Sunday, February 16, 2025

Perfect Hero Bab 128 : Fitting Gaun Pengantin || a Romance Novel by Vella Nine

 


Yuna menghentikan makannya saat ponselnya tiba-tiba berdering. Ia merogoh ponsel dari dalam tas dan menatap layar yang tertulis nama ‘My Beautiful Mom’. Tanpa pikir panjang, ia langsung menjawab telepon.

 

“Halo ...!” sapa Yuna.

 

“Halo ...! Anak Mama yang cantik! Lagi di mana nih?”

 

“Ah, Mama bisa aja. Mama juga cantik. Aku lagi di mall bareng Jheni, sahabat aku Ma.”

 

“Lagi belanja?”

 

“Iya.”

 

“Belanja apa?”

 

“Mmh ... nggak banyak sih. Aku cuma beli daleman doang sama kaos buat di rumah. Mama di mana nih?”

 

“Mama masih di Singapura. Kamu udah makan?”

 

“Ini lagi makan.”

 

“Oh. Mama ada beliin beberapa gaun dan tas baru buat kamu.”

 

“Ma, Mama selalu aja begitu. Aku sama sekali nggak ...”

 

“Anak Mama nggak boleh terlihat biasa aja. Siapa tahu, ada pesta kecil-kecilan atau harus jalan sama Yeriko. Masa, mau pakai baju yang itu-itu aja?”

 

Yuna tertawa kecil. “Tapi, gaun yang Mama beliin juga masih banyak.”

 

“Mama udah beliin buat kamu. Nggak boleh protes! Mama suka banget sama modelnya. Pasti cocok banget dipake sama kamu.”

 

“Iya, Ma. Makasih banyak,” sahut Yuna. Ia tidak pernah bisa menolak pemberian dari Mama mertuanya.

 

“Oh ya, tadi orang butik kabarin Mama. Katanya, gaun pengantin kamu sudah selesai dijahit. Kamu bisa ke sana buat fitting?”

 

“Eh!? Beneran? Cepet banget jadinya?” tanya Yuna.

 

“Hmm ... buat Mama, mereka udah terlalu lama ngerjainnya.”

 

Yuna meringis. “Iya, Ma. Kebetulan aku lagi nggak sibuk juga. Ntar aku ke sana sekalian bareng Jheni.”

 

“Oke. Kalai gitu, Mama tutup dulu teleponnya ya! Masih banyak kerjaan.”

 

“He-em.” Yuna menganggukkan kepala.

 

Rullyta langsung mematikan sambungan teleponnya.

 

“Siapa, Yun?” tanya Jheni penasaran.

 

“Mama mertuaku,” jawab Yuna. Ia melanjutkan makannya.

 

“Enak banget punya mama mertua kayak gitu. Perhatian banget,” tutur Jheni sambil menatap Yuna.

 

Yuna tersenyum kecil. “Abis ini, temenin aku ke butik ya!” pintanya.

 

“Mau ngapain?”

 

“Mau fitting baju pengantin. Kata mama, bajunya udah kelar dijahit.”

 

“Wah! Seriusan!?” Jheni terlihat sangat gembira mendengar kabar baik dari sahabatnya.

 

Yuna mengangguk sambil tersenyum manis. “Makanya, temenin aku ke sana ya!”

 

“Oke.” Jheni tersenyum sambil menautkan jari telunjuk dan ibu jarinya.

 

Usai menghabiskan makan siangnya bersama Jheni. Yuna langsung menuju ke salah satu butik yang telah dipilih ibu mertuanya untuk membuatkan gaun pengantin.

 

“Selamat Siang ...!” sapa customer service yang ada di meja depan saat Yuna masuk ke kamar.

 

“Siang, Mbak! Saya mau fitting baju pengantin.”

 

“Atas nama siapa?”

 

“Fristi Ayuna Linandar dan Yeriko Sanjaya Hadikusuma.”

 

“Oh ..  oke. Fittingnya sudah disediakan di VIP Room. Langsung masuk saja, Mbak! Designer kami ada di dalam sana.”

 

“Oke.” Yuna langsung melangkahkan kakinya menuju Vip Room.

 

“Yun, enak banget ya jadi menantu orang kaya. Cari gaun pengantin aja diperlakukan khusus banget. Aku bahkan baru tahu kalau di butik ada ruangan VIP segala. Kirain, di rumah sakit doang,” celetuk Jheni sambil mengiringi langkah Yuna.

 

Yuna tersenyum kecil. Ia masuk ke salah satu ruang VIP untuk melihat baju pengantin yang akan ia kenakan pada hari pernikahan. “Sebenarnya sama aja sih. Jhen. Kalau di VIP Room, privasi kita lebih terjaga aja dan pelayanannya emang khusus.”

 

“Oh ya?”

 

Yuna mengangguk. Ia menatap salah satu pekerja yang sedang merapikan sebuah gaun pengantin. “Siang!” sapa Yuna.

 

“Selamat Siang!” Karyawan tersebut langsung menoleh ke arah Yuna. “Mbak Fristi ya?”

 

Yuna menganggukkan kepala.

 

Karyawan tersebut langsung mempersiapkan gaun pengantin milik Yuna yang baru saja selesai dijahit. “Ini, Mbak. Silakan dicoba dulu! Kalau ada yang perlu ditambahkan atau dikurangi, langsung sampaikan kepada kami.”

 

Yuna menganggukkan kepala. Ia segera mencoba gaun pengantin tersebut dibantu oleh karyawan dan juga Jheni.

 

“Gimana, Jhen?” tanya Yuna saat melihat dirinya memakai gaun pengantin. Ia berdiri di depan cermin besar yang ada di dalam ruangan tersebut.

 

“Cantik banget, Yun!” seru Jheni.

 

“Serius? Tapi, kok rada begah ya?”

 

“Sempit, Mbak?” tanya karyawan yang melayani Yuna.

 

Yuna menganggukkan kepala.

 

“Kami mohon maaf, gaunnya akan segera kami perbaiki supaya bisa pas di badan Mbak Fristi.”

 

Yuna meringis. “Kayaknya, yang salah bukan gaunnya. Tapi badanku gemukan, deh.”

 

Jheni mendelik menatap Yuna.

 

“Mbak, ada timbangan nggak ya?”

 

“Ada, Mbak. Sebentar saya ambilkan.” Karyawan tersebut bergegas pergi mengambilkan timbangan berat badan untuk Yuna.

 

Yuna mengembungkan pipinya di depan cermin, mengempiskannya lagi. Ia mengamati wajah dan tubuhnya beberapa kali, kemudian menepuk-nepuk pipinya.

 

“Huft, kayaknya ... aku emang gemukan deh, Jhen. Kelihatan nggak sih?”

 

“Biasanya, kamu selalu makan banyak dan nggak gemuk-gemuk. Berarti, pupuknya Yeriko manjur banget,” sahut Jheni terkekeh.

 

“Apaan sih!?” Yuna tersipu mendengar ucapan Jheni.

 

Beberapa menit kemudian, karyawan butik masuk ke dalam ruangan sambil membawakan timbangan untuk Yuna. “Ini, Mbak.”

 

Yuna langsung menimbang berat badannya. “Berapa, Jhen?” tanya Yuna yang tidak bisa menundukkan kepalanya untuk melihat berat badannya sendiri.

 

“Lima puluh empat,” jawab Jheni.

 

“What!?” Yuna langsung turun dari timbangan tersebut. “Beneran kan? Beratku naik lagi dua kilo. Waktu ngukur badan kemarin, kayaknya berat badanku masih stabil di angka lima puluh dua. Ini parah banget! Aku harus rajin olahraga biar berat badanku turun.”

 

“Mmh ... Mbak, jasnya suamiku udah jadi atau belum?” tanya Yuna.

 

“Kalau untuk setelan jasnya belum selesai dijahit, Mbak.”

 

“Ini udah cocok aja, sih. Nggak ada yang perlu ditambahkan atau dikurangi. Aku yang harus diet karena berat badanku bertambah. Nanti, aku balik fitting lagi kalau jas suamiku udah kelar. Gimana?”

 

Karyawan tersebut menganggukkan kepala.

 

“Oke. Kalau gitu, kami pulang dulu ya! Jangan bilang ke Ibu Rullyta kalau gaunnya sempit ya!”

 

“Siap, Mbak!”

 

Yuna tersenyum. Ia mengerdipkan mata dan langsung mengajak Jheni keluar dari ruang VIP.

 

“Yun, kita lihat-lihat baju dulu yuk!” ajak Jheni saat melihat ada banyak deretan baju-baju cantik yang ada di butik tersebut.

 

“Boleh.”

 

Mereka berkeliling sambil melihat-lihat gaun pesta dan gaun pengantin yang terpajang di ruangan tersebut.

 

“Yun, gaunnya cantik-cantik banget!” seru Jheni. “Jadi pengen nikah cepet-cepet kalau lihat kayak gini, mah.”

 

“Ya udah, suruh aja si Chandra langsung ngelamar kamu.”

 

“Astaga! Ngolok banget sih, bikin dia suka sama aku aja belum berhasil. Mau minta dinikahin. Gatel amat yak gue!?”

 

Yuna tertawa lebar. Namun, tawanya terhenti saat melihat Melan dan Bellina tiba-tiba sudah berdiri di hadapannya. Ia langsung menelan ludah begitu mendapati tatapan Melan. “Tante Melan?”

 

“Masih inget sama Tante?” tanya Melan balik.

 

Yuna memaksa bibirnya tersenyum. “Ini nenek sihir kenapa ada di sini juga?” batinnya.

 

“Kamu ngapain ada di sini?” tanya Melan.

 

“Mmh ... lagi nyobain gaun pengantin,” jawab Yuna.

 

“Di sini gaun pesta semua. Gaun pengantin ada di sana,” sahut Melan sambil menunjuk sudut ruangan lain dengan dagunya.

 

“Emangnya kenapa kalau kita mau lihat-lihat gaun pesta juga? Ada yang salah?” tanya Jheni.

 

“Mmh ... nggak ada, sih. Tapi, orang miskin kayak kamu nggak mungkin bisa beli gaun di sini,” tutur Melan sambil tertawa kecil.

 

“Heh!? Nenek sihir!” sentak Jheni tanpa basa-basi. “Asal kamu tahu ya, biarpun aku miskin, aku masih bisa beli mulutmu pake uangku sendiri!”

 

“Oh ya? Emang kamu punya uang berapa buat beli mulut mamaku?” balas Bellina.

 

“Seribu!” dengus Jheni. “Karena mulut kalian itu sama-sama murahan!”

 

Melan langsung melotot ke arah Jheni. Ia tidak terima begitu saja ucapan Jheni yang merendahkan dirinya. “Hati-hati kalau ngomong sama orang tua! Kualat baru tahu rasa!”

 

“Nggak bakalan kualat sama orang tua jahat kayak kamu!” balas Jheni. Ia tidak menyerah begitu saja dan terus melawan cacian yang keluar dari mulut Melan.

 

“Ada apa ini?” Seorang Manager toko menghampiri saat mendengar suara keributan di dalam butiknya.

 

Melan tersenyum kecil. “Dua cewek miskin ini, kenapa bisa masuk ke dalam butik? Mereka, masuk ke sini pasti mau nyuri. Mereka nggak punya uang buat beli baju mahal. Jadi, Mbaknya harus hati-hati sama gerak-gerik mereka yang mencurigakan ini.”

 

Jheni langsung membelalakkan matanya begitu mendengar ucapan yang keluar dari mulut Melan. “Gila! Ini orang ngomongnya lembut banget tapi nyelekit dan fitnah banget. Dari dulu, selalu nggak berubah. Masih aja menindas Yuna,” batin Jheni. Ia semakin kesal melihat wajah Melan.

 

“Kalau bukan tantenya Yuna, udah kucakar-cakar mukamu!” sahut Jheni.

 

Melan tersenyum sinis. Ia tidak akan menyerah begitu saja melawan Jheni. Teman Yuna yang sangat menyebalkan di matanya.

 

 

(( Bersambung ... ))

Makasih yang udah baca “Perfect Hero” yang bakal bikin kamu baper bertubi-tubi. Jangan sungkan buat sapa aku di kolom komentar ya! Kasih kripik ... eh, kritik dan saran juga ya!

 

Much Love

@vellanine.tjahjadi

 

Perfect Hero Bab 127 : Kamar Penuh Kenangan || a Romance Novel by Vella Nine

 


“Katanya mau jalan sama Jheni. Kenapa masih nyantai?” tanya Yeriko saat baru keluar dari kamar mandi dan mendapati Yuna masih menonton televisi.

 

“Nggak jadi pergi. Jheni ada kerjaan dadakan. Hari sabtu aja sekalian.”

 

“Oh.” Yeriko melangkahkan kakinya menuju ke lemari, mengambil pakaian dan memakainya. Kemudian, duduk di samping Yuna yang sedang menonton televisi sambil memakan potongan buah pir.

 

Yeriko mengambil remote televisi dan langsung mengganti siaran dengan channel berita.

 

Yuna langsung merengut ke arah Yeriko. “Iih ... aku lagi nonton drama. Kenapa diganti sih?”

 

“Drama gitu-gitu aja,” sahut Yeriko.

 

“Tapi kan aktornya ganteng-ganteng. Ceritanya juga romantis.”

 

“Udah beberapa hari ini aku nggak nonton berita di televisi. Apa yang lagi rame?”

 

“Gosip artis,” jawab Yuna kesal.

 

Yeriko tertawa kecil. “Kenapa sewot sih?”

 

“Drama lagi seru-serunya diganti.” Yuna langsung merebut remote dari tangan Yeriko.

 

“Bagusan acara ini!” Yeriko berusaha merebut remote televisi dari tangan Yuna.

 

“Iih ..  aku mau nonton drama yang tadi.”

 

“Ini aja!” Yeriko mengangkat tangannya tinggi-tinggi agar Yuna tak bisa meraih remote di tangannya.

 

Yuna mengerutkan bibirnya. Ia mengambil ponsel yang ia letakkan di atas meja dan memilih bermain game.

 

Yeriko tersenyum kecil. Ia menarik kepala Yuna ke dadanya. Membiarkan Yuna asyik bermain game, sementara ia menyimak televisi yang sedang menyiarkan berita-berita update yang terjadi di dalam dan luar negeri.

 

Yeriko ikut mengintip permainan yang sedang dimainkan oleh Yuna. Ia menyentuh layar ponsel Yuna dengan sengaja.

 

“Iiih ... iih ... mati kan? Mati!” seru Yuna. Ia langsung membalikkan tubuhnya menghadap Yeriko. “Kamu, jahil banget sih? Aku nonton drama digangguin, main game juga digangguin. Maunya apa sih?”

 

Yeriko tersenyum menatap Yuna. Ia mengecup bibir Yuna dan memeluk erat istrinya. “Kamu nggak mau mainin aku?”

 

“Mainin apaan?” sahut Yuna. Ia tersenyum sambil membenamkan wajahnya ke dada Yeriko.

 

“Biasa ...”

 

“Mmh ... aku lagi dapet,” tutur Yuna lirih.

 

“Hah!?”

 

Yuna menganggukkan kepala.

 

“Berarti, kita gagal lagi?”

 

Yuna menghela napas. “Maaf, sampai sekarang aku belum bisa hamil juga. Aku ...”

 

“Nggak masalah. Kita masih bisa usaha lagi,” sahut Yeriko sambil mengeratkan pelukannya.

 

Yuna mengangguk kecil.

 

“Oh ya, Lutfi mau ngasih kita hadiah pernikahan. Dia mau ngasih hadiah liburan. Kamu maunya, kita bulan madu ke mana?” tanya Yeriko.

 

“Bulan madu?” Yuna langsung mengangkat wajahnya menatap Yeriko. Ia tersenyum lebar. “Ke luar negeri?”

 

Yeriko menganggukkan kepala. “Mmh ... si Lutfi nyaranin ke Ausie, tempat kamu kuliah dulu. Gimana menurut kamu?”

 

“Mmh ... boleh juga, sih. Tapi, aku pengen ke tempat yang belum pernah aku datangi. Aku pengen bulan madu ke Amalfi Coast. Tempatnya keren banget!”

 

 “Italia?”

 

Yuna menganggukkan kepala.

 

“Oke. Setelah pesta pernikahan kita, langsung berangkat ke sana. Kamu, atur izin cuti kamu ya!” pinta Yeriko.

 

“Serius?”

 

Yeriko mengangguk pasti.

 

“Mmh ... kayaknya, di bulan pernikahan kita. Aku udah kelar magang.”

 

“Oh ya? Itu lebih bagus. Jadi, kita bisa berlama-lama di sana.”

 

“Emangnya mau berapa lama?” tanya Yuna.

 

“Satu minggu.”

 

Yuna langsung memukul dada Yeriko.

 

“Kenapa?”

 

“Seminggu mah nggak lama,” sahut Yuna kesal.

 

“Terus? Mau setahun di sana?”

 

“Satu bulan. Gimana?”

 

“Hmm ... lama banget? Aku punya banyak kerjaan. Dua minggu. Gimana?”

 

“Mmh ... dua minggu ya? Boleh.” Yuna langsung membalas memeluk tubuh Yeriko lebih erat. “Makasih ya!” bisik Yuna.

 

Yeriko mengangguk kecil. “Kamu nggak laper?”

 

“Laper. Makan yuk!” Yuna langsung bangkit dari tubuh Yeriko. Ia menarik lengan Yeriko. Mereka turun ke lantai bawah sambil bergandengan tangan dengan mesra.

 

 

 

 

 

Sesuai dengan kesepakatan sebelumnya. Pada hari Sabtu, Yuna pergi ke rumah Jheni terlebih dahulu sebelum mereka pergi berbelanja bersama.

 

Sesampainya di rumah Jheni, ia langsung merebahkan tubuhnya di kasur. “Hmm ... kangen juga sama kamar ini.”

 

“Kamar kamu yang sekarang, luasnya empat kali lipat dari kamarku. Masih ngangenin kamar kecil yang berantakan ini?” sahut Jheni sambil merias wajahnya di depan cermin.

 

“Huft, kamar aku emang luas. Tapi, monoton banget. Nggak ada boneka, nggak ada bunga, nggak bisa taruh barang sembarangan. Yeriko, pasti ngomel kalau berantakan sedikit aja.”

 

Jheni tertawa kecil. “Bagus, dong? Berarti, dia itu cowok yang rapi dan bersih.”

 

“Oh, jadi kamu ngolok aku karena aku nggak bisa rapi?”

 

“Tapi selama nikah sama Yeriko, kamu juga pasti ketularan jadi orang yang rapi, kan?”

 

“Mmh ... nggak juga sih. Aku nggak pandai ngatur barang. Semuanya udah diberesin sama Bibi War. Yang penting, kalau habis pakai barang langsung dikembalikan ke tempatnya aja lagi.”

 

Jheni tertawa kecil mendengar ucapan Yuna.

 

“Eh, by the way ... gimana perkembangan hubungan kamu sama Chandra? Udah ada kemajuan?”

 

Jheni menggeleng lesu. “Kayaknya, dia nggak suka sama aku.”

 

“Uch ... jangan sedih gitu, dong!” Yuna langsung bangkit dan menghampiri Jheni. “Kondisi hatinya Chandra lagi nggak stabil. Dia pasti masih mikirin mantan tunangannya itu. Di saat kayak gini, kamu jangan nyerah gitu aja. Harus selalu ada buat dia. Supaya, hatinya dia terbuka dan cuma lihat kamu sebagai satu-satunya orang yang paling sayang sama dia di dunia ini.”

 

“Gitu ya?”

 

“He-em.” Yuna mengangguk sambil tersenyum. “Aku yakin, dia juga suka sama kamu. Cuma saat ini, waktunya emang nggak pas.”

 

“Kamu tahu dari mana? Sok tahu!” dengus Jheni.

 

“Orang yang punya perasaan lebih. Pasti bakalan peduli secara berlebihan. Aku lihat sendiri gimana paniknya dia waktu kamu disekap sama si tua Lukman di dalam kamar hotel. Kalau nggak ada perasaan apa-apa. Dia nggak akan sepanik itu, Jhen.”

 

“Beneran dia panik banget?” tanya Jheni penasaran.

 

Yuna mengangguk pasti.

 

Jheni tersenyum senang mendengar pernyataan yang keluar dari mulut Yuna. Ia semakin yakin untuk mengejar cinta Chandra dan tidak akan menyerah begitu saja.

 

“Jangan sampai ada cewek lain yang gunain kesempatan ini buat deketin Chandra. Kalau sampai dia diambil cewek lain, nangis bombay!”

 

“Iya, Sayangku!” sahut Jheni sambil mencubit kedua pipi Yuna. “Bantuin ya!”

 

“Bantuin apaan?”

 

“Deketin Chandra.”

 

“Usaha sendiri, dong!”

 

“Iih ... sama temen kok gitu?”

 

Yuna tertawa kecil. “Bercanda. Baperan amat, sih!? Pasti aku bantu, kok.”

 

“Gitu dong! Ini baru namanya Yuna yang cantik dan baik hati.”

 

“Huft, kalo ada maunya aja baru muji,” celetuk Yuna.

 

“Hehehe. Berangkat sekarang yuk!” ajak Jheni sambil meraih tas tangannya.

 

“Ayo!” Yuna bergegas mengambil tas tangan miliknya yang tergeletak di atas kasur Jheni.

 

Mereka bergegas pergi ke mall menggunakan taksi.

 

Yuna merasa sangat senang karena tetap bisa menghabiskan waktu bersama sahabatnya walau ia sudah menikah. Suaminya tidak pernah melarangnya pergi bersama Jheni. Justru seringkali menyuruhnya pergi jalan-jalan dan berbelanja saat Yeriko sedang sibuk dengan pekerjaan dan tidak punya waktu untuk menemani Yuna.

 

“Yun, aku seneng banget. Akhirnya bisa lihat kamu hidup bahagia. Punya suami kayak Yeriko, bener-bener keberuntungan,” tutur Jheni saat mereka duduk bersama menikmati makan siang di salah satu restoran yang ada di dalam pusat perbelanjaan.

 

Yuna menganggukkan kepala. “Iya, Jhen. Aku juga nggak nyangka. Awalnya, aku nggak pernah kepikiran buat suka sama dia. Aku nikah sama dia juga terpaksa banget. Nggak punya pilihan lain buat nyelamatkan Ayah. Nggak nyangka kalau ternyata, dia itu suami yang penyayang banget.”

 

“Aku sendiri masih bingung. Aku nggak punya apa pun yang bisa dibanggakan. Tapi, dia bener-bener tulus mencintai aku,” lanjut Yuna.

 

Jheni tersenyum menatap Yuna. Ia sangat senang karena tidak harus melihat Yuna terus-menerus menderita seperti dulu.

 

 

(( Bersambung ... ))

Makasih yang udah baca “Perfect Hero” yang bakal bikin kamu baper bertubi-tubi. Jangan sungkan buat sapa aku di kolom komentar ya! Kasih kripik ... eh, kritik dan saran juga ya!

 

Much Love

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

Perfect Hero Bab 126 : Istri Bos Ye || a Romance Novel by Vella Nine

 


“Ciyee.. yang kemarin diantarin Lutfi. Sekarang senyum-senyum sendiri mulu. Gimana? Udah jadian?” tanya Yuna.

 

Icha menggelengkan kepala sambil tersenyum malu. “Belum.”

 

“Huft, si Lutfi itu emang nggak peka ya? Gimana kalau kamu yang ngomong duluan?”

 

“Ngomong apaan?” tanya Icha.

 

“Ya, ngomong cinta lah!”

 

“Nggak berani, Yun. Apa pantes kalau cewek yang nyatain cinta duluan?”

 

“Yaelah, zaman sekarang mah, mau cewek atau cowok sama aja.”

 

“Idih, kalo sampe ditolak. Malunya sampai tujuh turunan!” dengus Icha.

 

“Mmh ... iya juga, sih. Eh, menurut kamu ... si Lutfi itu ada rasa apa nggak sama kamu? Kalau aku lihat, dia care banget sama kamu.”

 

Icha tersenyum menatap Yuna. “Iya. Dia peduli dan penyayang banget. Tapi, hubungan kita cuma sebatas teman.”

 

“Kamu nggak ngarep lebih?”

 

Icha terdiam. Ia hanya menggigit bibir bawahnya. Ia sendiri tak yakin bisa menjalin hubungan dengan seorang pria. Saat ini, ia berusaha untuk mengejar karir. Ia takut, hubungan percintaan akan menghancurkan masa depannya.

 

“Eh, udah mau jam dua belas. Aku mau turun dulu. Suamiku mau jemput aku buat makan siang bareng,” tutur Yuna sambil merapikan meja kerjanya.

 

“Hmm .. enak banget sih punya suami yang romantis. Hampir tiap hari diajak makan siang bareng. Nggak kayak aku yang setiap hari cuma makan di kantin,” celetuk Icha.

 

Yuna tertawa kecil menatap Icha. “Aku WA si Lutfi nih biar ajak kamu makan siang. Gimana?” goda Yuna.

 

“Nggak usah, Yun!” pinta Icha. “Aku nggak mau jadi bahan gosip. Aku nggak sekuat kamu.”

 

Yuna tersenyum sambil menepuk pundak Icha dan bergegas keluar dari ruang kerjanya.

 

Di depan pintu utama kantornya, mobil Yeriko sudah terparkir dengan baik dan menunggu kedatangan Yuna.

 

Yuna tersenyum dan langsung masuk ke dalam mobil. “Udah lama nunggu?” tanya Yuna sambil memasang safety belt ke pinggangnya.

 

“Baru nyampe,” jawab Yeriko. Ia menjalankan mobilnya perlahan keluar dari halaman kantor Wijaya Group.

 

“Oh.”

 

“Kita makan siang di kantor aja ya! Aku udah nyuruh bibi bikinin bekal buat kita.”

 

Yuna menganggukkan kepala. “Oh ya, si Lutfi lagi deket sama Icha. Chandra lagi deket sama Jheni. Menurut kamu gimana?” tanya Yuna sambil mengeluarkan kalung berlian dari dalam dompet dan memakainya.

 

Yeriko menoleh ke arah Yuna. “Tumben dipakai kalungnya?”

 

Yuna tersenyum kecil. Ia juga memakai cincin turun temurun yang diberikan Mama Rullyta. “Aku mau ke kantor kamu sebagai Nyonya Ye. Aku nggak mau bikin kamu malu. Ntar, mereka ngira kalau suamiku beneran pelit sama istrinya.”

 

Yeriko tertawa kecil mendengar ucapan Yuna. “Kamu ini ada-ada aja. Lebih baik, kamu pakai terus dan jangan dilepas lagi!” pinta Yeriko.

 

“Mmh ... tapi, di kantorku aku cuma karyawan biasa. Nggak mungkin setiap hari pakai barang-barang mewah. Aku takut, ada yang nggak senang.”

 

“Semua orang di kantor kamu udah tahu kan kalau kamu istriku? Kamu nggak berpikiran kalau mereka juga bakal mengira aku sebagai suami yang pelit?”

 

“Hihihi. Iya juga, ya?”

 

Yeriko tersenyum kecil. “Pakai terus kalung dan cincinnya ya! Kalau kamu nggak suka, nanti aku carikan yang baru.”

 

“Eh!? Bukan! Bukan nggak suka. Aku suka banget, kok. Aku cuma takut dijambret orang aja di jalan.”

 

“Emangnya kapan kamu berkeliaran di jalanan? Setiap hari aku udah antar-jemput kamu.”

 

Yuna tersenyum sambil menatap Yeriko. “Iya, suamiku tersayang!” sahutnya sambil menyubit pipi Yeriko.

 

Yeriko tersenyum dan terus melajukan mobilnya menuju kantor.

 

Sesampainya di kantor Galaxy Group. Semua karyawan tersenyum dan menyapa Yuna dengan ramah. Yuna juga memberikan senyumannya pada setiap karyawan yang berpapasan dengan mereka.

 

“Selamat siang, Nyonya Yeri!” sapa salah seorang karyawan.

 

“Selamat siang!” sahut Yuna sambil tersenyum dan melambaikan tangan dengan ramah. Ia bisa merasakan atmosfer yang begitu hangat di dalam kantor Yeriko.

 

“Istri Bos Ye, bener-bener mengagumkan!” celetuk salah seorang karyawan.

 

“Iya. Cantik, sederhana, cara berpakaiannya aku suka banget.” Karyawan yang lain menimpali.

 

Semua karyawan kantor membicarakan Yuna dan Yeriko.

 

Yeriko membawa Yuna naik ke ruang kerjanya. “Kalau mau istirahat. Istirahat aja di dalam!” perintah Yeriko sambil menunjuk pintu kamar yang ada di dalam ruang kerja Yeriko.

 

“Mmh ... aku laper. Kita makan dulu, gimana?” Yuna menatap bekal makanan yang sudah ada di atas meja.

 

Yeriko menganggukkan kepala. Mereka duduk di salah satu meja rapat dan menikmati makan siang bersama.

 

“Tadi pagi Mama telepon. Persiapan pernikahan kita udah sembilan puluh persen. Dia minta minggu ini kita bisa ambil foto pre-wedding. Tapi, aku masih ada janji ketemu klien.”

 

“Nggak papa. Kamu urus dulu kerjaan kamu. Nanti, biar aku ngomong ke Mama.”

 

“Kalau cuma keluar sebentar,  aku masih bisa. Makanya, aku minta Mama buat nggak ambil foto di luar negeri. Nggak papa, kan?”

 

Yuna tersenyum kecil. “Nggak papa. Nggak pakai foto pre-wedding juga nggak masalah.”

 

“Mama yang minta. Buat undangan.”

 

“Oh.” Yuna mengangguk-anggukkan kepala. “Mau bikin berapa undangan?”

 

“Nggak banyak. Seratus atau dua ratus biji aja. Cuma buat temen deket dan kolega aja.”

 

“Karyawan perusahaan kamu kan banyak. Mereka nggak diundang?”

 

Yeriko menggelengkan kepala. “Ntar, bikin acara syukuran di kantor aja.”

 

“Oke.” Yuna mengangguk-anggukkan kepala.

 

“Mmh ... hari ini, nggak usah balik ke kantor kamu lagi. Bisa nggak?” tanya Yeriko.

 

“Kenapa?”

 

“Di sini aja. Temenin aku.”

 

Yuna tersenyum kecil. “Emangnya, nggak ada jadwal meeting?”

 

Yeriko menggelengkan kepala.

 

“Mmh ... kalo gitu, gimana kalau kita pergi makan ice cream?”

 

“Ice cream?”

 

Yuna menganggukkan kepala.

 

“Boleh juga, tutur Yeriko.

 

Yuna tersenyum menatap Yeriko. Mereka segera menghabiskan bekal makan siang dan bergegas keluar dari kantor GG.

 

Yeriko menuruti keinginan Yuna dan membawa istrinya tersebut untuk menikmati ice cream di salah satu kedai ice cream.

 

“Biar aku yang pesenin ya!” pinta Yuna. “Kamu cari tempat duduk yang enak!”

 

Yeriko menganggukkan kepala.

 

Yuna tersenyum, ia melenggang penuh ceria dan ikut berbaris dalam antrian untuk mendapatkan ice cream.

 

Beberapa menit kemudian, Yuna menghampiri Yeriko sambil membawa dua mangkuk ice cream dengan varian rasa dan warna yang berbeda.

 

Yeriko mengernyitkan dahi saat Yuna menyodorkan ice cream rasa strawberry ke arahnya. “Nggak kebalik?” Yeriko menatap ice cream rasa cokelat yang dipegang Yuna.

 

“Udahlah. Makan aja! Rasa strawberry juga enak, kok.”

 

Yeriko tak banyak protes. Ia memakan ice cream rasa strawberry yang diberikan oleh Yuna.

 

Yuna tersenyum kecil menatap Yeriko. “Gimana? Enak kan?”

 

Yeriko menganggukkan kepala. “Abis ini kita langsung pulang ya!”

 

Yuna menganggukkan kepala.

 

“Oh ya, ntar sore aku mau jalan sama Jheni. Boleh nggak?” tanya Yuna.

 

“Ke mana?”

 

“Jalan-jalan aja ke mall. Soalnya, udah lama banget nggak jalan sama dia.”

 

Yeriko tersenyum sambil menganggukkan kepala. Ia merasa sangat senang jika istrinya bisa menjalani kehidupan normal seperti wanita pada umumnya. Pergi jalan-jalan, berbelanja dan makan bersama dengan teman baiknya.

 

“Makasih!” Yuna tersenyum manja ke arah Yeriko.

 

(( Bersambung ... ))

Makasih yang udah baca “Perfect Hero” yang bakal bikin kamu baper bertubi-tubi. Jangan sungkan buat sapa aku di kolom komentar ya! Kasih kripik ... eh, kritik dan saran juga ya!

 

Much Love

@vellanine.tjahjadi

 

 

 


Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas