Sunday, February 16, 2025

Perfect Hero Bab 123 : Gugup || a Romance Novel by Vella Nine

 


Yuna mengajak Icha keluar dari kantin. Mereka saling pandang, tersenyum kecil dan akhirnya tertawa lebar.

 

“Yun, aku nggak nyangka kalau akhirnya aku juga punya keberanian buat ngelawan orang kayak Bu Belli,” tutur Icha sambil tertawa kecil.

 

“Hehehe. Nggak usah takut! Sama-sama makan nasi. Kalau dia makannya petir, baru deh kita takut sama dia.”

 

“Hahaha. Eh, kira-kira ... posisi kita di kantor bakalan terancam nggak ya?” tanya Icha.

 

“Terancam kenapa?”

 

“Hmm ... bisa aja kan Bu Belli bikin kita dipecat.”

 

“Emang apa alasannya dia mecat kita? Karena cemburu? Nggak masuk akal banget,” tutur Yuna.

 

Icha tersenyum menatap Yuna. Ia tidak menyangka kalau Yuna menularkan energi yang sangat besar kepada dirinya. Yuna, selalu berpikir terlebih dahulu sebelum bertindak. Dia akan terus mempertahankan dirinya jika memang tidak bersalah.

 

“Kamu tunggu di sini dulu ya! Aku antar ke rumah sakit,” pinta Yuna saat mereka sampai di lobi. “Aku izin sama bos dulu!” seru Yuna sambil berlari meninggalkan Icha.

 

Icha menganggukkan kepala sambil tersenyum. Ia mengamati tangannya yang terluka. “Tadi kena apa ya? Kok, bisa sobek gini?” gumam Icha sambil meringis menahan sakit. Ia duduk di salah satu kursi lobi. Hampir semua karyawan yang melintas, memerhatikan tangan Icha yang berdarah. Tapi, tak ada satu pun yang peduli terhadap dirinya.

 

“Cha, tangan kamu kenapa?” tanya Juan yang tiba-tiba datang. “Aku denger-denger, kalian berantem sama Bu Bellina?”

 

Icha tersenyum kecut sambil menganggukkan kepala.

 

“Aku antar kamu ke rumah sakit sekarang!” pinta Juan.

 

“Nggak usah! Yuna mau antar aku ke rumah sakit. Dia, masih minta izin.”

 

“Apa perlu aku temanin kalian?”

 

Icha menggelengkan kepala. “Kamu bantu selesaikan pekerjaan kami aja ya! Karena kami harus pulang lebih cepat dan masih ada rencana proyek yang belum selesai.”

 

Juan menganggukkan kepala.

 

“Maaf, sudah merepotkan.”

 

“Nggak papa.”

 

“Yuna sudah datang,” tutur Icha sambil melambaikan tangannya ke arah Yuna yang baru saja keluar dari lift.

 

“Hei ...! Juan? Kamu di sini?”

 

Juan menganggukkan kepala.

 

“Aku mau antar Icha ke rumah sakit. Bisa minta tolong handle kerjaan kita?”

 

“Mmh ...”

 

“Please!” Yuna menangkupkan kedua telapak tangan sambil memainkan matanya di depan Juan.

 

“Nggak usah pasang muka kayak gitu! Aku pasti bantu kalian,” sahut Juan.

 

“Oke. Makasih banyak ya!” seru Yuna sambil menepuk pundak Juan. “Kita pergi dulu!” pamitnya sambil beranjak pergi. Ia melambaikan tangan dan tersenyum manis pada Juan agar pria itu mau membantu menyelesaikan pekerjaannya.

 

Juan menghela napas begitu Icha dan Yuna keluar dari kantor dan masuk ke dalam taksi. “Yuna ... Yuna ... sayangnya kamu istri orang. Kenapa istri orang lebih menggoda?” gumamnya sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

 

“Ah, apa-apaan sih kamu ini?” Juan langsung memukul kepalanya sendiri dan bergegas kembali ke ruang kerjanya.

 

Sementara itu, Yuna langsung menelepon Yeriko begitu ia dan Icha sudah ada di dalam taksi.

 

“Halo ...!” sapa Yeriko. “Udah makan siang?” tanyanya lewat panggilan telepon.

 

“He-em. Ini ... aku lagi di perjalanan mau ke rumah sakit.”

 

“Hah!? Kamu kenapa?” tanya Yeriko panik.

 

“Aku nggak apa-apa. Si Icha yang luka gara-gara berantem di kantin.”

 

“Berantem?”

 

“He-em.” Yuna menganggukkan kepala. “Dia terluka karena nolongin aku.”

 

“Ya udah. Hati-hati di jalan! Aku langsung nyusul kamu ke sana sekarang juga!” tutur Yeriko.

 

“He-em.”

 

Yeriko langsung mematikan sambungan teleponnya.

 

“Suami kamu?” tanya Icha.

 

Yuna mengangguk sambil tersenyum. “Mmh ... tangan kamu sakit banget ya? Maaf, gara-gara aku ... kamu jadi luka kayak gini.”

 

“Kamu nggak salah, kok. Aku seneng banget bisa bantuin kamu,” sahut Icha sambil menatap Yuna. Ia merasa sangat bahagia karena Yuna adalah satu-satunya orang yang peduli dengannya ketika semuanya memandang sebelah mata.

 

 

 

-Kantor Utama Galaxy Group-

 

“Kenapa, Yer?” tanya Lutfi saat melihat Yeriko buru-buru memakai jasnya usai menerima telepon.

 

“Si icha kecelakaan. Dia lagi di perjalanan ke rumah sakit bareng Yuna.”

 

“Icha? Icha temen kerjanya Yuna!?” Lutfi langsung bangkit dari sofa.

 

Yeriko mengangguk. Ia bergegas menuju pintu ruangannya.

 

“Aku ikut!” Lutfi langsung melompat dan mengikuti langkah Yeriko. Mereka bergegas pergi ke rumah sakit.

 

“Si Icha kecelakaan di mana?” tanya Lutfi.

 

“Nggak tahu. Yuna belum cerita. Katanya, abis berantem di kantin.”

 

“Hah!? Berantem kenapa?”

 

“Katanya, karena ngebelain istriku.”

 

Lutfi tersenyum kecil. “Ternyata ... dia wanita yang mengagumkan juga. Bisa jadi pahlawan buat Nyonya Ye.”

 

“Kamu seneng cewek yang kamu suka terluka?”

 

“Eh!? Ya, nggaklah!” sahut Lutfi.

 

“Kenapa malah senyum-senyum?”

 

“Yah, aku seneng karena kepribadiannya dia, Yer. Tetep aja khawatir kalau dia terluka. Lagian, kenapa bisa berantem? Itu kantor apa? Kenapa ada karyawan yang bar-bar banget sampai bisa ngelukai karyawan lain?”

 

“Pasti karena masalah Yuna sama kakak sepupunya itu.”

 

“Kakak sepupunya?”

 

“Tunangannya Wilian?”

 

“Astaga! Apa hubungannya Yuna sama dia? Mereka saudara, tapi cekcok mulu,” celetuk Lutfi.

 

“Wilian itu ... mantan pacarnya Yuna.”

 

“What!?” Lutfi membelalakkan matanya. “Serius? Apa cuma aku yang baru tahu kalau mereka itu pernah punya hubungan?”

 

Yeriko menghela napas. “Udah jadi rahasia umum. Makanya, Bellina sama Yuna sering berantem.”

 

“Rebutan Lian?”

 

“Mmh ... aku rasa, Yuna udah nggak suka sama Lian. Si Bellina yang selalu cemburu karena Lian masih deketin Yuna terus.”

 

“Hahaha.”

 

“Kenapa ketawa?”

 

“Jadi, istri kamu itu masih disukai sama mantan pacarnya? Kenapa mereka bisa putus kalau masih suka?”

 

“Karena Wilian selingkuh sama Bellina.”

 

“Oh ... I see ... I see. Kamu nggak khawatir si Yuna kerja di kantornya Lian?”

 

Yeriko menggelengkan kepala. “Awalnya khawatir. Tapi, Yuna orangnya cukup jujur dan terbuka. Dia selalu cerita kalau Lian deketin dia.”

 

“Oh ya?”

 

Yeriko menganggukkan kepala. “Kalau seandainya ... mereka diam-diam balikan lagi. Gimana?”

 

“Nggak usah mikir yang nggak-nggak!” sentak Yeriko.

 

Lutfi menahan tawa. “Yah, bisa aja kan bunga-bunga cinta yang sudah layu itu tumbuh dan bersemi kembali?”

 

Yeriko melirik sinis ke arah Lutfi. “Kamu mau aku turunkan di sini!?”

 

“Nggak, Yer. Aku mau lihat Icha. Calon ibu dari anak-anakku,” jawab Lutfi.

 

“Belum tentu dia mau sama kamu,” celetuk Yeriko.

 

“Nggak mendukung banget jadi temen!” sahut Lutfi kesal.

 

Yeriko tersenyum kecil.

 

“Eh, si Chandra sama Jheni nggak ada perkembangan semenjak Chandra keluar dari rumah sakit. Mereka malah nggak pernah ketemu.”

 

“Terus?”

 

“Kayaknya ... kita harus turun tangan buat jodohin mereka.”

 

Yeriko bergeming.

 

“Yer, kalau Chandra nggak secepatnya dapet pengganti Amara. Aku takut, dia masih mikirin Amara terus dan nggak bisa move on. Dia tinggal di apartemen sendirian. Kalau dia nyoba buat bunuh diri lagi gimana?”

 

Yeriko langsung menoleh ke arah Lutfi.

 

“Bener kan? Kita bertiga udah kayak saudara. Nggak bisa biarin dia sakit hati terus. Kita harus bertindak. Pokoknya, harus bisa bikin Chandra sama Jheni jadian!” tegas Lutfi.

 

“Kamu sama Icha aja belum jadian. Ngapain ngurusin hubungan orang lain? Biar aja semuanya terjadi secara alami!”

 

Lutfi menarik napas dalam-dalam. Ia sangat kesal karena Yeriko meremehkan kemampuannya. “Lihat aja! Aku pasti bisa dapetin Icha dalam waktu satu minggu!”

 

Yeriko tersenyum kecil. “Dalam seminggu, aku sudah bisa bikin Yuna jadi istriku. Kamu cuma mau jadiin pacar aja sampai seminggu?”

 

Lutfi membelalakkan matanya. “Oke. Tiga hari! Ya. Dalam waktu tiga hari, Icha pasti bakalan jadi pacarku!”

 

Yeriko tersenyum kecil. “Katanya, mau nembak dia di Bali? Weekend masih empat hari lagi.”

 

“Mmh ... nggak usah di Bali, deh. Aku langsung ngomong aja ke dia hari ini juga!”

 

“Udah berani?”

 

“Yee ... meremehkan!? Lutfi, nggak pernah gagal mendapatkan cinta dari seorang wanita.”

 

Yeriko tersenyum kecil.

 

Lutfi diam sambil meremas jemari tangannya sendiri. Jantungnya berdebar kencang. Dari sudut rambut dahinya keluar keringat dingin, padahal suhu di dalam mobil Yeriko sudah cukup dingin. Ia terus memencet tombol AC mobil Yeriko agar suhunya semakin dingin.

 

Yeriko menahan tawa melihat sikap Lutfi yang tak bisa menyembunyikan rasa gugupnya.

 

(( Bersambung ... ))

Makasih yang udah baca “Perfect Hero” yang bakal bikin kamu baper bertubi-tubi. Jangan sungkan buat sapa aku di kolom komentar ya! Kasih kripik ... eh, kritik dan saran juga ya!

 

Much Love

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

Perfect Hero Bab 122 : Icha Terluka || a Romance Novel by Vella Nine

 


Linda, perempuan yang ada di belakang Bellina ikut kesal mendengar ucapan Yuna. Ia merasa, Yuna sudah melecehkan bosnya.

 

“Kamu bisa jaga sikap? Bu Belli tetap atasan kamu,” tutur Linda yang akhirnya melangkah mendekati Yuna.

 

“Bilang sama bos kamu itu, dia yang harusnya jaga sikap!” sahut Yuna.

 

“Kamu yang selalu bikin masalah di perusahaan!” seru Bellina kesal.

 

“Masalah itu juga sumbernya kamu. Kalau nggak ada kamu, semuanya baik-baik aja. Adem ayem aja. Kamu aja yang suka membesar-besarkan masalah,” tutur Yuna.

 

“Yang pegang proyek bermasalah siapa? Udah gitu, malah ditinggal-tinggal seenaknya aja. Mentang-mentang istrinya orang kaya, kerjanya suka-suka. Kamu nggak tahu kalau yang lain sampai nggak tidur sehari semalam gara-gara ulah kamu?”

 

“Bu, soal karyawan yang lembur sampai pagi, itu kan udah kerjaan mereka. Yuna sudah ngarahin dengan baik. Kalau mereka kerjanya lambat, bukan salah Yuna,” tutur Icha.

 

“Oh, jadi kalian nyalahin karyawan yang lain? Kalian bilang kalau semuanya sengaja lambat-lambatin kerjaannya?” tanya Linda.

 

“Eh!? Maksud aku nggak gitu. Semuanya kerjanya lambat juga kan karena properti yang nggak sesuai dengan pesanan dan juga kesalahan pemasangannya. Makanya, sampai terjadi kecelakaan di venue,” jawab Icha.

 

“Properti itu kalian juga yang pesan. Kenapa malah nyalahin orang lain? Harusnya, kalian pastikan kalau property yang kalian pesan sudah aman dan sesuai standar!”

 

“Kami udah pesan sesuai standar. Tapi ... kayaknya ada yang sengaja ganti property pesanan kami ke supplier lain karena harganya lebih murah,” sahut Yuna. Ia tersenyum ke arah Bellina. “Kamu tahu, siapa orang yang punya wewenang mengubah laporan di departemen purchasing.”

 

Bellina mendelik ke arah Yuna. “Kamu nuduh aku?” tanyanya kesal. “Aku masih ada di kantor cabang. Sama sekali nggak pernah ngurusin urusan di kantor pusat. Semuanya mutlak kesalahan kamu. Jangan numpahin kesalahan ke aku!”

 

Yuna tersenyum sinis. “Aku nggak nuduh kamu. Kenapa kamu ngerasa sendiri?”

 

“Kamu!?” Bellina makin geram dengan ucapan Yuna.

 

“Tadi, kamu nyalahin karyawan lapangan yang kerjanya lambat. Sekarang, kamu nyalahin departemen purchasing dan Bu Belli? Emang dasarnya aja kamu kerjanya nggak becus!” sahut Linda.

 

Yuna langsung bangkit dari tempat duduk dan menatap Linda penuh kekesalan. “Kamu ... jangan sembarangan kalo ngomong!” seru Yuna. “Nggak tahu kerjaan orang lain, mau ikut campur aja!” sentak Yuna dengan mata berapi-api.

 

Linda tersenyum sinis. “Siapa bilang aku nggak tahu kerjaan orang lain? Aku ini sekretarisnya Bu Belli. Istri dari pemilik Wijaya Group. Pastinya, aku tahu semua transaksi yang ada di grup perusahaan. Kamu kira, aku ini orang bodoh? Kamu ... yang cuma staf  biasa, kebanyakan gaya doang.”

 

Bellina tersenyum senang karena sekretarisnya mendukungnya untuk melawan Yuna. Setelah Lili dan Sofi pergi, ia tidak punya orang lain untuk diandalkan. Tak menyangka kalau Linda juga punya bakat untuk menindas Yuna.

 

“Walau cuma staf biasa. Yuna itu lulusan luar negeri. Dia punya bakat yang lebih baik dari yang lain. Justru kamu yang sengaja memanfaatkan hubungan buat jadi orang yang sok berkuasa di perusahaan ini,” sahut Icha.

 

“Heh!? Kalian berdua ini karyawan yang masih magang. Nggak usah macem-macem!” ancam Linda.

 

“Emangnya kenapa kalau masih magang? Kerjaan kita juga sama aja sama karyawan yang lain. Nggak ada perlakuan istimewa buat kami. Kecuali dari orang-orang yang suka menindas kami kayak kamu,” sahut Yuna.

 

“Kamu bener-bener nggak tahu diri ya!” sahut Bellina. “Aku heran, kenapa perusahaan bisa nerima orang kayak kamu. Pasti, kamu udah ngerayu CEO kan?”

 

“Jangan asal nuduh!” sentak Yuna.

 

“Kalau bukan karena ngerayu CEO, nggak mungkin kamu bisa secepat ini pindah dari kantor cabang ke kantor pusat. Kamu ... cuma bisa ngandalin wajah cantik kamu aja buat menarik perhatian semua orang. Sama sekali nggak punya skill lain,” tutur Linda sambil tertawa sinis.

 

Yuna makin geram mendengar ucapan Linda. Bagaimana bisa, seorang sekretaris perusahaan ikut campur urusan pribadi atasannya?

 

“Jangan ngomong sembarangan ya! Yuna bukan orang yang seperti itu!” tegas Icha. Ia berusaha membela Yuna karena mengetahui kalau Yuna selalu serius dan bekerja penuh semangat. Sama sekali tidak ada hubungannya dengan pimpinan perusahaan.

 

“Udah, Cha. Nggak usah kita ladenin. Ntar ketularan gila,” tutur Yuna sambil menarik perlahan tangan Icha dan melangkah pergi.

 

Semua orang yang ada di kantin perusahaan, memandang ke arah Bellina dan Yuna. Mereka hanya menggeleng-gelengkan kepala. Semua orang telah mengetahui hubungan Yuna dan Bellina, mereka sudah bosan menyaksikan pertengkaran dua bersaudara itu.

 

“Mereka selalu aja berantem. Yang satu, mantan pacarnya Bos Lian. Satunya lagi, calon istrinya Bos Lian. Mereka itu kakak-beradik, kenapa nggak bisa akur?” tutur salah seorang karyawan yang juga ada di kantin tersebut.

 

“Kayaknya, setiap kali Bu Bellina datang, selalu aja terjadi keributan. Dia, kayaknya masih cemburu sama Yuna. Lihat aja! Dilihat dari sudut mana aja, Yuna jauh lebih unggul dari Bu Belli. Punya potensi besar buat menarik perhatian Bos Lian lagi.”

 

“Maksudnya ... CLBK gitu?”

 

“Bisa jadi.”

 

“Itu yang bikin Bu Bellina cemburu banget. Setiap berantem, sumber utamanya pasti Bos Lian. Lagian, kenapa Bos Lian itu malah milih Bu Bellina ya?”

 

“Emangnya kenapa?”

 

“Dilihat tiga detik aja, jauh lebih cantik si Yuna daripada Bu Bellina. Yuna juga baik dan ramah sama semua orang.”

 

“Huft, kalau aku sih lebih suka kalau Yuna sama Bos GG itu. Mereka kelihatan serasi. Cantik dan ganteng. Yah ... walau penampilan Yuna sederhana banget.”

 

“Orang kaya, suka cewek yang sederhana kali ya?”

 

“Yang polos kayak Yuna?”

 

“Bisa jadi. Karena ... cewek polos dan sederhana nggak bakalan ngabis-ngabisin duit suami. Jadinya si cowok bisa ambil istri lebih dari satu. Hahaha.”

 

Semua orang tergelak sambil membicarakan Yuna dari sudut ruangan yang agak jauh dan tidak bisa terdengar oleh Yuna dan Bellina.

 

“Kamu ngatain kita apa!?” sentak Linda sambil menarik lengan Yuna.

 

Yuna berbalik menatap Linda dan tersenyum kecil. “Kenapa? Nggak terima?”

 

“Jelas nggak terima! Minta maaf, nggak!?” seru Linda.

 

Yuna langsung menepiskan lengannya dari genggaman tangan Linda. “Minta maaf untuk apa?”

 

“Kamu udah ngatain kita gila.”

 

“Emang iya kan?” dengus Yuna.

 

“Kamu!?” Linda sangat kesal. Ia bersiap memukul Yuna, tapi niatnya ia urungkan saat semua mata tertuju padanya.

 

Yuna tersenyum sinis. “Kalian yang datang dan cari gara-gara duluan. Kenapa aku yang harus minta maaf? Emang sinting!”

 

“Kamu ... perempuan murahan!” seru Linda semakin kesal.

 

“Heh!? Jangan ngatain aku perempuan murahan tanpa bukti! Kamu udah ketularan sama bos kamu ini? Dia yang murahan, tapi ngatain orang lain murahan.”

 

Linda langsung menoleh ke arah Bellina. Kemudian menatap tajam ke arah Yuna. “Kamu ... berani-beraninya ngatain bos kayak gitu!?”

 

“Kenapa nggak berani? Kenyataannya begitu kan? Bahkan, sudah terbukti kalau dia hamil di luar nikah. Belum nikah, tapi udah hamil duluan dan dengan bangganya ngumumkan ke semua orang. Hello ...!? Situ sehat!?” sahut Yuna semakin membuat Linda dan Bellina emosi.

 

“Heh!? Istri simpanan! Kamu, Bener-bener keterlaluan!” sahut Linda. Ia langsung mendorong tubuh Yuna hingga terjatuh.

 

Icha yang ada di dekat Yuna, berusaha menahan tubuh Yuna agar tidak terbentur meja dan kursi. “Aw ...!” teriak Icha saat tangannya terluka.

 

“Kamu nggak papa, Cha?” tanya Yuna saat melihat darah yang keluar dari tangan Icha.

 

“Nggak papa, Yun,” jawab Icha sambil menahan perih.

 

Yuna menatap Linda penuh kebencian, ia bergerak lebih cepat dan menampar pipi Linda sampai tiga kali. Matanya memerah menahan amarah, bahunya terlihat naik turun. Ia mencoba menstabilkan pernapasannya, namun irama hembusan napasnya semakin cepat.

 

“Aku nggak akan biarin kamu ngelukain siapa pun! Dan Hati-hati kalau ngomong!” sentak Yuna. “Aku ini istri sahnya Yeriko. Bukan Istri simpanan! Jangan bikin gosip yang bakal ngerusak citra suamiku!”

 

Linda tersenyum sinis sambil memegangi pipinya yang terasa panas karena cap lima jari yang diciptakan Yuna. “Aku bakal balas ini semua,” tuturnya sambil berlalu pergi.

 

Bellina tersenyum senang melihat pertengkaran Yuna dan sekretarisnya. Ia melangkah pergi keluar dari kantin sambil mengangkat dagunya penuh kesombongan.

 

 

(( Bersambung ... ))

Makasih yang udah baca “Perfect Hero” yang bakal bikin kamu baper bertubi-tubi. Jangan malu buat sapa aku di kolom komentar ya! Kasih kripik ... eh, kritik dan saran juga ya!

 

Much Love

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

Saturday, February 15, 2025

Perfect Hero Bab 121 : Si Cupu Jatuh Hati

 


Yuna terus memerhatikan Icha yang bertingkah tak biasa. Sejak pagi, Icha lebih banyak memainkan ponselnya dan wajahnya terlihat sangat bahagia.

 

Saat jam makan siang, Icha masih saja sibuk dengan ponselnya dan makan lebih lambat dari biasanya. Yuna dan Juan saling pandang penuh tanya sambil memerhatikan Icha yang terus tersenyum sambil menatap layar ponselnya.

 

“Cha, kamu chatting sama siapa sih?” Akhirnya Yuna mengungkapkan rasa penasaran yang ia pendam sejak pagi.

 

“Eh!?” Icha langsung mengangkat wajahnya menatap Yuna. “Chatting sama temen.”

 

“Siapa?”  tanya Yuna penasaran.

 

Icha hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Yuna.

 

“Hawa-hawanya, ada yang lagi jatuh cinta nih,” celetuk Juan. Ia tersenyum kecil sambil melanjutkan makan siangnya bersama Yuna dan Icha.

 

“Sok tahu!” dengus Icha.

 

“Kalau bukan lagi jatuh cinta, ngapain senyum-senyum terus lihat hp? Gila?” sahut Juan.

 

Yuna menghela napas sambil menatap Icha. “Apa aku ini kayak temen yang nggak bisa jaga rahasia? Sampai-sampai, kamu nggak mau cerita kalau lagi deket sama seseorang?”

 

“Mmh ...” Icha menggigit bibir sambil melirik Juan yang ada di sampingnya. “Bukan gitu, Yun. Aku cuma ...”

 

Yuna mengangkat kedua alisnya, menunggu Icha melanjutkan kalimatnya.

 

Icha menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. “Aku ... mmh ...” Icha kembali menggigit bibirnya.

 

“Cha, jangan bikin aku penasaran!” seru Yuna kesal sambil memukul meja di depannya karena tak sabar menunggu kalimat yang keluar dari mulut Icha.

 

Juan menahan tawa melihat Yuna yang mulai kesal karena sikap Icha. Ia merogoh ponselnya yang tiba-tiba berdering. “Halo ...! Iya. Iya, Pak. Saya ke sana sekarang!”

 

Juan mematikan panggilan telepon dan langsung berpamitan untuk pergi terlebih dahulu.

 

“Eh, buruan kasih tahu aku!” sentak Yuna sambil menatap Icha yang memerhatikan kepergian Juan.

 

“Iya.”

 

Yuna memonyongkan bibirnya. Walau mengatakan iya, namun Icha tak segera bercerita. Ia malah asyil membalas chat sambil menikmati makan siangnya.

 

“Icha!” seru Yuna sambil merebut ponsel Icha.

 

“Iih ... Yuna!” Icha berusaha merebut kembali ponselnya dari tangan Yuna.

 

Yuna berusaha mempertahankan ponsel yang ada di tangannya. Mengangkatnya tinggi sambil membaca pesan yang masuk ke ponsel Icha.

 

“Nah, kan... chattingnya mesra banget. Ini siapa? Udah punya pacar baru tapi nggak cerita-cerita,” tutur Yuna.

 

Wajah Icha langsung memerah saat Yuna mengetahui isi pesan yang masuk ke ponselnya. “Aku belum jadian sama dia. Baru deket aja.”

 

“Belum? Berarti ... sebentar lagi bakal jadian?” tanya Yuna antusias.

 

“Mmh ... aku nggak tahu.”

 

“Kenapa?”

 

“Dia itu lucu, asyik, hangat dan penyayang. Tapi ... dia nggak pernah bilang suka sama aku sih. Nggak mungkin kan kalau aku yang bilang suka duluan?”

 

Yuna tersenyum menggoda. “Ah, siapa sih cowok yang udah berhasil menarik perhatian Icha? Pasti bukan cowok sembarangan kan?”

 

Icha tersipu mendengar pertanyaan Yuna. “Kamu kenal, kok.”

 

“Hah!? Serius? Siapa?” tanya Yuna.

 

“Mmh ...” Icha menggigit bibirnya. “Tapi, kamu jangan teriak kalau aku kasih tahu orangnya,” pinta Icha berbisik.

 

Yuna menganggukkan kepala.

 

“Sini!” Icha meminta Yuna mendekatkan telinganya.

 

Yuna langsung menyodorkan telinganya ke wajah Icha.

 

“Cowok itu ... namanya Lutfi,” bisik Icha.

 

Yuna langsung membelalakkan mata dan tersenyum lebar. “Serius?” tanyanya sambil menatap wajah Icha.

 

Icha mengangguk sambil tersenyum.

 

“Lutfi Ananda Putra? Sahabatnya Yeriko?” tanya Yuna lagi.

 

Icha menganggukkan kepala.

 

“Aaargh ...! Aku nggak nyangka kalau dia bisa ...” teriak Yuna sambil melompat kegirangan.

 

“Yuna ...!” Icha membungkam mulut Yuna dan menenangkannya agar tidak bereaksi berlebihan.

 

“Uups! Sorry!” Yuna langsung duduk kembali. “Aku terlalu bahagia dengernya.”

 

“Aku kan udah minta kamu buat nggak teriak, Yun!” pinta Icha berbisik.

 

“Aku khilaf!” sahut Yuna terkekeh. “Eh, ceritain dong! Gimana kalian bisa kenal dan deket!” pinta Yuna.

 

Icha tersenyum dan menceritakan bagaimana pertemuan pertama kalinya dengan Lutfi.

 

Yuna terus tertawa mendengar cerita yang keluar dari mulut Icha.

 

“Eh, ngomong-ngomong ... kenapa ya kita selalu ketemu jodoh di saat yang nggak baik?” tanya Yuna sambil tertawa kecil.

 

“Maksud kamu?”

 

“Waktu pertama kali aku ketemu Yeriko, aku bener-bener lagi dalam keadaan yang payah. Udah kayak gelandangan di pinggir jalan. Waktu itu ... aku juga lagi nangis gara-gara putus sama Lian dan kehujanan. Udah kayak tikus kehujanan. Aku sendiri, malu banget kalau ingat waktu itu. Nggak tahu penampilanku saat itu gimana? Pasti, jelek banget.”

 

Icha ikut tertawa mendengar cerita yang keluar dari mulut Yuna.

 

“Ternyata ... keadaan kamu lebih parah dari aku.”

 

Yuna tergelak. Mereka akhirnya terus bercerita tentang pertemuan pertama kali dengan pria yang akhirnya membuat mereka jatuh cinta.

 

“Eh, kapan-kapan kita makan bareng yuk!” ajak Yuna.

 

“Kita? Kita berdua?” tanya Icha.

 

Yuna tergelak mendengar pertanyaan Icha. “Berempat lah. Masa berdua. Aku bareng Yeriko. Kamu bareng Lutfi. Gimana?”

 

“Mmh ... tapi, aku tuh belum jadian sama Lutfi. Aku malu, Yun.”

 

“Hmm ... tenang aja! Biar aku yang atur semuanya. Gimana?”

 

“Serius?” tanya Icha dengan mata berbinar.

 

Yuna mengangguk pasti.

 

“Ehem ...!” Bellina tiba-tiba sudah berdiri di samping meja Yuna.

 

Yuna menarik napas dalam-dalam. Setiap kali Bellina menghampirinya, artinya ia harus menyiapkan banyak energi untuk bertengkar melawan kakak sepupunya itu.

 

“Pengkhianat perusahaan ini, masih punya muka buat nongol di sini?” celetuk Bellina.

 

Yuna pura-pura tidak mendengar ucapan Bellina.

 

“Cha, katanya di deket sini ada rumah makan yang baru buka ya? Kamu udah cobain ke sana?” tanya Yuna sambil menatap Icha.

 

“Katanya sih. Aku sendiri juga belum pernah ke sana,” jawab Icha. Ia sangat mengerti kalau Yuna tidak ingin meladeni Bellina yang seringkali membuat onar.

 

“Besok kita makan siang di sana ya!” ajak Yuna. “Aku yang traktir.”

 

“Beneran mau traktir?” tanya Icha.

 

Yuna mengangguk sambil tersenyum.

 

“Nggak usah sok kaya! Main traktir-traktir segala,” sahut Bellina. “Kalau emang kamu beneran istrinya pemilik GG. Kenapa malah milih kerja di sini?”

 

“Duh, Cha. Kok, aku kayak denger ada orang yang ngatain aku sok kaya ya? Apa dia nggak tahu kalau aku emang beneran kaya?” tutur Yuna sambil menatap Icha dan melirik sinis ke arah Bellina.

 

Bellina makin kesal dengan ucapan yang keluar dari mulut Yuna. “Heh!? Kamu sengaja nyuekin aku!” sentaknya sambil memukul meja.

 

Yuna kembali menarik napas sambil memejamkan mata. Ia berusaha untuk menahan diri, namun setiap kali Bellina muncul, selalu saja membuat emosinya memuncak.

 

“Dicuekin salah, ngeladeni apalagi,” celetuk Yuna dalam hati.

 

“Kamu masuk perusahaan ini cuma mau jadi mata-mata GG kan? Semua proyek yang kamu pegang, selalu aja bermasalah,” tutur Bellina.

 

“Kamu jangan nuduh tanpa bukti ya! Masalah proyek, aku sudah nyelesaikan dengan baik. Kalau aku mau ngancurin perusahaan ini. Aku nggak perlu jadi mata-mata GG. Aku bisa nyuruh suamiku ambil alih perusahaan ini tanpa harus ngotor-ngotorin tanganku!” sahut Yuna kesal.

 

“Alesan!” sahut Bellina sambil mendorong pundak Yuna. “Semua orang juga tahu kalau kamu istrinya Yeriko. Buat apa kerja di perusahaan lain kalau suami kamu aja sudah punya perusahaan sendiri?”

 

“Bel, kamu nggak capek ya ngungkit ini mulu? Aku udah capek ngeladenin omonganmu,” sahut Yuna.

 

“Aku nggak akan pernah capek sebelum aku berhasil ngedepak kamu dari hidup Lian,” bisik Bellina geram.

 

Yuna tersenyum kecil. “Oh ... ternyata, kamu masih takut kehilangan Lian? Kalau emang kamu punya kemampuan, seharusnya kamu bisa bikin tunangan kamu itu makin lengket sama kamu. Bukannya malah ngelirik perempuan lain!” sahut Yuna geram.

 

“Kamu!?” Bellina menunjuk wajah Yuna kesal. Ia tidak bisa melawan kalimat yang keluar dari mulut Yuna. Senyuman yang tersungging dari bibir Yuna, membuat kebenciannya terhadap Yuna semakin bertambah.

 

(( Bersambung ... ))

Makasih yang udah baca “Perfect Hero” yang bakal bikin kamu baper bertubi-tubi. Jangan malu buat sapa aku di kolom komentar ya! Kasih kripik ... eh, kritik dan saran juga ya!

 

Much Love

@vellanine.tjahjadi

 

 

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas