Sunday, February 16, 2025

Perfect Hero Bab 125 : Kata yang Tertunda || a Romance Novel by Vella Nine

 


“Mmh ... makasih ya! Udah antarin aku sampai rumah,” tutur Icha sambil duduk di kursi ruang tamunya.

 

Lutfi menganggukkan kepala. “Kamu beneran tinggal di sini sendirian?”

 

Icha menganggukkan kepala.

 

Lutfi mengedarkan pandangannya. Ruangan berukuran 6x7 meter itu terlihat sangat rapi. Sepasang sofa di ruang tamu dan televisi menyapanya saat ia baru saja masuk pintu. Di sudut ruangan, ada dapur kecil dan meja makan kecil yang hanya cukup untuk empat orang.

 

“Mmh ... kenapa? Rumah aku terlalu sempit ya?” tanya Icha.

 

“Nggak. Rumah kamu girly banget,” jawab Lutfi sambil memerhatikan beberapa hiasan rumah yang lucu dan hampir semua bernuansa merah jambu.

 

Icha tersenyum ke arah Lutfi. “Oh ya, Kamu mau minum apa?” tanyanya sambil bangkit dari sofa.

 

“Eh!? Nggak usah!” Lutfi langsung menahan lengan Ichs dan memintanya duduk kembali. “Kamu baru aja keluar dari rumah sakit. Lebih baik kamh duduk manis di sini. Aku bisa bikin minum sendiri.”

 

“Mmh ...”

 

“Kamu udah makan?” tanya Lutfi.

 

Icha mengangguk.

 

“Makan siang?”

 

“Iya.”

 

“Mmh ... kalo gitu, kamu minum obat dulu dan istirahat ya!” pinta Lutfi sambil berjalan ke dapur. Mengambilkan segelas air putih untuk Icha.

 

Icha tersenyum bahagia melihat Lutfi. Baru pertama kalinya ada seorang pria tampan yang masuk ke dalam rumahnya. Memberikan begitu banyak perhatian kepada dirinya.

 

Lutfi tersenyum saat Icha sudah selesai meminum obatnya. “Kamu istirahat dulu ya! Aku siapin makanan buat kamu.”

 

“Eh!?” Icha melongo saat mendengar ucapan Lutfi. “Aku udah makan.”

 

“Itu kan makan siang. Sekarang, sudah jam empat sore. Aku siapin makanan buat kamu makan malam. Kamu pergi istirahatlah!” pinta Lutfi.

 

“Tapi ...”

 

“Tangan kamu masih sakit, nggak mungkin bisa masak kan? Biar aku yang masakin.”

 

“Mmh ... “ Icha menggigit bibirnya. “Bisa?”

 

Lutfi mengangguk pasti. “Bisa. Kamu pergi istirahat ke kamarmu aja!”

 

Icha menganggukkan kepala. Ia bangkit dari sofa dan bergegas masuk ke dalam kamar. Perasaannya tidak nyaman, ia takut kalau Lutfi akan membuat kekacauan di dapurnya.

 

Lutfi langsung merogoh ponsel begitu Icha masuk ke dalam kamarnya. Ia mengetik sebuah pesan untuk Yeriko. “Yer, caranya masak gimana?” tanyanya. Ia menunggu balasan Yeriko selama beberapa saat.

 

“Masak apa?”

 

“Buat orang sakit, cocoknya makan apa?”

 

“Buatkan sup atau bubur aja.”

 

Lutfi langsung bangkit dari tempat duduk dan bergegas menghampiri kulkas kecil yang ada di dapur tersebut. Ia menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. “Terakhir aku masak ... waktu pendidikan tentara. Aku udah hampir lupa gimana caranya masak,” keluh Lutfi.

 

Lutfi menarik napas dalam-dalam. “Bismillah ...” Ia mencoba mengingat bagaimana ia memasak terakhir kalinya.

 

Sebenarnya, bisa saja Lutfi menyuruh pembantunya yang memasak dan mengirimkan makanan untuk Icha. Namun kali ini, ia ingin menunjukkan ketulusan hatinya dengan cara memasakkan hidangan spesial untuk Icha walau berbekal resep masakan di internet.

 

 Usai memasak seadanya, Lutfi langsung menyusun semua makanannya di atas meja. Ia kembali duduk di sofa sambil menunggu Icha keluar dari kamarnya.

 

Beberapa menit kemudian, Icha keluar dari kamar dalam keadaan wangi dan segar karena sudah selesai mandi.

 

“Kamu masih di sini?” tanya Icha saat melihat Lutfi masih duduk di sofa sambil memainkan ponselnya.

 

Lutfi langsung menoleh ke arah Icha dan menganggukkan kepala. “Aku nggak tega mau ninggalin kamu sendirian. Udah mandi?”

 

Icha mengangguk sambil tersenyum.

 

Lutfi tertegun melihat wajah cantik Icha yang tak lagi mengenakan kacamata. Bibirnya yang merah merona karena kulitnya yang putih mulus dan mata yang sedikit sipit membuatnya terlihat sangat cantik. Rambut Icha terurai panjang dan terlihat tak seperti biasanya.

 

Icha terus tersenyum menanggapi tatapan mata Lutfi yang tak berkedip. Ia melipat kedua tangan di belakang punggungnya sambil meremas jemari tangannya sendiri. Perasaan gugup tiba-tiba bergelayut saat Lutfi bangkit dan melangkah mendekat.

 

“Cha ...!” panggil Lutfi lirih sambil menatap mata Icha.

 

“Ya.” Icha tersenyum, ia menundukkan kepala, sama sekali tak punya keberanian untuk menatap wajah Lutfi.

 

Lutfi menghela napas. “Masa aku mau nembak dia dalam keadaan kayak gini? Nggak romantis banget,” batin Lutfi sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

 

Icha masih saja menundukkan kepalanya.

 

“Tangan kamu masih sakit?” tanya Lutfi.

 

Icha menganggukkan kepala.

 

Lutfi langsung memejamkan mata. “Pertanyaan apaan ini? Jelas-jelas dia baru aja keluar dari rumah sakit. Pasti lukanya masih sakit,” gumamnya dalam hati. Ia semakin kesal dengan dirinya sendiri karena terlihat sangat konyol.

 

“Mmh ... kita makan dulu. Aku udah masakin buat kamu. Gimana?” tanya Lutfi sambil tersenyum.

 

Icha menganggukkan kepala.

 

Lutfi langsung melangkah menuju meja makan, menarik kursi untuk Icha, kemudian ia duduk berhadapan dengan gadis itu.

 

“Ini ... beneran kamu yang masak?” tanya Icha saat melihat beberapa menu yang sudah terhidang di atas meja.

 

Lutfi menganggukkan kepala. “Aku nggak tahu apakah rasanya cocok di lidah kamu atau nggak. Aku cuma bisa bikin ini.”

 

Icha tersenyum menatap Lutfi. “Ternyata, cowok ganteng juga bisa masak?”

 

“Eh!? Emangnya kalau ganteng itu nggak bisa masak?”

 

Icha tertawa kecil. “Biasanya ... cowok ganteng bisanya cuma mainin cewek.”

 

Lutfi meringis menatap Icha. “Makan, deh! Cobain masakan aku!” pinta Lutfi sambil menyendokkan nasi untuk Icha.

 

Icha menganggukkan kepala sambil tersenyum. Ia mengambil sayur dan lauk menggunakan tangan kiri. Ia tak terbiasa dan sedikit kesulitan.

 

Lutfi menatap Icha dan langsung merebut piring milik Icha. “Sini, aku suapin!”

 

“Eh!? Nggak usah!” sahut Icha. “Aku harus membiasakan diri.”

 

“Aku juga harus membiasakan diri.”

 

Icha langsung menaikkan kedua alisnya. “Maksudnya?”

 

“Mmh ...” Lutfi tersenyum ke arah Icha. “Aku ... cuma pengen membiasakan diriku selalu ada di deket kamu.”

 

Pipi Icha seketika merona saat mendengar ucapan Lutfi.

 

Lutfi tersenyum dan menyuapkan sesendok makanan ke mulut Icha.

 

Icha mengunyah makanan tersebut perlahan, membuat jantung Lutfi hampir lepas dari tempatnya karena takut kalau makanan yang ia buat tidak enak.

 

“Gimana? Enak, nggak?” tanya Lutfi.

 

Icha mengangguk sambil tersenyum. “Enak.”

 

Lutfi menghela napas lega. “Syukur deh, kalo enak. Aku udah lama banget nggak pernah masak. Terakhir aku masak, waktu masih pendidikan tamtama bareng Yeriko sama Chandra.”

 

“Tamtama?” Icha mengernyitkan dahi menatap Lutfi.

 

Lutfi terdiam selama beberapa saat, kemudian menganggukkan kepala. “Aku pernah ikut pendidikan TNI.”

 

“Oh. Jadi, sekarang ini kamu TNI?”

 

Lutfi menggelengkan kepala.

 

“Kenapa? Nggak lulus?”

 

Lutfi menggeleng lagi. “Aku yang bandel. Aku keluar dari angkatan prajurit TNI karena mau nerusin bisnis orang tua aku.”

 

“Oh ya? Bisnis apa?”

 

“Villa sama hotel.”

 

“Wah ... berarti kamu punya banyak villa sama hotel?”

 

Lutfi menggelengkan kepala. “Nggak juga. Aku cuma punya satu hotel di Jakarta dan beberapa villa di Pulau Jawa sampai Nusa Tenggara. Rencananya, aku mau bikin villa di daerah Kalimantan. Masih cek lokasi.”

 

“Kalimantan?” Icha mengernyitkan dahinya. “Bukan karena orang tua aku tinggal di Kalimantan, kan?” batinnya dalam hati.

 

Lutfi menganggukkan kepala. “Aku udah survei beberapa tempat sejak setahun yang lalu. Eh, kamu kan orang Kalimantan. Kira-kira, tempat yang cocok buat bikin villa di sana di mana ya?”

Icha menggelengkan kepala. “Aku nggak paham soal begituan.”

“Mmh ... kalau Pulau Derawan. Menurut kamu gimana?”

Icha menggeleng lagi. “Aku yang orang Kalimantan aja belum pernah ke sana. Jadi, nggak tahu.”

Lutfi tersenyum kecil sambil menatap Icha. “Ya sudah. Habiskan makannya!” pinta Lutfi.

Icha menganggukkan kepala.

Lutfi mengajak Icha untuk membicarakan hal yang bisa dimengerti oleh Icha. Membicarakan tentang teman-teman sepergaulan dan keluarga mereka. Semakin lama, Icha terlihat lebih santai dan tak canggung lagi saat berhadapan dengan Lutfi.

 

(( Bersambung ... ))

Makasih yang udah baca “Perfect Hero” yang bakal bikin kamu baper bertubi-tubi. Jangan sungkan buat sapa aku di kolom komentar ya! Kasih kripik ... eh, kritik dan saran juga ya!

 

Much Love

@vellanine.tjahjadi

 

Perfect Hero Bab 124 : Perhatian Lutfi untuk Icha || a Romance Novel by Vella Nine

 


“Cha, kamu nggak papa?” tanya Lutfi saat ia tiba di rumah sakit dan mendapati Icha sedang duduk di kursi ruang tunggu bersama Yuna. Ia terlihat sangat khawatir dan langsung memeriksa semua tubuh Icha.

 

“Nggak papa. Cuma luka sedikit,” jawab Icha sambil melihat tangannya yang sudah dibalut perban.

 

Yuna dan Yeriko saling pandang saat melihat reaksi Lutfi yang khawatir berlebihan.

 

“Kenapa kamu bisa luka kayak gini?” tanya Lutfi. “Di kantor kamu itu ada preman? Kenapa ada karyawan bar-bar yang dipekerjakan di sana? Bener-bener nggak punya perasaan. Bisa-bisanya kamu berantem sampai luka kayak gini? Emangnya berantem gara-gara apa sih?” cerocos Lutfi.

 

Icha hanya meringis sambil menatap Yuna. Ia merasa, kali ini Lutfi jauh lebih cerewet dari Yuna. Otaknya tidak bisa mencerna setiap pertanyaan yang keluar dari mulut Lutfi.

 

Yuna menahan tawa melihat sikap Lutfi. “Ternyata, ada juga lebih bawel dari aku,” celetuknya.

 

“Eh!?” Lutfi langsung menoleh ke arah Yuna.

 

“Dia baru aja dapet perawatan dokter. Kalau kamu kasih pertanyaan sebanyak itu, bukan cuma tangannya yang sakit. Semua badannya jadi sakit semua,” tutur Yuna.

 

Lutfi langsung berjongkok di hadapan Icha. “Kamu nggak papa?” tanyanya lembut.

 

Icha tersenyum sambil menganggukkan kepala.

 

Lutfi tersenyum kecil. Ia meraih jemari tangan Icha. “Lain kali, harus lebih hati-hati.”

 

Icha menganggukkan kepala.

 

“Gimana ceritanya bisa berantem?” tanya Lutfi lembut.

 

“Gara-gara aku,” sahut Yuna.

 

Lutfi langsung menoleh ke arah Yuna.

 

“Aku yang berantem sama Bellina duluan. Icha belain aku dan berantem sama sekretarisnya Bellina. Si Linda dorong aku sampai jatuh. Harusnya, aku yang luka kalau bukan Icha yang melindungi aku,” tutur Yuna sambil menundukkan kepalanya.

 

Icha menatap Yuna. “Yun, kamu nggak perlu menyalahkan diri kamu sendiri. Sebagai teman, aku nggak mungkin ngebiarin temanku ditindas sama orang lain kan?”

 

Yuna tersenyum menatap Icha. “Makasih, ya! Kamu emang temen yang paling baik.” Ia langsung merangkul tubuh Icha.

 

Lutfi dan Yeriko tersenyum menyaksikan pertemanan Yuna dan Icha yang begitu hangat.

 

“Mmh ... aku mau nebus obat ke apotek dulu. Kalian tunggu di sini ya!” Yuna bangkit dari tempat duduknya.

 

“Aku temenin.” Yeriko langsung merangkul pinggang Yuna dan menemani istrinya menebus obat di apotek.

 

“Mmh ... menurut kamu, Lutfi sama Icha cocok nggak?” tanya Yuna sambil melangkahkan kakinya bersama Yeriko.

 

“Hmm ... cocok.”

 

“Iih ... serius!” pinta Yuna sambil menepuk lengan Yeriko.

 

“Iya, serius.”

 

“Hehehe. Kayaknya ... mereka ada something, deh. Aku mencium aroma-aroma cinta di antara mereka,” tutur Yuna sambil tersenyum bahagia.

 

“Sok tahu!” Yeriko langsung mengetuk dahi Yuna.

 

Yuna memonyongkan bibir sambil mengelus dahinya. “Kamu nggak lihat, tadi si Lutfi perhatian banget ke Icha?”

 

“Dia begitu ke semua orang.”

 

“Termasuk temen cewek juga? Emangnya, nggak ada seseorang yang spesial di hatinya?”

 

Yeriko mengedikkan bahunya. Ia merangkul Yuna dan mengajaknya melangkah kembali menuju apotek. “Daripada sibuk ngomongin orang lain. Lebih baik kita nebus obat secepatnya.”

 

Yuna menganggukkan kepala. Mereka bergegas menukar resep ke apotek.

 

“Ma, gimana dong kalau dia tahu aku nggak hamil beneran?”

 

Yuna membelalakkan mata saat mendengar suara wanita yang sudah tak asing lagi di telinganya. Ia memutar kepalanya perlahan dan melirik ke arah sumber suara yang ada di belakangnya.

 

“Kenapa?” tanya Yeriko.

 

“Sst ...!” Yuna menundukkan kepala. “Jangan noleh ke belakang!” bisik Yuna.

 

Yeriko bergeming dan menuruti ucapan Yuna.

 

“Sayang, kamu tenang aja! Kamu harus lebih pintar mendekati dia dan bisa dapetin anak dari dia. Cuma dengan cara ini, dia bakal menikahi kamu secepatnya dan kita bisa kuasai hartanya dia.”

 

“Iya, Ma. Aku bakal bikin dia percaya sama aku. Tapi ... usia kehamilan nggak mungkin bisa aku sembunyikan.”

 

“Tenang aja! Mama bakal mengusahakan semuanya aman dan terkendali!”

 

Yuna mendengarkan dengan serius pembicaraan dua orang yang melintas di belakangnya.  Semakin lama, pembicaraan mereka semakin jauh dan tidak terdengar lagi.

 

Yuna langsung menghela napas lega.

 

“Mbak, ini obatnya!” Apoteker menyodorkan obat kepada Yuna.

 

“Makasih. Berapa?” tanya Yuna sambil melihat angka yang tertera di atas kwitansi. Ia langsung mengeluarkan beberapa uang dari dompetnya.

 

“Ayo!” Yuna mengajak Yeriko kembali menemui Lutfi dan Icha.

 

“Mmh ... kamu tadi denger pembicaraan Bellina sama tante aku?” tanya Yuna sambil menoleh ke arah Yeriko.

 

Yeriko menganggukkan kepala.

 

Yuna menghela napas. “Mereka bener-bener ngelakuin segala cara buat dapetin harta Lian. Menurut kamu, apa aku harus ngasih tahu Lian soal ini?”

 

Yeriko tersenyum kecil. “Aku rasa, itu urusan pribadi mereka. Lebih baik kita nggak ikut campur.”

 

“Tapi ... Bellina bener-bener cuma mau hartanya Lian doang. Kasihan juga keluarga Lian kalau sampai ...”

 

Yeriko menghentikan langkahnya, ia memutar tubuh menghadap ke arah Yuna. “Kamu masih peduli sama dia?”

 

“Eh!?” Yuna langsung menengadahkan kepalanya menatap Yeriko. “Bukan!” Ia melambaikan tangannya ke hadapan Yeriko. “Bukan gitu maksud aku! Aku cuma nggak bisa lihat orang lain jadi korban kelicikan dan kejahatan sepupuku. Aku ...”

 

Yeriko tak menghiraukan ucapan Yuna dan langsung melangkah pergi.

 

Yuna melongo saat melihat Yeriko tiba-tiba meninggalkannya begitu saja. “Ngambek lagi? Euuuh ...!” Yuna memukul dahinya sendiri dan langsung berlari kecil mengikuti langkah Yeriko.

 

“Cha, ini obat kamu!” Yuna tersenyum sambil menyodorkan kantong obat ke hadapan Icha.

 

“Makasih ya, Yun! Jadi ngerepotin kamu.”

 

“Sudah jadi tanggung jawabku, Cha. Harusnya aku yang makasih karena kamu sudah nolongin aku,” sahut Yuna. Ia tersenyum manis ke arah Icha.

 

“Oh ya, kamu antar Icha pulang ya! Biar dia bisa istirahat,” pinta Yuna sambil menatap Lutfi.

 

Lutfi menganggukkan kepala, ia terlihat sangat gembira karena bisa berdekatan dengan wanita yang ia sukai.

 

“Yer, pinjam mobilnya!” pinta Lutfi sambil menengadahkan tangannya ke hadapan Yeriko.

 

Yeriko tersenyum kecil. Ia merogoh saku celana dan memberikan kunci mobilnya kepada Lutfi.

 

“Mobil kamu ke mana?” tanya Yuna.

 

“Di kantornya dia. Ntar, kamu bawa mobilku balik ya!” Lutfi memainkan kedua alis sambil melemparkan kunci mobil miliknya ke hadapan Yeriko.

 

Yuna mengerutkan kening sambil memandang Lutfi dan Yeriko. “Kenapa tadi nggak bawa mobil sendiri ke sini? Kita baliknya gimana?”

 

“Hehehe. Tadi tuh udah panik. Kakak Ipar kayak nggak pernah panik aja. Aku nggak kepikiran bawa mobil sendiri. Langsung ikut masuk aja ke mobil Yeriko.”

 

Icha menahan tawa mendengar ucapan Lutfi.

 

“Kalian bisa naik taksi buat ambil mobilku atau nyuruh supir kantor antarkan ke sini,” tutur Lutfi sambil memainkan kedua alis dan tersenyum manis.

 

“Kamu ini, bener-bener ngerepotin!” dengus Yuna.

 

Lutfi tertawa kecil sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “ Ya udah, kalo gitu ... gimana kalau kita pulang barengan aja?”

 

Yuna menggelengkan kepala. “Aku masih mau lihat ayah dulu.”

 

“Oh.” Lutfi mengangguk-anggukkan kepalanya. “Kalo gitu, kami pulang dulu!” pamitnya sambil membantu Icha untuk bangkit dan memapahnya.

 

“Aku bisa jalan sendiri,” tutur Icha. “Yang luka tanganku, bukan kakiku.”

 

Lutfi meringis ke arah Icha dan langsung melepaskan tangannya dari lengan Icha. Ia menarik napas dalam-dalam, kemudian menghembuskannya perlahan. “Deketin cewek baik emang susah ya? Megang tangannya aja jadi masalah,” batin Lutfi dalam hati.

 

Lutfi tersenyum ke arah icha dan bergegas mengantarkan Icha pulang.

 

Yeriko tersenyum kecil dan ikut melangkahkan kakinya.

 

“Beruang!” panggil Yuna. Ia berlari kecil mengimbangi langkah Yeriko dan langsung merangkul lengan suaminya. “Kamu marah?” tanyanya sambil menatap wajah Yeriko.

 

Wajah Yeriko masih saja datar dan membuat Yuna sangat canggung. Ia langsung menghadang langkah Yeriko.

 

“Beruang ... eh!? Sayangku ... My honey bunny sweety! Jangan marah ya!” pinta Yuna sambil memainkan kedua matanya.

 

Yeriko menatap tajam ke arah Yuna selama beberapa saat. “Kamu masih peduli sama mantan kamu. Gimana aku nggak marah?”

 

Yuna memonyongkan bibirnya. “Seandainya dia bukan mantan aku. Aku tetep peduli sama dia sebagai teman. Aku nggak tega lihat ...” Yuna langsung menghentikan ucapannya saat Yeriko merengkuh tubuhnya.

 

“Ayo, kita lihat ayah kamu!” bisik Yeriko.

 

Yuna menganggukkan kepala. Mereka berjalan menyusuri koridor rumah sakit sambil bergandengan tangan dengan mesra.

 

(( Bersambung ... ))

Makasih yang udah baca “Perfect Hero” yang bakal bikin kamu baper bertubi-tubi. Jangan sungkan buat sapa aku di kolom komentar ya! Kasih kripik ... eh, kritik dan saran juga ya!

 

Much Love

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas