Thursday, January 23, 2025

Bab 24 - Lelap di Pelukmu

 


Wilian kembali ke dalam private room, menemui Bellina yang sedang makan bersamanya.

 

“Kamu kenapa?” tanya Bellina saat mendapati pipi Lian memar.

 

“Abis berantem sama suaminya Yuna.”

 

“Mereka ada di sini juga?” tanya Bellina.

 

Lian menganggukkan kepala.

 

“Mereka tuh sama-sama sarkas ya? Kemarin, Yuna bikin kakiku lecet kayak gini. Sekarang, suaminya bikin kamu luka juga. Bener-bener pasangan yang keterlaluan!”

 

Lian melirik ke arah Bellina sambil mengelus pipinya yang terasa ngilu.

 

“Kita harus bikin perhitungan sama mereka,” tutur Bellina. “Oh ya, bukannya suami Yuna udah tua ya? Kenapa dia masih punya kekuatan buat mukul kamu?”

 

“Tua apanya!?” sentak Lian sambil menatap Bellina.

 

Bellina terkejut mendapati reaksi Lian. “Bu ... bukannya ...?”

 

“Dia masih muda. Badannya tinggi kekar, kulitnya bersih dan dia juga ganteng. Kamu itu nggak pernah bener-bener tahu suaminya Yuna itu siapa!?”

 

Bellina mengerjapkan matanya. Ia tidak tahu siapa sebenarnya suami Yuna. “Mmh ... aku belum pernah lihat, sih. Tapi ... yang aku tahu, Mama udah jodohin dia sama Oom-Oom kaya raya itu. Aku sama sekali nggak tahu kalau ...”

 

“Lain kali, cari informasi yang bener dulu!”

 

Bellina menganggukkan kepala. “Iya, Sayang. Sorry ...!” ucapnya sambil bergelayut manja di pundak Lian.

 

“Yuna ...! Kamu sudah nikah dan Lian masih aja mikirin kamu. Aku nggak akan ngebiarin Lian kembali sama kamu lagi. Lian harus jadi milikku sepenuhnya. Selamanya ...” bisik Bellina dalam hati.

 

Lian langsung memeluk tubuh Bellina. Pikirannya justru melayang, membayangkan wajah cantik Yuna dan kisah manis yang pernah terjalin di antara mereka. Hatinya semakin merasa bersalah pada Bellina yang selalu mendampinginya setiap waktu.

 

Lian menghela napas perlahan. “Entah kenapa, semakin lama aku makin nggak bisa ngelupain Yuna,” tuturnya dalam hati.

 

Bellina tersenyum, ia menengadahkan kepalanya menatap Lian dan mengecup bibir Lian.

 

Lian tersenyum dan langsung melumat bibir Bellina penuh gairah.\

 

Sementara itu ... Yuna, Yeriko, Chandra dan Lutfi keluar dari restoran.

 

“Kita mau pindah ke mana?” tanya Lutfi.

 

“Kayanna aja!” jawab Yeriko.

 

“Oke.”

 

Mereka berempat bergegas berjalan menuju ke parkiran.

 

“Yer, kita satu mobil aja!” pinta Lutfi. “Suruh Riyan ambil mobilmu di sini!”

 

Yeriko mengangguk dan langsung mengajak Yuna masuk ke dalam mobil Lamborghini merah milik Lutfi.

 

Lutfi langsung melajukan mobilnya menuju Kayanna Restaurant & Cafe yang berjarak sekitar 3.4 km dari Shangri-La Hotel.

 

Yuna menoleh ke arah Yeriko yang duduk di sampingnya. Ia menarik-narik ujung baju Yeriko.

 

“Kenapa?” tanya Yeriko sambil menoleh ke arah Yuna.

 

“Masih marah?” tanya Yuna pelan.

 

Yeriko menggelengkan kepala.

 

“Aku sama dia sudah nggak ada hubungan apa-apa. Kamu jangan marah-marah!” pinta Yuna sambil menyandarkan dagunya ke pundak Yeriko.

 

“Aku nggak marah.”

 

“Kenapa harus pindah tempat makan?”

 

“Biar lebih santai dan nggak ada gangguan.”

 

“Beneran nggak marah?” tanya Yuna manja.

 

Yeriko menganggukkan kepala. Ia tersenyum dan mengecup kening Yuna.

 

Yuna tersenyum, ia menyandarkan kepalanya di dada Yeriko sambil merangkul pinggang cowok itu.

 

Yeriko mengelus rambut Yuna dengan lembut.

 

“Kakak Ipar, aku baru tahu kalau Yeriko ternyata cemburuan. Dia nggak pernah pacaran. Aku nggak pernah lihat kesel kayak gini gara-gara mantan pacar istrinya. Hahaha.” Lutfi tergelak sambil melirik dua sejoli yang duduk di belakang lewat spion.

 

“Udah, deh. Nggak usah dibahas lagi! Ntar gigi taring sama cakarnya dia kelua lagi!” sahut Yuna.

 

Lutfi dan Chandra tergelak mendengar ucapan Yuna.

 

“Cuma kamu yang bisa bikin dia jinak,” tutur Lutfi.

 

“Sst ...!” Yuna tidak ingin membuat Yeriko semakin kesal. “Nanti bisa pindah restoran sampe lima kali kalau kalian bikin dia kesal lagi!” dengusnya.

 

Yeriko hanya tertawa kecil mendengar candaan Yuna dan kedua sahabatnya.

 

“Halah ... gampang aja kalo mau bikin dia nggak kesel,” tutur Lutfi.

 

“Oh ya? Gimana caranya?” tanya Yuna pensaran.

 

“Kasih ciuman aja!”

 

“Masa sih?” tanya Yuna sambil menahan tawa.

 

“Iya. Nggak percaya? Coba aja!”

 

Yuna dan Yeriko saling pandang sambil tersenyum.

 

“Kamu tuh ya, bisa aja ...” tutur Yuna sambil menoyor pundak Lutfi.

 

Yuna terdiam saat Yeriko menarik tengkuknya dan melumat bibir Yuna.

 

Lutfi dan Chandra langsung menoleh ke belakang. Mereka tertawa tanpa suara melihat Yeriko yang mencium Yuna dengan mesra.

 

“Huft ... pasangan ini bener-bener hatiku ngilu,” tutur Lutfi sambil memukul dadanya sendiri.

 

Yeriko menghentikan ciumannya. Ia menoleh ke arah Lutfi yang duduk di belakang kemudi. Yeriko tersenyum kecil dan langsung merengkuh kepala Yuna ke dadanya.

 

Sesampainya di Kayanna Resto & Cafe, mereka langsung menuju salah satu meja yang sudah dipesan oleh Chandra.

 

“Kakak Ipar mau makan apa?” tanya Lutfi sambil menatap Yuna.

 

“Dessert aja,” jawab Yuna. “Nggak usah pesen makanan banyak-banyak lagi ya!”

 

“Pesen Chan!” perintah Lutfi sambil menyodorkan buku menu ke arah Chandra.

 

Chandra tersenyum kecil dan langsung menerima buku menu dari tangan Lutfi.

 

“Mbak ...!” Chandra langsung memanggil pelayan restoran. Ia memesan beberapa minuman dan makanan untuk mereka.

 

Yuna memerhatikan Chandra yang sedang memesan makanan.

 

“Tenang, Chandra punya selera yang tinggi. Dia nggak akan pesen makanan banyak kayak aku,” tutur Lutfi sambil menatap Yuna.

 

Yuna memonyongkan bibirnya menatap Lutfi. “Awas aja kalo ngabisin duit suamiku lagi!”

 

“Hahaha.” Lutfi dan Chandra tergelak, begitu juga dengan Yeriko.

 

“Nyonya Yeri nggak boleh perhitungan sama temen,” bisik Yeriko di telinga Yuna.

 

“Tapi ...”

 

Yeriko tersenyum sambil mengerdipkan mata ke arah Yuna.

 

Beberapa menit kemudian, mereka bertiga langsung menyantap makan malam yang terhidang di atas meja.

 

“Yer, masih sore ini. Kita main yuk!” ajak Lutfi.

 

Yuna menoleh ke arah Yeriko. “Sore apanya? Ini udah jam sepuluh malam, Lut.”

 

Lutfi tertawa kecil. “Baru jam sepuluh.”

 

“Main apa?” tanya Yeriko.

 

“Aku bawa kartu. Main kartu yuk!”

 

“Ayok! Main jenderal ya!” sahut Chandra.

 

Yeriko dan Lutfi menganggukkan kepala.

 

Lutfi langsung mengeluarkan kartu dari kantong jasnya. Mereka bertiga asyik bermain kartu sambil bercerita.

 

Yuna memangku wajah, ia mulai bosan melihat tiga orang pria yang sedang bermain kartu. Ia menguap beberapa kali.

 

Yeriko menoleh ke arah Yuna yang duduk di sampingnya. Ia langsung menarik tubuh Yuna masuk ke dalam pelukannya.

 

“Heh!? Jangan terlalu mesra di depan umum!” seru Lutfi. “Nggak kasihan sama yang jomlo?”

 

Yuna tertawa kecil menanggapi ucapan Lutfi. Ia semakin senang melihat ekspresi wajah Lutfi saat kesal.

 

“Makanya, cepet nikah!” sahut Yeriko.

 

“Dikira cari istri kayak beli kerupuk,” celetuk Lutfi.

 

“Eh, bukannya kemarin malam waktu kamu telepon, cewek bar banyak?” tanya Yeriko menggoda.

 

“Sialan! Bajingan juga pengen punya istri yang baik.”

 

Mereka tertawa.

 

Yeriko tertawa kecil. Ia menatap Yuna yang sudah tertidur lelap di pelukannya.

 

“Nikah enak ya? Ada yang dipeluk kalau tidur,” tutur Lutfi sambil menatap wajah Yuna.

 

“Eh, kamu dapet dia di mana?” bisik Lutfi sambil menatap wajah Yuna. “Kita tahu kamu nggak pacaran dan nggak deket sama siapa pun. Kenapa bisa nikahin cewek secantik dan seimut ini?”

 

Yeriko tersenyum kecil. “Karena dia baik, polos dan apa adanya.”

 

“Kamu kenal dia di mana?” tanya Lutfi penasaran.

 

“Di pinggir jalan.”

 

“Hah!? Udah kenal berapa lama?”

 

“Seminggu.”

 

“Seminggu kenal, kamu langsung nikahin dia?”

 

Yeriko menganggukkan kepala.

 

“Gila ya! Apa kamu nggak takut kalau dia ternyata ...?”

 

“Aku udah tahu semua data pribadinya dia. Dia baru balik dari Melbourne. Ibunya meninggal dalam kecelakaan sebelas tahun lalu. Kecelakaan yang bikin ayahnya lumpuh sampai sekarang.”

 

Lutfi dan Chandra serius menyimak.

 

“Kalian tahu Wijaya Group?”

 

Lutfi dan Chandra menganggukkan kepala.

 

“Sebelum kecelakaan terjadi, status ayah Yuna adalah direktur utama di Wijaya Group,” tutur Yeriko pelan.

 

“Oh.” Lutfi dan Chandra manggut-manggut.

 

Mereka terus bercerita serius soal beberapa usaha dan perusahaan yang biasa mereka tangani sambil bermain kartu.

 

(( Bersambung ... ))

Makasih yang udah baca “Perfect Hero” yang bakal bikin kamu baper bertubi-tubi. Jangan malu buat sapa aku di kolom komentar ya! Kasih kripik ... eh, kritik dan saran juga ya!

 

Much Love

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

Bab 23 - Jadilah Simpananku

 


“Kakak Ipar, kenapa mau nikah sama laki-laki pencemburu kayak gini!?” seru Lutfi. Ia mencengkeram lengan Yeriko dan berusaha melepaskan diri.

 

“Sudah, jangan ribut!” Chandra menengahi. “Kalau masih ribut, aku bawa Yuna ke private room sebelah,” goda Chandra.

 

“Nggak usah cari masalah ya!” tutur Yeriko menahan tawa.

 

Chandra, Lutfi dan Yeriko tergelak bersama.

 

Yuna tersenyum kecil melihat ketiga teman baik itu saling bersenda-gurau. “Aku pikir, si Beruang Kutub ini nggak punya teman selain Riyan. Ternyata, dia punya teman dekat yang sangat akrab. Aku harap, dia nggak pernah kesepian,” batin Yuna.

 

Lutfi langsung menoleh ke arah pintu saat pelayan mengantarkan wine ke atas meja makan mereka.

 

“Makasih, Mbak!” tutur Lutfi. Ia segera duduk dan menuangkan wine ke beberapa gelas yang tersedia.

 

“Mari kita bersulang untuk pernikahan Yeriko dan Ayuna!” seru Lutfi sambil mengangkat gelasnya.

 

Yeriko, Yuna dan Chandra langsung meraih gelas yang sudah terisi wine dan ikut mengangkat gelas. Meteka bersulang untuk satu perubahan dalam kehidupan Yuna dan Yeriko.

 

“Kemarin aku ke Kodam, pada nanyain kamu,” tutur Chandra sambil menatap Yeriko.

 

“Oh ya? Ketemu siapa aja?”

 

“Eh, kamu main ke sana, kenapa nggak ajak aku?” sahut Lutfi.

 

“Kamu sibuk gitu.”

 

“Nggak. Aku nggak sibuk-sibuk banget. Bisa kali diselain waktunya. Ketemu si Lou Han nggak?” tanya Lutfi.

 

“Lou Han?” Chandra mengerutkan keningnya.

 

“Itu ... yang mulutnya suka monyong-monyong kayak ikan lou han. Yang dulu sering berantem sama kita. Namanya siapa itu ya? Aku lupa nama aslinya.”

 

“Oh ... si Danang Setiawan?” tanya Chandra.

 

“Iya. Apa kabar tuh dia?” tanya Lutfi.

 

“Baik. Badannya udah gemukan sekarang.”

 

“Bisa gemuk juga dia?” tanya Lutfi sambil menuang wine lagi ke dalam gelasnya.

 

“Yah, nggak gemuk-gemuk banget. Badannya udah lumayan berisi dan berotot.”

 

“Jadi apa dia sekarang?”

 

“Sertu.”

 

“Yah, sesuai lah sama dia yang agak males-malesan.”

 

“Kayak kamu rajin-rajinnya aja!” sahut Yeriko.

 

“Yee ... aku gitu?” Lutfi membusungkan dada. “Jelas aku pemalas. Makanya baru tamtama langsung keluar,” ucapnya dengan nada yang semakin rendah.

 

Yuna ikut tersenyum kecil melihat Lufti.

 

“Kakak Ipar ngerti?” tanya Lutfi melihat Yuna yang ikut menertawakannya.

 

“Eh!?”

 

“Yeriko aja, yang udah jadi Brigadir harus berhenti demi ngurus perusahaan. Padahal kan enak jadi tentara. Nggak usah pusing mikirin bisnis. Nggak enaknya yang jadi istrinya. Kalo ada daerah konflik, ditinggal perang mulu.”

 

“Kakak Ipar mau kalau dia balik ke dunia militer?” tanya Lutfi sambil menatap Yuna.

 

Yuna menoleh ke arah Yeriko.

 

Yeriko tersenyum sambil merangkul pundak Yuna. “Nggak. Aku nggak balik ke sana lagi.”

 

“Haduh ... bisa nggak jangan mesra-mesraan di depan kita? Nggak kasihan sama jomblo?” tutur Lutfi. Ia mendekati Chandra dan merangkulnya dengan mesra.

 

Yuna dan Yeriko tertawa geli melihat tingkah dua sahabatnya.

 

Tiga sahabat itu terus bercanda.

 

“Mmh ... aku ke toilet sebentar,” bisik Yuna di telinga Yeriko.

 

Yeriko menganggukkan kepala.

 

Yuna bangkit, ia keluar dari private room dan berjalan perlahan menuju toilet.

 

Yuna langsung menghentikan langkahnya saat berpapasan dengan Lian. Ia berbalik, berusaha menghindari Lian.

 

“Yuna!” panggil Lian sambil meraih lengan Yuna dan menggenggamnya sangat erat.

 

“Lepasin!” sentak Yuna sambil berusaha melepaskan pergelangan tangannya yang dicengkeram oleh Lian.

 

Lian memeluk tubuh Yuna dari belakang, kemudian menyandarkan tubuh Yuna ke dinding koridor yang menuju ke toilet.

 

“Kamu mau ngapain?” tanya Yuna sambil menatap Lian.

 

Lian tersenyum menatap Yuna. “Udah lama kita nggak sedekat ini. Apa kamu mau jadi simpananku?” bisik Lian.

 

“Dasar cowok brengsek! Sampe kapan pun, aku nggak akan pernah mau lagi sama kamu. Sekali pun cuma kamu satu-satunya cowok di dunia ini!” sentak Yuna.

 

“Bukannya kamu juga jadi simpananya Oom-Oom? Kenapa nggak jadi simpananku aja?”

 

PLAK ...!

 

Yuna langsung menampar pipi Lian sekuat tenaga.

 

Lian memegangi pipinya sambil menatap Yuna penuh amarah. Ia semakin menekan tubuh Yuna dan memaksa mencium Yuna.

 

Yuna terus memberontak. “Lian, aku udah nikah. Kamu juga udah tunangan sama Bellina. Jangan jadi cowok murahan kayak gini!” seru Yuna. Ia menendang Lian dengan lututnya.

 

“Aw ...! Kamu ... sekarang makin kasar ya? Tapi aku makin suka.” Lian makin menekan tubuh Yuna ke dinding dan memaksa mencium Yuna.

 

Yuna terus memberontak. “Lepasin! Aku udah nikah, kamu nggak usah ganggu aku lagi!” seru Yuna.

 

BUG ...!

 

Kepalan tangan Yeriko langsung mendarat di pipi Lian.

 

Tubuh Yuna gemetar, ia langsung berlari dan berlindung ke belakang tubuh Yeriko.

 

Lian menatap Yeriko kesal. “Kamu siapa, hah!? Ikut campur urusan orang!” serunya sambil melayangkan kepalan ke wajah Yeriko.

 

Dengan mudah, Yeriko menangkap kepalan tangan Lian dan mencengkeram dengan erat. “Aku suaminya Yuna,” ucapnya sambil tersenyum sinis.

 

Lian makin melebarkan kelopak matanya menatap Yeriko. “Aku ini pacarnya Yuna!” serunya.

 

“Mantan!” sahut Yuna kesal.

 

Yeriko mendorong kepalan tangan Lian hingga Lian tersungkur ke lantai. Ia merangkul Yuna dan berbalik.

 

“Kurang ajar!” umpat Lian. Ia bangkit dan berlari ke arah, bersiap mendaratkan kepalan tangannya ke kepala Yeriko.

 

Yeriko langsung menoleh ke belakang dan menghindari pukulan dari Lian. Ia menangkap lengan Lian dan memutarnya sekuat tenaga.

 

“Aw ... Aw ...! Sakit!” seru Lian.

 

“Kamu mau apa? Mau kupatahin tangan sama kakimu!” bisik Yeriko kesal.

 

“Nggak ... nggak. Sorry ...! Aku tadi cuma iseng doang,” sahut Lian sambil menahan sakit.

 

Yeriko tersenyum sinis. “Iseng? Kamu berani isengin istri orang!?”

 

Lian terdiam sambil berusaha melepaskan tangannya dari cengkeraman Yeriko yang begitu kuat.

 

“Jawab!” teriak Yeriko.

 

Lian menggelengkan kepala. “Iya, aku nggak akan ganggu kalian lagi. Maaf!”

 

Yeriko langsung mendorong tubuh Lian hingga menabrak dinding.

 

“Mampus!” maki Yuna sambil menjulurkan lidahnya ke arah Lian.

 

“Awas kalian ya!” seru Lian dalam hati.

 

Yeriko langsung mengajak Yuna pergi sambil membusungkan dada. “Aku nggak akan ngebiarin siapa pun melukai Yuna!” tegasnya dalam hati sambil melirik Lian yang terlihat payah.

 

Yeriko mengajak Yuna kembali ke privat room.

 

“Hei, kenapa mukamu dilipat tujuh belas kayak gitu?” tanya Lutfi saat Yeriko duduk di sofa.

 

“Itu cowok ngeselin banget. Beraninya dia gangguin Yuna!” sahut Yeriko. Ia menuang wine ke dalam gelas dan menenggaknya.

 

“Siapa Yer? Perlu aku bantu? Kayaknya udah lama nggak berantem sama orang nih,” tutur Lutfi.

 

Yeriko tak menjawab pertanyaan Lutfi.

 

“Mantanku,” jawab Yuna lirih.

 

“Eh!?” Lutfi dan Chandra saling pandang. Kemudian, mereka tertawa bersama.

 

“Kenapa ketawa? Ada yang lucu!?” sentak Yeriko makin geram.

 

“Ternyata masih saingan sama mantannya?”

 

Yeriko geram, ia langsung melempar bungkus rokok ke arah Lutfi. “Pindah tempat yuk!”

 

“Eh!? Ke mana?”

 

“Cari restoran lain yang lebih nyaman. Males aku di sini.”

 

“Tapi ... udah pesen makan, Yer.”

 

“Iya. Banyak pula si Lutfi pesen makanannya,” sahut Chandra.

 

“Biar aja!”

 

“Yer ...!” Yuna menggenggam tangan Yeriko. “Bukannya makanan itu tetap harus dibayar?” tanya Yuna dalam hati.

 

Yeriko tak menghiraukan Yuna. Ia mengeluarkan kartu dari dompet dan memberikannya pada Lutfi. “Bayar!” perintahnya.

 

“Beneran ini mau pindah?” tanya Lutfi sambil meraih kartu kredit milik Yeriko.

 

“Kapan aku pernah bercanda?” Yeriko langsung bangkit dari tempat duduk dan menggandeng Yuna keluar dari restoran.

 

(( Bersambung ... ))

Makasih yang udah baca “Perfect Hero” yang bakal bikin kamu baper bertubi-tubi. Jangan malu buat sapa aku di kolom komentar ya! Kasih kripik ... eh, kritik dan saran juga ya!

 

Much Love

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

Bab 22 - Perayaan Kecil Bersama Sahabat

 


“Kayaknya, besok harus ke rumah Jheni, deh,” tutur Yuna sambil menatap tubuhnya di depan cermin usai mandi dan berganti pakaian.

“Kenapa?” tanya Yeriko yang baru keluar dari kamar mandi dan hanya mengenakan handuk.

“Eh!?” Yuna langsung menutup wajahnya melihat Yeriko bertelanjang dada. “Nggak papa. Aku tunggu di bawah ya!” Ia langsung menyambar tas dan bergegas keluar dari kamar.

Yeriko tersenyum kecil melihat wajah Yuna yang canggung setiap kali melihat tubuhnya yang tidak mengenakan pakaian. “Ayuna ... Ayuna ...!” Yeriko menggeleng-gelengkan kepala. Ia membuka lemari pakaian, memilih pakaian yang ingin ia kenakan.

Yeriko berjalan perlahan menuruni anak tangga setelah selesai berganti pakaian. Ia menghentikan langkahnya saat mendengar Yuna sedang berbicara lewat telepon dengan seseorang.

“Jhen, besok kamu di rumah?” tanya Yuna lewat telepon.

“Kenapa?” tanya Jheni.

“Aku mau ambil baju. Baju yang kupake cuma ini-ini aja. Bosen kan lihatnya. Apalagi, Yeriko ngajak aku keluar. Malu kalo pake baju ini lagi ... ini lagi.”

Jheni tergelak dari balik telepon. “Aku di rumah sore. Pulang kerja ya!”

Yuna mengangguk. “Oke. Pulang kerja, aku ke rumah kamu deh.”

“Kamu beneran mau pindahan?”

“Jhen, aku kan udah nikah. Nggak mungkin tinggal sama kamu terus. Nggak enak sama suami aku. Lagian, pakaianku juga nggak banyak-banyak amat. Cuma satu koper itu doang yang aku bawa dari Melbourne.”

“Iya ... iya. Yang sekarang udah punya suami, lupa sama temen. Kalo baju kamu nggak di rumah aku, pasti nggak bakal ke sini kan?”

“Ya ampun, Jheni. Kamu itu my best friend forever. Kalau nggak ada kamu, aku udah beneran jadi gelandangan. Jangan ngomong gitu, dong! Aku jadi ngerasa bersalah banget,” ujar Yuna. Mereka pun tergelak.

Yeriko tersenyum mendengar pembicaraan Yuna dan sahabatnya. Ia langsung menghampiri Yuna.

“Udah kelar?” tanya Yuna sambil menatap Yeriko dan menjauhkan ponsel dari telinganya. “Jhen, aku pergi dulu ya! Ntar aku telepon lagi. Bye!” Yuna langsung mematikan panggilan teleponnya.

“Telepon sama siapa?” tanya Yeriko sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Yuna.

“Jheni,” jawab Yuna tegang. Ia tertegun mendapati tatapan Yeriko yang begitu dekat.

Yeriko tersenyum menatap Yuna. “Kita berangkat sekarang!” pintanya sambil mengecup bibir Yuna.

Pipi Yuna terasa begitu hangat setiap kali Yeriko memberikan kecupan manis di bibirnya. Ia tak bisa menahan bibirnya untuk tersenyum.

Yeriko meraih jemari tangan Yuna dan membawa gadis itu keluar dari rumah. Ia membukakan pintu mobil untuk Yuna dan menutupnya kembali setelah memastikan Yuna duduk dengan baik.

Yeriko mengitari mobil, ia membuka pintu dan duduk di belakang kemudi. Yeriko menyalakan mesin mobil dan bergegas keluar dari halaman rumahnya.

“Kalau kamu mau undang temen kamu ke rumah, nggak papa, kok,” tutur Yeriko.

“Eh!?” Yuna langsung menoleh ke arah Yeriko.

“Lusa aku dinas ke Jakarta. Kamu boleh minta temen kamu buat nemenin di rumah.”

“Serius?” Mata Yuna berbinar.

“Kamu boleh ngelakuin apa aja yang kamu suka. Jalan-jalan dan bersenang-senang. Tapi ingat, nggak boleh menginap di tempat lain. Selarut apa pun, kamu harus kembali ke rumah! Kalau ada aku, kamu nggak boleh keluar rumah tanpa aku.”

Yuna tersenyum sambil menganggukkan kepala.

Yeriko melajukan mobilnya menuju Shangri-La Hotel.

Yuna menarik napas dalam-dalam begitu mobil Yeriko terparkir di Parking Area.

“Aku nervous. Harus ngomong gimana sama mereka kalau ketemu?”

Yeriko tertawa kecil menatap Yuna. “Mereka udah jadi saksi pernikahan kita. Udah pernah ketemu sebelumnya, kan? Mereka sahabat dekat aku. Kamu nggak perlu khawatir!”

“Iya, tapi ...” Yuna meremas jemari tangannya sendiri.

“Sudah deh. Ayo!” Yeriko keluar dari mobil dan mengulurkan tangannya ke hadapan Yuna.

Yuna tersenyum, ia menyambut uluran tangan Yeriko dan langsung keluar dari mobil.

Yeriko tersenyum. Ia menggenggam erat tangan Yuna dan masuk ke salah satu privat room.

“Hai ...!” sapa Yeriko begitu masuk ke dalam ruangan.

“Hai…! Ayo, duduk!” ajak Lutfi.

Yuna dan Yeriko langsung duduk berdampingan. Yeriko tidak melepaskan genggaman tangannya.

“Ciyee ... pengantin baru. Romantis amat!” celetuk Lutfi sambil menatap tangan Yeriko yang tidak mau melepaskan Yuna.

Yeriko hanya tersenyum menatap Lutfi.

“Kalian mau minum apa?” tanya Chandra.

“Eh, iya. Mau minum apa? Aku sama Chandra udah pesen makanan. Kamu mau makan apa?” tanya Lutfi.

“Daftar menunya mana?” tanya Yeriko.

Chandra langsung menyodorkan buku menu ke arah Yeriko.

Yeriko menerima daftar menu dari tangan Chandra dan mulai membuka. “Kamu mau makan apa?” tanyanya pada Yuna.

Yuna meringis. “Apa aja deh.”

Lutfi dan Chandra menahan tawa mendengar dialog Yuna dan Yeriko.

“Kalian ngetawain apa!?” dengus Yeriko sambil memukul pundak Lutfi menggunakan buku menu yang ada di tangannya.

“Nggak papa. Kakak Ipar, nggak usah malu-malu sama kita berdua. Pesen aja semua makanan yang Kakak Ipar mau. Kasihan kan kalau duitnya Yeriko nggak habis-habis,” tutur Lutfi sambil menahan tawa.

Chandra ikut tertawa kecil menanggapi ucapan Lutfi.

“Eh, gimana kalau aku aja yang pesan menu malam ini? Kamu yang bayar!” tutur Lutfi sambil menunjuk Yeriko.

Yeriko hanya tertawa kecil. “Terserah kamu.”

Lutfi langsung menyambar buku menu dari tangan Yeriko. “Kakak Ipar, mau jus apa?” tanyanya sambil menatap Yuna.

“Jus Mangga aja.”

“Minum wine nggak?” tanya Lutfi.

Yuna menganggukkan kepala.

“Aha ... kalo gitu aku pesen ... eh, panggilin pelayan!” perintah Lutfi sambil menoleh ke arah Chandra.

Chandra bangkit dari tempat duduk. Ia langsung keluar dan memanggil pelayan masuk ke dalam private room mereka.

“Mbak, saya pesen ini ya!” Lutfi menunjuk gambar yang ada di daftar menu. “Jus mangga satu, wine tiga botol, sate ayam, udang goreng, udang saus tiram, dimsum, hotpot. Mmh ... apa lagi ya?”

Yuna melebarkan kelopak matanya melihat Lutfi yang berdiri di depannya. “Heh, kamu kesurupan? Pesen makan banyak banget!” tutur Yuna sambil menatap Lutfi. “Beneran mau ngabisin duitnya suamiku?” batin Yuna kesal.

Lutfi tertawa kecil menatap Yuna. “Eh, di luar ada menu apa lagi?” tanya Lutfi pada pelayan restoran.

“Ada kepiting saus tiram, rawon, rendang ...”

“Stop!” Lutfi menyodorkan telapak tangannya ke wajah pelayan tersebut. “Bawa semua ke sini!” pintanya.

“Eh, kamu gila ya!” Yuna langsung bangkit dari tempat duduk. “Kamu mau nguras dompet suamiku?”

Lutfi tertawa kecil menatap Yuna. “Kakak Ipar, dompetnya dia itu nggak pernah bisa kosong. Restoran dan hotel ini bisa dia beli dalam semalam.”

Yuna menoleh ke arah Yeriko.

Yeriko hanya tersenyum kecil menanggapi tatapan Yuna. Ia menarik lembut jemari tangan Yuna dan mengajak gadis itu duduk kembali.

“Oke. Itu aja. Cepet ya!” pinta Lutfi pada pelayan.

Pelayan tersebut mengangguk dan bergegas pergi.

“Eh, Kakak Ipar. Nama kamu siapa ya?” tanya Lutfi.

“Ayuna,” jawab Yuna.

“Ayuna ... nama yang cantik, kayak orangnya.” Lutfi tersenyum menatap Yuna.

Yuna balas tersenyum.

Yeriko merapatkan bibirnya sambil menatap tajam ke arah Lutfi.

“Kenapa?” tanya Lutfi sambil menatap Yeriko.

“Kamu mau godain dia? Nggak lihat aku di sini?” tanya Yeriko.

“Idih ... nggak mungkin lah aku ngerebut Kakak Ipar. Cemburuan amat sih!?” sahut Lutfi. Ia berbisik ke telinga Chandra, kemudian tertawa kecil.

Yeriko langsung bangkit dan menjepit leher Lutfi menggunakan lengannya. “Ngomongin apa!?”

“Nggak ngomong apa-apa,” jawab Lutfi sambil berusaha melepaskan diri.

Yeriko makin mengeratkan jepitannya.

“Yer, mati aku kalau kamu peteng kayak gini!” seru Lutfi.

Yeriko tak menghiraukan.

“Kakak Ipar, tolong!” Lutfi memohon ke arah Yuna.

Yuna tertawa kecil melihat Lutfi dan Yeriko bergulat di depannya. Ia merasa kalau Lutfi sangat lucu dan menyenangkan. Berbeda dengan Yeriko dan Chandra yang tidak banyak bicara.

 

(( Bersambung ... ))

Makasih yang udah baca “Perfect Hero” yang bakal bikin kamu baper bertubi-tubi. Jangan malu buat sapa aku di kolom komentar ya! Kasih kripik ... eh, kritik dan saran juga ya!

 

Much Love

@vellanine.tjahjadi

 


Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas