Thursday, January 23, 2025

Bab 21 - Si Kecil Pemberani

 


“Aku akan lapor ke atasan kalau ada karyawan baru yang ngelawan aku.”

 

“Oh ya?” Yuna tersenyum sambil menunjukkan rekaman suara yang ada di ponselnya.

 

Bellina membelalakkan mata dan berusaha merebut ponsel Yuna.

 

“Eits!” Yuna menarik tangannya, menjauhkan ponselnya dari tangan Bellina dan menyimpannya ke dalam saku roknya. “Kalo kamu berani macem-macem sama aku. Aku bakal bikin semua orang tahu, siapa kamu sebenernya,” tutur Yuna sambil tersenyum ke arah Bellina.

 

Bellina mengeratkan gigi-giginya, menahan emosi menghadapi Yuna yang semakin berani melawan dirinya.

 

Yuna menjulurkan lidah dan langsung membuka pintu. Ia bergegas keluar dari ruangan Bellina.

 

Yuna mengerjapkan mata saat mendapati beberapa karyawan sudah berkumpul di depan pintu ruangan Bellina. “Ada apa?” tanya Yuna.

 

“Mmh ... kami denger suara ribut dari dalam. Kamu nggak papa?” tanya Selma.

 

“Nggak papa,” jawa Yuna sambil tersenyum. “Biasa lah. Aku kan karyawan baru. Dimarahin sama atasan, itu hal biasa,” lanjutnya sambil meringis.

 

Selma menghela napas. “Syukurlah!”

 

“Semuanya bubar ya! Silakan kembali ke meja kerja masing-masing!” pinta Yuna sambil tersenyum manis.

 

Bellina makin geram dengan sikap Yuna. Ia bangkit dari lantai, berjalan tertatih menuju kursi kerjanya. “Kurang ajar! Tunggu pambalasanku!”

 

Bellina melangkah perlahan, mengambil kotak P3K yang ada di sudut ruangannya. Ia mengambil alkohol dan kapas untuk membersihkan luka di lututnya. Kemudian membalutnya dengan perban yang telah diberi antiseptic.

 

Bellina kembali duduk di meja kerjanya. Ia masih merasa sangat kesal dengan sikap Yuna yang terus melawannya. “Kamu kira, karena udah jadi istri orang kaya, kamu bisa seenaknya aja!?” maki Bellina.

 

Bellina meraih kopi yang ada di atas meja dan langsung menyesapnya.

 

“Uweeek ...!” Bellina langsung memuntahkan isi mulutnya saat mendapati rasa mustard ada di dalam Capuccino Coffee miliknya.

 

Bellina mengeratkan gigi-giginya sambil mengepalkan tangan. “AYUUUNAAA ...!!!” Suara Bellina menggelegar ke seluruh ruangan.

 

Semua orang saling pandang, kemudian menatap Ayuna yang menahan tawa mendengar teriakan Bellina.

 

“Kopinya aku kasih mustard. Hahaha.” Yuna tertawa penuh kemenangan. Ia tak terus memegangi perutnya yang menggelitik.

 

“Ckckck, cuma kamu satu-satunya karyawan yang berani ngerjain Bu Belli.” Pak Tono mengacungkan dua jempol ke arah Yuna.

 

Yuna terkekeh geli. Ia membayangkan wajah Bellina yang sedang marah di ruangannya karena meminum mustard di kopinya.

 

“Kamu nggak takut dipecat? Kamu baru magang dua hari di sini,” tanya Selma.

 

Yuna mengedikkan bahunya. “Lihat aja nanti! Dia bakal mecat aku atau nggak?”

 

“Ckckck.” Selma geleng-geleng kepala melihat sikap Yuna yang terlihat santai setelah berhasil mengerjai Bellina.

 

“Aku pikir, kamu itu polos. Nggak bakal ngelawan balik dikerjain sema Bu Belli. Ternyata ... jagoan juga,” tutur Bagus.

 

“Kalo nggak salah, nggak ada yang perlu ditakutkan.” Yuna tersenyum ke arah Bagus.

 

“Iya, sih.” Bagus menggaruk kepalanya yang tidak gatal, kemudian berbalik dan kembali menghadap komputernya.

 

Yuna terus tersenyum sembari melanjutkan pekerjaannya.

 

“Yun, ke kantin yuk!” ajak Selma dan Bagus saat jam makan siang. Yuna mengangguk.

 

Yuna dan dua rekan kerja seruangannya langsung bergegas ke kantin yang ada di lantai bawah. Mereka memesan beberapa makanan dan duduk di satu meja.

 

“Yun, aku boleh nanya sesuatu?” tanya Selma berbisik.

 

“He-em, tanya aja!” jawab Yuna sambil mengunyah makanan di mulutnya.

 

“Apa bener gosip yang beredar kalau Pak Lian itu ... mantan pacar kamu?”

 

Yuna menganggukkan kepala.

 

Selma dan Bagus saling pandang. “Pantes aja dia sentimen banget sama kamu.”

 

Bener kalau kamu sudah nikah?”

 

Yuna menganggukkan kepala.

 

Selma dan Bagus saling pandang.

 

“Kenapa? Kalian juga mikir kalau aku ini istri simpanannya Oom-Oom kaya?”

 

“Mmh ... bukan gitu maksud kami. Cuma ...” Selma tak bisa melanjutkan ucapannya.

 

Yuna tertawa kecil. “Kalau aku jadi istri simpanannya Oom-Oom kaya. Aku nggak akan ada di sini dan ketemu sama kalian.”

 

“Hmm ... iya juga, sih,” sahut Bagus.

 

“Tapi ... setiap kali kamu berantem sama Bellina, dia sering ngatain kamu istrinya Oom-Oom kaya.”

 

Yuna tertawa kecil. “Biarlah dia mau ngomong apa. Kenyataannya nggak kayak gitu.”

 

“Terus ... suami kamu ... bukan laki-laki tua yang kaya raya?” tanya Bagus.

 

Yuna menggelengkan kepala. “Mmh ... nggak tua-tua banget sih. Cuma selisih empat tahun sama aku.”

 

“Umur kamu sekarang berapa?”

 

“Dua puluh empat.”

 

“Jadi, dia baru umur dua puluh delapan?”

 

Yuna menganggukkan kepala.

 

“Yaelah, itu sih masih muda!” seru Selma.

 

“Eh, yang ngurusin soal produktivitas tenaga kerja siapa ya?” tanya Yuna, ia mengubah topik pembicaraan mereka.

 

“Aku.” Bagus menunjuk dirinya sendiri.

 

“Dia.” Selma menunjuk Bagus bersamaan.

 

“Abis jam istirahat, kamu ajari aku ya!” pinta Yuna.

 

“Ajari apa?”

 

“Ya itu ... laporan kamu soal produktivitas tenaga kerja.”

 

“Bukannya itu di luar jobdesc kamu?”

 

“Iya, aku juga tahu. Tapi si Nenek Lampir itu nyuruh aku pelajari soal kerjaan kamu. Katanya, semuanya ada keterkaitannya.” Mereka pun beranjak dari kantin dan kembali bekerja.

 

Ponsel Yuna tiba-tiba berdering. Yuna langsung menoleh ke arah ponselnya yang berdering di atas meja kerjanya.

 

“Halo ...!” sapa Yuna begitu panggilan teleponnya tersambung.

 

“Pulang kerja jam berapa?”

 

Yuna menoleh ke arah jam dinding yang ada di ruangan tersebut. “Setengah jam lagi. Kenapa?”

 

“Aku jemput kamu.”

 

“Oke.” Yuna tersenyum mendengar ucapan Yeriko.

 

“Oke. Bye!” Yeriko langsung mematikan sambungan teleponnya.

 

Yuna tersenyum sambil meletakkan ponsel di dadanya.

 

“Ciyee ... telepon dari siapa? Senyum-senyum sendiri,” goda Selma.

 

“Dari suami tercintaaah!” sahut Yuna sambil tersenyum gembira. Ia kembali menghampiri Bagus dan melanjutkan pekerjaannya mempelajari laporan-laporan yang dikerjakan oleh Bagus.

 

Beberapa menit kemudian, jam kerja usai. Yeriko sudah tiba di lobby kantor Yuna.

 

Yeriko membukakan pintu untuk Yuna dari dalam, ia enggan turun dari mobil dan menunjukkan diri di depan banyak orang.

 

Yuna langsung masuk dan menutup kembali pintu mobil. “Udah lama nunggunya?” tanyanya sambil memasangkan safety belt ke pinggangnnya.

 

“Nggak. Baru aja sampai, kok.”

 

Yuna tersenyum menatap Yeriko. “Oh ya, Riyan mana?”

 

“Masih di kantor.”

 

“Kamu nyuruh dia lembur?”

 

Yeriko tak menjawab.

 

“Riyan itu anak yang baik dan lucu. Kamu jangan menindas dia! Lagian, udah beberapa hari ini aku nggak ada lihat dia.”

 

“Kenapa? Kangen sama dia?”

 

Yuna menganggukkan kepala.

 

Yeriko langsung menoleh ke arah Yuna. Ia menahan mulutnya untuk bicara. “Kamu itu istri aku, bisa-bisanya ngangenin cowok lain terang-terangan?” batin Yeriko sambil mencengkeram setir dan menambah kecepatan mobilnya.

 

“Kenapa? Kamu cemburu?” tanya Yuna sambil tertawa kecil menatap Yeriko.

 

“Eh!? Enggak.” Yeriko menggelengkan kepala.

 

Yuna tersenyum kecil menatap Yeriko.

 

Ponsel Yeriko tiba-tiba bergetar dan mengeluarkan nada dering ‘Sencha’ yang khas.

 

“Halo ...!”

 

“Halo ... ntar malam jadi, Yer?”

 

“Jadi.”

 

“Oke. Aku tunggu di tempat biasa.”

 

“He-em.” Yeriko langsung mematikan sambungan teleponnya.

 

“Ada janji sama temen kamu?”  tanya Yuna

 

Yeriko menganggukkan kepala. “Kita pulang dulu, mandi dan langsung nyusul mereka.”

 

“Kita?”

 

“Iya, kita.”

 

“Itu ... yang telepon siapa?”

 

“Lutfi.”

 

“Temen baik kamu itu?”

 

Yeriko menganggukkan kepala. “Kenapa?”

 

“Nggak papa. Aku ... nggak usah ikut ya? Aku malu ketemu sama mereka.”

 

Yeriko tersenyum menatap Yuna. “Malu kenapa? Aku ngajak mereka ketemu, sengaja pengen kenalin kamu ke mereka.”

 

Yuna meringis, ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

 

“Nggak usah malu! Cuma Chandra sama Lutfi doang. Nggak ada yang lain.”

 

“Serius?”

 

Yeriko menganggukkan kepala.

 

Yuna tersenyum menatap Yeriko. Ia tak bisa menolak permintaan Yeriko. “Nggak papa deh kalau cuma dua orang aja,” bisiknya dalam hati.

 

Yeriko tersenyum menatap  Yuna. Ia mempercepat laju mobilnya agar bisa sampai rumah secepatnya.

 

(( Bersambung ... ))

Makasih yang udah baca “Perfect Hero” yang bakal bikin kamu baper bertubi-tubi. Jangan malu buat sapa aku di kolom komentar ya! Kasih kripik ... eh, kritik dan saran juga ya!

 

Much Love

@vellanine.tjahjadi



 

 

 

 

 

 

Bab 20 - Serangan Balik

 


Bellina melihat Yuna turun dari mobil Land Rover putih milik Yeriko. “Yuna ...!” teriaknya. Ia kesal melihat Yuna diantar dengan mobil mewah oleh suaminya.

 

Yuna langsung menoleh ke arah Bellina dan bergegas menghampirinya.

 

“Cepet masuk kerja! Udah jam berapa ini?”

 

Yuna menganggukkan kepala. Suasana hatinya sedang baik dan ia tidak ingin berdebat dengan Bellina.

 

“Belikan aku Capuccino, antar ke ruanganku!” perintah Bellina sambil berlalu pergi.

 

Yuna menghela napas sambil memutar bola matanya. Ia bergegas ke kantin terlebih dahulu untuk memesan kopi. Kemudian, ia naik ke atas sambil membawakan secangkir kopi capuccino untuk Bellina.

 

“Pagi ...!” sapa Yuna saat masuk ke ruangannya.

 

“Pagi juga!” sahut teman-teman seruangannya secara serentak.

 

“Eh, pagi-pagi udah beli kopi aja nih,” celetuk Selma.

 

“Pesenannya Bu Bos,” sahut Yuna.

 

“Bellina?”

 

Yuna menganggukkan kepala.

 

“Dia itu aneh. Dikira kamu OB apa ya? Setiap hari suruh bawain kopi ke ruangannya.”

 

Yuna tersenyum. Ia meletakkan tasnya ke atas meja dan melangkah pergi. “Tenang aja! Dia nggak bakal betah ngerjain aku terus-terusn.”

 

Selma, Bagus, dan Pak Tono menatap Yuna yang keluar dari ruangannya.

 

“Eh, kamu yakin si Yuna bakal betah kerja di sini kalau dia digituin terus sama Bu Belli?” tanya Bagus.

 

Selma mengedikkan bahunya. “Kita lihat aja nanti!”

 

“Dia itu polos, baik, dan rajin juga. Kenapa Bellina sampai segitu bencinya sama Yuna? Ckckck,” sahut Pak Tono.

 

“Takut kalah saing mungkin,” tutur Bagus sambil cekikikan.

 

“Kalah saing gimana?” tanya Selma sambil membenarkan posisi kacamatanya.

 

“Yuna itu kan cantik banget. Siapa tahu aja dia takut tersaingi. Kemarin, aku lihat mereka berdebat di depan Pak Lian,” tutur Bagus.

 

“Serius!?”

 

Bagus menganggukkan kepala.

 

“Pak Lian belain siapa?”

 

“Ya pasti belain pacarnya,” jawab Bagus.

 

“Eh, tapi ... aku denger-denger ... si Yuna ini mantan pacarnya Pak Lian, loh.”

 

“What!? Serius!?”

 

Selma menganggukkan kepala.

 

“Berarti, kemungkinan besar memang ada dendam pribadi antara Bu Belli dan Yuna.”

 

“Sudah, kerja, kerja! Jangan gosipin orang terus!” sergah Pak Tono.

 

Selma dan Bagus menahan tawa. Mereka kembali fokus bekerja dengan pikirannya masing-masing.

 

Sementara itu, Yuna melangkah dengan pasti memasuki ruangan Bellina. Ia tidak akan membiarkan Bellina terus menindas dan mempermalukan dirinya. Berkat Yeriko, ia memiliki keberanian lebih untuk melawan Bellina.

 

“Permisi ...!” Yuna membuka pintu ruangan Bellina. Ia tersenyum manis sambil melangkahkan kaki mendekati meja Bellina. Ia langsung meletakkan kopi yang ia bawa ke atas meja kerja Bellina.

 

“Makasih!” tutur Bellina ketus tanpa menoleh ke arah Yuna.

 

“Syukur deh kalo dia lagi sibuk, mudahan lupa,” batin Yuna sambil berbalik dan melangkah perlahan.

 

“Tunggu!” seru Bellina.

 

Yuna menghentikan langkah sambil menghela napas. Ia berbalik dan tersenyum ke arah Bellina. “Ada apa, Bu?” tanyanya sambil tersenyum manis.

 

“Nggak usah pura-pura manis di depanku!” sentak Bellina. “Duduk!” perintahnya sambil menunjuk kursi yang ada di depannya menggunakan dagu.

 

Yuna tersenyum kecut. Ia langsung duduk di kursi yang ditunjuk Bellina. “Ini yang namanya kursi panas? Udah kayak lagi di dalam studio Who Wants to Be a Millionare aja,” batin Yuna. Jantungnya berdegup kencang, namun ia tetap berusaha bersikap santai.

 

“Tugas yang kemarin aku suruh sudah dikerjain?” tanya Bellina.

 

“Sudah.”

 

“Soal Job Description kamu, sudah dihafalin?”

 

Yuna menganggukkan kepala.

 

“PPH 21 perhitungannya gimana?”

 

“PKP Setahun setelah dikurangi PTKP dikali lima persen, dibagi dua belas bulan,” jawab Yuna.

 

Bellina menatap Yuna. Ia tidak menyangka kalau Yuna bisa menjawab pertanyaannya dengan mudah. Ia mengajukan beberapa pertanyaan lagi dan bisa dijawab dengan lancar oleh Yuna.

 

“Gimana cara menghitung produktivitas tenaga kerja?” tanya Bellina.

 

“Eh!?” Yuna menggaruk kepalanya. “Bukannya itu nggak masuk di job aku?”

 

“Semuanya saling berkaitan. Kamu bikin perhitungan tunjangan, premi dan potongan upah karyawan. Pastinya pengaruh ke produktivitas tenaga kerja, dong.”

 

Yuna menggigit bibir bawahnya. Ia hanya fokus mempelajari job description pekerjaannya saja dan belum sempat mempelajari job description rekan kerja yang lain.

 

“Kamu nggak serius mau kerja di sini? Masih banyak main-main!” sentak Bellina.

 

Yuna menahan amarah, ia menatap Bellina kesal.

 

“Oh ... aku tahu, pasti karena sekarang sudah jadi istri mudanya sugar daddy, makanya kamu nggak serius mau kerja di sini.”

 

“Aku nggak pernah bilang begitu,” sahut Yuna. “Lagian, aku baru dua hari masuk kerja. Wajar kalau aku emang belum tahu kerjaan yang lainnya.”

 

Bellina tersenyum sinis menatap Yuna. “Alasan! Kamu pikir, aku percaya gitu aja sama kamu? Aku juga nggak bakalan takut sama kamu meskipun kamu diantar pakai mobil mewah ke kantor. Mobil itu, pasti punya laki-laki tua yang kaya raya itu kan? Kamu sengaja minta antar ke kantor biar semua orang tahu kalau kamu orang kaya!?”

 

Yuna merapatkan bibir dan langsung menggebrak meja Bellina. “Heh! Kalo ngomong jangan sembarangan ya! Aku memang bukan orang kaya. Tapi aku nggak se-matre kamu!” sentak Yuna. “Kamu deketin Lian, bahkan sampe rela ngasih tubuh kamu ke dia juga karena uang yang dia punya kan? Kalau Lian bukan pewaris Wijaya Group, apa kamu mau tidur sama dia, hah!?”

 

“Kamu juga mau nikah sama Oom-Oom kaya demi duit kan? Masih mending Lian kali. Daripada nikah sama laki-laki tua bangka. Apa kata dunia? Kelihatan banget kalo kamu cuma mau duitnya aja!” sahut Bellina.

 

Yuna memainkan bibirnya mengikuti ucapan Bellina.

 

“Seenggaknya, aku nggak tidur sama pacar orang!” sahut Yuna. “Kasihan banget sih kamu. Cuma demi harta, kamu rela ngasih tubuh kamu ke pacarnya orang lain. Udah gitu, pacar adik sepupu kamu sendiri? Kenapa? Nggak laku sama yang lain? Masih mending cewek-cewek di Dolly, mereka masih lebih laku daripada kamu!”

 

“Kamu ...!?” Bellina menunjuk wajah Yuna. “Bener-bener nggak tahu diri!”

 

“Kamu yang nggak tahu diri!” sahut Yuna. Ia makin membusungkan dada melawan Bellina. “Udah ngambil pacar orang, masih aja nggak ngerasa bersalah sama sekali. Dasar Pelakor!”

 

“Kamu!? Bener-bener udah berani sama aku, hah!?” Bellina melayangkan tangannya ke wajah Yuna.

 

Dengan cepat, Yuna menahan tangan Bellina dan mencengkeram sangat erat. “Jangan macam-macam sama aku! Kamu tahu kan, aku ini istrinya orang yang kaya raya. Perawatan kulitku mahal banget,” tutur Yuna sambil tersenyum. Membuat Bellina semakin emosi menatap Yuna.

 

(( Bersambung ... ))

 

 

 

 

 

Bab 19 - Masih Canggung

 


Sinar mentari kembali menyapa Yuna di pagi hari. Sinar hangat menyentuh pipi Yuna yang lembut. Yuna tersenyum sambil memejamkan mata. Ia merasa sangat nyaman dan enggan beranjak dari tempat tidurnya.

 

Tiba-tiba, Yuna membuka mata dan melebarkan kelopak matanya. Ia menatap jendela kamar yang tirainya perlahan bergerak terbuka.

 

“Jam berapa ini?” Yuna langsung menoleh ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul setengah tujuh pagi. Ia baru menyadari kalau tirai kamarnya selalu terbuka secara otomatis.

 

“Duh, aku kesiangan lagi.” Yuna langsung turun dari tempat tidur. Ia buru-buru merapikan tempat tidur.

 

“Beres. Tinggal mandi.” Yuna berbalik dan langsung menabrak Yeriko yang baru saja kembali dari lari pagi.

 

“Baru bangun?” tanya Yeriko.

 

“Hehehe.” Yuna menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

 

Yeriko langsung melepas t-shirt yang dia kenakan.

 

Yuna langsung mengerjapkan mata dan berbalik. Ia menutup wajah dengan kedua telapak tangannya. “Kenapa lepas baju di sini sih?” gumam Yuna.

 

Yeriko tersenyum kecil. “Kamu lucu banget sih? Kita udah nikah. Emangnya nggak boleh buka baju depan istri sendiri?”

 

“Eh!? Bu … bu … bukan gitu. A … a … ak … u … aku …” Yuna kesal dengan dirinya sendiri. Ia tak bisa menutupi rasa gugup yang menyelimuti hatinya.

 

Yeriko semakin senang melihat ekspresi Yuna yang canggung. Ia langsung memeluk Yuna dari belakang.

 

Yuna membelalakkan matanya. Ia tak bisa menahan degup jantungnya yang semakin kencang. “Astaga! Jantungku bisa copot dari tempatnya kalo kayak gini,” batin Yuna.

 

Yeriko tersenyum kecil melihat pipi Yuna yang mulai merona. “Kamu belum mandi?”

 

Yuna menggelengkan kepala.

 

“Kenapa jam segini belum mandi. Nunggu aku mandiin?” bisik Yeriko.

 

“Eh!?” Yuna menggelengkan kepalanya. Ia langsung melepas lengan Yeriko dan berlari ke kamar mandi dengan wajah yang memerah.

 

“Mandinya cepet! Aku mau mandi juga!” teriak Yeriko dari balik pintu kamar mandi.

 

Yuna langsung menoleh ke arah pintu. “Iya. Sebentar lagi selesai,” sahutnya.

 

Yuna bergegas melepas pakaiannya dan langsung mandi.

 

Beberapa menit kemudian, Yuna keluar dari kamar mandi. Ia melirik Yeriko yang masih bersandar di sisi pintu dan masih bertelanjang dada.

 

“Ganti baju! Tunggu aku di bawah!” perintah Yeriko sambil masuk ke dalam kamar mandi.

 

Yuna menganggukkan kepala. Ia bergegas mengganti pakaiannya. Kemudian turun ke lantai bawah.

 

“Pagi, Bi!” sapa Yuna.

 

“Pagi ... sudah bangun?” tanya Bibi War sambil menyusun sarapan pagi di atas meja.

 

Yuna menganggukkan kepala. “Aku bantu, ya!”

 

Bibi War tersenyum menatap Yuna yang terlihat ceria dan bersemangat menyiapkan sarapan pagi.

 

“Ini ... kopi buat Yeriko?” tanya Yuna.

 

Bibi War menganggukkan kepala.

 

“Taruh sini aja, Bi! Aku ganti susu aja ya!”

 

“Tapi, Mbak. Nanti Mas Yeri marah sama Bibi kalo nggak dibikinin kopi.”

 

Yuna tersenyum menanggapi ucapan Bibi War. “Bilang aja aku yang ganti. Aku mau lihat, dia marahnya kayak apa?”

 

“Ah, Mbak Yuna bisa aja. Mas Yeri kalo marah serem banget!”

 

“Oh ya?”

 

“Iya. Kayak singa.”

 

Yuna tergelak sambil membuat dua gelas susu. “Nanti aku jinakin.”

 

“Ah, Mbak Yuna bisa aja. Kalo deket Mbak Yuna, dia jadi kayak kelinci. Penurut dan banyak senyum.”

 

“Oh ya? Emangnya dia jarang senyum, Bi?”

 

“Jarang. Bibi yang udah lama ngerawat Mas Yeri dari kecil aja jarang banget lihat dia senyum. Sebulan sekali belum tentu. Semenjak kenal sama Mbak Yuna, dia banyak berubah.”

 

“Oh ya? Apa aja yang berubah?” tanya Yuna penasaran.

 

“Ya itu ... yang tadi. Jadi sering senyum dan ... biasanya si Riyan udah ke sini pagi-pagi banget buat jemput Mas Yeri ke kantor. Akhir-akhir ini, dia bawa mobil sendiri dan antar jemput Mbak Yuna juga. Mendadak jadi supir pribadi,” bisik Bibi War.

 

Yuna tergelak mendengar ucapan Bibi War. “Ah, Bibi bisa aja.”

 

Bibi War terkekeh. “Sst ...! Mas Yeri udah turun. Jangan bilang kalau Bibi bocorin rahasianya ya!”

 

Yuna mengangguk sambil tersenyum. Ia membawa dua gelas susu ke atas meja makan.

 

Yeriko duduk di salah satu kursi dan Yuna duduk di sebelahnya. Ia mengernyitkan dahi melihat segelas susu yang ada di hadapannya.

 

“Kopiku mana?” tanya Yeriko.

 

Yuna tersenyum menatap Yeriko. “Aku ganti pakai susu. Lebih sehat buat kamu.”

 

“Oh.” Yeriko langsung mengambil gelas susu dan menyesapnya.

 

“Kenapa?” tanya Yuna saat melihat ekspresi wajah Yeriko yang kurang senang.

 

Yeriko tersenyum menatap Yuna. “Pagi-pagi minum susu enak juga. Apalagi kalau ...” Yeriko menatap dada Yuna.

 

Yuna langsung menutupi dadanya. “Nggak usah macem-macem!” dengusnya.

 

Yeriko tertawa kecil.

 

“Dasar mesum,” celetuk Yuna.

 

“Apa?”

 

“Eh, nggak papa,” jawab Yuna meringis.

 

Yeriko mendekatkan wajahnya ke wajah Yuna. “Aku ini suami kamu. Kamu tega ngatain aku mesum? Bukannya ... seharusnya kamu memang melayani suami kamu dengan baik?”

 

Yuna melebarkan kelopak matanya. “Ta ... ta .. tapi ... aku ...”

 

Yeriko tersenyum kecil dan mengecup bibir Yuna.

 

Yuna balas tersenyum. “Kamu selalu memperlakukan aku begitu manis. Gimana aku bisa nolak?” bisiknya dalam hati sambil menggigit bibir bawahnya.

 

“Kenapa ngelamun? Nggak mau sarapan?” tanya Yeriko sambil menyuap makanan ke mulutnya.

 

“Eh!?” Yuna gelagapan dan langsung ikut menikmati sarapan pagi bersama dengan Yeriko. Untuk pertama kalinya, ia merasakan sarapan pagi yang begitu manis dan indah.

 

Yeriko, bukan pria yang mudah mengatakan cinta. Namun, sikapnya terhadap Yuna telah menunjukkan kalau ia sangat mencintai gadis itu. Sekalipun ia tak pernah mengatakannya.

 

Usai sarapan pagi. Yeriko mengantar Yuna pergi ke tempat kerjanya.

 

“Yang semalam udah kamu pelajari?” tanya Yeriko.

 

Yuna menganggukkan kepala.

 

“Apa yang kamu ingat?”

 

“Eh!?” Yuna menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Aku ketiduran ...” lanjutnya lirih.

 

Yeriko tersenyum kecil sambil menatap wajah Yuna yang duduk di sampingnya.

 

“Gimana kamu menghadapi atasan kamu?” tanya Yeriko.

 

Yuna menghela napas. “Entahlah,” jawabnya tak bersemangat.

 

Yeriko tersenyum kecil menatap Yuna. Ia mulai menjelaskan tentang pekerjaan yang ia hadapi di kantornya.

 

“Kamu kemarin tanya soal perhitungan BPJS Ketenagakerjaan kan?”

 

Yuna menganggukkan kepala.

 

“Semua perusahaan peraturannya pasti sama. 5.74% ditanggung perusahaan, 2% ditanggung pekerja untuk JHT-nya.”

 

Yuna mengangguk-anggukkan kepala. Ia mengambil notes dan pena dari dalam tasnya.

 

“Persentasenya diambil dari gaji bruto atau netto?” tanya Yuna.

 

“Tergantung kebijakan perusahaan.”

 

“Maksudnya?”

 

“Setiap perusahaan punya kebijakan yang berbeda untuk pelaporan upah karyawannya. Yang wajar, gaji pokok ditambah lembur dan tunjangan. Agak ribet ngerjainnya karena upahnya pasti berubah setiap bulan setiap karyawannya. Yang paling mudah, laporkan gaji pokoknya saja karena perubahan upahnya nggak setiap bulan.”

 

Yuna mengangguk-anggukkan kepala.

 

Yeriko kembali menjelaskan soal sistem BPJS Kesehatan dan perpajakan yang harus dikerjakan di perusahaannya.

 

Yuna menatap Yeriko dengan mata berbinar. Ia merasa sangat hangat dan semakin mengagumi Yeriko.

 

“Kenapa malah lihatin aku kayak gitu?” tanya Yeriko.

 

“Nggak papa. Pengen lihatin aja.” Yuna menopang dagu dengan punggung tangannya sambil menatap Yeriko.

 

Yeriko tersenyum sambil mengusap ujung kepala Yuna. “Sudah sampai,” ucapnya sambil menghentikan mobilnya di depan kantor PT. Raya Wijaya.

 

Yuna tersenyum sambil menganggukkan kepala. Ia masih menatap Yeriko yang duduk di sampingnya. “Nggak nyangka, aku punya bakal punya suami yang ganteng, pinter dan perhatian banget. Kayak mimpi yang jadi kenyataan. Bener-bener pangeran berkuda putih yang mengagumkan,” batin Yuna.

 

Yeriko melambaikan tangannya ke wajah Yuna. “Hei ... kenapa malah ngelamun!?”

 

“Eh ... oh ... eh ... sudah sampai ya?” Yuna gelagapan dan langsung melepas safety belt miliknya.

 

Yeriko tersenyum kecil menatap Yuna.

 

“Makasih ya, udah anterin aku!” tutur Yuna sambil membuka pintu mobil.

 

Yeriko menganggukkan kepala. “Selamat bekerja!”

 

Yuna menganggukkan kepala. Ia berhenti bergerak dan berbalik menatap Yeriko.

 

“Ada apa lagi?”

 

Yuna menyondongkan tubuhnya ke arah Yeriko dan mencium pipi cowok itu. Dengan cepat, ia langsung keluar dari mobil Yeriko. Menutup kembali pintu mobil mobil Yeriko.

 

Yuna melambaikan tangan saat Yeriko mulai menjalankan mobilnya kembali meninggalkan halaman kantor Yuna.

 

(( Bersambung ... ))

Baca terus kisah seru mereka ya! Jangan lupa kasih Star Vote juga biar aku makin semangat nulis dan bikin ceritanya lebih seru lagi. Makasih yang udah baca “Perfect Hero” yang bakal bikin kamu baper bertubi-tubi. Jangan malu buat sapa aku di kolom komentar ya! Kasih kripik ... eh, kritik dan saran juga ya!

 

Much Love

@vellanine.tjahjadi

 

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas