Alluna sama
sekali tidak menyangka kalau di usianya yang baru saja menginjak 16 tahun sudah
mendapat secarik kertas undangan dari salah satu teman sekolahnya.
"Mama
...!" Alluna menjerit ketika mendapati undangan pernikahan di meja
riasnya. Ia masih belum percaya kalau teman sebayanya akan melangsungkan
pernikahan di usianya yang ke-16.
"Ma, ini
beneran undangan nikahan Iren?" Alluna menghambur keluar kamar dan
langsung mendekati mamanya yang sedang mencuci piring di dapur.
"Iya."
Mama Alluna tetap bersikap tenang dan masih melanjutkan pekerjaannya.
"Dia
berhenti sekolah, dong?" tanya Alluna.
Mama Alluna
mengedikkan bahunya. "Kamu temannya, harusnya lebih tahu."
"Yah, aku
tahu sih. Tapi, aku pikir cuma gosip. Soalnya Irene selalu mengelak setiap kali
aku tanyain. Dia bilang, gosip yang beredar di sekolah itu nggak bener."
Alluna melangkahkan kakinya tak semangat, ia kembali ke kamar, merebahkan
tubuhnya dan menatap dengan seksama kertas undangan berwarna cokelat krem yang
masih di tangannya. Di tatap nama salah satu temannya dan ia menggeleng tidak
percaya.
Alluna mengambil
ponsel dari tas sekolahnya dan menggunakan panggilan video untuk memanggil
salah satu sahabatnya.
"Hai, kenapa
Lun?" sapa Rani dari panggilan video.
"Iren
beneran mau nikah?" tanya Alluna tak semangat.
"Iya, Lun.
Ntar kita kondangannya bareng, ya!" sela Austin yang tiba-tiba muncul di
belakang Rani.
"Kalian lagi
di rumah Rani?" tanya Alluna.
"Iya
...," jawab sahabat-sahabatnya serentak.
"Tega banget
kalian nggak ngajakin gue!" cibir Alluna kesal.
"Sini,
dah!" pinta Hastri sambil berjoget-joget ria.
Alluna
menggelengkan kepalanya. "Capek, baru aja sampe di rumah. Eh, itu beneran
si Iren mau nikah?" tanyanya lagi, masih tak percaya.
Rani tersenyum
sembari menganggukkan kepalanya. "Lo kenapa? Temen mau nikah, harusnya
seneng dong?" tanya Rani.
"Nggak papa.
Gue masih nggak percaya aja. Kemarin waktu gue tanya Iren, dia bilang nggak
bener. Tapi tiba-tiba udah ngasih undangan ke rumah. Gue mikirin sekolahnya dia
gimana?"
"Yaelah ...
nggak usah dipikirin kali. Iren hepi-hepi aja tuh. Ngapain lo sibuk
mikirin dia?"
"Ck ... iya, sih. Ya udah, gue mau mandi dulu ya, mau
les musik. Sampai ketemu besok!" Alluna melambaikan tangan yang langsung dibalas oleh Rani dan teman-teman
lainnya. Ia mematikan ponselnya dan langsung menuju ke kamar mandi.
Alluna masih
tidak percaya kalau di usianya yang ke-16 tahun sudah mendapat undangan
pernikahan. Bukankah, seharusnya undangan birthday sweet seventeen atau party
kelulusan sekolah?
Alluna menatap
wajahnya di cermin kamar mandi. Ia memijit-mijit bibirnya, memikirkan sesuatu.
Sesuatu yang tidak pernah ia pikirkan sebelumnya. Ia akan pergi ke sebuah pesta
pernikahan. Dan ia tidak tahu apa yang seharusnya ia lakukan.
Memilih gaun yang
cocok untuk acara pernikahan? Memilih pasangan yang cocok untuk menghadiri
pesta? Memilih pergi bersama sahabatnya? Memilih pergi seorang diri?
Ah ... pikirannya
terlalu kacau untuk pertama kalinya hanya karena sebuah undangan pernikahan
dari teman sekolahnya yang baru berusia 16 tahun. Ia menggeleng-gelengkan
kepalanya dan membasuh wajahnya dengan air, lalu mandi untuk menyegarkan
tubuhnya karena ada jadwal les musik hari ini.
***
Saat hari
pernikahan Iren dilangsungkan, Alluna dan teman-temannya mulai sibuk. Bahkan,
di jam istirahat mereka sudah sibuk membahas gaun yang akan mereka kenakan dan
dengan siapa mereka akan berangkat ke pesta.
"Kita
berangkat bareng, kan?" tanya Alluna.
Rani, Hastri dan
Austin menganggukkan kepalanya bersamaan.
"Kenapa? Masih
sibuk cari pasangan?"
"Ya ampun,
Alluna ... jangan polos banget gitu, deh! Kita mau dateng ke acara
wedding. Kita harus punya pasangan kalau dateng ke acara wedding. Lo mau kayak
kambing congek di acara pesta itu?" sahut Rani.
Alluna
menggelengkan kepalanya.
"Ya udah, lo
buruan cari pasangan!"
"Sekarang?"
"Iya ...
kita pulang sekolah ke acara nikahan Iren. Mau kapan lagi?"
"Gue nggak
tahu mau ngajak siapa," Alluna memandang ke sekeliling kantin, tidak ada
satu cowok pun yang menarik matanya untuk diajak ke pesta pernikahan Iren.
"Kenapa mau
ke pesta wedding aja ribet, sih?" celetuk Alluna.
"Eh, lo baru
mikir cari pasangan doang. Belum ada apa-apanya. Lo masih harus cari gaun yang
keren, make-up yang keren, dan pasangan yang keren," sahut Austin sambil
tersenyum bahagia.
"Iya ...
pokoknya, kita semua harus terlihat cantik di pesta itu. Nggak boleh kelihatan
cupu, apalagi sampai nggak pakai make-up." Hastri menimpali.
"Gue nggak bisa make-up."
"Dah, tenang aja. Kita make-up di salon. Gue udah
booking ke tante gue. Dia mau make-up kita-kita. Dijamin, hasilnya oke
banget!" Rani mengacungkan
kedua jempol tangannya.
"Terus, soal
pasangan, gimana? Kalian udah punya?" tanya Alluna.
"Belum,
hehehe," jawab ketiga sahabatnya serempak.
"Yaelah,
kirain udah punya. Sama aja, jones! Nggak usah bawa pasangan, kita berempat aja
nggak papa, deh."
Rani, Hastri dan
Austin menghela napas kecewa bersamaan.
***
Ini pertama
kalinya Alluna merasakan ribetnya menghadiri undangan sebuah pesta pernikahan.
Memilih baju saja bisa menghabiskan waktu sampai satu jam. Belum ditambah
perawatan tubuh dan make up yang harus mereka gunakan. Setidaknya, mereka
menghabiskan waktu sekitar 3 jam untuk mempersiapkan diri pergi ke acara pesta
pernikahan. Hal yang paling menyebalkan bagi Alluna, ia datang ke acara
pernikahan itu hanya dalam hitungan menit. Bahkan tidak sampai 30 menit mereka
berada di venue acara pernikahan Iren.
"Please,
deh. Cuma demi kondangan 20 menit doang, gue mesti ngabisin waktu berjam-jam
dan duit banyak buat make-up, beli baju baru, beli sepatu baru. Udah dandan
nge-hits kayak gini, nggak ada juga cowok ganteng yang nyantol," celetuk
Alluna sesampainya di rumah. Ia melemparkan high heels-nya ke sofa begitu saja.
"Alluna ...
anak perempuan kok, seperti itu?" Mama Alluna menggelengkan kepala melihat
tingkah anak gadisnya.
"Sebel, Ma.
Aku udah dandan secantik ini, tetep aja nggak ada cowok yang naksir!"
Alluna menjatuhkan tubuhnya ke sofa dan melipat kedua tangannya. Wajahnya
terlihat kesal karena Hastri dan Austin asyik bercengkerama dengan cowok yang
juga kakak kelas mereka di pesta pernikahan itu. Sedangkan dia, ditinggalkan
sendirian saja. Kesal, sebel, jengkel, mau marah, malu, semuanya campur aduk
jadi satu.
"Alluna ...
kalau kamu kerjaannya marah-marah dan ngomel-ngomel terus kayak gitu, mana ada
cowok yang mau naksir," sahut Mama Alluna.
"Mammaaaa
....!" Alluna semakin kesal karena mamanya juga ikut meledeknya. Ia
langsung masuk ke kamar sementara Mama Alluna hanya tersenyum geli melihat
tingkah anak gadisnya yang kini beranjak remaja.
Ini pertama
kalinya Alluna datang ke pesta pernikahan dengan status jomblonya. Ia harap,
bisa datang ke pesta berikutnya dengan cowok yang ia taksir. Yah, setidaknya
dia bisa tersenyum bangga karena ada cowok yang menggandengnya. Ia tidak bisa
membayangkan kalau ia akan pergi ke pesta pernikahan sebagai cewek jomblo lagi.
Bener-bener kayak kambing congek saat teman-temannya asyik ngobrol dengan
pasangannya, sementara ia hanya ngobrol dengan gelas minuman. Menyedihkan!
Ia tidak mau
kejadian ini terulang lagi. Mulai hari ini ... Alluna bertekad untuk mencari
pasangan yang bisa ia bawa ke acara pesta pernikahan teman-temannya. "Gue
nggak mau sendirian, pokoknya gue harus punya pasangan setiap kali gue
kondangan!"Alluna tersenyum penuh percaya diri menatap bayangannya yang
terpantul di cermin.
To be Continue
...
Kasih komentar
atau hadiah seikhlasnya kalau kalian suka sama cerita ini.
Much Love,
@rin.muna

0 komentar:
Post a Comment