajam ke arah Yeriko. “Maksudnya? Kamu juga punya rencana ngambil istri lagi?” tanyanya geram.

 

Yeriko tertawa kecil melihat sikap Yuna. “Nggak, Sayangku!” sahutnya sambil mengelus kepala Yuna.

 

Yuna memonyongkan bibirnya. “Awas aja kalau sampai ngambil istri lagi!”

 

“Nggak akan. Kamu satu-satunya istriku sampai tua nanti. Eh, itu Tea House. Kita nikmati teh segar di sana. Supaya suasana hati kamu bisa lebih baik.”

 

Yuna mengangguk.

 

 “Aku harap, teh di sini bisa melunturkan rasa cemburu kamu,” celetuk Yeriko.

 

“Emang kapan aku cemburu?”

 

“Kamu nggak cemburu?”

 

Yuna menggelengkan kepala.

 

“Oke. Besok aku jenguk Refi ke rumah sakit. Nggak cemburu kan?”

 

“Iih ... kamu ngeselin banget sih!?” Yuna langsung memukul pundak Yeriko.

 

Yeriko tertawa kecil. “Bercanda.”

 

Mereka melangkah masuk ke dalam Tea House untuk menikmati teh bersama.

 

 

(( Bersambung ... ))

 

Salam manis dari 2Y (Yuna & Yeri) ...

 Jangan lupa kasih Star Vote juga biar aku makin semangat nulis dan bikin ceritanya lebih seru lagi. Makasih buat yang udah kirimin hadiah juga. Jangan sungkan buat sapa aku di kolom komentar ya! Kasih kripik ... eh, kritik dan saran juga ya!

 

 

Much Love

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

Perfect Hero Bab 137 : Menjaga Hati || a Romance Novel by Vella Nine

 


“Malam ini, kamu nggak akan pergi keluar tengah malam lagi kan?” tanya Yuna sambil memeluk tubuh Yeriko di tempat tidur.

 

Yeriko menggelengkan kepala.

 

“Kalau terjadi sesuatu, jangan biarin aku nggak tahu apa-apa!” pinta Yuna sambil menatap wajah suaminya.

 

“Iya, Sayangku!” sahut Yeriko sambil mencubit hidung Yuna.

 

“Huft, aku nggak tahu ada berapa Refina lagi di luar sana yang harus aku hadapi.”

 

“Hmm ... aku juga harus menghadapi Andre dan Lian. Pria agresif yang secara terang-terangan mau ngambil kamu dari aku. Apa kamu pikir, mereka itu nggak melelahkan? Kamu mau nyerah gitu aja hanya karena Refi?”

 

Yuna menggelengkan kepala.

 

Yeriko menghela napas sambil mengelus pundak Yuna. “Sudahlah. Kita lupakan mereka semua. Lebih baik memikirkan hubungan kita. Oh ya, gimana dengan persiapan pernikahan?”

 

“Semuanya bagus,” jawab Yuna. “Mmh ... aku masih takut.”

 

“Takut kenapa?”

 

“Sepertinya, Refi bener-bener mau ambil kamu dari aku.”

 

“Huft, kenapa sih kamu masih aja mikirin Refi lagi?”

 

“Aku masih nggak habis pikir aja. Kenapa dia bisa mau bunuh diri? Kenapa kamu juga harus ada di sana? Kalian berdua punya masa lalu dan kamu masih peduli sama dia.”

 

“Aku cuma menganggap dia sebagai teman. Walau bagaimanapun, aku nggak akan bisa membiarkan orang lain bunuh diri gitu aja.”

 

“Gimana kamu bisa ada di sana juga?” tanya Yuna.

 

“Pihak rumah sakit yang telepon aku.”

 

“Kenapa kamu?”

 

“Karena ...” Yeriko menelan ludah dengan susah payah.

 

“Karena apa?”

 

“Karena Refi yang minta aku datang ke sana.”

 

“Jadi, alasan dia bunuh diri memang karena kamu?”

 

Yeriko menganggukkan kepala. “Dia juga depresi karena sekarang kakinya cacat.”

 

“Hmm ... sebenarnya, aku kasihan lihat kondisi Refi. Dia pasti sangat tertekan. Tapi, apa dia harus mengambil suamiku?”

 

Yeriko tersenyum kecil. “Nggak ada satu orang pun yang bisa ambil aku dari kamu. Begitu juga sebaliknya.”

 

Yuna tersenyum sambil mengeratkan pelukannya. “Rencana kamu selanjutnya apa?”

 

“Aku sudah suruh Riyan carikan pengobatan terbaik untuk Refi. Masih ada sepuluh persen kemungkinan untuk sembuh.”

 

“Sepuluh persen? Bukannya itu kecil banget?”

 

“Walau cuma satu persen, aku akan tetap mengusahakan pengobatan untuk dia. Kita masih bisa berusaha.”

 

“Andai nggak berhasil dan dia nggak bisa sembuh, apa kamu akan tetap bertanggung jawab sama masa depan dan mengambil dia jadi istri kamu?”

 

“Aku akan tetap bertanggung jawab sama masa depan dia. Nggak harus menjadikan dia sebagai istriku. Sampai kapan pun, kamu adalah istriku satu-satunya.”

 

Yuna tersenyum menatap Yeriko. “Makasih. Aku percaya sama kamu.”

 

“Harus!” sahut Yeriko sambil mencubit hidung Yuna.

 

Yuna tersenyum sambil menenggelamkan wajahnya di dada Yeriko.

 

Yeriko menarik wajah Yuna menghadap ke wajahnya. “Kalau gitu, sekarang kita fokus berusaha bikin Ye kecil. Gimana?”

 

Yuna tersenyum sambil menganggukkan kepala.

 

Yeriko langsung mengulum bibir Yuna dan mengajaknya bercinta semalaman.

 

 

 

Keesokan harinya ...

 

Yuna memicingkan mata saat sinar matahari pagi menerpa wajahnya. Setiap jam tujuh pagi, tirai kamar Yeriko akan terbuka secara otomatis. Sehingga Yuna sudah mengetahui jam berapa ia terbangun.

 

Yuna menatap wajah Yeriko yang masih terlelap sambil memeluk tubuh Yuna. Ia melepas lengan Yeriko hati-hati dan bangkit dari tidurnya.

 

“Mau ke mana?” tanya Yeriko sambil menarik lengan Yuna.

 

“Mau mandi. Aku udah terlambat ke kantor.”

 

“Hari ini nggak usah kerja!” pinta Yeriko sambil menarik tubuh Yuna kembali ke dalam pelukannya.

 

“Eh!? Kenapa?”

 

“Aku masih ngantuk banget. Nggak bisa antar kamu pergi kerja,” jawab Yeriko sambil memejamkan mata.

 

“Aku bisa naik taksi.”

 

“Nggak usah. Kamu istirahat aja di rumah. Aku sudah izin ke kantormu.”

 

“Eh!? Kenapa harus izin? Aku masih bisa masuk kantor, kok.”

 

“Kita nggak tidur semalaman. Sekarang, kita tidur dulu!” pinta Yeriko sambil memeluk kepala Yuna ke dadanya.

 

Yuna tersenyum kecil sambil memainkan ujung jari telunjuknya di dada Yeriko yang telanjang.

 

“Hmm ... tidur! Jangan bangunkan si kecil lagi!”

 

Yuna tersenyum kecil, ia memejamkan matanya kembali.

 

( You still have all of my ... You still have all of my ... You still have all of my heart ...)

 

Yuna bangkit dari tempat tidur dan langsung meraih ponsel yang ia letakkan di samping tempat tidurnya. Ia memicingkan mata melihat nama yang tertera di layar ponsel dan langsung menjawab telepon.

 

“Halo ...! Kenapa, Jhen?” tanya Yuna sambil memejamkan matanya.

 

“Kamu masih tidur?” tanya Jheni balik.

 

“He-em.”

 

“Ini udah jam sembilan, Yun. Kamu nggak kerja?”

 

“Nggak,” jawab Yuna sambil menggeleng pelan.

 

“Kamu baik-baik aja kan?”

 

“Iya. Aku baik-baik aja. Kenapa?”

 

“Sudah baikan sama Yeriko?”

 

“He-em.” Yuna menganggukkan kepala.

 

“Baguslah. Tapi ...”

 

“Tapi apa?” tanya Yuna.

 

“Refi bikin ulah lagi.”

 

“Hah!? Maksud kamu?”

 

“Ternyata Refi cukup populer karena prestasi seninya di luar negeri. Penggemar dia di media sosial juga banyak, Yun. Dia bikin pernyataan kalau ...”

 

“Kalau apa?” tanya Yuna penasaran.

 

“Mmh ... kamu baca sendiri aja ya! Aku kirim tautan dan foto beberapa majalah dan koran yang udah naikkan beritanya.”

 

“Oke. Makasih ya!”

 

“He-em.” Jheni langsung menutup telepon dan mengirimkan beberapa tautan dan headline di beberapa koran dan majalah.

 

 

 

-Orang Ketiga di Balik Kandasnya Hubungan Cinta Refi dan Yeriko-

 

-Alasan Artis Cantik Refina Bunuh Diri, Dipaksa oleh Orang Ketiga-

 

-Inilah Sosok Orang Ketiga dibalik Retaknya Hubungan Refi dan Yeriko-

 

 

 

“Hah!? Ini berita keterlaluan banget,” gumam Yuna. Ia langsung menoleh ke arah Yeriko yang masih berbaring di sampingnya.

 

“Yer ...!” panggil Yuna sambil menyentuh lengan Yeriko.

 

“Hmm ...”

 

“Baca!” pinta Yuna sambil menyodorkan ponselnya ke wajah Yeriko.

 

“Baca apa?” tanya Yeriko sambil memejamkan mata.

 

“Iih ... buka dulu matanya!”

 

“Nggak bisa. Mataku masih lengket banget. Baru bisa terbuka kalau dicium,” sahut Yeriko sambil tersenyum.

 

Yuna sangat kesal, tapi malah tersenyum menatap Yeriko. Ia langsung mencium kedua mata suaminya agar membuka mata secepatnya.

 

Yeriko membuka mata perlahan sambil menatap wajah Yuna. Ia menarik tengkuk Yuna dan langsung mengecup bibir Yuna yang mungil.

 

“Baca apa?” tanya Yeriko sambil meraih ponsel dari tangan Yuna.

 

“Itu. Refi bikin ulah lagi.”

 

Yeriko langsung membelalakkan matanya begitu membaca headline berita yang ditunjukkan oleh Yuna.

 

“Masih ada lagi.” Yuna menunjukkan beberapa artikel yang memojokkan dirinya sebagai orang ketiga dalam hubungan Refi dan Yeriko.

 

Yeriko langsung menatap Yuna. “Kamu jangan terpengaruh sedikitpun!” pinta Yeriko. “Kita hadapi sama-sama. Oke?”

 

Yuna menganggukkan kepala sambil tersenyum ke arah Yeriko.

 

“Aku bakal cari cara buat hadapi Refi dan media. Ini sudah keterlaluan. Bisa-bisanya dia nyebar gosip kayak gini.”

 

“Huft, kayaknya Refi memang mau ngajak berantem,” tutur Yuna.

 

“Kamu jangan terpancing sedikitpun. Aku bakal selesaikan masalah ini secepatnya.”

 

Yuna menganggukkan kepala. Ia sangat percaya pada suaminya. Yeriko pasti bisa menyelesaikan semuanya dengan baik. Mereka bukan lagi pasangan kekasih, tapi pasangan suami-istri. Sudah seharusnya, mereka menghadapi semuanya bersama-sama.

 

“Kita mandi dan sarapan dulu!” Yeriko bangkit dari tempat tidur.

 

Mereka bergegas mandi dan pergi sarapan.

 

Yeriko langsung menelepon Riyan untuk mencari tahu dalang dibalik pemberitaan media yang telah memojokkan istrinya. Ia tidak akan membiarkan siapa pun melukai istrinya, termasuk Refi.

 

(( Bersambung ... ))

 

Gimana Yeriko akan menghadapi mantan pacar yang menyebalkan?

 Jangan lupa kasih Star Vote juga biar aku makin semangat nulis dan bikin ceritanya lebih seru lagi. Makasih buat yang udah kirimin hadiah juga. Jangan sungkan buat sapa aku di kolom komentar ya! Kasih kripik ... eh, kritik dan saran juga ya!

 

 

Much Love

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

 

Perfect Hero Bab 136 : Menemukanmu || a Romance Novel by Vella Nine

 


Yuna berlutut di depan pusara ibunya sambil menangis.

 

“Bunda ... aku kangen sama Bunda,” tuturnya lirih.

 

“Bun, apa Bunda dan Ayah juga pernah bertengkar?”

 

“Bagaimana aku harus menghadapi pria seperti Yeriko? Dia terlalu tinggi, sedangkan aku nggak punya apa-apa. Banyak wanita yang menginginkan dia. Gimana kalau suatu hari nanti, hatinya goyah dan berhenti mencintaiku?”

 

Yuna sibuk berbicara sendiri sambil menangis. Ia sangat berharap, ibunya bisa memeluk dan menenangkan dirinya saat ini. Namun semua itu tidak mungkin terjadi. Dunia mereka kini berbeda.

 

Yuna menengadahkan telapak tangannya saat air hujan turun berderai bersama derai air matanya. Ia menatap langit yang gelap. Sepertinya, alam ikut melengkapi kesedihannya kali ini.

 

“Yuna ...!” seru Yeriko saat melihat Yuna sedang berlutut di depan pusara ibunya. Ia langsung melepas payung di tangannya dan berlari menghampiri Yuna.

 

“Yun, kamu nggak papa?” tanya Yeriko sambil merengkuh kepala Yuna.

 

Yuna menatap pilu ke arah Yeriko. Ia langsung mendorong tubuh Yeriko hingga tersungkur ke tanah.

 

“Yun ...!”

 

“Jangan sentuh aku!” seru Yuna.

 

“Yun, ini semua nggak seperti yang kamu bayangkan. Postingan di internet itu, mereka cuma mengada-ngada. Aku harap, kamu nggak terpengaruh.”

 

“Nggak terpengaruh? Semua orang bilang kalian pasangan yang serasi. Gimana aku nggak terpengaruh?”

 

Yeriko terdiam. Ia memperbaiki posisi duduknya. “Yun, kamu percaya sama aku!” pintanya sambil menggenggam tangan Yuna.

 

“Gimana aku mau percaya? Suamiku tiba-tiba menghilang di tengah malam buat nemuin perempuan lain,” sahut Yuna sambil menangis.

 

“Yun, aku ngelakuin ini karena kemanusiaan. Sekalipun bukan Refi, aku akan tetap melakukannya.”

 

“Kamu ngerti nggak sih? Semua orang membandingkan aku sama Refi. Mereka bilang, kalian pasangan serasi. Bisa aja kan kamu luluh sama dia dan akhirnya ambil dia jadi istri  juga.”

 

“Kamu kenapa berpikiran kayak gitu? Kamu istri aku satu-satunya. Nggak akan ada yang lain,” tutur Yeriko sambil menangkupkan telapak tangannya ke wajah Yuna.

 

Yuna makin terisak mendengar ucapan Yeriko.

 

Tanpa pikir panjang, Yeriko langsung menggendong Yuna dan membawanya masuk ke dalam mobil.

 

“Lain kali, jangan seperti ini lagi!” pinta Yeriko. Ia meraih jas yang ada di belakang kursinya dan menyelimuti tubuh Yuna. “Aku sayang sama kamu, jangan bikin aku khawatir!” bisik Yeriko sambil menciumi wajah Yuna beberapa kali.

 

Yuna hanya menangis, ia tak bisa berkata-kata.

 

“Kita pulang sekarang!” Yeriko memasangkan safety belt ke pinggang Yuna.

 

Yuna masih saja mematung. Perasaannya masih kacau dan tidak tahu harus bersikap seperti apa untuk menghadapi suaminya.

 

Yeriko tidak mengajak Yuna bicara sedikitpun. Ia melajukan mobilnya pulang ke rumah. Setelah keadaan dirasa membaik, ia akan membicarakan hubungannya dengan Refina di hadapan Yuna.

 

Sesampainya di rumah, Yeriko langsung menggendong Yuna menuju ke kamar mandi. Menyiapkan air hangat agar tubuh Yuna tidak kedinginan.

 

“I love you ... jangan pernah pergi jauh dari aku!” Yeriko mencium kening Yuna dalam waktu lama setelah ia memasukkan tubuh Yuna ke dalam bathtub yang sudah berisi air hangat.

 

Yuna menengadahkan kepalanya menatap Yeriko. “Apa kamu bakal kembali ke dia?” tanyanya dengan mata berkaca-kaca.

 

Yeriko menggelengkan kepala. “Aku akan selalu ada di sisi kamu sampai kita tua bareng. Kita hadapi semuanya sama-sama! Oke?” Yeriko berusaha menenangkan Yuna.

 

Yuna mengangguk kecil.

 

Yeriko tersenyum sambil mengusap air mata yang membasahi pipi Yuna. “Berendamlah sebentar supaya tubuh kamu hangat. Aku mandi dulu.” Yeriko langsung mengecup bibir Yuna lembut dan pergi mandi sambil terus menatap istrinya yang berendam di dalam bathtub.

 

Usai mandi dan berganti pakaian. Mereka turun ke lantai bawah untuk makan bersama.

 

Bibi War menyiapkan banyak makanan di atas meja. Ia tidak berani mengajukan pertanyaan karena suasana hati Yuna terlihat belum begitu baik.

 

“Makanannya banyak banget, Bi?” tanya Yuna sambil menatap semua makanan yang terhidang di atas meja.

 

“Mas Yeri belum makan dari pagi karena sibuk nyari Mbak Yuna. Malam ini, kalian makan yang banyak!” sahut Bibi War sambil tersenyum. Ia langsung bergegas pergi, memberikan waktu untuk kedua majikannya itu saling bersama.

 

Yuna terdiam selama beberapa detik. Ia merasa sangat bersalah karena telah membuat Yeriko mengkhawatirkan dirinya hingga tidak ada waktu untuk makan. Ia merasa, suaminya begitu memperdulikan dan menyayanginya. Tapi ... ia sendiri malah tidak percaya dengan suaminya sendiri.

 

Yuna menggigit bibirnya sambil menoleh ke arah Yeriko. “Kenapa nggak makan seharian?”

 

Yeriko langsung menatap Yuna. “Kamu ngilang tiba-tiba. Nggak bisa dihubungi sama sekali. Aku udah cari kamu ke mana-mana. Apa kamu pikir, di saat seperti itu masih bisa mikirin makanan?”

 

Yuna mengerutkan bibirnya. “Aku kayak gini juga gara-gara kamu. Kalau aja kamu ...”

 

“Kita makan dulu!” sela Yeriko. Ia mengambilkan makanan untuk Yuna.

 

Yuna tak bersemangat menikmati makanannya. Tangannya sibuk mengaduk-ngaduk makanan di piringnya, tak ada keinginan untuk melahapnya.

 

Yeriko langsung menghentikan makannya begitu melihat Yuna yang tak kunjung menikmati makanan seperti biasanya. Ia langsung meraih kedua tangan Yuna dan menatap istrinya.

 

“Masih marah?” tanya Yeriko lembut.

 

Yuna menggeleng perlahan.

 

“Kenapa nggak makan?”

 

“Nggak nafsu makan.”

 

Yeriko tersenyum kecil sambil mengecup punggung tangan Yuna. “Video itu masih mengganggu pikiranmu?”

 

Yuna menggigit bibir bawahnya.

 

“Kamu nggak percaya sama aku?”

 

“Aku bukan nggak percaya sama kamu. Aku nggak percaya sama diriku sendiri.”

 

“Kenapa bilang begitu?”

 

“Karena di luar sana, ada banyak cewek yang suka sama kamu. Mereka cantik, kaya, pintar dan berkelas. Sedangkan aku, aku nggak punya apa-apa dan semua orang bilang kalau aku nggak layak ada di samping kamu.”

 

“Jangan dengerin kata orang lain!” pinta Yeriko sambil menempelkan dahinya ke dahi Yuna. “Cukup dengerin suamimu. Di luar sana, ada banyak orang yang ingin mengganggu hubungan kita. Kita harus kuat. Jangan sampai mereka yang menang!” bisiknya.

 

Yuna mengangguk kecil.

 

“Senyum!” pinta Yeriko sambil menyubit kedua pipi Yuna.

 

Yuna tersenyum ke arah Yeriko.

 

Yuna tersenyum ke arah Yeriko. Ia merasa sangat beruntung memiliki suami yang tampan, kaya dan penyayang.

 

Yeriko menghela napas melihat Yuna yang tak kunjung menyentuh makanannya. Ia menarik piring milik Yuna dan menyuapkan makanan ke mulut Yuna.

 

“Bukannya kamu yang nggak makan seharian? Kenapa masih sibuk memperdulikan aku?”

 

Yeriko tersenyum kecil. “Kamu juga pasti belum makan kan?” ucapnya sambil mengelus rambut Yuna.

 

Yuna tersenyum. “Aku bisa makan sendiri.” Ia merebut piring dari tangan Yeriko dan langsung melahap makanannya.

 

Yeriko tersenyum kecil menatap Yuna. Ia kini terbiasa makan bersama istrinya. Setiap kali melihat Yuna makan dengan lahap, ia selalu merasa bahagia.

 

Karena istrinya sangat menyukai makanan. Hanya di saat hatinya bersedih, nafsu makan istrinya akan hilang. Menjaga nafsu makan Yuna, artinya menjaga istrinya tetap merasa bahagia.

 

(( Bersambung ... ))

 

Salam peluk hangat dari Yuna dan Yeriko ...

 Jangan lupa kasih Star Vote juga biar aku makin semangat nulis dan bikin ceritanya lebih seru lagi. Makasih buat yang udah kirimin hadiah juga. Jangan sungkan buat sapa aku di kolom komentar ya! Kasih kripik ... eh, kritik dan saran juga ya!

 

 

Much Love

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

 

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas