Sunday, June 21, 2026

Alluna Wedding Party Bab 3 : Makin Dekat

 


“Lo kenapa? Muka lo jelek amat?” tanya Austin. Ia tidak menyadari kalau Alluna sedang kesal dengannya.

Alluna ingin mengomel panjang lebar, tapi kehadiran Jono yang tiba-tiba membuatnya menumpahkan kekesalannya pada cowok itu.

“Apa lo liat-liat!?” sentak Alluna.

“Galak amat sih, cantik?” goda Jono dengan gayanya yang cengengesan.

Alluna menghela napas kesal, ia benar-benar kesal sampai tidak nafsu untuk marah-marah. Ia langsung duduk di sisi Austin yang menatapnya bingung, tidak biasanya Alluna diam dengan ekspresi sekesal ini.

“Pergi, Jon!” pinta Austin dengan lembut. Jono langsung keluar kelas dan bergabung dengan teman-teman yang lainnya.

“Lo kenapa sih, Lun? Dateng-dateng muka lo langsung dilipat dua belas gini? Diapain sama Evan?” tanya Austin perlahan.

“Gue nggak diapa-apain. Gue nggak suka aja kalian comblangin gue sama cowok yang udah pacar!” tutur Alluna kesal.

“Pacar?” Austin mengangkat alisnya. Yang ia tahu, sepupunya itu tidak punya pacar. Bagaimana Alluna bisa tahu kalau Evan sudah punya pacar?

“Iya. Tadi, waktu gue ngobrol sama dia. Tiba-tiba ada cewek nelpon. Terus, dia panggil sayang tuh cewek.” Alluna melipat dua tangannya. “Iya, sayang ... nanti pulang sekolah aku jemput.” Alluna menirukan gaya menelepon dengan tangannya.

Austin menahan tawa mendengar pernyataan Alluna.

Alluna menatap tajam. “Lo kenapa ketawa?” tanyanya makin sewot.

“Lun, lo kan baru kenalan sama Evan. Udah cemburu berat aja.”

Alluna melotot ke arah Austin. “Cemburu? Gue bukan cemburu, gue cuma nggak terima dicomblangin sama cowok yang udah punya pacar.”

“Emang lo udah pastiin yang dia telepon itu pacarnya?”

“Ya, gue udah tanya. Dia cuma senyum doang. Artinya bener, kan?”

Austin mengedikkan bahunya. “Evan itu sepupu gue. Yang gue tau dia nggak punya cewek.”

“Bisa aja kan dia udah punya cewek dan nggak ngasih tau lo,” sahut Alluna makin sewot.

“Ntar gue tanya dia deh.”

“Hai ... hai ... hai ...! Lagi ngomongin apaan sih? Serius banget?” Rani tiba-tiba muncul bersama Hastri.

“Ngomongin si Evan,” jawab Austin.

“Ceileh ... kayaknya ada yang langsung klik nih?” goda Rani.

“Klik apaan? Click bait?” sahut Alluna sewot.

“Hah!? Lo kenapa?” tanya Rani yang menyadari ekspresi wajah Alluna penuh kekesalan.

“Tanya aja tuh sama Austin!” celetuk Alluna sambil melirik Austin sinis.

Rani menatap Austin dan menggoyangkan alisnya sebagai isyarat pertanyaannya.

Austin malah tertawa kecil sambil memandang ekspresi Alluna yang makin bad mood. “Cemburu,” jawabnya sambil cekikikan.

“Nggak! Gue nggak cemburu,” sahut Alluna. Kedua alisnya hampir menyatu karena Austin justru membuatnya semakin kesal.

“Cemburu sama siapa?” tanya Hastri.

“Siapa lagi kalau bukan Evan.” Austin tertawa lebar, hal ini membuat Alluna semakin kesal.

“Nggak lucu!” Alluna bangkit dari tempat duduknya dan langsung keluar dari kelas.

“Mau ke mana, Lun? Bentar lagi Bu Erna dateng, loh,” teriak Rani.

“Bodo amat!”

Ketiga sahabatnya menggelengkan kepala sambil tersenyum aneh, mereka saling pandang, di otak mereka ada sesuatu yang akan direncanakan berikutnya.

***

Alluna duduk di kantin seorang diri, ia hanya memesan satu gelas jus alpukat. Ia kini tak lagi berharap Evan akan menjadi cowok spesial di hidupnya. Semua masih terasa biasa saja. Sejak kejadian di lantai tiga yang lalu, ia belum pernah bertemu lagi dengan Evan. Bisa jadi, Evan memang sudah punya pacar dan tidak begitu berminat untuk mendekati Alluna. 

Pikiran Alluna masih dipenuhi banyak hal negatif tentang Evan. Cowok yang menurutnya paling keren di sekolah karena memenuhi kriteria cowok idaman versi Alluna. Cowok yang tinggi badannya jelas lebih tinggi dari Alluna yang mencapai 175 cm. Sayangnya cowok sekeren Evan, nggak mungkin jomblo.

“Hai, sendirian aja?” sapa Evan yang baru saja selesai latihan basket. Ia menatap Alluna yang sedang melamun sambil memainkan sedotan di minumannya. 

Evan meneliti dengan seksama, sepertinya gadis itu memang sedang melamun karena ia tidak menyadari kedatangan Evan yang jelas-jelas sudah duduk di depannya. Evan melambaikan tangannya tepat di depan wajah Alluna dan Alluna masih belum menyadarinya.

“Eh, kalo ngelamun mulu ntar kesambet.” Evan mendorong hidung Alluna dan berhasil membuat Alluna tersadar dari lamunannya.

“Eh? Oh ... kok, lo ada di sini?” Alluna gelagapan karena ia melihat cowok yang ada dipikirannya tiba-tiba sudah duduk di depannya. Penampilannya makin menggoda dengan pakaian olahraga, keringat yang menetes dari ujung rambutnya tidak membuat Alluna risih. Justru memandang cowok itu sebagai cowok yang macho dan sangat menarik.

Alluna masih bengong, ia tidak menyadari kalau mulutnya menganga sambil terus memikirkan Evan. “Please, gue nggak lagi halu kan?” batin Alluna sambil mengerjapkan matanya. Ia berharap ini hanya halusinasi, karena tidak mungkin orang yang ia pikirkan tiba-tiba datang begitu saja di depannya.

Sementara Evan menahan tawa melihat tingkah Alluna yang masih saja bengong. “Lo kenapa, Lun?”

“Eh? Nggak papa.” Alluna menundukkan kepalanya. Ternyata benar, ini bukan halu atau mimpi. Evan memang benar-benar ada di depannya.

“Sendirian aja?”

“Iya. Rani lagi sibuk di ruang osis.”

“Oh, lo nggak ikutan osis juga?”

Alluna menggelengkan kepalanya.

“Hai, lagi pada ngobrolin apaan nih?” Yang sedang dibicarakan tiba-tiba muncul bersama dua temannya, Hastri dan Austin.

“Kayak jin aja lo, baru disebut namanya langsung muncul,” celetuk Alluna.

“Hah!? Seriusan? Kalian lagi ngomongin gue?”

Alluna dan Evan sama-sama tidak menjawab, mereka hanya tersenyum saling pandang.

“Lun, ini buat lo!” Rani mengulurkan sebuah kertas cantik yang dibungkus dengan plastik, di situ tertera huruf besar bertuliskan ‘UNDANGAN’.

“Siapa yang nikah?” tanya Alluna sambil meraih kartu undangan pemberian Rani.

“Kak Shella.”

“Yang baru lulus tahun kemarin itu?” tanya Alluna.

Rani mengangguk.

“Yang sering pakai kalung hitam nyekek leher itu, kan?” tanya Alluna lagi.

“Iya.”

Alluna menghela napas dan meletakkan undangan itu di meja kantin begitu saja. Ia tidak berniat membukanya.

“Dateng, ya! Jangan lupa bawa pasangan! Karena kita udah sama pasangan kita masing-masing,” goda Rani, mereka langsung berlalu pergi meninggalkan Evan dan Alluna di kantin.

“Lo kenal sama Shella juga?” tanya Evan.

Alluna menganggukkan kepalanya.

“Mau dateng ke sana?”

Alluna mengedikkan bahunya.

“Why?”

“Masih seminggu lagi. Belum tahu bisa datang atau enggak.”

Evan mengangguk-anggukan kepalanya. “Apa karena lo nggak punya partner buat kondangan?”

“Nggak juga. Gue biasa pergi ke kondangan sendirian.”

“Kalo lo mau, gue bisa nemenin lo,” ucap Evan sambil tersenyum.

“Makasih. Gue bisa sendirian, kok. Ntar pacar lo marah,” celetuk Alluna sewot.

“Lun,” Evan meraih tangan Alluna. Membuat Alluna makin salting. “Gue tau, ekspresi muka lo itu tetep nggak bisa nyembunyiin sesuatu yang ada di pikiran lo.” Evan tersenyum menatap Alluna. “Gue belum punya pacar dan nggak akan ada yang marah.”

“Lah? Terus yang kemarin lo panggil sayang lewat telepon itu siapa?” tanya Alluna kesal.

“Adik gue.”

“Adik ketemu gede?”

“Nggak. Beneran adik gue.”

“Oh.”

***

“Van, tolong ya!” desak Austin.

“Why?”

“Lo nggak lihat muka Alluna bete mulu?”

“Dia jutekin gue kemarin pas di kantin.”

“Because, she is jealous. Right?”

Evan mengedikkan bahunya. “I think so.”

Austin tertawa lebar. “Dia beneran suka sama lo.”

Evan bergeming menanggapi ucapan Austin. Tapi, hatinya tersenyum tanpa sadar. 

“Ya udah, ntar kita atur. Lo cukup siapin diri lo aja!” Austin langsung berlalu pergi.

***

“Ma, bantuin aku pilih gaun, dong!” pinta Alluna saat ia bersiap berangkat ke pesta pernikahan kakak kelasnya.

“Kamu mau pakai yang mana?” Mama Alluna menggelengkan kepala saat melihat ranjang Alluna sudah penuh dengan gaun-gaun pesta. Alluna masih sibuk memilih gaun mana yang akan ia kenakan.

“Kamu berangkat sama siapa?” tanya Mama Alluna.

“Sama Rani dan lainnya, Ma.” Alluna menempelkan satu gaun di badannya, menatapnya di cermin, kemudian meletakkan kembali gaunnya di atas ranjang.

“Nggak beli gaun baru?” Mama Alluna mendekat dan memilih dengan cermat gaun-gaun Alluna yang sudah bertebaran di ranjangnya. “Ini bagus.” Mama Alluna meraih satu gaun berwarna abu-abu dengan hiasan payet di sekitar badannya.

“Nggak terlalu terbuka, Ma?” Alluna memperhatikan gaun selutut tanpa lengan dengan dada terbuka.

“Mama rasa nggak terlalu sexy, masih biasa aja. Bisa kamu tutup pakai cardigan senada.”

“Hmm, boleh juga.” Alluna langsung meraih gaun yang ada di tangan mamanya dan mengenakannya. Ia  terlihat manis dengan gaun berwarna abu-abu dengan hiasan payet putih yang cantik.

“Ma, tolong panggilin bibi, ya! Beresin baju-baju aku. Aku mau dandan dulu. Ntar aku telat!” Alluna langsung duduk di kursi rias dan mulai menghias wajahnya dengan make up sederhana.

“Pilih baju aja berjam-jam,” celetuk Mama sembari keluar dari kamar Alluna.

Alluna hanya tersenyum menanggapi celetukan mamanya.Ia mengakui kalau ia memang paling sulit mencari pakaian mana yang akan ia gunakan daripada berdandan.

“Lun, kita tunggu di apartemen Austin, ya!” Rani berbicara via video call. Alluna juga terlihat sudah siap berangkat dari rumahnya. “Cantik, Lun!” ucap Rani yang melihat Alluna sedang bersolek.

“Kalian udah siap semua?”

“Hampir siap, nih.” Rani menunjukkan seluruh ruangan dan keseruan mereka yang sedang bersiap ke pesta.

Alluna memang jarang sekali bisa berkumpul dengan sahabatnya. Bukan karena dia tidak mau, tapi karena kegiatan Alluna di luar sekolah cukup padat. Banyak les yang harus dia ikuti sepulang sekolah, sehingga ia selalu telat kalau harus ngumpul di apartemen Austin.

“Ma, aku berangkat ya!” pamit Alluna pada mamanya yang sedang asyik menonton tv bersama Daren, kakak kandung Alluna.

“Sama siapa?” tanya Daren.

“Naik taksi.”

“Masih jomblo?” ledek Daren.

Alluna memonyongkan bibirnya dan berlalu pergi. Sesampainya di apartemen Austin, ia langsung menelepon Rani untuk membukakan pintu. Mereka bertiga sudah bersiap dan terlihat cantik.

“Ayo, kita langsung berangkat aja!” pinta Alluna.

“Yee, bentar kali. Nunggu partner kita jemput dulu,” sahut Hastri.

“Hah!? Kalian semua dijemput?”

Mereka mengangguk bersamaan. “Terus, gue sama siapa dong?”

Hastri, Rani dan Austin menggeleng bersamaan. Alluna menghela napas dalam-dalam. “Ya udah, gue berangkat duluan aja, ya?”

“Jangan!” Semua serempak mencegah Alluna. Membuat Alluna menjadi bingung.

“Kita berangkatnya tetep bareng ya, masa lo mau nyelonong masuk ke pesta sendirian aja?”

“Hmm, oke lah.” Alluna duduk di sofa sambil memainkan ponselnya.

Tak berapa lama, Jacklin datang dan langsung disambut Austin dengan ciuman hangat di bibir.

“Sumpah ya, kalian mesra-mesraan di depan gue! Gak mikir kalo gue masih jomblo!?” celetuk Alluna.

“Hai, cantik!” sapa Jacklin yang langsung duduk juga di pinggiran sofa sambil menatap Alluna, sementara Austin bergelayut di tubuh Jacklin dengan manja. Mereka dengan sengaja membuat hati Alluna semakin panas. Belum lagi kalau pasangan Rani dan Hastri juga datang. Alluna bisa dibuat kesal karena mereka tak malu menunjukkan kemesraan mereka di depan Alluna.

“Nggak pengen punya pacar?” goda Jacklin.

Belum sempat Alluna menyahut, tiba-tiba dua cowok yang sudah ia kenal masuk ke dalam aparteman Austin. Satunya pacar Rani dan satu lagi Alluna belum mengenalnya. Sepertinya bukan pacar Hastri atau itu pacar Hastri yang baru. Hastri memang hobi berganti pacar. Alluna tidak heran kalau dia akan pergi ke pesta pernikahan selanjutnya dengan partner yang berbeda.

“Ayo, berangkat!” Alluna bangkit dan menenteng paper bag berisi kado pernikahan yang akan ia berikan untuk Shella.

“Bentar, kita masih nunggu satu orang lagi.” Austin berbicara tanpa menoleh, ia sibuk menatap layar ponselnya.

“Siapa lagi?” Alluna mengerutkan keningnya. Belum sempat di jawab, bel pintu apartemen Austin berbunyi.

“Nah, itu dia. Tolong bukain ya, Lun! Gue mau ambil sepatu dulu,” pinta Austin. Sementara Rani dan Hastri juga tidak beranjak dari tempatnya, asyik mengobrol dengan pasangannya masing-masing. Alluna mencebik kesal dan membukakan pintu sambil mengomel tak jelas.

“Masuk!” pinta Alluna pada cowok yang berdiri di pintu membelakanginya. Cowok dengan setelan jas dan badan tinggi. Model rambutnya mengingatkan Alluna pada seseorang.

Cowok itu membalikkan badannya dan tersenyum. “Udah siap? Gue tunggu di sini aja.”

“Evan!?” Alluna terkejut dan menutup kembali pintu apartemen Austin, nyaris mengenai wajah Evan yang berdiri tepat di depan pintu.

“Eh!? Itu, kok ada Evan di luar?” teriak Alluna.

“Kenapa nggak disuruh masuk?” tanya Rani.

“Katanya mau nunggu di depan.”

“Ya udah, ayo kita berangkat!” Rani langsung bangkit dari tempat duduk dan diikuti dengan yang lainnya, mereka bergegas keluar dari apartemen. Melewati tubuh Evan yang masih menunggu di pintu. Austin dan Rani hanya memberi isyarat menggunakan kedipan mata, Evan sudah mengerti maksud mereka.

Alluna berjalan perlahan keluar dari apartemen. Tangannya masih menenteng paper bag, menutup pintu apartemen yang terkunci otomatis.

“Sini, aku bawain!” Evan menyambar paper bag yang ada di tangan Alluna.

“Makasih.” Alluna tersenyum kecut, kemudian melangkahkan kakinya menuju parkiran.

Sepanjang perjalanan, Alluna dan Evan saling diam. Tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulut mereka. Mood Alluna sudah terlanjur rusak karena sikap Austin dan Jacklin yang dengan sengaja memanas-manasinya.

Sesampainya di tempat acara, Evan memarkirkan mobilnya dan membukakan pintu untuk Alluna. “Silakan turun, tuan puteri yang cantik!” ucap Evan sambil tersenyum.

“Apa-apaan, sih!?” Alluna tersenyum dengan wajah bersemu merah.

“Jangan ngelamun mulu, ntar kesambet!” Evan menutup kembali pintu mobilnya saat Alluna sudah berdiri di sisinya. “Ayo!” Evan meregangkan lengannya di depan Alluna, memberi isyarat untuk menggandengnya.

Alluna tersenyum dan menggandeng lengan Evan. “Kita cuma partner kondangan, bukan pacaran!” celetuk Alluna.

“Gak papa. Gue pengen bisa jadi partner yang baik buat lo.”

“Makasiih ...!” Alluna tersenyum manis. Setidaknya, partnernya kali ini bukan cowok yang lebih pendek dari dia. Tinggi badan Evan masih bisa mengimbanginya walau ia mengenakan high heels. It’s not bad.

Alluna termasuk cewek yang perfeksionis. Bisa dibilang, dia juga pilih-pilih banget soal pasangan. Terutama soal fisik dan tinggi badan pasangannya. Bukan karena dia malu punya cowok yang lebih pendek. Dia justru lebih takut kalau cowok yang lebih pendek dari dia, minder saat jalan bersamanya yang kelewat tinggi. Kalau kata teman-teman di sekolahnya, tiang listrik lagi jalan. Itu salah satu alasan kenapa Alluna tidak mau punya pacar yang tubuhnya lebih pendek.

Acara kondangan berjalan dengan baik. Bukan Alluna yang dibuat terpesona malam ini. Tapi Evan, mulai benar-benar mengagumi cewek yang satu ini. Selain cantik, dia juga pandai bernyanyi. Dia cukup percaya diri menyanyi di acara pesta pernikahan. Suaranya juga bagus, banyak mata memandangnya kagum terutama mata pria. Evan mulai tidak nyaman dengan tatapan pria lain yang sedang melihat Alluna bernyanyi di panggung. Terutama melihat pria yang sudah beristri, tapi matanya masih saja tidak lepas dari pesona Alluna.

Usai bernyanyi, Alluna menghampiri kembali meja tempat ia duduk bersama Evan dan kawan-kawannya. “Suara lo keren!” puji Jacklin.

“Baru denger, ya? Kita mah udah tahu dari dulu,” sahut Rani.

“Iya. Kalian sahabatnya, kalo nggak tau namanya bukan teman,” balas Rano, cowok yang bersama dengan Hastri. Semua tertawa menanggapi ucapan Rano.

Evan hanya tersenyum sambil melepas jasnya, ia meletakkan jas itu di punggung Alluna. “Pakai!” pintanya.

“Why?” tanya Alluna.

“Pakaian lo terbuka dan jadi pusat perhatian. Gue nggak suka aja banyak cowok yang liatin lo karena lo sexy,” bisik Evan sambil memperhatikan cowok-cowok yang masih memandang Alluna.

“Oh, I see ...” Alluna langsung mengenakan jas milik Evan. “Tuh, kan ... mama bilang nggak terlalu sexy, sedangkan Evan bilang gaun aku sexy.” Alluna ngedumel dalam hati. Alluna mulai tak nyaman dengan perubahan sikap Evan. Bukan tidak nyaman dengan Evan, tapi ia tidak nyaman dengan dirinya sendiri. Ia lebih banyak diam sampai mereka keluar dari tempat acara pesta pernikahan itu.

“Lo sering pakai baju ginian?” tanya Evan saat mereka sudah di dalam mobil.

Alluna mengangguk. “Kata Mama, baju ini nggak terlalu sexy.”

“Emang nggak terlalu sexy,” sahut Evan.

“Terus, kenapa gue harus pake jas lo?”

“Karena semua cowok liatin lo, gue nggak nyaman aja ada cowok lain merhatiin lo mulu.”

“Kenapa?”

“Rumah lo di mana? Gue antar pulang ya!” Evan tak menjawab pertanyaan Alluna. Ia menyalakan mesin mobilnya dan perlahan keluar dari tempat acara.

“Ke apartemen Austin aja. Gue bisa pulang naik taksi, kok.”

“Kenapa harus naik taksi kalo bisa gue antar pulang?”

“Gue udah bilang sama nyokap kalo mau nginep di tempat Austin. Besok pagi baru gue pulang.”



((Bersambung...)) 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas