Tuesday, June 9, 2026

Alluna Wedding Party Bab 1 : Undangan Mengejutkan

 


Alluna sama sekali tidak menyangka kalau di usianya yang baru saja menginjak 16 tahun sudah mendapat secarik kertas undangan dari salah satu teman sekolahnya.

"Mama ...!" Alluna menjerit ketika mendapati undangan pernikahan di meja riasnya. Ia masih belum percaya kalau teman sebayanya akan melangsungkan pernikahan di usianya yang ke-16.

"Ma, ini beneran undangan nikahan Iren?" Alluna menghambur keluar kamar dan langsung mendekati mamanya yang sedang mencuci piring di dapur.

"Iya." Mama Alluna tetap bersikap tenang dan masih melanjutkan pekerjaannya.

"Dia berhenti sekolah, dong?" tanya Alluna.

Mama Alluna mengedikkan bahunya. "Kamu temannya, harusnya lebih tahu."

"Yah, aku tahu sih. Tapi, aku pikir cuma gosip. Soalnya Irene selalu mengelak setiap kali aku tanyain. Dia bilang, gosip yang beredar di sekolah itu nggak bener." Alluna melangkahkan kakinya tak semangat, ia kembali ke kamar, merebahkan tubuhnya dan menatap dengan seksama kertas undangan berwarna cokelat krem yang masih di tangannya. Di tatap nama salah satu temannya dan ia menggeleng tidak percaya.

Alluna mengambil ponsel dari tas sekolahnya dan menggunakan panggilan video untuk memanggil salah satu sahabatnya.

"Hai, kenapa Lun?" sapa Rani dari panggilan video.

"Iren beneran mau nikah?" tanya Alluna tak semangat.

"Iya, Lun. Ntar kita kondangannya bareng, ya!" sela Austin yang tiba-tiba muncul di belakang Rani.

"Kalian lagi di rumah Rani?" tanya Alluna.

"Iya ...," jawab sahabat-sahabatnya serentak.

"Tega banget kalian nggak ngajakin gue!" cibir Alluna kesal.

"Sini, dah!" pinta Hastri sambil berjoget-joget ria.

Alluna menggelengkan kepalanya. "Capek, baru aja sampe di rumah. Eh, itu beneran si Iren mau nikah?" tanyanya lagi, masih tak percaya.

Rani tersenyum sembari menganggukkan kepalanya. "Lo kenapa? Temen mau nikah, harusnya seneng dong?" tanya Rani.

"Nggak papa. Gue masih nggak percaya aja. Kemarin waktu gue tanya Iren, dia bilang nggak bener. Tapi tiba-tiba udah ngasih undangan ke rumah. Gue mikirin sekolahnya dia gimana?"

"Yaelah ... nggak usah dipikirin kali. Iren hepi-hepi aja tuh. Ngapain lo sibuk mikirin dia?"

"Ck ... iya, sih. Ya udah, gue mau mandi dulu ya, mau les musik. Sampai ketemu besok!" Alluna melambaikan tangan yang langsung dibalas oleh Rani dan teman-teman lainnya. Ia mematikan ponselnya dan langsung menuju ke kamar mandi.

 

Alluna masih tidak percaya kalau di usianya yang ke-16 tahun sudah mendapat undangan pernikahan. Bukankah, seharusnya undangan birthday sweet seventeen atau party kelulusan sekolah?

Alluna menatap wajahnya di cermin kamar mandi. Ia memijit-mijit bibirnya, memikirkan sesuatu. Sesuatu yang tidak pernah ia pikirkan sebelumnya. Ia akan pergi ke sebuah pesta pernikahan. Dan ia tidak tahu apa yang seharusnya ia lakukan.

Memilih gaun yang cocok untuk acara pernikahan? Memilih pasangan yang cocok untuk menghadiri pesta? Memilih pergi bersama sahabatnya? Memilih pergi seorang diri?

Ah ... pikirannya terlalu kacau untuk pertama kalinya hanya karena sebuah undangan pernikahan dari teman sekolahnya yang baru berusia 16 tahun. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya dan membasuh wajahnya dengan air, lalu mandi untuk menyegarkan tubuhnya karena ada jadwal les musik hari ini.

***

Saat hari pernikahan Iren dilangsungkan, Alluna dan teman-temannya mulai sibuk. Bahkan, di jam istirahat mereka sudah sibuk membahas gaun yang akan mereka kenakan dan dengan siapa mereka akan berangkat ke pesta.

"Kita berangkat bareng, kan?" tanya Alluna.

Rani, Hastri dan Austin menganggukkan kepalanya bersamaan.

"Kenapa? Masih sibuk cari pasangan?"

"Ya ampun, Alluna ... jangan polos banget gitu, deh! Kita mau dateng ke acara wedding. Kita harus punya pasangan kalau dateng ke acara wedding. Lo mau kayak kambing congek di acara pesta itu?" sahut Rani.

Alluna menggelengkan kepalanya.

"Ya udah, lo buruan cari pasangan!"

"Sekarang?"

"Iya ... kita pulang sekolah ke acara nikahan Iren. Mau kapan lagi?"

"Gue nggak tahu mau ngajak siapa," Alluna memandang ke sekeliling kantin, tidak ada satu cowok pun yang menarik matanya untuk diajak ke pesta pernikahan Iren.

"Kenapa mau ke pesta wedding aja ribet, sih?" celetuk Alluna.

"Eh, lo baru mikir cari pasangan doang. Belum ada apa-apanya. Lo masih harus cari gaun yang keren, make-up yang keren, dan pasangan yang keren," sahut Austin sambil tersenyum bahagia.

"Iya ... pokoknya, kita semua harus terlihat cantik di pesta itu. Nggak boleh kelihatan cupu, apalagi sampai nggak pakai make-up." Hastri menimpali.

"Gue nggak bisa make-up."

"Dah, tenang aja. Kita make-up di salon. Gue udah booking ke tante gue. Dia mau make-up kita-kita. Dijamin, hasilnya oke banget!" Rani mengacungkan kedua jempol tangannya.

"Terus, soal pasangan, gimana? Kalian udah punya?" tanya Alluna.

"Belum, hehehe," jawab ketiga sahabatnya serempak.

"Yaelah, kirain udah punya. Sama aja, jones! Nggak usah bawa pasangan, kita berempat aja nggak papa, deh."

Rani, Hastri dan Austin menghela napas kecewa bersamaan.

***

Ini pertama kalinya Alluna merasakan ribetnya menghadiri undangan sebuah pesta pernikahan. Memilih baju saja bisa menghabiskan waktu sampai satu jam. Belum ditambah perawatan tubuh dan make up yang harus mereka gunakan. Setidaknya, mereka menghabiskan waktu sekitar 3 jam untuk mempersiapkan diri pergi ke acara pesta pernikahan. Hal yang paling menyebalkan bagi Alluna, ia datang ke acara pernikahan itu hanya dalam hitungan menit. Bahkan tidak sampai 30 menit mereka berada di venue acara pernikahan Iren.

"Please, deh. Cuma demi kondangan 20 menit doang, gue mesti ngabisin waktu berjam-jam dan duit banyak buat make-up, beli baju baru, beli sepatu baru. Udah dandan nge-hits kayak gini, nggak ada juga cowok ganteng yang nyantol," celetuk Alluna sesampainya di rumah. Ia melemparkan high heels-nya ke sofa begitu saja.

"Alluna ... anak perempuan kok, seperti itu?" Mama Alluna menggelengkan kepala melihat tingkah anak gadisnya.

"Sebel, Ma. Aku udah dandan secantik ini, tetep aja nggak ada cowok yang naksir!" Alluna menjatuhkan tubuhnya ke sofa dan melipat kedua tangannya. Wajahnya terlihat kesal karena Hastri dan Austin asyik bercengkerama dengan cowok yang juga kakak kelas mereka di pesta pernikahan itu. Sedangkan dia, ditinggalkan sendirian saja. Kesal, sebel, jengkel, mau marah, malu, semuanya campur aduk jadi satu.

"Alluna ... kalau kamu kerjaannya marah-marah dan ngomel-ngomel terus kayak gitu, mana ada cowok yang mau naksir," sahut Mama Alluna.

"Mammaaaa ....!" Alluna semakin kesal karena mamanya juga ikut meledeknya. Ia langsung masuk ke kamar sementara Mama Alluna hanya tersenyum geli melihat tingkah anak gadisnya yang kini beranjak remaja.

Ini pertama kalinya Alluna datang ke pesta pernikahan dengan status jomblonya. Ia harap, bisa datang ke pesta berikutnya dengan cowok yang ia taksir. Yah, setidaknya dia bisa tersenyum bangga karena ada cowok yang menggandengnya. Ia tidak bisa membayangkan kalau ia akan pergi ke pesta pernikahan sebagai cewek jomblo lagi. Bener-bener kayak kambing congek saat teman-temannya asyik ngobrol dengan pasangannya, sementara ia hanya ngobrol dengan gelas minuman. Menyedihkan!

Ia tidak mau kejadian ini terulang lagi. Mulai hari ini ... Alluna bertekad untuk mencari pasangan yang bisa ia bawa ke acara pesta pernikahan teman-temannya. "Gue nggak mau sendirian, pokoknya gue harus punya pasangan setiap kali gue kondangan!"Alluna tersenyum penuh percaya diri menatap bayangannya yang terpantul di cermin.

 

 

To be Continue ...

Kasih komentar atau hadiah seikhlasnya kalau kalian suka sama cerita ini.

 

 

Much Love,

@rin.muna

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas