Thursday, June 4, 2026

Mengapa Iwel-Iwel Selalu Hadir dalam Selamatan Bayi? Ternyata Ini Maknanya




Dalam kehidupan sosial, seringkali kita mendapati momen-momen yang luar biasa dan tidak bisa dilupakan. Salah satunya adalah momen kelahiran bayi. 

Sejak menjadi Ibu Rumah Tangga, aku kerap mendapatkan undangan selamatan bayi. Bahkan, aku juga ikut mengundang orang lain untuk datang ke acara selamatan kelahiran bayiku. 
Setiap kali acara selamatan, tidak luput dari hidangan makanan enak. Salah satunya adalah iwel-iwel. 

Iwel-iwel selalu hadir saat selamatan kelahiran bayi atau selamatan tujuh bulanan. Sempat terbersit pertanyaan dalam hati, "Kenapa selalu ada iwel-iwel saat selamatan kelahiran bayi?"
Meski pertanyaan itu sudah tertanam di kepala selama beberapa tahun terakhir. Tapi, aku tidak pernah benar-benar ingin mencari tahu tentang makna dan filosofi makanan yang satu ini. 

Akhir-akhir ini, aku mulai tertarik dengan makanan-makanan tradisional dan arti filosofis di balik makanan itu sendiri. Aku merasa hal ini sangat menarik. Makanan tradisional dibuat bukan hanya untuk mengenyangkan perut, tapi juga memiliki nilai budaya dan filosofi yang luar biasa. Aku ingin sekali menuliskannya agar anak-cucu nanti bisa mengetahui tentang makna dan tradisi yang harus dijaga hingga ratusan atau ribuan tahun lagi. 

Ada makanan yang dibuat untuk mengenyangkan perut. Ada pula makanan yang dibuat untuk mengenyangkan hati. Iwel-iwel termasuk yang kedua.

Di banyak kampung Jawa, kue tradisional ini hampir selalu hadir dalam berbagai selamatan yang berkaitan dengan kelahiran dan tumbuh kembang anak. Bentuknya sederhana. Bahannya pun tidak mewah. Hanya tepung ketan, kelapa parut, gula merah, dan daun pisang. Namun, di balik kesederhanaannya, tersimpan lapisan makna yang begitu dalam. 

Dalam Jurnal UGM berjudul "Makna Filosofis Iwel-iwel dalam Selamatan Bayi di Jawa: Kajian Linguistik Antropologis" juga mengungkapkan bahwa masyarakat Jawa sejak dahulu tidak pernah menciptakan tradisi tanpa makna. Bahkan makanan pun sering kali dijadikan media untuk menyampaikan harapan, doa, dan nasihat hidup. Iwel-iwel adalah salah satu contohnya.
Konon, salah satu asal-usul nama iwel-iwel berasal dari kata cemiwel atau kamiwel yang berarti lucu, menggemaskan, atau menyenangkan hati. Karena itulah kue ini kerap hadir dalam selamatan bayi sebagai simbol harapan agar anak yang lahir tumbuh menjadi pribadi yang membawa kebahagiaan bagi keluarga dan lingkungannya.

Namun maknanya tidak berhenti di situ.
Jika diperhatikan, iwel-iwel dibuat dari bahan-bahan yang sangat dekat dengan kehidupan rakyat. Tidak ada bahan mahal. Tidak ada hiasan berlebihan. Semuanya berasal dari alam sekitar. Tepung ketan, kelapa, gula aren, dan daun pisang berpadu menjadi satu sajian yang manis, hangat, dan mengenyangkan. Dari sini orang Jawa seperti sedang mengajarkan bahwa kebahagiaan tidak selalu lahir dari kemewahan. Terkadang, kehidupan yang paling bermakna justru dibangun dari hal-hal sederhana yang dirawat dengan penuh ketelatenan. 

Daun pisang yang membungkus iwel-iwel juga bukan sekadar pembungkus. Ia seolah menjadi perlambang perlindungan. Sebagaimana bayi yang baru lahir dibungkus kasih sayang orang tua, iwel-iwel pun dibungkus dengan daun yang menjaga bentuk dan rasanya hingga matang. Di sana ada pesan tentang kehangatan keluarga, tentang rumah yang menjadi tempat pertama seorang anak belajar mengenal dunia.


Menariknya lagi, proses membuat iwel-iwel membutuhkan kesabaran. Kelapa harus diparut, adonan harus diolah dengan cermat, lalu dibungkus satu per satu sebelum dikukus hingga matang. Tidak ada yang instan. Semua memerlukan waktu. Filosofi ini terasa begitu relevan dengan kehidupan keluarga hari ini. Anak-anak tidak tumbuh hanya dengan fasilitas dan teknologi. Mereka tumbuh melalui proses panjang yang membutuhkan kesabaran, perhatian, dan cinta yang terus-menerus diberikan. 

Mungkin itulah sebabnya iwel-iwel mampu bertahan melintasi zaman. Ia bukan hanya makanan tradisional. Ia adalah pengingat bahwa setiap kehidupan baru layak disambut dengan syukur. Bahwa kebahagiaan terbaik sering kali lahir dari kesederhanaan. Dan bahwa kasih sayang, seperti gula merah di dalam iwel-iwel, tidak selalu tampak dari luar, tetapi selalu bisa dirasakan kehangatannya.

Di tengah gempuran makanan modern yang serba menarik dan berwarna-warni, iwel-iwel hadir dengan caranya sendiri: tenang, sederhana, dan penuh makna.
Karena bagi orang Jawa, terkadang doa tidak hanya dipanjatkan melalui kata-kata. Ia juga bisa dibungkus daun pisang, dikukus dengan kesabaran, lalu dibagikan kepada sesama dalam bentuk iwel-iwel. 



Kutai Kartanegara, 04 Juni 2026

Rin Muna
(Novel Author & Humaniora) 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas