Book Author and Ambassador Novelme. Love to imagination, telling story and making money.

Wednesday, February 10, 2021

Cerpen | I Am Sita

 I AM SITA

pixabay.com


Sita berjalan perlahan menyusuri jalan serapak dengan ransel di punggungnya. Setiap hari libur sekolah, gadis kelas 2 SMU ini selalu menyempatkan waktu untuk pergi mengunjungi adik-adik angkatnya. Butuh waktu satu jam untuk memasuki dusun tempat adik-adiknya tinggal.

“Kak Sita datang...!” teriak salah seorang bocah cilik yang sedang asyik bermain gundu.

Hanya dalam hitungan detik, anak-anak mengerubungi Sita. Sila duduk bersila di sebuah pondok yang hanya beratapkan ilalang. Tempat yang sangat sederhana untuk berkumpul dengan adik-adik angkatnya. Sita mengeluarkan isi ranselnya, ada banyak buku tentang pendidikan dan alat-alat tulis yang dibagikan satu persatu kepada 16 adik-adiknya. Dengan ijin dari kepalam dusun, Sita mengajak anak-anak bermain sambil belajar setiap hari minggu.

Beberapa bulan kemudian...

“Sit, nanti sore ada waktu nggak?” tanya Randi.

“Waktu untuk apa?” tanya Sita.

“Ya untuk jalan sama aku lah.” Jawab Randi.

“Hmm.... jalan ke mana?” tanya Sita.

“Ke mana aja yang kamu suka.” Jawab Randi.

“Yang bener nih?” tanya Sita.

Randi mengangguk sambil memainkan matanya.

Sita tersenyum geli, “Oke, kalau begitu jemput aku di rumah jam tiga ya!”

Randi melompat kegirangan. Ini kesempatan pertama baginya setelah beberapa kali mendapat penolakan.

Randi datang ke rumah Sita tepat jam 3 sore.

“Ran, kamu bisa bawa mobil kan?” tanay Sita saat melihat Randi datang dengan sepeda motornya.

“Bisa lah, kan setiap hari ke sekolah juga bawa mobil.” Jawab Randi.

“Kita pakai mobil aku aja ya!” pinta Sita.

“Kenapa? Trus motorku ini bagaimana?” tanya Randi.

“Masukin aja ke garasi!” jawab Sita sambil menunjuk ke arah garasi rumahnya.

“Gimana sih? Padahal kan lebih romantis kalau pakai motor. Emang dasar nih cewek kaya, nggak mau banget kena debu dikit aja.” Celetuk Randi sambil memasukkan motor kawasakinya ke dalam garasi.

Sita tersenyum sambil memberikan kunci mobilnya pada Randi.

“Kita mau ke mana?” tanya Randi.

“Nggak usah banyak tanya! Nanti juga bakalan tau kok, ikutin aja petunjukku!” sahut Sita.

Mereka terdiam untuk beberapa saat.

“Kamu nggak salah kan?” tanya Randi kebingungan. Mereka sudah ada di jalur jalan luar kota. Randi semakin bingung saat mereka sudah jauh dari kota dan tidak ada tanda-tanda dari Sita untuk menepikan mobilnya. Randi melirik arlojinya, mereka sudah menempuh tiga jam perjalanan. Randi melihat ke arah Sita yang sedang asyik membuka-buka majalah fashion dengan earphone di telinganya. Randi memberanikan diri menyentuh pundak Sita.

“Ada apa?” tanya Sita yang tersadar dengan sentuhan Randi. Sita melepas earphone dari telinganya.

“Masih jauh kah?” tanya Randi.

Sita memandang ke sekeliling jalan. “Tiga jam dari sini kita sudah sampai.” Jawab Sita.

Randi menginjak rem tiba-tiba karena kaget mendengar jawaban Sita.

“Eh, kamu kalau ngerem kira-kira dong!” sentak Sita.

“Kamu juga kalau ngajak jalan kira-kira dong!” jawab Randi.

“Lho? Kan kamu sendiri yang menawarkan diri untuk jalan sama aku.” Sahut Sita.

“Tapi nggak sejauh ini, aku Cuma pengen menikmati malam mingguku bareng kamu. Setidaknya kamu punya waktu buat nonton bareng, makan bareng, dan pergi ke tempat-tempat yang romantis...” ucapan Randi terhenti saat jemari telunjuk Sita mendarat di bibirnya.

“Aku nggak pernah memimpikan kencan romantis sama siapapun. Sekarang kamu mau pergi sama aku atau pulang balik sendirian?” bisik Sita lembut di telinga Randi.

Randi terdiam beberapa saat, sampai akhirnya ia memutuskan untuk menemani Sita. Randi kembali melajukan mobilnya, mereka berhenti sejenak di sebuah warung makan untuk mengisi perut mereka.

“Kamu yakin makan di sini?” tanya Randi melihat kondisi warteg yang sangat jauh di luar dugaannya.

“Kenapa? Kamu nggak mau makan di sini? Nggak ada restoran di sini.” Jawab Sita.

Randi tersenyum manis pada Sita. Randi tak menyangka kalau Sita yang selama ini dikenal sebagai gadis kaya yang sombong dan borjuis, ternyata bisa juga makan di sebuah warteg seperti ini.

“Pa kabar Mbah?” sapa Sita pada nenekn pemilik warteg.

“Ya Ampun Mbak Dewi. Sudah lama tidak kelihatan.” Sambut Nenek itu dengan hangat.

“Iya Mbah, saya masih sibuk beberapa bulan ini.” Jawab Sita.

“Lagi sibuk ngurusin proyek ya Mbak?” tanya si Mbah.

“Proyek apa Mbah?” tanya Randi yang keheranan. Karena Sita sangat akrab dengan orang-orang yang ada di sekitar situ. Semua orang sangat mengenal dan menghagrai Sita dengan nama Dewi.

“Lho? Mas ini ndak tau toh kalau Mbak Dewi ini yng suka nolong orang-orang di sini. Mbak Dewi yang buat...” ucapan Mbah terhenti karena panggilan Sita.

“Mbah, buatin nasi pecel ya!” pinta Sita memotong pembicaraan Mbah.

“Sit, ini ada apaan sih? Banyak tanda tanya di otakku. Kenapa kamu di panggil Dewi dan semua orang yang makan di warung ini kenal sama kamu sebagai Dew?” tanya Randi yang kebingungan.

“Kali ini kamu akan lihat sisi lain dari kehidupanku.” Jawab Sita singkat.

Randi masih tak mengerti dengan jawaban Sita. Masih ada ribuan tanda tanya di otaknya.

Tiba-tiba lelaki setengah baya menghampiri Sita. Sita tersenyum dan menyambut hangat kedatangan lelaki itu. Sita memperkenalkan Randi pada lelaki itu. Randi menyambut uluran tangannya dengan senyuman .

“Kenapa tidak memberi kabar terlebih dahulu kalau mau ke sini mbak?” tanya Pak Wiryo, lelaki setengah baya itu.

“Tidak apa-apa Pak, saya hanya ingin berkunjung saja kemari. Sudah lama sekali saya tidak berkunjung kemari. Bagaimana dengan proyeknya Pak? Apakah ada kendala?” tanya Sita.

“Alhamdulillah semua berjalan dengan lancar Mba, semua warga turut berpartisipasi, jadi semua pekerjaan terasa lebih ringan. Warga sangat antusias dengan apa yang telah Mba berikan kepada mereka,” jawab Pak Wiryo.

“Baik, semuanya saya percayakan pada Bapak. Semoga saja semuanya bisa dikerjakan dengan baik. Kalau ada kendala langsung hubungi saya!” pinta Sita.

Dengan segala tanda tanya dan rasa penasarannya, Randi memberanikan diri untuk bertanya pada Pak Wiryo. Apa yang sebenarnya terjadi. Dan akhirnya, Randi mendapatkan jawaban setelah Pak Wiryo menceritakan semua yang telah Sita lakukan untuk warga kampung dan dusun-dusun tertinggal. Sita yang mengucurkan dana untuk pembangunan beberapa daerah tertinggal. Untuk pembuatan jalan akses ke kota, pembangunan beberapa sekolah, fasilitas desa.

“Semulia itukah hatimu, Sita?” batin Randi mengagumi sosok Sita yang ada di sampingnya kini. Sangat berbeda sekali dengan Sita yang ia kenal di sekolah. Sita yang angkuh, jutek, selalu bergaya hidup mewah dan galak sudah tidak di kenalnya kali ini.

Seusai makan, Pak Wiryo mempersilahkan Sita dan Randi untuk beristirahat di rumahnya karena hari sudah larut malam.

“Sampai kapan kita di tempat terpencil seperti ini?” tanya Randi.

“Sampai semuanya selesai,” jawab Sita.

“Apa itu Sit?” tanya Randi.

“Besok kamu akan tahu, segeralah tidur dan siapkan tenagamu untuk besok!” perintah Sita.

Akhirnya mereka masuk ke kamar masing-masing dan semua terlelap dalam hening malam kecuali Randi. Randi gelisah dengan suara jangkrik yang tak ada hentinya. Randi menutupi telinganya dengan bantal, namun tetap tidak berhasil. Randi membuka jendela kamar karena kepanasan dan kembali berbaring di ranjang. Baru saja matanya terpejam, ia di bangunkan oleh gigitan nyamuk.

“Aaaargh...!” teriak Randi membangunkan orang-orang di rumah itu.

Pak Wiryo, Istrinya dan Sita langsung menuju ke kamar Randi.

“Ada apa Mas Randi?” tanya Pak Wiryo dari balik pintu.

Randi membuka pintu kamarnya. “Pak, nggak ada AC ya? Nggak ada obat nyamuk? Panas Pak, banyak nyamuk juga. Nggak bisa tidur saya.” Omel Randi.

“Maaf Mas, ini di kampung. Tidak Ada AC di sini Mas, kalau obat nyamuk ada. Tolong bakarkan ya Bu!” tutur Pak Wiryo pada istrinya.

“Apa? Obat nyamuk bakar Pak? Saya nggak biasa pakai obat nyamuk bakar.” Sahut Randi.

Sita tertawa kecil melihat kelakuan Randi. “Manja banget sih kamu jadi cowok!” celetuk Sita.

“Aku bukan manja. Tapi aku nggak biasa hidup susah. Kamu kan tau sendiri kalau aku...” ucapan Randi terputus.

“Anak orang kaya?” sahut Sita. “Yang nggak bisa hidup susah, yang nggak bisa cari duit sendiri, yang semuanya bisa kamu lakuin cuma dengan nyuruh babu-babu kamu itu kan!” sambungnya sambil berlalu pergi.

“Bukan gitu Sit! Tapi...”

“Sudah lah Pak, nggak usah di urusin tuh anak! Kalau udah ngantuk banget pasti bisa tidur kok ” perintah Sita pada Pak Wiryo.

 

Keesokan harinya...

“Masih pagi kok sudah bangun Tuan?” sapa Sita saat Randi baru saja keluar dari kamarnya, padahl sudah jam 10 pagi.

“Makan apa kamu?” tanya Randi yang melihat Sita sedang asyik mengunyah makanan.

“Mandi dulu sana! Bauuu...” sahut Sita sambil menutup hidungnya.

Randi menciumi tubuhnya sambil mesam-mesem. “Nggak ada baju ganti”, celetuknya.

“Itu!” tunjuk Sita dengan dagunya ke arah meja yang di atasnya ada tas belanjaan.

Randi mengambil dan membukanya. Baju-baju cowok dan semuanya bermerek. Randi tersenyum sumringah melihatnya. “Ini kamu yang siapin?” tanya Randi.

Sita hanya mengangkat kedua alisnya sebagai tanda mengiyakan pertanyaan Randi.

“Pengertian banget ya kamu jadi cewek”, celetuk Randi sambil berlalu pergi.

Setelah Randi selesai mandi dan makan. Sita mengajak Randi untuk pergi ke sebuah tempat yang sudah lama tak di datanginya. Sepanjang perjalanan Randi hanya mengomel saja karena Sita mengajaknya berjalan kaki naik turun bukit dan melewati rawa. Namun Sita tak memperdulikannya dan tetap saja melanjutkan perjalanan.

“Sit, kamu lihat? Sepatu aku rusak kalau kayak gini, baju, celana. Ya ampun, ini mahal semua. Mamaku belikan di luar negeri.” Tutur Randi yang sudah kelelahan.

“Aku ganti tiga kali lipat.” Sahut Sita.

“Kalau gitu, kita istirahat dulu”, pinta Randi.

Sita tersenyum melihat Randi dan melemparkan sebotol minuman pada Randi. “Minumlah dan lanjutkan perjalanan! Tempat yang kita tuju sudah dekat.”

“Di mana?” tanya Randi sambil meneguk minuman dan membasuh wajahnya yang kepanasan oleh terik matahari.

“Di balik gunung itu.” Jawab Sita menunjuk gunung yang sangat jauh sekali.

“Apa!?” Randi kaget dan tak sadarkan diri.

Sita panik karena sebenarnya dia hanya bercanda. Kenapa pingsan betulan? Tapi ternyata Randi tidak pingsan sungguhan.

“Kamu ini jadi cowok ngerepotin banget sih”, celetuk Sita.

Beberapa menit kemudian, mereka sampai di tempat yang mereka tuju. Sudah ada Pak Wiryo yang menyambut mereka. Randi bingung melihat Pak Wiryo dan beberapa anak orang yang di temuinya semalam sudah ada di tempat itu.

“Tidak usah bingung Mas Randi. Tadinya Mba Dewi juga akan bersama kami pagi-pagi. Tapi Mas Randi masih tertidur pulas dan susah sekali dibangunkan. Makanya Mbak Dewi menunggu Mas Randi sampai bangun.” Tutur Pak Wiryo.

Randi terdiam mendengar penuturan dari Pak Wiryo. Begitu baiknya hati Sita, menungguku bangun hingga berjam-jam. “Aku sangat payah, bahkan untuk melakukan perjalanan seperti ini saja aku selalu mengeluh selama perjalanan”, batin Randi.

Ternyata Sita mengajak Randi ke sebuah tempat yang masih sangat terpencil dan sulit di jangkau. Ada sebuah perkampungan kecil, fasilitas yang tidak memadai dan tidak ada sarana pendidikan yang layak. Randi melihat sekeliling dan mencoba memahami kehidupan baru yang dikenalkan oleh Sita. Banyak hal yang dia pahami kali ini. Saat ia berbicara dengan anak-anak di kampung itu. Saat ia melihat bagaimana Sita bekomunikasi dengan orang-orang kampung itu. Seakan tak ada garis batas di antara mereka. Sita mampu berbaur dengan warga kampung itu. Randi hanya berdiri mematung memandang Sita yang sedang asyik bercengkerama dengan beberapa warga. Randi sama sekali tak tahu kalau di dalam mobil yang mereka bawa ada begitu banyak sembako untuk warga di sini. Pak Wiryo dan beberapa orang telah membantu Sita untuk memasokkan barang-barang itu ke kampung ini dengan di pikul.

“Mbak, alatnya sudah datang.” Tutur Pak Wiryo pada Sita.

“Langsung dikerjakan saja Pak!” perintah Sita.

Dengan bantuan dan partisipasi beberapa warga, akhirnya Sita dan beberapa warga mampu membuka jalan akses ke kampung itu. Sehingga warga tidak harus kesulitan berjalan kaki untuk bisa menjual hasil pertanian mereka. Sita menggunakan beberapa alat berat untuk dapat membuka jalan. Semuanya tak akan selesai dalam waktu satu hari, Pak Wiryo telah mendapatkan kepercayaan dari Sita untuk dapat menjalankan semuanya.

“Ibu-Ibu, Bapak-bapak, Adik-adik semuanya, saya mohon pamit. Saya tidak bisa berlama-lama di tempat ini karena saya masih banyak urusan.” Pamit Sita pada warga yang sedang mengerubunginya.

“Terima kasih ya Bu Dewi. Berkat Ibu, Kampung kami ini menjadi lebih maju.” Tutur seorang kepala dusun di tempat itu.

Sita dan Randi segera bergegas dari tempat itu. Mereka harus segera pulang karena harus kembali ke bangku sekolah sebagai seorang murid.

“Kamu lagi kampanye politik kah?” tanya Randi.

“Maksudnya?” tanya Sita tak mengerti.

“Kamu sampai rela ngehabisin uang banyak untuk pembuatan jalan di kampung, pembangunan sekolah-sekolah dan sebagainya. Bukannya itu urusan pemerintah?” tutur Randi.

“Apa? Urusan pemerintah? Pemerintah itu lebih mementingkan kepentingan mereka sendiri Ran. Kalau Pemerintah memperhatikan rakyatnya. Nggak akan ada tempat yang masih tertinggal seperti itu. Apa kamu nggak miris melihat kehidupan mereka? Aku punya uang lebih untuk membantu mereka. Dan tidak harus duduk di bangku pemerintahan kalau memang kita mau membantu warga yang kekurangan.” Ucap Sita.

“Aku nggak nyangka kamu punya hati sebaik ini, seandainya kamu di sekolah seperti ini tak akan ada penilaian buruk tentang dirimu.”

Sita memutar bola matanya. “ Biarlah. Anak-anak di sekolah pun semuanya hampir sama. Ingin meneunjukkan kemewahan yang mereka miliki. Aku saja yang beruntung di antara mereka semua karena aku punya yang lebih dari mereka semua.” Tutur Sita.

Randi tersenyum memandangi wajah Sita yang sebenarnya tampak kelelahan. Namun, Sita masih punya jutaan semangat untuk membantu orang-orang di sekelilingnya.

“Kamu nggak dimarahi sama Ayah kamu kalau sampai pergi sejauh ini?” tanya Randi

“Marah kenapa? Ayahku di luar negeri dan dia tahu semua kegiatanku. Aku yang membantu bisnis ayah di sini. Dia sedang sibuk mengurus bisnisnya di Kanada.” Jawab Sita. Sedangkan Mama Sita sudah meninggal saat Sita berusia 7 tahun. Mamanya lah yang menjadikan inspirasi bagi Sita. Mama Sita salah satu anggota dewan pemerintahan yang banyak memberikan partisipasi dalam pembangunan daerah terpencil. Namun berbeda degan Sita. Sita sama sekali tak mau duduk menjadi anggota dewan pemerintahan seperti ibunya. Sita ingin jadi pengusaha seperti ayahnya dan tetap ingin membantu warga lain seperti ibunya tanpa duduk sebagai anggota dewan.

“Jadi? Hidupmu begitu bebas.”

“Tapi aku tidak terlibat dalam pergaulan bebas.” Pootong Sita.

Randi tersenyum menanggapinya.

“Aku tahu itu Sit, kamu wanita yang sangat mulia. Seperti ibu kamu.”

Sita tersenyum sambil menyandarkan tubuhnya di kursi mobil, memasang earphone di telinganya dan bernyanyi mengikuti alunan musik santai dari earphonenya. Randi hanya tertawa kecil melihat kelakuan Sita.

“Ini pelajaran buat aku. Sebuah pengalaman terburuk dan aku ingin mengulanginya kembali.” Tutur Randi sambil tersenyum.

Akhirnya mereka pulang dan kembali memulai aktifitas di sekolah seperti biasa.

 

 

 

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas