Sunday, June 7, 2026

Bukan Sekadar Suka Membaca: Kenali 3 Jenis Pecinta Buku yang Mungkin Salah Satunya Adalah Kamu



Bukan Sekadar Suka Membaca: Kenali 3 Jenis Pecinta Buku yang Mungkin Salah Satunya Adalah Kamu

Oleh Rin Muna

Ada orang yang membeli buku karena ingin membacanya. Ada yang membeli buku karena jatuh cinta pada sampulnya. Ada pula yang merasa bahagia hanya dengan mencium aroma kertas yang baru keluar dari percetakan.

Dunia para pecinta buku memang unik. Kecintaan terhadap buku tidak selalu ditunjukkan dengan cara yang sama. Sebagian orang mengoleksi, sebagian menumpuk, dan sebagian lagi menikmati setiap detail buku, bahkan dari aromanya.

Jika kamu termasuk orang yang sulit melewati toko buku tanpa mampir, atau selalu menyisihkan uang untuk membeli buku baru, mungkin kamu termasuk salah satu dari tiga kategori pecinta buku berikut ini.


1. Bibliofil: Pecinta Buku Sejati

Kata bibliofil berasal dari bahasa Yunani, yaitu biblion yang berarti buku dan philos yang berarti cinta atau sahabat. Secara sederhana, bibliofil adalah orang yang memiliki kecintaan mendalam terhadap buku.

Namun jangan salah, menjadi bibliofil bukan berarti harus memiliki ribuan koleksi buku. Yang membedakan seorang bibliofil adalah hubungan emosionalnya dengan buku. Mereka menikmati proses membaca, merawat koleksi, bahkan merasa bahagia ketika menemukan buku yang sudah lama dicari.

Bagi seorang bibliofil, buku bukan sekadar tumpukan kertas berisi tulisan. Buku adalah jendela yang membuka dunia baru, teman perjalanan saat sepi, dan guru yang selalu sabar memberikan pelajaran.

Biasanya, seorang bibliofil:

  • Senang mengunjungi toko buku atau perpustakaan.
  • Merawat buku dengan baik.
  • Memiliki koleksi buku favorit yang disimpan khusus.
  • Sulit menolak godaan membeli buku baru.

Kalau kamu pernah memeluk buku baru sebelum membacanya, kemungkinan besar ada jiwa bibliofil di dalam dirimu.


2. Tsundoku: Membeli Banyak Buku, Membacanya Nanti

Istilah ini berasal dari Jepang. Tsundoku menggambarkan kebiasaan membeli buku, lalu membiarkannya menumpuk tanpa segera dibaca.

Terdengar familiar?

Banyak pecinta buku yang tersenyum malu ketika mendengar istilah ini. Mereka memiliki rak yang penuh dengan buku-buku yang masih terbungkus plastik atau hanya dibaca beberapa halaman.

Namun sebenarnya, tsundoku bukanlah sesuatu yang buruk.

Sering kali kita membeli buku karena takut kehabisan, karena sedang diskon, atau karena merasa buku itu akan berguna suatu hari nanti. Akibatnya, jumlah buku yang dibeli jauh lebih banyak daripada waktu yang tersedia untuk membacanya.

Saya sendiri pernah mengalami fase ini.

Masuk ke toko buku hanya ingin melihat-lihat, lalu pulang membawa tiga atau empat buku baru. Sesampainya di rumah, buku-buku itu bergabung dengan tumpukan buku lain yang masih menunggu giliran untuk dibaca.

Ironis memang. Tetapi bagi pecinta buku, melihat tumpukan buku yang belum dibaca justru memberikan rasa nyaman. Seolah-olah ada banyak petualangan yang menunggu untuk dijelajahi.

Ciri-ciri tsundoku antara lain:

  • Sering membeli buku lebih cepat daripada membacanya.
  • Memiliki daftar bacaan yang sangat panjang.
  • Rak buku selalu penuh.
  • Selalu punya alasan untuk membeli buku baru.

Kalau rak bukumu penuh tetapi daftar buku yang sudah selesai dibaca masih sedikit, mungkin kamu seorang tsundoku.


3. Bibliosmia: Menikmati Aroma Buku

Pernahkah kamu membuka buku baru, lalu tanpa sadar menghirup aromanya?

Jika iya, selamat. Kamu mungkin mengalami bibliosmia.

Bibliosmia adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan kecintaan terhadap aroma buku. Baik aroma buku baru maupun buku lama yang telah menguning karena usia.

Bagi sebagian orang, aroma buku menghadirkan sensasi yang sulit dijelaskan. Ada rasa tenang, nyaman, bahkan nostalgia.

Aroma buku baru biasanya berasal dari campuran tinta, lem, dan kertas yang masih segar. Sementara aroma buku lama muncul akibat proses alami pemecahan senyawa kimia pada kertas seiring berjalannya waktu.

Mungkin terdengar aneh bagi orang yang bukan pecinta buku. Namun bagi bibliosma, aroma buku bisa menjadi pengalaman yang menyenangkan seperti menikmati aroma kopi di pagi hari atau wangi tanah setelah hujan.

Ciri-ciri bibliosma:

  • Selalu mencium buku baru sebelum membacanya.
  • Menyukai aroma perpustakaan atau toko buku.
  • Merasa nyaman berada di antara rak-rak buku.
  • Menganggap aroma buku sebagai bagian dari pengalaman membaca.

Jujur saja, banyak bibliofil yang juga seorang bibliosma. Karena cinta terhadap buku sering kali melibatkan semua indera, bukan hanya mata.


Kamu Termasuk yang Mana?

Menariknya, ketiga kategori ini tidak selalu berdiri sendiri. Seseorang bisa menjadi bibliofil sekaligus tsundoku. Bahkan bisa juga menjadi bibliosma dalam waktu yang bersamaan.

Membeli buku, mengoleksinya, membacanya, hingga menikmati aromanya adalah bentuk-bentuk cinta yang berbeda terhadap dunia literasi.

Jadi, jika hari ini kamu melihat rak bukumu penuh dengan buku yang belum sempat dibaca, jangan terlalu merasa bersalah. Bisa jadi kamu hanya sedang menjadi seorang tsundoku yang juga bibliofil.

Dan jika sebelum membaca artikel ini kamu sempat mencium aroma buku di dekatmu, mungkin ada sedikit jiwa bibliosma yang sedang tersenyum.

Karena pada akhirnya, setiap pecinta buku memiliki caranya sendiri untuk jatuh cinta.

Dan selama cinta itu membuat kita terus belajar, terus membaca, dan terus bertumbuh, bukankah itu hal yang indah?



Nah, kalau kamu termasuk yang mana? Bibliofil, Tsundoku, Bibliosma, atau justru ketiganya sekaligus? Tulis ceritamu di kolom komentar ya! 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas