Friday, June 5, 2026

Perfect Hero Bab 538 : Menunggu Hasil Tes DNA

 


“Mbak Belli kenapa?” tanya seorang pelayan saat membukakan pintu begitu Bellina dan Mega sampai ke rumah.

 

“Bukan urusan kamu!” sahut Bellina kesal sambil melangkahkan kakinya menuju ke kamarnya yang ada di lantai atas.

 

Pelayan yang lain saling berbisik dan menertawakan penampilan Bellina yang begitu berantakan.

 

Bellina langsung berbalik begitu ia mendengar suara berbisik dari beberapa pelayan di rumah tersebut.

 

“Heh!? Kalian nggak punya kerjaan lain selain ngomongin majikan sendiri, hah!?” seru Bellina.

 

Pelayan itu langsung bergegas memisahkan diri dan melangkah menuju ruangan belakang. “Galak amat!” celetuk mereka lirih.

 

“Heran, deh. Pelayan di rumah ini pada nggak bener. Sibuk ngurusin pribadi majikannya. Kerja yang bener, kek,” gerutu Bellina sambil masuk ke dalam kamar dan bergegas membersihkan tubuhnya.

 

Di lantai bawah, Mega masih terus memikirkan hal yang terjadi padanya hari ini. Ia khawatir kalau semua ini akan mempengaruhi kredibilitas perusahaan dan mengancam perusahaan keluarganya.

 

“Ergh! Kenapa punya menantu kayak gitu kelakuannya!?” serunya kesal. “Kalau sampai berita kayak gini tersebar ke luar, perusahaan Wijaya bisa kehilangan kepercayaan dari orang lain. Bellina nggak mikirin nasib perusahaan suaminya sendiri? Sinting tuh anak!”

 

Mega mondar-mandir di ruang tamu hingga ia masuk ke dalam kamarnya. “Aku harus memikirkan cara untuk memisahkan Lian dari perempuan itu. Kalau begini terus, keluarga Wijaya nggak akan ada harganya di mata orang-orang. Dia udah tega menyakiti anaknya sendiri. Sekarang, dia juga nggak jelas anaknya siapa.”

 

Mega merasa kalau perbuatan Bellina semakin hari semakin kelewat batas dan membahayakan masa depan keluarga besarnya. Ia tidak ingin Bellina terus menempel pada putera kesayangannya dan menimbulkan masalah.

 

Di kamarnya, Bellina terus menerus meracau tak jelas. Ia menganggap semua benda yang ada di dalam kamar mandi adalah Yuna dan terus memaki sepuasnya.

 

“Sialan kamu, Yun! Kalau bukan karena kamu, aku nggak akan dipermalukan kayak gini!” seru Bellina kesal. Ia tidak tahu harus bagaimana menghadapi sepupunya tersebut. Banyak hal yang ia benci dari Yuna karena ia tidak bisa mendapatkan kebahagiaan seperti yang didapatkan oleh Yuna.

 

 

 

...

 

 

 

Keesokan harinya ...

 

“Ribut banget, sih!” maki Bellina sambil menyambar ponsel yang berdering. Ia masih menutup mata, enggan berdamai dengan mentari pagi yang mulai menghangat.

 

Bellina langsung membelalakkan mata begitu melihat pengingat agenda yang tertera di layar ponselnya. “Astaga! Hari ini tes DNA bakal keluar. Aku harus ke rumah sakit lebih dulu,” tuturnya sambil bangun dari tempat tidurnya.

 

Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. Namun, Bellina baru saja membuka mata. Sementara Wilian sudah pergi ke kantor tiga puluh menit yang lalu.

 

“Huft, aku lupa banget kalau hari ini hasil tes DNA bakal keluar. Mudahan aja, hasilnya negatif! Aku harus sampai lebih dulu ke rumah sakit!”

 

Bellina buru-buru pergi ke rumah sakit untuk mengetahui hasil tes DNA itu terlebih dahulu.

 

Begitu sampai di rumah sakit, Bellina langsung menghampiri tim dokter yang mengurusi masalah tes DNA.

 

“Prof ...!” panggil Bellina.

 

Dokter itu langsung berbalik. “Siapa ya?”

 

“Aku Bellina, yang akan menerima tes DNA hari ini.”

 

“Oh.” Dokter itu mengangguk-anggukkan kepala. “Tunggu yang lain ya!” pinta dokter ith sambil melangkah pergi.

 

“Prof, apa saya bisa lihat hasil tes DNA itu lebih dulu?” tanya Bellina sambil mengejar langkah dokter tersebut.

 

Dokter itu menghentikan langkahnya. “Ikutilah semuanya sesuai prosedur!”

 

“Prof, sekarang atau nanti ... hasilnya akan tetap sama. Saya hanya ingin mengetahui lebih dulu.”

 

“Nanti akan saya beritahukan setelah semua keluarga berkumpul sesuai dengan permintaan Pak Tarudi.”

 

“Prof, saya langsung yang dites kali ini. Apa saya nggak bisa mengetahui hasilnya lebih dulu? Kalau memang profesor tidak ingin memperlihatkan suratnya. Setidaknya, kasih tahu saya ... siapa ayah biologis saya?”

 

Profesor itu menarik napas sejenak sambil menatap wajah Bellina. “Saya tidak bisa mengatakan sebelum semuanya berkumpul. Jadi, tunggu saja!” jawab dokter itu dan berlalu pergi.

 

Bellina menarik napas dalam-dalam. Ia berbalik dan menghampiri ruang laboratorium forensik untuk mencari hasil tes DNA miliknya. Dari balik kaca pintu laboratorium, Bellina berusaha mengintip ke dalam ruangan tersebut. Ada dua petugas laboratorium yang ada di dalam sana. Membuatnya tak bisa masuk dengan leluasa.

 

Bellina hanya bisa menyandarkan punggung dan kepalanya ke dinding. Ia pasrah begitu saja saat mengetahui ada dua kamera CCTV di sudut kanan dan kiri koridor tersebut.

 

“Kenapa sih nggak semudah cerita sinetron? Mereka bisa ganti hasil tes DNA dengan mudah. Di rumah sakit ini, sistem keamanannya ketat banget. CCTV di mana-mana. Dokternya nggak bisa diajak sekongkol. Pintu laboratorium dikunci. Aku harus gimana?” rengek Bellina sambil mengacak-acak rambutnya sendiri.

 

Bellina menoleh ke dalam ruang laboratorium yang hanya bisa ia lihat sedikit dari balik kaca pintu.

 

Beberapa menit kemudian, Melan dan kekasihnya muncul dari ujung koridor dan langsung menghampiri Bellina.

 

“Bel, udah di sini dari tadi?” tanya Melan sambil menatap Bellina.

 

Bellina melirik tajam ke arah mamanya. Hatinya diselimuti kebencian saat melihat mamanya dan Lonan berangkulan mesra. Ia merasakan sakit yang luar biasa, ia tidak ingin menjadi anak kandung dua orang yang ada di hadapannya.

 

“Cantik ...! Jangan cemberut seperti itu!” pinta Lonan lembut sambil mengelus rambut Bellina.

 

Bellina langsung menepis tangan Lonan dengan kasar. “Nggak usah sok baik!”

 

Lonan tertawa bahagia melihat sikap Bellina yang kasar dan angkuh. “Aku suka sifat kamu ini ... sangat mirip denganku. Sudah pasti, kamu adalah anak kandungku.”

 

“Jangan terlalu percaya diri! Aku nggak mau punya ayah kayak kamu!” seru Bellina.

 

“Hahaha. Kalau kenyatannya kamu adalah anakku. Kamu bisa apa?”

 

“Hasil tes DNA belum keluar. Sekalipun hasilnya positif kalau aku anak kamu. Aku nggak akan pernah mengakuinya!” tegas Bellina. “Papaku cuma satu. Aku nggak mau punya papa lain!” lanjutnya dengan mata berkaca-kaca sambil menoleh ke arah Tarudi yang muncul di belakang Lonan.

 

Tarudi terpaku melihat wajah Bellina yang sudah ada di hadapannya. Harapannya kali ini hanya Bellina. Ia sangat berharap kalau Bellina adalah puteri kandungnya.

 

Ia belum resmi menceraikan istrinya. Tapi, istrinya sudah bergandengan mesra dengan pria lain dan membuat perasaannya tak karuan. Hatinya begitu tersayat, tapi ia tidak punya hak untuk marah atau cemburu. Sebab, hubungan mereka saat ini sudah berbeda.

 

“Bel, papa juga ingin menjadi papa kamu untuk selamanya. Papa sangat menyayangi kamu. Hingga saat ini, kamulah yang tak sanggup papa benci meski papa ingin membencimu,” batin Tarudi.  Ia tidak ingin menjalani kehidupannya seorang diri. Ia tidak akan mempertahankan rumah tangganya tapi ia ingin memiliki seorang puteri yang bisa menemaninya menghabiskan hari tua bersama.

 

((Bersambung...))

Dukung terus cerita ini biar aku makin semangat nulisnya!

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas